Ditemukan 31568 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dewi Safitri; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Ratna Djuwita, Herdis Herdiansyah, Legis Novianthy, Sri Herlin K.
Abstrak:
Read More
Timbulan food waste tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan, namun juga menyebabkan masalah kesehatan. Mahasiswa, sebagai kelompok dewasa muda, memiliki kecenderungan tinggi dalam menghasilkan food waste, terutama di area kantin kampus. Penelitian pada tesis ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku food waste mahasiswa di kantin universitas. Metode yang digunakan adalah mixed method dengan embedded design. Penelitian kuantitatif sebagai penelitian utama dan penelitian kualitatif sebagai penelitian penunjang. Pengisian kuesioner dilakukan terhadap 160 responden dengan analisis data menggunakan model mediasi PROCESS dari Hayes. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa faktor sosiodemografi meliputi jenis kelamin, umur, biaya hidup per bulan, klaster fakultas, asal daerah dan pengaturan tempat tinggal tidak berhubungan signifikan dengan niat perilaku food waste. Namun, biaya hidup per bulan berhubungan signifikan dengan frekuensi perilaku food waste dan faktor pengaturan tempat tinggal berhubungan signifikan dengan estimasi jumlah food waste yang ditimbulkan. Sikap dan perceived behavioral control determinan signifikan perilaku, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui niat (p<0.05 dan 95% CI tidak mencakup 0). Norma subjektif merupakan determinan signifkan perilaku food waste jika di mediasi oleh niat (b=0.217, 95% CI [0.117; 0.325]). Sementara pada variabel personal norm, tidak terbukti sebagai determinan perilaku food waste (p>0.05 dan 95% CI mencakup 0). Disarankan Universitas Indoneisa dapat melakukan upaya edukasi yang difokuskan pada penguatan sikap dan persepsi kontrol mahasiswa terhadap food waste sehingga mahasiswa merasa mampu untuk mencegah timbulan food waste di lingkungan kampus.
The generation of food waste not only causes economic, social, and environmental losses, but also poses health problems. University students, as a group of young adults, tend to generate a significant amount of food waste, particularly in campus canteens. This thesis aims to identify the factors associated with students’ food waste behavior in university canteen settings. A mixed method with an embedded design was employed, in which the quantitative method served as the primary method and the qualitative method as a complementary method. The quantitative phase involved 160 respondents, and data were analyzed using Hayes' PROCESS mediation model. The results revealed that sociodemographic factors including gender, age, monthly living expenses, faculty cluster, place of origin, and housing arrangement were not significantly associated with the intention of food waste. However, monthly living expenses were significantly associated with the frequency of food waste behavior, and housing arrangements were significantly associated with the estimated amount of food waste generated. Attitude and perceived behavioral control were found to be significant determinants of food waste behavior, both directly and indirectly through intention (p < 0.05, 95% CI excluding 0). Subjective norm also emerged as a significant determinant of food waste behavior when mediated by intention (b = 0.217, 95% CI [0.117; 0.325]). In contrast, personal norm was not identified as a determinant of food waste behavior (p > 0.05, 95% CI including 0). It is recommended that Universitas Indonesia implement educational efforts focused on strengthening students’ attitudes and perceived behavioral control toward food waste, thereby empowering students to actively prevent food waste generation on campus.
T-7430
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gadis Jelita; Pembimbing: Kartika Anggun Dimar Setio; Penguji: Dadan Erwandi, Sanyulandy Leowalu
Abstrak:
Read More
Perilaku seksual berisiko pada mahasiswa merupakan salah satu isu kesehatan reproduksi yang perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak direncanakan, serta berbagai konsekuensi kesehatan lainnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor personal maupun faktor lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor demografi, self-efficacy, komunikasi seksual, dan norma sosial dengan perilaku seksual berisiko pada mahasiswa yang belum menikah di Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dianalisis secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan setiap variabel penelitian. Selanjutnya, analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney, Kruskal–Wallis, dan korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan skor perilaku seksual berisiko berdasarkan usia (p = 0,117), jenis kelamin (p = 0,061), tempat tinggal (p = 0,439), maupun uang saku (p = 0,147). Sebaliknya, self-efficacy memiliki hubungan negatif dengan perilaku seksual berisiko (ρ = -0,400; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan sedang. Komunikasi seksual juga menunjukkan hubungan negatif yang signifikan (ρ = -0,172; p = 0,022), meskipun kekuatan hubungannya sangat lemah. Selain itu, norma sosial berhubungan negatif secara signifikan dengan perilaku seksual berisiko (ρ = -0,271; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan lemah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dengan self-efficacy yang lebih tinggi, kemampuan komunikasi seksual yang lebih baik, serta norma sosial yang lebih positif cenderung memiliki perilaku seksual berisiko yang lebih rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakteristik demografi tidak berhubungan dengan perilaku seksual berisiko, sedangkan self-efficacy, komunikasi seksual, dan norma sosial memiliki hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku seksual berisiko pada mahasiswa perlu diarahkan pada penguatan self-efficacy, peningkatan kemampuan komunikasi seksual, serta pembentukan lingkungan sosial yang mendukung pengambilan keputusan seksual yang sehat.
Risky sexual behavior among university students is a reproductive health issue requiring attention due to its potential to increase the risk of sexually transmitted infections, unplanned pregnancies, and various other health consequences. Studies indicate that such behavior is influenced by both personal and social-environmental factors. This study aimed to analyze the associations of demographic factors, self-efficacy, sexual communication, and social norms with risky sexual behavior among unmarried students at the University of Indonesia. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed. Univariate analysis was conducted to describe respondent characteristics and each research variable. Subsequently, bivariate analysis was performed using the Mann–Whitney test, Kruskal–Wallis test, and Spearman correlation at a 95% significance level (α = 0.05). The results showed no significant differences in risky sexual behavior scores based on age (p = 0.117), gender (p = 0.061), place of residence (p = 0.439), or allowance (p = 0.147). Conversely, self-efficacy was negatively associated with risky sexual behavior (ρ = -0.400; p < 0.001), indicating a moderate-strength relationship. Sexual communication also showed a significant negative association (ρ = -0.172; p = 0.022), albeit with very weak strength. Additionally, social norms were significantly negatively associated with risky sexual behavior (ρ = -0.271; p < 0.001), with a weak relationship strength. These findings indicate that students with higher self-efficacy, better sexual communication skills, and more positive social norms tend to exhibit lower levels of risky sexual behavior. The study concludes that while demographic characteristics are not associated with risky sexual behavior, self-efficacy, sexual communication, and social norms show significant associations. Therefore, efforts to prevent risky sexual behavior among students should focus on strengthening self-efficacy, improving sexual communication skills, and fostering a social environment that supports healthy sexual decision-making.
S-12467
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhita Yoana; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Fidiansjah
S-10323
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanifa Alyaratri Susilo; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Tri Krianto, Ratna Tri Safariningsih
Abstrak:
Read More
Universitas Indonesia memiliki organisasi paguyuban daerah untuk memfasilitasi mahasiswa rantau dalam menghadapi kehidupan kampus. Namun masih ada kasus mahasiswa rantau yang meninggal karena sakit dan kurang mendapat layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku mencari layanan kesehatan pada mahasiswa rantau Universitas Indonesia tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan self-administered questionnare oleh mahasiswa S1 Reguler Universitas Indonesia yang terdaftar sebagai anggota di paguyuban daerah hingga Mei 2024 yang berjumlah 299 mahasiswa. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 217 (76,2%) responden pernah mencari layanan kesehatan di kampus selama berkuliah di Universitas Indonesia. Penelitian ini juga menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara asuransi kesehatan (p<0,001; OR=6,32; 95% CI=3,59–11,13), literasi kesehatan (p=0,004; OR=2,12; 95% CI=1,26–3,56), dan dukungan sosial (p=0,011; OR=0,51;95% CI=0,30–0,86) dengan perilaku mencari layanan kesehatan. Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini adalah meningkatkan sosialisasi layanan kesehatan di lingkungan kampus oleh kakak asuh dari masing-masing paguyuban, terutama saat masa Orientasi Kehidupan Kampus sebagai bentuk peningkatan promosi kesehatan di lingkungan Universitas Indonesia.
The University of Indonesia has regional community organizations to facilitate overseas students in facing campus life. However, there are still cases of overseas students who have died due to illness and lack of healthcare services. This study aims to determine the determinants of health service-seeking behavior among overseas students at the University of Indonesia in 2024. This study uses a cross-sectional design. Data were collected using a self-administered questionnaire by undergraduate students of the University of Indonesia who were registered as members of regional communities until May 2024, totaling 299 students. Data were analyzed using the chi-square test to determine the relationship between independent variables and the dependent variable. The results showed that 217 (76.2%) respondents had sought health services on campus while studying at the University of Indonesia. This study also showed a statistically significant relationship between health insurance (p<0.001; OR=6.32; 95% CI=3.59–11.13), health literacy (p=0.004; OR=2.12; 95% CI=1.26–3.56), and social support (p=0.011; OR=0.51; 95% CI=0.30–0.86) with health service-seeking behavior. Therefore, the recommendations based on this study are to enhance the socialization of health services within the campus environment by senior mentors from each regional community, especially during the Campus Life Orientation period, as a form of health promotion improvement at the University of Indonesia.
S-11733
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurhidayah Nurdin; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Read More
Perilaku sleep hygiene yang buruk pada mahasiswa merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, kesehatan mental, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku sleep hygiene mahasiswa S1 Reguler Universitas Indonesia berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) yang mencakup variabel pengetahuan, sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan niat. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada 262 mahasiswa S1 Reguler Universitas Indonesia pada tahun 2026 menggunakan teknik quota sampling, kemudian dianalisis menggunakan uji t-independent dan uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perilaku sleep hygiene responden masih rendah dengan nilai 53,69 pada skala 100. Rata-rata durasi tidur hanya 6,29 jam per malam di bawah rekomendasi NSF dan Kemenkes RI yaitu 7–9 jam. Analisis bivariat menunjukkan bahwa norma subjektif (p = 0,026) dan persepsi kontrol perilaku (p = 0,016) berhubungan signifikan terhadap perilaku sleep hygiene. Semakin baik norma subjektif dan semakin tinggi persepsi kontrol perilaku mahasiswa, semakin baik pula perilaku sleep hygiene yang dimiliki. Jenis kelamin, pengetahuan, sikap, dan niat tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi promosi kesehatan perlu berfokus pada penguatan persepsi kontrol perilaku mahasiswa serta pelibatan lingkungan sosial sebagai pendukung penerapan perilaku sleep hygiene yang sehat
Poor sleep hygiene behavior among students is one of the health issues related to decreased cognitive function, mental health, and quality of life. This study aims to analyze the determinants of sleep hygiene behavior among undergraduate students at the University of Indonesia based on the Theory of Planned Behavior (TPB), which includes variables such as knowledge, attitude, subjective norms, perceived behavioral control, and intention. The research employs a cross-sectional design with a quantitative approach. Data were collected through an online questionnaire from 262 undergraduate students at the University of Indonesia in 2026, using quota sampling technique, and analyzed using independent t-tests and simple linear regression. The results showed that the respondents' average sleep hygiene score was relatively low, at 53.69 on a 100-point scale. The average sleep duration was only 6.29 hours per night, which is below the 7–9 hours recommended by the NSF and the Indonesian Ministry of Health. Bivariate analysis revealed that subjective norms (p = 0.026) and perceived behavioral control (p = 0.016) were significantly associated with sleep hygiene behavior. Students with better subjective norms and higher perceived behavioral control tended to exhibit better sleep hygiene behavior. Sex, knowledge, attitude, and intention were not significantly associated with sleep hygiene behavior. These findings suggest that health promotion interventions should focus on strengthening students’ perceived behavioral control and involve the social environment as a supporter in adopting healthy sleep hygiene behaviors.
S-12319
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suci Maudy Aulia; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tri Krianto, Zakianis, Adi Darmawan, Lusi Nurbaiti Badri
Abstrak:
Read More
Warung Tegal sebagai bagian dari sektor informal kuliner tradisional di Indonesia berpotensi menyumbang timbulan food waste yang bersumber dari perilaku operasional pengelola, karyawan, dan konsumen pada tahap pembelian, persiapan, penyimpanan, penyajian, hingga konsumsi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gambaran perilaku food waste di Warung Tegal X, Y, dan Z. Penelitian ini melalui pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa food waste didominasi saat tahap persiapan dan penyajian, terutama pada bahan sayuran yang mudah rusak dan tidak segar, sementara lauk pauk cenderung diolah kembali untuk dijual di hari berikutnya. Ketiga warung menunjukkan sikap positif terhadap dampak lingkungan dari food waste, namun belum konsisten dalam praktik pemilahan sampah. Norma subjektif terbentuk melalui adaptasi peran pengelola dan karyawan Warung Tegal dalam mengelola makanan agar tidak terbuang. Warung Tegal X memiliki kontrol perilaku yang lebih baik dalam pemilahan, sementara Y dan Z masih rendah. Pengetahuan dasar mengenai jenis sampah makanan telah dimiliki pada setiap Warung Tegal, namun pengelolaan sampah makanan masih terbatas karena minimnya fasilitas lingkungan, akses terhadap program 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pengolahan sampah dengan maggot, sosialisasi dampak food waste, serta kurangnya dukungan dari pemerintah dan komunitas dalam mendorong perilaku ramah lingkungan.
Warung Tegal, an informal traditional culinary sector in Indonesia, has the potential to contribute to food waste caused by the operational behavior of managers, employees, and consumers during the stages of purchasing, preparation, storage, serving, and consumption. This study aimed to identify food waste behavior at Warung Tegal X, Y, and Z. A qualitative approach with a phenomenological design and thematic analysis was used in this study. The results of this study indicate that food waste most frequently occurs during the preparation and serving stages, particularly with vegetables that are prone to spoilage and are no longer fresh, while side dishes are often recycled for sale the following day. All three Warung Tegal restaurants demonstrated a positive attitude toward the environmental impact of food waste, but were inconsistent in their waste sorting practices. Subjective norms emerged through role adjustments between managers and employees of Warung Tegal restaurants in managing food waste. Warung Tegal X had better behavioral control in sorting, while Y and Z were still low. Basic knowledge about types of food waste exists in every Warung Tegal, but food waste management remains limited due to insufficient environmental facilities, lack of access to 3R programs (Reduce, Reuse, Recycle), waste management using maggots, awareness of food waste impacts, and insufficient support from the government and community in promoting sustainable behavior.
T-7249
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Winda Widyanty; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Tri Krianto, Melyana Lumbantoruan, Ananda
Abstrak:
Read More
Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta termasuk ke dalam lima provinsi dengan proporsi penggunaan rokok elektronik tertinggi di Indonesia, khususnya pada kelompok usia muda termasuk mahasiswa . Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa di DKI Jakarta menggunakan pendekatan Problem Behavior Theory (PBT). Teori ini digunakan karena mampu menjelaskan bagaimana perilaku menyimpang, termasuk penggunaan zat adiktif seperti rokok elektronik, terbentuk melalui interaksi kompleks antara faktor individu, lingkungan sosial, dan sistem perilaku. Penelitian ini melibatkan 281 mahasiswa berusia 20–24 tahun dari lima wilayah administratif Jakarta sebagai responden. Data dikumpulkan secara daring dan dianalisis dengan statistik deskriptif, uji chi-square, dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 17,8% responden merupakan pengguna aktif rokok elektronik, 35,9% pernah mencoba rokok elektronik, dan 41% mengaku telah berhenti menggunakan rokok elektronik. Dari pengguna aktif rokok elektronik, 56% menggunakannya setiap hari dan sebagian besar telah menggunakannya lebih dari dua tahun. Alasan utama penggunaan rokok elektronik meliputi rasa, aroma, kepraktisan, serta persepsi sebagai alternatif rokok konvensional. Faktor signifikan yang mempengaruhi perilaku penggunaan rokok elektronik mencakup jenis kelamin, struktur keluarga, perilaku merokok orang tua, kecocokan nilai orang tua dan teman, serta penolakan teman terhadap perilaku menyimpang dengan jenis kelamin sebagai sebagai variabel yang paling dominan, di mana mahasiswa laki-laki memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menjadi pengguna rokok elektronik dibandingkan perempuan . Rekomendasi difokuskan pada pengembangan modul promosi kesehatan berbasis gender dan keluarga bersama perguruan tinggi, penguatan surveilans serta kawasan bebas rokok di kampus, pemanfaatan media digital dan sosial untuk edukasi, pemberdayaan mahasiswa sebagai peer leader dan micro-influencer, serta monitoring partisipatif melalui umpan balik digital. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan pendekatan longitudinal untuk memahami dinamika jangka panjang.
The Province of Jakarta is is among the top five provinces in Indonesia with the highest proportion of electronic cigarette use, particularly among young people, including university students. This study aimed to identify the factors influencing electronic cigarette use behavior among college students in Jakarta by employing the Problem Behavior Theory (PBT) framework. This theory was selected because it effectively explains how deviant behaviors, including the use of addictive substances such as electronic cigarettes, are formed through complex interactions among individual factors, the social environment, and behavioral systems. The study involved 281 college students aged 20–24 years from the five administrative regions of Jakarta who served as respondents. Data were collected online and analyzed using descriptive statistics, chi-square tests, and multiple logistic regression. The results showed that 17.8% of respondents were active users of electronic cigarettes, 35.9% had tried using them, and 41% reported having quit. Among active users, 56% used electronic cigarettes daily, and most had been using them for more than two years. The primary reasons for using electronic cigarettes included taste, aroma, convenience, and the perception of e-cigarettes as an alternative to conventional cigarettes. Significant factors influencing electronic cigarette use behavior included gender, family structure, parental smoking behavior, congruence of values between parents and peers, and peer rejection of deviant behavior, with gender emerging as the most dominant factor, indicating that male students were more likely to use electronic cigarettes than female students. The recommendations focus on developing gender- and family-based health promotion modules in collaboration with universities, strengthening surveillance systems and smoke-free zones on campuses, utilizing digital and social media for educational outreach, empowering students as peer leaders and micro-influencers, and implementing participatory monitoring through digital feedback mechanisms. Further research using longitudinal approaches is recommended to better understand the long-term dynamics of electronic cigarette use behavior
The Province of Jakarta is is among the top five provinces in Indonesia with the highest proportion of electronic cigarette use, particularly among young people, including university students. This study aimed to identify the factors influencing electronic cigarette use behavior among college students in Jakarta by employing the Problem Behavior Theory (PBT) framework. This theory was selected because it effectively explains how deviant behaviors, including the use of addictive substances such as electronic cigarettes, are formed through complex interactions among individual factors, the social environment, and behavioral systems. The study involved 281 college students aged 20–24 years from the five administrative regions of Jakarta who served as respondents. Data were collected online and analyzed using descriptive statistics, chi-square tests, and multiple logistic regression. The results showed that 17.8% of respondents were active users of electronic cigarettes, 35.9% had tried using them, and 41% reported having quit. Among active users, 56% used electronic cigarettes daily, and most had been using them for more than two years. The primary reasons for using electronic cigarettes included taste, aroma, convenience, and the perception of e-cigarettes as an alternative to conventional cigarettes. Significant factors influencing electronic cigarette use behavior included gender, family structure, parental smoking behavior, congruence of values between parents and peers, and peer rejection of deviant behavior, with gender emerging as the most dominant factor, indicating that male students were more likely to use electronic cigarettes than female students. The recommendations focus on developing gender- and family-based health promotion modules in collaboration with universities, strengthening surveillance systems and smoke-free zones on campuses, utilizing digital and social media for educational outreach, empowering students as peer leaders and micro-influencers, and implementing participatory monitoring through digital feedback mechanisms. Further research using longitudinal approaches is recommended to better understand the long-term dynamics of electronic cigarette use behavior
T-7388
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Benedicta Cindy Delphinia; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Windra Aryeni
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stigma sosial COVID-19 di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia dan faktor yang berpotensi menyebabkan stigma sosial COVID-19 tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi potong lintang. Populasi penelitian ini merupakan seluruh mahasiswa jenjang studi strata 1 (S1) dengan sampel sebanyak 373 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang diisi mandiri oleh responden. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 31,1% responden masih memiliki stigma sosial.
Read More
S-10839
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eka Noviana Nasriyanto; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ahmad Syafiq, Artha Prabawa; Bayu Aji
Abstrak:
Read More
ABSTRAK Literasi kesehatan (health literacy) didefinisikan sebagai keterampilan kognitif dan sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan individu untuk mendapatkan akses untuk memahami dan menggunakan informasi dengan cara mempromosikan dan memelihara kesehatan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan beserta determinan sosialnya pada mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler Universitas Indonesia tahun angkatan 2017/2018. Penelitian dengan desain potong lintang (cross-sectional) ini menggunakan instrumen Health Literacy Scale versi 16 item (HLS-EU- Q16) dan mendapatkan data dari 373 mahasiswa yang tersebar pada tiga rumpun keilmuan di Universitas Indonesia (Rumpun Sains dan Teknologi, Rumpun Sosial dan Humaniora, dan Rumpun Ilmu Kesehatan). Data dianalisis secara univariat, bivariat (dengan menggunakan uji T independen dan uji Anova), dan multivariat (dengan menggunakan regresi linier multivariabel). Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi kesehatan secara keseluruhan cukup baik (M=2,91, SD=0,78) dengan nilai tertinggi pada domain fungsional (M=3,21, SD=0,69), disusul oleh domain interaktif (M=2,90, SD=0,76), lalu domain kritikal (M=2,67, SD=0,87). Hasil analisis bivariat menunjukkan hanya rumpun keilmuan yang yang memiliki perbedaan signifikan dengan mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan yang memiliki tingkat literasi kesehatan lebih tinggi daripada kedua rumpun lainnya. Sementara hasil analisis regresi menunjukkan hanya variabel rumpun keilmuan dan penguasaan bahasa asing yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat literasi kesehatan mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler Universitas Indonesia tahun angkatan 2017/2018. Penelitian tentang literasi kesehatan pada populasi lain, baik pada mahasiswa di universitas lain, maupun pada kelompok demografi lainnya (orang dewasa, ibu hamil, dan lain-lain) akan menambah masukan bagi pengembangan program-program edukasi kesehatan di Indonesia dan memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan.
ABSTRACT Health literacy is defined as the cognitive and social skills that determine the individual's motivation and ability to gain access to understanding and using information by promoting and maintaining good health. This study aimed to determine the level of health literacy and its social determinants among first-year undergraduate students at the Universitas Indonesia (class of 2017/2018). Using cross-sectional design, this study adapted the short version of Health Literacy Scale instrument (HLS-EU-Q16). Data were collected from 373 college students from three clusters of disciplines (i.e., Science and Technology, Social and Humanity, and Health Sciences). Univariate analyzes showed that in general, the mean of health literacy was rather good (M=2,91, SD=0,78) with the functional domain led as the highest (M=3,21, SD=0,69), followed by the interactive domain (M=2,90, SD=0,76), and then the critial domain (M=2,67, SD=0,87). Bivariate analyzes using independent T test and one-way Anova showed that only the cluster variable has significant differences. While multiple regression showed only the cluster and the number of languages variables that have significant effects toward health literacy. Future studies assessing health literacy among college students in different universities or among other population groups may provide more contribution to the development of health education programs.
T-5323
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Risiya Sunarni; Pembimbing: Tiara Amelia; Penguji: Evi Martha, Arustiyono
Abstrak:
Penelitian ini menjelaskan tentang gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan produk pencerah kulit pada mahasiswa Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini menggunakan teknik Proportional Stratified Random Sampling yang diikuti sebanyak 200 responden dengan mengisi kuesioner daring berbasis google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (10%) mahasiswa UI pernah menggunakan produk pencerah kulit dan (70,5%) menggunakan produk pencerah kulit setahun terakhir. Selain itu, (42,5%) mahasiswa UI memiliki pengetahuan yang rendah tentang kandungan bahan aktif produk pencerah kulit, (61,5%) mahasiswa UI memiliki sikap yang positif yang tinggi terhadap kulit yang cerah cerah dan produk pencerah kulit.
Read More
S-10718
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
