Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34335 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putri Ayuni Alayyannur; Promotor: Doni Hikmat Ramdhan; Kopromotor: L. Meily Widjaja, Tri Martiana; Penguji: Laila Fitria, Mila Tejamaya, Robiana Modjo, Iting Shofwati
Abstrak:
Pendahuluan: Pajanan panas pekerjaan sebagai salah satu faktor risiko indikasi gangguan fungsi ginjal di berbagai studi. Nelayan dan pekerja pemindang termasuk pekerja berisiko terpajan panas. Studi ini akan mengembangkan model kontribusi pajanan panas pekerjaan pada indikasi gangguan fungsi ginjal pada pekerja di sektor perikanan Jawa Timur. Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional pada pekerja sektor perikanan Kabupaten Lamongan di Desember 2022-Februari 2023. Besar sampel 150 nelayan dan pemindang yang didapat dengan rumus uji hipotesis untuk proporsi populasi tunggal. Variabel yang diteliti meliputi faktor personal (usia, jenis kelamin, penyakit komorbid, antropometri, konsumsi obat. waktu istirahat, konsumsi air putih, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman bersoda, konsumsi minuman berenergi, konsumsi kopi, konsumsi teh, konsumsi legen, dan konsumsi tuak), faktor pekerjaan (jenis pekerjaaan, masa kerja, beban kerja, dan pakaian kerja), faktor iklim (temperatur, kelembaban, dan kecepatan angin), pajanan panas, tekanan panas, dan indikasi gangguan fungsi ginjal (eGFR CKD-EPI dan uKIM-1). Pengumpulan data menggunakan sampel urin, sampel darah, heat stress monitor, sphygmomanometer, oximeter, microtoise, timbangan badan, dan kuesioner. Analisis data bivariat menggunakan t-test sampel independen dan uji ChiSquare, sedangkan uji multivariat menggunakan cox regression. Hasil: Usia, konsumsi air putih, konsumsi teh, jenis pekerjaan, masa kerja, beban kerja (%CVL), pakaian kerja, tekanan panas, dan dehidrasi (BJU) berhubungan dengan indikasi gangguan fungsi ginjal eGFR (CKD-EPI). Konsumsi air putih, konsumsi minuman manis, dan beban kerja (observasi) berhubungan dengan indikasi gangguan fungsi ginjal uKIM-1 . Model yang terbentuk adalah HeGFR(t) = h0 (t) exp (0,393 pajanan panas pekerjaan + 0,551 konsumsi air putih + 0,339 konsumsi kopi + 1,446 beban kerja (%CVL) + 0,865 pakaian kerja) Kesimpulan: pajanan panas pekerjaan merupakan faktor risiko terjadinya indikasi gangguan fungsi ginjal eGFR (CKD-EPI), dengan turut mempertimbangkan faktor yang lain yaitu konsumsi air putih, konsumsi kopi, beban kerja (%CVL), dan pakaian kerja. Oleh karena itu, perlu aktivasi Pos UKK untuk memberdayakan pekerja dalam melakukan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja.

Introduction: Occupational heat exposure can pose a significant risk to workers' health, especially regarding their kidney function. Studies have shown fishermen and pemindang workers are particularly vulnerable to heat exposure. To address this issue, a study is being conducted to develop a model that examines the impact of occupational heat exposure on kidney function in workers within the East Java fisheries sector. Method: This research design is cross-sectional among fisheries sector workers in Lamongan District in December 2022 to February 2023. The sample size is 150 fishermen and pemindang was obtained using the hypothesis testing formula for a single population proportion. The variables studied included personal factors (age, gender, comorbid diseases, anthropometry, drug consumption, rest time, water consumption, consumption of sweet drinks, consumption of fizzy drinks, consumption of energy drinks, consumption of coffee, consumption of tea, consumption of legumes, and consumption of palm wine), work factors (type of work, length of work, workload, and work clothing), climate factors (temperature, humidity, and wind speed), heat exposure, heat stress, and indications of impaired kidney function (eGFR CKD-EPI and uKIM-1). Data collection uses urine samples, blood samples, heat stress monitor, sphygmomanometer, oximeter, microtoise, body weighing, and questionnaires. Bivariate data analysis uses the independent samples t-test and Chi-Square test, while the multivariate test uses cox regression. Results: Age, water consumption, tea consumption, type of work, years of work, workload (%CVL), work clothing, heat stress, and dehydration (BJU) were associated with indications of impaired kidney function eGFR (CKD-EPI). Water consumption, consumption of sweet drinks, and workload (observation) are associated with indications of impaired uKIM-1 kidney function. The model formed is HeGFR(t) = h0 (t) exp (0.393 occupational heat exposure + 0.551 water consumption + 0.339 coffee consumption + 1.446 workload (%CVL) + 0.865 work clothes) Conclusion: occupational heat exposure is a risk factor for indications of impaired kidney function eGFR (CKD-EPI), taking into account other factors, namely water consumption, coffee consumption, workload (%CVL), and work clothing. Therefore, it is necessary to activate the Pos UKK to empower workers to carry out occupational safety and health activities.
Read More
D-498
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laksita Ri Hastiti; Promotor: Doni Hikmat Ramdhan; Kopromotor: Laila Fitria, Mila Tejamaya; Penguji: Sjahrul Meizar Nasri, L. Meily Kurniawidjaja, Iting Shofwati, Sudi Astono, Heny D. Mayawati
Abstrak:
Gangguan fungsi ginjal akibat tekanan panas (heat stress) merupakan risiko signifikan bagi pekerja konstruksi yang terpajan panas ekstrem. Pilot studi kuasi eksperimental ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi hidrasi pada dampak tekanan panas dan risiko gangguan fungsi ginjal pada pekerja konstruksi. Pengambilan sampel purposive dilakukan untuk mengukur faktor risiko (lingkungan, pekerjaan, individu), dampak tekanan panas dan biomarker fungsi ginjal (SCr, LFG, BUN) pada tahap pra dan pascaintervensi. 46 responden terbagi dalam 4 kelompok, yaitu Kontrol, Intervensi 1 (intervensi rehidrasi), Intervensi 2 (intervensi prehidrasi dan rehidrasi), dan Intervensi 3 (intervensi rehidrasi dan elektrolit). Analisis data dilakukan dengan paired t-test, MANOVA, Difference in Differences, dan GLM Repeated Measure. Temuan utama menunjukkan intervensi hidrasi berdampak positif dan konsisten meningkatkan fungsi ginjal, ditunjukkan melalui penurunan kadar SCr dan BUN serta peningkatan LFG (Pillai’s Trace=0,528, F=2.98, p-value=0.003). Efek intervensi menunjukkan 31% perubahan kadar SCr dan LFG, serta 30% perubahan BUN dipengaruhi oleh perbedaan intervensi pada setiap kelompok. Terdapat perbedaan signifikan perubahan tekanan sistolik pagi – siang di antara kelompok intervensi pada kombinasi indikator tekanan panas (Pillai’s Trace=1.055, F=1.677, p-value = 0.026), 27% perubahannya dipengaruhi oleh perbedaan intervensi pada setiap kelompok. Dampak intervensi hidrasi pada perbaikan fungsi ginjal dan tekanan panas terlihat lebih kuat dan bermanfaat pada Kelompok Intervensi 2 dan 3. Selain itu, usia memiliki hubungan yang signifikan dengan fungsi ginjal (Pillai’s Trace=0,724; F=20,139; p-value<0,001), kebiasaan berolahraga berinteraksi dengan fungsi ginjal dari praintervensi dan pascaintervensi (Pillai’s Trace=0,458; F=2,376; p-value=0,043). Perlu mengembangkan regulasi dan pedoman teknis intervensi hidrasi pada sektor konstruksi, pemantauan rutin pajanan panas dan dampaknya, perlunya skrining fungsi ginjal pada pekerja lanjut usia, pentingnya aktivitas fisik dan kebiasaan hidup sehat di luar jam kerja sebagai bagian dari upaya pencegahan gangguan fungsi ginjal, serta  perlu melakukan studi lanjutan dengan besar sampel yang lebih banyak.

Kidney dysfunction due to heat stress is a significant risk for construction workers exposed to extremely hot working environments. This quasi-experimental pilot study aimed to analyze the effect of hydration intervention on the impact of heat stress and the risk of kidney dysfunction in construction workers. Purposive sampling was conducted to measure risk factors (environmental, occupational, individual), the impact of heat stress, and biomarkers of kidney function (SCr, GFR, BUN) at the pre- and post-intervention stages. Forty-six respondents were divided into four groups: Control, Intervention 1 (rehydration intervention), Intervention 2 (prehydration and rehydration intervention), and Intervention 3 (rehydration and electrolyte intervention). Data analysis was performed using paired t-test, MANOVA, Difference in Differences, and GLM Repeated Measure. The main findings showed that the hydration intervention had a positive and consistent impact on improving kidney function, indicated by decreased SCr and BUN levels and increased GFR (Pillai's Trace=0.528, F=2.98, p-value=0.003). The intervention effect showed a 31% change in SCr and LFG levels, and a 30% change in BUN influenced by the difference in intervention in each group. There was a significant difference in changes in morning - afternoon systolic pressure between the intervention groups on the combination of heat stress indicators (Pillai's Trace = 1.055, F = 1.677, p-value = 0.026), 27% of the change was influenced by the difference in intervention in each group. The impact of hydration intervention on improving kidney function and heat stress appeared stronger and more beneficial in Intervention Groups 2 and 3. In addition, age had a significant relationship with kidney function (Pillai's Trace = 0.724; F = 20.139; p-value <0.001), exercise habits interacted with kidney function from pre-intervention and post-intervention (Pillai's Trace = 0.458; F = 2.376; p-value = 0.043). There is a need to develop regulations and technical guidelines for hydration interventions in the construction sector, routine monitoring of heat exposure and its impacts, the need for kidney function screening in elderly workers, the importance of physical activity and healthy lifestyle habits outside of work hours as part of efforts to prevent kidney function disorders, and the need to conduct further studies with a larger sample size.
Read More
D-612
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satria Pratama; Promotor: Haryoto Kusnoputranto; Kopromotor: Bambang Wispriyono, Faisal Yunus; Penguji: Fatma Lestari, Besral, Elisna Syahruddin, Inswiyasri, Sonny Warouw
D-338
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ridha Restila; Promotor: Bambang Wispriyono; Kopromotor: Ririn Arminsih Wulandari, Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Al Asyary, Tri Yunis Miko Wahyono, Dede Anwar Musadad, Defriman Djafri, Miko Hananto
Abstrak:
Gangguan pertumbuhan tinggi badan mencerminkan terjadinya kekurangan asupan dan penyakit infeksi berulang. Anak yang tinggal di daerah aliran sungai merupakan kelompok rentan mengalami dampak buruk dari lingkungan yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan bakteriologis air minum berdasarkan pemeriksaan E. coli dan identifikasi inflamasi pencernaan (Fecal myeloperoxidase) terhadap indikasi gangguan pertumbuhan tinggi badan anak usia 24 - 59 bulan yang tinggal di daerah aliran sungai. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Indikasi gangguan pertumbuhan tinggi badan anak berdasarkan perubahan Height-Age-Z Score selama 6 bulan. Temuan E.coli dengan level high risk dan unnsafe sebesar 47,2%. Median (min-max) Fecal Myeloperoxidase yaitu 16,95 ng/mL (0,61ng/mL - 1981 ng/mL). Prevalence Ratio FMPO terhadap indikasi gangguan pertumbuhan anak pada nilai cutoff point 52,16 ng/mL sebesar 1,22 (0,91-1,62). Air minum dengan level risiko high risk dan unsafe dapat meningkatkan risiko anak mengalami indikasi gangguan pertumbuhan sebesar 1,39 (1,05-1,85) setelah dikontrol variabel sanitasi, hygiene, inflamasi pencernaan, sosio-demografi, riwayat penyakit infeksi, dan asupan makanan.

Impaired growth reflects inadequate intake and recurrent infectious diseases. Children who live in riverside are a vulnerable group experiencing the impacts of an unhealthy environment. This study aims to determine the bacteriological relationship of drinking water based on examination of Escherichia coli (E. coli) and identification of intestinal inflammation (Fecal myeloperoxidase/FMPO) on indications of growth impairment of children aged 24 - 59 months living in watershed. This research uses a cross sectional study design. Indication of impaired growth in a child's height are based on changes in Height-Age-Z Score over 6 months. E.coli findings with high risk and unsafe levels were 47.2%. The median (min-max) of Fecal Myeloperoxidase was 16.95 ng/mL (0.61ng/mL - 1981 ng/mL). The Prevalence Ratio of FMPO for indications of growth impairment in children at the cutoff point value of 52.16 ng/mL was 1.22 (0.91-1.62). Drinking water with high risk and unsafe risk levels can increase the risk of children experiencing indications of growth impairment by 1.39 (1.05-1.85) after controlling for sanitation, hygiene, digestive inflammation, socio-demographics, history of infectious diseases and intake variables. food.
Read More
D-521
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Setiaji; Promotor: Soekidjo Notoatmodjo; Ko-Promotor: Hasbullah Thabrany; Penguji: Sudijanto Kamso, Soewarta Kosen, Trihono, Anhari Achadi, Rita Damayanti
D-230
Depok : FKM UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mery Ramadani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Hartono Gunardi; Penguji: Anhari Achadi, Faisal Yunus, Besral, Bambang Wispriyono, Soewarta Kosen, Abas Basuni Jahari,
Abstrak: Rokok merupakan masalah global dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu hamil dan janin. Studi kohor prospektif ini, dilakukan untuk menilai pengaruh pajanan pasif asap rokok ibu hamil terhadap gangguan pertumbuhan janin. Melibatkan 128 ibu hamil trimester 3, hamil janin tunggal, tidak memiliki riwayat penyakit kronis, bukan perokok aktif, bukan mantan perokok, dan bersedia terlibat dalam penelitian. Penilaian pajanan asap rokok ibu berdasarkan pemeriksaan nikotin darah tali pusat (cut off ≥1ng/ml). Pengukuran menggunakan nikotin plasma adalah metode yang paling akurat karena dapat mengukur kondisi sebenarnya dan membantu mengurangi misklasifikasi. Gangguan pertumbuhan janin dinilai dengan pengukuran berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala, dan berat plasenta. Pengukuran dilakukan segera setelah lahir untuk menjamin ketepatan pengukuran. Analisis uji beda dua mean digunakan untuk mengetahui perbedaan rata rata ukuran gangguan pertumbuhan janin antara kelompok ibu terpajan asap rokok dan tidak terpajan asap rokok. Analisis regresi linier untuk melihat pengaruh pajanan asap rokok terhadap berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala dan berat plasenta dengan memperhatikan variabel pengganggu seperti penambahan berat badan ibu selama hamil, BMI ibu, paritas ibu, usia dan kadar hemoglobin ibu. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar nikotin tali pusat sebesar 1,3±2,5 ng/ml. Berat lahir dan berat plasenta bayi dari ibu yang mendapat pajanan asap rokok lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak mendapat pajanan asap rokok. Pajanan asap rokok secara signifikan mengurangi berat lahir bayi sebesar 205,6 gram (pvalue = 0,005) dan berat plasenta sebesar 51 gram (p value=0,010).
 

This cohort study examined the effect of secondhand smoke exposure in pregnant women on fetal growth restriction. The study recruited 128 pregnant women in the third trimester pregnancy, single pregnancy, no chronic illness, non-active smokers, non-exsmokers, and who were willing to participate in the study. Pregnant women with the secondhand smoke exposure referred to those with the umbilical cord blood nicotine level of 1ng/ml or higher. Fetal growth disorder was assessed according to the newborn weight, length, head circumference, and palcental weight measured immediately after birth. The independent t-test analysis was used to determine the difference in average size of fetal growth between two groups of pregnant women: exposed and the notexposed to the secondhand smoke. A multiple linear regression analysis was employed to find out the effect of secondhand smoke exposure on birth weight, length, head circumference, and palcental weight controlling for the birth size confounders including weight gain during pregnancy, body mass index, parity, maternal age, and maternal hemoglobin. The study found that mean of nicotine in umbilical cord blood was 1.3±2.5 ng/ml, the birth weight and the placental weight of infants were lower among mothers who exposed than among mothers who did not expose to the secondhand smoke. Exposed to the secondhand smoke reduced the birth weight by 205.6 grams (p value = 0.005) and placental weight by 51 grams (p value=0.010).
Read More
D-395
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurusysyarifah Aliyyah; Promotor: Haryoto Kusnoputranto; Kopromotor: Bambang Wispriyono, Laila Fitria; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Umar Fahmi Achmadi, Mukono; Syafruddin
Abstrak:

Hipertensi merupakan salah satu kondisi medis yang cukup serius karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, otak, ginjal dan penyakit lainnya. Wilayah di DKI Jakarta dengan prevalensi hipertensi tertinggi berdasarkan diagnosis dokter yaitu Kota Jakarta Pusat sebesar 12,16%. Partikulat meter organik dan komponen partikulat meter dapat memicu proinflammatory effects pada paru-paru karena kemampuannya mengakibatkan stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model pengaruh pajanan PM2,5 di udara ambien terhadap kejadian hipertensi melalui stress oksidatif dan sitokin inflamasi pada penduduk di Jakarta Pusat. Penelitian dilakukan pada penduduk dewasa (18-65 tahun) di Kota Jakarta Pusat dengan disain studi hybrid cross sectional ecology. Pengumpulan data secara cluster random sampling dengan analisis data dilakukan melalui pemodelan regresi logistik multilevel dan cox regresi proporsional hazard.
Hasil analisis menunjukkan terdapat asosiasi antara PM2,5 di udara ambien dengan biomarker stress oksidatif (IOR PM2,5: 2,185173-2,185176) dan dengan biomarker sitokin inflamasi (IOR PM2,5: 1,21-1,91). Pemodelan multivariat dengan cox regresi proporsional hazard menunjukkan bahwa variabel umur dan indeks massa tubuh merupakan confounder hubungan antara stress oksidatif dengan hipertensi dan antara sitokin inflamasi dengan hipertensi dengan nilai Rasio Prevalens adjusted (95% CI) masing-masing sebesar 1,19 (0,69-2,03) dan 0,99 (0,58-1,72). Dapat disimpulkan bahwa variabel konsentrasi PM2,5 di udara ambien memiliki peran terhadap terjadinya hipertensi, stress oksidatif dan sitokin inflamasi pada penduduk di Jakarta Pusat.


Hypertension is a serious medical condition that can increase the risk of heart, brain, kidney and other diseases. The area in DKI Jakarta with the highest prevalence of hypertension based on doctor diagnosis is Central Jakarta city about 12.16%. Organic particulate matters and particulate matter components can trigger proinflammatory efects in the lung due to their ability to cause oxidative stress. This study aims to develop a model of the Influence of PM2,5 Exposure in Ambient Air on Hypertension Occurrence through Oxidative Stress and Inflammatory Cytokines among residents in Central Jakarta. The study was conducted among adult residents (age 18-65 years) in Central Jakarta with hybrid cross sectional study design. Data collected using cluster random sampling with data analysis carried out through multilevel logistic regression modeling and cox proportional hazard regression. Results show there is an association between PM2.5 in ambient air with oxidative stress biomarkers (IOR PM2.5: 2.185173-2.185176) and with inflammatory cytokine biomarkers (IOR PM2.5: 1.21-1.91). Multivariate modeling with Cox regression proportional hazard shows that age and body mass index are confounders of the relationship between oxidative stress with hypertension and between inflammatory cytokines with hypertension with an adjusted prevalence ratio (95% CI) value of 1.19 (0.69-2.03) and 0.99 (0.58-1.72). It can conclude that concentration of PM2.5 in ambient air has a role on hypertension, oxidative stress and inflammatory cytokine among residents in Central Jakarta.

Read More
D-519
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rika Raniya; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Haryanto, Windi
Abstrak: Polutan utama dari kegiatan pembakaran batubara salah satunya SO2. Sulfur dioksidia menyebabkan iritasi, batuk refleks, menyebabkan penyakit pernafasan dan gangguan daya tahan paru-paru. Penelitian ini bertujuan menganalisis pajanan SO2 di lingkungan sekitar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya yaitu pada desa Lebak Gede, Cipala Dua, Brigil, Gunung Gede, Salira Indah, dan Sumuranja dan risiko gangguan pernafasannya pada masyarakat sekitar. Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan pendekatan cross sectional. Sampel responden diambil secara purposive sampling berdasarkan titik pengukuran udara pada setiap desa yaitu 35 orang di setiap desa. Penelitian ini dilakukan dengan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) yang menggunakan nilai Rfc SO2 (0,026 mg/kg/hari), dan selanjutnya dihubungkan secara cross sectional untuk menghubungkan tingkat risiko dengan kejadian gangguan pernafasan di sekitar PLTU. Hasil ARKL menunjukkan bahwa tingkat risiko di lingkungan sekitar PLTU Suralaya yaitu pada desa Lebak Gede, Cipala Dua, Brigil, Gunung Gede, Salira Indah, dan Sumuranja masih tergolong aman karena memiliki nilai RQ dibawah 1 dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun. Hasil analisis cross sectional menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat risiko kesehatan akibat pajanan SO2 dengan kejadian gangguan saluran pernafasan pada masyarakat di sekitar PLTU karena memiliki nilai-p yang lebih besar dari alfa.
Read More
S-10191
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilisa Rahmadani; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Adang Bachtiar, Besral, Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Ali Ghufron Mukti, Sutoto, Astrid B. Sulistomo
Abstrak: Kelelahan kerja berdampak besar terhadap kinerja, keselamatan, dan kesehatan tenaga kesehatan rumah sakit. Penelitian ini mengembangkan model sistem manajemen risiko kelelahan berbasis pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui studi literatur, FGD, wawancara, dan observasi. Hasilnya adalah model ICHAFIT (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) dengan lima elemen utama dan strategi pencegahan berbasis data. Terdapat 24 indikator valid dan reliabel untuk menilai implementasinya. Model ini berfungsi sebagai kerangka konseptual dan alat praktis, serta menghasilkan policy brief untuk advokasi kebijakan nasional.
Work fatigue significantly affects hospital workers' performance, safety, and health. This study developed a fatigue risk management model using qualitative and quantitative approaches through literature review, FGD, interviews, and observations. The result is the ICHAFIT model (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) comprising five key elements and a data-driven prevention strategy). It includes 24 valid and reliable indicators to assess implementation. ICHAFIT serves as both a conceptual framework and practical tool, and also produced a policy brief to support national advocacy for fatigue risk management in hospitals.
Read More
D-591
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajar Tri Ramadhan; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Artha Prabawa, Rahmadewi
S-9988
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive