Ditemukan 39975 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Shabrina Banafsaj Zata Amani; Pembimbing, Dewi Susanna; Penguji: Aria Kusuma, R. Budi Haryanto
Abstrak:
Kondisi kamar asrama pesantren dapat memicu timbulnya berbagai agen penyebab penyakit ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada santri di Pondok Pesantren ?X? yang berlokasi di Provinsi Jawa Timur menggunakan desain studi cross sectional. Sebanyak 90 santri sebagai sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi yaitu bertempat tinggal minimal enam bulan di kamar asrama dan kriteria eksklusi yaitu sedang mengalami penyakit pernapasan tuberculosis (TBC). Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Penyakit Berbasis Lingkungan dengan delapan pertanyaan terkait kejadian ISPA, kondisi lingkungan kamar asrama (kelembaban, luas ventilasi, kepadatan hunian) dan perilaku (mencuci tangan, olahraga, konsumsi vitamin C) yang diisi oleh para santri dibawah bimbingan guru yang telah diberikan arahan terkait pengisian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 43,3% santri di Pondok Pesantren ?X? mengalami ISPA, seluruh kamar asrama dalam kondisi yang tidak memenuhi syarat, dan mayoritas santri telah telah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam pencegahan ISPA dengan baik. Secara statistik, ditemukan adanya hubungan signifikan pada perilaku olahraga teratur terhadap kejadian ISPA (p=0,017), sementara kepadatan hunian, kelembaban, perilaku mencuci tangan dengan air dan sabun, dan perilaku konsumsi vitamin C tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian ISPA.
The condition of boarding school dorm rooms can trigger the emergence of various agents that cause ARI disease. This study aims to analyze environmental and behavioral factors related to the incidence of ARI among students at Pondok Pesantren 'X' located in East Java Province using a cross sectional study design. A total of 90 students as the research sample were selected according to the inclusion criteria, namely residing for at least six months in a dormitory room and the exclusion criteria being experiencing tuberculosis (TB) respiratory disease. Data was collected using an Environment-Based Diseases questionnaire with eight questions related to the incidence of ARI, dorm room environmental conditions (humidity, ventilation area, occupancy density) and behavior (hand washing, exercise, vitamin C consumption) which were filled out by the students under the guidance of a teacher who had been trained. given directions regarding filling out the questionnaire. The results showed that as many as 43.3% of students at Pondok Pesantren 'X' experienced ARI, all dorm rooms were in conditions that did not meet the requirements, and the majority of students had implemented clean and healthy living behavior in preventing ARI properly. Statistically, it was found that there was a significant relationship between regular exercise behavior and the incidence of ARI (p=0.017), while occupancy density, humidity, hand washing behavior with water and soap, and vitamin C consumption behavior did not have a significant relationship with the incidence of ARI.
Read More
The condition of boarding school dorm rooms can trigger the emergence of various agents that cause ARI disease. This study aims to analyze environmental and behavioral factors related to the incidence of ARI among students at Pondok Pesantren 'X' located in East Java Province using a cross sectional study design. A total of 90 students as the research sample were selected according to the inclusion criteria, namely residing for at least six months in a dormitory room and the exclusion criteria being experiencing tuberculosis (TB) respiratory disease. Data was collected using an Environment-Based Diseases questionnaire with eight questions related to the incidence of ARI, dorm room environmental conditions (humidity, ventilation area, occupancy density) and behavior (hand washing, exercise, vitamin C consumption) which were filled out by the students under the guidance of a teacher who had been trained. given directions regarding filling out the questionnaire. The results showed that as many as 43.3% of students at Pondok Pesantren 'X' experienced ARI, all dorm rooms were in conditions that did not meet the requirements, and the majority of students had implemented clean and healthy living behavior in preventing ARI properly. Statistically, it was found that there was a significant relationship between regular exercise behavior and the incidence of ARI (p=0.017), while occupancy density, humidity, hand washing behavior with water and soap, and vitamin C consumption behavior did not have a significant relationship with the incidence of ARI.
S-11083
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Chiara Maharani; Pembimbing: Chiara Susanna; Penguji: Suyud Warno Utomo, Aria Kusuma
Abstrak:
Penyakit kulit masih menjadi masalah kesehatan yang tergolong tinggi di Indonesia dan santri yang tinggal di Pesantren berisiko lebih besar untuk terkena penyakit kulit. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara faktor individu mencakup perilaku cuci tangan pakai sabun, berbagi peralatan pribadi, riwayat keluarga dengan penyakit kulit, dan sistem kekebalan tubuh, serta faktor kondisi asrama mencakup kondisi air, kelembaban ruangan, dan kepadatan hunian terhadap kejadian penyakit kulit pada santri di Pesantren X Khusus Laki-Laki. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional karena kondisi yang diukur menggambarkan kondisi pada saat pengumpulan data dilakukan yakni dengan menggunakan kuesioner mengenai Potensi Penyakit Berbasis Lingkungan di Pesantren kepada 71 santri di Pesantren X dengan bantuan guru dan data sekuner dari pihak Pesantren X terkait daftar kamar asrama, luas kamar asrama, dan daftar pembagian kamar asrama santri. Hasil dari penelitian yakni sebanyak 35 santri (49,3%) pernah mengalami penyakit kulit dan 36 santri lainnya (50,7%) tidak pernah mengalami penyakit kulit. Adapun jenis-jenis penyakit kulit yang pernah dialami oleh santri adalah kurap, kutu air, impetigo, kusta, bisul, cacar air, kutil, kudis, herpes, panu, eksim, vitiligo, dan rosacea. Penyakit kulit yang paling banyak dialami oleh santri adalah panu sebanyak 16 santri (22,5%) dan yang paling sedikit dialami adalah cacar air hanya 1 santri (1,4%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor individu maupun kondisi asrama terhadap kejadian penyakit kulit pada santri di Pesantren X Khusus Laki-Laki. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis faktor-faktor lain yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian penyakit kulit, namun tetap diperlukan juga adanya peningkatan penerapan personal hygiene dan menjaga kondisi lingkungan asrama Pesantren agar terhindari dari berbagai penyakit.
Skin disease is still a relatively high health problem in Indonesia and students living in Islamic boarding schools are at greater risk of developing skin diseases. The purpose of this study was to analyze the relationship between individual factors including hand washing behavior with soap, sharing personal utensils, family history of skin diseases, and the immune system, as well as dormitory condition factors including water conditions, room humidity, and residential density on the incidence of skin diseases in students at Islamic Boarding School 'X' for Boys. This study used a cross-sectional study design because the measured conditions described the conditions when data collection was carried out by using a questionnaire regarding the Potential for Environmental-Based Diseases in Pesantren to 71 students at Pesantren X with the help of teachers and secondary data from Pesantren X regarding the list of dorm rooms, the size of the dorm rooms, and a list of the distribution of the students' dormitory rooms. The results of the study were as many as 35 students (49.3%) had experienced skin diseases and 36 other students (50.7%) had never experienced skin diseases. The types of skin diseases that have been experienced by students are ringworm, water fleas, impetigo, leprosy, boils, chickenpox, warts, scabies, herpes, tinea versicolor, eczema, vitiligo, and rosacea. The most common skin disease experienced by students was tinea versicolor as many as 16 students (22.5%) and the least experienced was chickenpox, only 1 student (1.4%). There was no significant relationship between individual factors and dormitory conditions on the incidence of skin diseases in students at Pesantren 'X' for Boys. Therefore, it is necessary to conduct further research to analyze other factors that have a significant relationship to the incidence of skin diseases, but it is still necessary to increase the application of personal hygiene and maintain the environmental conditions of the boarding school dormitory in order to avoid various diseases.
Read More
Skin disease is still a relatively high health problem in Indonesia and students living in Islamic boarding schools are at greater risk of developing skin diseases. The purpose of this study was to analyze the relationship between individual factors including hand washing behavior with soap, sharing personal utensils, family history of skin diseases, and the immune system, as well as dormitory condition factors including water conditions, room humidity, and residential density on the incidence of skin diseases in students at Islamic Boarding School 'X' for Boys. This study used a cross-sectional study design because the measured conditions described the conditions when data collection was carried out by using a questionnaire regarding the Potential for Environmental-Based Diseases in Pesantren to 71 students at Pesantren X with the help of teachers and secondary data from Pesantren X regarding the list of dorm rooms, the size of the dorm rooms, and a list of the distribution of the students' dormitory rooms. The results of the study were as many as 35 students (49.3%) had experienced skin diseases and 36 other students (50.7%) had never experienced skin diseases. The types of skin diseases that have been experienced by students are ringworm, water fleas, impetigo, leprosy, boils, chickenpox, warts, scabies, herpes, tinea versicolor, eczema, vitiligo, and rosacea. The most common skin disease experienced by students was tinea versicolor as many as 16 students (22.5%) and the least experienced was chickenpox, only 1 student (1.4%). There was no significant relationship between individual factors and dormitory conditions on the incidence of skin diseases in students at Pesantren 'X' for Boys. Therefore, it is necessary to conduct further research to analyze other factors that have a significant relationship to the incidence of skin diseases, but it is still necessary to increase the application of personal hygiene and maintain the environmental conditions of the boarding school dormitory in order to avoid various diseases.
S-10974
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adinda Aisyah; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Kondisi kamar asrama pesantren dapat memicu timbulnya berbagai penyebab penyakit ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan gejala penyakit ISPA pada santri di Yayasan Tunas Mulia Bantar Gebang dan Rumah Tahfidz Siti Aminah yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini terdiri dari 90 Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 64,4% santri di Yayasan Tunas Mulia dan Rumah Tahfidz Siti Aminah mengalami gejalaISPA, kepadatan hunian seluruh kamar dalam keadaan tidak memenuhi syarat, dan mayoritas santri telah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam pencegahan ISPA dengan baik. Secara statistik, ditemukan adanya hubungan bermakna antara variabel tingkat kelembaban (p=0,034), olahraga teratur (p=0,0001), kebiasaan membuka jendela (p=0,002), dan kepadatan hunian (p=0,000) dengan gejala ISPA. Sedangkan pada variabel mencuci tangan dengan air dan sabun, perilaku batuk, dan luas ventilasi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan risiko gejala ISPA. Pondok pesantren dapat membuat acara penyuluhan kesehatan bagi masyarakat pesantren mengenai penyebeb, faktor risiko, gejala, dan cara mencegah terjadinya ISPA serta melakukan penataan kembali pada pembagian kamar santri agar menghindari tingginya angka kepadatan hunian dan mendorong pengembangan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
The condition of Islamic boarding school dormitories can trigger the emergence of various causes of ISPA. This study aims to analyze environmental and behavioral factors associated with symptoms of ARI in students at the Tunas Mulia Bantar Gebang Foundation and Tahfidz Siti Aminah House located in West Java Province using a cross sectional study design. The research sample consisted of 90. The results showed that as many as 64.4% of students at the Tunas Mulia Foundation and Tahfidz Siti Aminah House experienced symptoms of ARI, the occupancy density of all rooms was in a state that did not meet the requirements, and the majority of students had implemented clean and healthy living behaviors in preventing ISPA well. Statistically, a significant relationship was found between the variable humidity level (p=0.034), regular exercise (p=0.0001), the habit of opening windows (p=0.002), and occupancy density (p=0.000) with symptoms of ARI. Meanwhile, the variable washing hands with soap and water, coughing behavior, and ventilation area did not have a significant relationship with the risk of ARI symptoms. Islamic boarding schools can hold health education events for the Islamic boarding school community regarding the causes, risk factors, symptoms, and ways to prevent ISPA and rearrange the distribution of student rooms to avoid high occupancy rates and encourage the development of a Clean and Healthy Behavior program.
S-11418
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jerikco Lewiyonah; Pembimbing: Zakianis; Penguji: DewiSusanna, Edwin Nasli
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit menular penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di dunia, khususnya di negara berkembang terutama Indonesia. Indonesia merupakan salah satu dari enam negara dengan kasus ISPA pada balita terbanyak di dunia dengan insiden yang cukup tinggi. Beberapa faktor yang berkaitan dengan ISPA pada balita diantaranya yaitu faktor sosio demografi, seperti usia Ibu, faktor sosio ekonomi seperti pendidikan orang tua dan faktor lingkungan. DKI Jakarta memiliki beberapa permasalahan yang umum terjadi di kota besar seperti masalah Kependudukan, pekerjaan, dan polusi udara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2019 dan 2020, seperti usia ibu, tingkat Pendidikan ibu, tingkat Pendidikan ayah, jumlah perokok, jumlah industri, jumlah kendaraan bermotor, dan ruang terbuka hijau (RTH) secara statistic. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu desain studi ekologi berdasarkan tempat yang mencakup 44 kecamatan di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Hasil pada penelitian ini menunjukkan adanya korelasi terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita di Provinsi DKI Jakarta yaitu usia ibu (p = 0.011, r = 0.381), jumlah perokok (p = 0.007, r = 0.422), dam ruang terbuka hijau (p = 0.048, r = 0.325). sementara itu, untuk tingkat Pendidikan ibu, tingkat Pendidikan ayah, jumlah kendaraan bermotor, dan jumlah industri menunjukkan hubungan yang tidak signifikan dengan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta.
Read More
S-10984
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ghina Labibah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Hidayani Fazriah
Abstrak:
Latar Belakang : Skabies merupakan penyakit menular yang diakibatkan oleh tungau Sarcoptes scabiei varietas homonis. Penularan skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penyakit skabies sering terjadi pada lingkungan yang berpenghuni padat salah satunya adalah pondok pesantren yang memiliki asrama untuk tempat tinggal santrinya. Kejadian skabies selain mengganggu kesehatan santri namun akan berdampak kepada performa santri untuk menjalankan kegiatan sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis hubungan antara faktor lingkungan dan personal hygiene dengan kejadian skabies pada santri di pesantren. Tujuan : Mengetahui hubungan faktor lingkungan dan personal hygiene dengan kejadian skabies pada santri di pesantren X di Kota Bogor pada Tahun 2022. Metode : Studi cross sectional yang dilakukan pada 1 pesantren di Kota Bogor. 84 orang santri dipilih dengan random sampling untuk menjadi responden penelitian. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan pengambilan data lingkungan secara langsung. Dara yang telah diperoleh akan dilakukan uji statistik univariat dan bivariat. Hasil : Sebanyak 65 orang (77,4%) mengalami skabies, dan 19 orang (22,6%) tidak mengalami skabies. Tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan yaitu suhu dan kelembaban dengan kejadian. Sedangkan faktor personal hygiene seperti kebersihan tangan, kebersihan kuku, kebersihan kulit, kebersihan handuk dan kebersihan pakaian memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian skabies. Kata Kunci : Skabies, Sarcoptes scabiei varietas homonis, Pesantren, Lingkungan, Personal Hygiene
Background : Scabies is an infectious disease caused by the mite Sarcoptes scabiei homonis variety. Transmission of scabies can occur directly or indirectly. Scabies disease often occurs in densely inhabited environments, one of which is Islamic boarding schools which have dormitories for students to live in. The incidence of scabies in addition to disturbing the health of students but will have an impact on the performance of students to carry out daily activities. Based on this, it is necessary to conduct research to analyze the relationship between environmental factors and personal hygiene with the incidence of scabies in students in Islamic boarding schools. Objective: To determine the relationship between environmental factors and personal hygiene with the incidence of scabies in students at Islamic boarding school X in Bogor City in 2022. Methods: Cross sectional study conducted at 1 Islamic boarding school in Bogor City. 84 students were selected by random sampling to become research respondents. The research was conducted using a questionnaire and direct environmental data collection. The data that has been obtained will be subjected to univariate and bivariate statistical tests. Results: As many as 65 people (77.4%) had scabies, and 19 people (22.6%) did not have scabies. There is no significant relationship between environmental factors, namely temperature and humidity with the incidence. Meanwhile, personal hygiene factors such as hand hygiene, nail hygiene, skin hygiene, towel cleanliness and clothing hygiene have a significant relationship with the incidence of scabies. Keywords : Scabies, Sarcoptes scabiei homonis variety, Islamic boarding school, Environment, Personal Hygiene
Read More
Background : Scabies is an infectious disease caused by the mite Sarcoptes scabiei homonis variety. Transmission of scabies can occur directly or indirectly. Scabies disease often occurs in densely inhabited environments, one of which is Islamic boarding schools which have dormitories for students to live in. The incidence of scabies in addition to disturbing the health of students but will have an impact on the performance of students to carry out daily activities. Based on this, it is necessary to conduct research to analyze the relationship between environmental factors and personal hygiene with the incidence of scabies in students in Islamic boarding schools. Objective: To determine the relationship between environmental factors and personal hygiene with the incidence of scabies in students at Islamic boarding school X in Bogor City in 2022. Methods: Cross sectional study conducted at 1 Islamic boarding school in Bogor City. 84 students were selected by random sampling to become research respondents. The research was conducted using a questionnaire and direct environmental data collection. The data that has been obtained will be subjected to univariate and bivariate statistical tests. Results: As many as 65 people (77.4%) had scabies, and 19 people (22.6%) did not have scabies. There is no significant relationship between environmental factors, namely temperature and humidity with the incidence. Meanwhile, personal hygiene factors such as hand hygiene, nail hygiene, skin hygiene, towel cleanliness and clothing hygiene have a significant relationship with the incidence of scabies. Keywords : Scabies, Sarcoptes scabiei homonis variety, Islamic boarding school, Environment, Personal Hygiene
S-10967
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syifa Aulia Hudriah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Skabies adalah penyakit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Penyakit ini dapat menular baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Skabies masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada individu yang hidup dalam kelompok, seperti di pondok pesantren. Penularan skabies dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan Personal Hygiene. Selain mengganggu kesehatan santri, skabies juga dapat memengaruhi aktivitas mereka sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan dan Personal Hygiene yang berhubungan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren X, Kota Bogor pada tahun 2024. Desain penelitian ini adalah studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 90 orang yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran lingkungan, serta dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik faktor prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47 orang menderita skabies dan 43 orang tidak mengalami skabies. Faktor Personal Hygiene yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian skabies antara lain kebersihan tangan (OR 4,67; 1,85-11,75), kebersihan kuku (OR 3,60; 1,50-8,64), kebersihan pakaian (OR 4,96; 1,82-13,53), kebersihan handuk (OR 4,03; 1,57-10,32), dan kebersihan tempat tidur (OR 31,27; 9,11-107,25). Sedangkan faktor lingkungan seperti suhu dan kelembapan tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian skabies. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian skabies pada santri adalah kebersihan tempat tidur (OR 90,72; 14,83-554,9), kebersihan tangan (OR 6,64; 0,93-47,48), dan kebersihan pakaian (OR 4,31; 0,63-29,34).
Scabies is an infectious disease caused by the mite Sarcoptes scabiei var. hominis. This disease can be transmitted either through direct or indirect contact. Scabies is still a public health problem in Indonesia, especially in individuals who live in groups, such as in Pondok Pesantren. Scabies transmission is influenced by environmental factors and personal hygiene. Apart from disrupting the health of students, scabies can also affect their daily activities. This study aims to analyze environmental factors and personal hygiene that are associated with the incidence of scabies at Pondok Pesantren Data was collected through interviews using questionnaires and environmental measurements, and analyzed using the chi-square test and logistic regression of predictive factors. The results showed that 47 people suffered from scabies and 43 people did not. Personal hygiene factors that have a significant relationship with the incidence of scabies include hand hygiene (OR 4.67; 1.85-11.75), nail hygiene (OR 3.60; 1.50-8.64), clothing hygiene (OR 4.96; 1.82-13.53), towel hygiene (OR 4.03; 1.57-10.32), and bed hygiene (OR 31.27; 9.11-107.25). Meanwhile, environmental factors such as temperature and humidity do not show a significant relationship with the incidence of scabies. The variables that most influence the incidence of scabies in students are bed hygiene (OR 90.72; 14.83-554.9), hand hygiene (OR 6.64; 0.93-47.48), and clothing hygiene (OR 4.31; 0.63-29.34).
S-11859
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nanda Labado; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Lora Agustina, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
ISPA merupakan salah satu penyakit penyebab kematian pada anak-anak di dunia khususnya Negara berkembang seperti di Indonesia. Faktor penyebab ISPA adalah kondisi lingkungan rumah serta PHBS yang buruk. Tingginya insiden ISPA di Kabupaten Gorontalo khususnya balita dan belum tercapainya target RPJMN rumah sehat di Provinsi Gorontalo melatarbelakangi dilakukannya penelitian terkait kondisi lingkungan rumah dan perilaku dengan Kejadian ISPA pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tilango. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor terkait kondisi lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian ISPA di kecamatan Tilango. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross sectional dengan analisis multivariate Binary Regresi logistic model prediksi. Populasi pada penelitian ini adalah anak balita usia 0-59 bulan yang berkunjung ke Puskesmas Tilango. Pemilihan sampel penelitian ini dilakukan secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 92 responden. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa yang paling dominan secara signifikan terhadap Kejadian ISPA pada balita di Kecamatan Tilango yaitu Pendapatan (OR=13,9, 95% CI 3,395-57,668), Pendidikan (OR=11,3, 95%CI 2,498-51.650), Status Imunisasi (OR=9,8, 95%CI 1,019-95.346), Luas Ventilasi (OR= 8,9, 95%CI= 2,204-35,956), Kebiasaan Buka Jendela (OR=0,05, 95%CI 0,007-0,447). kesimpulan pada penelitian ini adalah banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA pada balita yaitu karakteristik balita, karakteristik orangtua, perilaku dan lingkungan rumah
Read More
T-6425
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Epi Ria Kristina Sinaga; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
S-6983
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadya Isnaeni Pangabean; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
S-7472
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zaidan Rizqullah; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Al Asyary, Muhammad Adriansyah Hamonangan Siregar
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Pondok pesantren merupakan salah satu tempat berisiko terjadinya penularan skabies dan skabies merupakan salah satu masalah kesehatan santri di pondok pesantren. Faktor yang dapat menyebabkan tingginya prevalensi skabies di pondok pesantren adalah riwayat kontak dengan penderita serta pada kebiasaan berbagi barang pribadi dan personal hygiene atau kebersihan perorangan yang tidak baik. Perlu dilakukan penelitian tentang kejadian skabies, riwayat kontak santri, berbagi barang pribadi, dan personal hygiene para santri di Pondok Pesantren Miftahul Madaniyyah. Tujuan: Mengetahui ada atau tidak hubungan sebab-akibat antara riwayat kontak santri dan kejadian skabies pada santri di Pondok Pesantren Miftahul Madaniyyah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional studi kohort retrospektif (retrospective study) yang dimana penelitian yang mengandalkan waktu dan mengikuti perjalanan pemajanan. Jumlah dari sampel pada penelitian ini sebanyak 83 santri dengan menggunakan teknik total sampling. Semua data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer. Analisis data yang dilakukan adalah univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Menurut hasil penelitian, diketahui insidens skabies sebesar 22,9% dan diketahui terdapat hubungan sebab-akibat antara Riwayat Kontak Santri terhadap Skabies pada Santri. Santri yang memiliki riwayat kontak dengan penderita skabies memiliki risiko 29,271 kali lebih tinggi mengalami skabies dibandingkan dengan santri yang tidak memiliki riwayat kontak dengan penderita skabies setelah dikontrol oleh variabel confounding, yaitu Kebersihan Alas Tidur dan Kebersihan Pakaian. Kesimpulan: Terdapat hubungan sebab-akibat antara riwayat kontak santri dan kejadian skabies pada santri di Pondok Pesantren Miftahul Madaniyyah. Saran: Diharapkan untuk mewajibkan pelaksanaan pemeriksaan skabies bagi santri sebelum menetap di pondok.
Background: Pondok pesantren is one of the places at risk of occurrence of transmission scabies and scabies is among the health problems of the student (santri) in the pondok pesantren. Factors that can cause the high prevalence of scabies in the pondok pesantren are the history of contact with the sufferers and on the habit of sharing personal stuff and personal hygiene or poor individual hygiene. It is necessary to do research on scabies incidents, contact history of santri, share personal stuff, and personal hygiene of santri in Miftahul Madaniyyah. Objective: To determine cause-and-effect relationship between the contact history of santri and the incident of scabies on santri in Miftahul Madaniyyah. Method: This study is an observational study of a retrospective cohort study, which is research that relies on time and follows the course of exposure. The total number of samples in this study was 83 santri using total sampling techniques. All data collected in this study is primary data. Data analysis is carried out in univariate, bivariate and multivariate. Results: According to the results of the study, it is known that the incidence of scabies was 22.9% and there is a cause-and-effect relationship between contact history and scabies. Santri who had a history of contact with scabies sufferers had a 29.271 times higher risk of having scabies compared to the santri who did not have a historical contact with scabies sufferers after being controlled by cleanliness of clothes and cleanliness of bedding (as confounding variables). Conclusion: There is a causal relationship between the contact history of santri and skabies incidents in santri at the Pondok Pesantren Miftahul Madaniyyah. Suggestion: It is expected to require the implementation of scabies inspection for the santri before settling in the pondok pesantren.
S-11388
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
