Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34125 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Gregorius Dimas Herlambang; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Helen Andriani, Zakiah
Abstrak:
Akses layanan kesehatan bagi Orang dengan HIV AIDS (ODHA) di masa pandemi dirasakan lebih berat, selain adanya ketakutan tertular Covid-19, stigma negatif masyarakat dirasakan masih besar. Upaya yang sesuai dengan kondisi ini adalah dengan menyediakan layanan telemedis khusus bagi ODHA. Saat ini belum ada penelitian yang secara khusus membahas pengukuran yang bisa digunakan untuk layanan telemedis bagi ODHA. Penelitian ini mencoba memetakan penelitian-penelitian terkait kepuasan layanan telemedis ODHA lima tahun terakhir dengan menggunakan metode Scoping Review dari empat online database. Hasil yang didapatkan adalah perlunya memakai kuesioner tervalidasi seperti Telemedicine Satisfaction Questionnaire, Telemedicine Satisfaction Usability Questionnaire dan System Usability Scale dan meninjau aspek kualitas konten, kemudahan penggunaan, kegunaan, akseptabilitas, kebutuhan pengguna dan kekhawatiran. Dibutuhkan peningkatan kuantitas dan kualitas penelitian di negara berkembang dan menekankan penggunaan kuesioner teruji dan metode mixed method difasilitasi dengan rekomendasi aplikasi statistik kuantitatif seperti STATA dan kualitatif seperti NVivo 10. Selain itu, disarankan untuk meningkatkan penelitian lanjutan untuk mengukur efisiensi maupun efektifitas telemedis untuk ODHA dan faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kepuasan maupun kesuksesan implementasi telemedis ODHA, khususnya di Indonesia.

Access to health services for people living with HIV AIDS (PLWHA) during the pandemic is felt to be more difficult, in addition to the fear of contracting Covid-19, negative stigma from the community is still felt. Efforts that are in accordance with this condition are to provide special telemedicine services for PLWHA. Currently, there is no research that specifically discusses measurements that can be used for telemedicine services for PLWHA. This study attempted to map studies related to the satisfaction of telemedicine services for PLWHA in the last five years using the Scoping Review method from four online databases. The results obtained are the need to use validated questionnaires such as the Telemedicine Satisfaction Questionnaire, Telemedicine Satisfaction Usability Questionnaire and System Usability Scale and review aspects of content quality, ease of use, usability, acceptability, user needs and concerns. There is a need to increase the quantity and quality of research in developing countries and emphasize the use of tested questionnaires and mixed methods facilitated by the recommendation of quantitative statistical applications such as STATA and qualitative such as NVivo 10. In addition, it is recommended to increase further research to measure the efficiency and effectiveness of telemedicine for PLWHA and what factors are associated with satisfaction and successful implementation of telemedicine for PLWHA, especially in Indonesia.
Read More
S-11174
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Putri Salsabila; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Septiara Putri, Agus Rahmanto
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas telemedis dalam untuk perawatan paliatif bagi pasien kanker selama pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode literature review.
Read More
S-10853
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hidayati; Pembimbing: Adang Bachtiar; Peter Pattinawa; Penguji: Yayuk Hatriyanti, Theresia Ronny Andayani, Yuli Prapanca Satar
Abstrak: PENGEMBANGAN INSTRUMEN DAN PENGUKURAN TINGKAT KEPUASAN PELANGGAN DI UNIT GRAHA SPESIALIS RSMH PALEMBANG TAHUN 2005 Hidayati, Adang Bachtiar, P.A.W. Pattinama. Abstrak Latar Belakang : Bentuk Globalisasi Perumahsakitan dapat berupa rumah sakit sebagai bagian dari jaringan global, rumah sakit akan memperkerjakan pekerja global serta rumah sakit sebagai penjual jasa yang berbasis pengetahuan dan teknologi tinggi. Perubahan orientasi rumah sakit kepada kepuasan pelanggan , memerlukan upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan. Salah satu cara untuk mengetahui mutu pelayanan rumah sakit adalah dengan melakukan survey kepuasan pelanggan. Dan dalam melakukan survey tersebut instrumen yang digunakan harus valid dan reliabel. Tujuan Penelitian: Mendapatkan instrumen yang dapat digunakan untuk pengukuran kepuasan pelanggan dan mengetahui hubungan karateristik pelanggan, minat berkunjung kembali serta keinginan untuk menganjurkan teman/keluarga berkunjung ke Unit Graha Spesialis terhadap kepuasan pelanggan, mengenai mutu pelayanan Unit Graha Spesialis RS.Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2005. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian crossectional yang bersifat analitik kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan data primer, dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2005. Sampel penelitian adalah pengunjung Unit Graha Spesialis sebanyak 400 pelanggan, namun data yang dapat diolah hanya 390 kuesioner. Hasil : Unit Graha Spesialis merupakan salah satu unggulan RSMH Palembang, memerlukan instrumen yang valid dan reliabel yang dapat digunakan untuk pengukuran tingkat kepuasan pelanggan. Selain itu perlu pula mengetahui karateristik pelanggan untuk menentukan segmen pasar. Pada pengukuran tingkat kepuasan pelanggan di peroleh hasil bahwa tingkat kepuasan pelanggan secara umum sebesar 70,8%. Kepuasan tertinggi pada dimensi assurance (75,1%) dan kepuasan terendah pada dimensi responsiveness (54,1%). Keingian pelanggan untuk berkunjung ulang sebesar 58,5% dan ingin menganjurkan teman atau keluarga (55,4%). Faktor yang penentu yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan adalah jenis pekerjaan, besar pendapatan, cara bayar dan alasan berkunjung. Kesimpulan : Instrumen hasil pengembangan tersebut dapat diterapkan untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan di Unit Graha Spesialis RSMH Palembang secara berkala dengan menggunakan pertanyaan yang mempunyai validitas dan realibilitas yang tinggi . Namun bila digunakan di tempat lain misalnya Poliklinik Umum, harus disesuaikan dengan kebutuhan. Tingkat Kepuasan Pelanggan di Unit Graha Spesialis RSMH Palembang, dimensi terbanyak pelanggan merasa puas yaitu dimensi assurance, dan paling banyak yang merasa tidak puas pada dimensi responsiveness. Ditinjau dari SDM, SDM di Unit Graha Spesialis masih kurang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kata Kunci : Pengembangan Instrumen, Kepuasan Pelanggan
Read More
T-2092
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aliya Diandra; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Prastuti Soewondo, Novita Dwi Istanti
Abstrak: Kualitas layanan yang baik diharapkan mampu memenuhi ekspektasi dan mencapai kepuasan dari pelanggan rumah sakit yang mana dapat menjadi faktor penentu loyalitas pelanggan. Loyalitas pelanggan menggambarkan kecenderungan pelanggan untuk memilih kembali layanan kesehatan pada rumah sakit tersebut apabila memerlukan pengobatan di masa mendatang. Loyalitas pelanggan dapat dinilai dari tingkat kemungkinan pelanggan untuk merekomendasikan layanan kepada keluarga atau teman dengan metode Net Promoter Score. Dalam penelitian ini, dari 67 orang responden, diperoleh hasil sebesar 49,3% pelanggan adalah promoters atau memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Rumah Sakit Universitas Indonesia pada tahun 2021 berhasil mencapai Net Promoter Score sebesar 45 dengan skala -100 sampai dengan 100 yang mana menunjukkan bahwa tingkat loyalitas pelanggan sudah pada kategori favorable.
Read More
S-10704
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asti Annisa Utami; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Prastuti Soewondo, Feby Oldfisra
Abstrak:
Upaya mencapai Universal Health Coverage (UHC) dengan memprioritaskan layanan kesehatan primer (PHC) sudah disepakati melalui Deklarasi Astana Tahun 2018. Identifikasi tantangan dalam sistem pendanaan PHC secara global dilakukan agar menjadi lessons learned untuk perbaikan implementasi kedepan, khususnya bagi Indonesia, sebagai masukan bagi Transformasi Kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode scoping review melalui tiga database, yaitu Pubmed, EBSCOhost MEDLINE, dan Scopus, dengan total 43 literatur terinklusi. Tantangan pendanaan PHC ditinjau melalui tiga fungsi, yaitu revenue collection, pooling, dan purchasing. Tantangan dalam revenue collection antara lain sumber pendanaan yang tidak berkelanjutan dan minimnya akuntabilitas proses pengumpulan dana. Tantangan fungsi pooling meliputi terbatasnya cakupan peserta dalam pooling, banyaknya pooling dan tidak tersedianya regulasi yang mengatur beragam pooling untuk pendanaan satu program yang sama, lebih diutamakannya pendanaan layanan rujukan dibandingkan PHC, dan belum dilakukannya pengalokasian anggaran yang disesuaikan dengan risiko dan kebutuhan. Sementara itu, tantangan fungsi purchasing meliputi paket manfaat yang belum sesuai dengan kebutuhan, beban administratif yang besar untuk purchasing, tata kelola provider dan purchaser yang tidak akuntabel, serta besarnya intervensi politik terhadap keputusan purchaser dalam penentuan paket manfaat. Tantangan pendanaan PHC merupakan suatu satu kesatuan sistem pendanaan, sehingga tantangan yang terjadi di fungsi yang satu akan memengaruhi atau memicu munculnya tantangan di fungsi lainnya. Lessons learned untuk Transformasi Kesehatan Indonesia bahwa penghapusan skema alokasi earmarking perlu diikuti implementasi RIBK yang akuntabel. Indonesia sudah memiliki komitmen politik berupa berbagai regulasi untuk mencapai UHC melalui PHC, tetapi masih perlu memperhatikan dukungan SDM dan infrastruktur lainnya agar regulasi bisa dijalankan di tingkat layanan primer. Selain itu, trade-off antara cakupan penduduk dan cakupan layanan paket manfaat perlu diputuskan dengan berbagai pendekatan yang menjunjung nilai value for money dan tetap mengutamakan investasi ke layanan kesehatan primer.

Efforts to achieve Universal Health Coverage (UHC) by prioritizing primary health care (PHC) have been agreed upon through the 2018 Astana Declaration. Identification of challenges in the PHC financing system globally was carried out to become lessons learned for future implementation improvements, especially for Indonesia, as input for Health Transformation. This study used a scoping review method through three databases, namely Pubmed, EBSCOhost MEDLINE, and Scopus, with a total of 43 included literature. PHC financing challenges were reviewed through three functions, namely revenue collection, pooling, and purchasing. Challenges in revenue collection include unsustainable financing sources and lack of accountability in the fund collection process. Challenges in the pooling function include the limited coverage of participants in the pool, the large number of pools and the unavailability of regulations governing various pools for financing the same program, the prioritization of financing referral services over PHC, and the lack of budget allocation tailored to risk and needs. Meanwhile, the challenges of the purchasing function include benefit packages that are not in accordance with the needs, a large administrative burden for purchasing, unaccountable governance of providers and purchasers, and a large amount of political intervention in purchaser decisions in determining benefit packages. PHC financing challenges are a unified financing system, so challenges that occur in one function will affect or trigger challenges in other functions. Lessons learned for Indonesia's Health Transformation is that the elimination of the earmarking allocation scheme needs to be followed by the implementation of an accountable RIBK. Indonesia already has the political commitment in the form of various regulations to achieve UHC through PHC. Still, it needs to pay attention to HR support and other infrastructure so that regulations can be implemented at the primary care level. In addition, the trade-off between population coverage and benefit package service coverage needs to be decided with various approaches that uphold value for money and still prioritize investment in primary health services.
Read More
S-11667
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oktaviana Muharromah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Wachyu Sulistadi, Kuntum Cheyra
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan antara metode pembayaran INA-DRG dengan FFS terhadap efisiensi dan mutu layanan pada kasus Sectio Caesaria di RSUD Kota Bandung. Desain penelitian adalah penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. pengumpulan data dilakukan dengan penelaahan terhadap Rekam Medis rawat inap, Rekam Medis rawat jalan, nota perincian perawatan dan laporan farmasi.Selain itu dengan wawancara medalam kepada pihak yang terkait. Metode pembayaran INA-DRG mempunyai tujuan untuk mendorong efisiensi dan mutu layanan, dari hasil penelitian di RSUD Kota Bandung pada kasus Sectio Caesaria, metode pembayaran INA-DRG gagal mendorong efisiensi untuk kasus tersebut. Namun, untuk kasus Sectio Caesaria pihak Rumah Sakit memberikan pelayanan yang sama dengan metode pembayaran FFS sehingga tidak terjadi penurunan pada mutu layanan di RSUD Kota Bandung. Hal ini dikarenakan konsep INA-DRG yang kurang dipahami dan tidak terimplementasi pada kasus Sectio Caesaria oleh pihak RSUD Kota Bandung. Terlihat pada utilisasi visit dokter, laboratorium, obat dan bhp yang diberikan sama seperti metode pembayaran FFS. Disarankan bagi RSUD Kota Bandung agar mengevaluasi manajemen INA-DRG yang sedang berjalan di Rumah Sakit. Sehingga Rumah Sakit dapat mengetahui bagian-bagian yang harus diperbaiki terutama pada sosialisasi INA-DRG dan mengaplikasikan konsep INA-DRG agar tujuan implemetasi INA-DRG tercapai dan Rumah Sakit dapat merasakan pengaruh metode pembayaran INA-DRG di semua kasus.


This study aimed to evaluate the difference between INA-DRG payment method with FFS on the efficiency and quality of service in case Sectio Caesaria in Bandung Hospital. Design research is research with quantitative and qualitative approaches. Data collection is done by a review of Medical Records Inpatient, Outpatient Medical Record, note the details of care and pharmacy reports. In addition to in-depth interview to the parties concerned. INA-DRG payment method has the objective to promote efficiency and quality of service, the result in hospitals on the upcoming Caesaria Sectio case, INA-DRG payment method fail to encourage efficiency to the case. However, for cases Sectio Caesaria party's Hospital providing services similar to the FFS payment method so that no decrease in quality of care in hospitals in Bandung. This is because the concept of INA-DRG are poorly understood and not implemented in the case Sectio Caesaria by the hospital in Bandung. Seen on the utilization of physician visits, laboratory, medication and given the same bhp as the FFS payment method. Suggested for hospitals to evaluate the management of Bandung INA-DRG ongoing at the hospital. So that's Hospital to find out the parts that should be improved especially in the socialization of INA-DRG and apply the concept of INA-DRG for implementation of INA-DRG goal is reached and the Hospital can feel effect of INA - DRG payment method in all cases.

Read More
B-1285
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farah Riyadi; Pembimbing: Kurnia Sari; Pneguji: Jaslis Ilyas, Atira Ahmad
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan perawatan ibu dan anak di Farah Mom & Baby Care tahun 2025, dengan fokus pada karakteristik pelanggan, persepsi terhadap fasilitas, serta hubungan keduanya terhadap kepuasan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 71 responden yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji univariat dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas pelanggan adalah perempuan berusia di atas 27 tahun, berpendidikan tinggi, dan berpenghasilan menengah ke atas. Sebanyak 54,9% responden menyatakan bahwa fasilitas di Farah Mom & Baby Care belum memadai, meskipun beberapa aspek seperti kebersihan dan kenyamanan dinilai cukup baik. Tingkat kepuasan pelanggan 49,3% merasa puas. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa hanya persepsi terhadap fasilitas yang memiliki hubungan signifikan terhadap kepuasan pelanggan (p=0,000), sementara karakteristik pelanggan seperti usia, pendidikan, pendapatan, dan jarak tempuh tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Temuan ini menunjukkan pentingnya peningkatan fasilitas sebagai strategi utama dalam meningkatkan kepuasan pelanggan.

This study aims to assess customer satisfaction with maternal and child care services at Farah Mom & Baby Care in 2025, focusing on customer characteristics, perceptions of facilities, and their relationship to satisfaction levels. A quantitative approach with a cross-sectional design was used, involving 71 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed through univariate and bivariate methods. The results showed that most customers were women over the age of 27, with higher education levels and middle-to-upper income. A total of 54.9% of respondents considered the available facilities inadequate, despite positive evaluations of aspects such as cleanliness and comfort. Overall customer satisfaction 49.3% reporting satisfaction. Bivariate analysis revealed that only perceptions of facility quality had a significant relationship with customer satisfaction (p=0.000), while variables such as age, education, income, and travel distance showed no significant association. These findings highlight the importance of improving facility quality as a key strategy to enhance customer satisfaction.
Read More
S-12048
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jajang Prihata; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Agustin Kusumayati, Anwar Hasan, Trisna Setiawan, Anang Yuwana
T-3073
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlenita Br Ginting; Pembimbing: Ronnie Rivany, Wahyu Sulistiadi; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Andi Leny Susyanty
Abstrak:

Tesis ini bertujuan untuk mengembangkan alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas hidup terkait kesehatan pada orang dengan HIV/AIDS. Metode yang digunakan adalah konfirmatif eksploratif terhadap empat Gold Standard yaitu WHOQOL-HIV BREF, MOS HIV, EQ-5D-5L dan Ina-HRQoL. Dilakukan suatu studi literature dan uji validitas dan reliabilitas untuk memilih atribut yang sesuai untuk digunakan sebagai alat ukur. Ke-empat goldstandar diujikan pada masing-masing 30 responden. Dari 81 item pertanyaan diperoleh 70 item yang valid, dilakukan reduksi item dengan mengeliminasi item yang tidak sesuai dengan dimensi yang ditetapkan yaitu dimensi FISIK, MANDIRI, SOSIAL, MENTAL dan SPIRITUAL, sehingga diperoleh 40 item yang sesuai. Setelah itu dilakukan pengelompokan pada item yang sama atau menanyakan hal yang sama sehingga diperoleh 17 atribut. Ditambah satu atribut Bekerja yang dipandang penting maka keseluruhan atribut menjadi 18 yaitu Vitalitas, Rasa Sakit, Tidur, Mobilitas, Akyifitas Pribadi, Bepergian, Bekerja, Hubungan Personal, Dukungan Teman, Seksual,Aktifitas Sosial, Konsentrasi, Citra Diri, Menikmati Hidup, Perasaan Negatif, Hidup Berarti, Khawatir Masa Depan, Takut Kematian. Kedelapanbelas atribut kemudian dikembangkan menjadi kuesioner dan diujikan pada 30 responden dengan nilai alpha Cronbach 0,905, sehingga alat ukur ini dinilai valid dan reliable. Alat ukur yang baru dinamakan D-HIV HRQOL kemudian di aplikasikan pada 119 responden pada Yayasan Layak dengan nilai alpha Cronbach sebesar 0,895. Dari 119 responden ternyata 73,11% laki-laki dan 26,89% perempuan; kelompok umur terbanyak adalah 30-39tahun yaitu sebanyak 65,55% dan kedua terbanyak pada umur 20-29 tahun yaitu 23,53%. Tingkat pendidikan responden cukup baik yaitu 68,91% tingkat menengah atas, dan pekerjaan terbanyak adalah swasta 52,94%. Dari riwayat penggunaan narkotika diperoleh 52,10% pernah, dan 17,65% masih aktif, demikian juga riwayat penggunaan alkohol 42,86% pernah dan 3,36% masih aktif. Faktor penularan terbanyak adalah melalui pemakaian narkotika suntikan sebanyak 63,87% dan seksual sebanyak 35,29%. Untuk nilai CD4 hanya 103 responden yang melengkapi data 44,66% pada 200-500 cells/ml dan 38,83% pada kurang dari 200 cells/ml. Hanya 19 responden yang sudah pernah diperiksa viral load, 10 undetected dan 9 detected. Menurut stadium 52,10% pada stadium II, dan 29,41 pada stadium II. Sebanyak 26,89% belum menerima pengobatan ARV dan 22,69% sudah menjalani ARV selama lebih dari 2 tahun. Nilai utility rata-rata pada 50,61 (0,7) dengan nilai minimum pada 22 (0.30) dan maksimum pada 69 (0.96), time preference rata-rata adalah 17,06. Sehingga nilai QALY?s adalah 11,94.


The objective of this thesis is to develop an instrument that could be used in examining health related quality of life on people living with HIV/AIDS. The method used in this case is confirmative explorative to the four gold standards which is WHOQOL-HIV BREF, MOS HIV, EQ-5D-5L and Ina-HRQoL. Literature, validity, and reliability tests are conducted to choose the appropriate attributes to be used in the measuring instrument. These four gold standards were each tested on 30 respondents. Out of 81 items, 70 were found valid. An item reduction was carried by eliminating items that does not fit the dimensions, which is Physical, Social, Independence, Mental, and Spiritual dimensions, so that 40 suitable items was obtained. After that, classification on the same items, or items that was asking the same questions was done so that 17 attributes is obtained. And the ?Working? attribute was added because it was deemed important for the instrument. The result was 18 attributes which is Vitality, Pain, Sleep, Mobility, Personal Activity, Traveling, Working, Personal Relationship, Friend Support, Sexual, Social Activity, Concentration, Self-Image, Enjoying Life, Negative Feeling, Meaningful Life, Worries about the Future, and Fear of Death. These 18 attributes was then developed into a questionnaire and tested on 30 respondents with the Cronbach alpha values of 0.905, so that this instrument was deemed valid and reliable. The new instrument named D-HIV HRQOL was then applied to 119 respondents at ?Yayasan Layak? with the Cronbach alpha value of 0.895. Out of 119 respondents 73.11% were male and 26.59% were female; the largest age group was 30-39 years old as much as 65.55%, the second largest was 20-29 years old as much as 23.53%. The education level of the respondents was high enough, as much as 68.91% was middle class up. As much as 52.94% of the respondents were working in private sectors. As much as 52.10% of the respondents was using drugs in the past, with 17.65% is still actively using drugs, as much as 42.86% of the respondents was drinking alcohol in the past, with 3.36% is still actively drinking it. The largest factor of transmission was injection drugs as much as 63.87% and trough sexual as much as 35.29%. only 103 respondents fills in the CD4 value, of which 44.66% is at 200-250 cells/ml and 38.83% is at less than 200 cells/ml. Only 19 respondents were tested on viral load, 10 of which is proven undetected, and 9 detected. Stadium wise, as much as 52.10% of the respondents were at the second stadium, and 29.41% were at the third stadium. As much as 26.89% have yet to receive ARV treatment and 22.69% has received ARV treatment for the past 2 years. The average utility value is at 50.61 (0.7) with the lowest value being 22 (0.30) and the highest is 69 (0.96). The average time preference is 17.06, so the resulting QALY value is 11.94.

Read More
T-3839
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iqbal Fadhila; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Jaslis Ilyas, Febi Hediyanto
S-10897
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive