Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 18687 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wahyuningsih Djaali; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Helda, Hasan Mihardja; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Ratna Djuwita, Aida Rosita Tantri, Rudy Hidayat, Gea Pandhita
D-575
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ainun Jhariah Hidayah; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Rahmi Binarsih
Abstrak: Penyakit infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk di Indonesia. Progresivitas penyakit pada pasien HIV/AIDS dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor usia, genetik, penyakit infeksi lain seperti tuberkulosis dan hepatitis, faktor gizi, status imunologi dan lain-lain. Adanya pengobatan ARV belum mampu menyembuhkan penyakit namun mampu mengontrol progresivitas penyakit HIV dan AIDS dengan menekan replikasi virus, mengurangi timbulnya infeksi oportunistik. Walaupun program ini telah dilaksanakan, namun kematian akibat HIV tetap saja terjadi terutama pada tahun pertama pengobatan ARV. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prediktor yang berhubungan dengan kematian pada pasien HIV-AIDS yang mendapatkan terapi ARV di RS dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Tahun 2008-2012. Desain studi yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data register ART dan Rekam Medik. Sampel berjumlah 396 pasien HIV yang menggunakan ARV. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Regresi Cox. Hasil analisis multivariat menunjukkan prediktor kematian pasien HIV-AIDS yang mendapatkan ARV adalah status fungsional baring (RR=2,34, 95% CI:1,32-4,11), kategori IO berat (RR=2,11, 95% CI:1,26-3,54), dan status anemia (RR=2,56, 95% CI:1,74-3,77). Diperlukan perhatian khusus dan pemantauan bagi pasien HIV-AIDS yang menggunakan ARV dengan status fungsional baring, anemia, dan memiliki infeksi oportunistik yang berat. Kata kunci: ARV; HIV-AIDS; kohort retrospektif; kematian; prediktor
Human Immunodeficiency Virus (HIV) is still an issue in health sector in the world, particularly in Indonesia. Progression of disease is influenced by various factors including age, genetic, and other infectious diseases such as tuberculosis and hepatitis, nutritional factors, and immunological status. ARV therapy has not been able to cure the disease yet is able to control the progression of HIV/AIDS by suppressing viral replication which reduce the incidence of opportunistic infections. Although the program has been implemented, the deaths from HIV continue to occur, especially in the first year of ARV treatment. This study aims to investigate the predictors related to death in HIV-AIDS patients with ARV therapy in Dr. H. Marzoeki Mahdi Hospital in Bogor in 2008-2012. The study design was retrospective cohort using ART registration data and Medical Record. Number of samples were 396 HIV patients with ARV therapy. Data analysis was performed using Cox Regression. The multivariate analysis showed that the predictors of deaths in HIV-AIDS patients with ARV therapy were functional baring status (RR = 2.34, 95% CI: 1.32-4.11), heavy IO category (RR = 2.11, 95% CI : 1.26-3.54), and anemia status (RR = 2.56, 95% CI: 1.74-3.77). Special attention and monitoring are required for HIV/AIDS patients taking antiretroviral medications with functional status of baring, anemia, and having severe opportunistic infections. Keywords: ARV; HIV-AIDS; Retrospective cohort; Death; Predictors.
Read More
T-4871
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qurratu Ayunin; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Taufan Harun Habibie
Abstrak:
Jumlah infeksi baru HIV di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai 46.000 dan jumlah kematian yang disebabkan oleh HIV sejumlah 38.000 kematian pada Tahun 2018. Koinfeksi Hepatitis C pada pasien HIV cukup tinggi yaitu berkisar 2-15%.  Penelitian ini bertujuan meneliti pengaruh koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tebet pada tahun 2015-2020. Penelitian dilakukan menggunakan desain kohort retrospekstif dengan analisis kesintasan. Pengambilan data dilakukan secara total sampling yang memenuhi kriteria inklusi sebesar 284 sampel. Data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian yang diteliti. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan masing-masing variabel independen dengan kesintasan pasien HIV dengan menggunakan Regresi Cox. Analisis multivariat dilakukan untuk mendapatkan model yang robust dan parsimonius dengan analisis Regresi Cox. Hasil penelitian menjukkan kesintasan kumulatif pasien HIV yaitu 85,4 %. Pengaruh koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV di RSUD Tebet Tahun 2015-2020 didapatkan HR 1,94 (95% CI 0,81-4,6) dengan nilai p: 0,13 setelah dikontrol oleh variabel indeks massa tubuh dan status kerja. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik dari koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV di RSUD Tebet Tahun 2015-2020.

The number of new HIV infections in Indonesia is still high, reaching 46,000 and number of deaths caused by HIV is 38,000 in 2018. Hepatitis C coinfection in HIV patients is high, ranging from 2-15%. This study aims to examine the effect of hepatitis C coinfection on survival of HIV patients receiving antiretroviral therapy at Tebet Regional Public Hospital (RSUD) in 2015-2020. This research used retrospectif cohort design with survival analysis and used total sampling as much as 284 HIV patients. Data were analyzed univariately to see the frequency distribution of each variable studied. Bivariate analysis was performed to see the relationship of each independent variable with the survival of HIV. Multivariate analysis was performed to obtain robust and parsimonius models with Cox Regression. The results of research found cumulatif survival of HIV patients in RSUD Tebet were 85,4 %. The Effect of Hepatitis C Coinfection on Survival HIV Patients Who Receive Antiretroviral Therapy in RSUD Tebet from 2015 until 2020 had HR 1,94 (95% CI 0,81-4,6) after adjusted with body mass index and working status. There were no corelation from Hepatitis C Coinfection on Survival HIV Patients Who Receive Antiretroviral Therapy in RSUD Tebet from 2015 until 2020.

Read More
T-5905
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Lusinta; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C Adisasmita, Samad
Abstrak:

Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas tersering pada neonatus. Ketepatan pemberian antibiotik empirik memegang peranan penting dalam keberhasilan terapi. Kegagalan terapi antibiotik yang biasanya dikaitkan dengan terapi empirik, terjadi jika tujuan pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi tidak tercapai, yang ditandai dengan menetapnya atau bahkan memburuknya manifestasi klinis infeksi pada pasien, namun definisi pasti belum ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan model prediksi dari faktor-faktor yang berhubungan dengan kegagalan terapi antibiotik empirik lini I pada pasien sepsis neonatal di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro.  Penelitian dilakukan dengan desain kohort retrospektif pada 237 pasien dengan sepsis neonatal. Analisis multivariat dengan regressi poisson dilakukan untuk mendapatkan model akhir dari faktor-faktor yang berhubungan. Selanjutnya dilakukan konversi nilai koefisien β menjadi nilai skor untuk membentuk model prediksi. Model akhir yang didapat dilakukan analisis diskriminasi dengan menilai area under curve (AUC) pada kurva receiver operating characteristics (ROC) dan titik potong yang optimal akan ditentukan berdasarkan total skor. Hasil penelitian diperoleh proporsi kegagalan terapi antibiotik empirik lini I sebesar 46,41%. Faktor yang berhubungan dengan kegagalan terapi antibiotik empirik lini I adalah berat lahir < 2500 gram (aRR 1,46, p-value 0,028, IK95% 1,04-2,05), tidak mendapat ASI (aRR 1,66, p-value <0,005, IK95% 1,28-2,14), rujukan (aRR 1,25, p-value 0,090, IK95% 0,96-1,63), leukosit yang tidak normal (aRR 1,31, p-value 0,080, IK95% 0,96-1,79), trombosit yang tidak normal (aRR 1,66, p-value <0,005, IK95% 1,30-2,12) dan netrofil yang tidak normal (aRR 1,47, p-value 0,003, IK95% 1,14-1,89). Model prediksi ini mempunyai nilai AUC 0,7661 (IK95% 0,70890 – 0,82013). Ditetapkan titik potong sebesar ≥ 29 dengan nilai sensitifitas 80,00% dan spesifisitas 62,20%. Kesimpulan penelitian ini adalah model prediksi yang diperoleh cukup baik untuk memprediksi kegagalan terapi antibiotik empirik lini I. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian yang lebih baik menggunakan prediktor yang lebih spesifik.


 

Neonatal sepsis is one of the most common causes of morbidity and mortality in neonates. Accuracy in administering antibiotics empirically plays an important role in the success of therapy. Failure of antibiotic therapy, which is usually associated with empiric therapy, occurs if the goal of administering antibiotics to treat infection is not achieved, which is characterized by persistence or even worsening of the clinical infection manifested in the patient, but a definite definition has not been established. This study aims to identify and develop a predictive model of factors associated with failure of first line empiric antibiotic therapy in neonatal sepsis patients at RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro.  The study was conducted with a retrospective cohort design on 237 patients with neonatal sepsis. Multivariate analysis with Poisson regression was carried out to obtain a final model of related factors. Next, the β coefficient value is converted into a score value to form a predictive model. The final model obtained by discrimination analysis is carried out by assessing the area under curve (AUC) on the receiver operating characteristic (ROC) curve and the optimal cut point will be determined based on the total score. The results of the study showed that the proportion of failure of first line empirical antibiotic therapy was 46.41%. Factors associated with failure of first line empiric antibiotic therapy were birth weight < 2500 grams (aRR 1.46, p-value 0.028, 95%CI 1.04-2.05), not receiving breast milk (aRR 1.66, p -value <0.005, 95%CI 1.28-2.14), outborn (aRR 1.25, p-value 0.090, 95%CI 0.96-1.63), abnormal leucocite (aRR 1.31, p-value 0.080, CI95% 0.96-1.79), abnormal platelet values (aRR 1.66, p-value <0.005, 95%CI 1.30-2.12) and abnormal neutrophils (aRR 1.47, p-value 0.003, 95%CI 1.14-1.89). The predictive model has an AUC value of 0.7661 (95%CI 0,70890 – 0,82013). The cut point was set at ≥ 29 with a sensitivity value of 80.00% and specificity of 62.20%. The conclusion of this study is that the predictive model obtained is good enough to predict failure of first line empirical antibiotic therapy. Further research needs to be carried out with a better research design using more specific predictors.

Read More
T-7086
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kevin Dermawan; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Syahrizal, M. Adi Firmansyah
Abstrak:
Latar Belakang. COVID-19 telah menjadi pandemi global yang mengerikan dan bahkan tidak sedikit menyebabkan kematian. Penggunaan dari remdesivir sebagai terapi emergensi pada pertengahan tahun 2020 menyebabkan munculnya berbagai laporan yang mengaitkan penggunaannya terhadap gagal ginjal akut pada awal tahun 2021. Hal ini diperkirakan diakibatkan oleh adanya molekul sulfobutylehter-beta-cyclodextrin (SBECD) yang dapat menumpuk pada ginjal. Remdesivir lebih diutamakan pada kasus-kasus berat dan proporsi dari gagal ginjal akut lebih tinggi dilaporkan pada pasien perawatan ICU, sehingga penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana fungsi ginjal dapat terganggu akibat penggunaannya. Metode. Penelitian dilakukan secara observasional pre dan post remdesivir dengan pengumpulan data berdasarkan rekam medis rumah sakit. Pengumpulan data dilakukan pada RS Swasta di Tangerang periode Januari 2021 – Juli 2022. Data yang dikumpulkan termasuk usia, jenis kelamin, hipertensi, diabetes melitus, penggunaan antibiotik, steroid, antikoagulan, CRP, D-dimer dan fungsi ginjal (ureum, kreatinin, dan laju filtrasi ginjal). Analisis menggunakan uji Wilcoxon untuk membandingkan fungsi ginjal dan dibentuk model prediktif dengan regresi linear. Hasil. Dari 46 subyek yang mendapat terapi remdesivir didapatkan mayoritas adalah laki-laki dengan median usia 57 tahun. Model prediktif dengan variabel usia, jenis kelamin, hipertensi, DM, CRP, dan D-dimer menghasilkan nilai P 0,341; R2 0,153. Analisis stratifikasi dengan hipertensi, DM, CRP dan D-dimer menunjukkan adanya kemaknaan secara statistik (nilai P < 0,05). Kesimpulan. Terapi dengan remdesivir pada pasien COVID-19 yang dirawat di ICU dapat mengalami penurunan fungsi ginjal yang bermakna. Faktor risiko hipertensi, DM, nilai CRP dan D-dimer yang tinggi dapat memperburuk penurunan fungsi ginjal, sehingga perlu diperhatikan penggunaannya pada praktik klinis sehari-hari.

Background. COVID-19 has been a terrifying global pandemic and causing a considerable amount of death. The use of remdesivir as emergency treatment of COVID-19 was approved during the mid of 2020 and since then has been a lot of reports indicating acute kidney injury in relation to it in early 2021. This adverse event was hypothesized to be caused by a molecule called sulfobutylehter-beta-cyclodextrin (SBECD) which can cause deposits in the kidney promoting acute kidney injury. Remdesivir has been widely used in severe cases and acute kidney injury was found to be higher in ICU patients. Therefore, this study aims to show how these factors can cause kidney injury. Methods. This observational pre- and post-remdesivir study was conducted using hospital medical records. Data was collected from private hospitals in Tangerang during January 2021 to July 2022. The collected information include age, gender, hypertension, diabetes melitus, antibiotics, steroids, anticoagulants, CRP, D-dimer and kidney functions laboratory data. These data were analysed using Wilcoxon and predictive model generated with linear regression. Results. Out of all 46 subjects that included in the study, most of the participants are male with the age median of 57 years old. Predictive model with age, gender, hypertension, DM, CRP, and D-dimer fails to produce a convincing model with P-value 0,341 and R2 0,153. However, stratification analysis with hypertension, DM, CRP, and D-dimer as covariates shows statistically significant decrease in glomerular filtration rate with P-value < 0,05. Conclusion. Remdesivir therapy in patients with COVID-19 admitted to ICU could easily cause deterioration in kidney functions. Therefore, patients with risk factors such as hypertension, diabetes melitus, higher CRP and D-dimer value should be monitored closely by checking the creatinine and urine output regularly.
Read More
T-6890
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Johan Harlan; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo, Kopromotor, Sooemarmo Markam
D-80
Depok : FKM UI, 2003
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Zaki; Promotor: Sudarto Rono admojo; Kopromotor: Ratna Djuwita, Nurhayati A Prihartono; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Andri MT Lubis, Rimbawan, Agus Hadi Rahiman
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Saat ini terdapat perbaikan Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk Indonesia dan penambahan populasi penduduk lanjut usia. Pada tahun 2017, AHH mencapai 71,06 tahun, dan jumlah lansia 23,4 juta orang (8,97% dari seluruh penduduk Indonesia). Hal ini berisiko meningkatkan kejadian penyakit degeneratif. Osteoartritis (OA) adalah penyakit yang sering dikaitkan dengan kondisi degeneratif dan mengakibatkan ketidakaktifan fisik. Pada Riskesdas 2013, penyakit Artritis berada di urutan kedua penyakit terbanyak diderita lansia dengan prevalensi 45% (55-64 tahun), 51,9% (65-74 tahun) dan 54,8% (usia >75 tahun). Pengobatan simtomatik dengan OAINS yang berkepanjangan dapat mengakibatkan efek samping yang fatal. Terdapat berbagai faktor risiko berkembangnya OA lutut, di antaranya konsentrasi serum Vitamin D (25(OH)D. Proporsi perempuan lansia dengan defisiensi 25(OH)D pada penelitian di Jakarta dan Bekasi mencapai 35,1%. Terdapat hubungan antara kadar Vitamin D (25(OH)D) yang rendah dengan nyeri lutut dan perubahan kartilago sendi lutut pada OA. Serum Cartilage Oligomeric Matrix Protein (COMP) merupakan produk degradasi penting dari kartilago sendi dan dapat menjadi marker diagnosis untuk OA lutut. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian suplemen Vitamin D (Alphacalcidol) selama 12 minggu terhadap derajat nyeri berdasarkan indikator WOMAC, dan kondisi obyektif kartilago sendi dengan perubahan marker serum COMP pada penderita OA lutut lansia. Disain penelitian uji klinis teracak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo. Subyek dengan OA lutut simtomatis direkruit secara consecutive sampling dan dilakukan anamnesis, diperiksa kondisi fisik, radiologi lutut, kadar serum Vitamin D (25(OH)D), serum Calcium dan marker COMP. Subyek dialokasikan secara acak (random allocation) pada kelompok perlakuan yang diberikan suplemen Vitamin D (Alphacalcidol) atau kelompok kontrol yang diberikan plasebo. Populasi sumber xviii Universitas Indonesia pada penelitian ini ialah pasien OA lutut lanjut usia yang berobat ke KPKM FKIK UIN Jakarta. Dari hasil pemeriksaan konsentrasi serum Vitamin D 25(OH)D sebelum dilakukan intervensi, 53,4% responden mengalami insufisiensi dan 12,3% responden mengalami defisiensi Vitamin D. Pemberian suplemen Vitamin D (Alphacalcidol) selama 12 minggu, mempengaruhi penurunan derajat nyeri berdasarkan indikator WOMAC pada penderita OA lutut lansia yang bermakna secara statistik dengan perbedaan perubahan skor pra dan pascaintervensi pada kelompok intervensi dibanding kontrol sebesar 2,174 (p=0,00). Pemberian suplemen Vitamin D (Alphacalcidol) selama 12 minggu, mempengaruhi penurunan konsentrasi serum COMP pada penderita OA lutut lansia, dengan perbedaan perubahan skor pra dan pascaintervensi pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol sebesar 38,15 ng/ml namun tidak bermakna secara statistik (p=0,39)
 

ABSTRACT
 
 
At present there are improvements in the Life Expectancy (AHH) of the Indonesian population and the addition of the elderly population. In 2017, AHH reached 71.06 yo and the number of elderly people reached 23.4 million people (8.97% of the total population of Indonesia). This has the potential to increase degenerative diseases. Osteoarthritis (OA) is a disease that is often associated with degenerative conditions and physical inactivity. Riskesdas in 2013 stated that Arthritis was the second most common disease suffered by the elderly with a prevalence of 45% (55-64 yo), 51.9% (65-74 yo) and 54.8% (>75 yo). Symptomatic treatment with prolonged NSAIDs can cause fatal side effects. There are various risk factors for developing knee OA, including serum Vitamin D (25(OH)D) concentrations. The proportion of elderly women with 25(OH)D deficiency in studies in Jakarta and Bekasi reaches 35.1%. It has been found an association between low Vitamin D levels (25(OH)D) with knee pain in OA and changes in the knee joint cartilage. Cartilage Oligomeric Matrix Protein (COMP) is an important degradation product of joint cartilage and can be act as a diagnostic marker of knee OA. This study aims to determine the effect of Vitamin D supplementation (Alphacalcidol) for 12 weeks on the degree of pain based on WOMAC indicators, and the objective conditions of joint cartilage with changes in COMP serum markers in patients with knee OA in the elderly. The research design is a randomized, double-blind, and placebo-controlled clinical trials. Subjects with symptomatic knee OA will be recruited by consecutive sampling and continued with history taking, physical conditions examinatons, knee radiology, and blood test for serum vitamin D (25(OH)D), serum calcium and marker COMP. Subjects were then randomly allocated to the treatment group given Vitamin D supplements (Alphacalcidol) or the control group given a placebo. The source population in this study was elderly with knee OA patients xx Universitas Indonesia who went to Primary Health Care Clinic (KPKM) of FKIK UIN Jakarta. We found that before intervention was done, 53.4% of respondents had Vitamin D insufficiency and 12.3% of respondents had Vitamin D deficiency. The administration of Vitamin D supplements (Alphacalcidol) for 12 weeks, influenced the decrease in the degree of pain based on the WOMAC indicator in knee OA of elderly patients significantly, with differences in changes in pre and post intervention scores of 2.174 compare with control (p=0.00). The administration of Vitamin D supplements (Alphacalcidol) for 12 weeks, affected the decrease in the serum concentration of COMP in knee OA of elderly patients, with differences in changes in pre and post intervention scores in the intervention group compared to the control group of 38.15 ng/ml but not statistically significant (p=0.39).
Read More
D-401
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lita Kusmalasari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Aldrin Neilwan Pancaputra, Rizka Andalusia
T-4055
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Rizka; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Trisari Anggondowati, Findy Prasetyawaty, Ridzqie Dibyantari
Abstrak:
Latar Belakang. Kemoterapi merupakan salah satu modalitas terapi kanker pada pasien usia lanjut yang dapat menyebabkan risiko berat, terutama pada pasien usia lanjut dengan sindrom frailty. Hingga saat ini belum ada model prediksi kemotoksisitas dengan variabel frailty. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi kemotoksisitas berat pada usia lanjut yang melibatkan penilaian status frailty. Metode. Penelitian kohort retrospektif menggunakan data sekunder terhadap pasien usia lanjut yang menjalani kemoterapi di RSCM tahun 2019-2021. Dilakukan pemeriksaan determinan (jenis kelamin, usia, jenis kanker, jumlah regimen kemoterapi, status nutrisi, status frailty, polifarmasi, fungsi kognitif, status fungsional dan depresi) sebelum kemoterapi. Pasien diikuti hingga 21 hari pasca kemoterapi siklus pertama untuk dinilai apakah mengalami luaran kemotoksisitas berat berdasarkan kriteria CTCAE grade 3-5. Dilakukan analisis untuk pengembangan model prediksi dengan regresi Cox dan perhitungan performa prognostiknya menggunakan perangkat SPSS. Hasil. Dari 193 subyek yang menjalani kemoterapi, sebagian besar laki-laki dengan median usia 65,6 (RIK 60-82). Toksisitas berat terjadi pada 36% subyek. Model prediksi yang dikembangkan terdiri dari 4 determinan yaitu polifarmasi, penggunaan regimen kemoterapi lebih dari satu obat, status frailty dan jenis kanker saluran cerna. Model ini memiliki AUC 0,79 (IK95% 0,70-0,88) dengan p=0,01. Kesimpulan. Model prediksi dengan variabel polifarmasi, regimen kemoterapi lebih dari satu, status frailty dan jenis kanker saluran cerna dapat memprediksi kejadian toksisitas berat kemoterapi pada usia lanjut dengan performa baik
Background. Chemotherapy is a therapeutic modality for elderly with cancer which can pose elderly, especially frail patients, to fatal side effect. To date, there is no prediction model incorporating frailty in clincal practice. This study aims to develop prediction model which includes frailty state evaluation in predicting severe chemotoxicity in elderly. Methods. A retrospective cohort study using secondary data of elderly underwent chemotherapy during 2019-2021 was conducted in Cipto Mangunkusumo Hospital. Data of determinants ( sex, age, polypharmacy, frailty status, nutritional status, depression, cognitive status, cancer type, polychemotherapy, and functional status) and the incidence severe chemotherapy side effect according to grade 3-5 CTCAE were collected. Data was analyzed to develop prediction model with Cox regression using SPSS Results. Of 193 subjects, most of them are male, with median age of 65.6 (IQR 60-82) years old. Severe chemotoxicity was found in 36% of the subjects. Prediction model consists of polypharmacy, number of chemotherapy drugs, cancer type and frailty status was developed. The model has AUC of 0.79 (95% CI 0.70-0.88), p value 0,01 Conclusion. A prognostic Model consists of polypharmacy, number of chemotherapy drugs, cancer type and frailty status can predict incidence of severe chemotoxicity in elderly with AUC 0.79 (95%CI 0.70-0.88)
Read More
T-6596
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Masnjoer; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Rudiyanto Sedono
Abstrak: Hasil. Median kesintasan lama rawat intensif 43 jam. Nilai skor EuroSCORE tidak memenuhi asumsi hazard proporsional. Model baru telah dibuat dari 7 variabel EuroSCORE yang secara substansi berhubungan dengan lama rawat intensif (AUC 0,67). Kesimpulan. Model baru dari tujuh faktor EuroSCORE cukup dapat memprediksi lama rawat intensif 48 jam. Kata Kunci: Model prediksi, lama rawat intensif, bedah jantung, regresi Cox
Read More
T-4221
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive