Ditemukan 35660 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Fasya Haimelia Adzani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Al Asyary, Romadona Triada
Abstrak:
Read More
Pada tahun 2022, kasus kematian akibat rabies (Lyssa) di Kabupaten Buleleng, Bali, meningkat sebanyak 1.200%. Rabies dapat menyerang manusia di berbagai umur dan jenis kelamin serta hewan berdarah panas. Namun, belum ada cara pengobatan yang ditemukan untuk penyakit ini baik pada manusia maupun hewan. Gejala klinis rabies selalu berujung pada kematian. Mengingat tingginya ancaman rabies terhadap kesehatan dan ketentraman masyarakat, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini secara intensif. Untuk merencanakan program penanganan rabies yang lebih efektif di Kabupaten Buleleng, sebuah penelitian dilakukan dengan fokus pada perilaku pasien lyssa dalam kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan perilaku pasien lyssa yang sebagian besar adalah kurangnya pelaporan kepada fasilitas kesehatan setelah digigit hewan dan pengobatan luka sendiri tanpa mengikuti prosedur yang benar. Peran pemerintah dalam implementasi Surveilans Berbasis Masyarakat dinilai belum optimal. Komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai penanganan GHPR juga belum dilakukan secara memadai oleh tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat, meskipun telah ada kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Faktor sikap, kepercayaan, dan pengetahuan berpengaruh terhadap perilaku pasien lyssa, sedangkan faktor ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai tetapi bukan menjadi faktor yang berpengaruh terhadap perilaku pasien. Meskipun telah ada anjuran dari tenaga kesehatan, Dinas Pertanian, dan tokoh masyarakat, serta media penyuluhan, faktor penguat ini belum optimal dalam memengaruhi perilaku pasien lyssa dalam meninjaklanjuti GHPR.
In 2022, cases of death due to rabies (Lyssa) in Buleleng Regency, Bali, increased by 1,200%. Rabies can affect humans of various ages and genders, as well as warm-blooded animals. However, there is still no discovered treatment for this disease, both in humans and animals. Clinical symptoms of rabies invariably lead to death. Given the significant threat of rabies to public health and tranquility, intensive efforts are required for prevention and control of this disease. To design a more effective rabies management program in Buleleng Regency, a study focused on the behavior of lyssa patients in cases of Rabies Transmitting Animal Bites (GHPR) was conducted. This study used a qualitative approach with in-depth interviews and document analysis as methods. The research findings indicate lyssa patients' behaviors, mostly involving underreporting to healthcare facilities after being bitten by animals and self-treatment of wounds without proper procedures. The government's role in implementing Community-Based Surveillance is considered suboptimal. Communication, information, and education regarding GHPR handling have also not been adequately conducted by health professionals from the Health Department and local health centers, despite collaborations with the Agriculture Department of Buleleng Regency. Attitude, belief, and knowledge influence lyssa patients' behaviors, while the availability and accessibility of healthcare facilities are sufficient but not influencing factors. Although recommendations from healthcare workers, the Agriculture Department, community leaders, and educational media exist, these reinforcement factors have not yet optimally impacted lyssa patients' behavior in response to GHPR.
S-11489
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fathonah Sholihah Farizal; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Al Asyary, Wuhgini
Abstrak:
Read More
Penyakit diare berada di posisi peringkat tertinggi ke-8 penyebab kematian di kelompok semua umur, dan peringkat ke-5 pada kelompok umur balita. Diare merupakan penyakit endemis berbasis lingkungan yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dengan analisis univariat dan bivariat. Sumber data penelitian merupakan data primer yang diambil langsung oleh peneliti menggunakan kuesioner mewawancarai ibu atau pengasuh yang membawa balita berkunjung ke Poli Balita Sakit di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta. Sampel yang didapatkan sebanyak 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor balita yaitu variabel status imunisasi (p-value 0,007) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita. Kemudian faktor perilaku ibu yang terdiri dari 3 variabel, perilaku cuci tangan pakai sabun (p-value 0,002) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita, sedangkan perilaku pembuangan tinja balita (p-value 0,299) dan pengelolaan sampah (p-value 0,382) tidak berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Selanjutnya faktor sanitasi yang terdiri dari 3 variabel, tempat sampah (p-value 0,000) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita, sedangkan sumber air minum (p-value 1,000) dan jamban keluarga (p-value 0,717) tidak berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Pemerintah diharapkan terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi.
Diarrheal disease ranks as the 8th highest cause of death in the all-age group, and ranks 5th in the toddler age group. Diarrhea is an environmentally based endemic disease that has the potential to become an Extraordinary Event (KLB). The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the incidence of diarrhea in toddlers in the work area of the Cengkareng District Community Health Center in 2022. This study used a cross-sectional research design with univariate and bivariate analysis. The source of the research data is primary data taken directly by researchers using questionnaires interviewing mothers or caregivers who bring toddlers to visit the Sick Toddler Poly at the Cengkareng District Community Health Center, Jakarta. The sample obtained was 100 respondents. The results showed that the toddler factor, namely the immunization status variable (p-value 0.007) had a significant relationship with the incidence of diarrhea in toddlers. Then the mother’s behavior factor consisting of 3 variables, handwashing behavior with soap (p-value 0.002) has a significant relationship with the incidence of diarrhea in toddlers, while the behavior of toddler fecal disposal (p-value 0.299) and waste management (p-value 0.382) is not related to the incidence of diarrhea in toddlers. Furthermore, the sanitation factor consisting of 3 variables, the trash can (p-value 0.000) has a significant relationship with the incidence of diarrhea in toddlers, while the source of drinking water (p-value 1,000) and family latrine (p-value 0.717) are not related to the incidence of diarrhea in toddlers. The government is expected to continue to increase public awareness of the importance of immunization.
S-11197
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nanda Labado; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Lora Agustina, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
ISPA merupakan salah satu penyakit penyebab kematian pada anak-anak di dunia khususnya Negara berkembang seperti di Indonesia. Faktor penyebab ISPA adalah kondisi lingkungan rumah serta PHBS yang buruk. Tingginya insiden ISPA di Kabupaten Gorontalo khususnya balita dan belum tercapainya target RPJMN rumah sehat di Provinsi Gorontalo melatarbelakangi dilakukannya penelitian terkait kondisi lingkungan rumah dan perilaku dengan Kejadian ISPA pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tilango. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor terkait kondisi lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian ISPA di kecamatan Tilango. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross sectional dengan analisis multivariate Binary Regresi logistic model prediksi. Populasi pada penelitian ini adalah anak balita usia 0-59 bulan yang berkunjung ke Puskesmas Tilango. Pemilihan sampel penelitian ini dilakukan secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 92 responden. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa yang paling dominan secara signifikan terhadap Kejadian ISPA pada balita di Kecamatan Tilango yaitu Pendapatan (OR=13,9, 95% CI 3,395-57,668), Pendidikan (OR=11,3, 95%CI 2,498-51.650), Status Imunisasi (OR=9,8, 95%CI 1,019-95.346), Luas Ventilasi (OR= 8,9, 95%CI= 2,204-35,956), Kebiasaan Buka Jendela (OR=0,05, 95%CI 0,007-0,447). kesimpulan pada penelitian ini adalah banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA pada balita yaitu karakteristik balita, karakteristik orangtua, perilaku dan lingkungan rumah
Read More
T-6425
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febriyana Mustika Dewi; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Inswiasri, Mitta Ratna
Abstrak:
Sampah menjadi masalah beberapa negara yang sedang berkembang salah satunya Indonesia. Pada bulan Desember 2019, terjadi wabah penyakit yang disebabkan oleh koronavirus atau biasa disebut COVID-19, kota Cimahi adalah salah satu kota yang padat di Provinsi Jawa Barat dengan kasus isolasi mandiri sebanyak 10.323 Tujuan untuk mengetahui seberapa jauh penularan COVID- 19 klaster keluarga berdasarkan penanganan sampah spesifik rumah tangga yang dihasilkan pasien penyintas COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri (isoman) di Kota Cimahi 2022. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. sampel penelitian ini adalah 237 Orang penyintas COVID-19 yang melakukan Isolasi mandiri di rumah. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan kouisoner yang telah dilakukan iji validitas dan realibilitas. Hasil penelitian didapatkan terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan kejadian penularan klaster keluarga (p=0,025), terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan penularan klaster keluarga (p= 0,014), terdapat hubungan yang signifikan pengetahuan dengan penularan setelah dikontrol oleh variabel confounding yaitu pendidikan dan terdapat hubungan yang signifikan sikap dengan penularan setelah dikontrol oleh variabel confounding yaitu usia pada penyintas COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah dengan kejadian COVID-19 klaster keluarga di Kota Cimahi 2022 Kesimpulan tidak terdapat penyebaran COVID-19 yang masif di klaster keluarga, Pengetahuan baik dan sikap buruk pada pasien survivor COVID-19, Ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan kejadian penularan klaster keluarga, Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dan kejadian penularan klaster. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian penularan klaster keluarga yang dikendalikan oleh variabel pengganggu pendidikan. Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan kejadian penularan klaster keluarga yang dikendalikan oleh variabel pengganggu yaitu usia. Saran bagi Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan PEMKOT Kota Cimahi perlunya memberikan penyuluhan mengenai penanganan sampah yang perlu dilakukan selama melakukan isolasi mandiri dalam upaya menekan kasus penyebaran kasus COVID-19 di klaster keluarga.
Factors on the Household Specific Waste Handling Characteristics of COVID-19 Survivors Patients Self-Isolating (Isoman) at Home With Family Cluster COVID-19 Incidences in Cimahi City 2022 Counsellor : Prof. dr. Haryoto Kusnoputranto, S.KM., Dr.PH. Waste is a problem in several developing countries, one of which is Indonesia.In December 2019, there was an outbreak of a disease caused by the corona virus or commonly called COVID-19, the city of Cimahi is one of the densest cities in West Java Province with 10,323 cases of self-isolation.Household-specific waste generated by COVID-19 survivor patients who are self-isolating (isoman) in Cimahi City 2022. This research method is a quantitative research with a cross sectional design. The sample of this study 237 respondent COVID-19 survivors who were self-isolating at home. The data collected in this study is primary data using a questionnaire that has been tested for validity and reliability. The results showed that there was a significant relationship between attitudes and the incidence of family cluster transmission (p = 0.025), there was a significant relationship between education and family cluster transmission (p = 0.014), there was a significant relationship between knowledge and transmission after being controlled by the confounding variable, namely education. and there is a significant relationship between attitudes and transmission after being controlled by the confounding variable, namely the age of COVID-19 survivors who are self-isolating at home with the incidence of family cluster COVID-19 in Cimahi City 2022. The conclusion is that there is no massive spread of COVID-19 in family clusters, Good knowledge and bad attitudes in patients who survive COVID-19, There is a significant relationship between attitudes and the incidence of family cluster transmission, There is a significant relationship between education and the incidence of cluster transmission. There is a significant relationship between knowledge and the incidence of family cluster transmission which is controlled by the educational confounding variable. There is a significant relationship between attitudes and the incidence of family cluster transmission controlled by the confounding variable, namely age.Suggestions for Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Cimahi of PEMKOT Cimahi City need to provide counseling regarding waste management that needs to be done during self-isolation in order to suppress the spread of COVID-19 cases in family clusters
Read More
Factors on the Household Specific Waste Handling Characteristics of COVID-19 Survivors Patients Self-Isolating (Isoman) at Home With Family Cluster COVID-19 Incidences in Cimahi City 2022 Counsellor : Prof. dr. Haryoto Kusnoputranto, S.KM., Dr.PH. Waste is a problem in several developing countries, one of which is Indonesia.In December 2019, there was an outbreak of a disease caused by the corona virus or commonly called COVID-19, the city of Cimahi is one of the densest cities in West Java Province with 10,323 cases of self-isolation.Household-specific waste generated by COVID-19 survivor patients who are self-isolating (isoman) in Cimahi City 2022. This research method is a quantitative research with a cross sectional design. The sample of this study 237 respondent COVID-19 survivors who were self-isolating at home. The data collected in this study is primary data using a questionnaire that has been tested for validity and reliability. The results showed that there was a significant relationship between attitudes and the incidence of family cluster transmission (p = 0.025), there was a significant relationship between education and family cluster transmission (p = 0.014), there was a significant relationship between knowledge and transmission after being controlled by the confounding variable, namely education. and there is a significant relationship between attitudes and transmission after being controlled by the confounding variable, namely the age of COVID-19 survivors who are self-isolating at home with the incidence of family cluster COVID-19 in Cimahi City 2022. The conclusion is that there is no massive spread of COVID-19 in family clusters, Good knowledge and bad attitudes in patients who survive COVID-19, There is a significant relationship between attitudes and the incidence of family cluster transmission, There is a significant relationship between education and the incidence of cluster transmission. There is a significant relationship between knowledge and the incidence of family cluster transmission which is controlled by the educational confounding variable. There is a significant relationship between attitudes and the incidence of family cluster transmission controlled by the confounding variable, namely age.Suggestions for Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Cimahi of PEMKOT Cimahi City need to provide counseling regarding waste management that needs to be done during self-isolation in order to suppress the spread of COVID-19 cases in family clusters
T-6477
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Murni L. Naibaho; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Fify Mulyani, Rachmat Suherwin
T-4195
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ronaldo; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Al Asyary, Ema Hermawati, Siti Nurhayati
Abstrak:
Read More
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara-negara tropis termasuk Indonesia. Provinsi Jawa Barat termasuk Kabupaten Bogor, sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk memiliki prevalensi DBD yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perilaku 3M Plus dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Kemang Kabupaten Bogor. Penelitian potong lintang dengan unit analisis rumah tangga ini mengikutsertakan sebagian rumah tangga yang tinggal dan menetap di wilayah kerja Puskesmas Kemang, Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukan bahwa 46,6% responden memiliki perilaku 3M plus yang kurang baik. Didapati hubungan yang signifikan antara perilaku 3M Plus, perilaku pencegahan penggunaan kelambu antinyamuk, penggunaan kassa ventilasi, lokasi perkembang biakan, lokasi peristirahatan nyamuk dan keberadaan jentik dengan kejadian DBD di wilayah Kemang Kabupaten Bogor. Diperlukan program edukasi untuk meningkatkan pemahaman Masyarakat akan DBD sehingga timbul kesadaran diri untuk mau berperilaku 3M Plus dengan baik.
Dengue fever is a major issue in tropical countries like Indonesia, particularly in West Java Province, including Bogor Regency. This study focused on the relationship between 3M Plus behavior (Behavior that includes mosquito repellent practices such as keeping the environment clean, using mosquito nets, and using mosquito repellents) and the incidence of dengue fever in the Kemang Health Center's area in Bogor Regency. The research included households living in the Kemang area and found that 46.6% of the respondents had poor 3M Plus behavior. The study identified a significant relationship between 3M Plus behavior and the occurrence of dengue fever, particularly with respect to preventive habits such as using mosquito nets, using ventilation gauze, controlling breeding sites and mosquito resting places, and the presence of larvae. The findings emphasize the importance of educational programs to enhance public awareness of dengue fever and promote proper 3M Plus behavior.
T-6913
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yusna HI. DJ. Lebelo; Pembimbing: Dewi Susanna, Ririn Arminsih; Penguji: Zakianis, Helena Ulyartha, Casuli
T-3932
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mida Arafina Nurdita; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Penyakit Diare merupakan penyakit menular dan menempati urutan kedua penyebab kematian anak balita di dunia. Di Indonesia, khususnya Jawa Barat adalah wilayah endemis untuk diare, Kabupaten Bogor merupakan salah satu kabupaten dengan prevalensi diare balita yang cukup tinggi. Puskesmas Purwasari merupakan puskesmas dengan kasus diare balita tertinggi di Kabupaten Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko (karakteristik balita, karakteristik ibu, dan sarana sanitasi) kejadian diare balita di Wilayah Kerja Puskesmas Purwasari Kabupaten Bogor tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kasus-kontrol dengan sampel 53 kasus dan 53 kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik model prediksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pemberian ASI Eksklusif (0,28; 0,11-0,67), pemberian imunisasi campak (0,18; 0,08-0,42), pengetahuan (0,16; 0,07-0,38), perilaku pembuangan tinja balita (0,18; 0,07-0,46), dan sarana jamban (0,32; 0,14-0,72) dengan kejadian diare pada balita. Variabel yang diprediksi paling berpengaruh terhadap terjadinya diare balita di wilayah kerja Puskesmas Purwasari adalah variabel pengetahuan (9,76; 2,78 - 34,21).
Diarrhea is an communicable disease and ranks the second cause of death for children under-five in the world. In Indonesia, especially West Java, which is an endemic area for diarrhea, Bogor is one of the districts with a fairly high prevalence of diarrhea in children under-five. Purwasari Community Health Center is a health center with the highest cases of diarrhea in children under-five in Bogor Regency. This study aims to analyze the risk factors (characteristics of children under-five, characteristics of mothers, and sanitation facilities) for the incidence of diarrhea in children under-five in the Purwasari Public Health Center, Bogor Regency in 2022. This study used a case-control research design with a sample of 53 cases and 53 controls. Data analysis was performed using chi-square test and logistic regression predictive model. The results showed that there was a relationship between exclusive breastfeeding (0,28; 0,11-0,67), measles immunization (0,18; 0,08-0,42), knowledge (0,16; 0,07-0,38), toddler stool disposal behavior (0,18; 0,07-0,46), and latrine facilities (0,32; 0,14-0,72) with the incidence of diarrhea in children under-five. The variable that is predicted to have the most influence on the occurrence of diarrhea under five in the working area of the Purwasari Health Center is the knowledge variable (9,76; 2,78 - 34,21).
Read More
Diarrhea is an communicable disease and ranks the second cause of death for children under-five in the world. In Indonesia, especially West Java, which is an endemic area for diarrhea, Bogor is one of the districts with a fairly high prevalence of diarrhea in children under-five. Purwasari Community Health Center is a health center with the highest cases of diarrhea in children under-five in Bogor Regency. This study aims to analyze the risk factors (characteristics of children under-five, characteristics of mothers, and sanitation facilities) for the incidence of diarrhea in children under-five in the Purwasari Public Health Center, Bogor Regency in 2022. This study used a case-control research design with a sample of 53 cases and 53 controls. Data analysis was performed using chi-square test and logistic regression predictive model. The results showed that there was a relationship between exclusive breastfeeding (0,28; 0,11-0,67), measles immunization (0,18; 0,08-0,42), knowledge (0,16; 0,07-0,38), toddler stool disposal behavior (0,18; 0,07-0,46), and latrine facilities (0,32; 0,14-0,72) with the incidence of diarrhea in children under-five. The variable that is predicted to have the most influence on the occurrence of diarrhea under five in the working area of the Purwasari Health Center is the knowledge variable (9,76; 2,78 - 34,21).
S-11139
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sinta Rizki Agustin; Pembimbing: R. Budi Hartono; Penguji: Bambang Wispriyono, Tutut Indra Wahyuni
Abstrak:
COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus Severe Accute Respiratory Syndrome 2 (SARS-CoV-2) dan merupakan pandemi yang menjadi masalah di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku dengan kejadian COVID-19 di Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan kuesioner online. Populasi pada penelitian ini yaitu warga Jakarta Timur dengan usia 15 ? 64 tahun dengan jumlah sampel 412 orang. Variabel dependen yaitu kejadian COVID-19 sementara variabel independen yaitu pengetahuan COVID-19, sikap, perilaku cuci tangan, perilaku menggunakan masker, perilaku menjaga jarak, dan perilaku menggunakan disinfektan. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara perilaku menjaga jarak dengan kejadian COVID-19 (p-value = 0.010 ; OR = 1.794). Namun, tidak ada hubungan antara pengetahuan, sikap, perilaku cuci tangan, perilaku menggunakan masker, dan perilaku menggunakan disinfektan dengan kejadian COVID-19. Terdapat satu variabel yang berhubungan dengan kejadian COVID-19 dan merupakan faktor dominan dari kejadian COVID-19, yaitu perilaku menjaga jarak.
COVID-19 is an infectious disease caused by the Severe Acute Respiratory Syndrome 2 (SARS-CoV-2) virus and is a pandemic that is a problem throughout the world, including Indonesia. This study aimed to analyze the relationship between knowledge, attitudes, and behavior with the incidence of COVID-19 in East Jakarta. This study uses a quantitative method with a cross-sectional study design using an online questionnaire. The population in this study were residents of East Jakarta aged 15-64 years, with a total sample of 412 people. The dependent variable is the incidence of COVID-19, while the independent variable is knowledge of COVID-19, attitudes, hand washing behavior, using masks behavior, social distancing behavior, and using disinfectant behavior. This study shows a relationship between physical distancing behavior and the incidence of COVID-19 (p-value = 0.010; OR = 1.794). However, there is no relationship between knowledge, attitude, hand washing behavior, behavior using masks, and behavior using disinfectants with the incidence of COVID-19. One variable is associated with the incidence of COVID-19 and is the dominant factor in the incidence of COVID-19, namely physical distancing.
Read More
COVID-19 is an infectious disease caused by the Severe Acute Respiratory Syndrome 2 (SARS-CoV-2) virus and is a pandemic that is a problem throughout the world, including Indonesia. This study aimed to analyze the relationship between knowledge, attitudes, and behavior with the incidence of COVID-19 in East Jakarta. This study uses a quantitative method with a cross-sectional study design using an online questionnaire. The population in this study were residents of East Jakarta aged 15-64 years, with a total sample of 412 people. The dependent variable is the incidence of COVID-19, while the independent variable is knowledge of COVID-19, attitudes, hand washing behavior, using masks behavior, social distancing behavior, and using disinfectant behavior. This study shows a relationship between physical distancing behavior and the incidence of COVID-19 (p-value = 0.010; OR = 1.794). However, there is no relationship between knowledge, attitude, hand washing behavior, behavior using masks, and behavior using disinfectants with the incidence of COVID-19. One variable is associated with the incidence of COVID-19 and is the dominant factor in the incidence of COVID-19, namely physical distancing.
S-11030
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Septiria Irawati; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: R. Budi Haryanto, Ririn Arminsih Wulandari, Sulistiyawati Murdiningrum, Ni Ketut Aryastami
Abstrak:
Read More
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan, stunting juga disebabkan oleh kejadian infeksi berulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran cakupan imunisasi dan kejadian penyakit infeksi berbasis lingkungan, korelasinya dengan kejadian stunting pada balita, serta rekomendasi intervensi pengendalian stunting di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Metodologi penelitian ini menggunakan desain studi ekologi multiple-group study dengan data kecamatan sebagai unit analisis. Data yang dikumpulkan adalah prevalensi stunting, persentase cakupan imunisasi, prevalensi diare, dan prevalensi ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pada balita per bulan selama setahun pada 44 kecamatan di DKI Jakarta yang dianalisis secara statistik menggunakan uji korelasi. Hasil uji statistik menunjukkan korelasi signifikan antara imunisasi dengan stunting di 6 kecamatan, diare dan stunting di 4 kecamatan, serta ISPA dan stunting di 12 kecamatan. Intervensi yang direkomendasikan adalah upaya penurunan prevalensi ISPA untuk menurunkan prevalensi stunting melalui intensifikasi pencarian dan pengobatan kasus, pemberian perlindungan spesifik dan imunisasi, pemberantasan penyakit berbasis lingkungan, serta upaya kemitraan lintas sektor.
Stunting is a condition of failure to thrive due to chronic malnutrition. Not only caused by a lack of food intake, stunting is also caused by repeated infections. The purpose of this study was to describe the scope of immunization and the incidence of environmental-based infectious diseases, its correlation with the incidence of stunting in children under five, as well as recommendations for stunting control interventions in the Special Capital Region of Jakarta Province. The research methodology used a multiple-group study design with sub-district data as the unit of analysis. The data collected was the prevalence of stunting, the percentage of immunization coverage, the prevalence of diarrhea, and the prevalence of ARI (Accute Respiratoty Infection) in under-fives per month for a year in 44 sub-districts in DKI Jakarta which were statistically analyzed using a correlation test. Statistical test results showed a significant correlation between immunization and stunting in 6 sub-districts, diarrhea and stunting in 4 sub-districts, and ARI and stunting in 12 sub-districts. The recommended interventions are efforts to reduce the prevalence of ARI to reduce the prevalence of stunting through intensifying case search and treatment, providing specific protection and immunization, eradicating environment-based diseases, and cross-sector partnership efforts.
T-6784
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
