Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34674 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anindya Oktaria Yudhanti; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Milla Herdayati, Lili Musnelina
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global hingga saat ini. Indonesia tercatat sebagai salah satu dari lima negara dengan beban kasus tertinggi di dunia. Empat provinsi dengan kasus notifikasi TB RO tertinggi secara nasional berada di pulau Jawa. Fasilitas Pelayanan Kesehatan (fasyankes) berperan penting pada upaya pencegahan dan penanggulangan pengendalian TB RO. Pengaruh fasyankes terhadap pengendalian TB RO tidak hanya terbatas pada mutu kualitas pelayanannya, tetapi juga aksesibilitas bagi masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh akses fasyankes terhadap kejadian TB RO di Pulau Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder, yaitu SKI 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Akses fasyankes sulit berpengaruh terhadap kejadian TB RO di Pulau Jawa (nilai p = 0,008) sebagai faktor protektif dengan aOR sebesar 0,460 (aOR = 0.460; 95% CI = 0.260–0.814). Faktor dominan yang meningkatkan kejadian TB RO adalah status ekonomi terbawah (aOR: 2,894; 95% CI: 1,468–5,703; p-value: 0,002) dan menengah bawah (aOR: 2,131; 95% CI: 0,927–4,901; p-value: 0,075) serta adanya riwayat penyakit komorbid (aOR: 1,961; 95% CI: 1,053–3,651; p-value: 0,034). Sementara itu, penderita TB RO yang tidak memiliki PMO menjadi faktor protektif terhadap kejadian TB RO (aOR: 0,579; 95% CI: 0,341–0,981; p-value: 0,042).

Tuberculosis (TB) remains a pressing global health issue to date. Indonesia is recorded as one of the top five countries with the highest TB burden globally. Four provinces with the highest national notification cases of Drug-Resistant Tuberculosis (DR-TB) are located on the island of Java. Healthcare facilities play a pivotal role in the prevention, management, and control of DR-TB. The impact of healthcare facilities on DR-TB control is not limited solely to the quality of service provided, but also extends to their accessibility to the public. Therefore, this study aims to examine the effect of healthcare facility accessibility on the incidence of DR-TB in Java. This quantitative study utilized secondary data derived from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Data analysis was conducted using logistic regression. The results indicate that difficult healthcare facility accessibility significantly affects the incidence of DR-TB in Java (p = 0.008), acting as a protective factor (aOR = 0.460; 95% CI = 0.260–0.814). The dominant factors increasing DR-TB incidence were the lowest economic status (aOR: 2.894; 95% CI: 1.468–5.703; p = 0.002), the lower-middle economic status (aOR: 2.131; 95% CI: 0.927–4.901; p = 0.075), and a history of comorbidities (aOR: 1.961; 95% CI: 1.053–3.651; p = 0.034). Conversely, the absence of a treatment supervisor (PMO) was found to be a protective factor against DR-TB incidence (aOR: 0.579; 95% CI: 0.341–0.981; p = 0.042).
Read More
S-12379
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Annisa; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono, Artha Prabawa; Penguji: Martya Rahmaniati Mskful, Suhardini, Diah Handayani
Abstrak: Resistensi obat merupakan masalah baru dalam program eliminasi TB yang disebut TB resisten obat. Pengobatan TB resisten obat di Indonesia dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan dan fasilitas pelayanan kesehatan satelit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas pelayanan kesehatan terhadap keberhasilan pengobatan pasien TB resisten obat di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2019 di Subdit-TB, Direktorat P2PML, Kementerian Kesehatan RI. Desain studi penelitian ini adalah kohort restrospektif. Jumlah sampel sebanyak 4288 orang, diseleksi menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menyelesaikan pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan satelit sebanyak 97,20% dan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan sebanyak 2,8%. Proporsi keberhasilan pengobatan sebesar 53,2% dengan kumulatif hazard keberhasilan pengobatan sebesar 5,43 di akhir pengamatan selama 36 bulan pengamatan
Read More
T-5649
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Ayu Lestari; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Sudijanto Kamso, Tri Yunis Miko Wahyono, Meilina Farikha, Natalie Laurencia
Abstrak:
Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Diperkirakan pada tahun 2021 terdapat 10,6 juta orang yang terinfeksi tuberkulosis. Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk dalam 20 negara dengan beban TB, TB MDR/RR, dan TB HIV tertinggi di dunia berdasarkan estimasi jumlah kasus hasil modelling yang dilakukan WHO. Angka inisiasi pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat meningkat dari tahun 2020-2022, namun pasien yang terdiagnosis tuberkulosis resistan obat tidak dapat segera mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui durasi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat, serta pengaruh faktor sistem kesehatan dan faktor pasien terhadap keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat di Indonesia tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel pasien tuberkulosis resistan obat yang memulai pengobatan tahun 2020-2022 dan dilaporkan ke sistem informasi tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan metode regresi logistik multilevel dengan sumber data dari Sistem Informasi Tuberkulosis dan Profil Kesehatan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan rerata durasi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat meningkat dari tahun 2020-2022; faktor sistem kesehatan yang mempengaruhi keterlambatan pengobatan tuberkulosis resistan obat antara lain rasio rumah sakit, metode diagnosis baseline, dan wilayah pendampingan komunitas; sedangkan faktor pasien yang mempengaruhi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat yaitu jenis kelamin, domisili pasien, riwayat pengobatan OAT suntik, jenis fasilitas kesehatan pertama yang dikunjungi, dan jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan. Perluasan penggunaan cartridge XDR pada alat TCM diperlukan untuk mengetahui resistansi fluorokuinolon sehingga pasien yang terdiagnosis resistan obat dapat segera diobati dan perlunya penguatan kolaborasi antara fasilitas kesehatan, dinas kesehatan, dan organisasi komunitas dalam mendukung pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat.

Tuberculosis is still a health problem in the world. It is estimated that in 2021 there will be 10.6 million people infected with tuberculosis. Indonesia is one of the 20 countries with the highest burden of TB, MDR/RR TB and HIV TB in the world based on the estimated number of cases resulting from modeling conducted by WHO. The rate of initiation of treatment for drug-resistant tuberculosis patients increased from 2020-2022, however, patients diagnosed with drug-resistant tuberculosis cannot immediately receive treatment at health facilities. This study aims to determine the duration of delays in treatment of drug-resistant tuberculosis patients, as well as the influence of health system factors and patient factors on delays in treatment of drug-resistant tuberculosis patients in Indonesia in 2020-2022. This study used a cross-sectional design with a sample of drug-resistant tuberculosis patients who started treatment in 2020-2022 and reported to the tuberculosis information system. This research uses a multilevel logistic regression method with secondary data sources from the Tuberculosis Information System and the Indonesian Health Profile. The results of the study show that the average duration of delay in treatment for drug-resistant tuberculosis patients increased from 2020-2022; health system factors that influence delays in treatment of drug-resistant tuberculosis include hospital ratios, baseline diagnosis methods, and community assistance areas; Meanwhile, patient factors that influence delays in treatment for drug-resistant tuberculosis patients are gender, patient domicile, history of injectable drugs, type of first health facility visited, and number of visits to health facilities. Expanding the use of XDR cartridges in GenExpert is needed to determine fluoroquinolone resistance so that patients diagnosed with drug resistance can be treated immediately and there is a need to strengthen collaboration between health facilities, health services and community organizations in supporting the treatment of drug-resistant tuberculosis patients.
Read More
T-6878
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wina Adelia Putri; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Zakiah
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu beban kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia dan pemicu utama penyakit kardiovaskular. Keberhasilan pengendalian kondisi hipertensi sangat bergantung pada kepatuhan pasien. Berdasarkan data SKI 2023, ketidakpatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi masalah signifikan di Indonesia. Metode: Menggunakan data sekunder dari SKI 2023 dengan desain studi cross sectional. Sampel adalah responden berusia ≥18 tahun dengan diagnosis hipertensi. Responden dengan data tidak lengkap dan wanita hamil diesklusi sehingga menghasilkan sampel akhir sebanyak 49.026 responden. Analisis data menggunakan regresi logistik multinomial. Hasil: Seluruh variabel independen yang diuji (pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, wilayah geografis, komorbiditas, waktu sejak diagnosis, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, perilaku penggunaan obat tradisional, konsumsi alkohol, akses fasilitas kesehatan, kepemilikan asuransi, dan dukungan informasi) berhubungan signifikan dengan ketidakpatuhan. Persentase ketidakpatuhan adalah sebesar 53,5%, yaitu 36,7% (95% CI:  35,9-37,4) responden tidak rutin dan 16,8% (95% CI: 16,2-17,4) tidak minum obat. AOR tertinggi ditemukan pada responden yang tidak mendapatkan dukungan informasi, baik pada kategori tidak rutin (AOR 3,76; 95% CI 3,59-3,95; p<0,001) dan pada kategori tidak minum obat (AOR 8,63; 95% CI: 8,12-9,19; p<0,001). Kesimpulan: Ketidakpatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Diperlukan intervensi berbasis komunitas, peningkatan edukasi, dan perbaikan akses kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. 
Background: Hypertension is one of the largest public health burdens in Indonesia and a major trigger for cardiovascular disease. The success of controlling hypertension is highly dependent on patient compliance. Based on SKI 2023 data, non-compliance with taking antihypertensive drugs is still a significant problem in Indonesia. Methods: Using secondary data from SKI 2023 with a cross-sectional study design. The sample was respondents aged ≥18 years with a diagnosis of hypertension. Respondents with incomplete data and pregnant women were excluded, resulting in a final sample of 49,026 respondents. Data analysis used multinomial logistic regression. Results: All independent variables tested (education, occupation, economic status, geographic region, comorbidities, time since diagnosis, age, gender, place of residence, traditional medicine use behavior, alcohol consumption, access to health facilities, insurance ownership, and information support) were significantly associated with non-compliance. The percentage of non-compliance was 53.5%, specifically 36.7% (95% CI: 35.9-37.4) of respondents did not follow the routine, and 16.8% (95% CI: 16.2-17.4) did not take their medication. The highest AOR was found in respondents who did not receive information support, both in the non-routine category (AOR 3.76; 95% CI 3.59-3.95; p<0.001) and in the category of not taking medication (AOR 8.63; 95% CI: 8.12-9.19; p<0.001). Conclusion: Non-compliance with taking antihypertensive medication is still a major challenge in Indonesia. Community-based interventions, increased education, and improved access to health are needed to improve treatment adherence.
Read More
S-11968
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Apsyah Davina Gunawan; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Popy Yuniar, Julie Rostina
Abstrak:
Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang umum terjadi secara global dan memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi depresi di Indonesia adalah 1,4%, dengan remaja menjadi kelompok yang paling rentan mengalami depresi. Namun, hanya 10,4% remaja dengan depresi yang mendapatkan pengobatan. Rendahnya angka ini dapat disebabkan oleh adanya stigma di masyarakat serta kurangnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, yang menyebabkan remaja tidak mengungkapkan kondisi psikologis yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikan determinan kejadian depresi pada remaja usia 15 – 24 tahun di Indonesia. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan uji statistik chi-square untuk bivariat dan regresi logistik untuk multivariat menggunakan complex sample analysis. Data diambil dari SKI 2023 dengan jumlah sampel yang digunakan sebesar 94.545 sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada remaja usia 15 – 24 tahun di Indonesia adalah sebesar 2%. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian depresi adalah konsumsi alkohol, diikuti oleh riwayat PTM, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, status pekerjaan, dan usia. Variabel-variabel tersebut memiliki hubungan secara statistik dengan kejadian depresi (p-value < 0,05), kecuali variabel status pekerjaan. Faktor perilaku dan kondisi kesehatan memiliki kontribusi besar terhadap depresi pada remaja. Diperlukan intervensi yang relevan, terutama terhadap konsumsi alkohol, serta penguatan dukungan bagi remaja dengan penyakit tidak menular.

Depression is one of the most common mental disorders globally and has a significant impact on quality of life. According to the 2023 Indonesia Health Survey (SKI), the prevalence of depression in Indonesia is 1.4%, with adolescents being the most vulnerable group to depression. However, only 10.4% of adolescents with depression receive treatment. This low figure may be attributed to the stigma in society and the lack of awareness regarding mental health, which causes adolescents to refrain from expressing their psychological conditions. This study aims to identify the determinants of depression among adolescents aged 15 – 24 years in Indonesia. The study design used was cross-sectional with chi-square statistical tests for bivariate and logistic regression for multivariate using complex sample analysis. The data were obtained from the 2023 SKI, with 94,545 samples. The results of this study indicate that the prevalence of depression among adolescents aged 15-24 years in Indonesia is 2%. The most influential factors associated with depression were alcohol consumption, followed by the history of non-communicable diseases, gender, area of residence, employment status, and age. All variables were statistically associated with depression (p-value < 0.05), except for employment status. Behavioral factors and health conditions have a major contribution to depression in adolescents. Relevant interventions are needed particularly regarding alcohol use and strengthening support for adolescents with non-communicable diseases.
Read More
S-11877
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clarissa Tertia Firjatullah; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Popy Yuniar, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:

Prevalensi diabetes melitus mengalami tren meningkat, baik di tingkat global maupun di
Indonesia. Prevalensi DM berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah di Indonesia meningkat dari tahun 2013 (6,9%), 2018 (10,9%), hingga 2023 (11,7%). DM adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang bisa dicegah melalui perubahan gaya hidup, salah satunya adalah aktivitas fisik, yang menjadi kunci dalam pencegahan dan pengurangan beban PTM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM pada penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia pada tahun 2023, dengan distratifikasi oleh variabel perancu usia, jenis kelamin, status obesitas, tempat tinggal, status pekerjaan, dan status ekonomi. Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan desain studi potong lintang. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat, dan stratifikasi. Berdasarkan analisis bivariat, aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan DM, dengan aktivitas fisik kurang lebih berpeluang (OR=1,36; 95% CI= 1,23 – 1,51) untuk memiliki DM. Variabel perancu usia, jenis kelamin, status obesitas, dan status pekerjaan berhubungan signifikan dengan DM dan digunakan untuk stratifikasi. Setelah distratifikasi, hubungan aktivitas fisik dengan DM tetap signifikan, tetapi nilai OR berbeda berdasarkan modifikasi efek dari variabel usia dan jenis kelamin. Penduduk usia 40 tahun ke atas (OR=1,52; 95% CI= 1,35 – 1,71) lebih berpeluang untuk memiliki DM jika kurang melakukan aktivitas fisik. Upaya intervensi pengelola program kesehatan perlu difokuskan untuk merancang dan mengimplementasikan kebijakan aktivitas fisik dan skrining DM yang komprehensif dengan bekerja sama dengan sektor luar kesehatan dan fokus untuk meningkatkan partisipasi aktivitas fisik pada penduduk berusia 40 tahun ke atas.


There is an upward trend of diabetes mellitus prevalency, both globally and in Indonesia.  DM prevalency based on blood glucose examination in Indonesia shows an upward trend,  from 2013 (6,9%), 2018 (10,9%), up to 2023 (11,7%). DM is a noncommunicable disease  (NCD) that could be prevented by lifestyle change, which one of them is physical activity,  a key in NCD prevention and burden reduction.  This study aims to identify the  association between physical activity and DM in Indonesia’s population aged 15 years  and over in 2023, with stratification based on confounding variable age, sex, obesity  status, residential area, employment status, and economic status. This study utilizes  Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 data with cross-sectional study design.  Univariate, bivariate, and stratification analysis were conducted. Based on bivariate  analysis, physical activity is significantly associated with DM, with the less active group  having higher odds (OR=1,36; 95% CI= 1,23 – 1,51) for developing DM. Confounding  variables age, sex, obesity status, and employment status significantly associated with  DM and will be used in stratification. After stratification, the association between  physical activity and DM hold its significance, but the OR differs based on effect  modification by age and sex variables. Population aged 40 years and over (OR=1,52; 95%  CI= 1,35 – 1,71) higher odds to develop DM if they’re physically inactive. Interventions  effort made by health program organizer needs to be focused on designing and  implementing comprehensive physical activity and DM screening policy with partners  outside the health sectors and focusing on increasing participation in physical activity  among population aged 40 years and over. 

Read More
S-11872
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Rika Fajrin; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Popy Yuniar, Lili Musnelina
Abstrak:
Indonesia dinobatkan sebagai negara ketiga terbanyak kasus prediabetes di dunia pada tahun 2019 dengan jumlah penderita sebesar 29,1 juta kasus. Prediabetes merupakan kondisi meningkatnya kadar glukosa darah dari batas normal, namun belum mencapai ambang diagnosis diabetes mellitus. Prediabetes memiliki risiko tinggi berkembang menjadi penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan berdampak pada peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat determinan kejadian prediabetes pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, chi-square, dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi prediabetes di Indonesia sebesar 26,9%. Variabel yang memiliki hubungan secara statistik berdasarkan regresi logistik yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, hipertensi, obesitas sentral, dan status merokok. Variabel dominan yang berhubungan dengan kejadian prediabetes yaitu lansia ≥ 60 tahun (AOR=3,198; 95% CI=2,673 - 3,825). Dengan demikian, pentingnya menetapkan batas minimal usia pemeriksaan kadar glukosa darah rutin terutama pada kelompok berisiko tinggi, intervensi terkait promosi gaya hidup sehat dan ajakan melakukan deteksi dini kadar glukosa darah di masyarakat. Selain itu, diperlukan kerja sama sektor kesehatan maupun non kesehatan untuk mencegah terjadinya prediabetes yang berfokus pada usia dewasa, pra-lanjut usia, dan lansia. 

In 2019, Indonesia was recognized as the third-ranked country in the world for the prevalence of prediabetes with an estimated 29.1 million people affected. Prediabetes is defined as a condition involving elevated blood glucose levels outside the normal range, but below the diagnostic threshold for diabetes mellitus. This condition carries a significant risk of progressing to type 2 diabetes mellitus and contributes to the rising burden of non-communicable diseases (NCDs), thereby adversely impacting the quality of life of those affected. This study aims to identify the determinants of prediabetes among individuals aged 15 years and older in Indonesia, utilizing data from the 2023 Indonesian Health Survey. This study uses descriptive analysis, chi-square test, and logistic regression. Based on the results of the study, the prevalence of prediabetes in Indonesia is 26.9%. Variables that are statistically related to prediabetes as determined by logistic regression included age, gender, education, hypertension, central obesity, and smoking status. The variable that is the most significant factor causing prediabetes is elderly ≥ 60 years (AOR=3.198; 95% CI=2.673 - 3.825). Consequently, the importance of establishing a minimum age threshold for routine blood glucose screening, implementing interventions to promote healthy lifestyles, and encouraging early detection of blood glucose levels within the community. In addition, collaboration between health and non-health sectors is essential to prevent prediabetes, with a focus on adult, pre-elderly, and elderly populations.
Read More
S-11890
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afmi Fitriyana; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Besral, Rahmadewi
T-3964
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabilla Sicillia Arya Putri; Pembimbing: Rico Kurniawan; Penguji: Popy Yuniar, Devi Mayori
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan tren peningkatan kasus yang signifikan di tingkat global. Indonesia berada di urutan ke-5 negara dengan kejadian DM tertinggi. Tingginya angka kejadian didominasi oleh DM tipe 2 yang berkaitan erat dengan gaya hidup seseorang. Penyandang disabilitas merupakan salah satu kelompok rentan karena adanya keterbatasan mobilitas, hambatan informasi, dan kesenjangan aksesibilitas layanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dengan kejadian diabetes melitus pada kelompok disabilitas di Indonesia tahun 2023. Metode: penelitian menggunakan data sekunder  dengan desain studi cross sectional. Analisis data yang digunakan adalah regresi logistik berganda. Besar sampel yang didapatkan sebesar 13.451. Hasil: Prevalensi diabetes melitus pada penyandang disabilitas sebesar 3,7%. Berdasarkan hasil analisis bivariat, didapatkan hubungan yang signifikan antara usia, tempat tinggal, status ekonomi, hipertensi, obesitas, jenis disabilitas, depresi, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, perilaku pemeriksaan kadar gluksoa darah berkala, dan gangguan tidur. Berdasarkan hasil analisis multivariabel, faktor dominan kejadian diabetes melitus pada penyandang disabilitas adalah status ekonomi pada kuintil IV (aOR = 3,020; 95% CI = 1,628 – 5,601)  setelah dikontrol oleh usia, tempat tinggal, hipertensi, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, dan perilaku pemeriksaan glukosa darah berkala. Kesimpulan:  Adanya posyandu integrasi layanan primer (ILP) yang disertai layanan dan fasilitas penunjang untuk disabilitas membantu pencegahan diabetes melitus pada penyandang disabilitas sehingga dapat menurunkan angka kejadian diabetes melitus pada populasi tersebut.

Background: Diabetes mellitus is noncommunicable disease with a significantly increasing trend globally. Indonesia is on fifth among countries with the highest incidence of diabetes mellitus. This high incidence is dominated by type 2 diabetes mellitus, which is linked to individual’s lifestyle.  Disability people represent a highly vulnerable group due to mobility limitations, information barriers. Objective: This study aims to determine the factors associated with the incidence of diabetes mellitus among disability people in Indonesia in 2023. Methods: This study utilized secondary data with cross-sectional design. Data analysis was performed using multiple logistic regression, yielding a total sample size of 13,451 respondents. Results: The prevalence of diabetes mellitus among people with disabilities was 3.7%. Based on the results of the bivariate analysis, significant associations were found between age, residency, economic status, hypertension, obesity, type of disability, depression, consumption of sugary foods, consumption of sugary beverages, regular blood glucose monitoring behavior, and sleep disorders. On multivariable analysis, the dominant factor was found that economic status in quintile IV was the dominant factor for diabetes mellitus incidence among disability people (aOR = 3.020; 95% CI = 1.629 – 5.601) after adjusting for age, residency, hypertension, consumption of sweet foods, consumption of sugary beverages, and regular blood glucose monitoring behavior. Conclusion: The implementation of Integrated Primary Care Health Posts (Posyandu Integrasi Layanan Primer/ILP), equipped with services and facilities that support with disabilities, could support the prevention of diabetes mellitus among disability people, thereby reducing its incidence within this population.
Read More
S-12339
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardini Utami; Pembimbing: Indang Trihandini, Ratna Djuwita; Penguji: Sudijanto Kamso, Sulistyo, Sophia Hermawan
Abstrak:

Salah satu masalah dalam Program Pengendalian TB di Indonesia adalah ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan sehingga putus obat dan mengakibatkan gagal konversi dan gagal pengobatan serta risiko menjadi kasus TB kebal obat. Salah satu provinsi dengan angka putus berobat melebihi angka nasional adalah Provinsi Riau, khususnya Kota Pekanbaru, terlebih pada angka putus berobat di Rumah sakit yang telah menerapkan strategi DOTS mencapai 15%. (Surveilens TB nasional, 2011). Angka putus berobat yang tinggi di Rumah sakit disebabkan antara lain oleh jarak yang jauh dari rumah, tidak ada petugas yang melacak pasien putus obat, jejaring yang tidak kuat antara Rumah sakit dan Puskesmas dan petugas TB Kabupaten/Provinsi. Tujuan Penelitian ini adalah melihat hubungan fasilitas pelayanan kesehatan TB DOTS dengan kesintasan kejadian putus berobat TB paru di Kota Pekanbaru. Desain Penelitian ini adalah menggunakan desain kohort retrospektif dengan melihat data surveilens pasien TB kota Pekanbaru yang terdaftar sepanjang tahun 2010 serta analisis yang digunakan adalah analisis survival menggunakan metode Kaplan Meier untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan independen dan untuk pemodelan multivariatnya dilakukan dengan Regresi Cox. Sampel penelitian ini adalah 334 pasien yang berobat ke Puskesmas dan 120 pasien yang berobat ke Rumah sakit. Angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Kota Pekanbaru adalah 14,4%, dengan median waktu putus berobat 75 hari dan 73% pasien putus berobat tersebut tidak mengalami konversi atau   sudah putus obat sebelum dievaluasi hasil pengobatan tahap intensifnya. Probabilitas kelangsungan pasien menyelesaikan pengobatannya adalah 62%. Angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Puskesmas sebesar 9% dengan probabilitas kumulatif kesintasan menyelesaikan pengobatannya sebesar 72%, sedangkan angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Rumah sakit sebesar 29%, dengan probabilitas kumulatif kesintasan menyelesaikan pengobatannya sebesar 50%. Pasien TB yang berobat di Fasyankes Rumah sakit memiliki kemungkinan untuk putus berobat sebesar 4.21 kali dibandingkan dengan pasien TB yang berobat di Puskesmas setelah dikontrol oleh variabel ketersediaan tenaga terlatih, dan jarak (Nilai p = 0.000). Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan jejaring eksternal yang kuat antara Rumah sakit dengan dengan Dinas Kesehatan, laboratorium daerah, Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta diharapkan Rumah sakit dapat memberikan pilihan tempat pengobatan kepada pasien pada sesaat setelah diagnosis, di Puskesmas wilayah tempat pasien tinggal atau tetap berobat di Rumah sakit dengan syarat harus patuh pada saat jadwal minum obat maupun harus datang ke RS pada waktu mengambil obat. Kata Kunci: Kesintasan, Putus obat, Rumah sakit, Puskesmas


One of the problems in the TB Control Program in Indonesia is a non-compliance of patients in the treatment of drug withdrawal and thus lead to failed conversions and failed treatment and Multi Drugs Resistance TB. One of the provinces with treatment dropout rate exceeds the national rate is Riau Province, Pekanbaru City in particular, especially in the hospitals that have implemented the DOTS strategy reached 15%. The purpose of this study is to see the relationship of health care facilities with a survival rate of TB patients that have treatment in DOTS Health Facility, in the city of Pekanbaru. The study design was a retrospective cohort design using by looking at the data surveillance of TB patients in Pekanbaru city registered during the year 2010 as well as the analysis used is the analysis of survival using the Kaplan-Meier to see the relationship between the dependent and independent variables for multivariate modeling performed with Cox regression. The research sample was 334 patients who went to health centers and 120 patients who went to the hospital. Treatment drop-out rate of new cases of pulmonary TB patients in the city of Pekanbaru in this study was 14.4%, with median treatment time of 75 days and drop in survival probability of new cases of pulmonary TB patients in the city of Pekanbaru in a complete treatment for 6 months was 87%. Treatment drop-out rate of new cases of pulmonary TB patients at health center by 9% with a median time of default of 120 days and the cumulative probability of survival in the complete treatment period of 6 months by 92%, while the dropout rate for treatment of new cases of pulmonary TB patients in the hospital for 29 % with a median time of 60-day default and the cumulative survival probability of complete treatment within 6 months by 73%. TB patients who seek treatment at hospital have a chance to drop out 4.21 times compared with TB patients who seek treatment at health centers once controlled by the variable availability of trained personnel and the distance (p-value = 0.000). To overcome these problems, it takes a strong external network of hospitals by the district health office, local laboratories, clinics and other health care facilities to improve treatment success, as well as the hospital is expected to provide treatment options to patients in shortly after diagnosis, the health center areas where patients live or stay for treatment at the Hospital but have to comply with the requirements at the time of the schedule to take medication and have come to the hospital at the time of taking the drug. Keyword: Survival, default, hospital, health center

Read More
T-3557
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive