Ditemukan 35177 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Aurora Intan Maghfira; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Read More
Penyakit tidak menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama sehingga deteksi dini melalui program skrining menjadi strategi penting. Namun, pemetaan capaian dan pola faktor risiko hasil skrining PTM di Provinsi Jakarta masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan program skrining PTM di Provinsi Jakarta tahun 2020-2024 menurut tahun, jenis kelamin, dan wilayah kota di Provinsi Jakarta tahun 2020–2024. Studi menggunakan desain epidemiologi deskriptif dengan rancangan ekologi berbasis data agregat Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta menurut tahun, jenis kelamin, dan lima wilayah kota. Hasil menunjukkan capaian skrining meningkat tajam dari 38,8% (2020) menjadi 99,1% (2021), mencapai 100% (2022), dan melampaui 100% pada 2023–2024 (100,4% dan 101,4%). Jumlah peserta skrining juga naik dari 2.746.144 (2020) menjadi 7.865.422 (2024), dengan mayoritas peserta perempuan (53,5%–56,1%). Tiga faktor risiko terbanyak secara konsisten adalah obesitas sentral, obesitas, dan tekanan darah tinggi. Pada 2024, proporsi obesitas sentral mencapai 45,5%, diikuti obesitas 32,0% dan tekanan darah tinggi 25,2%, dengan pola tiga faktor risiko teratas yang relatif serupa di seluruh wilayah kota. Penelitian ini menyimpulkan bahwa obesitas sentral dan obesitas masih tinggi di Provinsi Jakarta sehingga diperlukan penguatan intervensi promotif–preventif yang lebih terarah menurut kelompok sasaran dan wilayah.
Non-communicable diseases (NCDs) represent a major public health concern; therefore, early detection through screening programmes is a critical strategy. However, evidence mapping screening coverage and the patterns of NCD risk factors identified through screening in Jakarta Province remains limited. This study aimed to describe the NCD screening programme in Jakarta Province from 2020 to 2024 by year, sex, and municipal area. A descriptive epidemiological study with an ecological design was conducted using aggregated data from the Jakarta Provincial Health Office by year, sex, and five municipal areas. The results showed that screening coverage increased sharply from 38.8% (2020) to 99.1% (2021), reached 100% (2022), and exceeded 100% in 2023–2024 (100.4% and 101.4%). The number of individuals screened also increased from 2,746,144 (2020) to 7,865,422 (2024), with females comprising the majority of participants (53.5%–56.1%). The three most frequently identified risk factors were consistently central obesity, obesity, and hypertension. In 2024, the proportion of central obesity reached 45.5%, followed by obesity at 32.0% and hypertension at 25.2%, with a broadly similar pattern of the top three risk factors across all municipal areas. The study concludes that central obesity and obesity remain high in Jakarta Province, underscoring the need to strengthen more targeted health promotion and preventive interventions by population group and area.
S-12210
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sabila Nur Lailiah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Retno Henderiawati
Abstrak:
Read More
Penelitian terkait premature mortality yaitu kematian usia 30-70 tahun akibat PTM di Indonesia masih terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren premature mortality akibat 4NCD, meliputi kardiovaskular (CVD), kanker, diabetes, dan respirasi kronis (CRD) di DKI Jakarta tahun 2020-2024 menggunakan desain potong lintang berdasarkan data sekunder Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Analisis univariat mengkaji tren premature mortality 4NCD berdasarkan distribusi umur, jenis kelamin, wilayah domisili, dan laporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menyatakan premature mortality 4NCD diakibatkan CVD (78%), diabetes (17%), kanker (14%), dan CRD (9%). Kematian CVD disebabkan blok penyakit jantung lain (47,4%) dan serebrovaskular (19,4%). Kanker ganas primer di lokasi spesifik (88,7%), DM tipe 2 (77%). Kematian CRD didominasi blok penyakit lain pada sistem pernapasan (34%) dan penyakit pernapasan bawah kronis (27,8%). Premature mortality tertinggi terjadi di usia dewasa paruh baya (49%), lansia muda (46%), dan dewasa muda (5%). Kematian laki-laki (58%) lebih tinggi daripada perempuan (42%). Domisili angka kematian tertinggi terjadi di Jakarta Timur (30%), Jakarta Selatan (19%), Jakarta Utara (17%), dengan sumber laporan tertinggi puskesmas (56%). Kasus kematian tidak spesifik menggambarkan tantangan proses surveilans yang akurat. Penelitian ini menitikberatkan vitalitas kualitas data sebagai penunjang intervensi dan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas PTM.
Research related to premature mortality, deaths aged 30-70 years due to NCDs in Indonesia, is still limited. This study aims to analyze the trend of premature mortality due to 4NCD, including CVD, cancer, diabetes, and CRD in DKI Jakarta in 2020-2024 using a cross-sectional design based on secondary data from DKI Jakarta Health Department. Univariate analysis examined 4NCD premature mortality trends based on age distribution, gender, domicile area, and health facility reports. The results showed 4NCD premature mortality was caused by CVD (78%), diabetes (17%), cancer (14%), and CRD (9%). CVD mortality due to other heart disease (47.4%) and cerebrovascular (19.4%). Site-specific primary malignant cancer (88.7%), type 2 DM (77%). CRD mortality by other respiratory system disease block (34%) and chronic lower respiratory disease (27.8%). Premature mortality was highest in middle-aged adults (49%), young elderly (46%), young adults (5%). Male mortality (58%) was higher than female mortality (42%). Domicile of death was highest in East Jakarta (30%), South Jakarta (19%), North Jakarta (17%), the highest source of report being puskesmas (56%). Unspecified death cases illustrate the challenges of accurate surveillance processes. This study emphasizes the vitality of data quality to support effective and targeted interventions and policies in reducing morbidity.
Research related to premature mortality, deaths aged 30-70 years due to NCDs in Indonesia, is still limited. This study aims to analyze the trend of premature mortality due to 4NCD, including CVD, cancer, diabetes, and CRD in DKI Jakarta in 2020-2024 using a cross-sectional design based on secondary data from DKI Jakarta Health Department. Univariate analysis examined 4NCD premature mortality trends based on age distribution, gender, domicile area, and health facility reports. The results showed 4NCD premature mortality was caused by CVD (78%), diabetes (17%), cancer (14%), and CRD (9%). CVD mortality due to other heart disease (47.4%) and cerebrovascular (19.4%). Site-specific primary malignant cancer (88.7%), type 2 DM (77%). CRD mortality by other respiratory system disease block (34%) and chronic lower respiratory disease (27.8%). Premature mortality was highest in middle-aged adults (49%), young elderly (46%), young adults (5%). Male mortality (58%) was higher than female mortality (42%). Domicile of death was highest in East Jakarta (30%), South Jakarta (19%), North Jakarta (17%), the highest source of report being puskesmas (56%). Unspecified death cases illustrate the challenges of accurate surveillance processes. This study emphasizes the vitality of data quality to support effective and targeted interventions and policies in reducing morbidity.
S-12141
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandrina Hagja Salsabila; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Read More
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. Kejadian maupun risiko komplikasi stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan komorbid. Meskipun skrining penyakit tidak menular (PTM) memegang peran krusial dalam pencegahan primer maupun tersier, evaluasi program ini di Indonesia dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta umumnya masih terbatas pada lingkup fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aspek fisiologis (hipertensi dan hiperglikemia) dan stroke berdasarkan aspek epidemiologi (waktu, tempat, dan orang), serta menjelaskan korelasi antar faktor risiko dan komorbiditas pada populasi skrining PTM DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data agregat sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020-2024. Analisis dengan jenis kelamin serta wilayah kota administrasi meliputi analisis tren, pemetaan kota, dan uji korelasi Spearman Rank untuk data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tren pemulihan partisipasi masif pasca pandemi Covid-19 hingga mencapai lebih dari 7 juta partisipan pada tahun 2024. Terdapat kontribusi partisipasi skrining konsisten dengan dominasi perempuan (53–56%) serta konsentrasi terbesar di Jakarta Timur. Secara wilayah kota, ditemukan tren yang berbeda dengan Jakarta Selatan konsisten memiliki beban hipertensi tertinggi. Sementara itu, beban hiperglikemia menunjukkan tren kenaikan di Jakarta Selatan dan Timur, berbeda dengan penurunan di Jakarta Pusat dan Utara. Meskipun partisipasi laki-laki lebih rendah, kelompok ini menunjukkan kerentanan lebih tinggi dengan beban penyakit yang lebih besar. Hasil penelitian menemukan bahwa beban hipertensi memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan proporsi temuan stroke pada seluruh populasi (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), berbeda dengan beban hiperglikemia yang tidak berkorelasi pada populasi umum maupun pada setiap jenis kelamin. Beban hipertensi konsisten pada kedua jenis kelamin dengan korelasi pada laki-laki (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) tercatat lebih kuat dibandingkan perempuan (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang gender-responsive serta pendekatan berbasis wilayah untuk mengendalikan beban penyakit di wilayah dengan risiko tinggi.
Stroke is a leading cause of death and disability globally. Both the incidence and risk of stroke complications can be prevented through control of risk factors and comorbidities. Although non-communicable diseases (NCDs) screening plays a crucial role in primary and tertiary prevention, evaluation of this program in Indonesia and Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta is generally limited to healthcare facilities. Therefore, this study aims to describe the burden of risk (hypertension and hyperglycemia) and stroke based on epidemiological aspects (time, place, and person), and to demonstrate the correlation between risk factors and comorbidities in the NCDs screening population of DKI Jakarta. This study used an ecological study design with secondary aggregate data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2020-2024. Analysis by gender and administrative city area included trend analysis, city mapping, and Spearman Rank correlation test for non-normally distributed data. The results showed a trend of massive participation recovery after the Covid-19 pandemic, reaching more than 7 million participants by 2024. There was a consistent contribution to screening participation, with a female predominance (53–56%) and the largest concentration in East Jakarta. By city region, the burden shows a different pattern, with South Jakarta consistently having the highest hypertension burden. Meanwhile, the burden of hyperglycemia shows an increasing trend in South and East Jakarta, in contrast to a decrease in Central and North Jakarta. Despite lower male participation, this group demonstrates higher vulnerability with a greater burden of disease findings. The study found that the burden of hypertension was strongly correlated with stroke findings proportion in the population (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), in contrast to the burden of hyperglycemia findings, which did not correlate in the general population or in either sex. The pattern of hypertension findings was consistent across both sexes, with a stronger correlation in men (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) than in women (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Therefore, gender-responsive intervention strategies and area-based approaches are needed to control the disease burden in high-risk areas.
S-12211
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Stella Tracylia; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Budi Setiawan
Abstrak:
Read More
Studi terkait mortalitas akibat kanker, khususnya di tingkat lokal, seperti provinsi, masih terbatas dan sebagian besar berfokus pada morbiditas atau prevalensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren mortalitas akibat kanker di Jakarta pada tahun 2017, 2019, 2021, dan 2023 menggunakan desain potong lintang dengan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Analisis univariat dilakukan untuk mengevaluasi tren mortalitas berdasarkan tahun, kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan perubahan peringkat kanker utama, di mana kanker trakea, bronkus, dan paru-paru, yang menjadi penyebab kematian tertinggi pada 2017, digantikan oleh kanker payudara mulai 2019. CSDR (Cause Specific Death Rate) kanker utama meningkat sejak 2017, menurun pada 2021, lalu mencapai puncaknya pada 2023. Mortalitas tertinggi terjadi pada kelompok lansia (43,9% – 44,6%) dan dewasa paruh baya (42,8% – 44,7%), dengan perempuan (52,0% – 57,7%) lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki (42,3% – 48%). Jakarta Timur melaporkan mortalitas tertinggi (27,9% – 30,8%), diikuti Jakarta Barat (20,9% – 26,7%), dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama (66,2% – 83,7%). Kasus-kasus tereksklusi dalam penelitian ini mencerminkan tantangan dalam pengumpulan dan pencatatan data yang akurat. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas data untuk mendukung kebijakan dan intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi beban mortalitas akibat kanker.
Studies related to cancer mortality, especially at the local level, such as provinces, are still limited and mostly focus on morbidity or prevalence. This study aims to analyze cancer mortality trends in Jakarta in 2017, 2019, 2021, and 2023 using a cross-sectional design with data from the Jakarta Provincial Health Office. Univariate analysis was conducted to evaluate mortality trends based on year, age group, gender, region, and the reporting source from healthcare facilities. The results show a change in the ranking of major cancers, where tracheal, bronchial, and lung cancer, which was the leading cause of death in 2017, was replaced by breast cancer starting in 2019. The Cause-Specific Death Rate (CSDR) for major cancers increased since 2017, decreased in 2021, and then peaked in 2023. The highest mortality occurred in the elderly group (43.9% – 44.6%) and middle-aged adults (42.8% – 44.7%), with women (52.0% – 57.7%) being more affected than men (42.3% – 48%). East Jakarta reported the highest mortality (27.9% – 30.8%), followed by West Jakarta (20.9% – 26.7%), with hospitals as the primary reporting source (66.2% – 83.7%). Cases excluded from this study reflect challenges in the collection and recording of accurate data. This study emphasizes the importance of improving data quality to support policies and interventions that are more effective in reducing the cancer mortality burden.
S-11861
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suci Damaratri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Wenny Ichwaniah
Abstrak:
Read More
Hipertensi di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan karena prevalensinya terus mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui prevalensi hipertensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia produktif di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 16.421 peserta skrining faktor risiko PTM yang berusia 15-64 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu berdasarkan data skrining faktor risiko PTM tahun 2022 adalah sebesar 14,6% serta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi adalah usia (PR = 3,15; 95% CI: 2,92-3,39), riwayat hipertensi keluarga (PR = 1,68; 95% CI: 1,54-1,83), dan obesitas (PR = 2,37; 95% CI: 2,19-2,56). Untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi, dinas kesehatan dapat bekerja sama dengan berbagai pihak salah satunya melalui program deteksi dini hipertensi.
Hypertension in Indonesia is a public health problem that needs attention because its prevalence still increased. This study aims to determine the prevalence of hypertension and the factors associated with the incidence of hypertension in productive aged population in Kepulauan Seribu Regency, DKI Jakarta in 2022. This study used a cross-sectional study design with a total sample of 16,421 risk factors screening of non-communicable disease participants aged 15- 64 years. The results of this study indicate that the prevalence of hypertension in the Kepulauan Seribu Regency based on risk factors screening of non-communicable disease data in 2022 is 14.6% and factors such as age (PR = 3.15; 95% CI: 2.92-3.39), family history of hypertension (PR = 1.68; 95% CI: 1.54-1.83 ), and obesity (PR = 2.37; 95% CI: 2.19-2.56) were associated factors of causing hypertension. To prevent and control hypertension, the health agency can work along with various parties by the early detection program for hypertension.
S-11460
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maulita Rizqi Shafira; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Rizka Maulida, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Read More
Indonesia mengalami peningkatan beban penyakit tidak menular, salah satunya dari penyakit jantung koroner (PJK). Salah satu provinsi dengan prevalensi PJK tertinggi adalah Provinsi DI Yogyakarta, yaitu mencapai 2%. Peningkatan ini terus terjadi salah satunya disebabkan oleh tingkat urbanisasi yang tinggi. Tingkat urbanisasi menyebabkan pelimpahan aktivitas perkotaan ke wilayah perdesaan sekitarnya, sehingga masyarakat mengembangkan karakteristik seperti populasi perkotaan, tetapi karakteristik wilayahnya masih perdesaan. Wilayah ini disebut sebagai wilayah semi-perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian PJK pada populasi dewasa di wilayah semi-perkotaan Provinsi DI Yogyakarta tahun 2022 menggunakan data Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel penduduk usia >18 tahun dan diolah menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Penelitian ini menemukan bahwa usia, hipertensi, diabetes melitus, dan merokok merupakan faktor risiko yang memprediksi kejadian PJK. Sementara itu, orang dengan riwayat PJK keluarga dan obesitas berisiko lebih rendah untuk mengalami PJK. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan program dan kebijakan kesehatan terkait PJK dan dalam pelaksanaan penelitian selanjutnya.
Indonesia is experiencing an increasing burden of non-communicable diseases, one of which is coronary heart disease (CHD). One of the provinces with the highest prevalence of CHD is DI Yogyakarta Province, which reaches 2%. This increase continues to occur partly due to the high level of urbanization. The level of urbanization causes the spillover of urban activities to the surrounding rural areas, so that the community develops characteristics such as urban population, but the characteristics of the area are still rural. These areas are referred to as semi-urban areas. This study aims to identify factors associated with CHD in the adult population in semi-urban areas of Yogyakarta Province in 2022 using data from the Non-Communicable Disease Information System, Ministry of Health of the Republic of Indonesia. The design of this study was cross-sectional with a sample of population aged >18 years and processed using univariate to multivariate analysis. This study found that age, hypertension, diabetes mellitus, and smoking are risk factors that predict the incidence of CHD. Meanwhile, people with a family history of CHD and obesity had a lower risk of developing CHD. The results of this study are expected to be taken into consideration for the preparation of health programs and policies related to CHD and for further research.
S-11576
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Luqman; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal Syarif, Inggariwati
Abstrak:
Salah satu upaya untuk mengeluarkan Indonesia dari pandemi COVID-19 adalah dengan vaksinasi. Data capaian vaksin primer COVID-19 di DKI Jakarta per Juli 2022 sudah sangat baik yaitu mencapai 106,5%, dengan 78% diantarnya ber KTP DKI. Tetapi dalam waktu yang sama kasus harian COVID-19 di DKI Jakarta menembus angka 1.749 kasus per hari. Sehingga dalam studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status vaksinasi dan jenis vaksin dengan kejadian infeksi COVID-19. Desain studi yang dipilih adalah case-control (1:1) dengan jumlah sampel sebanyak 5.574 responden yang terpilih dari data COVID-19 DKI Jakarta. Penegakkan sampel penelitian berdasarkan hasil positif atau negatif COVID-19 dengan RT-PCR. Hasil univariat menunjukkan sebagian besar responden kasus telah mendapat vaksin 2 kali (81,92%) dan jenis vaksin homolog (88,87%). Hasil analisis multivariat hubungan status vaksinasi dengan kejadian infeksi COVID-19 menunjukkan hasil yang kontradiktif, dimana pada kelompok dengan status vaksinasi belum cukup (vaksin 1 kali atau belum vaksin) justru memberikan perlindungan dari infeksi COVID-19 sebesar 77,5%. Kemudian pada hasil analisis multivariat hubungan jenis vaksin dengan kejadian infeksi COVID-19 menunjukkan hasil pada kelompok yang mendapat jenis vaksin homolog lebih berisiko terinfeksi COVID-19 sebesar 3,220 kali dibandingkan dengan kelompok yang telah mendapat jenis vaksin heterolog (95%CI: 0,033-0,045). Perlu adanya penelitian lanjutan dengan menggunakan desain studi yang berbeda atau menggunakan sumber data yang berbeda sebagai upaya memvalidasi hasil studi ini. Upaya menurunkan kasus COVID-19 dapat dilakukan dengan cara meningkatkan capaian program vaksinasi hingga dosis booster dengan metode heterolog pada populasi berisiko.
Read More
T-6365
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayu Anita Dianara Arini; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Putri Bungsu, Victor Apryanto
Abstrak:
Read More
Latar belakang : Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berada di 10 negara dengan jumlah penderita diabetes melitus tertinggi di dunia. Prevalensi diabetes melitus di DKI Jakarta berada pada rentang 2,38 – 3,42 %. Wilayah dengan prevalensi diabetes melitus tertinggi di provinsi DKI Jakarta pada tahun 2021 adalah kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yaitu sebesar 3,42%. Tingginya prevalensi diabetes melitus di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu menjadikan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data sekunder skrining faktor risiko PTM pada penduduk berusia ≥15 tahun di Suku Dinas Kesehatan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Hasil: Prevalensi diabetes melitus di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Tahun 2022 sebesar 2,6%. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus (p value <0,005) diantaranya umur (POR 3,5;95% CI 2,8 – 4,4), jenis kelamin (POR 2.0;95% CI 1,6 – 2,4), riwayat keluarga (POR 1,6; 95% CI 1,19 – 2,2), merokok (POR 0,6;95% CI 0,5 – 0,9), variabel konsumsi gula berlebih (POR 1,5; 95% CI 1,1 – 2,2), garam berlebih (POR 2,5; 95% CI 1,5 – 3,9) lemak berlebih (POR 0,5; 95% CI 0,3 – 0,8), dan pendidikan (POR. 2,1; 95% CI 1,7 – 2,6). faktor risiko yang tidak berhubungan yaitu kurang aktivitas fisik (p value 0,343; POR 0,8; 95% CI 0,5 – 1,2) dan kurang konsumsi buah dan sayur (p value 0,720; POR 0,9; 95% CI 0,7 – 1,2). Kesimpulan dan Saran: Terdapat hubungan faktor risiko yang tidak dapat diubah (umur, jenis kelamin, riwayat keluarga) dan faktor yang dapat diubah (obesitas, obesitas sentral, hipertensi,merokok, konsumsi gula garam lemak, dan pendidikan) terhadap kejadian diabetes melitus. Tidak terdapat hubungan pada faktor yang tidak dapat diubah (aktivitas fisik dan konsumsi buah sayur). Masyarakat yang memiliki risiko DM perlu menjaga pola makan, melakukan aktivtias fisik, serta rutin melakukan skrining PTM di Posbindu. Perlu memperdetail pertanyaan kuesioner pada variabel konsumsi buah sayur, konsumsi gula garam lemak berlebih, dan melakukan aktivitas fisik. Penelitian dengan analisis lebih lanjut diperlukan dalam penelitian ini.
Background: Indonesia is the only country in Southeast Asia with the highest number of people with diabetes mellitus in the world. The prevalence of diabetes mellitus in DKI Jakarta is in the range of 2.38–3.42%. The region with the highest prevalence of diabetes mellitus in DKI Jakarta province in 2021 is Kepulauan Seribu Regency, which is 3.42%. The high prevalence of diabetes mellitus in the Seribu Islands Administrative Regency makes researchers interested in conducting research related to factors associated with the incidence of diabetes mellitus in the Seribu Islands Administrative Regency in 2022. Methods: This study uses a cross-sectional design using secondary data on screening for NCD risk factors in the population ≥ 15 years at Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Health Service. Results: The prevalence of diabetes mellitus in the Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu in 2022 was 2.6%. Risk factors associated with the incidence of diabetes mellitus (p-value < 0.005) include age (POR 3.5; 95% CI 2.8 – 4.4), sex (POR 2.0; 95% CI 1.6 – 2.4), family history (POR 1.6; 95% CI 1.1 – 2.2), smoking habit (POR 0.6; 95% CI 0.5 – 0.9), variable consumption of excess sugar (POR 1.5; 95% CI 1.1 – 2.2), excess salt (POR 2.5; 95% CI 1.5 – 3.9) excess fat (POR 0.5; 95% CI 0.3 – 0.8), and education (POR. 2.1; 95% CI 1.7 -2.6). Unrelated risk factors were lack of physical activity (p-value 0.343; POR 0.8; 95% CI 0.5 – 1.2) and lack of fruit and vegetable consumption (p-value 0.720; POR 0.9; 95% CI 0.7 – 1.2). Conclusions and Recommendations: There is an association between unchangeable (age, gender, family history) and changeable (obesity, central obesity, hypertension, smoking, excessive sugar, salt, fat consumption, and education) to the incidence of diabetes mellitus. People at risk of developing DM need to maintain their diet, physical activity, and routinely do early detection for NCD at Posbindu. It is necessary to detail the questionnaire on the variables of fruit and vegetable consumption, excessive sugar, salt, fat consumption, and physical activity. Research with further analysis is needed in this research.
S-11496
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Husda Oktaviannoor; Pembimbing: Ratna Djuwita, Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Oktavia T.L. Handayani, Widyastuti
Abstrak:
Diabetes mellitus tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan merupakan penyebab penting dari angka kesakitan, kematian, kecacatan dan kerugian ekonomi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Provinsi DKI Jakarta termasuk sepuluh besar penyakit diabetes mellitus tertinggi secara nasional. Posbindu PTM sebagai salah satu program pemerintah dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan diabetes mellitus tipe 2 di Posbindu PTM se-Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dari data Surveilans Faktor Risiko PTM Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. Sampel yang dianalisis sebesar 12.775 responden dari 12.789 responden berumur ≥15 tahun. Analisis data multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda untuk menentukan model prediksi dan faktor potensial dampak yang paling dominan.
Hasil didapatkan proporsi diabetes mellitus sebesar 15,87%. Multivariat didapatkan umur ≥45 tahun (POR=6,32), 35-44 tahun (POR=1,82), 25-34 tahun (POR=0,98), jenis kelamin (POR=0,63), riwayat DM keluarga (POR=4,43), tidak menikah (POR=0,49), cerai (POR=1,58), tidak bekerja (POR=1,93), IRT (POR=1,84), pelajar/mahasiswa (POR=0,24), kurang aktif (POR=1,20), hipertensi (POR=1,35), dan obesitas sentral (POR=1,29). Faktor risiko yang memberikan dampak paling dominan adalah umur ≥45 tahun dan riwayat DM keluarga, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi yang memberikan dampak paling dominan adalah obesitas sentral. Model prediksi ini cukup akurat untuk memprediksi diabetes mellitus dengan batas probabilitas sebesar 18%. Perlu adanya peningkatan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM dari pemerintah serta kesadaran warga DKI Jakarta yang berumur ≥15 tahun untuk pemantauan faktor risiko serta deteksi dini PTM.
Type 2 diabetes mellitus has become a serious public health problem and is an important cause of morbidity, death, disability and economic losses worldwide including Indonesia. The province of DKI Jakarta includes the top ten of the highest diabetes mellitus nationally. Posbindu PTM as one of the government programs in conducting early detection and monitoring of NCD risk factors that are implemented in an integrated, routine, and periodic.
This study aims to determine the risk factors associated with diabetes mellitus type 2 in Posbindu PTM throughout DKI Jakarta Province. This research uses cross sectional design from data of Risk Factor Surveilans of NCD Health Office of DKI Jakarta Province 2017. The analyzed sample is 12,775 respondents from 12,789 respondents aged ≥15 years old. Multivariate data analysis using multiple logistic regression test to determine prediction model and the most dominant potential impact factor.
The result obtained proportion of diabetes mellitus equal to 15,87%. Multivariate was found to be ≥45 years old (POR=6.32), 35-44 years (POR=1.82), 25-34 years (POR=0.98), sex (POR=0.63), history of DM family (POR=4.43), unmarried (POR=0.49), divorce (POR=1.58), not working (POR=1.93), IRT (POR=1.84), student (POR=0.24), less physical activity (POR=1.20), hypertension (POR=1.35), and central obesity (POR=1.29). Risk factors that have the most dominant impact are age ≥45 years and family DM history, while the modifiable factor that gives the most dominant impact is central obesity. This prediction model is accurate enough to predict diabetes mellitus with a probability limit of 18%. It is necessary to improve the quality of Posbindu PTM implementation from the government and the awareness of Jakarta citizens aged ≥15 years for monitoring of risk factors and early detection of NCD.
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan diabetes mellitus tipe 2 di Posbindu PTM se-Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dari data Surveilans Faktor Risiko PTM Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. Sampel yang dianalisis sebesar 12.775 responden dari 12.789 responden berumur ≥15 tahun. Analisis data multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda untuk menentukan model prediksi dan faktor potensial dampak yang paling dominan.
Hasil didapatkan proporsi diabetes mellitus sebesar 15,87%. Multivariat didapatkan umur ≥45 tahun (POR=6,32), 35-44 tahun (POR=1,82), 25-34 tahun (POR=0,98), jenis kelamin (POR=0,63), riwayat DM keluarga (POR=4,43), tidak menikah (POR=0,49), cerai (POR=1,58), tidak bekerja (POR=1,93), IRT (POR=1,84), pelajar/mahasiswa (POR=0,24), kurang aktif (POR=1,20), hipertensi (POR=1,35), dan obesitas sentral (POR=1,29). Faktor risiko yang memberikan dampak paling dominan adalah umur ≥45 tahun dan riwayat DM keluarga, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi yang memberikan dampak paling dominan adalah obesitas sentral. Model prediksi ini cukup akurat untuk memprediksi diabetes mellitus dengan batas probabilitas sebesar 18%. Perlu adanya peningkatan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM dari pemerintah serta kesadaran warga DKI Jakarta yang berumur ≥15 tahun untuk pemantauan faktor risiko serta deteksi dini PTM.
Type 2 diabetes mellitus has become a serious public health problem and is an important cause of morbidity, death, disability and economic losses worldwide including Indonesia. The province of DKI Jakarta includes the top ten of the highest diabetes mellitus nationally. Posbindu PTM as one of the government programs in conducting early detection and monitoring of NCD risk factors that are implemented in an integrated, routine, and periodic.
This study aims to determine the risk factors associated with diabetes mellitus type 2 in Posbindu PTM throughout DKI Jakarta Province. This research uses cross sectional design from data of Risk Factor Surveilans of NCD Health Office of DKI Jakarta Province 2017. The analyzed sample is 12,775 respondents from 12,789 respondents aged ≥15 years old. Multivariate data analysis using multiple logistic regression test to determine prediction model and the most dominant potential impact factor.
The result obtained proportion of diabetes mellitus equal to 15,87%. Multivariate was found to be ≥45 years old (POR=6.32), 35-44 years (POR=1.82), 25-34 years (POR=0.98), sex (POR=0.63), history of DM family (POR=4.43), unmarried (POR=0.49), divorce (POR=1.58), not working (POR=1.93), IRT (POR=1.84), student (POR=0.24), less physical activity (POR=1.20), hypertension (POR=1.35), and central obesity (POR=1.29). Risk factors that have the most dominant impact are age ≥45 years and family DM history, while the modifiable factor that gives the most dominant impact is central obesity. This prediction model is accurate enough to predict diabetes mellitus with a probability limit of 18%. It is necessary to improve the quality of Posbindu PTM implementation from the government and the awareness of Jakarta citizens aged ≥15 years for monitoring of risk factors and early detection of NCD.
T-5151
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syahwa Elae Azzahra; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Dewi Kristanti
Abstrak:
Read More
Stroke menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Menurut riskesdas 2018 bahwa prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter sebesar 1,09%. Provinsi Bangka Belitung menjadi salah satu provinsi dengan prevalensi stroke yang melebihi angka nasional dan urutan ketujuh tertinggi dari hasil Riskesdas pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor kondisi kesehatan dan perilaku terhadap kejadian stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Bangka Belitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain studi cross sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sumber data yang digunakan dari Riskesdas 2018. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Bangka Belitung sebesar 1,6%. Uji statistik yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stroke antara lain diabetes melitus (PR = 6.11; 95% CI = 3.65-10,22), hipertensi (PR = 9,09; 95%CI = 5,91-13,98), obesitas (PR = 2,12; 95%CI = 1,38-3,25), dan aktivitas fisik (PR = 3,44; 95%CI = 2,25-5,26). Menerapkan perilaku hidup sehat dan cek rutin kesehatan terutama yang memilki risiko seperti diabetes melitus, hipertensi, dan obesitas. Kata kunci: Stroke, kondisi kesehatan, perilaku, Bangka Belitung, Riskesdas 2018
Stroke is a health problem in the world including in Indonesia. According to Riskesdas 2018, the prevalence of stroke in Indonesia based on a doctor's diagnosis is 1,09%. Bangka Belitung Province is one of the provinces with a prevalence of stroke that exceeds the national rate and ranks seventh highest from the results of Riskesdas 2018. This study aims to determine the relationship between health conditions and behavioral factors with stroke in populations aged ≥ 15 years in Bangka Belitung Province. The method used in this study was a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The data in this study are secondary data from Riskesdas 2018. The results showed that the prevalence of stroke in populations aged ≥ 15 years in Bangka Belitung Province was 1.6%. Statistical tests that have a significant relationship with stroke include diabetes mellitus (PR = 6.11; 95% CI = 3.65-10,22), hypertension (PR = 9,09; 95%CI = 5,91-13,98), obesity (PR = 2,12; 95%CI = 1,38-3,25), and physical activity (PR = 3,44; 95%CI = 2,25-5,26). Healthy lifestyle behaviors and regular health checks, especially for those who have risks such as diabetes mellitus, hypertension, and obesity. Keywords: Stroke, health condition, behavior, Bangka Belitung, Riskesdas 2018
S-11234
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
