Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20811 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ronny Sutanto; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Amal Chalik Sjaaf, Syahrir A. Pasinringi; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Idrus A. Paturusi, Djazuli Chalidyanto, Andreasta Meliala, Sukamto Koesnoe
Abstrak:

Indonesia berpotensi rawan terjadi bencana alam gempa bumi. Kerugian negara akibat bencana alam sejak  tsunami Aceh bulan desember tahun 2004 hingga gempa di sumatera barat mencapai 150 triliun lebih. Selain kerugian harta benda gempa mengakibatkan korban jiwa masif, korban luka, dan kerusakan infrastruktur. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir kerugian tersebut terus berulang terjadi hal tersebut diakibatkan oleh karena kegagalan tata kelola. Tata kelola bencana yang baik harus didukung Good Coorporate Governance dan Good Cinical Governance. Bencana gempa bumi di Lombok, Palu, Cianjur dan Turki telah menyebabkan kerusakan infrastruktur kesehatan, menelan korban jiwa massal dan mengakibatkan korban luka berat yang banyak. Korban umumnya adalah kasus patah tulang yang ditangani oleh dokter orthopedi. Pada saat tanggap darurat bencana gempa bumi pertolongan korban menjadi lambat disebabkan oleh beberapa hal antara lain : tenaga medis lokal turut menjadi korban, distribusi logistik terganggu, peran pemerintah dan lembaga non pemerintah dalam komando, koordinasi dan komunikasi antar lembaga kebencanaan belum sepenuhnya terintegrasi dengan regulasi yang ada, akses menuju layanan rujukan kesehatan dan fasilitas kesehatan yang terganggu. Hal tersebut menambah keparahan tata kelola bencana gempa bumi bahkan disertai tsunami, likuifaksi, longsor maupun wabah pandemi. Tujuan dari penelitian ini untuk menyusun model tata kelola darurat orthopedi pada fase tanggap darurat bencana gempa bumi berbasis sistem input proses dan output yang terjadi. Menggunakan multi case study methods di Lombok, Palu, Cianjur dan Turki rancangan penelitian ini disusun melalui lima tahapan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang didapat dari hasil analisis kesenjangan menunjukkan bahwa tata kelola pada dimensi karakteristik gempa, faktor eksternal dan resiliensi bangunan fasilitas kesehatan mempengaruhi faktor existing condition yang sudah ada pada tata kelola darurat orthopedi fase tanggap darurat bencana gempa bumi. Konstruksi model dihasilkan dari analisis pengembangan tata kelola lama melalui analisis kesenjangan dari dimensi existing condition dan precondition yang telah dilakukan prediksi acceptancenya berdasar governansi klinis, organisasi dan kebencanaan sebagai rancang bangun adaptive model dari tata kelola bencana yaitu model MELFASSER. Model MELFASSER merupakan penyempurnaan dari tata kelola lama yang disusun dengan memperhitungkan dimensi karakteristik gempa antara lain Magnitude, Epicentrum dan Locations, Fore and After Shock, Side Effect dan juga mempertimbangkan faktor eksternal dan Resiliensi bangunan layanan kesehatan. Hasil temuan ini dikembangkan menjadi ajuan rancangan borang MELFASSE untuk penilaian pemberdayaan local resources dan rekomendasi aktifasi existing condition dan borang RVAHBR untuk penilaian ketahanan gedung faskes sebagai preliminary assessment pada tata kelola darurat orthopedi fase tanggap darurat bencana gempa bumi. borang MELFASSE-R yang disusun diharapkan akan lebih luas pemanfaatannya dan dapat digunakan dengan mudah sesuai dengan kapasitas sumberdaya lokal dalam menyusun rekomendasi aksi selanjutnya pada saat fase tanggap darurat bencana gempa bumi.


 

Indonesia is prone to potential earthquake natural disasters. State losses due to disasters since the Aceh tsunami in December 2004  to West Sumatra earthquake reached more than 150 trillion rupiah. Apart from significant property lossess, the earthquake resulted in massive loss of life, injuries and infrastructure damages. Over the past 5 years, these losses have continued to occur repeatedly, this is due to failures in governance. Good disaster governance must be supported by Good Corporate Governance and Good Clinical Governance. Earthquake disasters in Lombok, Palu, Cianjur and Turkey lead to many health infrastructures damage, severe mass casualties, and resulted in many serious injuries. Victims of serious injuries most commonly suffer from bone fractures that require treatment by an orthopedic surgeon. During the earthquake response phase, humanitarian aid to victims was slow due to several things, including : local medical personnel became victims, logistics distribution was disrupted, the role of government and non-governmental institution in command, coordination and communication among disasters institution  was not fully integrated with existing regulations, access to health referral services and health facilities is disrupted. This increases to the severity of earthquake disaster governance, even accompanied by tsunamis, liquefaction, landslides and pandemic outbreaks. The aim of this research is to establish a model for orthopedic emergency governance in an earthquake disaster response phase based on the process input and output systems. Using multi case study methods in Lombok, Palu, Cianjur and Turkey, this research design was structured through five stages with a qualitative approach. The research results obtained from the gap analysis showed that governance in the dimensions of earthquake characteristics, external factors and resilience of health facility buildings influenced existing condition factors that already established in orthopedic emergency governance during the response phase earthquake disasters. The model generated from development analysis of existing disaster governance through gap analysis of existing conditions dimensions and preconditions whose acceptance predictions have been carried out based on clinical, organizational and disaster governance as a design for an adaptive model of disaster governance, namely the MELFASSER model. The MELFASSER model is an adaptive model from an established existing disaster governance systems in consideration of earthquake characteristics dimensions including Magnitude, Epicenter and Location, Fore and AfterShock, Side effects and also considering External factors and the Resilience of health service buildings. The results of these findings were developed into a proposal to design the MELFASSE form for assessing the empowerment of local resources and recommendations for activating existing conditions and the RVAHBR form for assessing the resilience of health facility buildings as a preliminary assessment in orthopedic emergency management during the earthquake emergency response phase.  The proposed MELFASSE-R forms is hopefully will have a broader use and to be easily adapted and carried out by existing local resources as a recommendation for further action in the response phase of an earthquake disaster.

 

 

Read More
D-562
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wisnu Ery Dasarga; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Ridwan Z. Syaaf, Mayarni
S-6963
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Slamet Budiarto; Promotor: Anhari Achadi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono, Pujiyanto; Penguji: Purnawan Junadi, Andi Arus Vector, Syafiq A. Mughni, Mahlil Ruby, Hasbullah Thabrany
Abstrak:
Stunting anak 0-23 bulan di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh berbagai faktor langsung dan tidak langsung. Penelitian menggunakan data Riset Kesehatan Dasar, Survey Sosial Ekonomi Nasional dan Produk Domestik Regional Bruto per kapita tahun 2018 dengan pendekatan potong lintang bertujuan mengetahui model jalur hubungan langsung dan tidak langsung berbagai faktor risiko stunting dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota. Pengolahan data sekunder dilakukan pada Januari-April 2022. Sampel adalah 106 kabupaten/kota prevalensi stunting <20% dan 403 kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20% (20%-<30%, 30%-40% dan >40%) yang diagregratkan pada tingkat kabupaten/kota dari 32.095 data individu anak usia 0-23 bulan yang diukur panjang badannya. Pemodelan menggunakan analisis jalur. Model jalur pencegahan risiko stunting memperlihatkan akses terhadap makanan (r=-0,31) dan pemeriksaan kehamilan (r=-0,29) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting <20%. Keluarga Berencana (r=-0,15), pemeriksaan kehamilan (r=-0,13) dan cuci tangan pakai sabun (r=-0,11) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20%. Tablet tambah darah ibu hamil (r=-0,02) dan inisiasi menyusu dini (r=-0,03) berhubungan tidak langsung melalui ASI eksklusif dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. ASI eksklusif (r=-0,15) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. Cuci tangan pakai sabun berhubungan signifikan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 30%-40% (r=-0,22) dan >40% (r=-0,45). Model jalur menyimpulkan bahwa kabupaten/kota dapat memainkan peran penting dalam upaya pencegahan risiko stunting dengan memodifikasi sejumlah faktor risiko terutama pada keluarga anak 0-23 bulan.

Stunting in children 0-23 months in Indonesia is a public health problem caused by various direct and indirect factors. This study uses data from Basic Health Research, National Socio-Economic Survey and Gross Regional Domestic Product per capita in 2018 with a cross-sectional approach. Secondary data processing was carried out in January-April 2022. The samples were 106 districts/cities with stunting prevalence <20% and 403 districts/cities with stunting prevalence 20% (20%-<30%, 30%-40% and >40%) Aggregated at the district/city level from 32,095 individual data for children aged 0-23 months, whose body length was measured. The modeling uses path analysis. The stunting risk prevention pathway model shows that access to food (r=-0.31) and prenatal care (r=-0.29) is directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities with stunting prevalence <20%. Family planning (r=-0.15), pregnancy check-ups (r=-0.13) and hand washing with soap (r=-0.11) were directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence 20 %. Blood supplement tablets for pregnant women (r=-0.02) and early initiation of breastfeeding (r=-0.03) were indirectly related through exclusive breastfeeding with the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence of 20%-<30% . Exclusive breastfeeding (r=-0.15) was directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in the district/city stunting prevalence of 20%-<30%. Hand washing with soap is directly related to stunting prevalence at district/city level in districts/cities, stunting prevalence is 30%-40% (r=-0.22) and >40% (r=-0.45). The pathway model concludes that districts/cities can play an important role in preventing stunting risk by modifying a number of risk factors, especially in families of children 0-23 months.
Read More
D-474
Depok : FKM UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Listiani; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Pujiyanto, Yulia Astri FDH
Abstrak: Angka pelaporan insiden di rumah sakit merupakan standard keselamatan pasien yangmemerlukan kesadaran bagi perawat untuk melaporkannya. Rendahnya pelaporan insidendi IGD RSUPN Dr.Ciptomangunkusumo perlu diketahui penyebabnya agar insiden yangtidak dihrapkan dapat dicegah. Skripsi ini membahas tentang factor-faktor apa saja yangmemengaruhi rendahnya pelaporan insiden di IGD RSUPN dr.Cipto MangunkusumoJakartatujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui factor apa saja yang berhubungandengan rendahnya pelaporan insiden di RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo serta factor apayang paling dominan. Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif denganpendekatan Cross Sectional. jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 143perawat. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat, Bivariat dan multivariate.Analisis menggunakan program SPSS versi 22. Hasil penelitian 81 responden (56,6%)tidak melakukan pelaporan insiden selama 12 bulan terakhir, 62 responden (43,4%)melakukan pelaporan insiden selama 12 bulan terakhir.Hasil uji chi-square didapatkanhubungan yang bermakna (P<0,05) pada variabel Pengalaman kerja, lama jamkerja,Kepemilikan sertifikat pelatihan, Pengetahuan, Kepemimpinan Transformasional danBudaya Keselamatan Pasien.Hasil multivariate regresi logistic di dapatkan variabel yangberhubungan dengan rendahnya pelaporan insiden adalah kepemilikan sertifikat,Pengetahuan dan Budaya Keselamatan.
Kata Kunci : Pelaporan insiden, pengalaman kerja, jam kerja, setifikasi pelatihan, pengetahuan, kepemimpinan transformasional, Budaya keselamatan pasien
Read More
S-10199
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Sutrisna; Promotor: Buchari Lapau; Ko-Promotor: Purnawan Junadi, Arthur L. Reingold, Umar Fahmi Achmadi, Amal Chalik Sjaaf, Agus Suwandono, Cholid Rasidi, Soekidjo Notoatmodjo
Abstrak: ABSTRAK
 
Faktor risiko, menurut Last (1983), adalah suatu terminologi yang dihasilkan oleh suatu penelitian epidemiologi yang mempunyai beberapa arti yang antara lain:
 
1) suatu atribut atau pemajanan yang dapat dihubungkan dengan peningkatan probabilitas terjadinya suatu outcome seperti terjadinya suatu penyakit; yang tidak selalu merupakan faktor kausal. Ini sering disebut sebagai risk marker
 
2) suatu atribut atau pemajanan yang meningkatkan probabilitas terjadinya suatu penyakit atau suatu outcome tertentu lainnya. Ini sering disebut penentu (determinant) atau faktor yang menentukan
 
3) suatu penentu yang dapat dimodifikasi dengan intervensi sehingga dapat mengurangi probabilitas teijadinya penyakit atau suatu outcome tertentu. Ini Bering juga disebut sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
 
 
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan faktor risiko dari pneumonia pada bayi dan anak balita tercakup dalam tiga pengertian di atas.
 
 
Pneumonia adalah penyakit dengan gejala batuk pilek disertai napas sesak atau napas cepat. Definisi pneumonia di atas adalah definisi kasus yang baru diperkenalkan oleh WHO pada tahun 1989 dan dipakai oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam program penanggulangan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara nasional pada tahun 1991. Sebelumnya, istilah yang dipakai untuk kasus ini adalah ISPA. ISPA biasanya mengandung arti yang lebih luas karena di dalam ISPA juga termasuk saluran pernapasan atas, telinga, hidung, dan tenggorok, sedangkan pada pneumonia yang dimaksud adalah infeksi saluran pernapasan bawah yang akut dan penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi. Sebenarnya, program penanggulangan ISPA yang mempunyai tujuan menurunkan mortalitas pada bayi dan anak balita ditujukan pada pneumonia ini. Oleh karena itu, sejak tahun 1989, WHO menggunakan istilah pneumonia dalam case managementnya sebagai pengganti ISPA dan hal ini pun dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan RI sejak tahun 1991. Dalam telaah kepustakaan pun baru pada tahun-tahun terakhir ini lebih banyak muncul istilah pneumonia; sebelumnya cukup banyak dipergunakan istilah ISPA. Biasanya, yang dimaksud pneumonia sekarang adalah istilah yang dulunya dikategorikan sebagai "ISPA sedang" dan "ISPA berat".
Read More
D-17
Depok : FKM-UI, 1993
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni Mahwati; Promotor: Sudijanto Kamso; Ko Promotor: Fasli Jalal, Purwantyastuti; Penguji: Purnawan Junadi, Kusharisupeni, Soewarta Kosen, Fidiansjah
D-322
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Nadi Astuti; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Fatma Lestari, Johny Wahyuadi Mudaryoto, Lana Saria, Herlina J. EL-Matury, Ayende, Ridha Renaldi
Abstrak:
Industri petrokimia merupakan sektor berisiko tinggi yang membutuhkan penerapan sistem manajemen keselamatan dan budaya keselamatan yang matang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model maturitas budaya keselamatan yang sesuai untuk industri petrokimia di Indonesia. Model ini mengadaptasi teori Hudson, Fleming, Parker et al., dan Filho, serta menggambarkan lima tingkat kematangan budaya keselamatan, dari tingkat “Dasar” hingga “Berkelanjutan.”. Melalui pendekatan multidimensi, dikembangkan kerangka dan instrumen penilaian yang valid dan reliabel dengan lima dimensi utama: Komitmen, Komunikasi, Informasi, Keikutsertaan Karyawan, dan Pembelajaran Organisasi. Penelitian ini menemukan bahwa semua perusahaan dalam sampel telah mencapai tingkat “Berkelanjutan,” khususnya pada aspek Komitmen dan Pembelajaran Organisasi. Namun, Keikutsertaan Karyawan masih menjadi aspek yang perlu ditingkatkan. Hasil juga menunjukkan bahwa perusahaan multinasional dan penanggung jawab keselamatan menunjukkan pemahaman budaya keselamatan yang lebih baik. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat praktis untuk menilai dan meningkatkan strategi keselamatan berkelanjutan di sektor petrokimia, mendorong keterlibatan aktif pekerja, serta memperkuat efektivitas sistem manajemen keselamatan proses.

The petrochemical industry is a high-risk sector requiring a mature implementation of safety management and safety culture. This study aims to develop a safety culture maturity model tailored to the Indonesian petrochemical industry. The model adapts the theoretical frameworks of Hudson, Fleming, Parker et al., and Filho, and describes five levels of safety culture maturity, from "Basic" to "Sustainable." A multidimensional approach was used to develop a valid and reliable assessment framework and instrument comprising five key dimensions: Commitment, Communication, Information, Employee Participation, and Organizational Learning. Findings show that all sampled companies have reached the “Sustainable” level, particularly in Commitment and Organizational Learning. However, Employee Participation remains an area needing improvement. The study also reveals that multinational companies and safety officers demonstrate a stronger understanding of safety culture. The developed model serves as a practical tool for evaluating and improving sustainable safety strategies in the petrochemical sector, enhancing employee engagement, and strengthening the effectiveness of process safety management systems.
Read More
D-604
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilisa Rahmadani; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Adang Bachtiar, Besral, Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Ali Ghufron Mukti, Sutoto, Astrid B. Sulistomo
Abstrak: Kelelahan kerja berdampak besar terhadap kinerja, keselamatan, dan kesehatan tenaga kesehatan rumah sakit. Penelitian ini mengembangkan model sistem manajemen risiko kelelahan berbasis pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui studi literatur, FGD, wawancara, dan observasi. Hasilnya adalah model ICHAFIT (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) dengan lima elemen utama dan strategi pencegahan berbasis data. Terdapat 24 indikator valid dan reliabel untuk menilai implementasinya. Model ini berfungsi sebagai kerangka konseptual dan alat praktis, serta menghasilkan policy brief untuk advokasi kebijakan nasional.
Work fatigue significantly affects hospital workers' performance, safety, and health. This study developed a fatigue risk management model using qualitative and quantitative approaches through literature review, FGD, interviews, and observations. The result is the ICHAFIT model (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) comprising five key elements and a data-driven prevention strategy). It includes 24 valid and reliable indicators to assess implementation. ICHAFIT serves as both a conceptual framework and practical tool, and also produced a policy brief to support national advocacy for fatigue risk management in hospitals.
Read More
D-591
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Ayuni Alayyannur; Promotor: Doni Hikmat Ramdhan; Kopromotor: L. Meily Widjaja, Tri Martiana; Penguji: Laila Fitria, Mila Tejamaya, Robiana Modjo, Iting Shofwati
Abstrak:
Pendahuluan: Pajanan panas pekerjaan sebagai salah satu faktor risiko indikasi gangguan fungsi ginjal di berbagai studi. Nelayan dan pekerja pemindang termasuk pekerja berisiko terpajan panas. Studi ini akan mengembangkan model kontribusi pajanan panas pekerjaan pada indikasi gangguan fungsi ginjal pada pekerja di sektor perikanan Jawa Timur. Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional pada pekerja sektor perikanan Kabupaten Lamongan di Desember 2022-Februari 2023. Besar sampel 150 nelayan dan pemindang yang didapat dengan rumus uji hipotesis untuk proporsi populasi tunggal. Variabel yang diteliti meliputi faktor personal (usia, jenis kelamin, penyakit komorbid, antropometri, konsumsi obat. waktu istirahat, konsumsi air putih, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman bersoda, konsumsi minuman berenergi, konsumsi kopi, konsumsi teh, konsumsi legen, dan konsumsi tuak), faktor pekerjaan (jenis pekerjaaan, masa kerja, beban kerja, dan pakaian kerja), faktor iklim (temperatur, kelembaban, dan kecepatan angin), pajanan panas, tekanan panas, dan indikasi gangguan fungsi ginjal (eGFR CKD-EPI dan uKIM-1). Pengumpulan data menggunakan sampel urin, sampel darah, heat stress monitor, sphygmomanometer, oximeter, microtoise, timbangan badan, dan kuesioner. Analisis data bivariat menggunakan t-test sampel independen dan uji ChiSquare, sedangkan uji multivariat menggunakan cox regression. Hasil: Usia, konsumsi air putih, konsumsi teh, jenis pekerjaan, masa kerja, beban kerja (%CVL), pakaian kerja, tekanan panas, dan dehidrasi (BJU) berhubungan dengan indikasi gangguan fungsi ginjal eGFR (CKD-EPI). Konsumsi air putih, konsumsi minuman manis, dan beban kerja (observasi) berhubungan dengan indikasi gangguan fungsi ginjal uKIM-1 . Model yang terbentuk adalah HeGFR(t) = h0 (t) exp (0,393 pajanan panas pekerjaan + 0,551 konsumsi air putih + 0,339 konsumsi kopi + 1,446 beban kerja (%CVL) + 0,865 pakaian kerja) Kesimpulan: pajanan panas pekerjaan merupakan faktor risiko terjadinya indikasi gangguan fungsi ginjal eGFR (CKD-EPI), dengan turut mempertimbangkan faktor yang lain yaitu konsumsi air putih, konsumsi kopi, beban kerja (%CVL), dan pakaian kerja. Oleh karena itu, perlu aktivasi Pos UKK untuk memberdayakan pekerja dalam melakukan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja.

Introduction: Occupational heat exposure can pose a significant risk to workers' health, especially regarding their kidney function. Studies have shown fishermen and pemindang workers are particularly vulnerable to heat exposure. To address this issue, a study is being conducted to develop a model that examines the impact of occupational heat exposure on kidney function in workers within the East Java fisheries sector. Method: This research design is cross-sectional among fisheries sector workers in Lamongan District in December 2022 to February 2023. The sample size is 150 fishermen and pemindang was obtained using the hypothesis testing formula for a single population proportion. The variables studied included personal factors (age, gender, comorbid diseases, anthropometry, drug consumption, rest time, water consumption, consumption of sweet drinks, consumption of fizzy drinks, consumption of energy drinks, consumption of coffee, consumption of tea, consumption of legumes, and consumption of palm wine), work factors (type of work, length of work, workload, and work clothing), climate factors (temperature, humidity, and wind speed), heat exposure, heat stress, and indications of impaired kidney function (eGFR CKD-EPI and uKIM-1). Data collection uses urine samples, blood samples, heat stress monitor, sphygmomanometer, oximeter, microtoise, body weighing, and questionnaires. Bivariate data analysis uses the independent samples t-test and Chi-Square test, while the multivariate test uses cox regression. Results: Age, water consumption, tea consumption, type of work, years of work, workload (%CVL), work clothing, heat stress, and dehydration (BJU) were associated with indications of impaired kidney function eGFR (CKD-EPI). Water consumption, consumption of sweet drinks, and workload (observation) are associated with indications of impaired uKIM-1 kidney function. The model formed is HeGFR(t) = h0 (t) exp (0.393 occupational heat exposure + 0.551 water consumption + 0.339 coffee consumption + 1.446 workload (%CVL) + 0.865 work clothes) Conclusion: occupational heat exposure is a risk factor for indications of impaired kidney function eGFR (CKD-EPI), taking into account other factors, namely water consumption, coffee consumption, workload (%CVL), and work clothing. Therefore, it is necessary to activate the Pos UKK to empower workers to carry out occupational safety and health activities.
Read More
D-498
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wijayantono; Promotor: Umar Fahmi Achmadi; Ko Promotor: Dewi Susana, Tris Eryando; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Holani Achmad, Toni Wandra, Soewarta Kosen
D-255
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive