Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31816 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hadiki Habib; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor: Besral, Martin Rumende; Penguji: Evi Martha, Syahrizal, Soroy Lardo;Tri Martani, Syamsul Maarif
Abstrak:
Rawat inap dan kematian di rumah sakit karena pneumonia meningkat pada saat pandemi COVID-19, baik karena COVID-19 maupun patogen lain dan perlu diidentifikasi faktor-faktor risikonya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis secara bersamaan hubungan berbagai determinan biologi, gaya hidup, lingkungan dan pelayanan kesehatan terhadap sintas rawat inap pasien pneumonia pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan disain campuran. Pertama, dilakukan studi kuantitatif kohort retrospektif menggunakan analisis regresi cox, analisis interaksi dilakukan dengan metode stratifikasi dan multiplikasi. Data subjek penelitian diambil secara sampling acak sederhana dari rekam medis pasien pneumonia yang dirawat pada masa pandemi COVID-19 Mei 2020-Desember 2021 di RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Kedua, dilakukan studi kualitatif sequential explanatory dengan disain studi kasus. Informasi dikumpulkan melalui wawancara mendalam bersama enam orang informan untuk menjelaskan dinamika determinan kesehatan dengan sintas rawat inap dari perspektif ketahanan rumah sakit. Terdapat 1945 subjek pneumonia, insiden kematian saat rawat inap 34,1%. Determinan biologi yang berhubungan dengan peningkatan risiko kematian adalah kondisi awal pneumonia berat (HR 1,8;IK95% 1,38-2,43), skor CCI ≥2 (HR 1,5;IK95% 1,16-2,08). komplikasi ≥2 (HR 5,9; 95%IK 2,9-11,9), tren kematian rawat inap meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Risiko kematian lebih rendah ada pada subjek dengan infeksi utama organ selain paru (HR 0,4;IK95% 0,35-0,51). Determinan pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan peningkatan risiko kematian adalah intubasi (HR 1,6;IK95% 1,27-2,05) dan lama tunggu di IGD ≥8 jam (HR1,4;IK95% 1,12-1,63), risiko kematian lebih rendah ada pada subjek yang mendapat perawatan intensif (HR 0,3;IK95% 0,25-0,41), terapi antikoagulan (HR 0,3;IK95% 0,27-0,44) dan terapi steroid pada pneumonia non-COVID-19 kondisi berat (0,7;IK95% 0,5-0,9). Pada subjek pneumonia COVID-19, risiko kematian selama rawat inap lebih rendah jika mendapatkan antibiotik empiris (HR 0,4;IK95% 0,26-0,58), terapi antikoagulan (HR 0,3;IK95% 0,23-0,4), dan terapi antivirus (HR 0,4;IK95% 0,3-0,5). Steroid (HR 0,4;IK95% 0,3-0,6), terapi plasma konvalesens (HR 0,2;IK95% 0,08-0,57), dan terapi anti interleukin-6 (HR 0,7; IK95% 0,46-1,03) menurunkan risiko kematian rawat inap pada pneumonia COVID-19 berat. Ketangguhan rumah sakit terjaga dengan adanya kebijakan zonasi, penerapan prinsip mitigasi risiko, dan modulasi layanan sesuai azas proporsionalitas, jejaring rumah sakit membantu mengurangi beban finansial melalui pemberian donasi atau hibah. Kerentanan rumah sakit antara lain kerapuhan infrastruktur, kecepatan kembali ke layanan reguler lebih lambat, rasa takut tenaga kesehatan dan triase pra-rumah sakit belum berjalan. Tidak terdapat ineraksi antara variabel etiologi pneumonia dengan fase lonjakan kasus, dan tidak terdapat interaksi antara variabel etiologi pneumonia dengan lama tunggu di IGD. Determinan biologi, lingkungan dan pelayanan kesehatan berhubungan dengan sintas rawat inap pasien pneumonia pada masa pandemi COVID-19. Ketahanan rumah sakit perlu dinilai dengan melihat dampak pandemi terhadap kematian pneumonia COVID-19 maupun pneumonia non-COVID-19. Pengelolaan lonjakan kasus akibat pandemi COVID-19 perlu mempertimbangkan prinsip zonasi, modulasi layanan yang proporsional, kesiapan psikologis tenaga kesehatan, kondisi finansial rumah sakit, dan kesiapan infrastruktur. Triase pra-rumah sakit merupakan faktor eksternal yang membantu meningkatkan ketahanan rumah sakit.

Hospital admissions and mortality due to pneumonia increased during the COVID-19 pandemic, both due to COVID-19 and other pathogens, Thus, risk factors need to be identified. The research was conducted to simultaneously analyze the relationship between various biological, lifestyle, environmental and health service determinants on the survival rate of pneumonia patients during the COVID-19 pandemic. This research uses mixed methods design. First, a quantitative retrospective cohort study was performed using cox regression analysis, interaction analysis was carried out using stratification and multiplication methods. Simple random sampling was done from medical records list of pneumonia patients who were treated during the COVID-19 pandemic in May 2020December 2021 at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. Second, a sequential explanatory qualitative study was performed with a case study design. Information was collected through in-depth interviews of six informants to explain the dynamics of health determinants and inpatient survival from a hospital resilience perspective. There were 1945 subjects, the incidence of mortality during hospitalization was 34.1%. Biological determinants associated with an increased risk of mortality were initial conditions of severe pneumonia (HR 1,8; CI95% 1,38-2,43), CCI score ≥2 (HR 1,5; CI95% 1,16-2,08), complications ≥2 (HR 5,9; 95%CI 2,9-11,9), the trend of inpatient mortality increases with increasing age. The risk of death was lower in subjects with primary infection of organs other than the lungs (HR 0,4; 95% CI 0,35-0,51). Determinants of health care that are associated with an increased risk of death are intubation (HR 1,6; 95% CI 1,27-2,05) and waiting time in the ER ≥8 hours (HR 1,4; 95% CI 1,12-1,63), mortality risk was lower in subjects who received intensive care (HR 0,3;95%CI 0,25-0,41), anticoagulant therapy (HR 0,3;95%CI 0,27-0,44) and steroid therapy in severe non-COVID-19 pneumonia (0,7; 95%CI 0,5-0,9). In COVID-19 pneumonia subjects, the risk of death during hospitalization was lower if they received empiric antibiotics (HR 0,4; 95%CI 0,26-0,58), anticoagulant therapy (HR 0,3; 95%CI 0,23-0,4), and antiviral therapy (HR 0,4;95% CI 0,3-0,5). Steroids (HR 0,4; CI95% 0,3-0,6), convalescent plasma therapy (HR 0,2; CI95% 0,08-0,57), and anti-interleukin-6 therapy (HR 0,7; IK95% 0,46-1,03) reduces the risk of inpatient death in severe COVID-19 pneumonia. Hospital resilience is maintained by having zoning policies, implementing risk mitigation principles, and modulating services according to the principle of proportionality. Hospital networks help reduce financial burdens through providing donations or grants. Hospital vulnerabilities include the fragility of infrastructure, slower process of return to regular services, fearness among health workers and pre-hospital triage not adequately performed. There was no interaction between the pneumonia etiology variable and the surge phase of cases, and there was no interaction between the pneumonia etiology variable and the length of stay in the ER. Biological, environmental and health service determinants are associated to the inpatient survival rate of pneumonia during the COVID-19 pandemic. Hospital resilience needs to be assessed by looking at the impact of the pandemic on mortality from COVID-19 pneumonia and non-COVID-19 pneumonia. Management of the surge capacity due to the COVID-19 pandemic needs to consider zoning principles, proportional service modulation, psychological readiness of health workers, financial condition of hospitals, and infrastructure readiness. Prehospital triage is an external factor that helps improve hospital resilience. Keywords : Pneumonia; COVID-19; Pandemic; survival; hospital resilience

Read More
D-526
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mochamad Aldis Ruslialdi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Gandi Agusniadi
Abstrak: HIV/AIDS berdampak kepada peningkatan kerentanan terkena infeksi penyakitlain yang berujung kepada kematian. Menurut UNAIDS, Indonesia termasuk kedalam daftar negara dengan kematian akibat AIDS tidak mengalami penurunan ataulaju penurunannya kurang dari 25%. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan desain cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian dan faktor atau determinan utama yang berhubungan dengan kematian berkaitan AIDS pada pasien HIV/AIDS di unit rawat inap Rumah SakitCipto Mangunkusumo pada tahun 2008-2012. Sampel penelitian ini sebanyak 207pasien. Data pasien diambil dengan memanfaatkan data rekam medis pasien untukmelihat variabel independen yang terdiri dari jenis kelamin, umur, pekerjaan, kadarCD4, faktor risiko penularan, jumlah penyakit yang diderita, status gizi, riwayatgangguan syaraf pusat, riwayat konsumsi obat ARV, dan kondisi psikologis untuknantinya dihubungkan dengan status kematian pasien HIV/AIDS. Analisis datadilakukan hingga analisis multivariat dengan model prediksi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kematian AIDS sebesar 28,5%. Dari hasil analisis multivariatdidapatkan 4 variabel yang berhubungan dengan kematian AIDS, yaitu status gizikurang dari normal (OR=4,75) dengan 95% CI (2,278-9,917), riwayat gangguansyaraf pusat (OR=1,82) dengan 95%CI (1,025-3,251), jumlah penyakit yang dideritalebih dari 5 penyakit (OR=4,09) dengan 95%CI (1,854-9,043), dan kadar CD4. KadarCD4 menjadi faktor paling berpengaruh terhadap kematian AIDS dengan nilai ORsebesar 5,9 dengan 95%CI 2,096-17,106. Dari hasil penelitian ini dapat direkomendasikan upaya peningkatan awarenessakan pentingnya kontrol kadar CD4 darah untuk pasien HIV/AIDS dan upaya pendukung lainnya untuk mencegah kematian AIDS seperti peningkatan kualitas gizi pasien AIDS, skrining dan deteksidini gangguan syaraf pusat, dan pencegahan komplikasi penyakit. Kata kunci: HIV/AIDS, Kematian, kadar CD4, determinan utama
HIV/AIDS impact to increased susceptibility to other diseases infections whichlead to death. The death of AIDS is also a problem, especially in Indonesia.According to UNAIDS, Indonesia is included in the list of countries where deathsfrom AIDS do not decline or rate of less than 25% of his descent. This research isobservational research, design with cross sectional. This research aims to know thedescription and the main factors which related to mortality of AIDS HIV/AIDS ininpatient unit RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo in 2008-2012. The sample of thisresearch are 207 patients. Data collected by utilizing the patient's medical record datato see the independent variables consisted of gender, age, job, CD4 levels, risk factorsof transmission, the amount of illness suffered, nutritional status, history of centralnervous disorders, drug consumption history ARV consumption, and psychologicalconditions to be linked with the status of a patient's death related with HIV/AIDS.The data analysis done to multivariate analysis with prediction model. The resultsshowed that the AIDS death prevalence reach up to 28.5%. The results ofMultivariate analysis obtained 4 variables related to the death of AIDS, poornutritional status (OR=4,75) with 95% CI (2,278-9,917), central nervous disorderhistory (OR=1,82) with 95% CI (1,025-3,251), the number of illnesses suffered morethan 5 disease (OR=4,09) with 95% CI (1,854-9,043), and CD4 levels. CD4 levelsbecame the most influential factors towards AIDS deaths with a value of 5, 9 OR and95% CI (2,096-17,106). From the results can be recommended the efforts toincreased awareness toward control CD4 blood levels for HIV/AIDS patients andother supporting efforts to prevent deaths of AIDS such as improved quality ofnutrition AIDS patients, screening and early detection of central nervous disorders,and prevention of complications of the disease.Keywords: HIV/AIDS, Death, CD4 level, main determinant
Read More
S-8097
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Aprilicia; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Nurhayati Adnan, Juferdy Kurniawan, Kemal Fariz Kalista
Abstrak: Latar Belakang. COVID-19 mempunyai manifestasi klinis utama di saluran pernapasan. Selain pernapasan, manifestasi COVID-19 juga ditemukan di hati. Gangguan fungsi hati pada pasien COVID-19 ditandai dengan peningkatan enzim alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), dan bilirubin. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan gangguan fungsi hati terhadap kesintasan pasien COVID-19 di RS Cipto Mangunkusumo. Metode. Desain penelitian ini kohort retrospektif. Populasi adalah pasien rawat inap dewasa dengan konfirmasi COVID-19 periode Oktober 2020 hingga Januari 2021. Analisis survival dengan Kaplan Meier digunakan untuk mengetahui kesintasan. Analisis Regresi Cox Extended digunakan untuk mengetahui hubungan kausal gangguan fungsi hati terhadap kesintasan pasien COVID-19 Kesimpulan. Adanya gangguan fungsi hati pada 14 hari masa awal pengamatan berkontribusi terhadap kesintasan pasien COVID-19.
Read More
T-6240
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabila Benazir; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Gandi Agusniadi
Abstrak: Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru baik yang berasal dari paru sendiri maupun keganasan dari luar paru Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian kanker paru pada pasien rawat inap dan rawat jalan di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta RSCM Tahun 2011 2012 Desain penelitian ini adalah kasus kontrol dan dianalisis secara univariat dan bivariat Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani pelayanan rawat inap dan rawat jalan di bagian pulmonologi RSCM dan memiliki catatan rekam medis yang lengkap Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien laki laki memiliki risiko 2 05 95 CI 1 062 3 974 kali lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan pasien perempuan Kemudian untuk tingkat pendidikan rendah memiliki risiko 0 23 95 CI 0 08 0 64 kali lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan pasien dengan tingkat pendidikan tinggi Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pasien yang merokok memiliki risiko 3 19 95 CI 1 63 2 23 kali lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan pasien yang tidak merokok pasien yang merokok ge 20 batang per hari memiliki risiko 7 62 95 CI 2 00 28 97 kali lebih besar dibandingkan pasien yang tidak merokok dan pasien yang merokok selama 1 24 tahun memiliki risiko 3 87 95 CI 1 89 7 91 kali lebih besar dibandingkan pasien yang tidak merokok.
 

 
Lung cancer is all of malignant lung disease including malignancy derived from the lung itself or from extrapulmonary malignancy This study aims to determine the risk factors of lung cancer incidence in Inpatient and Outpatient at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital RSCM in Jakarta 2011 2012 This study design is case control with univariate and bivariate analyzes The samples in this study were patients undergoing inpatient and outpatient at pulmonologi RSCM and have a complete medical record Results showed that male patients had a risk of 2 05 95 CI 1 062 to 3 974 times greater for lung cancer than women For the low education levels have an increased risk of 0 23 95 CI 0 08 0 64 times greater for lung cancer than patients with higher education levels The results also showed that patients who smoke have a risk of 3 19 95 CI 1 63 to 2 23 times greater for lung cancer than non smokers patients who smoked ge 20 cigarettes per day had a risk of 7 62 95 CI 2 00 to 28 97 times greater than patients who did not smoke and patients who smoked for 1 24 years had a risk of 3 87 95 CI 1 89 to 7 91 times greater than patients who do not smoke.
Read More
S-7991
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Windya Santy; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Peguji: Ratna Djuwita, Erni Juwita Nelwan
T-4485
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachel Monique; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Gandi Agusniadi
Abstrak: Berdasarkan laporan WHO 2013, kasus TB ekstra paru di Indonesia mengalami peningkatan dari 14.054 tahun 2012 menjadi 15.697 tahun 2013. Salah satu rumah sakit yang mencatat adanya peningkatan kasus TB ekstra paru adalah RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan TB ekstra paru pada pasien rawat inap TB di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2011-2013.
 
Penelitian ini menggunakan rekam medis dengan desain studi kasus kontrol. Sampel penelitian ini meliputi kasus yaitu, pasien rawat inap TB ekstra paru tahun 2011-2013 serta kontrol yaitu, pasien rawat inap TB paru tahun 2011-2013 dengan rekam medis yang tercatat lengkap.
 
Hasil penelitian menunjukkan proporsi kasus TB ekstra paru tertinggi berdasarkan organ terjangkit adalah TB tulang dan sendi sebesar 60%. Setelah TB ekstra paru dihubungan dengan beberapa variabel, umur < 25 tahun (OR: 19,36; 95% CI: 4,90-76,44) dan 25-50 tahun (OR: 4,40; 95% CI: 1,42-13,62), riwayat DM (OR: 0,08; 95% CI: 0,02-0,37) dan riwayat hipertensi (OR: 0,17; 95% CI: 0,03-0,81) secara statistik memiliki hubungan bermakna dengan TB ekstra paru, tetapi riwayat DM dan riwayat hipertensi menjadi faktor proteksi terhadap TB ekstra paru.
 
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait faktor-faktor yang berperan terhadap TB ekstra paru, memberikan perhatian khusus kepada pasien yang lebih berisiko dalam diagnosis, serta promosi kesehatan kepada masyarakat agar lebih menyadari bahwa TB dapat menyerang organ lain selain paru-paru yang akan berdampak serius jika tidak ditangani segera, khususnya mereka yang termasuk kelompok berisiko.
 

Based on the WHO report 2013, extra-pulmonary TB cases in Indonesia have increased from 14.054 in 2012 to 15.697 in 2013. One of hospitals which get an increase of extra-pulmonary TB cases is National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, so, this study ultimately aims to identify risk factors that associated with extra-pulmonary TB to TB hospitalized patients in National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta 2011-2013.
 
This study is using medical records with the design of case-control study. Samples of this study include the case is extra-pulmonary TB hospitalized patients 2011-2013 while control is pulmonary TB hospitalized patients in 2011-2013. Both case and control must have complete medical records.
 
The results showed that the highest proportion of extrapulmonary TB cases by an affected organ is tuberculosis of bones and joints by 60%. After connecting extra-pulmonary TB with several variables, age < 25 years (OR: 19,36; 95% CI: 4,90-76,44) and 25-50 years (OR: 4,40; 95% CI: 1,42-13,62), history of diabetes (OR: 0,08; 95% CI: 0,02-0,37) and history of hypertension (OR: 0,17; 95% CI: 0,03-0,81), they statistically had significant association with extra-pulmonary TB, but a history of diabetes mellitus and a history of hypertension be protective factors against extra-pulmonary TB.
 
Therefore, it is advisable to do further research related to the factors that contribute to extra-pulmonary TB, giving special attention to patients who are more at risk in making the diagnosis, and doing health promotion to the public to be more aware that TB can affect other organs beside the lungs that would have a serious impact if it is not treated promptly, especially for the risky ones
Read More
S-8319
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Disa Hijratul Muharramah; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Irandi Putra Pratomo, Rakhmad Hidayat
Abstrak: Background: Penyakit Coronavirus (COVID-19) yang disebabkan oleh SARS-COV 2 (Severe Acute Respiratory Syndrome) telah menyebar keseluruh dunia dan menginfeksi lebih dari 180 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 3,9 juta kematian. Manifestasi klinis COVID-19 berkisar dari infeksi tanpa gejala atau infeksi ringan hingga bentuk penyakit parah yang mengancam jiwa. Laporan sebelumnya telah menemukan bahwa obesitas dikaitkan dengan kondisi seseorang yang terinfeksi COVID-19 menjadi parah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan obesitas dengan keparahan COVID-19. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional pada pasien COVID19 yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Indonesia pada tahun 2020. Data diperoleh dari rekam medis, pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Dimana kriteria inklusi adalah pasien dengan informasi lengkap sedangkan untuk kriteria ekslusi adalah pasien yang berusia 18 tahun ke bawah dan hamil. Ada 725 COVID-19 yang disertakan untuk analisis. Kami menggunakan PR yang disesuaikan (dan 95% CI) untuk memperkirakan risiko keparahan COVID-19 yang terkait dengan obesitas Hasil: Dari 725 pasien COVID-19, 178 mengalami gejala berat. Pasien dengan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan penyakit ginjal kronis lebih mungkin menderita gejala COVID-19 yang parah. Obesitas dikaitkan dengan keparahan COVID19 (PR 1,68 dan 95% CI: 1,24-2,26) setelah dikontrol oleh sia, jenis kelamin, diabetes, dan penyakit jantung. Risiko keparahan COVID-19 yang terkait dengan obesitas berbeda berdasarkan jenis kelamin (PR adalah 1,64, 95% CI: 1,14-2,34 pada pria dan 1,69, 95% CI: 0,99-2,88 pada wanita) dan usia (PR adalah 1,77, 95% CI: 1,07-2,29 pada usia yang lebih muda dan 1,48, 95% CI: 1,01-2,17 pada kelompok usia yang lebih tua). Kesimpulan : Obesitas meningkatkan risiko keparahan COVID-19. Menjaga gaya hidup sehat, termasuk olahraga rutin, memilih makanan sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dapat mengurangi risiko keparahan COVID-19
Background: Coronavirus disease (COVID-19) caused by SARS-CoV 2 (Severe Acute Respiratory Syndrome) has spread worldwide and infected more than 180 million confirmed cases and 3,9 million deaths. The clinical manifestations of COVID-19 range from asymptomatic or mild infection to severe. Previous reports identified that obesity is associated with the condition of a person infected with COVID-19 develop into severe. This study aims at examining the risk of severity COVID-19 associated with obesity Methods: A cross sectional study was conducted among COVID-19 patients admitted at the University of Indonesia Hospital in 2020. Patients whose aged 18 or below or pregnant were excluded. Data were obtained from medical records. Cases were selected for the analysis only if the information was completed. There were 725 COVID-19 included for the analysis. We used adjusted PRs (and 95% CI) to estimate the risk of severity of COVID-19 associated with obesity. Results: Of 725 COVID-19 patients, 178 had severe symptoms. Patients with hypertension, diabetes, heart disease and Chronic Kidney Disease were more likely to suffer severe COVID-19 symptoms. After age, gender, diabetes and heart disease were taken into account, obesity was associated with severity of COVID-19 (PR 1.68 and 95% CI: 1,24-2.26). The severity risks COVID-19 associated with obesity were different based on gender (PRs were 1.64, 95% CI: 1,14-2,34 in men and 1.69, 95% CI: 0.99-2.88 in women) and age (PRs were 1.77, 95% CI: 1.07-2.29 among younger age and 1.48, 95% CI: 1.07-2.29 in older age group). Conclusion : Obesity increase the risk for severity of COVID-19. Maintain healthy life style, including routine exercise, choice of healthy food and routine medical checkup may reduce the risk of severity of COVID-19
Read More
T-6141
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Masnjoer; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Rudiyanto Sedono
Abstrak: Hasil. Median kesintasan lama rawat intensif 43 jam. Nilai skor EuroSCORE tidak memenuhi asumsi hazard proporsional. Model baru telah dibuat dari 7 variabel EuroSCORE yang secara substansi berhubungan dengan lama rawat intensif (AUC 0,67). Kesimpulan. Model baru dari tujuh faktor EuroSCORE cukup dapat memprediksi lama rawat intensif 48 jam. Kata Kunci: Model prediksi, lama rawat intensif, bedah jantung, regresi Cox
Read More
T-4221
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ponisih; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Aldy Heriwardito, Ismail Dilawar
Abstrak: Tujuan: Mediastinitis pascabedah BPAK adalah komplikasi yang jarang namunmematikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui determinan dan sistem skoringmediastinitis pascabedah BPAK.Metode: Studi kohort retrospektif yang melibatkan 706 pasien operasi BPAK di RSUPNDr. Cipto Mangunkusumo dari Januari 2011 hingga Desember 2017. Definisimediastinitis disesuaikan dengan definisi CDC infeksi kasus spesifik, yangmelatarbelakangi resternotomi debridement. Terdapat delapan faktor risiko yangberpotensi mediastinitis dalam analisa univariate.Hasil: Dari 706 pasien BPAK, terjadi insiden mediastinitis sebanyak 35 pasien. Lima daridelapan variable tersebut bertahan dalam analisa multivariate yaitu diabetes mellitusdengan OR sebesar 4.46 (IK95% = 2,01-9,89), IMT ≥ 26,5 kg/m2 dengan OR 3,34(IK95% =1,61-6,97) dan lama operasi ≥ 300 menit dengan OR 3,43 (IK95=1,67-7,04), usia≥60 tahun dengan OR 2,01 (IK 95%=0,97-4,19), dan pemedahan ulang karena perdarahandengan OR sebesar 3,10 (IK 95%= 0,94-10,27).Kesimpulan: Determinan utama yaitu diabetes mellitus, obesitas, usia, lama operasi danpembedahan ulang karena perdarahan.Kata kunci: bedah pintas arteri koroner; determinan mediastinitis.
Read More
T-5139
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabila Rosa; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Fidiansjah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Responden pada penelitian ini berjumlah 307 orang dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara penghasilan (p=0,001), riwayat penyakit selain COVID-19 (p=0,006), aktivitas fisik (p=0,000), stress (p=0,000), dan dukungan sosial (p=0,000) dengan kualitas hidup mahasiswa S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia selama pandemi COVID-19.
Read More
S-10751
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive