Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32830 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hafizha Astia; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Lhuri Dwianti Rahmartani, Retno Kusuma Dewi, Windy Oktavina
Abstrak:
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit kuno yang sampai sekarang masih menjadi masalah, maka diperlukan program penanggulangan secara aktif promotif, salah satunya melalui investigasi kontak (IK), yaitu kegiatan pelacakan dan investigasi pada orang-orang yang kontak dengan pasien untuk menemukan terduga TBC. IK semestinya dilaksanakan oleh puskesmas, namun tidak semua pasien TBC berobat di puskesmas. Klinik JRC-PPTI menyediakan layanan tes cepat molekuler (TCM) secara gratis sehingga memungkinkan untuk dilaksanakan IK. Petugas kesehatan akan menanyakan jumlah dan usia dari orang yang tinggal serumah dengan pasien dan memintanya untuk datang ke saat jadwal kontrol berikutnya. Namun, adanya hambatan kontak untuk datang langsung memodifikasi IK di klinik JRC-PPTI, berupa pemeriksaan secara tidak langsung bagi keluarga pasien yang tidak bisa datang dengan menitipkan sampel dahak pada pot dahak yang sebelumnya sudah dititipkan pada pasien saat berobat, selanjutnya sampel dibawa kembali pada jadwal kontrol berikutnya. Ternyata, dengan kemudahan yang diberikan, masih sedikit keluarga pasien melakukan IK sehingga diperlukannya evaluasi untuk mengetahui hambatan dari pelaksana program menggunakan kerangka kerja RE-AIM dan perspektif penerima menggunakan teori health belief model (HBM). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan wawancara mendalam kepada pasien TBC, keluarga pasien, dokter, perawat dan pimpinan klinik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hambatan pelaksanaan investigasi kontak serumah difasilitas kesehatan swasta dari persepsi klinik dan kontak serumah. Dari hasil penelitian, ditemukan beberapa hambatan dalam pelaksanaan program IK di Klinik Utama JRC-PPTI yang meliputi jangkauan, efektifitas, adopsi, implementasi dan pemeliharaan. Sementara pelaksanaan IK di klinik utama JRC-PPTI dipengaruhi oleh persepsi kerentanan, keparahan, manfaat dan isyarat berperilaku. 

Tuberculosis (TB) is an ancient disease that remains a problem even today, necessitating an actively promotive and preventive program. One of the strategies used is contact investigation (CI), which involves tracing and investigating individuals who have had contact with TB patients to identify potential TB cases. Ideally, CI should be carried out by primary healthcare centers, but not all TB patients seek treatment at such facilities. JRC-PPTI Clinic provides free rapid molecular testing (RMT) services, enabling the implementation of CI. Healthcare workers inquire about the number and ages of individuals living with the patient and request them to come for their next scheduled follow-up. However, there are contact barriers preventing them from coming in person, which modifies the CI process at JRC-PPTI Clinic. Instead, an indirect examination is conducted for family members who cannot come by having them deposit a sputum sample in a previously provided container, which is then collected during the next scheduled follow-up visit. Despite the convenience provided, only a few family members of TB patients participate in CI. Therefore, an evaluation is needed to identify the barriers to program implementation using the RE-AIM framework and the perspectives of recipients using the Health Belief Model (HBM) theory. This qualitative research adopts a case study approach and involves in-depth interviews with TB patients, their families, doctors, nurses, and clinic leaders. The objective of this study is to identify the barriers to implementing household contact investigation in a private healthcare facility from the clinic's and household contacts' perspectives. The research findings reveal several obstacles to the implementation of CI at JRC-PPTI Main Clinic, including reach, effectiveness, adoption, implementation, and maintenance. Meanwhile, the implementation of CI at the JRC-PPTI main clinic is influenced by perceptions of vulnerability, severity, benefits, and behavioral cues.
Read More
T-6763
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Sarah Nurhaqqi; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Kartika Anggun Dimar Setio, Zulmely, Adang Mulyana
Abstrak:
Investigasi Kontak (IK) merupakan kegiatan pelacakan dan investigasi yang ditujukan pada orang-orang yang kontak dengan pasien TB untuk menemukan terduga TB. Puskesmas Cirimekar turut melaksanakan IK dengan meminta seluruh kontak serumah pasien TB BTA (+) dan BTA (-) untuk melakukan pemeriksaan dahak secara gratis di puskesmas. Puskesmas memberikan kemudahan dengan menitipkan pot dahak untuk kontak serumah melalui pasien. Namun kemudahan tersebut belum bisa menjangkau seluruh kontak serumah untuk melaksanakan IK. Hal ini diduga disebabkan adanya stigma asosiasi yaitu seseorang mendapatkan stigma berdasarkan pergaulannya dengan individu lain yang mengalami stigma. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan wawancara mendalam pada keluarga pasien TB, pasien TB, dokter, perawat serta Kepala Puskesmas pada bulan Juni 2024. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui stigma asosiasi yang menghambat pelaksanaan investigasi kontak TB pada anggota keluarga pasien TB di wilayah kerja Puskesmas Cirimekar dan evaluasi untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan program dengan menggunakan kerangka kerja Reach, Effectiveness, Adoption, Implementation, Maintenance (RE-AIM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan IK di Puskesmas Cirimekar masih belum efektif ditinjau dari jangkauan, efektivitas, adopsi, implementasi dan pemeliharaan. Dalam penelitian ini terdapat stigma asosiasi yang dirasakan oleh keluarga pasien TB namun faktor yang lebih dominan sebagai penghambat IK yaitu kurangnya pengetahuan keluarga pasien TB tentang penyakit TB.

Contact Investigation (CI) is a tracking and investigation activity aimed at individuals who have had contact with TB patients to identify suspected TB cases. Puskesmas Cirimekar is also conducting CI by requesting all household contacts of TB patients (both smear-positive and smear-negative) to undergo free sputum examination at the health center. The health center facilitates by collecting sputum samples from household contacts through the patients, but this convenience has not reached all household contacts to participate in the CI. This is thought to be due to association stigma, namely that someone gets stigma based on their association with other individuals who experience stigma. This is a qualitative study with a case study approach conducted through in-depth interviews with TB patients' families, TB patients, doctors, nurses, and the head of the health center in June 2024. The objective of this research is to determine the association stigma that hinders the implementation of TB contact investigations among family members of TB patients in the Cirimekar Community Health Center working area and evaluation to determine the effectiveness of program implementation using the Reach, Effectiveness, Adoption, Implementation, Maintenance (RE-AIM) framework. The research results indicate that the implementation of CI at Puskesmas Cirimekar is still ineffective in terms of reach, effectiveness, adoption, implementation, and maintenance. In this study, there is a perceive association stigma experienced by TB patients families, but the dominant inhibiting factor in seeking treatment is the lack of knowledge of the TB patient's family about TB.
Read More
T-7144
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni Kusuma Dewi; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Helda, Galuh Budhi Leksono Adhi, Sito Hatmoko
Abstrak:
Kontak serumah merupakan faktor paling dominan penyebab TB pada anak, untuk mencegahnya perlu diberikan obat Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku ibu dalam pemberian TPT pada anak dengan kontak serumah pasien TB di Wilayah Puskesmas Kabupaten Banyumas tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, desain studi kasus pada 14 orang informan utama, yakni 9 ibu yang memberikan TPT dan 5 orang ibu yang tidak memberikan TPT. Informan kunci terdiri dari 9 keluarga ibu yang memberi TPT dan 5 keluarga ibu yang tidak memberi TPT, 6 kader TB, 6 petugas Puskesmas dan Kasi P2PM Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam, forum group discussion dan observasi. Dilakukan pada bulan Mei-Juni 2023 dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang menjalani TPT telah melakukan perilaku pemberian TPT sesuai standar tata laksana pemberian TPT, kecuali untuk waktu pemberian obat, stok obat TPT selalu tersedia di Puskesmas, namun terbatas sehingga cakupan TPT rendah. Ibu mendapat dukungan keluarga dan tenaga kesehatan yang baik, namun belum mendapatkan dukungan kader TB. Ibu memberikan imbalan kepada anak agar mau minum obat TPT. Ibu yang tidak memberikan TPT pada anaknya kurang memiliki pengetahuan, dukungan keluarga, kader dan tenaga kesehatan. Perilaku ibu dalam pemberian TPT dipengaruhi persepsi kerentanan, keparahan terkait penyakit TB serta manfaat, hambatan dan kepercayaan diri dalam pemberian TPT. Dorongan yang didapatkan ibu untuk memberikan TPT berasal dari keluarga, teman sebaya yang memiliki pengalaman dengan penyakit TB, kader, petugas kesehatan, media sosial dan pengalaman dari ibu yang tidak ingin anaknya terkena TB. Untuk itu, diperlukan pelatihan kepada tenaga kesehatan untuk dapat melakukan strategi promosi kesehatan dan pengelolaan logistik dalam pemberian TPT. 

Household contact is the most dominant factor causing TB in children. However, to prevent the cause it is necessary to be given the drugs of Tuberculosis Preventive Therapy (TPT). This study aims to determine the behavior of mothers in giving TPT to children with household contacts of TB patients in Public Health Center of Banyumas District in 2023. This study uses a qualitative approach and case study design on 14 main informants, they are 9 mothers who provided TPT and 5 mothers which did not provide TPT. The key informants consisted of 9 mothers’ family who provided TPT and 5 mothers’ family who did not, 6 TB cadres, 6 Puskesmas officers and Head of P2PM Section of the Banyumas District Health Office. Data collection was conducted through in-depth interviews, forum group discussion and observation in May-June 2023 and analyzed thematically. The results showed that most of the mothers who experience TPT had carried out the behavior of giving TPT in accordance with the TPT administration standard, except for the time of drug administration. TPT drug stock was always available at the Puskesmas, but it was limited so TPT coverage became low. Mothers have received positive family and health worker support, but they have not received the support of TB cadres. Mothers reward children for taking TPT drugs. Mothers who do not give the drug to their children have less knowledge and insufficient support from families, cadres and health workers. Mother's behavior in giving TPT is influenced by perceptions of vulnerability, severity related to TB disease, benefits, barriers and confidence to give TPT. The encouragement that mothers get to provide TPT came from family, peers who have experience with TB disease, cadres, health workers, social media and experiences from mothers who do not want their children to get TB. For this reason, training is needed for health workers to be able to carry out health promotion strategies and manage logistics in administering TPT.
Read More
T-6631
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zidni Taqiya Perdana; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Pitoyo
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui garnbaran pelaksanaan kegiatan Posyandu pada masa pandemi COVID-19 di Desa Tanahsari Kecamatan Kebumen. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif desain studi kasus. Metode yang diterapkan oleh Peneliti yakni Focus Group Discussion kepada informan utama, wawancara mendalam kepada informan kunci, serta observasi pelaksanaan Posyandu secara langsung. Peneliti mengambil data secara langsung dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19.
Read More
S-10803
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lucas Wisnu Prasetyo; Pembimbing: Anwar Hassan; Penguji: Dien Anshari, Deddy Rheimland
S-5645
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delta Fitriana; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Tiara Amelia, Lilis Suryani, Imam Supingi
Abstrak:

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan pendekatan promotif dan preventif yang strategis dalam mendukung kesehatan remaja di satuan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka evaluasi Input-Process-Output (IPO) dan fungsi manajerial Planning, Organizing, Actuating, Controlling (POAC). Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pelaksanaan program UKS di tiga SMA Negeri di Kota Tangerang Selatan tahun 2025, yaitu SMAN X (stratifikasi minimal), SMAN Y (stratifikasi standar), dan SMAN Z (stratifikasi optimal). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru penanggung jawab UKS, penanggung jawab program UKS di puskesmas pembina dan pemegang kebijakan, serta FGD dengan pengelola kantin dan siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah dengan dukungan input yang memadai, serta perencanaan (planning) dan pengorganisasian (organizing) yang terstruktur, cenderung mampu melaksanakan (actuating) Trias UKS secara lebih optimal. Output kegiatan juga terlihat lebih maksimal apabila ditunjang oleh sistem monitoring dan evaluasi (controlling) internal yang kuat. Temuan ini konsisten dengan kondisi pada sekolah berstratifikasi UKS optimal, yang menunjukkan sinergi antara ketersediaan input, pelaksanaan yang efektif, dan monev yang berkelanjutan.
Kepemimpinan sekolah dan peran aktif Tim Pembina UKS (TP UKS) memiliki elemen penting dalam memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program UKS. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran kepala sekolah dan TP UKS di seluruh tingkatan, mulai dari tingkat nasional hingga kecamatan, yang didukung oleh komitmen kepala daerah dalam bentuk penganggaran, pembinaan, serta monitoring lintas sektor yang terintegrasi.


School Health Efforts (UKS) serve as a strategic promotive and preventive approach to support adolescent health within educational institutions. This study employed a descriptive qualitative approach using the Input-Process-Output (IPO) evaluation framework and the managerial functions of Planning, Organizing, Actuating, and Controlling (POAC). The aim of the study was to examine the implementation of the UKS program in three public senior high schools (SMAs) in South Tangerang City in 2025: SMAN X (minimal stratification), SMAN Y (standard stratification), and SMAN Z (optimal stratification). Data were collected through in-depth interviews with UKS teacher coordinators, UKS program officers at the affiliated community health centers (puskesmas), policymakers, as well as focus group discussions with canteen managers and students. The findings indicate that schools with adequate input support, along with well-structured planning and organizing, tend to implement the Trias UKS more optimally. Program outputs are also more effective when supported by a strong internal monitoring and evaluation (controlling) system. These results are consistent with conditions observed in optimally stratified schools, which demonstrate synergy between sufficient resources, effective implementation, and continuous monitoring. School leadership and the active role of the UKS Development Team (TP UKS) are essential elements in ensuring the success and sustainability of the UKS program. Therefore, it is necessary to strengthen the roles of school principals and TP UKS teams at all levels, from national to sub-district supported by strong commitments from local government leaders through adequate budgeting, capacity-building, and integrated cross-sectoral monitoring.

Read More
T-7425
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Janitra Hapsari; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dadan Erwandi, Dien Anshari, Mohammad Rezasyah Hasan, Astriani Dwi Aryaningtyas
Abstrak:
Norma maskulinitas tradisional sering kali ditemukan sebagai penghambat perilaku mencari bantuan, mendorong munculnya stigma, dan merupakan bentuk maskulinitas yang tidak sehat atau “toxic masculinity”. Namun, beberapa studi kualitatif menunjukkan bahwa sebagian laki-laki mau mencari bantuan kesehatan mental untuk menjadi lebih sehat, mampu melawan stigma, dan tindakan tersebut dilihat sebagai cara yang rasional untuk lebih maskulin sehingga disebut sebagai maskulinitas positif atau “positive masculinity”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran maskulinitas terhadap perilaku mencari bantuan laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis di Platform Layanan Inspirasien. Desain penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada delapan informan yang terdiri dari pasien laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis, pendamping pasien, dan professional kesehatan mental. Hasil penelitian menemukan adanya perubahan makna maskulinitas dari tradisional menjadi positif pada laki-laki yang telah mendapatkan bantuan dari layanan professional kesehatan mental. Perilaku mencari bantuan kesehatan mental dilihat sebagai upaya untuk pulih dan menjadi lebih sehat. Ketika laki-laki lebih sehat, maka Ia mendapatkan kembali kendali atas hidupnya, merupakan wujud tanggung jawab dan kepemimpinan laki-laki untuk menyelesaikan masalahnya, keberanian untuk meminta bantuan, dan kebijaksanaan dalam cara penyelesaian masalah dengan ahlinya (professional kesehatan mental). Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan makna maskulinitas positif pada perilaku mencari bantuan laki-laki sebagai strategi dalam membentuk upaya promosi kesehatan mental dan peningkatan layanan kesehatan mental secara khusus untuk laki-laki.

Traditional masculinity norms are often found to inhibit help-seeking behavior, encourage the emergence of stigma, and are a form of unhealthy masculinity or "toxic masculinity". However, several qualitative studies show that some men are willing to seek mental health help to become healthier, able to fight stigma, and this action is seen as a rational way to become more masculine so it is called “positive masculinity”. This study aims to determine the role of masculinity on the help-seeking behavior of men who experience depression due to chronic physical illness in the Inspirasien Service Platform. Descriptive qualitative research design with a case study approach is being used. Data was collected through in-depth interviews with eight informants consisting of male patients who experienced depression due to chronic physical illness, their caregiver, and mental health professionals. The results of the study found a change in the meaning of masculinity from traditional to positive in men who had received help from professional mental health services. Mental health help-seeking behavior is seen as an effort to recover and become healthier. When a man is healthier, he regains control of his life, which is a manifestation of a man's responsibility and leadership to solve his problems, the courage to ask for help, and wisdom in solving problems with the experts (mental health professionals). This research recommends utilizing the meaning of positive masculinity in men's help-seeking behavior as a strategy in shaping mental health promotion efforts and improving mental health services specifically for men.
Read More
T-6887
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutiara Sania Rahmah; Pembimbing: Kartika Anggun Dimar Setio; Penguji: Tiara Amelia, Rinaldi Ridwan
Abstrak:
Masalah gizi pada remaja, khususnya anemia dan stunting, masih menjadi tantangan besar di Indonesia, dengan prevalensi anemia pada remaja putri mencapai 15,5%. Di Aceh, menurut Dinas Kesehatan Provinsi, angka prevalensi anemia pada remaja putri bahkan lebih tinggi, yaitu sekitar 32%. Program Aksi Bergizi diluncurkan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah ini melalui edukasi gizi dan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah-sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi Program Aksi Bergizi di SMA X Kota Subulussalam pada tahun 2024, dengan menggunakan Teori Difusi Inovasi dalam organisasi dari Rogers untuk menganalisis proses adopsi dan keberlanjutan program di lingkungan sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui FGD dan wawancara mendalam dengan informan utama, yaitu kepala sekolah, guru, tenaga kesehatan, dan siswa yang terlibat dalam program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program Aksi Bergizi di SMA X berjalan sesuai dengan tahapan difusi inovasi Rogers. Pada tahap agenda-setting, masalah gizi dan anemia diidentifikasi sebagai isu prioritas nasional yang diteruskan ke sekolah-sekolah. Namun, tahapan ini lebih bersifat top-down dan tidak sepenuhnya didasarkan pada data lokal. Pada tahap matching, program ini dinilai relevan dengan kebutuhan siswa, terutama dalam mencegah anemia, namun pelaksanaannya terhambat oleh keterbatasan fasilitas dan waktu. Program ini lebih efektif diterapkan pada siswa asrama diabndingkan siswa non-asrama. Di tahap redefining/restructuring, meskipun sekolah telah menyesuaikan struktur dan kebijakan internal untuk mendukung pelaksanaan program, keterbatasan sumber daya dan anggaran masih menjadi kendala utama. Pada tahap clarifying, pemahaman siswa tentang program masih bervariasi, dengan sebagian siswa merasa ragu untuk mengonsumsi TTD karena kekhawatiran akan efek samping. Terakhir, pada tahap routinizing, meskipun beberapa komponen program, seperti senam dan sarapan sehat, telah menjadi bagian dari rutinitas di kalangan siswa asrama, program ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam kegiatan sekolah secara keseluruhan. Sekolah diharapkan untuk menyusun SOP internal yang mengatur pelaksanaan program secara lebih terstruktur. Dinas Kesehatan juga perlu meningkatkan dukungan teknis, menyediakan pelatihan berkelanjutan bagi guru dan tenaga kesehatan sekolah, serta memperkuat koordinasi dalam pelaksanaan program.


Nutritional issues among adolescents, particularly anemia and stunting, remain a significant challenge in Indonesia, with the prevalence of anemia among adolescent girls reaching 15.5%. In Aceh, according to the Provincial Health Office, the prevalence of anemia among adolescent girls is even higher, around 32%. The "Aksi Bergizi" (Nutritional Action Program) was launched by the Indonesian government to address these issues through nutritional education and the provision of Iron Supplement Tablets (TTD) in schools. This study aims to assess the implementation of the Aksi Bergizi Program at SMA X in Subulussalam City in 2024, using Rogers' Diffusion of Innovations Theory to analyze the adoption process and sustainability of the program within the school environment. The research uses a qualitative approach with a case study design. Data was collected through Focus Group Discussions (FGD) and in-depth interviews with key informants, including the school principal, teachers, health staff, and students involved in the program. The results show that the implementation of the Aksi Bergizi Program at SMA X followed the stages of Rogers' innovation diffusion theory. In the agenda-setting stage, issues of nutrition and anemia were identified as national priorities passed down to schools. However, this stage was more top-down and not fully based on local data. In the matching stage, the program was considered relevant to the students' needs, especially in preventing anemia. However, its implementation faced challenges due to limited facilities and time constraints. The program was more effectively implemented with boarding students compared to non-boarding students. In the redefining/restructuring stage, although the school adjusted its internal structure and policies to support the program, limited resources and budget remained significant barriers. In the clarifying stage, students' understanding of the program varied, with some students hesitant to consume the Iron Supplement Tablets (TTD) due to concerns about side effects. Finally, in the routinizing stage, although some components of the program, such as exercise and healthy breakfasts, had become part of the routine for boarding students, the program had not yet been fully integrated into the school's overall activities. The school is recommended to establish an internal Standard Operating Procedure (SOP) to structure the implementation of the program more effectively. The Health Office should also enhance technical support, provide ongoing training for teachers and school health staff, and strengthen coordination in the program's implementation.
Read More
S-12065
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zulfa Kevaladandra; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tri Krianto, Kemal N. Siregar, Nurhalina Afriana, Akbar Prayuda
Abstrak: Kepatuhan ODHA terhadap terapi antiretroviral (ART) cenderung menurun pada tahun 2020 karena adanya kekhawatiran dan ketakutan ODHA untuk mengambil obat ARV di pelayanan kesehatan pada masa pandemi COVID 19 nformasi yang baik terkait HIV dan COVID 19.ingginya motivasi informan untuk retensi layanan PDP, dan keterampilan perilaku informan yang baik agar dapat mengakses layanan PDP meningkatkan retensi layanan PDP ODHA yang baik pula. Hasil penelitian menyarankan agar yayasan X bekerja sama dengan layanan kesehatan yang menyediakan layanan PDP untuk mengoptimalkan pemanfaatan telekonsultasi sebagai alternatif pelayanan HIV serta Dinas Kesehatan Kota Surabaya dapat bekerja sama dengan mitra untuk meningkatkan retensi layanan ODHA di masa pandemi COVID 19
Read More
T-6160
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
R 351.841 IND p
Jakatrta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive