Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35298 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yogi Puji Rachmawan; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Helda, Bambang Budi Siswanto; Penguji: Ratna Djuwita, Sabarinah, Habibie Arifianto, Anggoro Budi Hartopo
Abstrak:
Gagal jantung adalah sindroma yang terjadi akibat kegagalan jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi sel tubuh. Prevalensi dan angka kematian gagal jantung di Indonesia cukup tinggi bila dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Gagal jantung pada usia muda akan meningkatkan risiko kematian, menyebabkan rehospitalisasi berulang, menurunkan kualitas hidup, serta meningkatkan beban sistem layanan kesehatan. Obesitas, (diabetes melitus tipe 2) DMT2, hipertensi, merokok, dislipidemia, riwayat keluarga dengan (prematurce coronary artery disease) PCAD, dan jenis kelamin diketahui berhubungan dengan terjadinya gagal jantung. Diperlukan sebuah model prediksi untuk menjelaskan faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya gagal jantung pada usia muda, sehingga model prediksi tersebut dapat menjadi dasar upaya pencegahan terjadinya gagal jantung pada usia muda. Penelitian ini menggunakan desain fixed kohort-retrospektif yaitu pasien usia 18-54 tahun yang berobat di poliklinik jantung atau dirawat inap di 4 rumah sakit (RS) di Indonesia yaitu RS Harapan Kita Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dan RS Adam Malik Medan pada tahun 2021 dan tidak terdiagnosis gagal jantung kemudian diambil data faktor risikonya sesuai variabel yang diteliti. Status pasien terdiagnosis gagal jantung atau tidak akan diikuti setiap bulannya sejak tahun 2021 hingga akhir pengamatan 2024. Kemudian dilakukan analisis deskriptif, bivariabel, dan multivariabel menggunakan Generalized Linear Model (GLM) Poisson untuk mendapatkan nilai koefisien, IRR (interval kepercayaan 95%), dan menyusun model prediksi yang paling tepat. Berdasarkan model, akan dibuat sistem skor dan nilai probabilitas terjadinya gagal jantung. Total 321 sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan median usia 51 tahun (P25-P75: 46-52 tahun). Pada observasi tahun ke-4, probabilitas kumulatif sebesar 0,713 (95% CI 0,661 – 0,760). Hasil analisis menunjukan 3 variabel utama yang signifikan berkaitan dengan risiko terjadinya gagal jantung di usia muda, yaitu obesitas (IRR 1,87; 95% CI 1,31 – 2,68), dislipidemia (IRR 2,58; 95% CI 1,87 – 3,56), dan DMT2 (IRR 2,79; 95% CI 2,01 – 3,87). Skor IMT-Dislipidemia-DMT2 (IDD) disusun sebagai sistem skor prediksi gagal jantung pada usia muda dengan total skor 13 (probabilitas 76,8%). Obesitas, dislipidemia, dan DMT2 merupakan faktor risiko yang berpengaruh signifikan, dan penggunaan sistem Skor IDD memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup baik dalam prediktor terjadinya gagal jantung pada usia muda.

Heart failure is a clinical syndrome that occurs when the heart fails to meet the body’s demand for oxygen and nutrients. The prevalence and mortality rate of heart failure in Indonesia are relatively high compared to other Southeast Asian countries. The occurrence of heart failure in young adults increases the risk of premature death, recurrent rehospitalization, reduced quality of life, and a greater burden on the healthcare system. Several factors such as obesity, type 2 diabetes mellitus (T2DM), hypertension, smoking, dyslipidemia, family history of premature coronary artery disease (PCAD), and sex have been identified as being associated with heart failure. Developing a predictive model to identify the most influential risk factors for heart failure in young adults is crucial for preventive strategies and early interventions. This study employed a fixed retrospective cohort design involving patients aged 18–54 years who visited the cardiology outpatient clinic or were hospitalized at four tertiary hospitals in Indonesia (National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta; Hasan Sadikin Hospital, Bandung; Sebelas Maret University Hospital, Solo; and Adam Malik Hospital, Medan) in 2021. Patients without an initial diagnosis of heart failure were included, and their risk factors were recorded according to the study variables. The patients were followed monthly from 2021 until the end of observation in 2024 to determine whether they developed heart failure. Descriptive, bivariate, and multivariable analyses were conducted using the Poisson Generalized Linear Model (GLM) to estimate coefficients, incidence rate ratios (IRR) with 95% confidence intervals, and to construct the most accurate predictive model. Based on the model, a scoring system and probability value for the occurrence of heart failure were developed. A total of 321 participants met the inclusion and exclusion criteria, with a median age of 51 years (P25–P75: 46–52 years). After four years of observation, the cumulative probability of developing heart failure was 0.713 (95% CI: 0.661–0.760). The analysis identified three significant predictors for heart failure in young adults: obesity (IRR 1.87; 95% CI 1.31–2.68), dyslipidemia (IRR 2.58; 95% CI 1.87–3.56), and T2DM (IRR 2.79; 95% CI 2.01–3.87). The IDD Score (Body Mass Index–Dyslipidemia–Diabetes) was developed as a predictive scoring system for heart failure in young adults, with a total score of 13 corresponding to a 76.8% probability. Obesity, dyslipidemia, and T2DM were found to be significant risk factors for heart failure in young adults. The proposed IDD Score demonstrated good sensitivity and specificity in predicting the occurrence of heart failure within this population.

Read More
D-600
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhitya Bayu Perdana; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Denni Joko Purwanto
Abstrak: Limfedema merupakan komplikasi kronis yang umumnya terjadi setelah diseksi kelenjar getah bening (KGB) aksila pada pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian, faktor risiko, dan model prediksi limfedema pasca diseksi KGB aksila pada pasien kanker payudara stadium lanjut. Penelitian ini merupakan desain kohort retrospektif pada 174 pasien di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Regresi Cox digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap limfedema. Keakuratan model prediksi dinilai dengan menghitung area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). Hasil penelitian menunjukkan limfedema teridentifikasi pada 88/174 (50,6%) pasien dan sebagian besar mengalami limfedema pada 12 hingga 36 bulan pertama setelah diseksi KGB aksila. Faktor risiko yang terkait dengan limfedema di antaranya adalah usia, obesitas, diabetes, kemoterapi neoadjuvan, dan kemoterapi adjuvan. Model prediksi menunjukkan sensitivitas yang baik (80,2%) pada populasi penelitian dengan nilai AUC 0,706 (95% CI 0,629-0,783; p-value < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa model prediksi yang dikembangkan dalam penelitian ini cukup baik untuk diterapkan oleh para klinisi dalam mengestimasikan risiko limfedema, khususnya untuk pasien kanker payudara dengan stadium lanjut.
Lymphedema is a chronic complication that commonly occurs after axillary lymph node dissection (ALND) in breast cancer patients. This study aimed to determine the incidence, risk factors, and prediction model for lymphedema after ALND in advanced-stage breast cancer patients. This was a retrospective cohort design on 174 patients at Dharmais Cancer Hospital. Cox regression was used to identify significant risk factors for lymphedema. The prediction accuracy of the model was assessed by calculating the area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). The results showed that lymphedema was identified in 88/174 (50.6%) patients and most of them experienced lymphedema in the first 12 to 36 months after ALND. Risk factors associated with lymphedema include age, obesity, diabetes, neoadjuvant chemotherapy, and adjuvant chemotherapy. The prediction model showed good sensitivity (80.2%) in the study population with an AUC value of 0.706 (95% CI 0.629-0.783; p-value < 0.05). It can be concluded that the prediction model developed in this study is good enough to be implemented by clinicians in estimating the risk of lymphedema, especially for advanced-stage breast cancer patients in our hospital.
Read More
T-6902
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Juliana Omposunggu; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Yovsyah, Trihono, Toni Wandra
T-3254
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laurentius Aswin Pramono; Pembimbng: Bambang Sutrisna; Penguji: Siti Setiati, Imam Subekti, Nasrin Kodim, Asri C. Adisasmita
T-3140
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudha Radityadana; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Putri Bungsu, Purwitasari, Dadan Hermawan
Abstrak:
Lost to follow up (LTFU) merupakan salah satu tantangan utama dalam program pengendalian tuberkulosis (TB) karena dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan, kekambuhan, resistensi obat, dan penularan penyakit. Identifikasi determinan kejadian LTFU diperlukan untuk meningkatkan retensi pasien dan keberhasilan pengobatan TB. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder pasien TB yang menjalani pengobatan di RSUD Majalaya periode tahun 2020–2025. Sebanyak 2.463 pasien memenuhi kriteria penelitian. Analisis dilakukan menggunakan metode Kaplan–Meier dan uji Log-rank untuk menyeleksi kandidat variabel, kemudian dilanjutkan dengan regresi Cox proportional hazards untuk mengidentifikasi determinan independen LTFU. Analisis sensitivitas dilakukan menggunakan complete case analysis pada variabel perokok pasif. Proporsi pasien TB yang mengalami LTFU sebesar 11,2%. Median waktu terjadinya LTFU adalah 168 hari sejak dimulainya pengobatan, dengan sebagian besar kejadian terjadi pada 56 hari pertama pengobatan (68,0%). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa efek samping obat merupakan determinan independen terkuat kejadian LTFU. Pasien yang mengalami efek samping obat memiliki risiko mengalami LTFU sebesar 44,22 kali dibandingkan pasien yang tidak mengalami efek samping obat (aHR=44,22; 95%CI:33,67–58,09; p<0,001). Selain itu, pasien yang terpapar asap rokok pasif memiliki risiko mengalami LTFU 1,42 kali lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak terpapar (aHR=1,42; 95%CI:1,00–2,01; p=0,044). Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa hubungan antara perokok pasif dan LTFU melemah setelah kategori data tidak diketahui dikeluarkan, sedangkan hubungan antara efek samping obat dan LTFU tetap konsisten. Dapat disimpulkan bahwa efek samping obat merupakan prediktor terkuat kejadian LTFU pada pasien TB, sedangkan paparan asap rokok pasif berpotensi menjadi faktor risiko yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Upaya pencegahan LTFU perlu difokuskan pada deteksi dini dan penatalaksanaan efek samping obat, penguatan edukasi pasien dan keluarga, serta penciptaan lingkungan rumah bebas asap rokok untuk meningkatkan retensi pengobatan dan keberhasilan program pengendalian TB.

Loss to follow-up (LTFU) remains a major challenge in tuberculosis (TB) control programs because it increases the risk of treatment failure, disease recurrence, drug resistance, and ongoing transmission. Identifying determinants of LTFU is essential to improve patient retention and TB treatment outcomes. This retrospective cohort study used secondary data from TB patients who received treatment at Majalaya Regional General Hospital, Indonesia, between 2020 and 2025. A total of 2,463 patients met the study inclusion criteria. Kaplan–Meier analysis and the Log-rank test were used to identify candidate variables, followed by Cox proportional hazards regression to determine independent predictors of LTFU. Sensitivity analysis was performed using complete case analysis for the passive smoking variable. The proportion of TB patients who experienced LTFU was 11.2%. The median time to LTFU was 168 days after treatment initiation, with most events occurring within the first 56 days of treatment (68.0%). Multivariable analysis showed that adverse drug reactions were the strongest independent predictor of LTFU. Patients experiencing adverse drug reactions had a 44.22-fold higher risk of LTFU than those without adverse drug reactions (aHR=44.22; 95% CI:33.67–58.09; p<0.001). Passive smoking was also independently associated with LTFU, with exposed patients having a 1.42-fold higher risk than unexposed patients (aHR=1.42; 95% CI:1.00–2.01; p=0.044). Sensitivity analysis indicated that the association between passive smoking and LTFU weakened after excluding patients with unknown smoking exposure, whereas the association for adverse drug reactions remained robust. In conclusion, adverse drug reactions were the strongest predictor of LTFU among TB patients, while passive smoking may represent an important environmental risk factor requiring further investigation. Strategies to reduce LTFU should prioritize early detection and management of adverse drug reactions, strengthen patient and family education, and promote smoke-free home environments to improve treatment retention and TB program performance.
Read More
T-7597
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Igo Cahya Negara; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Helwiah Umniyati, Junita Rosa Tiurma
Abstrak:
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada pengguna narkotika suntik (penasun) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan prevalensi tertimbang yang meningkat dari 14,3% (2018–2019) menjadi 17,1% pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi HIV pada penasun di Indonesia menggunakan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Desain penelitian adalah potong lintang (cross-sectional) dengan sampel 2.128 penasun yang direkrut melalui metode Respondent-Driven Sampling (RDS) dan memiliki status HIV terkonfirmasi laboratorium. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi Cox dengan asumsi waktu konstan untuk mengestimasi Prevalence Ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%, dengan pemodelan akhir melalui backward elimination. Proporsi HIV positif sebesar 17,06%. Model akhir multivariat mengidentifikasi tujuh variabel yang berhubungan bermakna, yaitu konsistensi penggunaan kondom sebagai faktor risiko terkuat (aPR=6,18; 95% CI: 5,11–7,48), layanan testing HIV (aPR=2,03; 95% CI: 1,53–2,67), usia (aPR=1,99; 95% CI: 1,57–2,52), pemahaman efektivitas kondom (aPR=1,46; 95% CI: 1,14–1,87), lama menjadi penasun (aPR=1,32; 95% CI: 1,04–1,67), perilaku berbagi jarum suntik (aPR=1,27; 95% CI: 1,03–1,55), serta persepsi diri merasa berisiko tertular HIV (PR=0,47; 95% CI: 0,36–0,62). Temuan ini menunjukkan bahwa jalur penularan seksual menjadi faktor dominan infeksi HIV pada penasun di Indonesia saat ini. Desain potong lintang membatasi temuan ini pada hubungan asosiasi, bukan kausal. Program penanggulangan HIV pada penasun perlu memperluas akses kondom beserta edukasi efektivitasnya, memperkuat rujukan aktif untuk layanan testing HIV, dan menyasar penasun usia lebih tua serta dengan masa pajanan napza suntik panjang sebagai kelompok prioritas dalam strategi harm reduction.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection among people who inject drugs (PWID) remains a major public health concern in Indonesia, with weighted prevalence rising from 14.3% (2018–2019) to 17.1% in 2023. This study aimed to analyze factors associated with HIV infection among PWID in Indonesia using secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). A cross-sectional design was employed with a sample of 2,128 PWID recruited through Respondent-Driven Sampling (RDS), with HIV status confirmed by laboratory testing. Data were analyzed in stages through univariate, bivariate, and multivariate analyses using Cox regression with a constant-time approach to estimate Prevalence Ratios (PR) and 95% confidence intervals, with the final model derived through backward elimination. The proportion of HIV-positive PWID was 17.06%. The final multivariate model identified seven variables significantly associated with HIV infection: condom use consistency as the strongest risk factor (aPR=6.18; 95% CI: 5.11–7.48), HIV testing service (aPR=2.03; 95% CI: 1.53–2.67), age (aPR=1.99; 95% CI: 1.57–2.52), condom effectiveness knowledge (aPR=1.46; 95% CI: 1.14–1.87), duration of injecting drug use (aPR=1.32; 95% CI: 1.04–1.67), needle-sharing behavior (aPR=1.27; 95% CI: 1.03–1.55), and self-perceived HIV risk (aPR=0.47; 95% CI: 0.36–0.62). These findings indicate that sexual transmission is the dominant factor of HIV infection among PWID in Indonesia. The cross-sectional design limits these findings to associational rather than causal inferences. HIV prevention programs for PWID should expand condom access alongside effectiveness education, strengthen active referral pathways to HIV testing services, and prioritize older PWID and those with longer injecting histories within harm reduction strategies.
Read More
T-7612
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amran; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Nasrin Kodim, Bambang Budi Siswanto, Yoga Yuniadi, Triyunis Miko Wahyono
Abstrak:

Gagal jantung merupakan salah satu jenis penyakit jantung dengan insiden, prevalen serta mortalitas yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keteraturan berobat terhadap kesintasan lima tahun penderita gagal jantung kongestif (GJK). Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Sampel sebanyak 402 orang penderita baru GJK yang didiagnosis antara tahun 2001 s.d. 2002 dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Ditemukan penderita GJK yang meninggal selama lima tahun follow up adalah 78 orang (19,4%). Probabilitas kesintasan penderita GJK adalah sebesar 88,65% (tahun pertama), 80,11%(tahun ke dua). 72.22% (tahun ke tiga), 63,75% (tahun ke empat) dan 54,41% (tahun ke lima). Penderita GJK yang tidak teratur berobat mempunyai risiko kematian lebih tinggi dari pada yang berobat teratur. Pada analisis Cox regression keteraturan berobat merupakan yariabel independen pada kesintasan penderita GJK (HR:1,95; 95% Cl: 1.23-3.11). Faktor-faktor Iain yang juga bermakna terhadap kesintasan penderita GJK adalah Ejection Fraction (HR:1,91; 95% Cl:1,18-3,08), Diabetes Melitus (HR:1,85; 95% Cl:1,08-3,18). Beberapa variabel pada penelitian ini hubungannya tidak bermakna terhadap kesintasan penderita GJK yaitu: umur, rokok,functional, riwayat PJK , hipertensi , kreatinin dan tindakan pengobatan. Keteraturan berobat terbukti mempengaruhi probabilitas kesintasan penderita GJK. Penderita GJK disarankan untuk senantiasa melakukan pemeriksaan dan pengobatan secara teratur.


 

Heart failure is one of cardiovascular disease which incidence, prevalence and mortality remain height and increased. The purpose of this study was to evaluate the effect of routine medical evaluation (compliance) on five year survival rate of patients hospitalized due to congestive heart failure. The Study design used in this study is retrospective cohort with 402 patients of newly diagnosis congestive heart failure (CHF) admitted in year 2000 to 2001 at National Cardiovascular Center - Harapan Kita, Jakarta. During 5 year follow-up, 78 patients died. Survival at 1 to 5 years was in order of 88,65%, 80,11%, 72,22%, 63,75%, and 54,41%, respectively. CHF patients who did not underwent routine medical evaluation had higher prognostic of death than CHF patients who had medical evaluation routinely. By Cox regression analyses, the independent predictors of mortality were routine evaluation (HR:1,95; 95% CI: 1.23-3.11). low ejection fraction (HR:1,91; 95% CI:1,18-3,08), and diabetes mellitus (HR:1,85; 95%CI:1,08-3,18). Other predictors were not statistically significant, i.e: age, gender, smoking, functional class, coronary heart disease, creatinine, and the medication. The status of compliance is an independent predictor of survival for patients with CHF, besides low ejection tiaction and diabetes mellitus. These evaluation, like the other research, suggested the importance of compliance in the treatment of CHF.

Read More
T-2541
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veli Sungono; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Korpomotor: Tri Edhi Budhi Soesilo, Hori Hariyanto; Penguji: Asri C. Adisasmita, Syahrizal, Antonia Lukito; Allen Widysanto; Vivien Puspitasari
D-595
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiersa Vera Junita; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Ratna Djuwita, Robert M Sarangih
T-4734
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leni Susanti Rusli; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Ratna Djuwita, Sylviana Andinisari; Abdul Hafiz
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Leni Susanti Rusli Program Studi : Magister Epidemilogi Judul : Hipertensi  Dan Penyakit Jantung Koroner Pada Penduduk Usia 40 Tahun Atau Lebih Di Indonesia Tahun 2017 Pembimbing : Prof.Dr.Nasrin Kodim,MPH Penyakit jantung koroner menjadi masalah kesehatan masyarakat karena penyebab kematian tertinggi akibat penyakit kardiovaskular. Salah satu faktor risiko PJK adalah hipertensi. Prevalensi PJK dan hipertensi di Indonesia Tahun 2013 sekitar 1,5% dan 25,8%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan hipertensi dengan kejadian PJK pada penduduk usia 40 tahun atau lebih di Indonesia. Desain Penelitian ini adalah studi cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan kesehatan Jemaah Haji Indonesia Tahun 2017. Analisis data yang digunakan adalah Regresi Logistik. Hasil analisis menemukan bahwa Penduduk usia 40 tahun atau lebih yang hipertensi berisiko 1,342 kali (95% CI 1,048 – 1,238) untuk mengalami PJK dibandingkan dengan yang tidak hipertensi setelah dikontrol oleh kolesterol. Penduduk dewasa dapat menerapakan pola makan sehat dan rutin melakukan pemerikaan tekanan darah serta kolesterol untuk mencegah hipertensi dan PJK. Kata kunci: PJK, hipertensi, kolesterol


ABSTRACT Name : Leni Susanti Rusli Study Program : Master of Epidemiology Title : Controlled Hypertension And Coronary Heart Disease In Population Age 40 Years Or More In Indonesia Year 2017 Counsellor : Prof.Dr.dr. Nasrin Kodim, MPH Coronary heart disease is a public health problem because of the highest cause of death from cardiovascular disease. One of the risk factors of CHD is hypertension. Prevalence of CHD and hypertension in Indonesia In 2013 about 1.5% and 25.8%. The purpose of this study was to determine the relationship of hypertension with CHD events in the age of 40 years or more in Indonesia. Design This study is a cross sectional study using secondary data from the results of health examination Hajj Pilgrim Indonesia 2017. Data analysis used is logistic regression. The results of the analysis found that people aged 40 years or older who had hypertension at risk 1,342 times (95% CI 1.048 - 1.238) to experience CHD compared with non-hypertensive after cholesterol controlled. Adult population can apply a healthy diet and routinely perform blood pressure and cholesterol to prevent hypertension and CHD. Key words: CHD, Hypertension,Cholesterol

Read More
T-5143
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive