Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 24155 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Devie Fitri Octaviani; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Dadan Erwandi, Indang Trihandini; Penguji: Baiduri Widanarko, Robiana Modjo, Zulkifli Djunaidi, Asnawi Abdullah, Avianto Amri, Suparni
Abstrak:
Kejadian jatuh merupakan penyebab utama cedera tidak disengaja pada anak usia taman kanak-kanak, dan sebagian besar terjadi di lingkungan rumah. Cedera akibat jatuh pada usia dini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan fungsi neurologis pada anak. Penelitian sebelumnya lebih berfokus pada identifikasi faktor risiko dan kejadian cedera, sementara penelitian ini bertujuan memodelkan keberhasilan pencegahan jatuh anak berdasarkan kerangka manajemen risiko berbasis rumah tangga. Pendekatan ini mengintegrasikan Safety I–III dan juga teori Graceful Extensibility (TGE) untuk mengevaluasi kapasitas protektif dan adaptif sistem keluarga dalam mempertahankan keselamatan anak secara berkelanjutan. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 167 pendamping utama anak usia TK di Depok, yang mendampingi anak di lingkungan rumah tangga. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dikembangkan berdasarkan empat faktor utama: anak, rumah, agen, dan pengetahuan pendamping. Analisis dilakukan secara bertahap melalui Rasch measurement untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen, Principal Component Analysis (PCA) untuk menentukan skor faktor, Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk menetapkan batas (cut-off point) kategori protektif, serta Bayesian Network dan Bayesian Logistic Regression untuk memetakan hubungan probabilistik antar faktor. Hasil menunjukkan bahwa 65,3% anak mengalami setidaknya satu kejadian jatuh dalam enam bulan terakhir. Instrumen yang dikembangkan terbukti valid dan reliabel dalam mengukur kapasitas protektif keluarga terhadap pencegahan jatuh pada anak. Berdasarkan hasil pemodelan, baseline probabilitas keberhasilan pencegahan jatuh anak sebesar 42% mencerminkan keterbatasan kapasitas protektif sistem keluarga dalam kondisi aktual. Melalui analisis sensitivitas, faktor rumah dan faktor anak diidentifikasi sebagai faktor protektif utama terhadap keberhasilan pencegahan jatuh. Kondisi rumah dan anak yang protektif meningkatkan peluang keberhasilan sistem sebesar tiga kali lipat (OR = 3,14). Selanjutnya, simulasi skenario what-if menunjukkan bahwa penguatan faktor rumah dan faktor anak merupakan titik pengungkit utama sistem yang dapat meningkatkan probabilitas keberhasilan pencegahan masing-masing 53% dan 52%. Faktor pengetahuan pendamping dan faktor agen berperan sebagai penguat adaptif pada lapisan proteksi berikutnya. Implikasi temuan ini adalah perlunya penyusunan program pencegahan jatuh berbasis rumah tangga dalam bentuk sistem proteksi berlapis (barrier-based approach). Barier pertama memprioritaskan penguatan faktor rumah dan faktor anak secara paralel dan interaktif melalui perbaikan lingkungan fisik rumah serta peningkatan pengetahuan dan pembentukan perilaku dasar keselamatan anak sesuai tahap perkembangan. Barier kedua menitikberatkan pada penguatan pengetahuan pendamping, sedangkan barier ketiga berfokus pada pengendalian faktor agen melalui penataan furnitur dan permainan anak. Keberhasilan pencegahan jatuh pada anak usia taman kanak-kanak di rumah merupakan hasil kinerja sistem keluarga yang adaptif dan dinamis. Integrasi manajemen risiko, Safety I–III, dan Theory of Graceful Extensibility memungkinkan pencegahan jatuh dipahami sebagai positive safety outcome yang dihasilkan melalui kapasitas sistem keluarga. Kata kunci: Pencegahan jatuh anak, keselamatan rumah tangga, manajemen risiko, Safety I–III, Bayesian Network

Falls are the leading cause of unintentional injuries in preschool-aged children, and prinarily occur in the home environment. Injuries from falls at an early age have the potential to cause long-term effects on a child's physical, cognitive, and neurological development. Previous research has focused more on identifying risk factors and the occurrence of injuries, while this study aims to model the success of fall prevention in children based on a household-based risk management framework. This approach integrates the Safety I–III and the Theory of Graceful Extensibility (TGE) to evaluate the protective and adaptive capacity of family systems in sustaining child safety. The study used a cross-sectional design with 167 primary caregivers of preschool-aged children in Depok, who care for children in household settings. Data was collected through a questionnaire developed based on four main factors: the child, the home, the agent, and the companion's knowledge. The analysis was conducted in stages using Rasch measurement to test the validity and reliability of the instrument, Principal Component Analysis (PCA) to determine factor scores, Receiver Operating Characteristic (ROC) to establish the cut-off point for protective categories, and Bayesian Network and Bayesian Logistic Regression to map the probabilistic relationships between factors.
The results show that 65.3% of children experienced at least one fall in the past six months. The developed instrument proved to be valid and reliable in measuring the protective capacity of families against falls in children. Based on modeling results, the baseline probability of successful fall prevention for children, at 42%, reflects the limitations of the family system's protective capacity in actual conditions. Through sensitivity analysis, home factors and child factors were identified as the main protective factors against the success of fall prevention. Protective home and child conditions triple the system's chances of success (OR = 3.14). Furthermore, the what-if scenario simulation shows that strengthening home and child factors are the main leverage points in the system that can increase the probability of success in prevention by 53% and 52% respectively. Companion knowledge and agent factors play a role as adaptive enhancers in the next layer of protection.
The implication of these findings is the need to develop a household-based fall prevention program in the form of a layered protection system (barrier-based approach). The first barrier prioritizes strengthening home and child factors in parallel and interactively through improving the physical environment of the home and increasing knowledge and shaping basic child safety behaviors according to the developmental stage. The second barrier focuses on strengthening caregivers' knowledge, while the third barrier concentrates on controlling agent factors through arranging furniture and children's toys.
The success of fall prevention in preschool-aged children at home is the result of the adaptive and dynamic performance of the family system. Integrating risk management, Safety I–III, and the Theory of Graceful Extensibility allows fall prevention to be understood as a positive safety outcome resulting from the family system's capacity.

Read More
D-613
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meiyanti; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Besral, Rina Kurniasri Kusumaratna; Penguji: Adang Bachtiar, Raden Rara Diah Handayani, Vivian Soetikno, Maxi Rein Rondonuwu, Henry Candra
Abstrak:
Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Indonesia tahun 2023 belum mencapai target 90%. Keberhasilan pengobatan berdampak terhadap penurunan penyebaran infeksi dan kasus resistensi obat, sehingga perlu untuk memprediksi keberhasilan pengobatan lebih dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendekatan pembelajaran mesin untuk prediksi keberhasilan pengobatan. Penelitian ini menggunakan data kohort Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Indonesia. Pasien usia produktif (15-64 tahun) terdiagnosis tuberkulosis sensitif obat dan mendapatkan pengobatan dari 1 Januari 2020 sampai 31 Desember 2023 diikutsertakan dalam penelitian ini. Data dikelompokkan secara acak ke dalam set data pelatihan untuk membangun model (80%) dan set data pengujian untuk validasi model (20%), dan dilakukan validasi silang untuk data. Algoritma yang digunakan meliputi decision tree, random forest, multilayer perceptron, extreme gradient boosting, dan logistic regression. Dilakukan konsensus untuk pengambilan keputusan variabel yang diperlukan dalam melakukan pemodelan berbasis pembelajaran mesin dari data SITB untuk memprediksi keberhasilan pengobatan dengan menggunakan metode Delphi. Hasil dari penelitian model algoritma pembelajaran mesin random forest menunjukkan kinerja terbaik dan akurasi tertinggi dalam memprediksi keberhasilan pengobatan. Aplikasi prediksi berbasis pembelajaran mesin dapat memberikan prediksi dini dengan interpretasi berbasis SHAP (SHapley Additive ExPlanations) yang memudahkan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan.

The tuberculosis treatment success rate in Indonesia in 2023 did not reach the 90% target. Treatment success impacts the reduction of infection spread and drug resistance cases, making early prediction of treatment success crucial. This study aims to develop a machine-learning model to predict treatment success. Data from Indonesia's Tuberculosis Information System (SITB) cohort was used. The study included productive-age patients (15-64 years) diagnosed with drug-sensitive tuberculosis who received treatment from January 1, 2020, to December 31, 2023. Data was randomly split into training (80%) and testing (20%) sets for model validation, with cross-validation performed. The algorithms used include decision tree, random forest, multilayer perception, extreme gradient boosting, and logistic regression. A consensus was reached for decision-making variables required in performing machine learning-based modeling of SITB data to predict treatment success using modeling of SITB data to predict treatment success using the Delphi method. The results of the study show that the random forest machine learning algorithm had the best performance and highest accuracy in predicting treatment success. This machine learning–based prediction tool can provide early predictions with SHAP (SHapley Additive ExPlanations) interpretation, helping healthcare workers make informed decisions more easily.

 

Read More
D-573
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mugi Wahidin; Promotor: Anhari Achadi; Kopromotro: Besral, Soewarta Kosen; Penguji: Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Sudarto Ronoatmodjo, Ekowati Rahajeng; Masdalina Pane
Abstrak:
Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia dan di Indonesia yang menjadi target pengendalian secara global dan nasional. Penelitian tentang proyeksi beban DM dengan memasukkan pengaruh faktor risiko dan program pencegahan dan pengendalian DM di Indonesia sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat model proyeksi beban penyakit Diabetes Melitus di Indonesia berdasarkan faktor risiko dan program pencegahan dan pengendalian DM. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-experiment menggunakan desain cross sectional study melalui pembuatan model regresi linier ganda dan system dynamics. Model proyeksi prevalens baseline dibuat berdasarkan faktor risiko, program pencegahan dan pengendalian DM. Proyeksi sampai 2045 melibatkan dinamisasi faktor risiko dan program DM, proyeksi penduduk, case fatality rate DM, unit cost DM, standar tarif pemeriksaan gula darah, dan inflasi kesehatan. Faktor risiko termasuk overweight, obesitas sentral, obesitas, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, kurang konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dan merokok. Program DM meliputi rasio Posbindu PTM, Desa Ber Posbindu PTM, Pemeriksaan di Posbindu PTM, Puskesmas dengan Pelayanan Terpadu PTM, pemeriksaan rutin gula darah, standar pelayanan minimal (SPM) pelayanan kesehatan DM, dan SPM skrining usia produktif. Model dibuat berdasarkan data dari 205 kabupaten/kota di 33 provinsi di Indonesia. Proyeksi dibuat secara nasional, provinsi, dan kabupaten/kota berupa prevalens, kematian, biaya langsung, dan jumlah dan biaya skrining gula darah. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007-2018, BPJS Kesehatan 2016-2020, program P2PTM 2016-2020, dan Pusdatin Kemkes 2019-2021. Unit analisis adalah kabupaten/kota. Hasil: Model proyeksi DM menggunakan regresi linier ganda dengan formula prevalensi DM = -2,212 + 0.216 prevalens overweight +0,017 prevalens obesitas + 0,112 prevalens obesitas sentral +0,019 prevalens konsumsi makanan berlemak – 0,001 Persentase Desa Ber-Posbindu PTM + 0,003 Persentasi Pandu PTM + 1,510 prevalensi rutin diperiksa gula darah – 0.012 cakupan SPM yankes DM + 0,008 cakupan SPM skrining usia produktif. Prevalensi DM di Indonesia diperkirakan meningkat dari 9,19% pada 2020 (18,69 juta kasus) menjadi 16,09% pada 2045 (40,7 juta kasus), naik 75,1% selama 25 tahun, atau 3% per tahun. Prevalensi DM akan lebih rendah menjadi 15,68% atau 39,6 juta kasus (berkurang 5,54%) pada 2045 jika dilakukan intervensi peningkatan cakupan desa ber-posbindu dan SPM yankes DM menjadi 100%, dan menjadi 9,22% atau 23,2 juta kasus (berkurang 42,69%) jika intervensi program tersebut ditambahkan dengan pencegahan laju faktor risiko (overweight, obesitas, obesitas sentral dan konsumsi makanan berlemak). Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, prevalensi dan jumlah kasus meningkat dan sangat bervariasi. Proyeksi jumlah kematian akibat DM di Indonesia meningkat dari 433.752 pada 2020 menjadi 944.468 pada 2045, naik 117% selama 25 tahun atau 4,7% per tahun. Kematian akibat strok pada DM meningkat dari 52,397 pada 2020 menjadi 114,092 pada 2045. Kematian akibat IHD pada DM meningkat dari 35.351 pada 2020 menjadi 76.974 pada 2045. Sedangkan kematian akibat penyakit ginjal kronik pada DM meningkat dari 29.061 pada 2020 menjadi 63.279 pada 2045. Jumlah kematian pada 2045 lebih rendah menjadi 919.206 jika dilakukan intervensi program dan menjadi 537.190 jika dilakukan intervensi program dan menahan laju faktor risiko. Jumlah kematian akibat DM dan komplikasinya di provinsi dan kabupaten/kota meningkat dan sangat bervariasi. Biaya langsung (direct cost) DM meningkat dari Rp 37,36 triliun pada 2020 menjadi Rp 81,38 triliun pada 2045, meningkat 117,76% selama 25 tahun atau 4,71% per tahun. Jika dilakukan intervensi peningkatan program maka dapat diturunkan menjadi Rp 79,31 triliun (berkurang 2,54%) dan menjadi Rp 46,53 triliun (berkurang 42,82%) jika intervensi ditambah menahan laju faktor risiko. Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, biaya langsung DM mengalami kenaikan dan bervariasi antara daerah. Jumlah penduduk berusia 15-39 tahun dengan obesitas dan usia 40 tahun ke atas yang perlu diskrining gula darah di Indonesia pada 2020 diperkirakan 116.387.801 menjadi 171.913.086 orang pada 2045, meningkat 47,8% selama 25 tahun atau 1,9% per tahun. Biaya skrining Rp 2,39 trilliun pada 2020 meningkat menjadi Rp 3,53 trilliun pada 2045. Di provinsi dan kabupaten/kota, jumlah dan biaya skrining meningkat dan bervariasi. Proyeksi DM di Indonesia dan aplikasi perhitungan proyeksi dapat dilihat di www.diabetes-ina.com. Hasil proyeksi sudah dinyatakan sudah baik setelah dibahas dengan para ahli dan mempunyai Mean Absolute Percentage Error (MAPE) sebesar 13% (baik) untuk proyeksi provinsi dan nasional serta 22% (layak) untuk proyeksi kabupaten/kota. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk bahan perencanaan SDM, skrining, dan biaya pengobatan DM di Indonesia baik tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota.

Background: Diabetes Mellitus (DM) is one of the biggest public health problems in the world and in Indonesia which is targeted for control globally and nationally. Research on DM burden projection by including the influence of risk factors and DM prevention and control programs in Indonesia is very limited. The purpose of this study is to make a projection model of the burden of Diabetes Mellitus in Indonesia based on risk factors and DM prevention and control programs. Method: The study was a quantitative non-experiment study using cross sectional study design through the creation of multiple linear regression models and system dynamics. The baseline prevalence projection model is based on risk factors, DM prevention and control programs. Projections until 2045 involved the dynamization of risk factors and DM programs, population projections, DM case fatality rate, DM unit costs, tariffs standard of blood glucose screening, and health inflation. Risk factors included overweight, central obesity, obesity, consumption of sugary foods, consumption of sugary drinks, consumption of fatty foods, lack consumption of fruits and vegetables, lack of physical activity, hypertension, and smoking. The DM program included the ratio of NCD Post (Posbindu), percentage of Village had Posbindu, Examination at Posbindu, Puskesmas with Integrated NCD Services (Pandu), routine blood glucose checks, minimum service standards (SPM) of DM health services, and SPM of productive age screening. The model was created based on data from 205 districts/cities in 33 provinces in Indonesia. Projections was made nationally, provincially, and districts in terms of prevalence, mortality, direct costs, and the number and cost of blood glucose screening. This study used secondary data from Basic Health Research (Riskesdas) 2007-2018, BPJS Kesehatan 2016-2020, NCD programs 2016-2020, and Pusdatin Ministry of Health 2019-2021. The analysis unit is the district/city. Results: DM projection model using multiple linear regression with DM prevalence formula = -2.212 + 0.216 overweight prevalence + 0.017 obesity prevalence + 0.112 central obesity prevalence + 0.019 prevalence of fatty food consumption – 0.001 percentage of villages with Posbindu + 0.003 NCD integrated services percentage + 1.510 prevalence of routine blood glucose checks – 0.012 SPM coverage of DM services + 0.008 SPM of productive age screening coverage. The prevalence of DM in Indonesia is estimated to increase from 9.19% in 2020 (18.69 million cases) to 16.09% in 2045 (40.7 million cases), increase 75.1% over 25 years, or 3% per year. The prevalence of DM will be lower to 15.68% or 39.6 million cases (reduced by 5.54%) in 2045 if interventions are carried out to increase the coverage of Posbindu villages and SPM DM services to 100%, and to 9.22% or 23.2 million cases (reduced by 42.69%) if the program interventions are added with prevention of risk factor rates (overweight, obesity, central obesity and consumption of fatty foods). At the provincial and district/city levels, the prevalence and number of cases are increasing and vary greatly. The projected number of deaths due to DM in Indonesia increases from 433,752 in 2020 to 944,468 in 2045, increase 117% over 25 years or 4.7% per year. Deaths due to stroke among DM increases from 52,397 in 2020 to 114,092 in 2045. Deaths from IHD among DM increases from 35,351 in 2020 to 76,974 in 2045. Meanwhile, deaths from chronic kidney disease among DM increases from 29,061 in 2020 to 63,279 in 2045. The number of deaths in 2045 could be lower to 919,206 if program interventions are carried out and to 537,190 if program interventions are carried out and halt the rate of risk factors. The number of deaths due to DM and its complications in provinces and districts / cities is increasing and varies greatly. DM direct costs increased from Rp 37.36 trillion in 2020 to Rp 81.38 trillion in 2045, an increase of 117.76% over 25 years or 4.71% per year. If the program improvement intervention is carried out, it can be reduced to Rp 79.31 trillion (reduced by 2.54%) and to Rp 46.53 trillion (reduced by 42.82%) if the intervention is added to halt the rate of risk factors. At the provincial and district/city levels, DM direct costs have increased and vary between regions. The number of people aged 15-39 years with obesity and aged 40 years and above who need to be screened for blood glucose in Indonesia in 2020 is estimated at 116,387,801 to 171,913,086 people in 2045, an increase of 47.8% over 25 years or 1.9% per year. Screening costs of Rp 2.39 trillion in 2020 will increase to Rp 3.53 trillion in 2045. In provinces and districts, the number and cost of screening are increasing and varying. DM projections in Indonesia and projection calculation applications can be seen at www.diabetes-ina.com. The projection results have been declared good after discussion with experts and have an Absolute Mean Percentage Error (MAPE) of 13% (good) for provincial and national projections and 22% (feasible) for district/city projections. The results of this study can be used for human resource planning, screening, and DM treatment costs in Indonesia at the central, provincial, and district / city levels.
Read More
D-478
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiopan Sipahutar; Ketua Tim Penguji: Endang L. Achadi; Promotor: Tris Eryando; Ko Promotor: Meiwita Paulina Budiharsana; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Muhammad Nur Aidi, Minarto, Diah Mulyawati Utari, Martya Rahmaniati, Harimat Hendarwan
Abstrak: Prevalensi stunting di kabupaten/ kota di Indonesia masih banyak yang tinggi walaupun secara nasional sudah mengalami penurunan. Penelitian ini merupakan studi ekologi yang menggunakan data agregat dari Laporan Riset Kesehatan Dasar 2018 dengan tujuan untuk mengetahui gambaran prevalensi stunting di Indonesia pada tingkatan kabupaten/ kota, menemukan daerah hotspot stunting yang akan menjadi area prioritas intervensi stunting, dan menentukan model prevalensi stunting dengan menggunakan analisis spasial. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan Spatial Autoregressive (SAR). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak R i386 3.6.1 untuk mengolah data spasial, Tableau Public 2020 untuk membuat grafik, serta SPSS 25 untuk membuat statistik deskriptif. Hasil analisis menemukan bahwa sebanyak 54,9% (282 kabupaten/ kota) kabupaten/ kota di Indonesia masih memiliki prevalensi stunting di atas angka nasional. Prevalensi stunting balita lebih dari 30% masih terlihat di 57,8% (297 kabupaten/ kota) kabupaten/ kota, dan prevalensi stunting balita lebih dari 40% masih ada sekitar 17,7% (91 kabupaten/kota). Ada autokorelasi antar wilayah berdasarkan prevalensi stunting di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Bali NTT NTB. Analisis spasial juga menemukan beberapa daerah hotspot yang kemudian akan diajukan sebagai daerah prioritas intervensi percepatan pencegahan stunting di Indonesia. Hasil pemodelan SAR menemukan faktor penentu stunting yang bermakna untuk Pulau Sumatera adalah BAB di jamban, cuci tangan, ANC-K4, dan kemiskinan; untuk Pulau Jawa adalah ANC-K4 dan kemiskinan; untuk Sulawesi adalah BAB di jamban dan ANC- K4; dan untuk Bali NTT NTB adalah cuci tangan, imunisasi, kemiskinan, dan PMT anak.
Read More
D-436
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Ramadhani; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Istiati Suraningsih
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang manajemen risiko keselamatan dan kesehatankerja pada proses pembuatan gong di sektor informal Pabrik X tahun 2016.Desain penelitian ini adalah survei dengan pendekatan semi-kuantitatif,menggunakan tools Job Hazard Analysis (JHA) untuk mengidentifikasi bahaya,mengacu pada Standar Manajemen Risiko AS/NZS 4360:2004. Penilaian risikodilakukan dengan menganalisis nilai kosekuensi, pajanan serta peluang terjadinyadampak, kemudian dianalis dengan metode Fine pada AS/NZS 4360:2004. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa level risiko yang belum acceptable pada setiapproses pembuatan gong di Pabrik X, yaitu very high, priority 1, substansial danpriority 3. Telah dirumuskan rekomendasi pengedalian risiko yang bersifatengineering dan administratif.
Kata Kunci: AS/NZS 4360:2004, penilaian risiko, sektor informal.
The research was about occupational safety and health risk management of gongmanufacturing process at informal sector Factory X in 2016. The design of thatresearch was based on a survey with semi-quantitative approach, Job HazardAnalysis (JHA) was used to identify hazard referred to Risk ManagementStandard AS/NZS 4360:2004. The risk evaluation was conducted by analyze thequality of consequence, exposure and probability of the impacted, then it wasanalyzed by Fine method in AS/NZS 4360:2004. The result of this researchshowed level of risk was unacceptable, there were very high, priority 1,substantial and priority 3. Gong manufacturing was suggested to control the riskby engineering and administrative control.
Keywords: AS/NZS 4360:2004, risk evaluation, informal sector.
Read More
S-9147
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilisa Rahmadani; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Adang Bachtiar, Besral, Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Ali Ghufron Mukti, Sutoto, Astrid B. Sulistomo
Abstrak: Kelelahan kerja berdampak besar terhadap kinerja, keselamatan, dan kesehatan tenaga kesehatan rumah sakit. Penelitian ini mengembangkan model sistem manajemen risiko kelelahan berbasis pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui studi literatur, FGD, wawancara, dan observasi. Hasilnya adalah model ICHAFIT (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) dengan lima elemen utama dan strategi pencegahan berbasis data. Terdapat 24 indikator valid dan reliabel untuk menilai implementasinya. Model ini berfungsi sebagai kerangka konseptual dan alat praktis, serta menghasilkan policy brief untuk advokasi kebijakan nasional.
Work fatigue significantly affects hospital workers' performance, safety, and health. This study developed a fatigue risk management model using qualitative and quantitative approaches through literature review, FGD, interviews, and observations. The result is the ICHAFIT model (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) comprising five key elements and a data-driven prevention strategy). It includes 24 valid and reliable indicators to assess implementation. ICHAFIT serves as both a conceptual framework and practical tool, and also produced a policy brief to support national advocacy for fatigue risk management in hospitals.
Read More
D-591
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nina Fentiana; Promotor: Trini Sudiarti; Kopromotor: Endang Laksminingsih, Besral; Penguji: Kusharisupeni, Diah M. Utari, Hardinsyah, Fasli Jalal, Arum Atmawikarta
Abstrak:
Stunting anak 0-23 bulan di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh berbagai faktor langsung dan tidak langsung. Penelitian menggunakan data Riset Kesehatan Dasar, Survey Sosial Ekonomi Nasional dan Produk Domestik Regional Bruto per kapita tahun 2018 dengan pendekatan potong lintang bertujuan mengetahui model jalur hubungan langsung dan tidak langsung berbagai faktor risiko stunting dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota. Pengolahan data sekunder dilakukan pada Januari-April 2022. Sampel adalah 106 kabupaten/kota prevalensi stunting <20% dan 403 kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20% (20%-<30%, 30%-40% dan >40%) yang diagregratkan pada tingkat kabupaten/kota dari 32.095 data individu anak usia 0-23 bulan yang diukur panjang badannya. Pemodelan menggunakan analisis jalur. Model jalur pencegahan risiko stunting memperlihatkan akses terhadap makanan (r=-0,31) dan pemeriksaan kehamilan (r=-0,29) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting <20%. Keluarga Berencana (r=-0,15), pemeriksaan kehamilan (r=-0,13) dan cuci tangan pakai sabun (r=-0,11) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20%. Tablet tambah darah ibu hamil (r=-0,02) dan inisiasi menyusu dini (r=-0,03) berhubungan tidak langsung melalui ASI eksklusif dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. ASI eksklusif (r=-0,15) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. Cuci tangan pakai sabun berhubungan signifikan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 30%-40% (r=-0,22) dan >40% (r=-0,45). Model jalur menyimpulkan bahwa kabupaten/kota dapat memainkan peran penting dalam upaya pencegahan risiko stunting dengan memodifikasi sejumlah faktor risiko terutama pada keluarga anak 0-23 bulan.

Stunting in children 0-23 months in Indonesia is a public health problem caused by various direct and indirect factors. This study uses data from Basic Health Research, National Socio-Economic Survey and Gross Regional Domestic Product per capita in 2018 with a cross-sectional approach. Secondary data processing was carried out in January-April 2022. The samples were 106 districts/cities with stunting prevalence <20% and 403 districts/cities with stunting prevalence 20% (20%-<30%, 30%-40% and >40%) Aggregated at the district/city level from 32,095 individual data for children aged 0-23 months, whose body length was measured. The modeling uses path analysis. The stunting risk prevention pathway model shows that access to food (r=-0.31) and prenatal care (r=-0.29) is directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities with stunting prevalence <20%. Family planning (r=-0.15), pregnancy check-ups (r=-0.13) and hand washing with soap (r=-0.11) were directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence 20 %. Blood supplement tablets for pregnant women (r=-0.02) and early initiation of breastfeeding (r=-0.03) were indirectly related through exclusive breastfeeding with the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence of 20%-<30% . Exclusive breastfeeding (r=-0.15) was directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in the district/city stunting prevalence of 20%-<30%. Hand washing with soap is directly related to stunting prevalence at district/city level in districts/cities, stunting prevalence is 30%-40% (r=-0.22) and >40% (r=-0.45). The pathway model concludes that districts/cities can play an important role in preventing stunting risk by modifying a number of risk factors, especially in families of children 0-23 months.
Read More
D-475
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Fajari Agustini; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Wachyu Sulistiadi, Harimat Hendarwan; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Lucia Rizka Andalusia , I Putu Purnama Suarjaya, Nana Mulyana
Abstrak:
Perencanaan program penelitian sendiri sudah dirumuskan dalam pembentukan program Penelitian ini bertujuan untuk membangun pemodelan kapasitas penelitian Berdasarkan Karakteristik Klinisi dan Kepemimpinan di RSUP tipe II di Indonesia (RSUP Fatmawati dan RSUP Prof I.G.N.G Ngoerah Denpasar). Penelitian ini merupakan penelitian mix methods yaitu dengan jenis sequential explanatory mix methods. Analisis data univariat dilakukan dengan melihat nilai tengah dan variasi dari data numerik, analisis bivariat chi-square pada data kategorikal dan pada data numerik dilakukan analisis Mann Whitney. Analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan metode SEM-PLS untuk didapatkan pengaruh dan model akhir dari kapasitaspenelitian. Kapasitas penelitian di RSUP I.G.N.G Prof Ngoerah Denpasar dan RSUP Fatmawati termasuk kedalam kategori tinggi Karakteristik individu, kepemimpinan, kapasitas individu, tim dan organisasi berpengaruh secara statistik terhadap kapasitas penelitian. Faktor domain yang paling dominan dalam penelitian ini adalah kapasitas tim dan organisasi. Pemodelan kapasitas penelitian fit dan cocok untuk diimplementasikan dikedua rumah sakit. Perlu diterapkannya pemodelan kapasitas penelitian guna menstrukturkan program penelitian di rumah sakit, agar dapat meningkatkan penelitian berbasis bukti untuk memberikan pelayanan yang semakin optimal, pemodelan ini untuk mengatasi kesenjangan penelitian yang diindentifikasi pada tingkat individu dalam penilaian kebutuhan kapasitas penelitian.

The research program’s planning itself has been formulated into the formation of Clinical Research Unit (CRU) program. In Indonesia, clinical research at hospital level has been widely carried out in vertical hospital and regional public hospital (RSUD). However, during its implementation reported that not all the studies had been carried out in organized manner. The study program’s planning itself had been formulated into this study program to establish research capacity’s modelling based on clinical research and leadership in RSUP type two in Indonesia (RSUP Fatmawati dan RSUP Prof I.G.N.G Ngoerah Denpasar). This study is mixing methods study by sequential explanatory mix methods. Univariate data analysis is carried out by observing median and variances of numerical data, bivariate analysis, chi-square at the categorical data and for the data numerical data SEM-PLS to obtain the effects and final model of research capacity. Research capacity at RSUP I.G.N.G Prof Ngoerah Denpasar and RSUP Fatmawati was concluded into high category such as individual characteristics, leadership, individual capacity, team, and organization influence statically to research capacity. The most dominant factors of this study domain are research team and organization. This Research capacity modelling is fit and suitable to implemented in these two hospitals. The research capacity modelling has to be implemented to set up study’s programs in hospital to level up study based on proof to provide optimal services. This modelling is designed to overcome the study’s gap identified at individual level of the assessment of study capacity’s needs.
Read More
D-504
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewita Restati; Pembimbing: Amal Chalik Syaaf, Purnawan Junadi, Laksono Trisnantoro; Penguji: Hasbullah Thabrany, Adang Bachtiar, Hendrik M. Taurany, Agus Suwandono, Suprijanto Rijadi
D-109
Depok : FKM-UI, 2005
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chaerin Nabila Fitriyah; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal Syarif, Trisari Anggondowati
S-10406
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive