Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37367 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Rizky Erdimas; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Heru Nugroho
Abstrak:
Praktik penanganan limbah medis B3 yang dilakukan tenaga kesehatan dapat didukung oleh beberapa faktor agar berjalan dengan baik dan terbebas dari bahaya atau cidera yang dapat mengancam tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah Ingin mengetahui praktik tenaga kesehatan dalam penanganan limbah B3 oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi Cross sectional dengan sampel sebanyak 142 orang tenaga kesehatan di rumah sakit x. Variabel dependen penelitian ini adalah praktik penanganan limbah medis B3 oleh tenaga kesehatan di rumah sakit x Jakarta, kemudia variabel independennya adalah pengetahuan seorang tenaga kesehatan dalam penanganan limbah medis B3, tingkat pendidikan tenaga kesehatan, lama bekerja tenaga kesehatan, sikap tenaga kesehatan dalam melakukan penanganan limbah medis B3, ketersediaan fasilitas dan APD yang ada di rumah sakit, peraturan atau SOP yang mengatur penanganan limbah medis B3, serta kategori pekerjaan seorang tenaga kesehatan tersebut. Faktor yang berhubungan di penelitian ini adalah ketersediaan fasilitas dan kategori pekerjaan.

The practice of handling B3 medical waste by health workers can be supported by several factors so that it runs well and is free from danger or injury that could threaten health workers. The purpose of this study was to find out the practice of health workers in handling B3 waste by health workers at X Hospital. This research used a quantitative method with a cross-sectional study design with a sample of 142 health workers at X Hospital. The dependent variable of this study is the practice of handling B3 medical waste by health workers at the x Jakarta hospital, then the independent variable is the knowledge of a health worker in handling B3 medical waste, the education level of the health worker, the length of time the health worker has worked, the attitude of the health worker in handling waste medical B3, availability of facilities and PPE in the hospital, regulations or SOPs governing the handling of B3 medical waste, as well as the job category of the health worker. Related factors in this study are the availability of facilities and job categories.
Read More
S-11445
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nada Cantika Prameswari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Vitri Lestari
Abstrak:
Tenaga kesehatan merupakan profesi yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya dalam pekerjaannya. Praktik Keselamatan dan Kesehatan Kerja bertujuan dalam upaya pencegahan terjadinya penyakit dan kecelakan di tempat kerja. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui gambaran praktik keselamatan dan kesehatan kerja faktor-faktor yang berkaitan pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit X Kota Bogor. Penelitian ini berupa penelitian kuantitiatif dengan desain studi Cross sectional dengan sampel sebanyak 247 responden tenaga kesehatan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner/angket dan pengisian oleh tenaga kesehatan. Analisis data yang digunakan adalah uji Chi-Square (X2). Variabel dependen penelitian adalah praktik keselamatan dan kesehatan kerja pada Tenaga Kesehatan.Variabel Independen penelitian adalah Lama masa kerja, tingkat pendidikan, jenis profesi, Pengetahuan terhadap bahaya dan praktik K3, sikap terhadap bahaya dan praktik K3, ketersediaan APD, keikutsertaan pelatihan, ketersediaan SOP, dan pengawasan oleh manajemen. Temuan dari hasil penelitian ini merupakan faktor yang berhubungan pada hasil penelitian ini adalah ketersediaan APD dan pengawasan yang dilakukan oleh manajemen

Health workers are professionals that have a high risk of occupational hazards in their work. Occupational Safety and Health Practices are aimed at preventing disease and accidents in the workplace. The purpose of this study was to find out the description of occupational safety and health practices related to health workers at Hospital X Bogor City. This research was a quantitative study with a cross-sectional study design with a sample of 247 health worker respondents. Data collection was carried out by distributing questionnaires and self-registered by health workers. The data analysis used was the Chi-Square test (X2). The dependent variable of the research is the practice of occupational safety and health in Health Workers. The independent variable of the research is the level of education. Length of work period, type of profession, Knowledge of OHS Hazards and Practices, Attitudes towards OHS hazards and practices, availability of PPE, participation in training, availability of SOPs, and supervision by management. The findings from the results of this study are factors related to the results of this study, namely the availability of PPE and supervision carried out by management.
Read More
S-11465
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Magdalena Yuni Arta; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Dewi Susanna, Ririn Arminsih Wulandari, Yudi Agus Saptoyo, Hatta Gutama
Abstrak:
Pengelolaan limbah yang belum optimal masih menjadi tantangan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengelolaan limbah B3 dan limbah non medis, mengidentifikasi ketersediaan SDM, sarana prasarana, dan SPO, menganalisis aktivitas minimisasi limbah, serta merumuskan strategi perbaikan menggunakan analisis SWOT di RS X tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian dilaksanakan bulan April 2026. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada 5 responden. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan sistem serta analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total timbulan limbah B3 pada tahun 2025 adalah 14.497,34 kg dan limbah non medis sebesar 74.763,55 kg. Input, RS X telah memiliki petugas pengelola limbah berlatar belakang Kesehatan Lingkungan, sarana dasar, dan SPO yang lengkap secara digital, pelatihan yang belum merata, serta beberapa sarana yang perlu perbaikan. Proses, kegiatan pemilahan, pewadahan, pengangkutan internal, penyimpanan sementara, pengangkutan dan pengolahan eksternal telah dilaksanakan. Output, pengelolaan limbah sudah memenuhi ketentuan regulasi, namun masih adanya kelemahan dan keterbatasan pada pencatatan, monitoring, dan evaluasi. Aktivitas minimisasi limbah telah dilaksanakan dengan 75% terpenuhi, dengan persentase minimisasi melalui penjualan limbah plabot rata-rata 49,73% dari total limbah B3. Hasil analisis SWOT menunjukkan posisi strategis RS X berada pada kuadran agresif (Kuadran I), strategi direkomendasikan adalah penguatan sistem manajemen limbah melalui peningkatan kompetensi SDM, penyempurnaan pencatatan digital, optimalisasi sarana prasarana, perluasan program minimisasi limbah, serta penguatan kerja sama dengan pihak pengolah limbah berizin. Kesimpulan penelitian ini adalah pengelolaan limbah B3 dan limbah non medis di RS X sudah dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku, dan masih memerlukan peningkatan dan perbaikan.

Suboptimal waste management remains a persistent challenge in hospital settings. This study aims to analyze the hazardous waste (B3) and non-medical waste management systems, identify the availability of human resources, infrastructure, and standard operating procedures (SOP), analyze waste minimization activities, and formulate improvement strategies using SWOT analysis at Hospital X in 2025. A qualitative approach with a case study design was employed. The study was conducted in April 2026, with data collected through in-depth interviews with five respondents. Analysis was performed using a systems approach and SWOT analysis. The results revealed that the total generation of hazardous waste (B3) in 2025 amounted to 14,497.34 kg, while non-medical waste reached 74,763.55 kg. In terms of input, Hospital X has assigned waste management personnel with an environmental health background, basic infrastructure, and comprehensive digital SOPs; however, training distribution remains uneven and several facilities require improvement. Regarding process, activities including waste segregation, containment, internal transportation, temporary storage, and external transportation and treatment have been carried out. In terms of output, waste management has complied with regulatory requirements, although weaknesses persist in recording, monitoring, and evaluation. Waste minimization activities have been implemented with a 75% compliance rate, with minimization through the sale of plabot waste averaging 49.73% of total hazardous waste. The SWOT analysis indicated that Hospital X is strategically positioned in the aggressive quadrant (Quadrant I). The recommended strategies include strengthening the waste management system through enhanced human resource competency, improved digital record-keeping, optimized infrastructure, expanded waste minimization programs, and reinforced cooperation with licensed waste treatment providers. This study concludes that hazardous waste and non-medical waste management at Hospital X has been implemented in accordance with applicable regulations, yet continuous improvement is still required.
Read More
T-7555
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rheisya Ghinaa Azzarah; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Laila Fitria, Wakhyono Budianto
Abstrak:
Limbah medis B3 padat merupakan limbah yang dihasilkan oleh aktivitas medis, yang menurut PP No 22 Tahun 2021, setiap orang yang menghasilkan limbah wajib mengelola limbah yang dihasilkannya, termasuk fasyankes. Namun, lebih dari 70% fasyankes di Jakarta belum mengelola limbah medis nya sesuai standar. Penelitian ini membahas mengenai pengelolaan limbah medis B3 padat di RSUD X di DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeidentifikasi jenis, menggambarkan proses pengelolaan, mengetahui upaya pengurangan, serta menganalisis jumlah timbulan limbah medis B3 padat yang dihasilkan. Berdasarkan observasi, wawancara, dan telaah dokumen, limbah medis B3 padat di RSUD X didominasi oleh limbah infeksius dan tajam. Tahapan pengelolaan dimulai dari pengurangan, pemilahan dan pewadahan, pengangkutan internal, penyimpanan sementara, pengangkutan eksternal, dan pengolahan. Upaya pengurangan sudah dilakukan walaupun belum terdapat SOP khusus. Tahapan pemilahan dan pewadahan hingga pengangkutan eksternal sudah berjalan dengan baik walaupun terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Pengolahan limbah tidak dilakukan oleh RSUD X karena menggunakan jasa pihak ketiga. Timbulan limbah medis B3 padat di RSUD X tergolong besar yaitu 158.5 kg/hari dan melebihi rata-rata timbulan limbah medis RS di Indonesia yaitu 87 kg/hari. Regulasi yang dijadikan sebagai acuan adalah Permenkes No. 2 Tahun 2023, PP 22 Tahun 2021, dan Permenkes No. 7 Tahun 2019. RSUD X telah mengelola limbah medis B3 padat yang dihasilkannya sesuai dengan standar, namun beberapa hal perlu dijadikan catatan dan sebagai saran perbaikan untuk RSUD X.

Solid B3 medical waste is waste generated by medical activities. According to Government Regulation No. 22 of 2021, everyone who produces waste must manage the waste they produce, including health facilities. However, more than 70% of health facilities in Jakarta have yet to manage their medical waste according to standards. This study discusses the management of solid B3 medical waste at RSUD X in DKI Jakarta. This study aimed to identify the types, describe the management process, identify reduction efforts, and analyze the amount of solid B3 medical waste generated. Based on observations, interviews, and document review, solid B3 medical waste at RSUD X is dominated by infectious and sharp waste. The management stages start from reduction, sorting and storage, internal transportation, temporary storage, external transportation, and processing. Reduction efforts have been made even though there is no specific SOP. The stages of sorting and storage up to external transportation have been going well, although a number of things need to be improved. RSUD X does not carry out waste processing because it uses the services of a third party. The generation of solid B3 medical waste in RSUD X is relatively large, namely 158.5 kg/day, and exceeds the average generation of hospital medical waste in Indonesia, which is 87 kg/day. Permenkes No. 2 of 2023, PP 22 of 2021, Permenlhk No. 56 Tahun 2015, and Permenkes No. 7 of 2019 are the regulation used as a reference. RSUD X has managed the solid B3 medical waste it produces according to standards, but several things need to be noted and as suggestions for improvement for RSUD X.
Read More
S-11340
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adinda Putriansyah; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Zakianis, Hikmah Kurniaputri
Abstrak:
Keberadaan limbah B3 medis padat yang dihasilkan oleh fasyankes masih menjadi perhatian, apabila tidak dikelola dengan tepat dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan sekitar. Rumah sakit sebagai produsen utama limbah B3 medis diwajibkan mengelola limbah B3 yang dihasilkannya dengan tepat, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021. Namun di DKI Jakarta, masih banyak limbah B3 medis dari fasyankes yang belum dikelola sesuai standar, dimana hanya 52,9% fasyankes yang melakukan pengelolaan limbah B3 medis sesuai standar, sementara daerah lain mampu mencapai 84,6%. Sejumlah tantangan masih harus dihadapi DKI Jakarta dalam mengelola limbah B3 medis rumah sakit. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap pengelolaan limbah B3 medis padat rumah sakit di DKI Jakarta. Desain penelitian ini merupakan kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan deskriptif studi kasus yang dilakukan pada lima RSUD di DKI Jakarta. Pengambilan data dilakukan secara langsung di rumah sakit melalui metode wawancara, observasi, dan telaah dokumen terkait dengan praktik pengelolaan limbah B3 medis padat rumah sakit. Karakteristik limbah B3 medis padat di lima RSUD DKI Jakarta meliputi limbah infeksius, patologis, benda tajam, farmasi, dan kimia, dengan tambahan limbah sitotoksik di RSUD A, RSUD D, dan RSUD E. Sumber utama limbah berasal dari instalasi rawat inap, IGD, unit hemodialisa, dan kamar operasi. Rata-rata timbulan harian mencapai 416,44 kg/hari, dengan jumlah tertinggi di RSUD D. Seluruh rumah sakit telah memenuhi standar pelatihan, sarana, dan prasarana, sementara pengelolaan mencakup pengurangan, pemilahan, pewadahan, penyimpanan, hingga pengangkutan eksternal yang dilakukan oleh pihak ketiga berizin. Tingkat kesesuaian pengelolaan limbah tertinggi dicapai oleh RSUD A (93,4%) dan terendah RSUD C (80,7%). Pengelolaan limbah B3 medis padat di RSUD DKI Jakarta telah memenuhi sebagian besar standar regulasi, namun peningkatan diperlukan pada aspek pemilahan, pewadahan, dan jalur pengangkutan internal untuk mencapai kesesuaian yang lebih baik secara menyeluruh.

The presence of solid hazardous medical waste generated by healthcare facilities remains a significant concern. If not properly managed, it can pose serious threats to human health and the surrounding environment. Hospitals, as the primary producers of hazardous medical waste, are required to manage this waste in accordance with Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021. However, in DKI Jakarta, a significant amount of medical hazardous waste from healthcare facilities is still not managed according to standards, with only 52.9% of facilities complying, compared to 84.6% in other regions. DKI Jakarta continues to face various challenges in managing hospital medical hazardous waste effectively.This study aims to provide an overview of the management of solid hazardous medical waste in hospitals in DKI Jakarta. The research employed a mixed-methods design, combining qualitative and quantitative approaches, using a descriptive case study conducted at five regional general hospitals (RSUD) in DKI Jakarta. Data collection was conducted directly at the hospitals through interviews, observations, and reviews of relevant documents on waste management practices. The characteristics of solid hazardous medical waste (B3) in the five regional general hospitals in DKI Jakarta include infectious, pathological, sharp, pharmaceutical, and chemical waste, with additional cytotoxic waste identified in RSUD A, RSUD D, and RSUD E. The primary sources of waste originate from inpatient wards, emergency rooms, hemodialysis units, and operating rooms. The average daily waste generation reaches 416.44 kg/day, with the highest amount recorded at RSUD D. All hospitals have met the standards for training, facilities, and infrastructure, while waste management encompasses reduction, segregation, containment, storage, and external transportation handled by licensed third parties. The highest compliance level in waste management was achieved by RSUD A (93.4%) and the lowest by RSUD C (80.7%). The management of solid hazardous medical waste in five regional general hospitals across DKI Jakarta has met most regulatory standards; however, improvements are needed in segregation, containment, and internal transportation routes to achieve better overall compliance.
Read More
S-11905
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atikah Nadiah Syafei; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Kusnoputranto, Budi Hartono
Abstrak:

Latar Belakang: Pengelolaan limbah medis di Indonesia menghadapi banyak tantangan. Tantangan tersebut berupa regulasi, daya tampung pengolahan, sinkronisasi antar lembaga, peran pemerintah daerah, sarana prasarana yang belum mencukupi, sumber daya manusia yang belum mumpuni, masalah perizinan, serta pembiayaan. Provinsi Banten mengalami kenaikan timbulan limbah medis. Data menunjukkan limbah medis di Provinsi Banten sebanyak 228,06 ton pada Maret 2021, dan kenaikan tersebut meningkat mencapai 591,78 ton pada 27 Juli 2021. Pandemi yang terjadi di akhir tahun 2019 hingga sekarang, menimbulkan peningkatan timbulan limbah medis secara signifikan. Hal ini menciptakan tantangan tambahan pada manajemen pengelolaan limbah medis di negara berkembang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengelolaan limbah medis B3 Covid-19 pada rumah sakit di Kota Tangerang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif untuk mencari tahu gambaran pengelolaan limbah B3 Rumah Sakit di Kota Tangerang dan penelitian kuantitatif untuk menghitung jumlah timbulan limbah medis yang dihasilkan dari rumah sakit Hasil: Limbah medis yang dihasilkan dari aktivitas pasien Covid-19 dan pasien biasa pada pandemi Covid-19 diperlakukan seperti limbah Covid-19. Timbulan limbah medis yang dihasilkan dari RS A dan B sebanyak 3,19 kg/tempat tidur/hari dan 3,16 kg/tempat tidur/hari. Alur pengelolaan limbah medis B3 Covid-19 yang dilakukan oleh RS A dan RS B dimulai dari pemisahan yang dilakukan pada sumbernya, pewadahan, pengangkutan, penyimpanan, dan pengangkutan menuju pihak ke 3. Sarana prasarana pengelolaan limbah rumah sakit sudah tersedia cukup baik sesuai dengan syarat Permenkes No.18 Tahun 2020. Sejauh ini, belum adanya rencana terkait antisipasi pengelolaan limbah medis apabila timbulan limbah medis membludak yang disiapkan oleh pemerintah. Dalam hal pengangkutan limbah oleh pihak ke 3, terdapat beberapa kali keterlambatan untuk waktu kedatangan ke rumah sakit untuk mengangkut limbah medis. Kesimpulan: Pengelolaan limbah medis B3 Covid-19 rumah sakit di Kota Tangerang saat ini terkontrol dengan baik.


 

Background: Medical waste management in Indonesia faces many challenges. These challenges are in the form of regulation, processing capacity, synchronization between institutions, the role of local governments, inadequate infrastructure, inadequate human resources, licensing problems, and financing. Banten Province experienced an increase in the generation of medical waste. Data shows that medical waste in Banten Province was 228.06 tons in March 2021, and the increase increased to 591.78 tons on July 27, 2021. The pandemic that occurred at the end of 2019 until now has resulted in a significant increase in the generation of medical waste. This creates additional challenges for medical waste management in developing countries. Objective: This study aims to describe the management of Covid-19 Hazardous medical waste in hospitals in Tangerang City. Methods: This research is quantitative and qualitative research with a descriptive approach. Qualitative research to find out the description of hospital Hazardous waste management in Tangerang City and quantitative research to calculate the amount of medical waste generated from hospitals Result: Medical waste generated from the activities of Covid-19 patients and ordinary patients during the Covid-19 pandemic is treated like Covid-19 waste. The medical waste generated from Hospitals A and B was 3.19 kg/bed/day and 3.16 kg/bed/day. The flow of hazardous Covid-19 medical waste management carried out by Hospital A and Hospital B starts from the separation carried out at the source, storage, transportation, storage, and transportation to third parties. Hospital waste management infrastructure facilities are already quite good in accordance with the requirements of Minister of Health Regulation No. 18 of 2020. So far, there is no plan related to anticipating medical waste management in the event of an overabundance of medical waste that has been prepared by the government. In the case of transporting waste by third parties, there are several delays in arrival time to the hospital for transporting medical waste. Conclusion: The management of hospital hazardous Covid-19 medical waste in Tangerang City is currently well controlled.

Read More
T-6584
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Talitha Syifa Salsabila; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Suyud, Fuad Hilmi Sudasman
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengelolaan limbah medis B3 di rumah sakit selama masa pandemi COVID-19 di Indonesia dilihat dari pelaksanaan pengelolaan limbah dan karakteristik limbah menggunakan systematic review. Literatur yang digunakan sebanyak 7 literatur yang akan disintesis terdiri atas 6 artikel jurnal dan 1 tugas akhir (skripsi). Hasil kajian sistematis menunjukkan rumah sakit sudah melaksanakan pengelolaan limbah medis. Namun, tidak semua melakukan kegiatan pengelolaan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Terdapat rumah sakit yang mengalami peningkatan jumlah limbah medis dan ada yang menurun. Sumber limbah yang dihasilkan berasal dari berbagai unit rumah sakit dan jenis limbah yang banyak ditemui dalam literatur adalah limbah APD.
Read More
S-10754
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Rizqa Aulia; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum, Deti Yulianti
Abstrak:
Di Indonesia, pengelolaan limbah medis di fasilitas pelayanan kesehatan masih menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan apabila tidak dilakukan sesuai standar. Praktik pengelolaan limbah medis yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko penularan penyakit dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pengelolaan limbah medis pada tenaga pengelola limbah medis di Puskesmas Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden yang berasal dari 80 puskesmas di Kota Bandung. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik model faktor prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki praktik pengelolaan limbah medis yang baik sebesar 62%. Sebagian besar tenaga pengelola limbah medis memiliki pengetaahuan mengenai pengelolaan limbah medis baik, sikap terhadap pengelolaan limbah medis yang positif, tingkat pendidikan jenjang diploma, pengalaman kerja ≥ 7 tahun, memiliki ketersediaan APD dan ketersediaan fasilitas penunjang yang memadai, sudah pernah mengikuti pelatihan terkait limbah medis. Hampir seluruh responden memiliki ketersediaan SOP dan seluruh tenaga pengelola limbah medis memiliki pengawasan manajemen terhadap pengelolaan limbah medis di puskesmas tempat mereka bekerja. Variabel yang berhubungan secara signifikan dengan praktik pengelolaan limbah medis adalah pengetahuan, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), dan ketersediaan fasilitas penunjang (p-value <0,05). Sementara itu, sikap, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, pelatihan, ketersediaan SOP, dan pengawasan manajemen tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Faktor yang paling dominan terhadap praktik pengelolaan limbah medis adalah ketersediaan fasilitas penunjang (aOR = 7,422; 95%CI = 1,988–16,355). Disarankan kepada puskesmas untuk mempertahankan, melengkapi, dan memastikan pemanfaatan fasilitas penunjang pengelolaan limbah medis dalam praktik sehari-hari.

In Indonesia, medical waste management in healthcare facilities remains a concern due to its potential negative impacts on health and the environment if not properly managed. Inappropriate medical waste management practices may increase the risk of disease transmission and environmental contamination. This study aims to analyze factors associated with medical waste management practices among medical waste handlers at primary health centers in Bandung City. This study used a cross-sectional design with a sample of 100 respondents from 80 primary health centers in Bandung City. Data were analyzed using the chi-square test and logistic regression for predictive factor modeling. The results showed that the majority of respondents had good medical waste management practices (62%). Most medical waste handler had good knowledge of medical waste management and a positive attitude towards it. The majority of respondents had a diploma-level education, work experience of ≥ 7 years, availability of personal protective equipment (PPE), and adequate supporting facilities, and had attended training related to medical waste management. Almost all respondents had standard operating procedures (SOPs) available and all medical waste management personnel were under management supervision regarding medical waste management at their respective primary healthcare centers. Variables significantly associated with medical waste management practices were knowledge, availability of personal protective equipment (PPE), and availability of supporting facilities (p-value < 0.05). Meanwhile, attitude, education level, work experience, training, availability of standard operating procedures (SOP), and management supervision were not significantly associated. The most dominant factor influencing medical waste management practices was the availability of supporting facilities (aOR = 7.422; 95% CI = 1.988–16.355). It is recommended that primary health centers maintain, improve, and ensure the utilization of supporting facilities for medical waste management in daily practice.
Read More
T-7630
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erina Julia; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Entin Kartini
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui aspek yang akan diteliti meliputi karakteristik limbah B3 medis, aspek regulasi, aspek sumber daya, dan aspek teknis (pemilahan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, penguburan, dan penimbunan). Metode penelitian ini merupakan penelitian campuran atau mixed methods, kuantitatif dan kualitatif dengan analisis deskriptif. Data yang digunakan berasal dari wawancara dan dokumen serah terima limbah PT X bulan November 2020 hingga Juni 2021.
Read More
S-10607
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puri Wulandari; Pembimbng: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Zakianis, Dudi H. Gunandi
S-6887
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive