Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42700 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fugi Nurdianto; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno , Royanul Arief, Chandra Sunaryo
Abstrak:
Benzena merupakan senyawa hidrokarbon aromatik volatil yang banyak ditemukan pada industri minyak dan gas bumi serta telah diklasifikasikan sebagai karsinogen Grup 1 oleh International Agency for Research on Cancer (IARC). Pajanan benzena pada pekerja sektor hulu migas berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem hematopoietik, serta meningkatkan risiko leukemia akibat pajanan kronis. Penilaian risiko pajanan benzena umumnya masih berfokus pada pemantauan lingkungan kerja sehingga belum sepenuhnya menggambarkan dosis internal yang diterima pekerja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring untuk memperoleh gambaran risiko yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko pajanan benzena pada pekerja sektor hulu minyak dan gas bumi menggunakan pendekatan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) yang terintegrasi dengan area monitoring, personal monitoring, dan biomonitoring. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif berbasis data sekunder yang diperoleh dari program pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring perusahaan. Analisis dilakukan pada pekerja yang dikelompokkan berdasarkan Similar Exposure Group (SEG), yaitu Proses, IPAL, Laboratorium, dan Support. Biomonitoring dilakukan menggunakan biomarker S-Phenylmercapturic Acid (S-PMA) urin, sedangkan penilaian risiko dilakukan melalui penentuan Hazard Rating (HR), Exposure Rating (ER), dan Risk Rating (RR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa SEG IPAL memiliki rerata konsentrasi benzena tertinggi pada area monitoring sebesar 0,53 ppm dan personal monitoring sebesar 0,42 ppm. Hasil biomonitoring menunjukkan rerata kadar S-PMA tertinggi ditemukan pada SEG Proses sebesar 1,08 µg/g kreatinin, diikuti SEG IPAL sebesar 0,85 µg/g kreatinin dan SEG Laboratorium sebesar 0,42 µg/g kreatinin. Seluruh hasil biomonitoring masih berada di bawah nilai Biological Exposure Index (BEI) sebesar 25 µg/g kreatinin. Penilaian CHRA menunjukkan bahwa SEG IPAL memiliki nilai ER tertinggi sebesar 5, diikuti SEG Proses sebesar 4, SEG Laboratorium sebesar 2, dan SEG Support sebesar 1. Hasil RR menunjukkan bahwa SEG IPAL dengan RR sebesar 25 dan SEG Proses dengan RR sebesar 20 termasuk kategori risiko tinggi, sedangkan SEG Laboratorium dengan RR sebesar 10 dan SEG Support dengan RR sebesar 5 termasuk kategori risiko moderat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara hasil pemantauan lingkungan kerja dan biomonitoring tidak selalu linear karena dapat dipengaruhi oleh penggunaan APD, variasi metabolisme individu, durasi pajanan, kemungkinan pajanan dermal, serta kebiasaan merokok sebagai faktor confounding. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi area monitoring, personal monitoring, biomonitoring, dan pendekatan CHRA mampu memberikan gambaran risiko pajanan benzena yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan satu parameter pemantauan saja. SEG IPAL dan SEG Proses merupakan kelompok prioritas utama dalam pengendalian pajanan benzena pada industri hulu minyak dan gas bumi. Pendekatan terpadu ini dapat digunakan sebagai dasar pengendalian pajanan benzena berbasis risiko untuk mendukung perlindungan kesehatan pekerja secara lebih efektif.

Benzene is a volatile aromatic hydrocarbon commonly found in the oil and gas industry and has been classified as a Group 1 carcinogen by the International Agency for Research on Cancer (IARC). Benzene exposure among upstream oil and gas workers may cause adverse health effects, particularly hematopoietic disorders, and may increase the risk of leukemia due to chronic exposure. Risk assessment of benzene exposure is commonly based on workplace environmental monitoring; however, this approach may not fully represent the internal dose absorbed by workers. Therefore, an integrated approach combining workplace environmental monitoring and biomonitoring is needed to provide a more comprehensive risk assessment. This study aimed to analyze benzene exposure risk among upstream oil and gas workers using a Chemical Health Risk Assessment (CHRA) approach integrated with area monitoring, personal monitoring, and biomonitoring. This study used a retrospective observational design based on secondary data obtained from the company’s workplace monitoring and biomonitoring programs. The analysis was conducted among workers classified into Similar Exposure Groups (SEGs), namely Process, Wastewater Treatment Plant (WWTP/IPAL), Laboratory, and Support. Biomonitoring was performed using urinary S-Phenylmercapturic Acid (S-PMA) as a biomarker of benzene exposure, while risk assessment was conducted through the determination of Hazard Rating (HR), Exposure Rating (ER), and Risk Rating (RR). The results showed that the WWTP (IPAL) SEG had the highest mean benzene concentration in both area monitoring at 0.53 ppm and personal monitoring at 0.42 ppm. Biomonitoring results showed that the highest mean urinary S-PMA level was observed in the Process SEG at 1.08 µg/g creatinine, followed by the WWTP SEG at 0.85 µg/g creatinine and the Laboratory SEG at 0.42 µg/g creatinine. All biomonitoring results remained below the Biological Exposure Index (BEI) of 25 µg/g creatinine. The CHRA assessment showed that the WWTP SEG had the highest ER value of 5, followed by the Process SEG with an ER of 4, the Laboratory SEG with an ER of 2, and the Support SEG with an ER of 1. The RR results showed that the WWTP SEG with an RR of 25 and the Process SEG with an RR of 20 were classified as high risk, whereas the Laboratory SEG with an RR of 10 and the Support SEG with an RR of 5 were classified as moderate risk. This study also found that the relationship between workplace monitoring and biomonitoring results was not always linear, as it may be influenced by personal protective equipment use, individual metabolic variability, exposure duration, possible dermal exposure, and smoking habits as confounding factors. This study concludes that the integration of area monitoring, personal monitoring, biomonitoring, and the CHRA approach provides a more comprehensive evaluation of benzene exposure risk than relying on a single monitoring parameter alone. The WWTP and Process SEGs are the main priority groups for benzene exposure control in the upstream oil and gas industry. This integrated approach can serve as a basis for risk-based benzene exposure control to support more effective worker health protection.
Read More
T-7569
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ryan Rachmawan; Pembimbing: Penguji Tejamaya, Doni Hikmat Ramdhan, Fatma Lestari, Hanafi, Elsye As Safira
Abstrak: Berbagai macam pelarut organik digunakan di laboratorium pengujian PT SCI, termasuk benzene, toluene dan xylene (BTX). BTX diketahui sebagai bahan kimia yang berbahaya dan dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan baik dampak akut maupun kronis. Oleh karena itu, perlu dilakukan penilaian risiko Kesehatan terkait pajanan BTX guna menilai kecukupan metode pengendalian yang telah diimplementasikan di laboratorium PT SCI. Penelitian ini menilai risiko Kesehatan terkait inhalasi pajanan BTX dengan metode CHRA DOSH Malaysia secara kualitatif dan kuantitatif; dibandingkan dengan metode SQRA Singapura secara kuantitatif, tingkat risiko terkait pajanan benzene masuk ke dalam kategori tinggi, sedangkan pajanan toluene dan xylene memiliki risiko moderat. Secara kuantitatif (CHRA), pajanan benzene (TWA pengukuran = 0,025 ppm) memiliki risiko moderat (RR=5), sedangkan toluene (TWA pengukuran = 0,104 ppm) dan xylene (TWA pengukuran = 0,077 ppm) memiliki tingkat risiko rendah (RR=2). Dengan menggunakan metode SQRA diperoleh nilai tingkat risiko moderate untuk benzene, dan rendah untuk toluene, serta xylene. Dapat disimpulkan bahwa metode kualitatif CHRA overestimate metode kuantitatif CHRA; dan metode kuantitatif CHRA dan SQRA memperlihatkan hasil yang sebanding
A various of organic solvents are used in PT SCI's testing laboratory, including benzene, toluene, and xylene (BTX). BTX is known as a hazardous chemical and can pose a health risks, both acute and chronic. Therefore, it is necessary to conduct a health risk assessment related to BTX exposure in order to assess the adequacy of the control methods that have been implemented in the PT SCI laboratory. This study assessed the health risks associated with inhalation of BTX exposure with the CHRA DOSH Malaysia method qualitatively and quantitatively and compared to the Singapore quantitative method SQRA, the level of risk associated with benzene exposure is in the high category, while exposure to toluene and xylene has a moderate risk. CHRA in quantitatively, benzene exposure (TWA measurement = 0.025 ppm) had a moderate risk (RR=5), while toluene (TWA measurement = 0.104 ppm) and xylene (TWA measurement = 0.077 ppm) had a low risk level (RR=2). By using the SQRA method, the risk level is moderate for benzene, and low for toluene and xylene. It can be concluded that the CHRA qualitative method overestimates the CHRA quantitative method; and quantitative methods CHRA and SQRA showed comparable results.
Read More
T-6256
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Fyona; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Suraningsih Istiati
S-7707
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yessie Kualasari; Pembimnbing: Syahrul Meizar Nasri; Pegnuji: Hendra, Renti Mahkota, Dewi Rahayu, Rima Melati
T-4941
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henry Krisyanto Parulian; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Yulianto S. Nugroho, Dadan Erwandi
S-5956
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agustinus Firdianto; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Ramdhan, Doni Hikmat, Muhammad Soffiudin
S-8412
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novi Andriani; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mila Tejamaya, Yuni Kusminanti
Abstrak: Seiring dengan perkembangan di dunia industri sejak dimulainya Revolusi Industri,dunia tidak pernah lepas dari penggunaan bahan kimia. Salah satu bahan kimia yangdigunakan adalah Hidrogen Klorida/Asam Klorida (HCl) yang merupakan bahanbaku plastik PVC, bahan pembersih perabotan rumah, memproduksi gelatin, zatadiktif makanan, dan proses penyamakan kulit, maka risiko dari HCl sangat besar. Tak terkecuali terhadap material tangki sebagai tempat menyimpan bahan.Olehkarena itu sangat diperlukan penilaian tingkat risiko pada tahap desain tangki HCl 33% terhadap material tangki dan konsekuensi aspek finansial jika terjadikebocoran pada tangki tersebut.Dalam studi ini digunakan metode Quantitative Risk Analysis API-RBI 581:2008.Hasil Penelitian menunjukan bahwa Nilai Probability of Failure (PoF) yang didapatadalah 3909,24 berada pada kategori 5 (1000 < Df-total ≤10000), konsekuensi biayajika terjadi lubang pada dinding tangki sebesar US$ 8.670.000 berada pada kategoriD dan pada tingkat high risk. Sedangkan konsekuensi biaya jika terjadi lubang pada pelat dasar tangki sebesar US$ 21.500.000.000 berada pada kategori E pada tingkat high risk.Kata kunci: Storage tank, HCl, Quantitative Risk Analysis, API, RBI
Along with the development of the world's industry and since the beginning of theindustrial revolution, the world is never be separated from the use of chemicals. Oneof the chemicals used is hydrogen chloride/hydrochloric acid which is the rawmaterial of plastic PVC, furniture cleaning materials, to produce gelatin, foodaddictive substances, and the leather tanning process, so the risk of HCL is very large.There is no exception for the tank material as the place to store materials. Therefore,it is very necessary need the level risk assessment in design phase HCl 33% storagetank againts tank material and financial consequences aspects if there is a leak at thetank.In this study, the analysis of the risk assessment used the Quantitative Risk AnalysisMethode API-RBI 581:2008. This study shows that the value of Probability ofFailure (PoF) obtained is 3909,24 and is on category 5 (1000 < Df-total ≤10000), ifthere is a hole in the wall of the tank its cost of consequence is US$ 8.670.000, oncategory D and at the high level risk. While the cost of consequence if there is a holeat the plate of bottom tank is US$ 21.500.000.000 and is on category E and at thehigh risk level.Keywords : Storage tank, Ammonia, dispersion, BREEZE Incident analyst, FaultTree Analysis
Read More
S-7719
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haikal Muhammad Ariq Andrianto; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mariani
Abstrak:
Laboratorium Migas merupakan tempat kerja untuk melakukan pengujian, penelitian, dan pengembangan minyak mentah, produk sampingan, hingga produk jadi menggunakan peralatan dan bahan yang ada. Laboratorium memiliki banyak bahaya di dalamnya, tak terkecuali dengan bahaya kimia seperti benzene, toluene dan xylene (BTX). Oleh karena itu, diperlukan kajian risiko kesehatan di Laboratorium Migas untuk mengetahui seberapa besar tingkat risiko BTX terhadap pekerja laboratorium. Kajian risiko kesehatan ini akan mengacu pada CHRA DOSH Malaysia (2018) dimana data yang didapatkan dianalisis menggunakan IHSTAT. Kajian risiko kesehatan dilakukan menyesuaikan dengan SEG yang sudah ditentukan, yaitu unit Crude & Product Classification, unit Facility & Quality, unit Fuel, unit Analytical & Gas, serta unit Petrochemical. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa terdapat tingkat risiko yang tinggi pada pajanan benzene melalui rute inhalasi serta rute dermal terhadap unit Fuel. Sementara itu, pajanan xylene dan toluene berada pada tingkat risiko yang rendah untuk rute pajanan inhalasi serta berada pada tingkat pajanan moderat pada rute pajanan dermal. Dari hasil penelitian terkait tingkat risiko keseharan pada pajanan benzene, toluene, dan xylene, diperlukan peningkatan kesadaran pekerja untuk menggunakan APD tambahan serta peningkatan sistem ventilasi di tempat kerja.

The Oil and Gas Laboratory is a workplace for conducting testing, research and development on crude oil, by-products and finished products using existing equipment and materials. Laboratories have many dangers in them, including chemical hazards such as benzene, toluene and xylene (BTX). Therefore, it is necessary to study health risks in oil and gas laboratories to find out how big the risk level of BTX is to laboratory workers. This health risk study will refer to CHRA DOSH Malaysia (2018) where the data obtained was analyzed using IHSTAT. Health risk studies are carried out in accordance with the SEGs that have been determined, namely the Crude & Product Classification unit, Facility & Quality unit, Fuel unit, Analytical & Gas unit, and Petrochemical unit. The results of the study show that there is a high level of risk of exposure to benzene via the inhalation route and the dermal route on Fuel units. Meanwhile, exposure to xylene and toluene is at a low risk level for the inhalation exposure route and at a moderate exposure level for the dermal exposure route. From the results of research regarding the level of health risk from exposure to benzene, toluene and xylene, it is necessary to increase worker awareness to use additional PPE and improve the ventilation system in the workplace.
Read More
S-11672
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudi Handradika; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Mila Tejamaya, Budiawan, Heni D. Mayawati, Elsye As Safira
Abstrak: Pekerja di lapangan migas, khususnya di lepas pantai memiliki risiko yangtinggi terhadap pajanan BTX di area kerja. Pajanan bersumber dari aktifitas yanglangsung bersentuhan dengan uap dan gas hidrokarbon yang sifatnya mudahmenguap pada suhu kamar (Volatile organic compounds - VOC) sehinggamemungkinkan terhisap oleh para pekerja dan menimbulkan efek kesehatan.Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan tingkat risiko nonkarsinogenik dankarsinogenik dari Pajanan BTX terhadap pekerja lepas pantai beserta manajemenrisiko yang harus dilakukan. Penelitian ini merupakan studi potong lintangmenggunakan pendekatan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) yangmeliputi 4 langkah penting: identifikasi bahaya, analisis dosis-respon, analisispajanan dan karakterisasi risiko. Jumlah sampel berupa 95 orang pekerja tetap diperusahaan hulu migas X. Data penelitian diperoleh melalui wawancara danpengukuran langsung, tingkat risiko dihitung dengan cara membagi asupandengan dosis referensi BTX. Sebagai pembanding (control) dilakukan jugaperhitungan terhadap 7 orang pekerja lepas pantai yang bekerja hanya di kantor(office). Hasil penelitian menunjukkan risiko pajanan benzene non karsinogenikharus diwaspadai bagi pekerja lepas pantai dimana dari perhitungan diketahuinilai RQ (Risk Quotient) yang lebih dari satu baik untuk pajanan realtime (ada21,05% pekerja) maupun pajanan lifetime (61,05% pekerja). Sementara untukrisiko pajanan non karsinogenik dari toluene dan xylene termasuk rendah. Iniditunjukkan dari hasil perhitungan RQ untuk realtime maupun lifetime yangsemuanya (100%) bernilai kurang dari satu (RQ <1). Untuk risiko kesehatanpajanan karsinogenik benzene, diperoleh bahwa 20% pekerja lepas pantaimemiliki efek karsinogenik pada pajanan realtime dan 60% pekerja pada pajananlifetime. Disimpulkan bahwa perlu dilakukan manajemen risiko terhadap pajanansenyawa benzene di lingkungan kerja lepas pantai, agar pekerja terhindar daririsiko kesehatan baik risiko nonkarsinogenik dan risiko karsinogenik jangkapanjang.
Kata kunci:Analisis Risiko, BTX, Pekerja Lepas Pantai
This research has objective to predict carsinogenic and non carcinogeniceffect of BTX exposure to offshore workers and the risk management required. Itis cross sectional study which utilize the environmental health risk assessmentapproach. Sample consists of 95 offshore workers in upstream oil and gascompany X. research data is compiled from direct interview and companymeasurement data. As a control, 7 administrative workers are involved incalculation. The result of this research is non carcinogenic exposure of benzenemust become a high concern which has risk quotient - RQ 21.05% at realtimeexposure and 61.05% at lifetime exposure. There is little risk related to tolueneand xylene. Its respectively RQ is lower than 1 for both of them. For carcinogenichealth risk of benzene, 20% of offshore workers and 60% of offshore workers hascarcinogenic effect to their health risk.It can be concluded that risk management isrequired for being applied in order to minimize the benzene health effect tooffshore workers.
Keyword: Risk Analysis, BTX, Offshore worker.
Read More
T-4438
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bram Sinatra Napitupulu; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Haryanto, Wahyu Hidayat
Abstrak:

Stres kerja merupakan masalah yang signifikan di sektor minyak dan gas bumi (migas), yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik pekerja, serta menurunkan kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi dan faktor-faktor risiko stres kerja pada pekerja unit produksi I dan II di PT XYZ pada tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 120 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji bivariat untuk menilai hubungan antara faktor risiko dan stres kerja. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square, perhitungan Prevalence Ratio (PR), dan CI 95%.
Hasil menunjukkan 50% pekerja mengalami stres kerja. Faktor yang berhubungan signifikan meliputi: tingkat pendidikan (p=0,003; PR=2,200; CI 95%: 1,179–2,700), masa kerja >5 tahun (p=0,011; PR=5,954; CI 95%: 0,912–38,893), status menikah (p=0,000; PR=4,171; CI 95%: 1,969–8,835), dukungan sosial buruk (p=0,044; PR=1,505; CI 95%: 1,032–2,196), otonomi kerja rendah (p=0,001; PR=2,000; CI 95%: 1,341–2,984), dan hubungan interpersonal buruk (p=0,033; PR=1,806; CI 95%: 1,019–3,200). Variabel yang tidak signifikan: usia (p=0,096), budaya organisasi (p=1,000), dan sumber daya (p=0,096). Determinan utama stres kerja adalah masa kerja, status pernikahan, tingkat pendidikan, dukungan sosial, otonomi pekerjaan, dan hubungan interpersonal.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap faktor-faktor individu dan psikososial dalam mengelola stres kerja di sektor migas. Program dukungan sosial, peningkatan otonomi kerja, dan perbaikan hubungan interpersonal dapat mengurangi stres kerja di lingkungan ini.


Work-related stress is a significant issue in the oil and gas (migas) sector, impacting workers' mental and physical health as well as their performance. This study aims to analyze the prevalence and risk factors of work-related stress among workers in production units I and II at PT XYZ in 2024. The study used a quantitative cross-sectional design involving 120 respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using bivariate tests to assess the relationship between risk factors and work-related stress. The analysis included Chi-square tests, Prevalence Ratio (PR), and 95% Confidence Interval (CI). Results showed that 50% of workers experienced work stress. Significant associated factors included educational level (p=0.003; PR=2.200; 95% CI: 1.179–2.700), work duration >5 years (p=0.011; PR=5.954; 95% CI: 0.912–38.893), marital status (p=0.000; PR=4.171; 95% CI: 1.969–8.835), poor social support (p=0.044; PR=1.505; 95% CI: 1.032–2.196), low job autonomy (p=0.001; PR=2.000; 95% CI: 1.341–2.984), and poor interpersonal relationships (p=0.033; PR=1.806; 95% CI: 1.019–3.200). Non-significant factors included age (p=0.096), organizational culture (p=1.000), and resources (p=0.096). This study highlights the importance of addressing individual and psychosocial factors in managing work-related stress in the migas sector. Social support programs, increased job autonomy, and improved interpersonal relationships can help reduce work stress in this environment.

Read More
T-7239
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive