Ditemukan 34799 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Aisyah Rizqi Rahimullah; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: R. Budi Haryanto, Astrid Agustina
Abstrak:
Read More
Coronavirus Disease-2019 atau Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 atau SARS-CoV-2 dengan gejala umum berupa batuk, demam, dan kelelahan atau myalgia. Covid-19 menyebar hingga ke Indonesia dengan jumlah kasus tertinggi terjadi di Provinsi DKI Jakarta. Salah satu kelompok yang berisiko tinggi untuk memungkinkan terjadinya transmisi Covid-19 adalah penjara karena masuk-keluarnya orang dari luar penjara ke dalam penjara, keadaan penjara yang penuh dan sesak, sanitasi tidak memadai, terbatasnya akses terhadap udara segar dan aktivitas olahraga, serta faktor-faktor lainnya. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional untuk mengetahui hubungan riwayat kontak pada Warga Binaan dengan kejadian Covid-19 pada Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta. Jumlah sampel penelitian ini adalah sebanyak 105 responden. Data yang digunakan adalah data primer yang didapatkan dari hasil pengisian kuesioner. Berdasarkan uji chi-square, terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat kontak dengan kejadian Covid-19 (p-value=0,000, OR=17,21). Sedangkan perilaku pencegahan Covid-19 (p-value=0,353, OR=1,696) dan ketersediaan sarana prasarana (p-value=0,77, OR=1,229) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian Covid-19 pada Warga Binaan.
Coronavirus Disease-2019 or Covid-19 is a disease caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 or SARS-CoV-2 with common symptoms of coughing, fever and fatigue or myalgia. Covid-19 has spread to Indonesia with the highest number of cases occurring in DKI Jakarta Province. One of the high-risk groups for allowing the transmission of Covid-19 to occur is prison due to the entry and exit of people from outside the prison to the prison, the prison's overcrowded conditions, inadequate sanitation, limited access to fresh air and sports activities, as well as other factors. This study used a cross-sectional study design to determine the relationship between contact history of inmates with the incidence of Covid-19 in inmates of Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta. The number of samples in this study were 105 respondents. The data used is primary data obtained from the results of filling out the questionnaire. Based on the chi-square test, there is a significant relationship between contact history and the incidence of Covid-19 (p-value = 0.000, OR = 17.21). Meanwhile, Covid-19 prevention behaviour (p-value=0.353, OR=1.696) and availability of infrastructure (p-value=0.77, OR=1.229) did not have a significant relationship with the incidence of Covid-19 in assisted residents.
S-11322
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zihan Kamila Maharani; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Indry Octavia
Abstrak:
Read More
Penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare, dan infeksi kulit masih banyak ditemukan di lingkungan dengan sanitasi buruk dan kebersihan diri yang rendah, termasuk di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene, kondisi sanitasi lingkungan, dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan pada warga binaan LPKA Kelas II Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 31 orang dan diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, serta dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara lama masa tinggal dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan, diare, dan ISPA (p≤0,05). Disarankan adanya peningkatan edukasi terkait kebersihan diri dan perbaikan sanitasi lingkungan di LPKA guna menurunkan risiko penyakit.
Environmental-based diseases are often found in environments with poor sanitation and low personal hygiene, including in Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). This study aims to examine the relationship between personal hygiene, environmental sanitation conditions, and housing density with the incidence of environmentally based diseases among the residents of LPKA Kelas II Jakarta. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 31 participants selected using a total sampling technique. Data were collected through questionnaires and observation, and analyzed using the chi-square test. The results showed a significant relationship between length of stay and the incidence of environmentally based diseases, including diarrhea and acute respiratory infections (p≤0.05). It is recommended to enhance education on personal hygiene and improve environmental sanitation in LPKA to reduce disease risk.
S-11916
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rafie Lucky Baskoro; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Indry Octavia Trisnawati
Abstrak:
Read More
Skabies adalah penyakit kulit menular akibat infestasi Sarcoptes scabiei yang umum ditemukan di lingkungan padat dengan sanitasi rendah, termasuk fasilitas tertutup seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara personal hygiene dan faktor lingkungan dengan kejadian skabies pada warga binaan di LPKA Kelas II Jakarta. Penelitian menggunakan desain kuantitatif potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan observasional analitik. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, observasi langsung, dan pemeriksaan oleh dokter. Sampel berjumlah 31 responden dari total populasi warga binaan, dipilih dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa 61,3% responden mengalami skabies dalam 6 bulan terakhir. Meskipun sebagian besar responden memiliki kebersihan personal yang kurang baik dan tinggal di kamar dengan suhu dan kelembapan tidak ideal, tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel personal hygiene dan faktor lingkungan dengan kejadian skabies (p > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara personal hygiene maupun faktor lingkungan dengan kejadian skabies, kemungkinan disebabkan oleh homogenitas perilaku, ukuran sampel terbatas, serta pengaruh faktor lain di luar variabel yang diteliti. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan lebih banyak variabel lingkungan dan ukuran sampel yang lebih besar.
Scabies is a contagious skin disease caused by Sarcoptes scabiei infestation, commonly found in densely populated environments with poor sanitation, including closed institutions such as correctional facilities for juveniles. This study aimed to analyze the relationship between personal hygiene and environmental health factors with the incidence of scabies among inmates at the Special Child Development Institution (LPKA) Class II Jakarta. A cross-sectional analytic observational design was used with a quantitative approach. Data were collected through structured questionnaires, direct observation, and medical examinations. The study involved 31 respondents selected through total sampling from the inmate population. Data were analyzed using univariate, bivariate using chi-square analyses. Results showed that 61.3% of respondents experienced scabies in the past six months. Although most respondents exhibited poor personal hygiene and lived in rooms with suboptimal temperature and humidity, no statistically significant relationship was found between any personal hygiene or environmental variables and scabies incidence (p > 0.05). The study concludes that there is no significant association between personal hygiene or environmental factors and scabies occurrence. This may be attributed to sample homogeneity, limited sample size, and unmeasured external factors. Further research is recommended to include broader environmental variables and larger sample sizes to explore this relationship more comprehensively.S-12025
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sukma Lestari Cahyaningtyas; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Sabarinah, Herlin Chandrawati
S-7660
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadia Humaira; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Zarfiel Tafal, Ratnawati Sudiro
S-8088
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lovian Purwanti; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Adik Wibowo, Tetra Destorie Imantoro
T-3725
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maya Maulina Solihah; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Dewi Susanna, Meta Ardiana
S-10174
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wening Sukmawati; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Evi Martha, Toha Muhaimin, Baby Jim Aditya
Abstrak:
Latar Belakang: Di Indonesia, total populasi narapidana wanita meningkat dari tahun 2000 sebanyak 1.807 orang menjadi 6.876 orang pada tahun 2016 (Walmsey, 2016). Sebanyak 58% lapas di Indonesia mengalami overcrowded (Indana, 2016). Overcrowded tersebut menyebabkan persebaran penyakit menjadi lebih cepat, sehingga berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan di Lapas (Ditjenpas, 2017). Tujuan penelitian : Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi WBP terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Lapas Perempuan Klas IIA Bandung tahun 2017. Metode penelitian: Kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian: Faktor internal yang berhubungan dengan persepsi kualitas pelayanan kesehatan, yaitu: pengalaman pelayanan kesehatan (p=0,038, POR=2,430), pendidikan (p=0,016, POR=2,676), dan motivasi memperoleh pelayanan kesehatan (p=0,031, POR=2,396) dan faktor eksternal yang berhubungan dengan persepsi kualitas pelayanan kesehatan yaitu pekerjaan (p=0,044, POR=2,380). Faktor paling dominan yang berhubungan dengan persepsi kualitas pelayanan kesehatan adalah pendidikan. Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan persepsi kualitas pelayanan kesehatan antara lain: pengalaman, pendidikan,motivasi dan pekerjaan. Saran: Meningkatkan kerja sama lintas sektoral dengan melibatkan dinas kesehatan dan dinas sosial untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Kata kunci: Persepsi, Kualitas Pelayanan Kesehatan Background: In Indonesia, the number of female prisoners population increased from 2000 to 1.807 people to 6.876 in 2016 (Walmsey, 2016). 58% of prisons in Indonesia are over crowded (Indana, 2016). More density of the disease spread becomes faster, thus impacting the quality of health services in prisons (Ditjenpas, 2017). Objective: To know factors related to perception of prisoner to health service quality in Women Prison Class IIA Bandung 2017. Method : The type of this research was a quanitative. This study design was cross sectional study involving sample of 122 respondents, it was using simple random sampling. Data collection using questionnaires. Result: There are Internal factors related to perception of health service quality, that is: health service experience (p = 0,038, POR = 2,430), education (p = 0,016, POR = 2,676), and motivation to get health service (p = 0,031, = 2,396) and external factors related to the perception of health service quality that is work (p = 0,044, POR = 2,380). The most dominant factor related to the perception of quality of health service is education. Conclusion: Factors related to the perception of quality of health services: experience, education, motivation and work. Suggestion: Increase cross-sectoral cooperation by involving health offices and social services to improve the quality of health services. Keywords: Perception, Quality of Health Services
Read More
T-5085
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurunissa Pratiwi Sekar Ayu; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ema Hermawati, Sigit Prakoso
S-9938
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zaidan Rizqullah; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Al Asyary, Muhammad Adriansyah Hamonangan Siregar
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Pondok pesantren merupakan salah satu tempat berisiko terjadinya penularan skabies dan skabies merupakan salah satu masalah kesehatan santri di pondok pesantren. Faktor yang dapat menyebabkan tingginya prevalensi skabies di pondok pesantren adalah riwayat kontak dengan penderita serta pada kebiasaan berbagi barang pribadi dan personal hygiene atau kebersihan perorangan yang tidak baik. Perlu dilakukan penelitian tentang kejadian skabies, riwayat kontak santri, berbagi barang pribadi, dan personal hygiene para santri di Pondok Pesantren Miftahul Madaniyyah. Tujuan: Mengetahui ada atau tidak hubungan sebab-akibat antara riwayat kontak santri dan kejadian skabies pada santri di Pondok Pesantren Miftahul Madaniyyah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional studi kohort retrospektif (retrospective study) yang dimana penelitian yang mengandalkan waktu dan mengikuti perjalanan pemajanan. Jumlah dari sampel pada penelitian ini sebanyak 83 santri dengan menggunakan teknik total sampling. Semua data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer. Analisis data yang dilakukan adalah univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Menurut hasil penelitian, diketahui insidens skabies sebesar 22,9% dan diketahui terdapat hubungan sebab-akibat antara Riwayat Kontak Santri terhadap Skabies pada Santri. Santri yang memiliki riwayat kontak dengan penderita skabies memiliki risiko 29,271 kali lebih tinggi mengalami skabies dibandingkan dengan santri yang tidak memiliki riwayat kontak dengan penderita skabies setelah dikontrol oleh variabel confounding, yaitu Kebersihan Alas Tidur dan Kebersihan Pakaian. Kesimpulan: Terdapat hubungan sebab-akibat antara riwayat kontak santri dan kejadian skabies pada santri di Pondok Pesantren Miftahul Madaniyyah. Saran: Diharapkan untuk mewajibkan pelaksanaan pemeriksaan skabies bagi santri sebelum menetap di pondok.
Background: Pondok pesantren is one of the places at risk of occurrence of transmission scabies and scabies is among the health problems of the student (santri) in the pondok pesantren. Factors that can cause the high prevalence of scabies in the pondok pesantren are the history of contact with the sufferers and on the habit of sharing personal stuff and personal hygiene or poor individual hygiene. It is necessary to do research on scabies incidents, contact history of santri, share personal stuff, and personal hygiene of santri in Miftahul Madaniyyah. Objective: To determine cause-and-effect relationship between the contact history of santri and the incident of scabies on santri in Miftahul Madaniyyah. Method: This study is an observational study of a retrospective cohort study, which is research that relies on time and follows the course of exposure. The total number of samples in this study was 83 santri using total sampling techniques. All data collected in this study is primary data. Data analysis is carried out in univariate, bivariate and multivariate. Results: According to the results of the study, it is known that the incidence of scabies was 22.9% and there is a cause-and-effect relationship between contact history and scabies. Santri who had a history of contact with scabies sufferers had a 29.271 times higher risk of having scabies compared to the santri who did not have a historical contact with scabies sufferers after being controlled by cleanliness of clothes and cleanliness of bedding (as confounding variables). Conclusion: There is a causal relationship between the contact history of santri and skabies incidents in santri at the Pondok Pesantren Miftahul Madaniyyah. Suggestion: It is expected to require the implementation of scabies inspection for the santri before settling in the pondok pesantren.
S-11388
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
