Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35531 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Veli Sungono; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Korpomotor: Tri Edhi Budhi Soesilo, Hori Hariyanto; Penguji: Asri C. Adisasmita, Syahrizal, Antonia Lukito; Allen Widysanto; Vivien Puspitasari
D-595
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafira Rahmania; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Wisesa Soetisna, Rudyanto Sedono
Abstrak:
Penyakit kardiovaskular, khususnya penyakit arteri koroner (Coronary Artery Disease/CAD), merupakan salah satu penyebab utama kematian global. Bedah pintas arteri koroner (Coronary Artery Bypass Graft/CABG) merupakan salah satu intervensi utama untuk CAD yang bertujuan mengurangi morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun, perawatan intensif yang berkepanjangan pasca CABG dapat berdampak negatif terhadap luaran kondisi pasien dan beban sumber daya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesintasan pasien pasca bedah pintas arteri koroner (CABG) untuk keluar dari ICU dalam waktu ≤48 jam dan mengembangkan model skoring prediksi lama rawat intensif. Studi menggunakan desain kohort retrospektif dengan data sekunder dari registri bedah jantung dewasa di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita periode Januari 2019 – Agustus 2024. Analisis mencakup univariat, bivariat (log-rank dan uji Cox proportional hazard), serta multivariat untuk memperoleh model prediksi terbaik. Hasil menunjukkan bahwa faktor faktor usia (adjHR 1.22; 95% CI 1.12-1.32), stroke (adjHR 1.29), gangguan fungsi ginjal berat (adjHR 1.51); gangguan fungsi ginjal sedang (adjHR 1.89), fungsi jantung normal (adjHR 1.80), kondisi kritis pre-operasi (adjHR 3.37), disfungsi jantung sedang (adjHR 1.85), disfungsi jantung ringan (adjHR 2.51), fungsi jantung normal (adjHR 3.03); mengalami infark miokard >21 hari pre-operasi (adjHR 1.35); tidak pernah mengalami infark miokard (adjHR 1.36); dan status prosedur elektif (adjHR 1.36) sebagai prediktor signifikan perawatan ICU ≤48 jam. Model skoring yang dikembangkan memiliki nilai AUC 68,87%, dengan titik potong skor ≥14 menunjukkan prediksi keberhasilan pasien menyelesaikan perawatan ICU dalam waktu ≤48 jam pasca operasi CABG. 

Cardiovascular diseases, particularly coronary artery disease (CAD), are among the leading causes of global mortality. Coronary Artery Bypass Graft (CABG) surgery is one of the primary interventions for CAD, aimed at reducing morbidity and improving patients' quality of life. However, prolonged intensive care post-CABG can negatively impact patient outcomes and place a burden on healthcare resources. This study aims to analyze factors influencing the survival of post-CABG patients to leave the ICU within ≤48 hours and to develop a scoring model for predicting intensive care length of stay. The study employed a retrospective cohort design using secondary data from the adult cardiac surgery registry at RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita from January 2019 to August 2024. The analysis included univariate, bivariate (log-rank and Cox proportional hazards tests), and multivariate approaches to obtain the best predictive model. Results identified are age (adjHR 1.22; 95% CI 1.12–1.32), stroke (adjHR 1.29), severe renal dysfunction (adjHR 1.51), moderate renal dysfunction (adjHR 1.89), normal cardiac function (adjHR 1.80), critical preoperative condition (adjHR 3.37), moderate cardiac dysfunction (adjHR 1.85), mild cardiac dysfunction (adjHR 2.51), normal cardiac function (adjHR 3.03), myocardial infarction >21 days preoperatively (adjHR 1.35), no history of myocardial infarction (adjHR 1.36), and elective procedure status (adjHR 1.36) as significant predictors for ICU stays ≤48 hours. The developed scoring model achieved an AUC of 68.87%, with a cutoff score of ≥14 indicating successful prediction of ICU discharge within ≤48 hours post-CABG surgery
Read More
T-7179
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Utami Purbasari; Promotor: Nurhayati Adnan Prihartono; Kopromotor: Helda, Budhi Antariksa; Penguji: Ratna Djuwita, Sudarto Ronoatmodjo, Yohanes WH George, Rahmad Mulyadi, Rusli Muljadi
Abstrak:
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) meningkatkan kebutuhan perawatan intensif pada pasien COVID-19. Diperlukan upaya deteksi cepat untuk memilah prioritas pasien COVID-19 yang berisiko ARDS. Penelitian bertujuan memprediksi derajat ARDS menggunakan kuantifikasi luas opasitas/konsolidasi foto dan mengidentifikasi faktor prediktor ARDS. Metode: Desain studi crossectional dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta pada Juni-Desember 2022. Uji diagnostik terhadap hasil skoring foto toraks dengan komparasi 3 metode yaitu Brixia, Reeves dan modifikasi skoring foto dengan metode skoring Universal Thorax ARDS Measurement Index (UTAMI) dibandingkan dengan diagnosis ARDS menggunakan kriteria Berlin sebagai gold standard. Hasil: Sebanyak 318 pasien rawat inap COVID-19 dengan pneumonia dianalisis. Faktor laboratorium seperti kadar neutrofil, CRP, D-dimer, saturasi dan respiratory rate merupakan faktor prediktor ARDS dengan metode Berlin. Pada metode skoring UTAMI, diketahui komorbid CAD, CRP dan saturasi oksigen dapat memprediksi kejadian ARDS. CRP merupakan faktor prediktor terhadap ARDS pada kedua metode Berlin (PR 1,28; 95% CI 0,97 -1,70) dan UTAMI (PR 1,71; 95% CI 1,19– 2,46). Pada uji AUROC diketahui bahwa nilai PaO2/FiO2 dengan metode berlin bisa memisahkan pasien ARDS ICU dan non-ARDS ICU dengan akurasi 81,2% sedang Metode skoring UTAMI sebesar 79,8 %. sehingga sensitifitas dan spesifisitas pada metode skoring UTAMI terhitung kategori baik. Kesimpulan: Metode UTAMI dapat digunakan untuk memprediksi level ARDS pasien yang membutuhkan ICU . Saran: Klinisi dapat mengaplikasikan model prediktif ARDS ini untuk meningkatkan pelayanan ICU di rumahsakit

Background: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) has an impact to increase the need for intensive care among COVID-19 patients. Early detection is needed to prioritize COVID-19 patients at risk of ARDS. The research aims to predict the level of ARDS using quantification of the extent of photo opacity/consolidation and identifying factors of ARDS. Method: A cross-sectional study design was carried out at the Fatmawati Central General Hospital, Jakarta in June-December 2022. Diagnostic tests on the results of thorax x-ray scoring using a comparison of 3 methods, consist of Brixia, Reeves and modified photo scoring using the UTAMI method were compared with ARDS diagnosis using the Berlin criteria as gold standards. Results: A total of 318 hospitalized COVID-19 patients with pneumonia were analyzed. Laboratory factors such as neutrophil levels, CRP, D-dimer, saturation and respiratory rate are predictor factors for ARDS using the Berlin method. Meanwhile, using UTAMI scoring, it is known that comorbid CAD, CRP and Oxygen Saturation are predictor the incidence of ARDS. CRP was a predictor factor for ARDS in both the Berlin (PR 1.28; 95% CI 0.97 –1.70) and UTAMI (PR 1.71; 95% CI 1.19–2.46) methods. In the AUROC test, it was found that the PaO2/FiO2 using the Berlin method could separate ARDS ICU patients from non-ARDS ICU patients with an accuracy of 81.2%. Meanwhile, the UTAMI scoring method was 79.8%. so that the sensitivity and specificity of the UTAMI scoring method are in fair discrimination. Conclusion: The UTAMI method can be used to predict a patient's ARDS level. Recommendation: Clinicians could use UTAMI method as predictive model score to estimate the need of Intensive Care Unit in ARDS.
Read More
D-505
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Holy Sarah; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Nur Rasyid
Abstrak:
Transplantasi ginjal merupakan pilihan terapi utama bagi pasien dengan penyakit ginjal tahap akhir karena memberikan angka harapan hidup dan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan dialisis. Keberhasilan prosedur ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakteristik donor dan resipien, faktor imunologis, serta penatalaksanaan pra-, peri-, dan pasca-operatif. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menentukan kelangsungan hidup pasien pasca-transplantasi adalah hubungan kekerabatan antara donor dan resipien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh hubungan donor dan resipien terhadap kelangsungan hidup pasien transplantasi ginjal di RS Siloam Asri selama periode 2017–2024, dengan mempertimbangkan berbagai faktor kovariat. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan analisis kelangsungan hidup berdasarkan data rekam medis 411 pasien. Dari jumlah tersebut, 398 pasien memenuhi kriteria inklusi, dengan 40 pasien mengalami kematian atau kegagalan cangkok. Probabilitas kelangsungan hidup kumulatif pada tahun pertama, ketiga, dan kelima masing-masing sebesar 95,51%, 90,87%, dan 83,23%. Meskipun resipien dari donor tanpa hubungan darah memiliki risiko kematian atau kegagalan cangkok lebih tinggi (HR 3,09; 95% CI 0,42–22,64), hasil tersebut tidak signifikan secara statistik (p=0,267). Kesimpulan menunjukkan bahwa tidak ditemukan pengaruh yang bermakna secara statistik antara hubungan antara resipien dan donor terhadap kelangsungan hidup pasien transplantasi ginjal. Namun, terdapat kecenderungan bahwa resipien dari donor tanpa hubungan darah memiliki risiko kematian atau kegagalan cangkok yang lebih tinggi.

Kidney transplantation is the primary treatment option for patients with end-stage renal disease, as it offers better survival rates and quality of life compared to dialysis. The success of this procedure is influenced by various factors, including donor and recipient characteristics, immunological factors, and pre-, peri-, and post-operative management. One factor suspected to influence post-transplant patient survival is the relationship between recipient and donor. This study aims to evaluate the effect of recipient-donor relationship on the survival of kidney transplant patients at Siloam Asri Hospital during the period 2017–2024, while accounting for several covariates. A retrospective cohort design was used, with survival analysis based on medical record data from 411 patients. Of these, 398 patients met the inclusion criteria, and 40 experienced either death or graft failure. The cumulative survival probabilities at one, three, and five years were 95.51%, 90.87%, and 83.23%, respectively. Although recipients of kidneys from unrelated living donors had a higher risk of death or graft failure (HR 3.09; 95% CI 0.42–22.64), this difference was not statistically significant (p=0.267).The findings suggest no statistically significant association between the recipient-donor relationship and post-transplant patient survival. However, there appears to be a tendency for recipients of unrelated donors to have a higher risk of mortality or graft failure.
Read More
T-7340
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekplin Sekeon; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Mondastri Korib Sudaryo, Aida C. Tantri; Penguji: Dessy R. Emril, Soewarta Kosen, Syahrizal Syarif, Tiara Aninditha
Abstrak: Latar belakang: Upaya mengenal nyeri sentral pada pasien pascastroke dapat dilakukan dengan menyediakan alat bantu diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem skoring diagnostik nyeri sentral pascastroke (NSPS) di rumah sakit, dan menganalisis akurasi dan reliabilitas penggunaan sistem skoring tersebut di puskesmas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan potong-lintang dan merupakan studi diagnostik pada 166 pasien di rumah sakit dan 303 pasien di puskesmas se-wilayah Kota Manado dan sekitarnya. Hasil: Terdapat tiga variabel utama yang dominan sebagai determinan NSPS berdasarkan uji regresi cox yakni keparahan stroke, defisit nyeri tajam dan defisit raba halus. Prevalensi NPSP di rumah sakit berdasarkan baku emas didapatkan sebesar 30,1%. Dengan titik potong skor ≥2 maka didapatkan nilai sensitifitas 82,0% dan sensitifitas 78,45%. Berdasarkan perhitungan menurut teorema Bayes maka didapatkan probabilitas NSPS di RS dengan skor ≥2 sebesar 62,12%, dan <2 sebesar 8,98%. Berdasarkan hasil pemeriksaan spesialis neurologik di puskesmas maka didapatkan prevalensi NSPS di puskesmas berdasarkan skor Sasmita adalah sebesar 40,9%. Hasil uji akurasi menunjukkan sensitivitas skor Sasmita oleh spesialis neurologi dan dokter umum di puskesmas adalah 71,61% dan sensitivitas 76,35%. Perhitungan dengan teorema Bayes didapatkan probabilitas NSPS di puskesmas dengan skor skor ≥2 sebesar 67,69%, dan <2 sebesar 20,42%. Uji reliabilitas antar dokter umum di puskesmas adalah sebesar 0,576. Kesimpulan: Terdapat tiga variabel utama yang dominan sebagai determinan NSPS yakni keparahan stroke, defisit nyeri tajam dan defisit raba halus. Secara deskriptif didapatkan bahwa kualitas hidup pasien stroke dengan NSPS adalah lebih rendah dibandingkan tanpa NSPS. Pada keseluruhan pasien dengan NSPS, domain yang paling sering mengalami gangguan adalah energi. Saran: Skor Sasmita dapat digunakan sebagai dalam penelitan selanjutnya terkait epidemiologi klinik nyeri pascastroke.
Introduction: The identification of central poststroke pain (CPSP) can be facilitated by the provision of diagnostic tools. This study aimed to develop a diagnostic scoring system for CPSP in hospital settings and to analyze the accuracy and reliability of its use in Puskesmas. Method: This cross-sectional diagnostic study was conducted on 166 hospital and 303 stroke survivors from Puskesmas in Manado City and its outskirts area. Result: Based on cox regression, three key variables were identified as dominant determinants of CPSP: stroke severity, pin-prick deficit, and light-touch deficit. The prevalence of CPSP in hospitals, determined using the gold standard, was 30.1%. With a cut-off score of ≥2, the sensitivity and specificity were 82.0% and 78.45%, respectively. Using Bayes' theorem, the probability of CPSP in hospitals with a score ≥2 was 62.12%, and <2 was 8.98%.  At the primary health centers, neurological specialist examinations revealed a CPSP prevalence of 40.9% based on the Sasmita scoring system. The accuracy test showed that the sensitivity of the Sasmita score assessed by neurologists and general practitioners was 71.61% and 76.35%, respectively. Bayes' theorem calculations indicated a CPSP probability at the Puskesmas of 67.69% with a score ≥2 and 20.42% with a score <2. Inter-rater reliability testing among general practitioners yielded a value of 0.576. Descriptively, stroke patients with CPSP had lower quality of life compared to those without CPSP, with the most commonly affected domain being energy. Conclusion: Three key variables were identified as dominant determinants of CPSP: stroke severity, pin-prick deficit, and light-touch deficit. The prevalence of CPSP in this study is relatively high both at hospital and Puskesmas settting. Sasmita score has good accuracy and moderately reliable in detecting CPSP at primary and tertiary care level. Suggestion: The Sasmita scoring system can be utilized in future studies related to the clinical epidemiology of poststroke pain. Serial assessment is encouraged to be conducted for high risk poststroke patients.
Read More
D-549
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yogi Puji Rachmawan; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Helda, Bambang Budi Siswanto; Penguji: Ratna Djuwita, Sabarinah, Habibie Arifianto, Anggoro Budi Hartopo
Abstrak:
Gagal jantung adalah sindroma yang terjadi akibat kegagalan jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi sel tubuh. Prevalensi dan angka kematian gagal jantung di Indonesia cukup tinggi bila dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Gagal jantung pada usia muda akan meningkatkan risiko kematian, menyebabkan rehospitalisasi berulang, menurunkan kualitas hidup, serta meningkatkan beban sistem layanan kesehatan. Obesitas, (diabetes melitus tipe 2) DMT2, hipertensi, merokok, dislipidemia, riwayat keluarga dengan (prematurce coronary artery disease) PCAD, dan jenis kelamin diketahui berhubungan dengan terjadinya gagal jantung. Diperlukan sebuah model prediksi untuk menjelaskan faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya gagal jantung pada usia muda, sehingga model prediksi tersebut dapat menjadi dasar upaya pencegahan terjadinya gagal jantung pada usia muda. Penelitian ini menggunakan desain fixed kohort-retrospektif yaitu pasien usia 18-54 tahun yang berobat di poliklinik jantung atau dirawat inap di 4 rumah sakit (RS) di Indonesia yaitu RS Harapan Kita Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dan RS Adam Malik Medan pada tahun 2021 dan tidak terdiagnosis gagal jantung kemudian diambil data faktor risikonya sesuai variabel yang diteliti. Status pasien terdiagnosis gagal jantung atau tidak akan diikuti setiap bulannya sejak tahun 2021 hingga akhir pengamatan 2024. Kemudian dilakukan analisis deskriptif, bivariabel, dan multivariabel menggunakan Generalized Linear Model (GLM) Poisson untuk mendapatkan nilai koefisien, IRR (interval kepercayaan 95%), dan menyusun model prediksi yang paling tepat. Berdasarkan model, akan dibuat sistem skor dan nilai probabilitas terjadinya gagal jantung. Total 321 sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan median usia 51 tahun (P25-P75: 46-52 tahun). Pada observasi tahun ke-4, probabilitas kumulatif sebesar 0,713 (95% CI 0,661 – 0,760). Hasil analisis menunjukan 3 variabel utama yang signifikan berkaitan dengan risiko terjadinya gagal jantung di usia muda, yaitu obesitas (IRR 1,87; 95% CI 1,31 – 2,68), dislipidemia (IRR 2,58; 95% CI 1,87 – 3,56), dan DMT2 (IRR 2,79; 95% CI 2,01 – 3,87). Skor IMT-Dislipidemia-DMT2 (IDD) disusun sebagai sistem skor prediksi gagal jantung pada usia muda dengan total skor 13 (probabilitas 76,8%). Obesitas, dislipidemia, dan DMT2 merupakan faktor risiko yang berpengaruh signifikan, dan penggunaan sistem Skor IDD memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup baik dalam prediktor terjadinya gagal jantung pada usia muda.

Heart failure is a clinical syndrome that occurs when the heart fails to meet the body’s demand for oxygen and nutrients. The prevalence and mortality rate of heart failure in Indonesia are relatively high compared to other Southeast Asian countries. The occurrence of heart failure in young adults increases the risk of premature death, recurrent rehospitalization, reduced quality of life, and a greater burden on the healthcare system. Several factors such as obesity, type 2 diabetes mellitus (T2DM), hypertension, smoking, dyslipidemia, family history of premature coronary artery disease (PCAD), and sex have been identified as being associated with heart failure. Developing a predictive model to identify the most influential risk factors for heart failure in young adults is crucial for preventive strategies and early interventions. This study employed a fixed retrospective cohort design involving patients aged 18–54 years who visited the cardiology outpatient clinic or were hospitalized at four tertiary hospitals in Indonesia (National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta; Hasan Sadikin Hospital, Bandung; Sebelas Maret University Hospital, Solo; and Adam Malik Hospital, Medan) in 2021. Patients without an initial diagnosis of heart failure were included, and their risk factors were recorded according to the study variables. The patients were followed monthly from 2021 until the end of observation in 2024 to determine whether they developed heart failure. Descriptive, bivariate, and multivariable analyses were conducted using the Poisson Generalized Linear Model (GLM) to estimate coefficients, incidence rate ratios (IRR) with 95% confidence intervals, and to construct the most accurate predictive model. Based on the model, a scoring system and probability value for the occurrence of heart failure were developed. A total of 321 participants met the inclusion and exclusion criteria, with a median age of 51 years (P25–P75: 46–52 years). After four years of observation, the cumulative probability of developing heart failure was 0.713 (95% CI: 0.661–0.760). The analysis identified three significant predictors for heart failure in young adults: obesity (IRR 1.87; 95% CI 1.31–2.68), dyslipidemia (IRR 2.58; 95% CI 1.87–3.56), and T2DM (IRR 2.79; 95% CI 2.01–3.87). The IDD Score (Body Mass Index–Dyslipidemia–Diabetes) was developed as a predictive scoring system for heart failure in young adults, with a total score of 13 corresponding to a 76.8% probability. Obesity, dyslipidemia, and T2DM were found to be significant risk factors for heart failure in young adults. The proposed IDD Score demonstrated good sensitivity and specificity in predicting the occurrence of heart failure within this population.

Read More
D-600
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Telly Purnamasari Agus; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Amal Chalik Sjaaf, Adisasmita, Asri C.; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Mardiati Nadjib, Evi Martha, Rizaldy Taslim Pinzon, Trihono
Abstrak: Pengaruh pelaksanaan clinical pathway terhadap proses pelayanan dan lama hari rawat pasien stroke iskemik di tiga rumah sakit Indonesia Pengaruh pelaksanaan clinical pathway terhadap proses pelayanan dan lama hari rawat pasien stroke iskemik di tiga rumah sakit Indonesia
Read More
D-379
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Fahmia; Pembimbing: Helda; Penguji: Syahrizal Syarif, Astuti Giantini, Tristiyenny Pubianturi
Abstrak: COVID-19 menjadi pandemi di seluruh dunia sejak Maret 2020. Hipertensi merupakan penyakit penyerta yang banyak diderita oleh pasien COVID-19. Banyaknya kasus COVID-19 membuat daya tampung fasilitas kesehatan hampir tidak mencukupi untuk memberikan pelayanan medis rawat inap yang memadai pada pasien COVID-19.Perpanjangan lama rawat inap pasien COVID-19 berefek terhadap besaran biaya yang ditanggung pemerintah atau pasien sendiri. Penentuan prioritas pasien rawat inap menjadi penting untuk rekomendasi panduan pelayanan pasien COVID-19. Saat ini penelitian tentang hubungan hipertensi dengan durasi lama rawat inap pasien COVID-19 di Indonesia masih belum ada. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan antara hipertensi dengan lama rawat inap pasien terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Desain studi kohort retrospectif dilakukan pada 369 pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dirawat inap di RSUI selama Maret sampai dengan Oktober 2020, menilai hubungan hipertensi dengan lama rawat inap pasien terkonfirmasi COVID-19 setelah di kontrol usia, jenis kelamin, komorbid, tingkat keparahan, status PCR saat pulang dan status pasien pada akhir rawat
Read More
T-6216
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhitya Bayu Perdana; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Denni Joko Purwanto
Abstrak: Limfedema merupakan komplikasi kronis yang umumnya terjadi setelah diseksi kelenjar getah bening (KGB) aksila pada pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian, faktor risiko, dan model prediksi limfedema pasca diseksi KGB aksila pada pasien kanker payudara stadium lanjut. Penelitian ini merupakan desain kohort retrospektif pada 174 pasien di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Regresi Cox digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap limfedema. Keakuratan model prediksi dinilai dengan menghitung area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). Hasil penelitian menunjukkan limfedema teridentifikasi pada 88/174 (50,6%) pasien dan sebagian besar mengalami limfedema pada 12 hingga 36 bulan pertama setelah diseksi KGB aksila. Faktor risiko yang terkait dengan limfedema di antaranya adalah usia, obesitas, diabetes, kemoterapi neoadjuvan, dan kemoterapi adjuvan. Model prediksi menunjukkan sensitivitas yang baik (80,2%) pada populasi penelitian dengan nilai AUC 0,706 (95% CI 0,629-0,783; p-value < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa model prediksi yang dikembangkan dalam penelitian ini cukup baik untuk diterapkan oleh para klinisi dalam mengestimasikan risiko limfedema, khususnya untuk pasien kanker payudara dengan stadium lanjut.
Lymphedema is a chronic complication that commonly occurs after axillary lymph node dissection (ALND) in breast cancer patients. This study aimed to determine the incidence, risk factors, and prediction model for lymphedema after ALND in advanced-stage breast cancer patients. This was a retrospective cohort design on 174 patients at Dharmais Cancer Hospital. Cox regression was used to identify significant risk factors for lymphedema. The prediction accuracy of the model was assessed by calculating the area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). The results showed that lymphedema was identified in 88/174 (50.6%) patients and most of them experienced lymphedema in the first 12 to 36 months after ALND. Risk factors associated with lymphedema include age, obesity, diabetes, neoadjuvant chemotherapy, and adjuvant chemotherapy. The prediction model showed good sensitivity (80.2%) in the study population with an AUC value of 0.706 (95% CI 0.629-0.783; p-value < 0.05). It can be concluded that the prediction model developed in this study is good enough to be implemented by clinicians in estimating the risk of lymphedema, especially for advanced-stage breast cancer patients in our hospital.
Read More
T-6902
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Masnjoer; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Rudiyanto Sedono
Abstrak: Hasil. Median kesintasan lama rawat intensif 43 jam. Nilai skor EuroSCORE tidak memenuhi asumsi hazard proporsional. Model baru telah dibuat dari 7 variabel EuroSCORE yang secara substansi berhubungan dengan lama rawat intensif (AUC 0,67). Kesimpulan. Model baru dari tujuh faktor EuroSCORE cukup dapat memprediksi lama rawat intensif 48 jam. Kata Kunci: Model prediksi, lama rawat intensif, bedah jantung, regresi Cox
Read More
T-4221
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive