Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39837 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dina Putri Yulianti; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Tiara Amelia, Yoslien Sopamena, Rien Pramindari, Saiful Millah
Abstrak:
Kesiapan kesehatan prakonsepsi merupakan aspek penting dalam pencegahan komplikasi kehamilan serta peningkatan keselamatan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku kesiapan kesehatan prakonsepsi calon pengantin berdasarkan konstruk Health Belief Model (HBM), meliputi persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri atas delapan calon pengantin (empat perempuan dan empat laki-laki) sebagai informan utama serta lima informan kunci yang meliputi penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA), tenaga kesehatan puskesmas (dokter dan bidan), dan pejabat Kementerian Agama Kota Depok. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa calon pengantin menyadari adanya kerentanan terhadap risiko komplikasi kehamilan, seperti anemia, penyakit keturunan, dan gangguan kesehatan pada anak, serta memandang risiko tersebut sebagai kondisi yang serius dan memerlukan persiapan sejak sebelum kehamilan. Pemeriksaan kesehatan pranikah dipersepsikan memberikan manfaat berupa deteksi dini dan peningkatan kesiapan fisik maupun psikologis. Namun demikian, berbagai hambatan masih ditemukan, terutama keterbatasan informasi yang aplikatif, faktor psikologis seperti rasa malu dan ketakutan terhadap hasil pemeriksaan, serta keterlambatan waktu pemeriksaan yang dilakukan mendekati hari pernikahan. Isyarat untuk bertindak dalam mempersiapkan kesehatan prakonsepsi muncul melalui dorongan pasangan, edukasi tenaga kesehatan, bimbingan perkawinan oleh penyuluh KUA, serta pengalaman keluarga. Tingkat efikasi diri calon pengantin bervariasi dan dipengaruhi oleh motivasi pribadi, dukungan pasangan, serta lingkungan layanan kesehatan. Penelitian ini menegaskan bahwa meskipun calon pengantin telah memahami manfaat persiapan kesehatan prakonsepsi, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman dan penerapan praktis di tingkat layanan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi dan pendampingan prakonsepsi yang terintegrasi antara KUA dan puskesmas agar kesiapan kesehatan prakonsepsi calon pengantin dapat terwujud secara lebih optimal.

Preconception health readiness is a crucial component in preventing pregnancy complications and improving maternal and neonatal safety. This study aimed to analyze preconception health readiness behaviors among prospective brides and grooms using the Health Belief Model (HBM), including perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy. A qualitative study with a phenomenological approach was conducted. Participants consisted of eight prospective couples (four women and four men) as primary informants and five key informants, including marriage counselors from the Office of Religious Affairs (KUA), primary healthcare providers (a doctor and a midwife), and officials from the Ministry of Religious Affairs of Depok City. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using content analysis. The findings show that prospective couples are aware of their susceptibility to pregnancy-related risks, such as anemia, hereditary conditions, and health problems in children, and perceive these risks as serious and requiring preparation before pregnancy. Premarital health examinations were perceived as beneficial for early detection and improving physical and psychological readiness. However, several barriers were identified, including limited access to practical health information, psychological factors such as embarrassment and fear of examination results, and delays in undergoing health examinations close to the wedding date. Cues to action emerged from partner encouragement, health education provided by healthcare professionals, premarital counseling conducted by KUA counselors, and family experiences. Levels of self-efficacy varied among prospective couples and were influenced by personal motivation, partner support, and the healthcare environment. This study highlights that although prospective couples generally understand the benefits of preconception health preparation, a gap remains between knowledge and practical implementation at the service level. Strengthening integrated preconception education and continuous support between the KUA and primary healthcare centers is needed to optimize preconception health readiness among prospective couples.
Read More
T-7473
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Wulandari; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Fathimah Sulistyowati Sigit, Sisca Rusmawati, Iradani Yupitaningrum
Abstrak:

Kanker leher rahim merupakan penyakit berbahaya pada wanita yang dapat ditangani semenjak awal dengan melakukan deteksi dini. Capaian deteksi dini kanker leher rahim di Indonesia yang rendah menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat kanker leher rahim. Puskesmas Batuceper merupakan salah satu puskesmas di Kota Tangerang dengan capaian deteksi dini kanker leher rahim metode IVA terendah pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku wanita usia 30-50 tahun dalam melakukan deteksi dini kanker leher rahim metode IVA di Puskesmas Batuceper tahun 2024 berdasarkan teori Health Belief Model (HBM). Desain penelitian menggunakan studi cross-sectional. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner kepada 172 wanita usia 30-50 yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 11,6% wanita usia 30-50 tahun telah melakukan deteksi dini metode IVA dalam 3 tahun terakhir. Faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker leher rahim metode IVA adalah persepsi hambatan dan isyarat bertindak, dimana persepsi hambatan merupakan faktor yang paling dominan. Responden dengan persepsi hambatan yang rendah memiliki peluang 4,68 kali untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim metode IVA dibandingkan responden dengan persepsi hambatan yang tinggi setelah dikontrol oleh isyarat bertindak (aOR=4,68 95% CI 1,45-15,10). Oleh karena itu, penting dilakukan upaya untuk mengurangi hambatan dan meningkatkan isyarat bertindak dengan memperluas kegiatan pemberian edukasi dan informasi mengenai bahaya kanker leher rahim serta pentingnya pemeriksaan IVA kepada calon pengantin, suami/pasangan, orangtua siswa di sekolah serta lintas sektor. Kata Kunci: Deteksi Dini, Kanker Leher Rahim, Health Belief Model, Puskesmas


 

Cervical cancer is a dangerous disease in women that can be treated early by screening. The low achievement of cervical cancer screening in Indonesia has led to an increase in the incidence of pain and death from cervical cancer. The Batuceper Health Center is one of the health centers in Tangerang City with the lowest achievement of cervical cancer screening with IVA method in 2022. This study aims to determine the behavioral determinants of women aged 30-50 in conducting early detection of cervical cancer using the IVA method at the Batuceper Health Center in 2024 based on the Health Belief Model (HBM) theory. The research design uses a cross-sectional study. Data was collected by interview method using a questionnaire to 172 women aged 30-50 who were selected using consecutive sampling techniques. The data were analyzed univariately, bivariate, and multivariate with multiple logistic regression tests. The results showed that 11.6% of women aged 30-50 had successfully detected the IVA method early in the last 3 years. Factors related to the behavior of early detection of cervical cancer IVA method are the perception of obstacles and action signals, where the perception of obstacles is the most dominant factor. Respondents with a low perception of obstacles had 4.68 times the chance of cervical cancer screening with IVA method compared to respondents with a high perception of obstacles after being controlled by action signals (aOR=4.68, 95% CI 1.45-15.10). Therefore, it is important to make efforts to reduce the barriers and increase action signals by expanding education and information activities about the dangers of cervical cancer as well as the importance of IVA examination to brides-to-be, husbands/partners, and parents of students at school and across sectors.  Keywords: Screening, Cervical Cancer, Health Belief Model, Health Center

Read More
T-7228
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tsalitsa Putri; Pembimbing: Dian Ayubi; Pennguji: Ella Nurlaella Hadi, Tri Yunis Miko Wahyono, Liska Sari, Eem Suhaemi
Abstrak:
Anak usia 6-12 tahun memiliki kerentanan terhadap karies gigi. Kesehatan gigi anak perlu mendapat perhatian orang tua khususnya dari ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak berdasarkan teori Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 140 ibu siswa. Terpilih enam SDN dengan teknik cluster random sampling. Jumlah sampel dihitung dengan rumus proportional sampling dan sampel diambil secara systematic random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan 53,6 % ibu berperilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak. Persepsi individu yang berhubungan dengan perilaku ibu adalah persepsi kerentanan dan efikasi diri. Efikasi diri adalah faktor paling dominan berhubungan dengan perilaku ibu, artinya ibu dengan efikasi diri rendah berpeluang 3,4 kali untuk memiliki perilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak dibandingkan ibu dengan efikasi diri yang tinggi setelah dikontrol oleh persepsi kerentanan dan persepsi hambatan (OR:3,475,95%CI:1,653-7,306). Untuk itu, perlu ditingkatkan efikasi diri ibu dengan edukasi dan penyuluhan serta membentuk kelompok dukungan ataupun forum online

Children aged 6-12 years have vulnerabilities to dental caries. Children's dental health needs to get good attentions of parents, especially from mothers. This study aims to determine the determinants of maternal behavior in preventing dental caries in children based on the theory of the Health Belief Model. This study used a cross-sectional design on 140 students’ mothers. Six elementary schools were selected using the cluster random sampling technique. The number of samples were calculated using the proportional sampling formula and the samples were collected using systematic random sampling. Data was gathered by interviewes using questionnaires which were analyzed by univariate, bivariate and multivariate. The results showed that 53.6% of mothers had poor behaviors in preventing children dental caries. Individual perceptions related to mother's behavior are perceptions of vulnerability and self-efficacy. Self-efficacy is the most dominant factor related to maternal behavior, meaning that mothers with low self-efficacy are 3.4 times more likely to demonstrate deficiencies in preventing dental caries in children than those with high self-efficacy after being controlled by perceived vulnerability and perceived obstacles (OR: 3,475 .95%CI:1.653-7.306). For this reason, it is esenssial to increase mothers’ self-efficacy with education and counseling as well as forming support groups or online forums.
Read More
T-6706
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadilla Rizky Prameshwari; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Tri Krianto, Gafar Hartatiyanto, Usep Solehudin
Abstrak:
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menginfeksi sel darah putih yang disebut sel CD4 dan menargetkan daya tahan tubuh. kasus HIV di DKI Jakarta pada tahun 2022 memiliki kasus HIV secara kumulatif sebanyak 79.043 sehingga menempati urutan provinsi tertinggi. Kasus terbanyak yang dilaporkan pada Tahun 2020 oleh Profil Kesehatan DKI Jakarta berada pada wilayah Jakarta Selatan. Salah satu upaya untuk meningkatkan angka harapan hidup ODHIV adalah penggunaan obat antiretroviral (ARV). Secara umum pemberian terapi ARV diberikan dalam bentuk kombinasi yang harus dikonsumsi seusia hidup. Angka kepatuhan di Puskesmas Kecamatan Setiabudi yaitu 45.6%. Angka ini lebih rendah dari target kemenkes yaitu 95% pasien mengalami supresi virus. Kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan wawancara responden berdasarkan kuisioner yang sudah dibuat. Populasi adalah pasien ODHIV >18 tahun dengan minimal terapi selama 6 bulan. Sampel sebanyak 90 orang didapatkan melalui rumus uji beda proporsi. Berdasarkan analisis univariat diperoleh rerata kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi 84.3 dari skala 100. Hasil uji regresi logistik berganda menunjukkan bahwa keyakinan diri memiliki hubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral. Keyakinan diri merupakan variabel dominan yang berhubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi (p=0.023, OR 2.87). Monitoring kepatuhan dapat menjadi intervensi yang baik bagi Puskesmas Kecamatan Setiabudi

The Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that infects white blood cells called CD4 cells and targets the body's immune system. The cases of HIV in DKI Jakarta in 2022 have cumulatively reached 79,043, making it the province with the highest number of cases. The highest number of cases reported in 2020 by the DKI Jakarta Health Profile were in the South Jakarta area. One of the efforts to increase the life expectancy of people living with HIV (PLWH) is the use of antiretroviral (ARV) drugs. Generally, ARV therapy is given in combination and must be consumed for life. The adherence rate at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is 45.6%. This figure is lower than the Ministry of Health's target of 95% of patients achieving virus suppression. Adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is influenced by various factors. This study aims to understand the picture and factors associated with adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi. This study uses a cross-sectional design with respondent interviews based on a pre-made questionnaire. The population is HIV patients >18 years old with a minimum of 6 months of therapy. A sample of 90 people was calculated using a difference of proportion test formula. Based on a univariate analysis, the average adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is 84.3 out of 100. The results of the multiple logistic regression tests show that self-efficacy is associated with adherence to antiretroviral therapy. Self efficacy is the dominant variable associated with adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi (p=0.023, OR 2.87). Monitoring adherence can be a good intervention for the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi
Read More
T-6657
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Nurul Hidayati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Umi Zakiati
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang perilaku pencegahan COVID-19 pada mahasiswa kesehatandan non-kesehatan di Universitas Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilakupencegahan COVID-19 pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan ditinjau dari teorihealth belief model. Variabel yang diteliti adalah perilaku pencegahan COVID-19, faktorpemodifikasi (usia, jenis kelamin, pengetahuan) dan persepsi individu (persepsi kerentanan,keparahan, manfaat, hambatan dan self efficacy). Penelitian ini menggunakan pendekatankuantitatif dan metode penelitian cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 110 orangmahasiswa kesehatan dan non-kesehatan dengan menggunakan metode pengambilan sampelpurposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 68% mahasiswakesehatan memiliki perilaku pencegahan COVID-19 yang baik dan 31.6% memiliki perilakupencegahan yang kurang baik. Sedangkan mahasiswa non-kesehatan yang memiliki perilakupencegahan yang baik adalah 59.7% dan 40.3% memiliki perilaku pencegahan yang kurangbaik. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan perilaku pencegahanCOVID-19 (p=0.020).
Kata Kunci: COVID-19, Health Belief Model, mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan
This study discusses about the preventive health behaviours of COVID-19 among studentsmajoring in health and non-health sciences Universitas Indonesia. The objective of this studywas to look preventive health behaviour COVID-19 among students majoring in health andnon-health sciences based of health belief model. Variabels in this study including preventivebehaviour, modifying factors (Age, sex, and knowledge), individual perceived (perceivedsusceptibility, perceived severity, perceived benefits, dan perceived barriers and selfefficacy). This study using quantitative approaches and cross sectional study methods.Thetotal samples of this study is 110 people of students majoring in health and non-healthsciences with purposive sampling method. The result showed that 68% students majoringhealth sciences are having good preventive behaviour and 31.6% have enough preventivebehaviour, while 59.7% the student majoring non-health science have good preventivebehaviour and 40.3% have enough preventive behaviour. There was significant associationsbetween sex with preventive health behaviour of COVID-19 (p=0.020)
Keywords: COVID-19, Health Belief Model, Students majoring health and non-healthscience.
Read More
S-10358
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng Perwita Sari; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Anwar Hasan, Santayana
Abstrak: PMTCT (Prevention Mother To Child HIV/AIDS Transmission) merupakan salah satu bentuk pengendalian masalah HIV/AIDS pada ibu hamil dan bayi. Salah satu programnya adalah dengan melakukan Tes HIV pada seluruh wanita yang sedang hamil. Masih ada 4,8% ibu hamil yang tidak mau melakukan test HIV, padahal target dari pemerintah adalah pada 100 persen ibu hamil dilakukan test HIV. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran factor-faktor yang berhubungan dengan perilaku test HIV pada ibu hamil di Puskesmas Pasar Rebo Jakarta Timur. Penelitian adalah penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah dalam pengambilan datanya. Data diperoleh dari 8 informan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo. Hasil penelitian ini adalah persepsi hambatan dari ibu hamil seperti tidak izin dari suami, ibu takut kerahasiaan hasil test tidak terjamin dan kekhawatiran ibu akan adanya kecurigaan dari orang-orang sekitar bahwa ibu akan dianggap berperilaku negatif bila melakukan test HIV membuat ibu tidak mau melakukan test HIV. persepsi kerentanan ibu terhadap HIV/AIDS juga merupakan factor yang mempengaruhi ibu untuk melakukan test HIV. ibu yang merasa memiliki factor resiko untuk terinfeksi HIV mau melakukan test HIV sedangkan ibu yang merasa sehat dan tidak memiliki factor resiko tidak melakukan test HIV. diharapkan Puskesmas mau melakukan penyuluhan kepada suami sehinga suami semakin waspada dan mau mengizinkan istrinya untuk melakukan test HIV.
 

PMTCT (Prevention of Mother To Child HIV / AIDS Transmission) is one form to control over the issue of HIV / AIDS in pregnant women and infants. One of the programs is to perform an HIV test to all pregnant women. There are 4,8% pregnant women who do not want to do an HIV test, even though the target of the government is at 100 percent of pregnant women with HIV test done. The purpose of this study is to describe the cause is still there pregnant women who do not want to do an HIV test at Pasar Rebo PHC. The study is a qualitative research technique of in-depth interviews and focus group discussions in data retrieval. Data were obtained from 8 informants check ups pregnant women in sub-district Pasar Rebo PHC. The result of this research is the perception of pregnant women such barriers do not permit of a husband, a mother afraid test results are not guaranteed confidentiality and the mother fears that there is a suspicion of the people around that maternal behavior would be considered a negative HIV test when the mother does not want to do the HIV test . Mother's perception of vulnerability to HIV / AIDS is also a factor that affects the mother to do the HIV test. Mothers who feel they have risk factors for HIV infection would do the HIV test, while mothers who feel healthy and do not have risk factors do not test for HIV.
Read More
S-8411
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Rahmayani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Evi Martha, Siti Nur Anisah, Budiarti Setiyaningsih
Abstrak:
Tuberkulosis dan HIV merupakan isu kesehatan yang menjadi target tujuan pembangunan berkelanjutan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia untuk dapat diakhiri pada tahun 2030. Kaitan antara TBC dan HIV sangat erat, TBC merupakan penyebab kematian utama pada orang dengan HIV (ODHIV). Indonesia merupakan negara dengan kasus TBC nomor dua terbanyak didunia. Dengan 271 juta penduduk Indonesia diketahui 543.100 orang yang hidup dengan HIV dan diperkirakan 4.700 orang pasien TBC-HIV. Upaya pencegahan sangat diperlukan untuk mencegah risiko penularan tuberkulosis pada ODHIV, dengan pendekatan teori Health Belief Model (HBM) yang mengungkapkan persepsi seorang individu tentang penyakitnya akan mempengaruhi perilaku kesehatannya. Dengan diketahuinya kaitan persepsi ODHIV terhadap perilaku pencegahan tuberkulosis pada ODHIV diharapkan perilaku pencegahan tuberkulosis pada ODHIV dapat ditingkatkan dan berdampak pada penurunan kasus koinfeksi TBC-HIV. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan desain studi kasus. Tujuan penelitian ini untuk menggali lebih dalam tentang persepsi perilaku pencegahan tuberkulosis pada ODHIV menggunakan komponen teori Health Belief Model (HBM). Hasil penelitian adalah perilaku pencegahan yang di lakukan ODHIV dalam pencegahan Tuberkulosis adalah pemeriksaan TBC, meminum Terapi pencegahan Tuberkulosis, memakai masker saat bepergian dan melakukan pola hidup sehat. Perilaku tersebut dipengaruhi persepsi kerentanan, persepsi bahaya/ kesakitan terhadap Tuberkulosis, persepsi manfaat dan hambatan untuk berperilaku tersebut, memiliki keyakinan dapat berperilaku tersebut, dan adanya isyarat untuk melakukannya dari petugas kesehatan, pendamping ODHIV, pasangan, dan teman sebaya.

Tuberculosis and HIV are health issues that are targeted by sustainable development goals to improve the welfare of the world community to end in 2030. The link between TB and HIV is very close, TB is the main cause of death in people living with HIV (PLWH). Indonesia is a country with the second most TB cases in the world. Of the 271 million population, there are 543,100 people living with HIV and an estimated 4,700 people with TB-HIV. Prevention efforts are urgently needed to prevent the risk of tuberculosis transmission in ODHIV, with the Health Belief Model (HBM) theoretical approach which reveals an individual's perception of his illness will affect his health behavior. By knowing the link between perceptions of ODHIV on tuberculosis prevention behavior in ODHIV, it is hoped that tuberculosis prevention behavior in ODHIV can be increased and have an impact on reducing cases of TB-HIV co-infection. This research is a qualitative using a case study design. The purpose of this study was to dig deeper into the perceptions of tuberculosis prevention behavior in ODHIV using the theory component of the Health Belief Model (HBM). The results of the study are preventive behaviors that are carried out by ODHIV in preventing tuberculosis, namely TB examinations, taking TB prevention therapy, wearing masks when traveling and adopting a healthy lifestyle. This behavior is influenced by perceptions of vulnerability, perceptions of danger/pain against tuberculosis, perceptions of benefits and barriers to this behavior, having beliefs about this behavior, and cues to do so from health workers, ODHIV companions, partners, and peers.
Read More
T-6756
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruri Mutia Ichwan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Iwan Ariawan, M. Rizal Martua Damanik , Muhamad Kodir
Abstrak: Dalam upaya pencegahan stunting dari hulu maka dilaksanakan program pendampingan calon pengantin (catin) melalui pemanfaatan sistem informasi yaitu aplikasi ELSIMIL. ELSIMIL bertujuan untuk mengetahui apakah kondisi catin telah ideal atau berisiko untuk melahirkan bayi stunting setelah dilakukan penapisan melalui pengisian kuesioner di ELSIMIL. Dari 27 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Barat, Kota Bekasi memiliki persentase terendah pada capaian catin yang melakukan pengisian kuesioner pada ELSIMIL dibandingkan dengan seluruh catin yang teregister pada ELSIMIL di Kota Bekasi sebesar 13%. Tujuan umum penelitian untuk mengetahui penerimaan program pendampingan catin melalui aplikasi ELSIMIL di Kota Bekasi ditinjau dengan pendekatan kerangka RE-AIM dan TAM. Desain penelitian menggunakan kualitatif dengan jenis studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan pengelola program dan informan catin serta tim pendamping keluarga sebagai pengguna aplikasi. Hasil gambaran penerimaan program dengan model RE-AIM adalah jangkauan sasaran catin masih rendah, efektifitas belum dapat diukur secara kuantitatif, serta mayoritas pengelola program telah mengadopsi program. Selain itu, telah tersedia anggaran, SDM dan sarana yang mendukung implementasi, namun belum ada kebijakan yang memayungi pelaksanaan intervensi ELSIMIL di Kota Bekasi. Model TAM menghasilkan temuan bahwa Elsimil merupakan aplikasi yang bermanfaat, user friendly namun diperlukan inovasi yang menarik untuk keberlanjutan penggunaan.
In the effort to prevent stunting from the begining then implemented the program of assistance the pre marriage couple through the use of the information system which is the application ELSIMIL. ELSIMIL aims to find out whether the pre marriage couple condition has been ideal or at risk of giving birth to a stunting baby after filtering through the filling of a questionnaire in ELSIMIL. Of the 27 districts/cities that are in the West Java Province, Bekasi City has the lowest percentage on access that performs questionnaire filling on ELSIMIL compared with the entire pre marriage couple registered on ELSIMIL in Bekasi City by 13%. The general objective of research to know the acceptance of pre marriage couple assistance programmes through the ELSIMIL in Bekasi City is reviewed with the framework approach of RE-AIM and TAM. Research design uses qualitative with the type of case study. The data collection method is carried out with in-depth interviews of program manager informants and informants, as well as family support teams as app users. The result of the program acceptance with the RE-AIM model is that the range of targets is still low, the effectiveness cannot be measured quantitatively, and the majority of program managers have adopted the program. In addition, there have been available budgets, SDM and means that support the implementation, but there has not been a policy that contains implementation of ELSIMIL intervention in Bekasi City. The TAM model results in the finding that ELSIMIL is a useful, user-friendly application but requires interesting innovations for sustainable use.
Read More
T-6764
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Meilani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Helda, Wahyu Handriana Alamsyah
S-6343
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiqih Mutiara; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Arum Ambarsari
Abstrak: Provinsi DKI Jakarta merupakan wilayah episentrum penyebaran COVID-19 dengan kasus tertinggi di Indonesia, untuk itu diperlukan upaya perilaku pencegahan pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilaku pencegahan penularan COVID-19 masyarakat DKI Jakarta ditinjau dari variabel yang ada di dalam teori Health Belief Model. Penelitian dengan pendekatan metode kuantitatif, desain cross sectional, dilakukan pada 320 orang yang berusia 15-64 tahun dan diambil secara quota sampling dari 5 wilayah DKI Jakarta. Data dikumpulkan dengan metode responden mengisi kuesioner secara mandiri yang dilakukan secara online dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat telah melakukan sebagian besar perilaku pencegahan penularan COVID-19 dengan baik seperti pada penggunaan masker setiap keluar rumah, menerapkan etika batuk, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir saat sebelum makan, setelah makan, setelah menggunakan kamar mandi, setelah beraktivitas dan menyentuh benda, serta mencuci tangan minimal 20 detik, menggunakan hand sanitizer, tetap di rumah ketika sakit, menghindari berjabat tangan, memberi jarak 1-2 meter dengan orang lain, menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang, menghindari tempat dan kendaraan umum, dan menghindari berpergian ke zona merah. Hal ini karena pengetahuan masyarakat tentang upaya pencegahan COVID-19 sudah tinggi, namun masih rendah mengenai penggunaan tisu alkohol dan waktu yang dibutuhkan untuk dapat tertular COVID-19. Masyarakat pada umumnya mempersepsikan COVID-19 penyakit yang serius bagi dirinya dan merasa dirinya rentan untuk tertular COVID-19. Umumnya masyarakat tidak merasa ada hambatan untuk melakukan perilaku pencegahan, dan mayoritas menganggap tindakan pencegahan COVID-19 bermanfaat bagi dirinya serta mereka merasa mampu untuk melakukan tindakan pencegahan. Perlu meningkatkan edukasi atau sosialisasi yang efektif dan konsisten melalui berbagai media untuk pengetahuan dan perilaku yang masih kurang baik, melakukan penyuluhan tentang pakai masker yang benar, serta meningkatkan penerapan kebijakan dan kedislipinan di semua sektor.
Kata kunci: Perilaku Pencegahan COVID, Masyarakat, Provinsi DKI Jakarta, Health Belief Model

The DKI Jakarta Province is the epicenter of the spread of COVID-19 with the highest cases in Indonesia, for this reason prevention efforts are needed in the community. This study aims to see the prevention measures for the transmission of COVID-19 in the people of DKI Jakarta in terms of the variables in the Health Belief Model theory. Research with a quantitative method approach, cross sectional design, was conducted on 320 people aged 15-64 years and was taken by quota sampling from 5 areas of DKI Jakarta. Data were collected using the respondent's method of giving a questionnaire which was conducted online and analyzed descriptively. The results of community research have done most of the prevention of COVID-19 transmission well, such as using masks every time you leave the house, applying cough etiquette, washing hands with soap and water before eating, after eating, after using the bathroom, after activities and objects, as well as washing hands for at least 20 seconds, using hand sanitizers, staying at home when sick, avoiding shaking hands, giving 1-2 meters distance from other people, avoiding activities that involve many people, avoiding public places and transportation, and avoiding traveling to the zone red. This is because the community knowledge about efforts to prevent COVID-19 is high, but still low regarding alcohol use and the time it takes to catch COVID-19. Society in general complicates COVID-19, a serious disease for itself and susceptible to COVID-19. Of the society does not feel there are obstacles to taking precautions, and stopping COVID-19 prevention measures is beneficial for them and they feel capable of taking preventive measures. It is necessary to increase effective and consistent education or socialization through various media for knowledge and behavior that is still inadequate, conduct counseling on how to use masks properly, and increase the implementation of policies and discipline in all sectors.
Key words: COVID-19 prevention behaviour, community, DKI Jakarta Province, Health Belief Model
Read More
S-10325
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive