Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32819 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ade Fadly H Masse; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Triyanti, Idris Galla, Andi Muhammad RPN
Abstrak:

Abstrak
Stunting di Kabupaten Bantaeng masih menjadi tantangan dengan prevalensi 15,8%. Keberhasilan dalam menekan angka ini menjadi dasar untuk menelaah peran strategis KPM sebagai garda terdepan dalam program konvergensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah implementasi peran KPM dalam upaya pencegahan stunting serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat efektivitasnya di Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif fenomenologi dengan total 24 informan yang terdiri dari 7 KPM, 3 kepala desa, 5 tenaga kesehatan, 3 kader posyandu, dan 6 perwakilan masyarakat sasaran. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen , yang kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan peran KPM sangat efektif dalam memfasilitasi akses terhadap layanan KIA, sanitasi, dan jaminan kesehatan, berkat kolaborasi lintas sektor dan dukungan penuh pemerintah desa. Namun, masih kurang optimal dalam intervensi yang bersifat edukatif untuk mengubah perilaku, seperti pada aspek konseling gizi dan partisipasi PAUD. Faktor penghambat utamanya adalah norma sosial yang kuat di masyarakat dan keterbatasan sumber daya untuk program edukasi yang terstruktur. Penelitian ini menyimpulkan implementasi peran KPM efektif pada intervensi yang didukung program pemerintah yang konkret dan terukur, namun lemah dalam mengubah pengetahuan dan norma sosial. Lebih lanjut, ditemukan pula kesenjangan antara kualifikasi pendidikan formal KPM dengan kompleksitas tugas edukasi dan konseling gizi yang harus diemban secara efektif. Disarankan agar Pemerintah Daerah mengembangkan kampanye sosialisasi untuk mengubah norma sosial dan mengalokasikan dana untuk program edukasi terstruktur. Selain itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) perlu mengevaluasi kembali standar rekrutmen KPM dan merancang pelatihan terstandar dan berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas KPM.


 

Stunting remains a challenge in Bantaeng Regency, with a prevalence of 15.8%. This study explores the strategic role of Human Development Cadres (KPM) in the stunting prevention program and identifies supporting and hindering factors affecting their effectiveness. Using a qualitative phenomenological approach, the study involved 24 informants: 7 KPM, 3 village heads, 5 health workers, 3 Posyandu cadres, and 6 community representatives. Data collection was done through in-depth interviews and document reviews, followed by thematic analysis. Findings show that KPM are effective in improving access to maternal and child health services, sanitation, and health insurance due to strong cross-sector collaboration and village government support. However, their role is less optimal in educational interventions, particularly in nutrition counseling and increasing participation in early childhood education (PAUD). Key challenges include persistent social norms and limited resources for structured educational programs. There is also a gap between KPM’s formal education levels and the complex tasks of health education and counseling. The study concludes that KPM play an effective role in interventions backed by clear government programs but face difficulties in changing behaviors and social norms. It recommends that local governments strengthen social norm change campaigns and allocate funding for structured education. Furthermore, the Community and Village Empowerment Office (DPMD) should review recruitment standards and provide ongoing, standardized training to enhance KPM capacity.

 

Read More
T-7295
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabila Nindy Sabara; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Junaidah
Abstrak:
Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak. Kabupaten Bogor, sebagai salah satu wilayah dengan prevalensi stunting yang tinggi di Jawa Barat, telah mengimplementasikan program Orang Tua Asuh Anak Stunting sebagai bentuk intervensi gizi sensitif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan program tersebut oleh Jimmy Hantu Foundation melalui pendekatan teori sistem model Input-Process-Output (IPO). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, serta teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek input, program didukung oleh keterlibatan sumber daya manusia yang cukup, pendanaan dari donatur, dan sarana prasarana yang memadai. Pada aspek process, kegiatan dirancang melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang cukup terstruktur meskipun masih ditemukan tantangan koordinasi lintas sektor. Sementara dari aspek output, program memberikan dampak positif terhadap perubahan status gizi anak dan peningkatan kesadaran orang tua, meskipun cakupan penanganan masih dapat ditingkatkan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan koordinasi antar stakeholder serta peningkatan monitoring dan evaluasi program secara berkelanjutan guna menekan prevalensi stunting di Kabupaten Bogor.

Stunting is a chronic nutritional issue that has serious consequences for a child's growth and development. Bogor Regency, one of the regions with a high stunting prevalence in West Java, has implemented the Foster Parent Program for Stunting Children as a form of nutrition sensitive intervention. This study aims to describe the implementation of the program by Jimmy Hantu Foundation using the Input-Process-Output (IPO) systems theory approach. A qualitative case study method was used, with data collected through in-depth interviews with key informants. The findings indicate that in terms of input, the program is supported by sufficient human resources, funding from donors, and adequate facilities and infrastructure. In the process aspect, activities are structured through planning, organizing, implementation, and supervision stages, although some cross sector coordination challenges remain. In the output aspect, the program has had a positive impact on improving children's nutritional status and increasing parental awareness, although coverage can still be improved. This study recommends strengthening coordination among stakeholders as well as enhancing continuous monitoring and evaluation to reduce stunting prevalence in Bogor Regency.
Read More
S-11897
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhani; Pembimbing: Anwar Hassan; Penguji: Yovsyah, Wilfred H Purba, Aniz Abdul Muis
T-2652
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizza Yussi Listiani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Evi Martha, Fera Anjar Pratiwi, Umi Rodiyah
Abstrak:
Konsumsi Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) pada remaja terus meningkat dan menjadi salah satu faktor risiko masalah kesehatan. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa proporsi remaja usia 15–19 tahun yang mengonsumsi MBDK ≥1 kali per hari masih tinggi. Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, merupakan salah satu wilayah dengan risiko tinggi, ditandai dengan angka diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 11,7% (SKI, 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku konsumsi MBDK pada remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 128 responden. Pengumpulan data dilakukan secara self-administered menggunakan Google Form dan dianalisis dengan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82,8% remaja memiliki perilaku konsumsi MBDK tinggi. Jenis minuman yang paling sering dikonsumsi adalah kopi dan teh dalam kemasan dengan frekuensi 2–3 kali per minggu. Analisis multivariat mengungkapkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan perilaku konsumsi MBDK adalah Preferensi, dengan peluang 3,2 kali lebih memiliki preferensi suka MBDK dibandingkan yang tidak suka MBDK., setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan ketersediaan minuman di rumah.

Consumption of Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) among adolescents continues to increase and has become one of the risk factors for various health problems. Data from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) show that the proportion of adolescents aged 15–19 years who consume SSBs ≥1 time per day remains high. Tambun Selatan Subdistrict, Bekasi Regency, is one of the areas with a high risk, indicated by the diabetes prevalence among individuals aged ≥15 years reaching 11.7% (SKI, 2023). This study aimed to determine the factors associated with SSB consumption behavior among high school students in Tambun Selatan Subdistrict, Bekasi Regency. This cross-sectional study involved 128 respondents. Data were collected through a self-administered questionnaire using Google Forms and analyzed using multiple logistic regression. The results showed that 82.8% of adolescents had a high level of SSB consumption. The most frequently consumed beverages were packaged coffee and tea, with a frequency of 2–3 times per week. Multivariate analysis revealed that the dominant factor associated with SSB consumption behavior was preference, with adolescents who preferred SSBs having 3.2 times higher odds of consuming them compared to those who did not, after controlling for sex and beverage availability at home.
Read More
T-7470
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Ratnawati; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Rita Damayanti, Dwi Wahyu Balebu, Melyana
Abstrak:
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum di dunia, termasuk di Indonesia. Meskipun pengobatan hipertensi tersedia, banyak penderita yang tidak sepenuhnya mematuhi pengobatan yang diberikan oleh tenaga medis. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan hipertensi adalah literasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan dalam kepatuhan pengobatan pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Toili II. Penelitian menggunakan desain cross-sectional yang melibatkan 152 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan two-stage cluster sampling, dan data dikumpulkan secara primer pada bulan Mei 2025. Variabel independen adalah literasi kesehatan, variabel dependen yaitu kepatuhan pengobatan, serta variabel konfonder meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, dan dukungan sosial. Instrumen yang digunakan MMAS-8 untuk kepatuhan pengobatan, HLS-EU-Q16 untuk literasi kesehatan, dan DUFSSQ untuk dukungan sosial. Analisis data meliputi univariat, bivariat (menggunakan uji Pearson dan t-test independen), serta multivariat dengan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara literasi kesehatan dan kepatuhan pengobatan (r= 0,156; p= 0,05). Adanya hubungan positif antara literasi kesehatan dan kepatuhan pengobatan. Artinya semakin tinggi tingkat literasi kesehatan seseorang, maka semakin besar pula kecenderungan untuk patuh dalam menjalani pengobatan hipertensi, namun literasi kesehatan bukan satu-satunya faktor penentu. Puskesmas diharapkan meningkatkan edukasi pasien dan keluarga terkait pentingnya kepatuhan pengobatan jangka panjang melalui penyuluhan yang terjadwal dan strategi komunikasi yang sesuai, terutama bagi lansia dan kelompok berpendidikan rendah. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal atau kualitatif untuk menggali lebih dalam faktor kepatuhan pengobatan hipertensi.

Hypertension, or high blood pressure, is one of the most common health problems worldwide, including in Indonesia. Although treatment for hypertension is available, many patients do not fully adhere to the prescribed medication regimen. One of the factors influencing medication adherence in hypertensive patients is health literacy. This study aims to examine the relationship between health literacy and medication adherence among hypertensive patients in the working area of Toili II Public Health Center. This research employed a cross-sectional design involving 152 respondents. Sampling was conducted using a two-stage cluster sampling technique, and primary data were collected in May 2025. The independent variable was health literacy, the dependent variable was medication adherence, and the confounding variables included age, sex, education level, and social support. The instruments used were MMAS-8 for medication adherence, HLS-EU-Q16 for health literacy, and DUFSSQ for social support. Data analysis included univariate, bivariate (using Pearson correlation and independent t-test), and multivariate analysis with multiple linear regression. The results showed a significant relationship between health literacy and medication adherence (r = 0.156; p = 0.05). The existence of a positive relationship between health literacy and medication adherence. However, health literacy alone is not the sole determinant. Community health centers (Puskesmas) are expected to enhance patient and family education regarding the importance of long-term treatment adherence through scheduled health counseling and appropriate communication strategies, especially for the elderly and those with low educational backgrounds. Future research is recommended to employ longitudinal or qualitative designs to explore in greater depth the factors influencing hypertension treatment adherence.
Read More
T-7276
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Priharika Septyowati; Pembimbing: Hadi Pratomo, Sudarti Kresno; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, R. Dettie Yuliati; A. Retno Tyas Utami
Abstrak: Dalam tesis ini dibahas cara pemilihan penggunaan obat bebas oleh kader CBIA (Cara Belajar Ibu Aktif) dan non CBIA di Pandeglang (2009), serta faktor pendorong penghambatnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader CBIA menggunakan obat dengan sesuai aturan. Pada kader non CBIA meskipun tepat dalam dosis obat namun tidak tepat dalam hal jenis dan lama penggunaan obat. Selanjutnya, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengetahuan obat cenderung meningkatkan kewaspadaan penggunaan obat, serta iklan obat elektronik diduga mempengaruhi pilihan nama obat yang akan digunakan. Faktor karakteristik individu, akses, keterpaparan informasi obat media elektronik serta dukungan tenaga kesehatan dan keluarga cenderung mempengaruhi perilaku pemilihan penggunaan obat bebas.
 

The research was aimed to study on selecting and utilizing the non prescription drug by cadres in Pandeglang Disrict, 2009. It also examined both supporting and inhibiting factors of the self-medication behavior. It was a qualitative research which employed in depth interview and group discussion methods to obtain data. The results concluded that among CBIA's cadres were likely to use the medicine properly. On the contrary, the non CBIA's cadre tended to select the wrong medicine and utilize inappropriate length of therapy. Furthermore, the results showed that knowledge on drug use might increase the awareness in the medicine utilization. Electronic advertisement could influence the informant's preference in selecting certain medicine brand. Therefore, the selection and utilization of non prescription medicine tended to be influenced by the following factors : individual characteristics, exposure to drug information and accessibility to electronic media. It was also influenced by both health professional and family support.
Read More
T-3126
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Cahyani; Pembimbing: Tri Krianto, Dewi Susanna; Penguji: Dian Ayubi, Lukman Hakim, Suwito
Abstrak: Malaria termasuk penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan, khususnya diKabupaten Lampung Selatan. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi malaria diKecamatan Rajabasa telah dilakukan namun masih dijumpai adanya kasusmalaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi praktik positifpencegahan malaria dan pengetahuan lokal dari masyarakat, yang menjadi faktorpenting dilakukannya upaya pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan malariamelalui pendidikan kesehatan dan peningkatan perilaku sehat. Penelitiandilakukan Bulan April 2016, menggunakan desain kualitatif dengan pendekatanpositive deviance. Data didapatkan melalui wawancara mendalam dan observasi.Analisis data menggunakan content analysis ditemukan beberapa tema padapraktik positif yaitu pemakaian kelambu, pemakaian obat anti nyamuk,pemasangan kassa nyamuk, mengeringkan genangan, menutup jendela sebelumsore, membersihkan rumah dan halaman. Pada praktik negatif ditemukan temakebiasaan keluar malam dan rendahnya partisipasi masyarakat, Dalam penelitianini ditemukan praktik positif pencegahan malaria yang dilakukan masyarakatdengan menggunakan biji buah mahoni, menanam sereh dan minum air rebusandaun jambu batu untuk menolak gigitan nyamuk. Saran: Perlu melakukanpenyuluhan kepada tokoh masyarakat dalam peningkatan dukungan kepadamasyarakat, diperlukan fasilitasi dari puskesmas dan petugas kesehatan untukmembentuk forum silaturahmi antara tokoh masyarakat antar desa dalam rangkasaling membagikan praktik positif yang dilakukan.Kata kunci: Praktik, Malaria, Masyarakat
Malaria disease is still a public health problem, particularly in South Lampungregency. Efforts are being made to tackle malaria in Sub Rajabasa been made,but still met the malaria cases. This study aims to identify positive practicesmalaria prevention and local knowledge of the community, which is an importantfactor to do community empowerment efforts in the prevention of malaria throughhealth education and increase healthy behaviors. The study was conducted inApril 2016 using a qualitative design with positive deviance approach. Data wereobtained by interviews and observations. Analysis of data using content analysisfound several themes on positive practices, namely the use of mosquito nets, theuse of anti-mosquito, the insect screen installation, drain the puddle, close thewindow before the afternoon, cleaning the house and yard. On the negativepractices found out custom theme nights and low community participation, thisstudy found positive practices that do community malaria prevention usingmahogany fruit seeds, planting lemongrass and drink water boiled guava leavesto reject mosquito bites. Suggestion: Keep doing outreach to the communityleaders to increase support for communities, necessary facilitation of healthcenters and health officials to establish the relationship between communityleaders forum between villages in order to share with each other positivepractices do.Keywords: Practice, Malaria, Public
Read More
T-4690
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muslimah; Pembimbing: Dian Ayubi, Dien Anshari; Penguji: Tri Krianto, ; Rudyanto, Chandra; Retno Damarwati
Abstrak: Data imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Tangerang berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 yaitu sebanyak 45,7% dengan status imunisasi dasar lengkap dan 43% dengan status imunisasi dasar tidak lengkap. Salah satu strategi Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap dengan pemberdayaan masyarakat melalui peran aktif kader posyandu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan peran kader posyandu dalam program imunisasi dasar lengkap. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain cross sectional, pengambilan sampel dengan simple random sampling dan sebanyak 104 telah terpilih sebagai responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan cara wawancara. Responden pada penelitian ini adalah kader posyandu yang bertugas di wilayah kerja Kecamatan Cisauk yaitu Puskesmas Cisauk dan Suradita. Hasil penelitian menunjukkan peran kader yang aktif dalam imunisasi dasar lengkap rata-rata sebanyak 62,5% dimana peran dalam kegiatan imunisasi sudah dijalankan dengan cukup baik, terutama dalam hal penyebaran informasi tentang penyelenggaraan imunisasi di posyandu. Faktor-faktor yang yang berhubungan dengan peran kader pengetahuan, penghargaan, Supervisi. Faktor dominan dalam penelitian adalah Supervisi petugas kesehatan dengan nilai OR 9.3 yang artinya adanya supervisi petugas kesehatan akan memberikan peluang 9,3 kali terhadap peran kader dalam program imunisasi dasar lengkap di Kecamatan Cisauk di Kabupaten Tangerang tahun 2019.
Read More
T-5737
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Darmayanti; Pemb. Rina A. Anggorodi, Sri Tjahyani B. Utami; Penguji: Yvonne Magdalena Indrawani, Tri Hadiah, Tati Nuryati
Abstrak:

ABSTRACT Health development aim to for increase the awareness, willingness and ability of healthy life for every people in order to existed by degree of health of society which at the farthest as well as representing of human rights being, what require to be fought for by each and everyone, socialize, inclusive of related/relevant part?s Integrated Health Post (Posyandu) represent to exist reality strive of community based health effort, having principle from, by and to community. Self reliant of Posyandu can only be reached with the improvement participate each; every element community exist in the region and motorized by cadre Posyandu. Factor influence role of cadre in improving self reliant of Posyandu for example cadre characteristic, others factor consisted of financing and construction and local policy to supporting execution of activity of Posyandu in the region. This research use approach qualitative to dig circumstantial information hit factor influencing the cadre role in improving independence Posyandu in region Public Health Center (PHC) Karang Kitri, Sub district of East Bekasi, District Bekasi by focus group discussion and others have from through in-depth interview conducted for builder coming from PHC, Leader of PKK, and chief of RW as elite figure of community. Informants in focus group discussion amount to 40 from 8 chosen Posyandu and represent cadre Posyandu have worked to become cadre during > 5 year. Result obtained there's only 2 self-reliant of Posyandu exist in region work CHC Karang Kitri. Characteristic factor of cadre have important influence in cadre lifelines execute activity Posyandu. Generally cadre age range from 31-60 year. Cadre old (aging) can only conduct balance activity, what have the low education of Faktor yang mempengaruhi..., Darmayanti, FKM UI, 2007 indigent do counseling. While cadre residence distance not have an effect on their activity execute in Posyandu, because they work voluntarily. This research concluded that active role of cadre in given the task to improve the development of the quality operational of activity Posyandu and to move community effort potency exist in this area of Posyandu. Others factor, availability of facility Posyandu, resources from community, including defrayal, to build and guidance by technical worker, joint responsibility among stakeholders as like as chief of RW as elite figure in community, community organization (PKK), and the local policy in this area. As potential human resources, cadre Posyandu have duty assist provider in collecting of data, surveillance in community health and to move empowering community participate. Finally, make-up of performance and quality of Posyandu will push reaching of self-reliant of that Posyandu itself.

Read More
T-2895
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bety Nurul Afni; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Indyah Rukmi Wirastuti
Abstrak:
Prevalensi stunting di Indonesia berada pada posisi 115 dari 151 negara di dunia pada tahun 2020. Secara nasional, Indonesia menunjukkan penurunan namun masih diperlukan penurunan untuk mencapai target di tahun 2024. Menurut hasil SSGI tahun 2021 prevalensi stunting di Provinsi Jawa Barat sebesar 24,5%. Berdasarkan Buku Profil Informasi Kesehatan Kabupaten Bogor 2019, prevalensi stunting di Puskesmas Ragajaya sebesar 41,98% lebih tinggi daripada prevalensi Kabupaten Bogor yaitu sebesar 19,08%. Ibu hamil merupakan salah satu kelompok sasaran dalam pencegahan stunting. Pencegahan stunting dapat dilakukan sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu dari masa kehamilan hingga usia 2 tahun. Stunting dapat terjadi akibat asupan nutrisi ibu hamil kurang. Theory of Planned Behavior (TPB) mencakup strategi untuk meningkatkan kepercayaan ibu terhadap kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Perilaku pencegahan stunting dapat dipengaruhi berbagai faktor seperti sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku dengan perilaku pencegahan stunting pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Ragajaya. Desain penelitian ini cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 90 ibu hamil. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 65.5% ibu hamil memiliki perilaku pencegahan stunting yang baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan sikap (p=0.004), norma subjektif (p=0.045), dan persepsi kontrol perilaku (p=0.001) berhubungan dengan perilaku ibu hamil dalam mencegah stunting. Saran bagi fasilitas kesehatan diharapkan memberikan pendidikan kesehatan secara rutin sebagai salah satu langkah preventif baik melalui pelayanan konsultasi kesehatan ibu hamil, berbagai platform media sosial, serta kegiatan – kegiatan diskusi terkait dengan kesehatan ibu hamil terutama mengenai gizi ibu hamil dalam pencegahan stunting.

In 2020, the prevalence of stunting in Indonesia will be the 115th highest out of 151 countries in the world. Nationally, Indonesia is showing a decline, but a gradual decrease is still needed to reach the target in 2024. According to the results of SSGI in 2021, the prevalence of stunting in West Java Province is 24.5%. Based on the 2019 Bogor Regency Health Information Profile Book, the prevalence of stunting in the Ragajaya Health Center is 41.98%, which is higher than the Bogor Regency prevalence of 19.08%. Pregnant women are one of the target groups in stunting prevention. Stunting can be prevented from the first 1000 days of life (HPK), or from pregnancy to the age of two. Stunting can occur due to the insufficient nutritional intake of pregnant women. The Theory of Planned Behavior (TPB) includes strategies to increase the mother's confidence in her ability to meet nutritional needs during pregnancy. Stunting prevention behavior can be influenced by various factors, such as attitudes, subjective norms, and perceptions of behavior control. This study aims to determine the relationship between attitudes, subjective norms, and perceptions of behavior control with stunting prevention behavior in pregnant women in the working area of the Ragajaya Health Center. The research design is cross-sectional. The research sample consisted of 90 pregnant women. Data collection was carried out in December 2022. The results showed that 65.5% of pregnant women had good stunting prevention behavior. The results of the bivariate analysis showed that attitude (p = 0.004), subjective norm (p = 0.045), and perceived behavioral control (p = 0.001) were related to pregnant women's behavior in preventing stunting. Suggestions for health facilities are expected to provide routine health education as one of the preventive measures both through pregnant women's health consultation services, various social media platforms, and discussion activities related to the health of pregnant women, especially regarding nutrition for pregnant women in preventing stunting.
Read More
S-11297
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive