Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23161 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dina Mutia Sya'adila; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Yoslien Sopamena, Yoslien Sopamena
Abstrak:
WHO merekomendasikan remaja untuk melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari guna menjaga kesehatan dan mencegah penyakit tidak menular. Namun, tingkat aktivitas fisik remaja di DKI Jakarta masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku aktivitas fisik pada siswa SMP Negeri 41 Jakarta Selatan tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 115 siswa kelas 7 dan 8 yang dipilih menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan secara primer menggunakan kuesioner, dengan pengukuran aktivitas fisik mengacu pada Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,1% siswa memiliki aktivitas fisik kurang. Faktor pengetahuan (p=0,001), sikap (p=0,001), dan dukungan teman (p=0,001) memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku aktivitas fisik siswa. Sementara itu, fasilitas aktivitas fisik (p>0,05) dan dukungan keluarga (p>0,05) tidak berhubungan dengan aktivitas fisik. Diperlukan upaya peningkatan aktivitas fisik siswa melalui penguatan edukasi, pembentukan sikap positif, serta optimalisasi peran teman sebaya dalam mendukung perilaku aktif di lingkungan sekolah.

The World Health Organization recommends that adolescents engage in at least 60 minutes of physical activity daily to maintain health and prevent non-communicable diseases. However, the level of physical activity among adolescents in Jakarta remains low. This study aimed to determine the determinants of physical activity behavior among students of SMP Negeri 41 South Jakarta in 2025. This study employed a quantitative cross-sectional design. A total of 115 seventh- and eighth-grade students were selected using simple random sampling. Data were collected through a self-administered questionnaire, with physical activity measured using the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Data analysis was conducted using the Chi-square test. The results showed that 66.1% of students had insufficient physical activity. Knowledge (p=0.001), attitude (p=0.001), and peer support (p=0.001) were significantly associated with physical activity behavior. Meanwhile, physical activity facilities (p>0.05) and family support (p>0.05) were not significantly associated with physical activity. Efforts to improve students’ physical activity are needed through strengthening health education, fostering positive attitudes, and optimizing peer support within the school environment.
Read More
S-12201
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raehana; Pembimbing: C Endah Wuryaningsih; Penguji: Zarfiel Tafal, Andel Suhanta
Abstrak: Penelitian ini membahas salah satu masalah kesehatan di kalangan remaja yaitu perilaku merokok. Fenomena ini diteliti untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan merokok siswa/i yang merokok di SMP Negeri 36, Jakarta Timur tahun 2014. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel 220 responden dan pengambilan sampel menggunakan proportional stratified random sampling.Berdasarkan hasil analisis univariat, terdapat 75.5% responden yang tidak merokok. Faktor-faktoryang berhubungan dengan siswa/i yang merokok di SMP Negeri 36 adalah jenis kelamin, keterjangkauan terhadap rokok, keterpaparan iklan promosi rokok, merokok pada guru, danmerokok pada teman. Kata kunc i: merokok, remaja, Jakarta.
Read More
S-8255
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erdiawati Arief; Pembimbing: Zarfiel Tafal; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Trini Sudiarti, Dwiretno Yuliarti, Eman Sumarna
Abstrak: Abstrak
Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran kebiasaan makan pagi siswa di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al Islamiyah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Serta determinan keberlanjutan kegiatan makan pagi bersama di sekolah. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas IV, V, dan VI Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al Islamiyah sejumlah 58 orang. Hasil penelitian menunjukkan proporsi siswa yang makan pagi sebanyak 70,7%. Terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan makan pagi dan kebiasaan membawa bekal dengan praktek makan pagi. Tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, jenis kelamin, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, kebiasaan jajan, jumlah uang jajan, dukungan orang tua, dukungan guru, sanksi, dan informasi melalui media dengan praktek makan pagi. 
 This study aims to get a description of the breakfast habit of students in Al Islamiyah Lanteng Agung Private Elementary School in South Jakarta; and its determinants that influence these students continue the habit. The study used crosssectional design with total sampling as its sample calcultion method. Sample in this study were 4th, 5th, and 6th grade students with total 58 people. The result showed that 70,7% of the sudents ate breakfast and there is a significant relationship between the breakfast habit and its availability in the household as well as their habit to bring lunch. Furthermore, the result also indicated that there is no significant correlation between breakfast habit and other factors in the study such as knowledge, attitudes, gender, maternal education, maternal occupation, snack habits, the amount of pocket money, parent support, teacher support, sanction, and information through the media
Read More
T-3797
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tati Sumiati; pembimbing: Rita Damayanti, Farida Mutiarawati Tri Agustina; penguji: Agustin Kusumayati, Rinni Yudhi Pratiwi, Siti Rokhmawati Darwinsyah
T-3058
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indira Tomiko; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tiara Amelia, Farkhatul Muyassaroh
Abstrak:
Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya penting dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan kesehatan bayi. Namun, cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Tugu tahun 2023 hanya sebesar 65%, mengalami penurunan dibandingkan dua tahun sebelumnya dan masih di bawah target nasional (80%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku pemberian ASI eksklusif berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) di wilayah kerja Puskesmas Tugu tahun 2025. Terdapat 96 responden yang merupakan ibu dari anak berusia 6-24 bulan dan dipilih melalui metode consecutive sampling. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2025 dengan wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner dan data dianalisis menggunakan Uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76% responden memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kontrol perilaku dengan perilaku pemberian ASI eksklusif (p-value = 0,001). Sementara itu, variabel usia ibu, inisiasi menyusu dini, status pekerjaan, pengetahuan, sikap, dan norma subjektif tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p-value > 0,05). Upaya yang dapat dilakukan adalah edukasi yang berfokus pada peningkatan efikasi diri ibu serta melibatkan dukungan suami dan keluarga dalam ASI eksklusif.

Exclusive breastfeeding is one of the key strategies in reducing stunting rates and improving infant health. However, the exclusive breastfeeding coverage in the Puskesmas Tugu work area in 2023 was only 65%, a decrease compared to two years prior and still below the national target (80%). This study aims to establish the determinants of exclusive breastfeeding behavior based on the Theory of Planned Behavior (TPB) in the work area of Puskesmas Tugu in 2025. There were 96 respondents, who were mothers of children aged 6–24 months, selected through a consecutive sampling method. Data collection was conducted in June 2025 through direct interviews with respondents using a questionnaire, and the data were analyzed using the Chi-Square Test. The results show that 76% of respondents practiced exclusive breastfeeding. The study also revealed a significant relationship between perceived behavioral control and exclusive breastfeeding behavior (p-value = 0.001). However, other variables such as mother’s age, early breastfeeding initiation, employment status, knowledge, attitude, and subjective norms are not significantly associated (p-value > 0.05). The findings highlight the need for education via social media to increase mothers’ self-efficacy and emphasize the importance of husband and family support in promoting exclusive breastfeeding practices.
Read More
S-11933
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhia Fairuz Auza; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Dian Rosdiana
Abstrak:
Latar belakang: Terdapat peningkatan jumlah perokok remaja di Indonesia berdasarkan perbandingan data Riskesdas 2016 dan Riskesdas 2018. Jika dibandingkan dengan data pada tahun 2016, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan terdapat peningkatan jumlah perokok remaja di Indonesia sebesar 0,3% dengan perokok usia 10-18 tahun mencapai 9,1%. Beberapa faktor yang melatarbelakangi terbentuknya perilaku merokk pada siswa adalah harga diri, tekanan dalam pertemanan, dan pola asuh negatif. Metode: Studi cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri, tekanan dalam pertemanan, dan pola asuh negatif dengan perilaku merokok melalui Angket Perilaku Remaja Siswa Sekolah Menengah di DKI Jakarta pada bulan November 2023. Penelitian melibatkan 160 responden dari kelas 10 dan 11 di SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta yang diambil secara stratified proportional random sampling. Hasil: Tidak ada hubungan yang siginifikan antara harga diri (p-value 0,725) dan pola asuh negatif (p-value 0,713) dengan perilaku merokok. Namun, ada hubungan yang signifikan antara tekanan dalam pertemanan (p-value 0,004) dengan perilaku merokok. Kesimpulan: Disarankan bagi SMAN 38 dan SMAN 90 untuk dapat meningkatkan pengawasan pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sekolah.

Background: There is an increase in the number of teenage smokers in Indonesia based on a comparison of Basic Health Research of the year 2016 and 2018. When compared with 2016 data, the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) shows that there is an increase in the number of teenage smokers in Indonesia by 0.3% with smokers aged 10 -18 years reached 9.1%. Several factors behind the formation of smoking behavior in students are self-esteem, peer pressure, and negative parenting patterns. Method: A cross-sectional approach which aims to determine the relationship between self-esteem, peer pressure, and negative parenting patterns with smoking behavior through the Adolescent Behavior Questionnaire for Middle School Students in DKI Jakarta in November 2023. The research involved 160 respondents from grades 10 and 11 at SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta using stratified proportional random sampling. Results: There is no significant relationship between self-esteem (p-value 0,725) and negative parenting patterns (p-value 0,713) and smoking behavior. However, there is a significant relationship between peer pressure (p-value 0,004) and smoking behavior. Conclusion: It is recommended for SMAN 38 and SMAN 90 to increase supervision of the implementation of No-Smoking Areas (KTR) in schools.
Read More
S-11531
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosmida Magdalena Marbun; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Anwar Hasan, Muryati Sihombing, Penina Regina B.
Abstrak:
Salah satu cara yang digunakan untuk menentukan status gizi seorang anak adalah dengan mengetahui indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U). Keadaan gizi lebih atau kurang terjadi karena adanya ketidakseimbangan konsumsi zat gizi di dalam tubuh. Keadaan gizi lebih pada siswa Sekolah Dasar di daerah perkotaan sekarang ini diduga terjadi akibat dari konsumsi makanan yang berlebih didukung oleh kebiasaan dan pola aktivilas fisik yang relatif rendah. Oleh karena itu tujuan dari penelilian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsumsi makanan, kebiasaan jajan dan pola. akiivitas fisik pada siswa Sekolah Dasar Santa Maria Fatima, Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan dasain non experimental dengan pendekatan cross sectional pada siswa Sekolah Dasar Santa Maria Fatima - Jakarta Timur, dimana pengumpulan data dilakukan pada Oktober 2001. Sebagai sampel adalah siswa SD kelas IV, V dan V. Variabel dependen adalah status gizi dan variabel independen adalah konsumsi makanan (energi, protein dan lemak) kebiasaan jajan (frekuensi jajan, jenis makanan jajan dan frekuensi makan makanan siap saji); pola aktivitas fisik (waktu tidur siang, waktu lidur malam, waktu menonton televisi dan kebiasaan olah raga). Sedangkan variabel confounding terdiri dari karakteristik siswa (umur jenis kelamin dan pengetahuan gizi) dan karakteristik orang tua (tingkat pendidikan ibu, tingkat pendidikan ayah, status pekerjaan ibu, jenis pekerjaan ayah dan tingkat pendapatan keluarga per kapita/bulan). Analisis yang dilalakukan adalah univariat, bivariat dan multiivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian memmjukknn bahwa status gizi lebih didapatkan sebesar 17,9 % sedangkan status gizi tidak lebih sebesar 82,1 %. Dari basil analisis bivariat diketahui bahwa variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan status gizi adalah frekuensi jaian, jenis makanan jajan, frekuensi makan makanan siap saji, waktu tidur siang, waktu menonton televisi, tingkat pendidikan ayah dan stains pelaajaan ibn serin lingkat pendapatan lneluarga. per kapitalbulan. Sedangkan dari basil analisis mnltivariat diketahui bahwa ada 3 variabel yang paling berhublmgan dengan stains gizi yaitu frekuensi jajan dengan OR = 3,437, waktu tidur siang dengan OR = 2,937 dan waldu menonton televisi dengan OR = 13,006 & l,302. Lebih lanjut dari hasil analisis multivariat dihemukan bahwa variabel yang paling dominan berlmlnmgan dengan status gizi adalah waklu menonton televisi, dalam arti siawa usia 7 - 9 tahim yang memililci waldu menonlon halervisi 2 3 jam sehari mempunyai peluang gizi lebih 13,006 kali dibandingum siawayang menonton televisi < 3 jam sehari; siswa usia 10 -12 tahun yang menonton televisi 2 3 jam sehzri mempunyai peluang gizi lebih 1,302 kali dibandinglmn siswa yang menonton televisi < 3 jam sehari, setelah dikontrol oleh variabel frekuens i jajan, waktu tidur siang, umur, tingkat pengetahuan gizi, tingkat pendidikan ibn, tingkat pendidilmn ayah, status pekerjaan ibu dan lingkatpendapatan keluarga per kapita/bulan.

Weight for age (WFA) is an index used in determining children nutritional status. Over or rmdernutrition is caused by inbalance of nutrient conslmiption in the body. Overmrtrition situation among Primary School student, especially in urban areas nowadays is suspected to be associated with excessive food intake, masking in particular, and rerasvely poor physical testify. 'Ihis study aimed to mamma me relation between food consumption, snacking habit, and physical activity pattern among students of Santa MariaFatima.Primary School, East Jakarta. This study employed anon-experimental design with a cross sectional, where the data was collected at October 2001. Subjects were grade IV, V, and VI students. The dependent variable is mitritional Sl'2l1E while independent variables consist of food consumption (energy, protein, md tilt); snacking habit (lhequency of snacking, type of snack, and iiequency of fast food consumption); physical activity pattem (sleeping time dining day and night , TV watching time, and exercise habit). Confolmding variables consist of student?s characteristics (age, sex, and mitrition knowledge), and parent?s characteristics (mother?s educational level, tiitt1er?s educational level, mother?s working stains, father?s working status, and household per capita income per month). Univariate, bivariate, and multivariate analyses with logistic regression were applied in this study. The study found overnutrition of 17,9%, d normal nutrition status of 82,1%. The bivaiate analysis showed that variables with significant relationship with miltioral status are trequency of snacking, type of snack, frequency of that food consumption, sleeping time dining day, TV watching time, ihther?s educational level, mother?s working status, and household per capita income per month. However, multivariate analysis showed that there are thnee variables most related to nutritional status, that is, frequency of snacking with OR = 3,437, sleeping time during day with OR = 2,937 and TV watching time with OR = 13,006 and 1,302 , respectively. Moreover, the multivariate analysis found ttmtthe most dominant variable in relation to mitritional status is TV watching time. Students aged ?7-9yea|s oldwithmore or equal to Shours perday'l'Vwatchingtime had 13,006 times greater chance to be ovemourished compared to their counterparts with TV watching time of less than 3 hours per day, while students aged 10-12 years old with more or equal to 3 hours per dny TV watching time had 1,302 times greater chance to be ovemomished compared to their coimterparts with TV watching time of less than 3 hours per day alter controlled by iiequency of snacking, sleeping time during day, age, nutrition knowledge, mother?s educational level, 1iither?s educational level, mother?s working status, and household per capita income per month. Based on the stndy?s results, it is recommended that related institutions, in this case Health Oitice/Public Health Centre to collaborate with schools to provide nutrition promotion program including how to prevent d how to overcome over-nutrition problem Possible programs include ?dokter kecil? activity (school health promoter) and school-based health progam. Information on Balance Nutrition Guidelines needs to be embarked and targeted to both teacher and students according to their grade. School should establish an inspection team, with help hom local health personnel, to inspect street food vendors around school as to obtain healthy and nutritionally balanced snacks. To other researchers intended to study similar topic, it is recommended to study a biger sample size with various type of school, and to have more complete set of variables including psychology, lifestyle, and genetics infomation.
Read More
T-1240
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wenni Haristia; Pembimbing: Zarfiel Tafal; Penguji: Dian Ayubi, Roji Suherman
S-7264
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahajeng Sari Putri; Pembimbing: Zulazmi Mamdy; Penguji: Dian Ayubi, Zoya Dianaesthika Amirin
S-6446
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bunga Pelangi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Evi Martha, Fatmah, Mursalim, Sunersi Handayani
Abstrak: Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang tertinggi di DKI Jakarta tahun 2017 terjadi di Kota Jakarta Timur yaitu 18,6% dari 14,5%. Wilayah dengan prevalensi gizi kurang tertinggi berada di Kecamatan Cakung, dan wilayah yang berpotensi tinggi mengalami gizi kurang adalah Kecamatan Pulogadung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan perilaku pemenuhan gizi usia baduta di Kecamatan Cakung dan Kecamatan Pulogadung, Kota Jakarta Timur. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini mengambil 132 responden yang dipilih menggunakan metode purposive sampling dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata perilaku pemenuhan gizi usia baduta adalah 70 (skala 100). Perilaku pemberian MPASI berdasarkan frekuensi makan pada usia 6-9 bulan adalah perilaku yang paling banyak sesuai (92,4%) dan perilaku pemberian ASI selama dua tahun adalah perilaku yang paling banyak tidak sesuai (51,5%). Berdasarkan uji multivariat diketahui bahwa determinan perilaku pemenuhan gizi usia baduta adalah pengetahuan, sikap, dan dukungan suami. Temuan penelitian sesuai dengan teori perilaku, yaitu jika tingkat pengetahuan tinggi, sikap positif, maka akan terjadi perilaku. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata pengetahuan adalah 85,83; nilai rata-rata sikap adalah 76,31; dan nilai rata-rata perilaku adalah 70. Secara khusus, perilaku penyerta pemenuhan gizi usia baduta adalah dukungan suami. Pada variabel tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, kepercayaan terhadap tradisi, dukungan tenaga kesehatan dan akses terhadap pangan tidak berhubungan dengan perilaku pemenuhan gizi usia baduta
Read More
T-5653
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive