Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33347 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Endah Alfiyanti Syahri; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Muspardi
Abstrak:
Latar belakang: Obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang terus meningkat dan berdampak serius terhadap kualitas hidup serta produktivitas kerja. Prevalensi obesitas di lingkungan PT Hutama Karya Infrastruktur sebesar 65,31% serta lingkungan kerja dengan gaya hidup sedentari dan stres tinggi, berpotensi memperburuk pola makan yang berisiko obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku makan berisiko obesitas dengan pendekatan teori Health Belief Model (HBM). Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan survei menggunakan kuesioner. Sampel penelitian adalah karyawan PT Hutama Karya Infrastruktur yang dipilih secara total sampling sebanyak 188 orang. Variabel yang dianalisis meliputi konstruk HBM (persepsi kerentanan, keparahan, manfaat, hambatan, isyarat bertindak, efikasi diri) serta karakteristik individu. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Skor rata-rata perilaku makan berisiko sebesar 55,5 dari skala 100 menunjukkan pola konsumsi yang cenderung tidak sehat. Persepsi kerentanan, keparahan, dan manfaat berada pada tingkat tinggi, namun tidak berhubungan signifikan dengan perilaku makan berisiko. Sebaliknya, persepsi hambatan memiliki hubungan yang sangat signifikan (p < 0,001). Efikasi diri mendekati signifikan (p = 0,054), sedangkan isyarat bertindak tidak berhubungan secara statistik. Karakteristik individu seperti jenis kelamin (p = 0,038) dan pendapatan (p = 0,019) juga berpengaruh signifikan terhadap perilaku makan. Kesimpulan: Persepsi hambatan merupakan determinan utama perilaku makan berisiko obesitas. Intervensi promosi kesehatan kerja perlu difokuskan pada pengurangan hambatan dan peningkatan efikasi diri untuk membentuk perilaku makan sehat secara berkelanjutan.
Background: Obesity is a global public health issue that continues to rise and has serious impacts on quality of life and work productivity. The prevalence of obesity at PT Hutama Karya Infrastruktur is 65.31%, and the work environment characterized by a sedentary lifestyle and high stress levels has the potential to worsen dietary patterns that increase the risk of obesity. This study aims to analyze the determinants of risky eating behavior using the Health Belief Model (HBM) approach. Methods: This study employed a quantitative cross-sectional design using a survey approach with questionnaires. The study sample consisted of 188 employees at PT Hutama Karya Infrastruktur selected through total sampling. The variables analyzed included HBM constructs (perceived susceptibility, severity, benefits, barriers, cues to action, and self-efficacy) as well as individual characteristics. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods with chi-square tests. Results: The average score of risky eating behavior was 55.5 out of 100, indicating a tendency toward unhealthy dietary patterns. Perceived susceptibility, severity, and benefits were at high levels, but they were not significantly associated with risky eating behavior. In contrast, perceived barriers showed a highly significant relationship (p < 0.001). Self-efficacy was nearly significant (p = 0.054), while cues to action were not statistically associated. Individual characteristics such as gender (p = 0.038) and income (p = 0.019) also had a significant influence on eating behavior. Conclusion: Perceived barriers are the main determinant of risky eating behavior associated with obesity. Workplace health promotion interventions should focus on reducing barriers and enhancing self-efficacy to sustainably promote healthy eating behavior.
Read More
S-12003
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng Perwita Sari; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Anwar Hasan, Santayana
Abstrak: PMTCT (Prevention Mother To Child HIV/AIDS Transmission) merupakan salah satu bentuk pengendalian masalah HIV/AIDS pada ibu hamil dan bayi. Salah satu programnya adalah dengan melakukan Tes HIV pada seluruh wanita yang sedang hamil. Masih ada 4,8% ibu hamil yang tidak mau melakukan test HIV, padahal target dari pemerintah adalah pada 100 persen ibu hamil dilakukan test HIV. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran factor-faktor yang berhubungan dengan perilaku test HIV pada ibu hamil di Puskesmas Pasar Rebo Jakarta Timur. Penelitian adalah penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah dalam pengambilan datanya. Data diperoleh dari 8 informan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo. Hasil penelitian ini adalah persepsi hambatan dari ibu hamil seperti tidak izin dari suami, ibu takut kerahasiaan hasil test tidak terjamin dan kekhawatiran ibu akan adanya kecurigaan dari orang-orang sekitar bahwa ibu akan dianggap berperilaku negatif bila melakukan test HIV membuat ibu tidak mau melakukan test HIV. persepsi kerentanan ibu terhadap HIV/AIDS juga merupakan factor yang mempengaruhi ibu untuk melakukan test HIV. ibu yang merasa memiliki factor resiko untuk terinfeksi HIV mau melakukan test HIV sedangkan ibu yang merasa sehat dan tidak memiliki factor resiko tidak melakukan test HIV. diharapkan Puskesmas mau melakukan penyuluhan kepada suami sehinga suami semakin waspada dan mau mengizinkan istrinya untuk melakukan test HIV.
 

PMTCT (Prevention of Mother To Child HIV / AIDS Transmission) is one form to control over the issue of HIV / AIDS in pregnant women and infants. One of the programs is to perform an HIV test to all pregnant women. There are 4,8% pregnant women who do not want to do an HIV test, even though the target of the government is at 100 percent of pregnant women with HIV test done. The purpose of this study is to describe the cause is still there pregnant women who do not want to do an HIV test at Pasar Rebo PHC. The study is a qualitative research technique of in-depth interviews and focus group discussions in data retrieval. Data were obtained from 8 informants check ups pregnant women in sub-district Pasar Rebo PHC. The result of this research is the perception of pregnant women such barriers do not permit of a husband, a mother afraid test results are not guaranteed confidentiality and the mother fears that there is a suspicion of the people around that maternal behavior would be considered a negative HIV test when the mother does not want to do the HIV test . Mother's perception of vulnerability to HIV / AIDS is also a factor that affects the mother to do the HIV test. Mothers who feel they have risk factors for HIV infection would do the HIV test, while mothers who feel healthy and do not have risk factors do not test for HIV.
Read More
S-8411
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raras Sekar Karyaningtyas; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Rias Nur Wulandari
Abstrak:
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang sangat signifikan terjadi terutama di kalangan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan hipertensi pada karyawan PT Hutama Karya (Persero) Divisi Sipil Umum tahun 2024. Penelitian ini bersifat survey analitik dengan menggunakan metode cross sectional, dilaksanakan pada bulan Desember 2024 dengan sampel karyawan sebanyak 140 orang.  Pengumpulan data menggunakan self administered questionnaire dengan google form meliputi variabel dependen yaitu perilaku pencegahan hipertensi dan variabel independen dari penelitian ini yaitu faktor predisposisi (usia, jenis kelamin, pendidikan, riwayat hipertensi keluarga, pengetahuan hipertensi), faktor pemungkin (pemanfaatan fasilitas kesehatan perusahaan) dan faktor penguat (dukungan keluarga). Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan faktor predisposis, faktor pemungkin dan faktor penguat terhadap perilaku pencegahan hipertensi pada karyawan PT Hutama Karya (Persero) Divisi Sipil Umum dengan nilai p-value >0,05. Perilaku pencegahan hipertensi pada karyawan dengan hasil sebanyak 120 orang responden (85,7%) cenderung kurang dalam berperilaku pencegahan hipertensi. Perlunya Pengembangkan strategi promosi kesehatan yang berkesinambungan dengan pemanfaatan teknologi serta membentuk komunitas kesehatan untuk saling mendukung dan bertukar informasi menjadi hal penting untuk meningkatkan perilaku pencegahan hipertensi di kalangan pekerja. 

Hypertension is a very significant global health problem that occurs especially among workers. This study aims to determine the factors associated with hypertension prevention behavior in employees of PT Hutama Karya (Persero) General Civil Division in 2024. This study is an analytical survey using a cross sectional method, conducted in December 2024 with a sample of 140 employees.  Data collection using a self-administered questionnaire with google form includes the dependent variable, namely hypertension prevention behavior and the independent variables of this study, namely predisposing factors (age, gender, education, family history of hypertension, knowledge of hypertension), enabling factors (utilization of company health facilities) and reinforcing factors (family support). The results of this study indicate that there is no relationship between predisposing factors, enabling factors and reinforcing factors on hypertension prevention behavior in employees of PT Hutama Karya (Persero) General Civil Division with a p-value> 0.05. Hypertension prevention behavior in employees with the results of 120 respondents (85.7%) tended to be lacking in hypertension prevention behavior. The study highlights the need for continuous health promotion strategies utilizing technology and the formation of health communities to foster mutual support and information exchange. These measures are essential for improving hypertension prevention behaviors among employees.
Read More
S-11818
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Meilani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Helda, Wahyu Handriana Alamsyah
S-6343
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiqih Mutiara; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Arum Ambarsari
Abstrak: Provinsi DKI Jakarta merupakan wilayah episentrum penyebaran COVID-19 dengan kasus tertinggi di Indonesia, untuk itu diperlukan upaya perilaku pencegahan pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilaku pencegahan penularan COVID-19 masyarakat DKI Jakarta ditinjau dari variabel yang ada di dalam teori Health Belief Model. Penelitian dengan pendekatan metode kuantitatif, desain cross sectional, dilakukan pada 320 orang yang berusia 15-64 tahun dan diambil secara quota sampling dari 5 wilayah DKI Jakarta. Data dikumpulkan dengan metode responden mengisi kuesioner secara mandiri yang dilakukan secara online dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat telah melakukan sebagian besar perilaku pencegahan penularan COVID-19 dengan baik seperti pada penggunaan masker setiap keluar rumah, menerapkan etika batuk, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir saat sebelum makan, setelah makan, setelah menggunakan kamar mandi, setelah beraktivitas dan menyentuh benda, serta mencuci tangan minimal 20 detik, menggunakan hand sanitizer, tetap di rumah ketika sakit, menghindari berjabat tangan, memberi jarak 1-2 meter dengan orang lain, menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang, menghindari tempat dan kendaraan umum, dan menghindari berpergian ke zona merah. Hal ini karena pengetahuan masyarakat tentang upaya pencegahan COVID-19 sudah tinggi, namun masih rendah mengenai penggunaan tisu alkohol dan waktu yang dibutuhkan untuk dapat tertular COVID-19. Masyarakat pada umumnya mempersepsikan COVID-19 penyakit yang serius bagi dirinya dan merasa dirinya rentan untuk tertular COVID-19. Umumnya masyarakat tidak merasa ada hambatan untuk melakukan perilaku pencegahan, dan mayoritas menganggap tindakan pencegahan COVID-19 bermanfaat bagi dirinya serta mereka merasa mampu untuk melakukan tindakan pencegahan. Perlu meningkatkan edukasi atau sosialisasi yang efektif dan konsisten melalui berbagai media untuk pengetahuan dan perilaku yang masih kurang baik, melakukan penyuluhan tentang pakai masker yang benar, serta meningkatkan penerapan kebijakan dan kedislipinan di semua sektor.
Kata kunci: Perilaku Pencegahan COVID, Masyarakat, Provinsi DKI Jakarta, Health Belief Model

The DKI Jakarta Province is the epicenter of the spread of COVID-19 with the highest cases in Indonesia, for this reason prevention efforts are needed in the community. This study aims to see the prevention measures for the transmission of COVID-19 in the people of DKI Jakarta in terms of the variables in the Health Belief Model theory. Research with a quantitative method approach, cross sectional design, was conducted on 320 people aged 15-64 years and was taken by quota sampling from 5 areas of DKI Jakarta. Data were collected using the respondent's method of giving a questionnaire which was conducted online and analyzed descriptively. The results of community research have done most of the prevention of COVID-19 transmission well, such as using masks every time you leave the house, applying cough etiquette, washing hands with soap and water before eating, after eating, after using the bathroom, after activities and objects, as well as washing hands for at least 20 seconds, using hand sanitizers, staying at home when sick, avoiding shaking hands, giving 1-2 meters distance from other people, avoiding activities that involve many people, avoiding public places and transportation, and avoiding traveling to the zone red. This is because the community knowledge about efforts to prevent COVID-19 is high, but still low regarding alcohol use and the time it takes to catch COVID-19. Society in general complicates COVID-19, a serious disease for itself and susceptible to COVID-19. Of the society does not feel there are obstacles to taking precautions, and stopping COVID-19 prevention measures is beneficial for them and they feel capable of taking preventive measures. It is necessary to increase effective and consistent education or socialization through various media for knowledge and behavior that is still inadequate, conduct counseling on how to use masks properly, and increase the implementation of policies and discipline in all sectors.
Key words: COVID-19 prevention behaviour, community, DKI Jakarta Province, Health Belief Model
Read More
S-10325
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Nurul Hidayati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Umi Zakiati
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang perilaku pencegahan COVID-19 pada mahasiswa kesehatandan non-kesehatan di Universitas Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilakupencegahan COVID-19 pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan ditinjau dari teorihealth belief model. Variabel yang diteliti adalah perilaku pencegahan COVID-19, faktorpemodifikasi (usia, jenis kelamin, pengetahuan) dan persepsi individu (persepsi kerentanan,keparahan, manfaat, hambatan dan self efficacy). Penelitian ini menggunakan pendekatankuantitatif dan metode penelitian cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 110 orangmahasiswa kesehatan dan non-kesehatan dengan menggunakan metode pengambilan sampelpurposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 68% mahasiswakesehatan memiliki perilaku pencegahan COVID-19 yang baik dan 31.6% memiliki perilakupencegahan yang kurang baik. Sedangkan mahasiswa non-kesehatan yang memiliki perilakupencegahan yang baik adalah 59.7% dan 40.3% memiliki perilaku pencegahan yang kurangbaik. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan perilaku pencegahanCOVID-19 (p=0.020).
Kata Kunci: COVID-19, Health Belief Model, mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan
This study discusses about the preventive health behaviours of COVID-19 among studentsmajoring in health and non-health sciences Universitas Indonesia. The objective of this studywas to look preventive health behaviour COVID-19 among students majoring in health andnon-health sciences based of health belief model. Variabels in this study including preventivebehaviour, modifying factors (Age, sex, and knowledge), individual perceived (perceivedsusceptibility, perceived severity, perceived benefits, dan perceived barriers and selfefficacy). This study using quantitative approaches and cross sectional study methods.Thetotal samples of this study is 110 people of students majoring in health and non-healthsciences with purposive sampling method. The result showed that 68% students majoringhealth sciences are having good preventive behaviour and 31.6% have enough preventivebehaviour, while 59.7% the student majoring non-health science have good preventivebehaviour and 40.3% have enough preventive behaviour. There was significant associationsbetween sex with preventive health behaviour of COVID-19 (p=0.020)
Keywords: COVID-19, Health Belief Model, Students majoring health and non-healthscience.
Read More
S-10358
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tsalitsa Putri; Pembimbing: Dian Ayubi; Pennguji: Ella Nurlaella Hadi, Tri Yunis Miko Wahyono, Liska Sari, Eem Suhaemi
Abstrak:
Anak usia 6-12 tahun memiliki kerentanan terhadap karies gigi. Kesehatan gigi anak perlu mendapat perhatian orang tua khususnya dari ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak berdasarkan teori Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 140 ibu siswa. Terpilih enam SDN dengan teknik cluster random sampling. Jumlah sampel dihitung dengan rumus proportional sampling dan sampel diambil secara systematic random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan 53,6 % ibu berperilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak. Persepsi individu yang berhubungan dengan perilaku ibu adalah persepsi kerentanan dan efikasi diri. Efikasi diri adalah faktor paling dominan berhubungan dengan perilaku ibu, artinya ibu dengan efikasi diri rendah berpeluang 3,4 kali untuk memiliki perilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak dibandingkan ibu dengan efikasi diri yang tinggi setelah dikontrol oleh persepsi kerentanan dan persepsi hambatan (OR:3,475,95%CI:1,653-7,306). Untuk itu, perlu ditingkatkan efikasi diri ibu dengan edukasi dan penyuluhan serta membentuk kelompok dukungan ataupun forum online

Children aged 6-12 years have vulnerabilities to dental caries. Children's dental health needs to get good attentions of parents, especially from mothers. This study aims to determine the determinants of maternal behavior in preventing dental caries in children based on the theory of the Health Belief Model. This study used a cross-sectional design on 140 students’ mothers. Six elementary schools were selected using the cluster random sampling technique. The number of samples were calculated using the proportional sampling formula and the samples were collected using systematic random sampling. Data was gathered by interviewes using questionnaires which were analyzed by univariate, bivariate and multivariate. The results showed that 53.6% of mothers had poor behaviors in preventing children dental caries. Individual perceptions related to mother's behavior are perceptions of vulnerability and self-efficacy. Self-efficacy is the most dominant factor related to maternal behavior, meaning that mothers with low self-efficacy are 3.4 times more likely to demonstrate deficiencies in preventing dental caries in children than those with high self-efficacy after being controlled by perceived vulnerability and perceived obstacles (OR: 3,475 .95%CI:1.653-7.306). For this reason, it is esenssial to increase mothers’ self-efficacy with education and counseling as well as forming support groups or online forums.
Read More
T-6706
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadilla Rizky Prameshwari; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Tri Krianto, Gafar Hartatiyanto, Usep Solehudin
Abstrak:
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menginfeksi sel darah putih yang disebut sel CD4 dan menargetkan daya tahan tubuh. kasus HIV di DKI Jakarta pada tahun 2022 memiliki kasus HIV secara kumulatif sebanyak 79.043 sehingga menempati urutan provinsi tertinggi. Kasus terbanyak yang dilaporkan pada Tahun 2020 oleh Profil Kesehatan DKI Jakarta berada pada wilayah Jakarta Selatan. Salah satu upaya untuk meningkatkan angka harapan hidup ODHIV adalah penggunaan obat antiretroviral (ARV). Secara umum pemberian terapi ARV diberikan dalam bentuk kombinasi yang harus dikonsumsi seusia hidup. Angka kepatuhan di Puskesmas Kecamatan Setiabudi yaitu 45.6%. Angka ini lebih rendah dari target kemenkes yaitu 95% pasien mengalami supresi virus. Kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan wawancara responden berdasarkan kuisioner yang sudah dibuat. Populasi adalah pasien ODHIV >18 tahun dengan minimal terapi selama 6 bulan. Sampel sebanyak 90 orang didapatkan melalui rumus uji beda proporsi. Berdasarkan analisis univariat diperoleh rerata kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi 84.3 dari skala 100. Hasil uji regresi logistik berganda menunjukkan bahwa keyakinan diri memiliki hubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral. Keyakinan diri merupakan variabel dominan yang berhubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi (p=0.023, OR 2.87). Monitoring kepatuhan dapat menjadi intervensi yang baik bagi Puskesmas Kecamatan Setiabudi

The Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that infects white blood cells called CD4 cells and targets the body's immune system. The cases of HIV in DKI Jakarta in 2022 have cumulatively reached 79,043, making it the province with the highest number of cases. The highest number of cases reported in 2020 by the DKI Jakarta Health Profile were in the South Jakarta area. One of the efforts to increase the life expectancy of people living with HIV (PLWH) is the use of antiretroviral (ARV) drugs. Generally, ARV therapy is given in combination and must be consumed for life. The adherence rate at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is 45.6%. This figure is lower than the Ministry of Health's target of 95% of patients achieving virus suppression. Adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is influenced by various factors. This study aims to understand the picture and factors associated with adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi. This study uses a cross-sectional design with respondent interviews based on a pre-made questionnaire. The population is HIV patients >18 years old with a minimum of 6 months of therapy. A sample of 90 people was calculated using a difference of proportion test formula. Based on a univariate analysis, the average adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is 84.3 out of 100. The results of the multiple logistic regression tests show that self-efficacy is associated with adherence to antiretroviral therapy. Self efficacy is the dominant variable associated with adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi (p=0.023, OR 2.87). Monitoring adherence can be a good intervention for the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi
Read More
T-6657
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Wulandari; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Fathimah Sulistyowati Sigit, Sisca Rusmawati, Iradani Yupitaningrum
Abstrak:

Kanker leher rahim merupakan penyakit berbahaya pada wanita yang dapat ditangani semenjak awal dengan melakukan deteksi dini. Capaian deteksi dini kanker leher rahim di Indonesia yang rendah menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat kanker leher rahim. Puskesmas Batuceper merupakan salah satu puskesmas di Kota Tangerang dengan capaian deteksi dini kanker leher rahim metode IVA terendah pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku wanita usia 30-50 tahun dalam melakukan deteksi dini kanker leher rahim metode IVA di Puskesmas Batuceper tahun 2024 berdasarkan teori Health Belief Model (HBM). Desain penelitian menggunakan studi cross-sectional. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner kepada 172 wanita usia 30-50 yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 11,6% wanita usia 30-50 tahun telah melakukan deteksi dini metode IVA dalam 3 tahun terakhir. Faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker leher rahim metode IVA adalah persepsi hambatan dan isyarat bertindak, dimana persepsi hambatan merupakan faktor yang paling dominan. Responden dengan persepsi hambatan yang rendah memiliki peluang 4,68 kali untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim metode IVA dibandingkan responden dengan persepsi hambatan yang tinggi setelah dikontrol oleh isyarat bertindak (aOR=4,68 95% CI 1,45-15,10). Oleh karena itu, penting dilakukan upaya untuk mengurangi hambatan dan meningkatkan isyarat bertindak dengan memperluas kegiatan pemberian edukasi dan informasi mengenai bahaya kanker leher rahim serta pentingnya pemeriksaan IVA kepada calon pengantin, suami/pasangan, orangtua siswa di sekolah serta lintas sektor. Kata Kunci: Deteksi Dini, Kanker Leher Rahim, Health Belief Model, Puskesmas


 

Cervical cancer is a dangerous disease in women that can be treated early by screening. The low achievement of cervical cancer screening in Indonesia has led to an increase in the incidence of pain and death from cervical cancer. The Batuceper Health Center is one of the health centers in Tangerang City with the lowest achievement of cervical cancer screening with IVA method in 2022. This study aims to determine the behavioral determinants of women aged 30-50 in conducting early detection of cervical cancer using the IVA method at the Batuceper Health Center in 2024 based on the Health Belief Model (HBM) theory. The research design uses a cross-sectional study. Data was collected by interview method using a questionnaire to 172 women aged 30-50 who were selected using consecutive sampling techniques. The data were analyzed univariately, bivariate, and multivariate with multiple logistic regression tests. The results showed that 11.6% of women aged 30-50 had successfully detected the IVA method early in the last 3 years. Factors related to the behavior of early detection of cervical cancer IVA method are the perception of obstacles and action signals, where the perception of obstacles is the most dominant factor. Respondents with a low perception of obstacles had 4.68 times the chance of cervical cancer screening with IVA method compared to respondents with a high perception of obstacles after being controlled by action signals (aOR=4.68, 95% CI 1.45-15.10). Therefore, it is important to make efforts to reduce the barriers and increase action signals by expanding education and information activities about the dangers of cervical cancer as well as the importance of IVA examination to brides-to-be, husbands/partners, and parents of students at school and across sectors.  Keywords: Screening, Cervical Cancer, Health Belief Model, Health Center

Read More
T-7228
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Masyitah; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Milla Herdayati, Resty Kiantini
Abstrak: Kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang wanita. Sebagian besar wanita penderita kanker payudara datang ke tempat pengobatan dalam kondisi stadium lanjut, padahal kanker payudara dapat dideteksi secara dini dengan rutin melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran praktik SADARI pada mahasiswi S1 reguler Universitas Indonesia tahun 2013 menggunakan pendekatan Health Belief Model. Sampel adalah 287 mahasiswi S1 reguler Universitas Indonesia dari 12 fakultas, diambil dengan metode estimasi proporsi dengan presisi relatif. Hasilnya, sebanyak 51.9% mahasiswi sudah melakukan SADARI, namun hanya 3.3% yang melakukannya secara rutin setiap bulan. Sementara itu variabel usia, pengetahuan, persepsi terhadap manfaat melakukan SADARI, persepsi terhadap hambatan melakukan SADARI, dan persepsi terhadap kemampuan diri melakukan SADARI menunjukkan hubungan yang signfikan dengan praktik SADARI.
 

Breast cancer is one of the most common cancers among women. Most of the women with breast cancer visit the medical practitioner in late stadium, despite the fact that breast cancer can be detected by routinely doing breast self-examination (BSE). The purpose of the current study was to depict breast self-examination practice on undergraduate female students of Universitas Indonesia by using Health Belief Model (HBM) approach. Samples are 287 undergraduate female students of Universitas Indonesia from 12 faculties, calculated by estimating a population proportion with specified relative precision method. The results showed that 51.9% of the participants reported performing BSE, but only 3.3% that performed BSE regularly. Meanwhile, age, knowledge, perceived benefits of BSE, perceived barriers of BSE, and perceived self efficacy significantly associated to BSE practice.
Read More
S-7867
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive