Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34458 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Carissa Izzati Fidela; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Asih Setiarini, Didik Joko Pursito
Abstrak:
Minuman berpemanis dalam kemasan, disingkat MBDK, adalah kategori untuk minuman kemasan siap konsumsi yang mengandung pemanis, baik pemanis alami ataupun buatan. Konsumsi MBDK berlebihan merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit tidak menular. Sebagai upaya memberi kesadaran, Label Indikator Kandungan Gula diberlakukan oleh Super Indo pada etalase MBDK di gerainya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan produk MBDK pada konsumen dewasa Super Indo di Daerah Khusus Jakarta pada tahun 2025. Penelitian dilakukan dengan desain studi cross-sectional dan melibatkan 128 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72,7% konsumen memilih MBDK dengan kandungan gula >6 gram per 100 ml. Terdapat perbedaan proporsi pemilihan produk MBDK yang signifikan berdasarkan usia (p = 0,029) dan tingkat pendidikan (p = 0,050). Sementara itu, tidak ada perbedaan proporsi pemilihan produk MBDK yang signifikan berdasarkan harga produk, jenis kelamin, tigkat ekonomi, pengetahuan kesehatan mengenai MBDK, dan sikap terhadap MBDK. PT Lion Super Indo disarankan untuk mengevaluasi Label Indikator Kandungan Gula serta memberikan sosialisasi untuk konsumen. Pemerintah disarankan untuk melakukan intervensi yang berorientasi target, seperti penerapan cukai MBDK dan pemberlakukan kewajiban pencantuman label pangan. Disarankan pula bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman terkait gizi serta mengambil langkah-langkah efektif untuk menjaga kesehatan.

Sugar-sweetened beverages (SSB) are ready-to-drink packaged beverages that typically contain sweeteners, and excessive consumption increases the risk of non-communicable diseases. To support healthier consumer choices, Super Indo implemented a Sugar Content Indicator Label on SSB shelves. This study aimed to identify factors associated with SSB selection among adult consumers at Super Indo in Daerah Khusus Jakarta in 2025. Using a cross-sectional design with 128 respondents, the study found that 72.7% chose SSBs containing more than 6 grams of sugar per 100 ml. Significant differences in SSB selection were observed based on age (p = 0.029) and education level (p = 0.050). However, no significant associations were found with product price, gender, economic status, health knowledge, or attitudes toward SSB. The findings suggest a need for PT Lion Super Indo to evaluate the consistency and effectiveness of its sugar content labels and to enhance consumer education. Policymakers are encouraged to introduce targeted measures such as SSB taxes and mandatory sugar labeling. Public awareness and understanding of nutritional content should also be improved to promote healthier choices and reduce sugar-related health risks.
Read More
S-12146
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Debbie Natali; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Neni Herlina Rafida
S-12010
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bernadet Dewi Kusuma Harimurti Kunde; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Mohammad Uswanas, Gondo Suprapto
Abstrak: Persalinan di fasilitas kesehatan menekan risiko kematian ibu. Kebijakan Kementerian Kesehatan, persalinan harus ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Sehingga perlu diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keputusan memilih tempat persalinan. Disain penelitian potong lintang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dengan mewawancarai responden saat kunjungan rumah menggunakan kuesioner. Populasi ibu hamil di Kabupaten Fakfak. Sampel ibu hamil di wilayah Puskesmas terpilih. Uji statistik analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian ada hubungan signifikan antara pendidikan, pengetahuan, status ekonomi dan persepsi dengan pengambilan keputusan memilih tempat persalinan. Faktor paling berpengaruh adalah pendidikan dan persepsi. Disarankan meningkatkan pemanfaatan fasilitas kesehatan sebagai tempat persalinan. Kata Kunci : pemanfaatan fasilitas kesehatan, pemilihan tempat persalinan, persalinan di fasilitas kesehatan Delivery at a health facility. Ministry of Health policy, delivery should be assisted by health personnel in health facilities. It is necessary to factor factors related to the decision to choose where to go. Cross sectional design using a quantitative approach. Data collection by interviewing respondents while visiting the home using questionnaires. Population of pregnant women in Fakfak District. Samples of pregnant women in the selected puskesmas area. Statistical test of univariate, bivariate and multivariate analysis. The results of the study there is a significant relationship between education, knowledge, economic status and perception with the decision of choosing the birthplace. The most moderate factors are education and perception. It is recommended to improve health facilities as a place of birth. Keywords: utilization of health facility; Selection of delivery; Delivery at a health facility
Read More
T-4982
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Destia Fitriyanti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Debby Permata Sari
Abstrak:
Kejadian gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat pada penduduk dewasa di Jakarta Pusat, terutama di Kecamatan Kemayoran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada penduduk dewasa usia 40−59 tahun di Kecamatan Kemayoran tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan menggunakan data primer yang melibatkan 170 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan 80,59% responden berisiko gizi lebih (IMT ≥ 23 kg/m2). Pada analisis multivariabel, diketahui asupan energi berlebih, sering konsumsi makanan berlemak, sering konsumsi junk food, durasi tidur pendek, interaksi jenis kelamin dan konsumsi junk food, serta interaksi asupan karbohidrat dan durasi tidur menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian gizi lebih. Konsumsi junk food menjadi faktor dominan yang memengaruhi kejadian gizi lebih pada penduduk dewasa usia 40−59 tahun di Kecamatan Kemayoran tahun 2025. Dapat disimpukan bahwa perilaku konsumsi makanan yang padat energi dan tinggi lemak berpengaruh terhadap kejadian gizi lebih. Upaya pencegahan gizi lebih pada kelompok usia dewasa akhir perlu difokuskan pada pengendalian konsumsi junk food melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat. Kolaborasi antara fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dinas kesehatan diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi gizi kepada masyakat.


Overnutrition is a significant public health issue with an increasing prevalence among adults in Central Jakarta, including Kemayoran Sub-District. This study aims to examine the characteristics and factors associated with overnutrition among adults aged 40–59 years in Kemayoran District in 2025. A cross-sectional study design was employed, utilizing primary data from 170 respondents. The results showed that 80.59% of respondents were at risk of overnutrition (BMI ≥ 23 kg/m²). Multivariable analysis identified excessive energy intake, frequent consumption of fatty foods, frequent junk food intake, short sleep duration, the interaction between gender and junk food consumption, and the interaction between carbohydrate intake and sleep duration as significant factors influencing overnutrition. Junk food consumption emerged as the dominant factor contributing to overnutrition among adults aged 40–59 in Kemayoran Subdistrict in 2025. It can be concluded that energy-dense and high-fat dietary behaviors significantly contribute to overnutrition. Preventive efforts targeting this age group should focus on controlling junk food intake through community-based promotive and preventive approaches. Collaboration between primary healthcare services and the health department is essential to broaden the reach of nutrition education among the public.
Read More
S-12091
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erna Rahmawati; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Diah Mulyawwati Utari, Triyanti, R.Bagus Irwan Ruswandi, Dwi Suwartini
Abstrak:

Prevalensi obesitas pada remaja cenderung meningkat. Pola konsumsi yang tidak sehat adalah salah satu faktor risiko obesitas. Perilaku konsumen yang baik diperlukan seperti kepatuhan dalam hal membaca informasi nilai gizi dan memilih produk yang tepat. Kecenderungan remaja dalam membaca informasi nilai gizi masih rendah. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan perilaku membaca informasi nilai gizi produk minuman manis dalam kemasan pada siswa SMAN 32 dan SMAS Muhammadiyah 18 Jakarta Selatan pada tahun 2019. Desain penelitian ini adalah crosssectional. Total sampel sebanyak 187 siswa yang diambil dengan metode total sampling. Sumber data menggunakan data primer melalui pengisian kuesioner dan pengukuran antropometri. Data dianalisis secara univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik ganda). Hasil penelitian menunjukkan sebesar 44,9% siswa yang membaca informasi nilai gizi. Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap informasi nilai gizi dengan perilaku membaca informasi nilai gizi. Hasil multivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat faktor dominan. Faktor yang berhubungan dengan perilaku membaca informasi nilai gizi adalah sikap terhadap informasi nilai gizi. Responden dengan sikap yang baik mempunyai peluang 2 kali lebih besar untuk membaca informasi nilai gizi dibandingkan dengan responden yang tidak membaca informasi nilai gizi. Untuk meningkatkan sikap dibutuhkan sosialisasi, salah satunya melalui media internet. . Kata kunci: Informasi nilai gizi, minuman manis dalam kemasan, siswa SMA, sikap


 The prevalence of obesity in adolescents tends to increase. Unhealthy consumption patterns are one of the risk factors for obesity. Good consumer behavior is needed in relation to compliance in terms of reading labels and choosing the right product. The tendency of adolescents to read nutrition labels were low. This study aims to determine the dominant factors of use of nutrition labels on packaged beverages for students in SMAN 32 and SMAS Muhammadiyah 18 South Jakarta in 2019. The design of this research is cross-sectional. The total sample is 187 students taken by the total sampling method. This study used primary data by filled out questionnaires and using anthropometric methods. Data were analyzed univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate. The research results showed that 44.9% of students read nutritional value information. There is a significant relationship between attitudes towards nutritional value information and behavior in reading nutritional value information. Multivariate results show that there is no dominant factor. Factors related to the behavior of reading nutritional value information are attitudes towards nutritional value information. Respondents with a good attitude are 2 times more likely to read nutritional value information compared to respondents who do not read nutritional value information. To improve attitudes, socialization is needed, one of which is through the internet. Key words: Nutrition labels, packaged beverages, high school students, attitudes

Read More
T-6357
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Rejeki; Pembimbing: Diah M. Utari; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Asih Setiarini, Basuki Budiman, Rita Warsihayati Dawamiharja
T-2704
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cendekia Sri Murwani; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ivonne M. Indrawani, Ratu Ayu Dewi Sartika, M.I. Tri Hadiah Herawati, Umi Fahmida
Abstrak:

Pola makan berenergi lebih dan kadar !emak tinggi seperti makananfastfood mengakibatkan gizi lebib dan timbu!nya obesitas. Gizi !ebih dan Obesitas rnerupakan faktor risiko rnuncu!nya penyakit degeneratif. Faktor resiko lain yang menyebabkan muncu!nya penyakit degeneratif antara lain kenaikan tekanan darah, rasio pinggang-panggul yang besar, kadar gula darah pua.a tinggi dan meningkatnya kadar kolesterol. Data total ko!estero!telah dilakukan di Indonesia, antara lain Surkesnas 2001 pada usia 25-64 tahun prevalensi kolesterol tinggi ( >200 mgldl) 6%, SKTR 2004 usia 25-64 tahun prevalensi kolesterol tinggi (200 - 249 mg/dl) 11,6 %, sedangkan survei di Depok pada usia 25-65 tahun 2003 prevalensi kolesterol tinggi sebesar 6,6%. Salah satu alternalif untuk mengamngi kadar kolesterol tinggi dan obesitas dengan melakukan diet vegetarian. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kadar kolesterol total adalah asupan lemak (p-value < 0,05; OR21,95 ; Cl 95%: 1,95-46,82), Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kadar kolesterol HDL adalah asupan serat (p-va/ue < 0,05; OR = 6,86 ; CI 95% : 2,47 - 47,74}. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kadar kolesterol LDL adalah asupan serat (p-value < 0,05; OR = 8,20 ; CI95% : 2,33 -28,85), Sedangka.n faktor yang paling dominan berhubungan dengan kadar trigliserida adalah asupan serat (p-value < 0,05; OR= 7,80 ; CI 95%: 2,16- 29,43). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan pengganaan sampel yang lebih besar dengan Iallcangan studi cohort, atau penelitian dengan menggunakan studi case-control maupun studi eksperimen untuk melihat pengaruh den faktor Iainnya yang berkaitan kadar lipid darah.


 

Eating pattern which tends to prefer food witb high energy and high fat content such as fust food can cause overweight and ohesity. Overweight and obesity consider as risk factors for degenerative disease. Other risk factors associated with degenerative disease are high blood pressure, waist-hip ratio, and high blood-glucose level at fasting period and hypercholesterolemia. Prevalence survey for high total cholesterol had besn done in Indonesia, including: Surkesnas 200I showed 6% prevalence of high cholesterol (> 200mgldl) of 25-64 year of ages. The SKTR 2005 soowod prevalence of high cholesterol level (200-249 mg!dl) at the same age group was 11.6% while in Depok was 6.6%. One of alternative ways to reduce the high cholesterol level and obesity are by practicing vegetarian diet This research aimed to analyses the factors associated with blood lipid profile (p-value < 0,05; OR 8,20 ; CI 95% : 2,33 - 28,85). Furthermore, the most dominant factor for triglycerides level was also fiber intake (p-value < 0,05; OR =7,80; CI95%: 2,16- 29,43). Futher studies with bigger amount of samples using cohort study design or research with case-control study or experimental study are needed in order to investigate other factors inflWlce the lipid profile of adult vegetarians.

Read More
T-2930
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Mardiyah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Fatmah, Kusharisupeni, Rina Agustina, Nina Kemala Sari
Abstrak: Abstrak
Gangguan kepadatan tulang (osteoporosis dan osteopenia) merupakan masalah kesehatan masyarakat utama yang disebabkan oleh banyak faktor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan kepadatan tulang pada kelompok usia dewasa (30-55 tahun) di daerah urban dan rural terpilih Provinsi Jawa Barat tahun 2012. Disain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan sampel sebanyak 142 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2012 di Pesona Khayangan, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok sebagai daerah urban dan Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor sebagai daerah rural Provinsi Jawa Barat. Prevalensi gangguan kepadatan tulang dalam penelitian ini sebesar 31,7% (4,2% osteoporosis dan 27,5% osteopenia). 
Hasil analisis bivariat menunjukkan proporsi gangguan kepadatan tulang lebih banyak pada responden yang berusia ≥50 tahun (p-value=0,047) dan yang memiliki IMT <23,49 kg/m2 (p-value=0,003). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa responden yang memiliki IMT <23,49 kg/m2 akan mengalami gangguan kepadatan tulang sebesar 5,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki IMT >27,36 kg/m2 dan responden yang memiliki IMT 23,49-27,36 kg/m2 akan mengalami gangguan kepadatan tulang sebesar 2,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki IMT >27,36 kg/m2 setelah dikontrol variabel usia, asupan vitamin D dan asupan protein. 
Pada penelitian ini, IMT merupakan faktor yang paling berhubungan dengan gangguan kepadatan tulang setelah dikontrol variabel usia, asupan vitamin D dan asupan protein. Semakin rendah IMT, semakin tinggi risiko gangguan kepadatan tulang. 
Bone density disorder (osteoporosis and osteopenia) is a major public health problem caused by multifactor. The purpose of this study was to find out factors related to adult bone density disorder (30-55 years of age) in the selected urban and rural area, West Java Province, 2012. It used cross-sectional method and the sample was 142 respondents. The data was taken on May-June 2012 in Pesona Khayangan, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok as the urban area and Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor as the rural area. Prevalence of bone density disorder in this study was 31,7% (4,2% osteoporosis and 27,5% osteopenia). 
Bivariate analysis showed higher proportion of bone density disorder in respondent aged ≥50 years (p-value=0,047) and BMI <23,49 kg/m2 (p-value=0,003). Multivariate analysis verified that respondent with BMI <23,49 kg/m2 will 5,5 times higher to have bone density disorder than respondent with BMI >27,36 kg/m2 and respondent with BMI 23,49-27,36 kg/m2 will 2,2 times higher to have bone density disorder than respondent with BMI >27,36 kg/m2 after controlled by age, vitamin D and protein intake variable. 
In this study, BMI is the most related factor of bone density disorder after controlled by age, vitamin D and protein intake variable. The lower BMI, the higher risk of bone density disorder.
Read More
T-3709
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fauzan Antyanta; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Alfanissa Ilmaladuni
Abstrak:
Permasalahan gizi balita, yaitu gizi kurang, berat badan kurang dan berat badan tidak naik, merupakan masalah gizi yang masih tinggi prevalensinya secara nasional. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menerapkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut, termasukoleh Puskesmas Tanjung Priok di Jakarta Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status gizi pada balita bermasalah gizi usia 0-59 bulan dalam program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Priok tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel balita gizi kurang usia 0-59 bulan berjumlah 134 balita yang telah mengikuti program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal pada tahun 2025. Variabel independe meliputi faktor balita (usia balita, jenis kelamin balita, ASI eksklusif, PMT yang dihabiskan, penyakit infeksi dan imunisasi) dan faktor orang tua (pendidikan ayah dan ibzu, status pekerjaan ayah dan ibu dan jumlah anak dalam keluarga). Uji statistik chi square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 52,2% balita mengalami kenaikan status gizidan terdapat hubungan yang signifikan antara usia balita dengan peningkatan status gizi mereka (p-value = 0,001).

Nutritional problems of toddlers, namely malnutrition, underweight and weight faltering, are nutritional problems that still have a high prevalence nationally. To address this problem, the government implemented a local food supplementary feeding program as one of the efforts to overcome this problem. The local food supplementary feeding program is implemented by the Tanjung Priok Community Health Center in North Jakarta. The purpose of this study was to identify factors related to improving the nutritional status of toddlers with nutritional problems aged 0-59 months in the local food supplementary feeding program in the Tanjung Priok Community Health Center working area in 2025. This study used a cross-sectional study design with a sample of 134 malnourished toddlers aged 0-59 months who had participated in the local food supplementary feeding program in 2025. Independent variables included toddler factors (toddler age, toddler gender, exclusive breastfeeding, PMT consumed, infectious diseases and immunizations) and parental factors (father's and mother's education, father's and mother's employment status and number of children in the family). The chi-square statistical test was used to see the relationship between the studied variables. The results showed that 52.2% of toddlers had improved nutritional status and there was a significant relationship between the age of the toddlers and the improvement in nutritional status of toddlers (p-value = 0.001).
Read More
S-12151
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isna Aulia Fajarini; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Ekowati Rahajeng
Abstrak: Obesitas pada diabetisi (penderita DM Tipe 2) berdampak pada peningkatan risiko terjadinya komplikasi berupa nefropati diabetis dan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas pada diabetisi dewasa. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan melibatkan 133 responden yang merupakan perserta PROLANIS. Pengukuran asupan dilakukan menggunakan food recall 1x24 jam, kebiasaan makan menggunakan FFQ, dan aktivitas fisik menggunakan GPAQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 63,9% diabetisi mengalami obesitas (IMT ≥25 kg/m2). Obesitas pada diabetisi berhubungan signifikan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan terkait gizi, dan lama menderita DM tipe 2. Edukasi kepada diabetisi tekait diet bagi penderita DM tipe 2 penting untuk mengurangi obesitas pada diabetisi. Kata kunci: Obesitas, Diabetes Mellitus Tipe 2 Obesity among adult with type 2 diabetes heightens the risk of other comorbid diseases such as diabetic nephropathy and cardiovascular disease. The aim of this study was to determine factors associated with obesity among adult with type 2 diabetes. This study used cross-sectional design and data were collected from 133 member of PROLANIS. Food intake was assessed with 1x24 H food recall, food habit with FFQ, and physical activity with GPAQ. The result showed 63,9% of adult with type 2 diabetes were obese (BMI ≥25 kg/m2). Obesity is significantly associated with level of education, nutrition knowledge, and duration of diabetes. Health education about diet for diabetic patient is important to decrease obesity among adult with type 2 diabetes. Keywords: Obesity, Type 2 Diabetes
Read More
S-9436
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive