Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40269 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hanifah Nurbani; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Popy Yuniar, Nuke Aliyya Tama
Abstrak: Cakupan deteksi dini kanker payudara masih rendah bahkan belum mencapai target hal ini dapat berdampak pada keterlambatan diagnosis sehingga menyebabkan prognosis yang buruk. Salah satu faktor rendahnya deteksi dini kanker payudara yaitu karena tingkat pengetahuan perempuan tentang deteksi dini kanker payudara masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang deteksi dini kanker payudara pada perempuan di DKI Jakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder, menggunakan data kegiatan yang dilakukan oleh RS Dharmais dengan GAP UI 2024. Hasil penelitian tingkat pengetahuan kurang tentang deteksi dini kanker payudara pada perempuan muda (81,1%) lebih tinggi dibandingkan pada perempuan dewasa (70,8%). Analisis statistik menggunakan uji chi square ada hubungan antara pengetahuan dengan usia (p = 0,020). Perempuan muda ada hubungan antara pengetahuan dengan pendidikan (p = 0,005) dan penghasilan (p =0,002), sedangkan perempuan dewasa ada hubungan antara pengetahuan dengan pendidikan (p=0,000), pekerjaan (p=0,043) dan penghasilan (p = 0,000). 
The coverage of early breast cancer detection remains low and has not yet reached the target, which can lead to delayed diagnoses and poor prognosis. One of the factors contributing to the low rate of early breast cancer detection is the low level of knowledge among women regarding early detection methods. The objective of this study is to determine the level of knowledge about early breast cancer detection among women in DKI Jakarta. The research design used is a secondary data analysis, utilizing data from activities conducted by Dharmais Hospital in collaboration with the Gender Action Plan (GAP) of Universitas Indonesia 2024. The study results indicate that the level of insufficient knowledge about early breast cancer detection is higher among younger women (81.1%) compared to adult women (70.8%). Statistical analysis using the chi-square test revealed a significant relationship between knowledge and age (p = 0.020). Among younger women, there is a significant relationship between knowledge and education (p = 0.005) and income (p = 0.002). In contrast, among adult women, there is a significant relationship between knowledge and education (p = 0.000), employment status (p = 0.043), and income (p = 0.000).
Read More
S-11825
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arlinda Sari Wahyuni; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Indang Trihandini, Pandu Riono, Ronald A. Hukon, Kardinah
Abstrak:

Kanker payudara (KPD) masih merupakan masalah kesehatan pada wanita baik di negara maju maupun di negara berkembang. Di Indonesia kanker payudara merupakan penyakit keganasan kedua terbanyak juga sering menyebabkan kematian. Selain itu, banyak penelitian di Indonesia yang menyatakan bahwa penderita kanker payudara mengobati penyakitnya ke rumah sakit atau ke dokter setelah penyakit masuk dalam stadium lanjut.Keberhasilan pengobatan kanker payudara lazim digambarkan dengan ketahanan hidup 5 tahun (five year survival rate). Selain aspek pengobatan, banyak faktor yang mempengaruhi ketahanan hidup 5 tahun penderita KPD seperti stadium, ukuran tumor, penyebaran tumor, aspek patologi, aspek sosial ekonomi, dan aspek lainnya. Sampai saat ini penelitian tentang ketahanan hidup 5 tahun pada penderita kanker payudara di RS Kanker Dharmais belum pemah dilakukan. Namun, jumlah penderita kanker payudara pertahunnya cukup banyak (menempati urutan 1 pada kasus rawat inap tahun 2000).Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang ketahanan hidup 5 tahun penderita kanker payudara serta faktor-faktor yang berhubungan dengan ketahanan hidup 5 tahun di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Penelitian ini menggunakan rancangan studi longitudinal. Data yang dikumpulkan berasal dari data rekam medik penderita KPD tahun 1993 sampai tahun 1996. Sampel berjumlah 137 penderita. Cara pengumpulan data adalah dengan observasi data rekam medik serta media komunikasi via telepon atau surat untuk mengetahui ketahanan hidup 5 tahun penderita KPD.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa probabilitas ketahanan hidup 5 tahun penderita kanker payudara sebesar 48% dan median ketahanan hidup 54 bulan. Probabilitas ketahanan hidup penderita kanker payudara pada stadium dini operable (I-IIIA) adalah 72% dan stadium lanjut (IIIB dan. IV) adalah 12%. Jika dibanding dengan stadium dini operabel, risiko untuk meninggal pada stadium lanjut sebesar 2,3 kali (95% CI: 1,228; 4,163). Probabilitas ketahanan hidup 5 tahun penderita kanker payudara pada ukuran tumor < 5 cm adalah 81%, dan ukuran tumor lebih dari 5 cm adalah 24%. Jika dibanding dengan ukuran tumor < 5 cm risiko meninggal pada ukuran tumor > 5 cm adalah 3,7 kali (95% CI: 1,803; 7,770). Probabilitas ketahanan hidup 5 tahun dengan pengobatan lengkap adalah 69% dan pengobatan tidak lengkap adalah 13%. Risiko meninggal penderita dengan pengobatan tidak lengkap adalah 3,3 kali (95%CI: 1,950; 5,572) dibanding dengan pengobatan lengkap.Berdasarkan hasil penelitian ini kepada tenaga medis diharapkan dapat meningkatkan penanganan kanker payudara dengan mengupayakan deteksi dini pada penderitanya. Selain itu perlu dorongan dari tenaga medis dan bantuan konseling agar penderita dapat mengikuti prosedur pengobatan dengan teratur dan lengkap. Kepada wanita terutama yang telah berumur di atas 20 tahun disarankan untuk melakukan SADARI (perikSA payuDAra sendiRl) setiap bulannya sehingga dapat segera mengetahui kelainan yang timbul pada payudaranya. Kepada pemerintah perlu diupayakan peningkatan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dengan penyebaran informasi lewat media massa tentang penyakit kanker payudara.


 

Breast cancer is still a health problem for women in developed countries and developing countries. In Indonesia, number of breast cancer cases is high, the second cause of deaths after cervical cancer. In the other hand many researches in Indonesia report that the breast cancer patients go to hospitals or doctors after late stage.The successful breast cancer therapy was usually measured by using a five-year survival rate. Besides therapeutically aspects, many factors are involved in five-year survival rate namely: stage, tumor size, metastases, pathological aspects, socioeconomic aspects and etc. The annual number of the breast cancer patients is high (the first rank from all cancer type in 2000). However, until] now, no studies of five-year survival rate on RSKD have been done.The goal of this research is to find the probability of 5 year survival of the breast cancer patients in Dharmais Cancer Hospital Jakarta and the relationship between some other factors and 5 year survival rate. The design of this research is longitudinal study. Data are collected from the medical record breast cancer patients on 1993 toI996. The sample is I37 persons. The method of data collecting is observing of the medical record and telephoning or posting to find out the survival of breast cancer patient.The result shows that 5 year survival rate on breast cancer patient is 48%, the median of the survival rate is 54 months. The 5 years survival rate on early operable stage is 72% and on the late stage is 12%. By using the early operable stage as a baseline comparison, the risk ratio of the deaths for the late stage is 2,3 (95% CI: 1,228; 4,163). Moreover the 5 year survival rate on the less than 5 cm is 81% and more than 5 cm is 24%. If compared to size < 5 cm, the risk ratio of the deaths on patients with tumor size 5 cm is 3,7 (95% CI: 1,803; 7,770). The 5 year survival rate on patients with a complete therapy is 69% and an incomplete therapy is 13%. The risk of the deaths on the patients with the incomplete therapy is 3,3 times (95% CI: 1,950; 5,572) compared to the complete therapy.Based on this study, It is recommended that doctors/medicians be able to increase the ability to handle breast cancer cases by doing early detections to the suffers. Moreover the supports for medical professionals and counseling professional are needed so that the patients are able to follow the procedure of treatments regularly and completely. It is suggested that it is important to do SADARI monthly of women above 20. The government should increase to do EIC (Education, Information, and Communication) by spreading EIC materials through mass media about breast cancer.

Read More
T-1411
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khalina Puspitasari; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Wahyu Septiono, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Depresi merupakan gangguan kesehatan mental paling umum di seluruh dunia yang dapat mengarah pada keinginan bunuh diri serta menimbulkan kerugian ekonomi. Kelompok dewasa muda memiliki prevalensi depresi tertinggi, namun paling sedikit mengakses layanan kesehatan mental. Wilayah perkotaan memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi dari perdesaan karena berbagai perbedaan antara kedua wilayah tempat tinggal. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan depresi pada dewasa muda usia 18-24 tahun di Indonesia menurut wilayah perkotaan dan perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi logistik. Hasil menunjukkan perempuan (OR=2,743; 95% CI=2,058 - 3,655), memiliki riwayat penyakit kronis (OR=4,252; 95% CI=2,651 - 6,818), dan mengonsumsi alkohol (OR=4,285; 95% CI=2,359 - 7,786) merupakan determinan depresi di perkotaan. Perempuan (OR=2,149; 95% CI=1,196 - 3,863), tidak bekerja (OR=2,260; 95% CI=1,274 - 4,008), dan tidak menikah (OR=1,980; 95% CI=1,161 - 3,377) merupakan determinan depresi di perdesaan. Program edukasi, konseling, dan skrining kesehatan jiwa perlu diutamakan bagi kelompok berisiko, serta diintegrasikan dengan promosi gaya hidup sehat.

Depression is the most common mental health disorder worldwide that can lead to suicidal ideation and economic loss. Young adults have the highest prevalence of depression, but the least to access mental health services. Urban areas have a higher prevalence of depression than rural areas due to various differences between the two areas of residence. Based on that, this study aims to determine the determinants of depression in young adults aged 18-24 years in Indonesia according to urban and rural areas. This study is a quantitative study using secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (IHS). Data analysis was carried out using the logistic regression analysis method. The results showed that women (OR = 2.743; 95% CI = 2.058 - 3.655), having a history of chronic disease (OR = 4.252; 95% CI = 2.651 - 6.818), and consuming alcohol (OR = 4.285; 95% CI = 2.359 - 7.786) are determinants of depression in urban areas. Female (OR=2.149; 95% CI=1.196 - 3.863), unemployed (OR=2.260; 95% CI=1.274 - 4.008), and unmarried (OR=1.980; 95% CI=1.161 - 3.377) are determinants of depression in rural areas. Mental health education, counseling, and screening programs need to be prioritized for at-risk groups, and integrated with healthy lifestyle promotion.
Read More
S-11902
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Nabila Setiawan; Pembimbing: Martya Rahmaniati; Penguji: Milla Herdiyati, Diah Wulandari
Abstrak: Praktik sunat perempuan menurut WHO tidak diperkenankan untuk dilakukan dalam bentuk dan tingkat apapun sebab membahayakan anak perempuan dan perempuan serta melanggar hak kesehatan reproduksi. Di Indonesia, 48.8% pada anak perempuan usia 0-11 tahun di Indonesia dengan 80% orang tua menunjukkkan persetujuan keberlanjutan sunat perempuan pada masa yang akan datang pada tahun 2013. Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan orang tua di masa depan adalah yang menentukan keberlanjutan praktik sunat perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor yang mempengaruhi persetujuan mahasiswa terhadap praktik sunat perempuan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022. Disain studi dalam penelitian ini menggunakan studi potong lintang pada 248 mahasiswa yang berdomisili di DKI Jakarta yang dipilih secara acak pada Mei ? Juni 2022. Analisis hubungan menggunakan chi-square dan pemodelan dengan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan faktor mempengaruhi persetujuan mahasiswa terhadap praktik sunat anak perempuan pada masa depan di DKI Jakarta adalah persetujuan terhadap persepsi manfaat moral seksual sunat perempuan (aOR=4.05, p=0.025) dan mahasiswa fakultas non kesehatan (aOR=2.79, p=0.037). Intervensi direkomendasikan melalui pendidikan dan media massa untuk mengedukasi tidak adanya hubungan sunat perempuan memiliki manfaat moral seksual bagi mahasiswa kesehatan maupun non kesehatan.
Female circumcision is not allowed to be carried out in any form and level since it endangers girls and women and violates reproductive health rights. According to National Basic Health Riset 2013, female circumcision occurred 48.8% of girls aged 0-11 years followed with 80% of parents showing agreement of the continuation of female circumcision in the future. University students as future leaders and future parents are related to the continuation of the practice of female circumcision in the future. This study aims to describe and identify factors influencing agreement toward female circmcission of future daughter among university students in DKI Jakarta 2022. Analysis was performed using chi-square and binary logistic regression. Data was collected between May - June 2022 through an online questionnaire involving 248 students in DKI Jakarta. Students who agreed of sexual moral perceptions of female circumcision strongly influenced their agreement toward female circmcission of future daughter (aOR=4.05, p=0.025). Also, non-medical faculty students strongly agreed toward female circmcission of their future daughter (aOR=2.79, p=0.037) than medical faculty students. Interventions are recommended through education and mass media to educate that the absence of female circumcision has sexual moral benefits for both medical and non-medical students.
Read More
S-11136
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahayuningtyas; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Trisakti Budi Sulistyorini
S-6163
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aurellia Fadia Fathullah; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Sabarinah, Wan Aisyah Baros
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan proporsi 90% dibandingkan diabetes melitus yang lain. Di Indonesia prevalensi DMT2 terus meningkat pada umur ≥15 tahun sebesar 2% pada tahun 2018 dan menjadi 2,2% pada tahun 2023. Berbagai faktor berperan terhadap tingginya prevalensi DMT2 Tingginya prevalensi berperan dalam tingginya biaya pelayanan DMT2. Oleh karena itu diperlukan penelitian dalam mengetahui tren dan prediksi di tahun 2025 serta melihat faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan biaya pelayanan DMT2. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020-2024. Analisis dilakukan dengan menghitung total biaya per tahun, Compound Annual Growth Rate (CAGR), serta proyeksi sederhana dengan pendekatan CAGR dan analisis hubungan menggunakan Mann-Whitney dan Uji Korelasi Spearman. Hasil: Total biaya pelayanan DMT2 di FKRTL meningkat dari Rp1,25 Triliun (2020) menjadi Rp3,12 Triliun (2024), dengan CAGR 25,69%. Jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan biaya pelayanan kesehatan DMT2 (p = 0,909; ρ = 0,007). Sementara itu, usia menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p < 0,001), namun dengan kekuatan hubungan yang sangat lemah (ρ = 0,037), wilayah regional menunjukan adanya hubungan signifikan dengan effect size lemah (p < 0,001;ε²= 0,011). Faktor diagnosis yang meliputi komorbiditas, komplikasi, dan tingkat keparahan berhubungan signifikan dengan biaya pelayanan kesehatan DMT2 (p < 0,001), dengan tingkat keparahan menunjukkan hubungan paling kuat (ρ = 0,893). Pada faktor proses pelayanan, kelas perawatan (ρ = 0,569) dan lama rawat inap (ρ = 0,830) juga menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,001). Kesimpulan: Biaya pelayanan DMT2 dipengaruhi secara signifikan oleh komorbiditas, komplikasi, tingkat keparahan, kelas perawatan, dan lama rawat inap. Tingkat keparahan dan lama rawat inap merupakan faktor dengan hubungan terkuat terhadap biaya. Kelompok kasus berat dan pasien dengan rawat inap panjang memerlukan perhatian khusus dalam pengendalian biaya melalui penguatan program pencegahan dan pemantauan kasus.

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a noncommunicable disease that accounts for 90% of all diabetes cases. In Indonesia, the prevalence of T2DM among individuals aged 15 years and older continued to rise, from 2% in 2018 to 2.2% in 2023. Various factors contribute to the high prevalence of T2DM. This high prevalence contributes to the high cost of T2DM care. Therefore, research is needed to identify trends and projections for 2025 and to examine the factors contributing to the rise in T2DM care costs. Methods: This study is a quantitative cross-sectional study using BPJS Kesehatan sample data from 2020 to 2024. The analysis was conducted by calculating the total annual costs, the Compound Annual Growth Rate (CAGR), and simple projections using the CAGR approach, along with relationship analysis using the Mann-Whitney and Spearman’s correlation tests. Results: Total costs for T2DM care at FKRTL increased from Rp1.25 trillion (2020) to Rp3.12 trillion (2024), with a CAGR of 25.69%. Gender did not show a significant association with the cost of DMT2 healthcare services (p = 0.909; ρ = 0.007). Meanwhile, age showed a statistically significant association (p < 0.001), but with a very weak strength of association (ρ = 0.037), The regional area shows a significant relationship with a weak effect size (p < 0.001; ε² = 0.011).. Diagnostic factors, including comorbidities, complications, and severity, were significantly associated with healthcare costs for T2DM (p < 0.001), with severity showing the strongest association (ρ = 0.893). Among the service process factors, care class (ρ = 0.569) and length of hospital stay (ρ = 0.830) also showed significant associations (p < 0.001). Conclusion: The costs of T2DM care are significantly influenced by comorbidities, complications, severity, care class, and length of hospital stay. Severity and length of hospital stay are the factors with the strongest association with costs. Severe cases and patients with prolonged hospital stays require special attention in cost control through the strengthening of prevention programs and case monitoring.
Read More
S-12354
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiji Wahyuningsih; Pembimbing: Artha Prabaw; Penguji: Toha Muhaimin, Myrnawati Mira
Abstrak: ENDOMETRIOSIS MENJADI SALAH SATU PENYEBAB INFERTILITAS TERBANYAK PADA PEREMPUAN. PENELITIAN INI BERTUJUAN UNTUK MENILAI HUBUNGAN ANTARA BEBERAPA FAKTOR RISIKO TERHADAP TERJADINYA ENDOMETRIOSIS PADA PEREMPUAN INFERTIL. STUDI KASUS KONTROL DILAKUKAN PADA 960 PEREMPUAN INFERTIL DI KLINIK MORULA IVF JAKARTA ANTARA JANUARI 2015 SAMPAI DESEMBER 2016. DARI JUMLAH TERSEBUT, DIANTARANYA 320 PEREMPUAN INFERTIL DENGAN ENDOMETRIOSIS (KASUS) DAN 640 PEREMPUN INFERTIL TANPA ENDOMETRIOSIS (KONTROL). UJI CHI SQUARE DIGUNAKAN UNTUK MEMBANDINGKAN KEDUA KELOMPOK. REGRESI LOGISTIK DIGUNAKAN UNTUK MEMBANGUN MODEL PREDIKSI ENDOMETRIOSIS. MODEL REGRESI LOGISTIK MENUNJUKKAN BAHWA DISMENORE DAN INDEKS MASSA TUBUH BERHUBUNGAN SECARA SIGNIFIKAN DENGAN ENDOMETRIOSIS. FAKTOR YANG PALING BERHUBUNGAN DENGAN ENDOMETRIOSIS ADALAH DISMENORE. PEREMPUAN YANG MENGALAMI DISMENORE AKAN BERPELUANG 2,4 KALI UNTUK MENGALAMI ENDOMETRIOSIS DIBANDINGKAN PEREMPUAN TANPA MENGALAMI DISMENORE. KATA KUNCI : ENDOMETRIOSIS, PEREMPUAN INFERTIL ENDOMETRIOSIS IS ONE OF THE MOST CAUSES OF FEMALE INFERTIL. THIS STUDY AIMS TO ASSESS THE ASSOCIATION BETWEEN SOME OF RISK FACTORS OF ENDOMETRIOSIS ON INFERTILE WOMEN. THE CASE-CONTROL STUDY WAS IMPLEMENTED ON 960 INFERTILE WOMEN AT IN VITRO FERTILIZATION (IVF) MORULA IVF JAKARTA BETWEEN JANUARY 2015 AND DECEMBER 2016. OF THESE, THERE WERE 320 INFERTILE WOMEN WITH ENDOMETRIOSIS (CASES) AND 640 INFERTILE WOMEN WITHOUT ENDOMETRIOSIS (COMPARISON GROUP). CHI SQUARE TEST WAS USED TO COMPARE THE TWO GROUPS. LOGISTIC REGRESSION WAS USED TO BUILD PREDICTION MODEL FOR AN ENDOMETRIOSIS DIAGNOSIS. IN THE LOGISTIC REGRESSION MODEL CONTRACEPTION AND BODY MASS INDEX WERE SIGNIFICANTLY ASSOCIATED WITH ENDOMETRIOSIS. THE MOST FACTORS ASSOCIATED WITH ENDOMETRIOSIS IS DYSMENORRHEA. THE WOMEN WITH DYSMENORRHEA WILL BE 2.4 TIMES HIGHER RISK IN ENDOMETRIOSIS THAN THE WOMEN WITHOUT DYSMENORRHEA. KEYWORDS : ENDOMETRIOSIS, INFERTILE WOMEN
Read More
S-9356
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Ayu Prameswari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Victoria Indrawati
Abstrak: Penggunaan Kondom secara konsisten merupakan salah satu cara untuk mencegah penyakit menular seksual pada populasi kunci. Rata-rata pembeli jasa seks pada populasi yang menjual seks paling banyak adalah pada WPSL, kemudian diikuti oleh WPSTL, LSL, dan penasun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan tentang HIV-AIDS, risiko, dan pencegahannya dengan konsistensi penggunaaan kondom pada wanita pekerja seks langsung di 9 kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan menggunakan data STBP 2013. Populasi penelitian ini adalah seluruh WPSL yang ada di 9 Kota yang menjadi tempat pelaksanaan survei. Sampel penelitian yang diteliti adalah WPSL yang berusia >15 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penggunaan kondom pada WPSL di 9 Kota di Indonesia pada tahun 2013 adalah 36,3% dan prevalensi WPSL yang memiliki pengetahuan baik adalah 55,9%. WPSL yang memiliki pengetahuan baik tentang HIV-AIDS, risiko, dan pencegahannya berisiko 3,2 kali untuk memiliki perilaku konsisten menggunakan kondom setelah dikontrol faktor konfounding. Faktor konfonding dalam hubungan pengetahuan HIV, risiko dan pencegahannya dengan konsistensi penggunaan kondom dalam penelitian ini adalah pendidikan (OR=1,732), persepsi (OR=1,305), jumlah pelanggan (OR=0,737), ketersediaan kondom (OR=1,826), akses kondom gratis (OR=1,970), dan menawarkan kondom (OR=31,523). Dibutuhkan penelitian lanjut dengan faktor-faktor tambahan yang diduga menjadi determinan perilaku penggunaan kondom secara konsisten. Kata kunci: Konsistensi, Kondom, Pengetahuan
Consistency in condom usage is one of the ways to prevent sexually transmitted infection in key population. The average client of sex services in populations that provides most prostitution service is the Direct Female Sex Workers (DFSW), followed by Indirect Female Sex Workers (IFSW), MSM and IDUs. This study is conducted to identify the association between knowledge of HIV-AIDS, its risks, and its prevention with consistency of condom usage on direct female sex workers in 9 cities in Indonesia. This study used cross sectional study design and used data of IBBS 2013. Population of this study is all of DFSW in 9 cities where the survey is held. Meanwhile, the DFSW taken as samples for this study are 15 years old or above who meet the inclusion and exclusion criteria. The result shows that the prevalence of consistency of condom usage on DFSW in 9 Cities in Indonesia is 36.3% and the prevalence of DFSW which has good knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention is 55.9%. The DFSW who has good knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention has 1=3.2 time higher chance of consistency in condom usage after the confounding factors are controlled. The confounding factors in association between knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention and consistency of condom usage are education (OR=1.732), perception (OR=1.305), number of guest (OR=0.737), condom availability (OR=1.826), free condom access (OR=1.970), and offering condom to guest (OR=31.523). Further study is needed with more factors that determine consistency of condom usage on DFSW. Keyword: Consistency, Condom, Knowledge
Read More
S-8965
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Widlanisia; Pembimbing: Kemal Nazarudin; Penguji: Sutanto; Sudibyo Alimoeso
Abstrak: Pemberian ASI merupakan usaha dan investasi yang mudah dilakukan untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak. Keterlambatan pemberian ASI pertama dapat diakibatkan oleh metode kelahiran yang dipilih seperti secara pervaginam atau persalinan sesar. Penelitian ini dilakukan secara cross sectional dan pendekatan kuantitatif menggunakan data SDKI 2017 untuk mengetahui hubungan antara persalinan sesar dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Provinsi DKI Jakarta. Sampel yang digunakan adalah wanita usia subur 15-49 tahun saat survei di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki anak terakhir yang lahir dalam 2 tahun terakhir sebanyak 236 responden. Dilakukan analisis statistik univariat, bivariat menggunakan chi-square (CI 95%) dan analisis multivariat uji regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan ibu yang melahirkan secara persalinan sesar berisiko 0,52 [95%CI 0,27-1,01] kali lebih rendah melakukan IMD dibandingkan ibu yang melahirkan secara pervaginam. Analisis multivariat pada penelitian ini memperlihatkan bahwa ibu secara persalinan sesar berisiko 0,54 [95%CI 0,18-1,61] kali lebih rendah melakukan IMD dibandingkan ibu yang melahirkan secara pervaginam setelah dikontrol dengan variabel tingkat pendidikan, usia, dan status ekonomi. Maka disimpulkan bahwa pembuatan kebijakan dan pemberian intervensi akan bagaimana pelaksanaan dan pentingnya inisasi menyusu dini perlu dilakukan pada ibu yang memiliki tingkat Pendidikan rendah, usia dibawah 35 tahun, status ekonomi rendah, dan yang berencana melahirkan dengan metode persalinan sesar.
Breastfeeding is an easy way to reduce morbidity and mortality in infants and childrens. The delay in giving the first breast milk can be caused by the chosen method of birth such as vaginal or cesarean delivery. This study was conducted in a cross sectional and quantitative approach using the 2017 IDHS data to determine the relationship between cesarean delivery and Early Breastfeeding Initiation (EBFI) in DKI Jakarta Province. The sample used was women of childbearing age 15-49 years during the survey in DKI Jakarta Province who had their last child born in the last 2 years as many as 236 respondents. Univariate, bivariate statistical analysis was performed using chi-square (95% CI) and multivariate analysis with multiple logistic regression tests. The results of the analysis showed that mothers who gave birth by cesarean had 0.52 times [95% CI 0.27-1.01] times lower risk of having an EBFI than mothers who gave birth vaginally. Multivariate analysis in this study showed that mothers who delivered by cesarean had 0.54 times lower risk [95% CI 0.18-1.61] of having an EBFI compared to mothers who gave birth vaginally after controlled by variables such as education level, age, and economic status. It is concluded that policy making and providing interventions on how to implement and the importance of early breastfeeding initiation need to be carried out on mothers who have low levels of education, age under 35 years, low economic status, and who plan to give birth by cesarean delivery method.
Read More
S-11137
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive