Ditemukan 21398 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tonny Sundjaya; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Ratna Djuwita, Conny Tanjung; Penguji: Besral, Fathimah Sulistyowati Sigit, Muh. Nasrum Massi, Bahrul Fikri, Safarina Malik
Abstrak:
Read More
Weight faltering pada awal kehidupan merupakan kondisi yang mencerminkan gangguan kompleks antara fungsi mukosa usus, komposisi mikrobiota, pemanfaatan dan absorpsi nutrisi. Salah satu pendekatan yang sedang berkembang dalam memahami mekanisme kondisi ini adalah analisa metabolit tinja, khususnya metabolit asam amino, yang berpotensi dijadikan penanda fungsional dari kesehatan mukosa dan aktivitas mikrobiota usus. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan perubahan metabolit asam amino tinja dan berat badan setelah intervensi selama satu bulan pada bayi dengan weight faltering, serta menilai kemampuan prediktif perubahan metabolit asam amino tinja tertentu terhadap perubahan berat badan. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari studi kohort prospektif pada 149 bayi berusia 6-9 bulan yang menerima intervensi selama satu bulan. Perubahan berat badan dihitung sebagai selisih berat pada setelah 1 bulan dan baseline, sementara perubahan masing masing metabolit asam amino tinja juga dihitung dari delta metabolit antara dua waktu pengukuran tersebut. Hubungan antara perubahan metabolit asam amino tinja dan perubahan berat badan dianalisa dengan sebuah model multivariat yang telah dikontrol untuk berbagai kovariat penting, termasuk riwayat penggunaan obat pada baseline dan bulan pertama, usia baseline, status menyusui pada kedua waktu pengukuran, pendidikan terakhir ayah, cara lahir, dan kelompok intervensi. Hasil analisa menunjukkan adanya peningkatan berat badan yang bermakna secara statistik setelah intervensi. Pada aspek metabolomik, metabolit triptofan menunjukkan peningkatan signifikan berdasarkan uji Wilcoxon, sedangkan sebagian besar metabolit asam amino lainnya tidak berubah secara bermakna. Analisis bivariat sebelum dikontrol variabel-variabel kovariat memperlihatkan tren korelasi negatif antara delta metabolit asam amino tinja dan delta berat badan. Dalam model yang dihasilkan, perubahan kadar valin dan arginin dalam tinja ditemukan sebagai prediktor negatif yang bermakna terhadap perubahan berat badan, dengan nilai adjusted R² sekitar 0,139 setelah memperhitungkan seluruh kovariat. Hal ini menunjukkan bahwa metabolit tinja merupakan bagian dari sebuah sistem yang membentuk variasi peubahan berat badan dan bukan satu satunya faktor penentu. Temuan di studi ini terkait penurunan residu valin dan arginin dalam tinja, kemungkinan mencerminkan perbaikan absorpsi asam amino, peningkatan penggunaan sistemik, atau perubahan komposisi mikrobiota yang lebih kondusif dalam mendukung pertumbuhan. Sebaliknya, peningkatan residu valin dan arginin dapat mengisyaratkan terjadinya malabsorpsi atau peningkatan fermentasi proteolitik oleh mikroba usus, sehingga mengurangi kadar asam amino yang dapat digunakan untuk proses anabolik. Hasil ini memperkuat pandangan bahwa profil metabolom tinja, khususnya metabolit asam amino, dapat dijadikan kandidat biomarker fungsional yang sensitif untuk memantau respons mukosa usus sehubungan dengan kesehatan usus sebagai dampak dari intervensi yang dilakukan pada bayi dengan weight faltering. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lanjutan dengan durasi intervensi yang lebih panjang, integrasi biomarker Environmental Enteric Dysfunction (EED), analisis komposisi mikrobiota, serta aplikasi teknik analisis multivariat lanjutan untuk memperdalam pemahaman mengenai mekanisme biologis yang mendasari dinamika metabolit asam amino dan implikasinya terhadap pertumbuhan pada awal kehidupan
Weight faltering in early life reflects a complex interplay between intestinal mucosal function, gut microbial composition, and nutrient absorption and utilization. Fecal amino acid metabolite profiling has emerged as a promising functional indicator of these underlying processes. This study aimed to evaluate fecal amino acid metabolite dynamics and changes in body weight following a one month intervention in infants with weight faltering, and to determine the predictive value of specific fecal amino acid metabolite changes for weight gain. This research analyzed secondary data from a prospective cohort study involving 149 infants aged 6-9 months who received nutritional intervention for one month. Weight change was calculated as the difference between post intervention and baseline measurements, while changes in fecal metabolite concentrations were assessed as delta values over the same period. Associations between changes in fecal amino acid metabolites and weight gain were examined using multivariate model adjusted for covariates variables, including medication usage at baseline and one month, age at baseline, breastfeeding status at both time points, paternal education, mode of delivery, and intervention group. A statistically significant increase in body weight was observed following the intervention. Metabolomic analyses showed a statistically significant incerase in fecal tryptophan levels, whereas other amino acids did not exhibit statistically significant changes. Unadjusted analyses indicated a negative correlation trend between changes in fecal amino acid metabolites and weight gain. In the multivariate model, changes in fecal valine and arginine were found as significant negative predictors of weight gain. The adjusted model explained approximately 13.9% of the variance in weight change, indicating fecal metabolite profiles are part of a system that influences weight changes. These finding suggests the reduction of fecal valine and arginine levels may reflect improvement of amino acid absorption, enhanced systemic utilization, or favorable shifts in gut microbial metabolism associated with successful weight gain. Conversely, elevated fecal residues of these amino acids may indicate malabsorption or increased proteolytic fermentation, leading to reduced systemic availability for anabolic processes. This interpretation aligns with the concept that fecal metabolomics may become a candidate of biomarker to show gut mucosal function and gut microbial activity. The study thus reinforces the potential utility of fecal amino acid metabolite profiles as sbiomarkers for monitoring intervention’s response and intestinal recovery condition among infants with weight faltering. Overall, this study underscores the potential relevance of integrating metabolomic indicators with growth assessments to deepen understanding of nutritional recovery mechanisms. Nonetheless, further research is needed, particularly longer duration interventions, inclusion of Environmental Enteric Dysfunction (EED) biomarkers, parallel microbiota profiling, and application of advanced multivariate analytical techniques, to elucidate the biological pathways linking amino acid metabolism, microbial composition, and growth outcomes during early childhood.
D-618
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rofingatul Mubasyiroh; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Felly Philips Senewe, Erna Mulati
T-4067
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Rochman; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Rachma F Boedjang, Rachmad Soegih, Lukas C. Hermawan, Sujana Jatiputra
Abstrak:
Read More
Anglz Bayi Bent Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia maslh cukup tinggi. Keadaan BBLR meningkatkan risiko kematian dan kesakitan perinatal & bayi. 'Iujuan penelitian lmtuk mengetahui lmbnngan antara perawatan antenatal (pemerisaan kohamilan pertama Kali, frekuensi pemeriksaan, komumsi tablet besi) dan bayi berat _lahtr rendah dengan mengontrol faktor jenis kelamin bayi, usia ibu melahirkan, pendidikan ibn, paritas, jarak kelahix-an dan riwayat abortus. Dinin penelitian adalah kann kontrol tidal; berpadanan menggunakan data has Survei Demograli dan Kesehatan Indonesia 1997 (SDKI 1997) dengan jnmlah kann 748 dan kontrol 1496 bayi kelahiran tunggal. Hasil penelitian menemukan bahwa pemeriksaan kehamilan pertama kali pada trimester II atau III mempunyai risiko BBLR 1.29 kali sesudah mengontrol usia ibn melahirkan, pendidikan ibu dan jarak kelahiran. Frelmemi pemeriluaan kehamilan < 4 kali mempunyai ritiko BBLR 1.81 kali sesudah mengontrol mia ibn melahlrlun dan jarak kelahiran. Konsumsi < 90 tablet besi mempnnyai rixlko BBLR 189 semdah mengontrol frekuensi pemeriksaan kehamilan, usia ibn melahirkan, pendidikan ibn dan jarak kelahiran. Risiko atrlbut pemeriksaan kehamllan pertama kali 225 %, frelmensl pemeriksaankehami1an44.8 % dan konxnmsitablet besi 47.1 %. Bordasarkan hasil penelitian disarankan: 1). memantau pengadaan dan diztribusi tablet best secara teratur 2). menzmbahkan pertanyaan tentang tekanan darah, TB, BB dan status anemia ibu pada knesioner SDH 3). melaknkan penyuluhan tentang reproduksi sehat bagi remaja putri dan ibn muda dengan pesan utama usia menikah/melahirkan & pengatmnan jan-ak kelahiran 4). menganalisis data basil SDIC[terbarn.
Abstract Low birth weight rate is still high. Low birth weight increased the risk of perinatal and infant mortality and morbidity. This study aims to know the relation between antenatal care (first visit, frequency, iron pill consumption) and low birth weight controlling for infant?s gender, maternal age, maternal education, parity, birth space and history of abortion. 5 The study design is unmatched case-control nsed Indonesia Demographic and Health Survey 1997 (IDHS 1997) data wherein 748 cases and 1496 controls were selected among singleton infants were carried out in IDHS 1997- This study found: the mother of cases have 1.29 times having first visit at the second or third trimester of pregnancy compared to the controls controlling for maternal age, maternal education and birth space. The mother of cases have 1.81 tlmes having visit frequency less than 4 times compared to controls controlling for maternal age and birth space. The mother of cases have 1.89 times having iron pill consumption less than 90 pill compared to the controls controlling for visit frequency, maternal age, maternal education and birth space. The attributable risk of first visit was 22.5 %, visit freqneudy was 44.8 % and iron pill consumption was 47.1 %. This study recommend: 1). to control for the availability and distribution of iron pill 2). to add other questions into IDRS questionnaire, eg. maternal blood tension, height, weight and anemia?s status 3). to give informations for girls and young mothers about the reproduction health with the main messages are marriage age/birth age and birth space 4). to analyze the last IDHS data.
T-1119
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Solihah Widyastuti; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C. Adisasmita, Yovsyah, Rini Yudhi Pratiwi, Priagung Adhi Bawono
T-3276
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wa Ode Dwi Daningrat; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq, Doddy Izwardy, Sandjaja
T-4481
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Venny Lisvita; Pembimbing: Krisnawati Bantas
S-3349
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Novy Romlah; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda; Tri Yunis Miko Wahyono, Imelda Yanti
T-4540
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Prisilia Nurul Fajrin K; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Toha Muhaimin, Kurniawan Rahmadi
S-7051
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizki Nurmaliani; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Ratna Djuwita, Julina
Abstrak:
Read More
Stunting merupakan permasalahan malnutrisi yang paling banyak terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Salah satu faktor yang berhubungan dengan stunting adalah berat badan lahir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dengan stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 dengan jumlah sampel sebanyak 87.754 anak. Analisis data dilakukan menggunakan uji Cox Regression Constant Time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2022 adalah sebesar 20,92% dan prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2022 adalah sebesar 5,71%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa anak yang memiliki riwayat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) memiliki risiko lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan anak yang tidak memiliki riwayat BBLR setelah dikontrol variabel panjang badan lahir dengan besar risiko bergantung pada kelompok usia anak. Pada anak usia 6-11 bulan, riwayat BBLR meningkatkan risiko stunting sebesar 2,10 (APR=2,10, 95% CI 1,89-2,33) setelah dikontrol variabel panjang badan lahir, sedangkan pada anak usia 12-23 bulan, riwayat BBLR meningkatkan risiko stunting sebesar 1,38 (APR=1,38, 95% CI 1,29-1,48) setelah dikontrol variabel panjang badan lahir. Diperlukan upaya pencegahan terjadinya BBLR serta tata laksana dan pemantauan pertumbuhan yang optimal sedini mungkin bagi bayi dengan berat lahir rendah agar risiko stunting dapat diminimalkan.
Stunting is the most common form of malnutrition among children under five years of age. One of the factors associated with stunting is birth weight. The aim of this study was to examine the relationship between birth weight and stunting among children aged 6–23 months in Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) with a sample size of 87,754 children. Data were analyzed using Cox regression with constant time, using prevalence ratio (PR) as the measure of association, along with a 95% confidence interval. The results showed that the prevalence of stunting among children aged 6–23 months in Indonesia in 2022 was 20.92%, while the prevalence of low birth weight (LBW) in the same age group was 5.71%. Multivariate analysis indicated that children with a history of LBW had a higher risk of stunting compared to those without such a history, after adjusting for birth length. Moreover, the magnitude of risk varied by age group. Among children aged 6–11 months, LBW increased the risk of stunting by 2.10 times (APR = 2.10; 95% CI: 1.89–2.33), whereas in those aged 12–23 months, the risk increased by 1.38 times (APR = 1.38; 95% CI: 1.29–1.48). Preventive measures to reduce the incidence of LBW, along with optimal management and early monitoring of growth in LBW infants, are essential to minimize the risk of stunting.
T-7329
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hera Apprimadona; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
Abstrak:
Read More
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan karena termasuk penyebab utama kematian neonatus di Indonesia selain karena dampak negatif jangka panjang yang disebabkannya. Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama kehamilan merupakan upaya menurunkan resiko kejadian BBLR. Namun kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Populasi penelitian ini adalah perempuan berusia 10-54 tahun di Indonesia berstatus kawin/cerai hidup/cerai mati yang memiliki riwayat persalinan periode 1 Januari 2018 sampai 25 September 2023, untuk kelahiran terakhir yang telah berakhir yang menjadi responden dalam SKI 2023. Sampel dalam penelitian ini adalah responden dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah perempuan melahirkan bayi tunggal, informasi berat lahir bayi berdasarkan KIA, dengan data yang lengkap untuk semua variabel yang diteliti. Desain penelitian ini adalah cross sectional dan menggunakan uji regresi cox dalam analisis data bivariat dan multivariat untuk mendapatkan Prevalence Ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Pendekatan analisis multivariat dilakukan untuk mengontrol variabel kovariat yaitu usia, pendidikan, pekerjaan, paritas, usia kehamilan, komplikasi kehamilan, merokok, kuantitas ANC K4, kualitas ANC 10T, pola makan, status ekonomi, wilayah tempat tinggal dan jenis kelamin. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi BBLR sebesar 5,33% dan proporsi kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil sebesar 49,02%. Hasil analisis multivariat menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara ibu hamil yang tidak patuh mengkonsumsi TTD dengan kejadian BBLR di Indonesia, dimana ibu hamil yang tidak patuh mengkonsumsi TTD mempunyai risiko 1,216 kali lebih besar (adjusted PR: 1,216; 95% CI: 1,04-1,43; p-value: 0,016) untuk melahirkan BBLR dibandingkan ibu yang patuh mengkonsumsi TTD, setelah dikontrol usia kehamilan Kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil di masih rendah, padahal berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR di Indonesia, sehingga perlu perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil.
Low birth weight (LBW) is a health problem because it is one of the main causes of neonatal mortality in Indonesia in addition to the long-term negative impacts it causes. Consumption of Iron Supplement Tablets (TTD) of at least 90 tablets during pregnancy is an effort to reduce the risk of LBW. However, compliance with TTD consumption in pregnant women in Indonesia is still low. This study aims to analyze the relationship between compliance with TTD consumption in pregnant women and the incidence of LBW in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey. The population of this study were women aged 10-54 years in Indonesia with married/divorced/divorced and died status who had a history of childbirth from January 1, 2018 to September 25, 2023, for the last birth that had ended who were respondents in the 2023 SKI. The sample in this study were respondents from the study population who met the inclusion criteria. The inclusion criteria in this study were women giving birth to a single baby, information on the baby's birth weight based on the KIA, with complete data for all variables studied. The design of this study was cross-sectional and used the cox regression test in bivariate and multivariate data analysis to obtain the Prevalence Ratio (PR) with a 95% confidence interval. The multivariate analysis approach was carried out to control covariate variables, namely age, education, occupation, parity, gestational age, pregnancy complications, smoking, quantity of ANC K4, quality of ANC 10T, diet, economic status, area of residence and gender. The results of this study showed a proportion of LBW of 5.33% and a proportion of compliance with TTD consumption in pregnant women of 49.02%. The results of the multivariate analysis showed a statistically significant relationship between pregnant women who were not compliant in consuming TTD and the incidence of LBW in Indonesia, where pregnant women who were not compliant in consuming TTD had a 1.216 times greater risk (adjusted PR: 1.216; 95% CI: 1.04-1.43; p-value: 0.016) of giving birth to LBW compared to mothers who were compliant in consuming TTD, after controlling for gestational age. Compliance with TTD consumption in pregnant women is still low, even though it is significantly related to the incidence of LBW in Indonesia, so the government needs attention to increase compliance with TTD consumption in pregnant women.
T-7290
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
