Ditemukan 28689 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Johanes Eko Kristiyadi
BPZ Edisi ke 38
Jakarta : Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, 2023
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rahmi Lisdeni; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Darwel
Abstrak:
Read More
Salah satu fokus program pembangunan kesehatan di Indonesia saat sekarang merupakan stunting. Stunting adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan karena multifaktor diantaranya sanitasi lingkungan yang buruk, asupan gizi kurang, penyakit infeksi, dll yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan umurnya (TB/U20%). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita yang dikaitkan dengan sanitasi lingkungan dan asupan gizi pada Balita 6-59 bulan di Wilayah Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 189 sampel. Analisis data dilakukan dengan SPSS yaitu analisis univariat Distribusi Frekuensi, Analisis bivariate (Chi-square) dan analisis multivariat (regresi logistik). Terdapat hubungan yang bermakna antara variabel-variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi dengan kejadian stunting pada balita yaitu variabel perilaku BABS, variabel perilaku CTPS, variabel Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), variabel sarana dan kepemilikan jamban dan variabel asupan zat gizi. Semua variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi yang diteliti merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita karena memiliki OR>1 Sedangkan variabel yang paling besar pengaruhnya yaitu variabel CTPS. Terdapat faktor risiko sanitasi lingkungan dan asupan gizi terhadap kejadian stunting pada balita. Dan disarankan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemberantasan stunting dengan pemicuan STBM dan peningkatan asupan memberikan edukasi kepada ibu balita serta ibu hamil untuk memakan makanan beragam, bergizi dan seimbang serta meningkatkan pemberian PMT pada balita terutama PMT lokal bernilai gizi yang banyak di wilayah tersebut seperti Ikan. Perlu peningkatan kerjasama lintas sektor untuk memberantas faktor risiko sanitasi lingkungan yang buruk dan asupan gizi yang kurang pemicu stunting. Kata kunci: Stunting, balita 6-59 bulan, sanitasi lingkungan, asupan gizi, Batangkapas .
One of the current focuses of health development programs in Indonesia is stunting. Stunting is failure of growth and development due to multiple factors including the poor environmental sanitation, the inadequate nutritional intake, the infectious diseases, etc. which is characterized by height or body length that is not appropriate for age (TB/U 20%). The goal of the research is ttg=termine the risk factors for stunting in toddlers which are associated with environmental sanitation and nutritional intake in toddlers 6-59 months . The design of this research is cross sectional with a total sample of 189 samples. Data analysis was carried out using SPSS, namely Frequency Distribution univariate analysis, bivariate analysis (Chi-square) and multivariate analysis (logistic regression). There is a significant relationship between environmental sanitation variables and nutritional intake and the incidence of stunting in toddlers, namely the behavioral variable of ODF, the behavioral variable of CTPS, home food and drink processing (PAM-RT) variable, latrine ownership variable and nutrient intake variable. All environmental sanitation and nutritional intake variables studied are risk factors for stunting in toddlers because they have OR> 1. Meanwhile, the variable with the greatest influence is the CTPS variable. There are risk factors for environmental sanitation and nutritional intake in the incidence of stunting among toddlers. And it is recommended that the Community Health Center and Health Service eradicate stunting by triggering STBM and increasing intake. education for mothers of toddlers and pregnant mothers to eat diverse, nutritious and balanced food and increase the provision of PMT to toddlers, especially local PMT with nutritional value which is abundant in the region, such as fish. There is a need to increase cross-sector collaboration to eradicate the risk factors of poor environmental sanitation and inadequate nutritional intake that trigger stunting.
T-6884
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diga Areta; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Al Asyary, Dewi Susanna, Dedy Irawan, Iim Ibrahim
Abstrak:
Read More
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang saluran pernapasan atas atau bawah dengan gejala seperti batuk, sesak napas, dan demam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara titik panas (hotspot) dengan kejadian ISPA di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2023, serta menganalisis hubungan faktor iklim seperti suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan terhadap kejadian ISPA. Studi ini menggunakan desain observasional ekologi dengan data dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Data ISPA dari Dinas Kesehatan Provnsi Sumatera Selatan, data titik panas (hotspot) dari Sipongi Monitoring System dan data faktor iklim dari POWER NASA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kota Palembang memiliki jumlah kasus ISPA tertinggi (137.642 kasus), sementara kabupaten Ogan Komering Ilir mencatatkan titik panas (hotspot) terbanyak (37.295 titik). Hubungan signifikan ditemukan antara titik panas dan kejadian ISPA di beberapa wilayah, dengan variasi dipengaruhi oleh topografi dan kondisi lingkungan. Faktor iklim juga berpengaruh, di mana suhu rendah meningkatkan stabilitas virus, sedangkan suhu tinggi mendukung pertumbuhan bakteri. Kelembapan relatif rendah dan curah hujan yang rendah berhubungan dengan peningkatan kejadian ISPA. Penelitian ini menegaskan perlunya mitigasi risiko melalui pengelolaan lingkungan dan respons kesehatan yang terintegrasi.
Acute Respiratory Infection (ARI) is an infectious disease that affects the upper or lower respiratory tract and is characterized by symptoms such as coughing, shortness of breath, and fever. This study aims to analyze the relationship between hotspots and ARI incidence in South Sumatra Province in 2023, as well as the influence of climatic factors such as air temperature, humidity, and rainfall on ARI cases. The study employs an ecological observational design using data from 17 districts/cities in South Sumatra. The ARI data was sourced from the South Sumatra Provincial Health Office, hotspot data was obtained from the Sipongi Monitoring System, and climate factor data was gathered from POWER NASA. The results indicate that Palembang City reported the highest number of ARI cases (137,642), while Ogan Komering Ilir District recorded the most hotspots (37,295). Significant relationships were identified between hotspots and ARI incidence in several regions, with variations influenced by topography and environmental conditions. Climatic factors also played a role, with low temperatures increasing viral stability, while high temperatures supported bacterial growth. Low relative humidity and low rainfall were associated with a rise in ARI cases. This research underscores the need for risk mitigation through integrated environmental management and health response strategies.
T-7217
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sely Anggraini; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Agus Handito, Depit Kurniawan
Abstrak:
Read More
Insiden demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia meningkat tajam dari 41,4 menjadi 91,9 per 100.000 penduduk pada tahun 2024 dan masih jauh dari target nasional ≤10 per 100.000 penduduk. Di Provinsi Sumatera Selatan, tren serupa juga terjadi dengan peningkatan IR lebih dari dua kali lipat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan praktik PSN 3M dan PSN 3M Plus dengan kejadian DBD. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional berbasis data SKI 2023 dengan sampel 11.444 rumah tangga. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik untuk memperoleh Prevalence Odds Ratio (POR) dengan interval kepercayaan 95%. Hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa rumah tangga yang tidak melaksanakan PSN 3M di wilayah perkotaan tidak meningkatkan risiko DBD (POR = 0,61; 95% CI: 0,18–1,99). Sedangkan di wilayah pedesaan, rumah tangga yang tidak melaksanakan PSN 3M memiliki risiko 7,77 kali lebih besar mengalami DBD dibandingkan dengan yang melaksanakan PSN 3M (POR = 7,77; 95% CI: 1,83–32,93). Berdasarkan variabel PSN 3M Plus, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa rumah tangga yang tidak melaksanakan PSN 3M Plus di wilayah perkotaan tidak meningkatan risiko DBD (POR = 0,75; 95% CI: 0,19–2,97). Sedangkan di wilayah pedesaan, rumah tangga yang tidak melaksanakan PSN 3M Plus memiliki risiko 6,75 kali lebih besar mengalami DBD dibandingkan dengan yang melaksanakan PSN 3M Plus (POR = 6,75; 95% CI: 1,60–28,45). Oleh karena itu, diperlukan penguatan implementasi PSN 3M Plus dengan pendekatan berbasis wilayah, melalui pemberdayaan masyarakat di pedesaan serta optimalisasi intervensi proteksi dan sanitasi lingkungan di wilayah perkotaan guna menurunkan risiko kejadian DBD. Kata kunci: Demam Berdarah Dengue, PSN 3M, PSN 3M Plus, Sumatera Selatan, SKI 2023
The incidence of dengue fever (DF) in Indonesia sharply increased from 41.4 to 91.9 per 100,000 in 2024 and remains far above the national target of ≤10 per 100,000. A similar trend was observed in South Sumatra Province, where the incidence rate more than doubled. This study aimed to analyze the association between the implementation of 3M and 3M Plus mosquito nest eradication (PSN) practices and the incidence of dengue fever. This study employed a cross-sectional design using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) involving 11,444 households. Logistic regression analysis was performed to estimate the Prevalence Odds Ratio (POR) and 95% confidence intervals (CI). Interaction analysis showed that households not implementing 3M PSN in urban areas were not significantly associated with dengue fever incidence (POR = 0.61; 95% CI: 0.18–1.99). In contrast, in rural areas, households not implementing 3M PSN had a 7.77-fold higher risk of dengue fever compared with households implementing 3M PSN (POR = 7.77; 95% CI: 1.83–32.93). Similarly, households not implementing 3M Plus PSN in urban areas were not significantly associated with dengue fever incidence (POR = 0.75; 95% CI: 0.19–2.97). However, in rural areas, households not implementing 3M Plus PSN had a 6.75-fold higher risk of dengue fever compared with households implementing 3M Plus PSN (POR = 6.75; 95% CI: 1.60–28.45).Therefore, strengthening the implementation of PSN through an area-based approach is necessary, particularly through community empowerment in rural areas and optimization of personal protection and environmental sanitation interventions in urban areas to reduce the risk of dengue fever.
T-7503
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Akbar Rahmansyah; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Adenan, Siddiq Amier,
Abstrak:
Setiap kegiatan termasuk kegiatan transportasi mempunyai risiko terjadinya kecelakaan kerja. Transportasi sungai menggunakan Smallboat memiliki risiko terjadinya kecelakaan, khususnya yang berkaitan dengan bahaya perairan. Terdapat beberapa kecelakaan didalam transportasi sungai menggunakan Smallboat. Tujuan Penelitian iniuntuk mengetahui bahaya-bahaya dan tingkat risiko yang ada dalam transpotasi sungai menggunakan Smallboat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional,JHA (Job Hazards Analysis) untuk identifikasi bahaya dan metode penilaian risiko semikuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan tingkat risiko diawal cukup tinggi untuk beberapa kategori bahaya, terutama untuk bahaya yang berhubungan dengan perairan(Marine Hazard) tabrakan, drifted (akibat gagal mesin), pengikatan tali mooring, sampaibahaya orang jatuh ke air (dengan nilai risiko All work activity include transportation have a risk of accident. Small boat Marine(river) transportation have a specific risk of accident, especially regarding marinehazards. There were many accidents happen regarding small boat transportation. Thepurpose of this study is to know what kind/type of hazards and level of risk from smalltransportation activity. This study uses design of observational descriptive, Job HazardAnalysis (JHA) for identify hazards tools and semi quantitative for risk assessmentapproach/technique. The result showed that there have high level of risk assessment fromseveral specific hazards (regarding marine hazards), specially related with collision,drifted (engine failure), mooring line, and until man overboard (with result is more than350 which is very high category risk level). With some existing and recommend actionfor mitigation from author to reduce risk level from the activity the result can be reduceuntil low category (priority 3, substantial and acceptable risk level). The author suggestedthat mitigation action (procedural, training and engineering control) should implementedand perform other risk assessment for the others work area location.Keywords: Risk, Marine Hazards, River Transportation, Smallboat
Read More
T-4182
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
EHC-223
[s.l.] :
Geneva WHO 2001, s.a.]
EHC (Series) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Innas; Pembimbing: Robiana Modjo
S-2788
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fugi Nurdianto; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno
, Royanul Arief, Chandra Sunaryo
Abstrak:
Read More
Benzena merupakan senyawa hidrokarbon aromatik volatil yang banyak ditemukan pada industri minyak dan gas bumi serta telah diklasifikasikan sebagai karsinogen Grup 1 oleh International Agency for Research on Cancer (IARC). Pajanan benzena pada pekerja sektor hulu migas berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem hematopoietik, serta meningkatkan risiko leukemia akibat pajanan kronis. Penilaian risiko pajanan benzena umumnya masih berfokus pada pemantauan lingkungan kerja sehingga belum sepenuhnya menggambarkan dosis internal yang diterima pekerja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring untuk memperoleh gambaran risiko yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko pajanan benzena pada pekerja sektor hulu minyak dan gas bumi menggunakan pendekatan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) yang terintegrasi dengan area monitoring, personal monitoring, dan biomonitoring. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif berbasis data sekunder yang diperoleh dari program pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring perusahaan. Analisis dilakukan pada pekerja yang dikelompokkan berdasarkan Similar Exposure Group (SEG), yaitu Proses, IPAL, Laboratorium, dan Support. Biomonitoring dilakukan menggunakan biomarker S-Phenylmercapturic Acid (S-PMA) urin, sedangkan penilaian risiko dilakukan melalui penentuan Hazard Rating (HR), Exposure Rating (ER), dan Risk Rating (RR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa SEG IPAL memiliki rerata konsentrasi benzena tertinggi pada area monitoring sebesar 0,53 ppm dan personal monitoring sebesar 0,42 ppm. Hasil biomonitoring menunjukkan rerata kadar S-PMA tertinggi ditemukan pada SEG Proses sebesar 1,08 µg/g kreatinin, diikuti SEG IPAL sebesar 0,85 µg/g kreatinin dan SEG Laboratorium sebesar 0,42 µg/g kreatinin. Seluruh hasil biomonitoring masih berada di bawah nilai Biological Exposure Index (BEI) sebesar 25 µg/g kreatinin. Penilaian CHRA menunjukkan bahwa SEG IPAL memiliki nilai ER tertinggi sebesar 5, diikuti SEG Proses sebesar 4, SEG Laboratorium sebesar 2, dan SEG Support sebesar 1. Hasil RR menunjukkan bahwa SEG IPAL dengan RR sebesar 25 dan SEG Proses dengan RR sebesar 20 termasuk kategori risiko tinggi, sedangkan SEG Laboratorium dengan RR sebesar 10 dan SEG Support dengan RR sebesar 5 termasuk kategori risiko moderat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara hasil pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring tidak selalu linear karena dapat dipengaruhi oleh penggunaan APD, variasi metabolisme individu, durasi pajanan, kemungkinan pajanan dermal, serta kebiasaan merokok sebagai faktor confounding. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi area monitoring, personal monitoring, biomonitoring, dan pendekatan CHRA mampu memberikan gambaran risiko pajanan benzena yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan satu parameter pemantauan saja. SEG IPAL dan SEG Proses merupakan kelompok prioritas utama dalam pengendalian pajanan benzena pada industri hulu minyak dan gas bumi. Pendekatan terpadu ini dapat digunakan sebagai dasar pengendalian pajanan benzena berbasis risiko untuk mendukung perlindungan kesehatan pekerja secara lebih efektif.
Benzene is a volatile aromatic hydrocarbon commonly found in the oil and gas industry and has been classified as a Group 1 carcinogen by the International Agency for Research on Cancer (IARC). Benzene exposure among upstream oil and gas workers may cause adverse health effects, particularly hematopoietic disorders, and may increase the risk of leukemia due to chronic exposure. Risk assessment of benzene exposure is commonly based on workplace environmental monitoring; however, this approach may not fully represent the internal dose absorbed by workers. Therefore, an integrated approach combining workplace environmental monitoring and biomonitoring is needed to provide a more comprehensive risk assessment. This study aimed to analyze benzene exposure risk among upstream oil and gas workers using a Chemical Health Risk Assessment (CHRA) approach integrated with area monitoring, personal monitoring, and biomonitoring. This study used a retrospective observational design based on secondary data obtained from the company’s workplace monitoring and biomonitoring programs. The analysis was conducted among workers classified into Similar Exposure Groups (SEGs), namely Process, Wastewater Treatment Plant (WWTP/IPAL), Laboratory, and Support. Biomonitoring was performed using urinary S-Phenylmercapturic Acid (S-PMA) as a biomarker of benzene exposure, while risk assessment was conducted through the determination of Hazard Rating (HR), Exposure Rating (ER), and Risk Rating (RR). The results showed that the WWTP (IPAL) SEG had the highest mean benzene concentration in both area monitoring at 0.53 ppm and personal monitoring at 0.42 ppm. Biomonitoring results showed that the highest mean urinary S-PMA level was observed in the Process SEG at 1.08 µg/g creatinine, followed by the WWTP SEG at 0.85 µg/g creatinine and the Laboratory SEG at 0.42 µg/g creatinine. All biomonitoring results remained below the Biological Exposure Index (BEI) of 25 µg/g creatinine. The CHRA assessment showed that the WWTP SEG had the highest ER value of 5, followed by the Process SEG with an ER of 4, the Laboratory SEG with an ER of 2, and the Support SEG with an ER of 1. The RR results showed that the WWTP SEG with an RR of 25 and the Process SEG with an RR of 20 were classified as high risk, whereas the Laboratory SEG with an RR of 10 and the Support SEG with an RR of 5 were classified as moderate risk. This study also found that the relationship between workplace monitoring and biomonitoring results was not always linear, as it may be influenced by personal protective equipment use, individual metabolic variability, exposure duration, possible dermal exposure, and smoking habits as confounding factors. This study concludes that the integration of area monitoring, personal monitoring, biomonitoring, and the CHRA approach provides a more comprehensive evaluation of benzene exposure risk than relying on a single monitoring parameter alone. The WWTP and Process SEGs are the main priority groups for benzene exposure control in the upstream oil and gas industry. This integrated approach can serve as a basis for risk-based benzene exposure control to support more effective worker health protection.
T-7569
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Herdina Jane Pusphachinta; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Devie Fitri Octaviani
S-8125
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rio Prasetio Badriansyah; Pembimbing: Wachyu Sulitiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Pujiyanto, Amila Megraini, Arsitawati Soedoko
Abstrak:
Masih terjadi kekurangan sumber daya manusia dokter pada sistem layanan kesehatan di indonesia maupun di Provinsi Sumatera Selatan. Ketersediaan dokter dipengaruhi produksi, sebaran, dan pengembangan karir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi pilihan karir dokter internsip di Provinsi Sumatera Selatan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pilihan karir tersebut. Faktor yang diamati adalah pendapatan, kemudahan mencari kerja, prestise, persepsi masa depan, jam kerja reguler, jam kerja fleksibel, pekerjaan tanpa jaga malam, cita-cita dan wilayah kerja. Penelitian survey deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan skala likert. Analisis data menggunakan Aplikasi Statistik. Populasi penelitian adalah dokter peserta program internsip di Provinsi Sumatera Selatan. Sampel yang digunakan sebanyak 112 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan 73,2% responden menginginkan dokter spesialis sebagai pilihan karirnya, 18,8% responden menginginkan dokter umum sebagai pilihan karirnya sementara 8% memilih karir lain-lain. Didapatkan jenis kelamin, asal universitas dan daerah asal tidak berhubungan dengan pilihan karir. Variabel pendapatan, kemudahan mencari kerja, jam kerja yang fleksibel, dan wilayah kerja pada uji hipotesis berhubungan dengan pilihan karir, sedangkan variabel prestise, beban kerja, masa depan, masa studi dan cita-cita tidak terbukti berhubungan dengan pilihan karir. Dari hasil temuan diatas disimpulkan terdapat kecenderungan dokter untuk lebih memilih dokter spesialis sebagai pilihan karirnya. Pilihan karir berhubungan dengan pendapatan, kemudahan mencari kerja, jam kerja dan wilayah kerjanya. Untuk itu disarankan agar tidak terjadi ketimpangan dalam tenaga kerja dokter dapat dibuat kebijakan untuk membuat karir sebagai dokter umum lebih menarik dengan melakukan intervensi terhadap faktor-faktor yang berhubungan seperti peningkatan pendapatan atau kepastian kerja bagi dokter umum. Kata kunci : Pilihan Karir; Dokter Internsip; Determinan Pilihan Karir; Pengembangan Karir; Dokter Umum; Dokter Spesialis Referensi : 44(1991-2017) There is still a shortage of human resources physicians on health care systems in Indonesia as well as in Southern Sumatera Province. The availability of doctors influenced by the production, distribution, and career development. This study aims to find out the preferences of career choice of doctor internsip in Southern Sumatera Province and factors related to career choice. Factors observed are income, ease of job search, prestige, future perception, regular working hours, flexible working hours, work without night shift, goals and work areas. Descriptive survey research with quantitative approach, cross-sectional. The data were collected using questionnaires with Likert scale. Data analysis using Statistical Application. The study population is the doctor of internsip program participants in Southern Sumatera Province. The sample used was 112 people who fulfilled the inclusion criteria. The study found that 73.2% of respondents wanted a specialist as a career choice, 18.8% of respondents wanted a general practitioner as their career choice while 8% chose another career. Gender, origin of university and area of origin not related to career choice. Revenue factors, easy job search, flexible working hours, and work areas on hypothesis testing are related to career choice, while prestige factors, workload, future, study period and goals are not proven to be related to career choice. From the results of the above findings concluded there is a tendency doctors to prefer a specialist as a career choice. Career options relate to income, ease of job search, working hours and work area. It is suggested that in order not to happen imbalance in the workforce of doctors, policy can be made to make a career as a general practitioner more interesting by intervening on related factors such as increasing income or working field certainty for general practitioners. Keywords : Career Choice, Internsip Doctor, Determinant of Career, Career Development; General Practice; Specialist Reference : 44(1991-2017
Read More
B-1944
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
