Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36402 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Jeffrey Christian Mahardhika; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Heru Pramanto, Felix Kasim
Abstrak:

Latar belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) meningkatkan utilisasi dan pendapatan pasien dari prosedur operasi rawat inap di RS Jakarta. Namun, peningkatan ini justru menurunkan laba rumah sakit akibat tarif JKN yang relatif rendah. Prosedur operasi bedah umum merupakan prosedur terbanyak yang dilakukan, tetapi memiliki utilitas kamar operasi terendah. Untuk itu, perlu dilakukan analisis efisiensi biaya prosedur ini sebagai dasar strategi pengembangan layanan untuk kesinambungan bisnis rumah sakit ke depan. Tujuan: Diketahui perbandingan tingkat efisiensi biaya prosedur operasi agar dapat memberikan rekomendasi strategi efisiensi dan pengembangan prosedur operasi bedah umum JKN di RS Jakarta agar tercapai kesinambungan bisnis rumah sakit yang baik. Metode: Penelitian menggunakan data prosedur operasi bedah umum pasien JKN tahun 2023. Biaya satuan dihitung menggunakan metode activity-based costing, mencakup biaya langsung dan tidak langsung. Efisiensi dinilai dengan membandingkan biaya aktual dengan biaya normatif berdasarkan clinical pathway. Total biaya diperoleh dari penjumlahan biaya prosedur dan akomodasi rawat inap. Skor efisiensi teknis dan skala dihitung dengan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA). Hasil: Rata-rata biaya satuan prosedur aktual di kamar operasi sebesar Rp3.515.894,65 dengan skor efisiensi 103,0%, yang idealnya ada di bawah 100%. Komponen biaya jasa medis dan obat serta bahan medis habis pakai (BMHP), menjadi pemicu utama inefisiensi. Rata-rata biaya total aktual, yaitu biaya satuan prosedur aktual di kamar operasi ditambah biaya akomodasi adalah Rp4.678.032,01 dengan skor efisiensi 108,4%. Biaya akomodasi menyumbang 24,8% dari biaya total dan berkontribusi besar pada inefisiensi. Prosedur paling efisien adalah hemoroidektomi kelas 3 dan insisi abses perianal (satu kelas). Kesimpulan: Biaya satuan prosedur operasi bedah umum di kamar operasi untuk pasien JKN tahun 2023 belum efisien karena penggunaan obat, BMHP, dan lama rawat inap yang tidak sesuai clinical pathway. Diperlukan penerapan clinical pathway yang ketat, perubahan sistem pembayaran jasa medis berbasis kinerja, serta optimalisasi metode dan jenis anestesi. Rumah sakit juga perlu meningkatkan kompetensi, khususnya di bidang bedah digestif, untuk menghadapi kebijakan kelas standar dan klasifikasi rumah sakit berbasis kompetensi.


Background: The National Health Insurance (JKN) program has led to increased inpatient utilization and revenue at RS Jakarta, particularly through surgical procedures. However, this increase has paradoxically reduced hospital profit margins due to the relatively low reimbursement rates under JKN. General surgery accounts for the highest number of procedures but demonstrates the lowest operating room utilization. Therefore, a cost-efficiency analysis of these procedures is essential to inform service development strategies that ensure long-term hospital sustainability.  Objective: This study aims to compare the cost efficiency of general surgical procedures for JKN patients, providing strategic recommendations to improve efficiency and develop general surgery services to support sustainable hospital operations.  Methods: The study used data on general surgical procedures performed on JKN patients in 2023. Unit costs were calculated using an activity-based costing method, incorporating both direct and indirect costs. Efficiency was assessed by comparing actual costs to normative costs based on clinical pathways. Total costs included both procedural and inpatient accommodation expenses. Technical and scale efficiency scores were calculated using the Data Envelopment Analysis (DEA) approach.  Results: The average unit cost for actual surgical procedures in the operating room was IDR 3,515,894.65, with an efficiency score of 103.0%, indicating inefficiency as ideal scores should be below 100%. Direct operating costs—particularly medical services, medications, and consumables—were the main contributors to inefficiency. The average total actual cost, including accommodation, was IDR 4,678,032.01, with an efficiency score of 108.4%. Accommodation costs accounted for 24.8% of the total and were a significant source of inefficiency. The most efficient procedures were Grade 3 hemorrhoidectomy and perianal abscess incision (single class).  Conclusion: The unit costs for general surgical procedures under JKN in 2023 remain inefficient relative to clinical pathway standards, primarily due to inappropriate use of medications, consumables, and extended length of stay. Improvements are needed through stricter clinical pathway implementation, performance-based physician remuneration, and optimization of anesthetic techniques. The hospital must also enhance competencies, particularly in digestive surgery, in anticipation of standard class policies and competency-based hospital classifications.

Read More
T-7250
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Dina Rusdi; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji : Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Jaenuri, Eddy Sulistijanto
Abstrak: Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang dalam penatalaksanaan penyakit tersebut memerlukan biaya yang besar karena pengobatan dilakukan secara intensif dan berlangsung terus menerus seumur hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya per episode pengobatan rawat jalan penyakit DM tipe 2 dan faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya tersebut berdasarkan perspektif RSUD Pasar Rebo pada tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian analitik deskriptif degan rancangan penelitian cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan total biaya pengobatan rawat jalan penyakit DM Tipe 2 selama setahun adalah sebesar Rp. 593.839.605, rata-rata biaya per episode pengobatan rawat jalan penyakit DM Tipe 2 di RSUD Pasar pada tahun 2015 adalah Rp 417.131 dan ada hubungan yang signifikan antara rata-rata biaya per episode pengobatan rawat jalan penyakit DM tipe 2 dengan umur, lama berobat dan jumlah komplikasi. Rata-rata pembayaran BPJS Kesehatan per episode pengobatan rawat jalan penyakit DM Tipe 2 di RSUD Pasar pada tahun 2015 adalah Rp 208.260. Dengan demikian, rata-rata pembayaran BPJS Kesehatan per episode pengobatan rawat jalan penyakit DM Tipe 2 lebih rendah dibandingkan biaya RSUD Pasar Rebo pada tahun 2015. Kata kunci : Biaya pengobatan rawat jalan penyakit DM tipe 2, COI DM tipe 2, penyakit kronis
Read More
T-4827
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zaki Dinul; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Mardiati Nadjib, Amila Megraini, Esti Nurwidiyanti, Fatchanuraliyah
Abstrak: Biaya pengobatan HIV/AIDS mahal. ODHA mengeluarkan biaya sendiri yangbesar untuk membiayai pengobatan. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkanOOP pada pasien HIV/AIDS rawat jalan. Penelitian ini merupakan penelitiananalitik deskriptif secara retrospektif dengan desain penelitian berupa desain studipotong lintang. Adapun sampel pada penelitian ini, yaitu pasien HIV/AIDS rawatjalan yang diambil secara acak sebesar 144 pasien. Rata-rata pengeluaran perkunjungan pasien sebesar Rp100.763,35 yang terdiri dari jasa dokterRp41.557,32, administrasi Rp4563,56 dan biaya tes laboratorium sebesarRp13.833,03. Rata-rata pengeluaran pasien umum dalam setahun sebesarRp999.755,10 dan pasien jaminan sebesar Rp268.116,50. Ada hubungan secarastatistik antara cara pembayaran terhadap Biaya Pengobatan setelah mengontrolvariabel status pasien, jumlah infeksi oportunistik, dan jumlah kunjungan (nilai psebesar 0,0005). Diharapkan pemerintah bisa menjamin penderita HIV/AIDSuntuk mendapatkan pengobatan agar bisa terhindar dari kerugian ekonomi.Kata kunci: biaya pengobatan, HIV/AIDS, OOP, RSKO
cost for treatment HIV/AIDS is expensive. PLHIV spent high cost for treatment (out-of-pocket). This research analized cost for treatment in outpatient with HIV/AIDS, usedcross sectional design. The sample in this research was 144 outpatient HIV/AIDS inRSKO, taken by simple random sampling. Out-of-Pocket for treatment was Rp100.763,35/visit consists of physician Rp41.557,31, medical (non-ARV) Rp5,administration Rp4.563,56, and laboratorium test Rp13.833,03. The mean for patientwith no insurance Rp999.755,10/year and with insurance Rp268.116,50. There issignificant relationship between payment and number of visit to expense (p value0,0005). Hope government could insure PLHIV for avoiding financial burden.Key words: cost for treatment, HIV/AIDS, Out-of-Pocket, RSKO
Read More
T-4060
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Sri Lestari; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Mardiati Nadjib, Ismandiya Wirasugena
T-3049
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erfan Chandra Nugraha; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Esti Widiastuti Mangunadikusumo, Donni Hendrawan
Abstrak:
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit katastropik yang membebani pembiayaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta penderitanya terus meningkat. Akses peserta JKN dengan DM dalam memanfaatkan layanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) masih dipandang banyak dimanfaatkan oleh segmen kepesertaan tertentu. Selain itu terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi akses layanan kesehatan di FKRTL. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis pemanfaatan layanan berdasarkan jenis kepesertaan serta mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan rawat jalan dan rawat inap tingkat lanjutan oleh peserta JKN penderita DM. Penelitian ini menggunakan data sekunder data sampel BPJS Kesehatan kontekstual DM tahun 2022. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan model regresi Zero Inflated Negative Binomial. Hasil uji statistik menunjukan pada rawat jalan, umur, jenis peserta, jenis kelamin, kelas rawat dan provinsi peserta signifikan berbeda dalam pemanfaatan layanan kesehatan sedangkan pada rawat inap, umur, kelas rawat dan provinsi peserta signifikan berbeda dalam pemanfaatan layanan kesehatan. Pengaruh jenis kepesertaan dalam program JKN berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan layanan di rawat jalan namun tidak berpengaruh signifikan pada rawat inap. Pemanfaatan peserta Non PBI lebih besar 1,16 kali dibandingkan peserta PBI pada rawat jalan.

Diabetes mellitus (DM) is a catastrophic disease that burdens the National Social Health Insurance Program (JKN) and sufferers continue to increase. Access for JKN participants with DM to utilize health services at Advanced Level Referral Health Facilities (FKRTL) is still widely seen as being used by certain participant segments. Apart from that, there are various factors that influence access to health services at FKRTL. The aim of this research is to analyze service utilization based on the type of membership and examine the factors that influence the utilization of advanced outpatient and inpatient services by JKN participants with DM. This research uses secondary data from the 2022 DM contextual BPJS Kesehatan sample data. The data was analyzed univariately, bivariately, and multivariately with the Zero Inflated Negative Binomial regression model. The statistical test results showed that in outpatient care, age, type of participant, gender, treatment class, and participant province were significantly different in terms of health service utilization, while in inpatient care, age, treatment class, and participant province were significantly different in terms of health service utilization. The influence of the type of maintenance in the JKN program has a significant effect on the utilization of services in outpatient care but does not have a significant effect on inpatient care. The utilization of non-PBI participants was 1.16 times greater than that of PBI participants in outpatient care.
Read More
T-6925
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Kurniawati; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti C. Soewondo, Jaenuri, Doni Arianto
Abstrak: Sejak 1 Januari 2014 pemerintah Indonesia berkomitmen melaksanakan sistem jaminan sosial nasional untuk memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang dilakukan secara bertahap menuju Universal Health Coverage pada tahun 2019 sesuai dengan Renstra Kemenkes 2015 2019. Kenaikan pendapatan seiring dengan kenaikan beban semenjak adanya implementasi JKN. kinerja RSUD mengalami peningkatan bila dilihat dari rasio keuangan. Selama tahun 2014 2017 nilai casemix index pada rawat jalan tidak mengalami perubahan sedangkan pada rawat inap mengalami peningkatan. Hospital Base Rate untuk rawat jalan dan rawat inap meningkat selama tahun 2014 2017
Read More
T-5495
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurbaiti; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Pengiji: Pujiyanto, Jaslis Ilyas, Yasni Rufaidah Z, Masni Asbudin
T-2621
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nira Susanti; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Ronnie Rivany, Rina Fitriani Bahar
T-2754
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nancy JH Nainggolan; Pembimbing: Hasbullah Thabrany, Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Faiq Bahfen, Sukotjo
T-2130
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jenal Mutakin Sambas; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Atik Nurwahyuni, Erfan Chandra Nugraha, Elisa Adam
Abstrak:
Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian dan penyerap biaya katastropik terbesar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan total kunjungan rawat inap dan biaya yang terus meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola pemanfaatan, biaya pelayanan, serta determinan utilisasi dan biaya rawat inap tingkat lanjutan (RITL) pada peserta JKN penderita PJK di Provinsi Jawa Barat tahun 2024. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder klaim BPJS Kesehatan (SSBI) yang mencakup 22.986 episode pelayanan rawat inap. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi Quasi-Poisson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hanya menjalani satu kali episode rawat inap (98,55%), dengan utilisasi terkonsentrasi di Kota Bandung (25,92%). Total biaya pelayanan mencapai Rp320,01 miliar dengan rata-rata Rp13.922.137 per episode. Berdasarkan analisis multivariat, determinan yang berhubungan signifikan dengan utilisasi RITL adalah komorbid (IRR = 1,006; p = 0,009) dan tingkat keparahan level III (IRR = 1,011; p = 0,003). Sementara itu, determinan biaya RITL yang bermakna meliputi jenis case group INA-CBGs (koefisien +Rp22,68 juta; p < 0,001), tingkat keparahan, komorbid, hak kelas rawat, dan tipe FKRTL. Segmen peserta dan status kepemilikan FKRTL tidak terbukti berpengaruh secara independen terhadap utilisasi maupun biaya. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor klinis mendominasi utilisasi pelayanan, sedangkan kompleksitas tata laksana medis menjadi penentu utama biaya. Prinsip ekuitas JKN terbukti berjalan dengan baik pada pelayanan rawat inap PJK di Jawa Barat.

Coronary Heart Disease (CHD) is the leading cause of mortality and the largest driver of catastrophic healthcare expenditure within Indonesia's National Health Insurance (JKN) program, with inpatient visits and costs rising steadily each year. This study aimed to analyze utilization patterns, service costs, and the determinants of advanced inpatient care (RITL) utilization and expenditure among JKN participants with CHD in West Java Province in 2024. A cross-sectional design was applied using secondary data from BPJS Kesehatan claims (SSBI), covering 22,986 inpatient episodes. Data were analyzed through univariate, bivariate, and multivariate approaches using Quasi-Poisson regression. Results showed that the majority of patients underwent only a single inpatient episode (98.55%), with utilization concentrated in Bandung City (25.92%). Total service expenditure reached IDR 320.01 billion, with a mean cost of IDR 13,922,137 per episode. Multivariate analysis identified comorbidity (IRR = 1.006; p = 0.009) and severity level III (IRR = 1.011; p = 0.003) as significant independent determinants of inpatient utilization. Significant determinants of inpatient cost included INA-CBGs case group (coefficient +IDR 22.68 million; p < 0.001), severity level, comorbidity, ward class entitlement, and hospital type. Membership segment and hospital ownership status were not independently associated with either utilization or cost. These findings indicate that clinical need factors dominate inpatient utilization, while the complexity of medical management is the primary driver of costs. The equity principle of JKN is shown to be functioning effectively in CHD inpatient care in West Java.
Read More
T-7571
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive