Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36302 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nada Syifa; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Syafran Arrazy
Abstrak: Pencemaran udara luar ruangan telah menjadi salah satu risiko lingkungan terbesar terhadap kesehatan. Pedagang kaki lima dianggap sebagai populasi yang paling berisiko karena bekerja dalam waktu yang cukup lama dan secara terus-menerus terpapar polusi udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi risiko kesehatan akibat pajanan agen risiko partikulat yaitu Total Suspended Particulate (TSP), PM10, dan PM2.5 terhadap pedagang kaki lima di Kelurahan Glodok, Jakarta Barat. Penelitian menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) menggunakan data primer dengan jumlah sampel pedagang kaki lima sebanyak 65 responden. Berdasarkan hasil pengukuran, konsentrasi TSP sebesar 43 μg/m3, PM10 sebesar 25 μg/m3, dan PM2.5 sebesar 16 μg/m3. Seluruh konsentrasi partikulat masih di bawah standar baku mutu Indonesia, namun untuk PM2.5 sudah sedikit melebihi standar baku mutu World Health Organization (WHO). Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan nilai rata-rata dan nilai tengah, tingkat risiko seluruh pajanan partikulat (TSP, PM10, PM2.5) menunjukkan nilai RQ 1 atau dinyatakan aman. Berdasarkan hasil perhitungan setiap responden, terdapat 2 responden berisiko terhadap pajanan PM10 dan PM2.5. Pengelolaan risiko yang dapat dilakukan adalah menurunkan konsentrasi partikulat hingga batas aman, salah satunya dengan mengembangkan substitusi bahan bakar dengan yang lebih ramah lingkungan dan menggunakan sumber tenaga alternatif rendah polusi seperti tenaga listrik.
Outdoor air pollution has become one of the greatest environmental risks to health. Street vendors are considered to be the population at risk because they work long hours and are constantly exposed to air pollution. This study aims to estimate the health risks due to exposure to particulate risk agents, namely Total Suspended Particulate (TSP), PM10, and PM2.5 to street vendors in Glodok Urban Village, West Jakarta. The study used an Environmental Health Risk Analysis (EHRA) approach using primary data with a sample of 65 street vendors. Based on the measurement results, the concentration of TSP was 43 g/m3, PM10 was 25 g/m3, and PM2.5 was 16 g/m3. All particulate concentrations are still below the Indonesian quality standards, but PM2.5 has slightly exceeded the World Health Organization (WHO) quality standards. Based on the results of calculations using the average and median values, the risk level of all particulate exposures (TSP, PM10, PM2.5) shows an RQ1 or is declared safe. Based on the calculation results of each respondent, there are 2 respondents at risk of exposure to PM10 and PM2.5. Risk management that can be done is to reduce the concentration of particulates to a safe limit, one of them is by developing fuel substitution with more environmentally friendly and using alternative sources of low-pollution energy such as electric power.
Read More
S-11140
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lailatul Qomariyah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Abdur Rahman, Sari Meliana
Abstrak: Partikulat (PM2.5), nitrogen dioksida (NO2), dan benzo(a)pyrene diketahui sebagai polutan yang sering ditemukan di udara dari sisa/hasil pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor yang dapat mempengaruhi kualitas udara terutama pada populasi rentan seperti anak-anak dimana sebagian waktunya dihabsikan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk adalah mengestimasi risiko pajanan partikulat (PM2.5), nitrogen dioksida (NO2), dan benzo(a)pyrene pada siswa di tiga sekolah dasar negeri Jakarta Barat. Penelitian ini menghasilkan konsentrasi PM2.5 terkecil dan terbesar di SDN Cengkareng Barat. Sedangkan konsentrasi NO2 terkecil di SDN Cengkareng Barat dan terbesar di SDN Cengkareng Timur. Sementara konsentrasi benzo(a)pyrene terkecil di SDN Cengkareng Barat dan terbesar di SDN Cengkareng Timur. Kesimpulan dari penelitian ini, risiko non karsinogen pajanan PM2.5, NO2, dan benzo(a)pyrene dari ketiga sekolah memiliki nilai RQ ≤ 1 atau dikatakan aman sedangkan risiko kesehatan karsinogenik pajanan benzo(a)pyrene memiliki nilai E > 4 yang berarti siswa di sekolah berisiko
Read More
T-5742
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sulthan Alvin Faiz Bara Mentari; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Herwin Meifendy, Debbie Valonda S
Abstrak:
Jalan Raya Daan Mogot-Pesing Kota Jakarta Barat merupakan jalan raya yang memiliki fungsi vital karena dikelilingi perumahan, industri, pasar, menghubungkan dua kota besar (Jakarta Barat dan Tanggerang), serta merupakan jalan raya yang memiliki titik konsentrasi PM2.5 tertinggi dengan 298 µg/m3 berdasarkan data IQair. Oleh karena itu, diperlukan sebuah penelitian yang dapat menganalisis risiko kesehatan terhadap masyarakat yang tinggal disekitarnya akibat pajanan PM2.5. Penelitian ini menggunakan metode ARKL dengan sampel udara pada 4 titik pengukuran dan sampel subjek sebanyak 96 responden. Pengambilan sampel udara menggunakan alat Dusttrak sedangkan pengambilan data sampel subjek dilakukan dengan wawancara. Berdasarkan hasil pengukuran PM2.5 pada 4 titik pengukuran, terdapat 3 titik yang konsentrasinya telah berada diatas baku mutu PP No.22 tahun 2021 pada titik 2 dengan 73,8 µg/m3, titik 3 dengan 57,2 µg/m3, dan titik 4 dengan 155,4 µg/m3. Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan data rerata berat badan responden 59,5 kg, umur 44,5 tahun, waktu pajanan 24 jam/hari, frekuensi pajanan 350 hari/tahun, dan durasi pajanan 20 tahun. Intake realtime dan lifetime tertinggi berada pada titik 4 pengukuran dengan konsentrasi maksimum 0,03 mg/kg/hari dan 0,05 mg/kg/hari. RQ realtime dan lifetime tertinggi berada pada titik 4 dengan nilai maksimum 1,74 dan 2,61. Dibutuhkan manajemen risiko yang dapat menanggulangi titik dengan kategori berisiko diantaranya edukasi penggunaan masker, menanam tanaman penyaring debu dalam rumah, peningkatan gizi, serta penghijauan jalan raya.

Daan Mogot-Pesing road of West Jakarta is a highway that has a vital function because it is surrounded by housing, industry, markets, connects two big cities (West Jakarta and Tangerang), and is a highway that has the highest PM2.5 concentration point with 298 µg /m3 based on IQair data. Therefore, a study is needed that can analyze the health risks to the people who live around them due to PM2.5 exposure. This study used the EHRA method with air samples at 4 measurement points and a sample of 96 respondents. Air samples were taken using the Dusttrak tool while the subject sample data was collected by interview. Based on the results of PM2.5 measurements at 4 measurement points, there are 3 points whose concentrations are above the PP No. 22 of 2021 quality standards at point 2 with 73.8 µg/m3, point 3 with 57.2 µg/m3, and point 4 with 155.4 µg/m3. Based on the interview results, the average respondent's body weight was 59.5 kg, age 44.5 years, exposure time 24 hours/day, exposure frequency 350 days/year, and exposure duration 20 years. The highest realtime and lifetime intakes were at point 4 of measurement with a maximum concentration of 0.03 mg/kg/day and 0.05 mg/kg/day. The highest realtime and lifetime RQ is at point 4 with a maximum value of 1.74 and 2.61. Risk management is needed that can address points with risk categories including education on using masks, planting dust filter plants in the house, improving nutrition, and planting plants around the road.
Read More
T-6615
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Avatari Khumaira Hadi; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Ema Hermawati, Resyana Yunita
Abstrak:
Pencemaran udara, khususnya PM2.5, menjadi masalah serius karena partikel halus ini mampu masuk hingga alveoli paru dan peredaran darah. Wilayah Jalan Margonda Raya merupakan salah satu kawasan di Kota Depok dengan lalu lintas padat dan aktivitas ekonomi yang tinggi, sehingga berpotensi menghasilkan emisi PM2.5 dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat risiko pajanan PM2.5 terhadap pekerja luar ruangan di sepanjang Jalan Margonda Raya, Kota Depok. Desain studi yang digunakan adalah analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) terhadap 100 responden pekerja luar ruangan. Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan selama satu jam pada lima titik berbeda dan diperoleh rata-rata sebesar 166,8 µg/m³, sedangkan estimasi konsentrasi 24 jam menunjukkan nilai rata-rata sebesar 88,3 µg/m³ yang telah melebihi baku mutu udara ambien. Karakteristik antropometri responden menunjukkan nilai median berat badan sebesar 59,6 kg. Pola aktivitas pekerja menunjukkan nilai median waktu pajanan adalah 8 jam/hari, frekuensi pajanan 310 hari/tahun, dan durasi pajanan 6 tahun. Nilai asupan PM2.5 yang dihitung menghasilkan rata-rata 0,0038 mg/kg/hari untuk skenario realtime dan 0,0158 mg/kg/hari untuk skenario lifetime. Nilai RQ (Risk Quotient) masing-masing adalah 1,078 (realtime) dan 4,382 (lifetime), yang menunjukkan bahwa tingkat risiko berada pada kategori tidak aman (RQ > 1). Oleh karena itu, diperlukan manajemen risiko seperti penurunan konsentrasi paparan PM2.5 menjadi 0,038 mg/m³, pengurangan durasi pajanan menjadi 7,6 jam/hari, serta pengurangan frekuensi kerja menjadi 294 hari/tahun.


Air pollution, particularly PM2.5, is a serious issue because these fine particles can penetrate deep into the lung alveoli and enter the bloodstream. Jalan Margonda Raya is one of the areas in Depok City with dense traffic and high economic activity, so it has the potential to produce large amounts of PM2.5 emissions. This study aims to assess the level of risk of PM2.5 exposure to outdoor workers along Jalan Margonda Raya, Depok City. This research was conducted using the Environmental Health Risk Assessment (EHRA) method among 100 outdoor worker respondents. PM2.5 concentrations were measured over one-hour intervals at five different locations, resulting in an average of 166.8 µg/m³, while the 24-hour concentration estimate showed an average value of 88.3 µg/m³ which exceeded the ambient air quality standard. The anthropometric characteristics of the respondents showed a median body weight of 59.6 kg. Worker activity patterns show a median exposure time of 8 hours/day, exposure frequency of 310 days/year, and exposure duration of 6 years. The calculated PM2.5 intake values yield an average of 0.0038 mg/kg/day for the realtime scenario and 0.0158 mg/kg/day for the lifetime scenario. The RQ (Risk Quotient) values are 1.078 (realtime) and 4.382 (lifetime), respectively, indicating that the risk level is in the unsafe category (RQ > 1). Therefore, risk management is needed such as reducing the concentration of PM2.5 exposure to 0.038 mg/m³, reducing the duration of work to 7.6 hours/day, and reducing the frequency of work to 294 days/year.
Read More
S-12031
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Andita Irviena; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ema Hermawati, Abdul Rahman
Abstrak:
Pencemaran udara merupakan risiko lingkungan terbesar yang dapat berdampak pada kesehatan. Kondisi kualitas udara dalam ruang dapat mempengaruhi kesehatan penghuninya. Salah satu polutan yang terdapat dalam udara adalah partikulat. Partikulat ini memiliki ukuran yang tidak terlihat oleh kasat mata. Salah satunya PM 2,5 yang memiliki ukuran 25 mikron. Partikulat tersebut dapat terhirup oleh manusia dan masuk ke sistem pernapasan manusia. Partikulat ini terbentuk dari berbagai bahan kimia, biologi, dan fisik yang toksisitasnya belum dapat ditentukan secara pasti. Penduduk yang tinggal di area padat penduduk dan dekat dengan jalan raya dan pabrik pada kawasan industri menjadi kelompok rentan yang dapat menghirup PM 2,5, sehingga diperlukan analisis risiko kesehatan lingkungan untuk mengetauhi tingkat risiko kesehatan pajanan PM 2,5 pada penduduk. Sebanyak 72% penduduk di lima kecamatan di DKI Jakarta memiliki perhitungan risiko non karsinogenik lebih dari 1 sehingga dapat dikatakan tidak aman.

Air pollution is the biggest environmental risk that can impact health. Indoor air quality conditions can affect the health of the occupants. One of the pollutants found in the air is particulates. These particulates have sizes that are invisible to the naked eye. One of them is PM 2.5 which has a size of 25 microns. These particulates can be inhaled by humans and enter the human respiratory system. These particulates are formed from various chemical, biological and physical substances whose toxicity cannot be determined with certainty. Residents who live in densely populated areas and close to roads and factories in industrial areas are a vulnerable group who can inhale PM 2.5, so an environmental health risk analysis is needed to determine the level of health risk of exposure to PM 2.5 in the population. As many as 72% of residents in five sub-districts in DKI Jakarta have a non-carcinogenic risk calculation of more than 1 so they can be said to be unsafe.
Read More
S-12301
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Fitri Cahyani; Pembimbing: Suyud; Penguji: Rita Parmawati, Zakianis
Abstrak: Minyak jelantah adalah minyak yang telah digunakan lebih dari 2 atau 3 kali penggorengan dan dapat dikategorikan sebagai limbah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan sejumlah penyakit pada manusia. Saat ini pemakaian minyak jelantah dimasyarakat masih terbilang tinggi khususnya bagi pedagang kaki lima, para pedagang kaki lima masih belum banyak mengetahui bahaya dari pemakaian minyak jelantah bagi kesehatan maupun lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemakaian minyak goreng berulang kali pada pedagang kaki lima di Kota Depok. Penelitian ini menggunaan studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sumber data penelitian ini merupakan data primer yang diambil langsung oleh peneliti menggunaan teknik simple random sampling. Populasi studi pada penelitian ini adalah seluruh pedagang kaki lima di Kota Depok yang menggunakan minyak goreng. Sampel yang didapatkan sebanyak 58 pedagang. Hasil penelitian didapatkan bahwa Faktor individu yang terdiri dari variabel usia (p-value 0,975) dan pendidikan (p-value 0,419) tidak memiliki hubungan bermakna dengan perilaku pemakaian minyak goreng berulang kali, sedangkan untuk variabel alasan (p-value 0,001), pengetahuan (p-value 0,027) dan sikap (p-value 0,00) memiliki hubungan bermakna terhadap perilaku pemakaian minyak goreng berulang kali. Faktor lingkungan terdiri dari variabel lingkungan (p-value 0,259) dan ketersedian (p-value 0,340) tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku pemakaian minyak goreng berulang kali pada pedagang kaki lima di Kota Depok tahun 2022.
Used cooking oil is an oil that has been used more than 2 or 3 times in frying pans and can be categorized as waste because it can cause environmental damage and many diseases in humans. Currently, the use of used cooking oil in the community is still relatively high, especially for street vendors, street vendors still do not know much about the dangers of using used cooking oil for health and the environment. This study aims to determine the factors related to the use of cooking oil waste (used cooking oil) at street vendors in Depok City. This study uses quantitative studies with a cross-sectional approach. The source of this research data is primary data taken directly by researchers using simple random sampling techniques. This study's population in this study was all street vendors in Depok City who used cooking oil. The sample obtained was 58 traders. The results of the study found that individual factors consisting of age variables (p-value 0.975) and education (p-value 0.419) did not have a meaningful relationship with the behavior of using cooking oil waste (used cooking oil), while the variables of reason (p-value 0.001), knowledge (p-value 0.027) and attitude (p-value 0.00) have a meaningful relationship to the behavior of using cooking oil waste (used cooking oil). Environmental factors consisting of environmental variables (p-value 0.259) and availability (p-value 0.340) do not have a meaningful relationship with the behavior of using cooking oil waste (used cooking oil) at street vendors in Depok City in 2022.
Read More
S-11084
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Dhesi Anggraeni; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Abdur Rahman
Abstrak: Permukiman Nelayan Kali Adem Muara Angke berlokasi di tepian Perairan Teluk Jakarta yang telahtercemar Kadmium. Masyarakat disana terbiasa mengonsumsi ikan yang berasal dari Pasar Ikan GrosirMuara Angke, dimana pasokan ikan yang dijual berasal dari Perairan Teluk Jakarta dan sebagian dari PantaiUtara Pulau Jawa. Pengonsumsian ikan dari perairan yang tercemar berisiko menimbulkan gangguankesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko pajanan Kadmium daripengonsumsikan ketiga jenis ikan yaitu ikan kembung, ikan tongkol dan ikan bandeng, pada masyarakat diPermukiman Nelayan Kali Adem melalui pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan (Chronic Daily Intake) Kadmium melalui ikan yaitu sebesar9 x 10-5 mg/kg/hari, dengan laju asupan (R) sebesar 153,3 gram/hari, frekuensi pajanan (fE) selama 312hari/tahun, durasi pajanan (Dt) selama 26 tahun dan rata-rata berat badan (Wb) sebesar 59 kg. Hasilperhitungan tingkat risiko (RQ) pada pajanan real time untuk jenis ikan kembung, ikan tongkol dan ikanbandeng berturut-turut sebesar 0,070; 0,012; 0,006. Pada estimasi pajanan 10 tahun sebesar 0,097; 0,017;0,008. Pada estimasi pajanan 20 tahun sebesar 0,124; 0,022; 0,011. Dan untuk estimasi pajanan 30 tahunsebesar 0,152; 0,027; 0,013. Hasil tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di Permukiman Nelayan KaliAdem Muara Angke secara populasi belum memiliki risiko dan masih aman dari timbulnya gangguankesehatan nonkarsinogenik akibat pajanan Kadmium dari pengonsumsian ikan untuk pajanan saat inihingga estimasi 30 tahun mendatang, dengan asumsi bahwa sumber pajanan hanya berasal dari ikan dantidak memperhitungkan pajanan Kadmium dari sumber lain.kata kunci : analisis risiko kesehatan lingkungan; ikan; kadmium; muara angke; pencemaran air laut
Kali Adem Muara Angke Fisherman Community located on the shores of Jakarta Bay which have beenpolluted by Cadmium. The community always eats fish from Pasar Ikan Grosir Muara Angke, where thesupplies of fish are from Jakarta Bay and partly from North Coast of Java Island. The consumptions ofcontaminated fish would pose a risk of health problems. This study aimed to determine the level of riskexposure to Cadmium at Kali Adem Muara Angke Fisherman Community through Environmental HealthRisk Analysis (EHRA) approach. The results showed that the intake (Chronic Daily Intake) of Cadmiumin fish at 9 x 10-5 mg/kg/hari, with the fish intake rate of 153,3 gram/day, frequency of exposure at 312days/year, duration of exposure for 26 years and the average body weight of 59 kg. The results of riskquotient (RQ) analysis for real time exposure in kembung fish, tongkol fish and bandeng fish are 0,070;0,012; 0,006. For 10 years exposure estimation, the results of risk quotient (RQ) are 0,097; 0,017; 0,008.For 20 years exposure estimation are 0,124; 0,022; 0,011. And for the 30 years exposure estimation are0,152; 0,027; 0,013. The results showed that the fisherman community, do not have risks and still safe fromthe noncarcinogenic health risk at this time to 30 years ahead, based on the assumption that Cadmiumexposure comes from fish only and do not take into the Cadmium exposure from the other sources.keywords : cadmium; environmental health risk assessment; fish; muara angke; sea water contamination.
Read More
S-10498
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Katania Rosela Putri; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Ririn Arminsih, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: DAMPAK NEGATIF YANG DAPAT DITIMBULKAN DARI INDUSTRI BETON ADALAH PAJANAN DEBU PARTIKULAT TERHADAP PEKERJA YAITU PARTICULATE MATTER 2,5 MIKRON (PM2,5) KARENA DAPAT TERHIRUP KE DALAM PARU HINGGA MASUK KE DALAM PEREDARAN DARAH. PENELITIAN INI MEMILIKI TUJUAN UNTUK MENGANALISIS RISIKO KESEHATAN PEKERJA DI CONCRETE BATCHING PLANT PT. X AKIBAT PAJANAN INHALASI DEBU PARTIKULAT PM2,5. RISIKO DIHITUNG MENGGUNAKAN METODE ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN (ARKL) UNTUK MENGETAHUI NILAI RISK QUOTIENT (RQ). NILAI RQ DIPEROLEH DENGAN MEMBAGI ASUPAN PAJANAN PERBERAT BADAN PERHARI DENGAN NILAI REFERENCE CONCENTRATION (RFC). JIKA NILAI RQ>1 MAKA PERLU DILAKUKAN MANAJEMEN RISIKO. PENELITIAN INI MENGHITUNG RISIKO PAJANAN PM2,5 PADA 72 PEKERJA DI BATCHING PLANT PT. X. SAMPLING DILAKUKAN DI 4 TITIK SELAMA 1 JAM MENGGUNAKAN HVAS, MASING-MASING TITIK DILAKUKAN 2 KALI SAMPLING YAITU PADA SIANG HARI DAN MALAM HARI DENGAN KONSENTRASI RATA-RATA 120MG/M3 . KONSENTRASI TERSEBUT SETELAH DIKONVERSI BERADA DIATAS BAKU MUTU. PERHITUNGAN RISIKO DENGAN DURASI REAL TIME SECARA RERATA TIDAK BERISIKO NAMUN BERISIKO BAGI 5 ORANG PEKERJA. PERUSAHAAN AKAN TERUS BERJALAN, MAKA PERLU DILAKUKAN PENILAIAN RISIKO PADA DURASI LIFE TIME (25 TAHUN) DENGAN HASIL RERATA BERISIKO PALING TIDAK SELAMA 9 TAHUN KEDEPAN. MAKA, PERLU DILAKUKAN MANAJEMEN RISIKO UNTUK 25 TAHUN KEDEPAN DENGAN CARA MENURUNKAN KONSENTRASI PM2,5 MENJADI JIKA KONDISI MASIH SAMA YAITU PEKERJA DENGAN RATA-RATA BERAT BADAN 66,85KG BEKERJA 12 JAM PERHARI DALAM 317 HARI PERTAHUN. KATA KUNCI: PM2,5, INDUSTRI BETON, CONCRETE BATCHING PLANT, ANALISIS RISIKO
Read More
S-9884
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Dhiwa Hidayat; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Zakianis, Ainun Yakin
Abstrak:
Pajanan agen kimia yang digunakan dalam proses produksi berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan bagi para pekerja yang berinteraksi dengan agen-agen kimia yang salah satunya adalah cat. Berdasarkan data hasil penelitian di Padang, Sumatera Barat diketahui terdapat cemaran logam berat Kadmium (Cd) di udara bengkel yang melakukan proses pengecatan. Sementara itu, hasil penelitian Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan lain di Semarang dan Palembang, diketahui terdapat Sebagian populasi pekerja bengkel yang melakukan proses pengecatan dikategorikan berisiko (RQ>1) terhadap pajanan logam berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko kesehatan non-karsinogenik dan karsinogenik pada populasi pekerja bengkel produksi perusahaan X dari proses pengecatan yang dilakukan di bengkel produksi perusahaan tersebut. Desain studi yang digunakan pada penelitian ini adalah Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan dengan pendekatan desktop study. Nilai konsentrasi yang digunakan dalam analisis risiko kesehatan lingkungan ini didasarkan pada hasil penelitian di bengkel yang melakukan proses pengecatan di Padang, Sumatera Barat. Hasil Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan yang dilakukan kepada 25 responden pekerja bengkel produksi perusahaan X menunjukkan tidak terdapat adanya risiko kesehatan baik secara non-karsinognik (RQ<1) maupun karsinogenik (ECR<0,0001), juga secara berkelompok maupun secara individu masing-masing pekerja bengkel produksi. Meskipun tidak ditemukan adanya tingkat risiko kesehatan yang berisiko, pekerja tetap dianjurkan untuk tetap menggunakan APD untuk mencegah risiko lain yang tidak dihitung dalam penelitian ARKL ini.

Exposure to chemical hazard used in production activity has posed some health risks to workers working with chemical such as paint. previous study conducted in painting workshop in Padang has found that contamination of Cadmium heavy metal are present on the workshop air. Environmental health risk assessment study conducted in Painting workshops in Semarang and Palembang shows that some of the workers of the painting workshop were categorized at risks of health problems posed by the exposure of Cadmium from painting process (RQ>1). This research aims to assess both non-carcinogenic and carcinogenic environmental health risk levels of the workers of X Company from Cadmium exposure from painting processes of production activity. This research was done with Environmental Health Risk Assessment method with desktop study approach. Concentration value used in this research was based on previous findings of Cadmium pollution in painting workshop air in Padang. The result shows that health risks of both non-carcinogenic and carcinogenic were categorized as “not at risk” for the workers of production workshop of X Company (RQ<1, ECR<0,0001). Even though the workers of X company with certain anthropometric and activity value were not at risk of health problem from the exposure of cadmium at the levels used in this research, workers still needs to use PPE to protect themselves from another hazard that was not included in this research.
Read More
S-11272
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Redi Yudha Irianto; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Al Asyrary, Bambang Wispriyono, Miko Hananto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Polusi udara merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kematian. NO2 adalah salah satu gas yang berkontribusi meningkatkan polusi udara yang dihasilkan dari kegiatan industri. Salah satu Industri yang menghasilkan emisi gas NO2 adalah Industri baja khususnya dari peralatan boiler dan furnace. Di Cikarang Barat terdapat industri baja yang berpotensi mengeluarkan emisi NO2 dan menyebabkan risiko kesehatan masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besar risiko lingkungan akibat pajanan NO2 dan menganalisis pengaruh karakteristik individu terhadap gangguan pernapasan pada masyarakat disekitar industri baja. Desain penelitian ini adalah Cross Sectional dengan pendekatan ARKL.

Air pollution is a health problem that can cause death. NO 2 is a gas that contributes to increase air pollution resulting from industrial activities. One industry that produces NO 2 gas emissions is the steel industry, especially from boiler and furnace equipment. In West Cikarang there is a steel industry that has the potential to emit NO 2 emissions and cause health risks to the surrounding community. This study aims to look at the large environmental risks due to NO 2 exposure and analyze the effect of individual characteristics on respiratory disorders in the community around the steel industry. The design of this research is Cross Sectional with ARKL approach. The results show that there are 3 respondents living in a radius of <500 meters around the steel industry with a real time RQ> 1. And in the estimated 30 years (life span) there are 6 respondents who have an RQ> 1. The variable that is significantly related is the disease history variable with OR 3.86 95% CI (1,593 -9,351) after being controlled with nutritional status variables. In this study, it is necessary to control the risk of respondents who have a distance of <500 meters from the steel industry.
Read More
T-5873
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive