Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35412 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Noviyana; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Nurul Dina Rahmawati, Try Nur Ekawati Lukman, Dwikani Oklita Anggiruling
Abstrak:
Obesitas viseral merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit metabolik. Pada kelompok mahasiswa, kejadian obesitas viseral dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk food insecurity. Kondisi kerawanan pangan tidak hanya berhubungan dengan kekurangan asupan pangan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko obesitas melalui perubahan pola konsumsi, perilaku makan, dan mekanisme biologis yang kompleks. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan food insecurity (CSI) dengan kejadian obesitas viseral berdasarkan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB) pada mahasiswa baru di Universitas Indonesia tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder pada 362 mahasiswa baru Universitas Indonesia tahun 2025. Food insecurity diukur menggunakan Coping Strategy Index (CSI), sedangkan obesitas viseral ditentukan berdasarkan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB ≥0,5). Analisis dilakukan melalui univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan sebesar 66,9% mahasiswa mengalami obesitas viseral dan 43,9% mengalami food insecurity (CSI). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa food insecurity (CSI) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan obesitas viseral setelah dikontrol oleh karakteristik, sosial ekonomi, pola makan, dan aktivitas fisik. Walaupun berada pada kecenderungan berhubungan (borderline significant), namun secara statistik belum menunjukkan hubungan yang signifikan (AOR=1,648; 95%CI=0,994 – 2,732; p=0,050). Penelitian ini menyimpulkan bahwa food insecurity yang diukur menggunakan CSI belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian obesitas viseral pada mahasiswa baru setelah dikontrol oleh faktor perancu, sehingga diperlukan penelitian longitudinal untuk mengklarifikasi hubungan temporal antara food insecurity dan obesitas viseral.

Visceral obesity is a major risk factor for various metabolic diseases. Among university students, the development of visceral obesity may be influenced by several factors, including food insecurity. Food insecurity is not only associated with inadequate food intake but may also increase the risk of obesity through changes in dietary patterns, eating behaviors, and complex biological mechanisms. This study aimed to examine the association between food insecurity, measured using the Coping Strategy Index (CSI), and visceral obesity based on the waist-to-height ratio (WHtR) among first-year students at Universitas Indonesia in 2025. A cross-sectional study was conducted using secondary data from 362 first-year students at Universitas Indonesia in 2025. Food insecurity was assessed using the Coping Strategy Index (CSI), while visceral obesity was defined as a waist-to-height ratio (WHtR) of ≥0.5. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariable logistic regression analyses. The results showed that 66.9% of the participants had visceral obesity and 43.9% experienced food insecurity based on the CSI. Multivariable analysis indicated that food insecurity (CSI) was not significantly associated with visceral obesity after adjusting for demographic characteristics, socioeconomic factors, dietary patterns, and physical activity. Although the association was borderline significant (AOR= 1.648; 95%CI= 0.994–2.732; p= 0.050), it did not reach statistical significance after adjustment for potential confounding factors. Therefore, longitudinal studies are warranted to clarify the temporal relationship between food insecurity and visceral obesity among university students.
Read More
T-7586
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yasyfa Mutiara; Pembimbing; Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Wardina Humayrah, Riri Indriyanti
Abstrak:
Adaptasi terhadap lingkungan baru dan tuntutan akademik yang meningkat drastis dibanding masa sekolah membuat mahasiswa baru termasuk kelompok yang rawan stres akademik. Ada dugaan bahwa stres semacam ini mengganggu regulasi perilaku makan, dan pada gilirannya mendorong munculnya perilaku makan berisiko. Pertanyaan yang coba dijawab dalam studi ini sederhana: benarkah persepsi stres akademik berhubungan dengan perilaku makan berisiko pada mahasiswa baru UI angkatan 2025? Untuk menjawabnya, digunakan data sekunder berdesain potong lintang dari 399 mahasiswa baru UI angkatan 2025. Instrumen PASS (Perceived Academic Stress Scale) dipakai untuk menangkap persepsi stres akademik, sedangkan TFEQ-R18 (Three-Factor Eating Questionnaire-Revised 18) menangkap perilaku makan berisiko. Chi-square lebih dulu menguji hubungan kedua variabel secara bivariat; setelahnya regresi logistik masuk untuk mengendalikan delapan variabel lain sekaligus — jenis kelamin, rumpun fakultas, pendapatan orang tua, status gizi, aktivitas fisik, kualitas tidur, depresi, dan kecemasan. Dari 399 responden, 35,8% tergolong mengalami perilaku makan berisiko dan 31,8% melaporkan stres akademik tinggi. Uji bivariat memang menangkap hubungan bermakna antara keduanya (p = 0,013), tapi begitu delapan variabel perancu tadi dikendalikan, hubungan ini rontok — AOR turun ke 1,26 dengan interval kepercayaan 95% yang melebar dari 0,69 sampai 2,28, artinya secara statistik stres akademik gagal berdiri sendiri sebagai prediktor. Yang justru bertahan adalah faktor lain. Aktivitas fisik rendah meningkatkan risiko hampir dua setengah kali lipat (AOR 2,33; CI 1,33–4,10), status gizi kurus bahkan lebih besar lagi, hampir tiga setengah kali lipat (AOR 3,53; CI 1,56–7,98). Kecemasan tampil paling konsisten: risikonya naik seiring tingkat keparahan, dari kecemasan ringan (AOR 2,23; CI 1,28–3,91), sedang (AOR 2,49; CI 1,24–4,99), hingga berat yang risikonya melonjak empat kali lipat (AOR 4,03; CI 1,80–9,03). Pola ini menunjukkan sesuatu yang penting: stres akademik saja bukan penjelas yang cukup untuk perilaku makan berisiko pada mahasiswa baru. Begitu faktor-faktor lain diperhitungkan bersamaan, perannya memudar, dan kecemasanlah yang tampil sebagai faktor psikologis paling menentukan. Implikasinya cukup jelas bagi kampus: skrining kesehatan mental, terutama untuk kecemasan, layak masuk sebagai bagian dari program kesehatan mahasiswa baru, berdampingan dengan promosi gaya hidup sehat yang selama ini sudah berjalan.

First-year university students constitute a population vulnerable to academic stress, owing to the adaptation required by an unfamiliar environment and academic demands that differ markedly from secondary school. This stress is hypothesized to disrupt eating behavior regulation, thereby increasing the risk of risky eating behavior. This study aimed to examine the association between perceived academic stress and risky eating behavior among first-year students at Universitas Indonesia in 2025.This cross-sectional study used secondary data from 399 first-year students at Universitas Indonesia in 2025. Perceived academic stress was assessed using the Perceived Academic Stress Scale (PASS), while risky eating behavior was measured using the Three-Factor Eating Questionnaire-Revised 18 (TFEQ-R18). Bivariate associations were tested using the chi-square test, followed by multivariate logistic regression to adjust for sex, faculty cluster, parental income, nutritional status, physical activity, sleep quality, depression, and anxiety. Risky eating behavior was identified in 35.8% of respondents, and 31.8% reported high perceived academic stress. Bivariate analysis showed a significant association between perceived academic stress and risky eating behavior (p = 0.013); however, this association was no longer statistically significant after adjustment for confounding variables (AOR = 1.26; 95% CI: 0.69–2.28). Factors independently associated with risky eating behavior included low physical activity (AOR = 2.33; 95% CI: 1.33–4.10) and underweight nutritional status (AOR = 3.53; 95% CI: 1.56–7.98). Anxiety showed a consistent dose-response association across severity levels: mild (AOR = 2.23; 95% CI: 1.28–3.91), moderate (AOR = 2.49; 95% CI: 1.24–4.99), and severe (AOR = 4.03; 95% CI: 1.80–9.03). Perceived academic stress was not independently associated with risky eating behavior after adjusting for confounding variables. Anxiety emerged as the most dominant psychological factor associated with risky eating behavior. These findings suggest that prevention efforts targeting risky eating behavior among new students should incorporate mental health screening—particularly for anxiety—alongside the promotion of healthy lifestyle behaviors within campus health programs.
Read More
T-7579
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Siratunnisak; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Asih Setiarini, Siti Arifah Pujonarti, Khoirul Anwar, Chaerunnisa Rahman
Abstrak:
Hipertensi mulai menjadi masalah kesehatan pada kelompok dewasa muda. Obesitas sentral yang dinilai menggunakan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB) diduga berhubungan dengan peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran serta hubungan sentral, faktor sosiodemografi, dan gaya hidup dengan kejadian hipertensi serta tekanan darah sistolik dan diastolik pada mahasiswa baru Universitas Indonesia tahun 2025. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan analisis data sekunder terhadap 392 mahasiswa. Analisis dilakukan menggunakan uji chi-square, uji beda rerata, regresi logistik, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,2% responden mengalami sentral dan 31,3% mengalami hipertensi. Rerata tekanan darah sistolik dan diastolik masing-masing sebesar 127,38 ± 13,79 mmHg dan 81,91 ± 10,03 mmHg. Sebanyak 63,5% responden kurang mengonsumsi sayur dan buah, 53,5% memiliki konsumsi makanan tinggi natrium kategori tinggi, 50,5% memiliki konsumsi minuman manis kategori tinggi, dan 57,9% memiliki durasi tidur kurang. sentral berhubungan dengan kejadian hipertensi (OR = 2,423; 95% CI: 1,504–3,903; p < 0,001), tekanan darah sistolik, dan diastolik (p < 0,001). Jenis kelamin berhubungan dengan hipertensi dan tekanan darah sistolik, sedangkan aktivitas fisik hanya berhubungan dengan tekanan darah sistolik. Pendapatan orang tua, konsumsi sayur dan buah, makanan tinggi natrium, minuman manis, serta durasi tidur tidak berhubungan secara bermakna dengan hipertensi maupun tekanan darah sistolik dan diastolik. Setelah dikontrol seluruh variabel sosiodemografi dan gaya hidup, mahasiswa dengan sentral memiliki odds 2,450 kali untuk mengalami hipertensi (95% CI: 1,484–4,026; p < 0,001). Mahasiswa dengan obesitas juga memiliki tekanan darah sistolik 5,552 mmHg dan diastolik 5,010 mmHg lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak obesitas. Disimpulkan bahwa sentral berhubungan dengan hipertensi serta peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik pada mahasiswa baru.

Hypertension is becoming an increasingly important health concern among young adults. Central obesity, assessed using the waist-to-height ratio (WHtR), is believed to be associated with elevated blood pressure. This study aimed to describe and examine the associations of central obesity, sociodemographic factors, and lifestyle factors with hypertension, systolic blood pressure, and diastolic blood pressure among first-year students at Universitas Indonesia in 2025. This study used a cross-sectional design and secondary data from 392 students. Data were analyzed using the chi-square test, mean difference tests, logistic regression, and multiple linear regression. The results showed that 62.2% of the respondents had central obesity and 31.3% had hypertension. The mean systolic and diastolic blood pressures were 127.38 ± 13.79 mmHg and 81.91 ± 10.03 mmHg, respectively. A total of 63.5% of the respondents had inadequate fruit and vegetable intake, 53.5% had a high frequency of high-sodium food consumption, 50.5% had a high frequency of sugar-sweetened beverage consumption, and 57.9% had insufficient sleep duration. Central obesity was associated with hypertension (OR = 2.423; 95% CI: 1.504–3.903; p < 0.001), systolic blood pressure, and diastolic blood pressure (p < 0.001). Sex was associated with hypertension and systolic blood pressure, whereas physical activity was associated only with systolic blood pressure. Parental income, fruit and vegetable intake, high-sodium food consumption, sugar-sweetened beverage consumption, and sleep duration were not significantly associated with hypertension, systolic blood pressure, or diastolic blood pressure. After adjustment for all sociodemographic and lifestyle variables, students with central obesity had 2.450 times higher odds of hypertension than those without central obesity (95% CI: 1.484–4.026; p < 0.001). Students with central obesity also had systolic and diastolic blood pressures that were 5.552 mmHg and 5.010 mmHg higher, respectively, than those without central obesity. In conclusion, central obesity was associated with hypertension and increased systolic and diastolic blood pressure among first-year students.
Read More
T-7581
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vinny Nurhamiza; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Asih Setiarini, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak: Food Insecurity Experience adalah keterbatasan yang dialami oleh individu maupun kelompok untuk mendapatkan makanan yang aman dan bergizi secara teratur yang diiringi oleh pengalaman berupa ketidakpastian mengenai makanan yang akan dapat dikonsumsi sehari-harinya. Food insecurity dapat berdampak pada penurunan kesejahteraan, kekurangan gizi spesifik, hingga kelaparan. Kelompok mahasiswa sebagai individu dewasa termasuk kelompok rentan terhadap risiko food insecurity. Penelitian ini menelaah adanya hubungan melalui pengukuran beda proporsi food insecurity pada mahasiswa S1 FMIPA di Universitas Indonesia berdasarkan jenis kelamin, pendapatan pribadi, cooking self-efficacy, tingkat pengetahuan gizi, uang saku, alokasi biaya makan, pemilihan makanan meliputi: kepentingan persepsi sehat, kepentingan persepsi harga, dan kepentingan persepsi aksesibilitas. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan desain studi cross-sectional, pada bulan Maret hingga Juni 2021. Partisipan penelitian terdiri dari 134 mahasiswa dengan metode purposive sampling melalui pengisian kuesioner secara daring. Hasil Penelitian menemukan bahwa sebanyak 64,9% responden mengalami food insecurity. Hasil analisis bivariat juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan pada food insecurity experience dengan cooking self-efficacy (p-value 0,046), uang saku (p-value 0,006), alokasi besaran biaya makan (p-value 0,045), pemilihan makanan: kepentingan persepsi harga (p-value 0,001).
Food Insecurity Experience is a limitation experienced by individuals and groups to get safe and nutritious food on a regular basis accompanied by an experience in the form of uncertainty about the food that will be able to be consumed daily. Food insecurity can have an impact on decreased well-being, specific malnutrition, and hunger. The group of students as adult individuals is a vulnerable group to the risk of food insecurity. This study examines the relationship through measuring the different proportions of food insecurity in undergraduates students at the Faculty of Mathematics and Sciences of Universitas Indonesia based on gender, personal income, cooking self-efficacy, nutritional knowledge level, allowance, allocation of food costs, food preferences including: perceives of health, perceives of price, and perceives of accessibility. The study was conducted using quantitative methods using a cross-sectional study design, from March to June 2021. The research participants consisted of 134 college students with the purposive sampling method through filling out an online questionnaire. The results of the study found that as many as 64,9% of respondents experienced food insecurity. The results of the bivariate analysis also showed that there was a significant relationship in food insecurity experience with cooking self-efficacy (p-value 0.,46), allowance (p-value 0,006), allocation of food costs (p-value 0.045), food preferences: perceives of price (p-value 0,001).
Read More
S-11036
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alya Dzihni Nafisah; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Triyanti, Eti Rohati
S-12123
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Kumala Sari Dewi; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Teguh Jati Prasetyo
Abstrak: Terjadi peningkatan konsumsi sugar-sweetened beverage (SSB) di kalangan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran frekuensi konsumsi SSB dan determinan perilaku konsumsi SSB berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) serta faktor-faktor lainnya pada mahasiswa FKM UI tahun 2025. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan pengumpulan data primer melalui kuesioner yang diisi secara mandiri oleh 158 responden yang dipilih menggunakan metode stratified random sampling. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan tabulasi silang dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan 75,3% responden mengkonsumsi SSB dengan frekuensi tinggi (≥ 2 kali per minggu), serta mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel konsumsi SSB dengan tingkat stres (p = 0,005; OR = 2,865; CI 95% = 1,355-6,042) dan ketersediaan SSB di tempat tinggal (p = 0,001; OR = 3,779; CI 95% = 1,730-8,256). Dengan demikian, mahasiswa FKM UI disarankan untuk lebih bijak dalam mengkonsumsi SSB dengan cara mengurangi ketersediaan SSB di tempat tinggal dan membatasi akses terhadap konsumsi SSB serta mengelola stres dengan cara-cara yang sehat.
An increase in the consumption of sugar-sweetened beverages (SSB) has been observed among students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia (FKM UI) over the years. This study aims to examine the frequency of SSB consumption and the determinants of SSB consumption behavior based on the Theory of Planned Behavior (TPB), along with other factors, among FKM UI students in 2025. A cross-sectional design was employed, with primary data collected through self-administered questionnaires completed by 158 respondents selected using stratified random sampling. Cross-tabulation and the chi-square test were then undertaken to investigate the associations between the variables. The results of this study indicate that 75.3% of respondents consumed SSB at a high frequency (≥ 2 times per week), and reveal significant associations between SSB consumption and stress level (p = 0.005; OR = 2.865; 95% CI = 1.355–6.042) and the SSB availability at home (p = 0.001; OR = 3.779; 95% CI = 1.730–8.256). Therefore, FKM UI students are advised to take more attention towards their SSB consumption by reducing its availability at home or limiting access to SSB, and managing stress through healthy methods.
Read More
S-11996
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Pinarsinta Namora; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalesinya selalu mengalami peningkatan, termasuk pada dewasa muda. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara asupan gizi dan faktor-faktor lainnya yang berhubungan dengan obesitas sentral pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan 108 responden. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner melalui platform Google Form, serta pengukuran antropometri dan SQ-FFQ secara tatap muka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status merokok dengan obesitas sentral yang bersifat sebagai faktor protektif (p-value 0,003). Sementara itu, tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan energi (p-value 0,652), karbohidrat (p-value 0,957), protein (p-value 0,786), lemak (p-value 0,87), aktivitas fisik (p-value 0,423), tingkat stres (p-value 0,081), serta pengetahuan gizi (p-value 0,859). Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap obesitas sentral dan pemeliharaan kesehatan secara umum dengan menganut pola hidup yang lebih sehat, seperti membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak; meningkatkan aktivitas fisik, strategi manajemen stres, serta mengurangi konsumsi rokok.

Central obesity is a major public health concern with a steadily increasing prevalence, including among young adults. This study aims to examine the relationship between nutrient intake and other contributing factors associated with central obesity among students of the Faculty of Engineering at Universitas Indonesia. This research employed a cross-sectional study design involving 108 respondents. Data collection was conducted through questionnaires distributed via Google Forms, along with face-to-face anthropometric measurements and a semi-quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ). The results showed a significant association between smoking status and central obesity, indicating smoking as a protective factor (p-value 0.003). In contrast, no significant associations were found between central obesity and energy intake (p-value 0.652), carbohydrate intake (p-value 0.957), protein intake (p-value 0.786), fat intake (p-value 0.87), physical activity (p-value 0.423), stress levels (p-value 0.081), or nutrition knowledge (p-value 0.859). These findings are expected to raise student awareness about central obesity and encourage better health maintenance through healthier lifestyle practices, such as limiting high sugar, salt, and fat intake; increasing physical activity; applying stress management strategies; and reducing tobacco use.
Read More
S-11908
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qori Az-Zahra; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit ; Penguji: Asih Setiarini, Sandra Fikawati, M. Hafid Ernanda, Kusmadewi Eka Damayanti
Abstrak:
Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan pada wanita usia subur, termasuk mahasiswi. Pada masa remaja akhir hingga dewasa awal, perempuan rentan mengalami ketidakpuasan terhadap citra tubuh yang dapat memengaruhi perilaku makan, sehingga berpotensi meningkatkan risiko anemia. Selain citra tubuh dan kecenderungan perilaku makan menyimpang, pola makan, status gizi, dan faktor sosiodemografi juga diduga berhubungan dengan status anemia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan citra tubuh dan kecenderungan perilaku makan menyimpang dengan status anemia pada mahasiswi baru Universitas Indonesia tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan memanfaatkan data sekunder dari studi longitudinal Dietary Pattern and Adherence to the Healthy Eating Index in Relation to Nutrition-related Diseases and Academic Performance: A Longitudinal Adolescent Health Study at Universitas Indonesia. Sampel penelitian terdiri atas 220 mahasiswi baru Universitas Indonesia tahun 2025. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Independent t-test, dan One-Way ANOVA, Chi-Square, serta multivariat menggunakan regresi linear berganda dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada mahasiswi baru Universitas Indonesia sebesar 20,9%, dengan rata-rata kadar hemoglobin 12,85±1,20 g/dL. Analisis bivariat data numerik dan kategorik menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi protein dan status gizi (IMT) berhubungan secara signifikan dengan status anemia (p<0,05). Pada analisis regresi linear berganda, citra tubuh (B=0,001; p=0,959) dan kecenderungan perilaku makan menyimpang (B=-0,076; p=0,308) tidak berhubungan secara signifikan dengan kadar hemoglobin setelah dikontrol oleh variabel perancu. Sebaliknya, status gizi tetap menjadi satu-satunya variabel yang berhubungan secara signifikan dengan kadar hemoglobin pada kedua model (p<0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa mahasiswi dengan ketidakpuasan terhadap citra tubuh berhubungan dengan peningkatan odds sebesar 8,87 kali (AOR=8,871; 95%CI=2,493–31,567; p<0,001). Sebaliknya, kecenderungan perilaku makan menyimpang tidak berhubungan secara signifikan dengan status anemia (AOR=1,552; 95%CI=0,551–4,371; p=0,405). Penelitian ini menyimpulkan bahwa citra tubuh berhubungan secara signifikan dengan status anemia dan merupakan faktor yang paling dominan pada mahasiswi. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa anemia ditemukan tidak hanya pada mahasiswi dengan status gizi kurang, tetapi juga pada mahasiswi dengan overweight dan obesitas, yang mengindikasikan adanya koeksistensi anemia dan kelebihan berat badan sebagai bentuk beban ganda malnutrisi pada level individu. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif yang mencakup edukasi gizi seimbang, pembentukan citra tubuh positif, peningkatan aktivitas fisik guna mencapai status gizi normal dan menurunkan prevalensi overweight serta obesitas, serta pencegahan anemia di lingkungan perguruan tinggi.

Anemia remains a major public health problem among women of reproductive age, including university students. During late adolescence and early adulthood, young women are particularly vulnerable to body image dissatisfaction, which may influence eating behaviors and potentially increase the risk of anemia. In addition to body image dissatisfaction and disordered eating tendencies, dietary patterns, nutritional status, and sociodemographic factors may also be associated with anemia. Therefore, this study aimed to examine the association between body image dissatisfaction, disordered eating tendencies, and anemia among first-year female students at Universitas Indonesia in 2025. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the longitudinal study entitled Dietary Pattern and Adherence to the Healthy Eating Index in Relation to Nutrition-related Diseases and Academic Performance: A Longitudinal Adolescent Health Study at Universitas Indonesia. A total of 220 first-year female students were included in the study. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analyses with the Independent t-test, One-Way ANOVA, and Chi-Square test, followed by multiple linear regression and multivariable logistic regression analyses. The prevalence of anemia among first-year female students was 20.9%, with a mean hemoglobin concentration of 12.85 ± 1.20 g/dL. Bivariate analyses of continuous and categorical data showed that protein consumption frequency and nutritional status based on body mass index (BMI) were significantly associated with anemia (p<0.05). Multiple linear regression analysis demonstrated that body image dissatisfaction (B=0.001; p=0.959) and disordered eating tendencies (B=−0.076; p=0.308) were not significantly associated with hemoglobin concentration after adjustment for potential confounders. In contrast, nutritional status remained the only variable significantly associated with hemoglobin concentration in both models (p<0.001). Multivariable logistic regression analysis showed that female students with body image dissatisfaction had 8.87 times higher odds of anemia than those who were satisfied with their body image (AOR=8.871; 95% CI=2.493–31.567; p<0.001). In contrast, disordered eating tendencies were not significantly associated with anemia (AOR=1.552; 95% CI=0.551–4.371; p=0.405). This study concludes that body image dissatisfaction was significantly associated with anemia and was the strongest predictor of anemia among first-year female students. Furthermore, anemia was observed not only among undernourished students but also among those with overweight and obesity, indicating the coexistence of anemia and excess body weight as a form of the double burden of malnutrition at the individual level. Therefore, integrated promotive and preventive strategies are needed, including nutrition education, the promotion of positive body image, increased physical activity to achieve normal nutritional status and reduce the prevalence of overweight and obesity, as well as anemia prevention programs within university settings.
Read More
T-7577
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sofie Sachaya; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Triyanti, Yulianti Wibowo
Abstrak:
Sugar-Sweetened Beverages (SSB) merupakan minuman berpemanis yang mengandung gula berkalori tambahan dan dapat menyebabkan resistensi insulin, penumpukan lemak, hingga obesitas yang meningkatkan risiko penyakit metabolik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan konsumsi SSB berdasarkan karakteristik individu, faktor lingkungan, dan gaya hidup pada mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK) dan non-RIK di Universitas Indonesia tahun 2025. Desain penelitian ini adalah kuantitatif cross-sectional dengan pengumpulan data melalui kuesioner daring pada 191 mahasiswa. Hasil menunjukkan bahwa 50,2% mahasiswa mengonsumsi SSB tinggi (≥6 kali/minggu), dengan proporsi lebih tinggi pada mahasiswa non-RIK (53,1%) dibanding RIK (46,8%). Konsumsi SSB secara signifikan berbeda berdasarkan sikap terhadap konsumsi SSB (p=0,007), tingkat stres (p=0,017), pengaruh iklan (p=0,022), dan kebiasaan merokok (p=0,037). Mahasiswa disarankan untuk membatasi atau tidak sama sekali mengonsumsi SSB untuk mencegah dampak negatif terhadap kesehatan metabolik.

Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) are sweetened drinks containing added caloric sugar, which can lead to insulin resistance, fat accumulation, and obesity, increasing the risk of metabolic diseases. This study aimed to examine differences in SSB consumption based on individual characteristics, environmental factors, and lifestyle among health science (RIK) and non-health science (non-RIK) students at Universitas Indonesia in 2025. A cross-sectional quantitative design was used, with data collected through an online questionnaire completed by 191 students. The results showed that 50.2% of students had high SSB consumption (≥6 times per week), with a higher proportion among non-RIK students (53.1%) compared to RIK students (46.8%). Significant differences in SSB consumption were found based on attitudes toward SSB (p=0,007), stress levels (p=0,017), advertising influence (p=0,022), and smoking habits (p=0,037). It is recommended to limit or completely avoid the consumption of sugar-sweetened beverages (SSBs) to reduce the risk of metabolic health issues.
Read More
S-11985
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Keisya Budiargo; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Dieta Nurrika
Abstrak:
Obesitas merupakan akumulasi lemak tubuh yang berlebihan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Pengukuran obesitas menggunakan persen lemak tubuh dinilai lebih akurat dibandingkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Prevalensi obesitas mahasiswa FKM UI berdasarkan data pemeriksaan kesehatan tahun 2022–2024 mencapai 13,6%, melebihi ambang batas masalah kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi ultra-processed food (UPF), asupan energi, lemak, karbohidrat, protein, serat, serta perilaku sedentary dengan kejadian obesitas berdasarkan persen lemak tubuh pada 147 mahasiswa FKM UI tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas berdasarkan persen lemak tubuh sebesar 12,9%. Terdapat hubungan signifikan antara frekuensi konsumsi UPF, konsumsi energi UPF, asupan energi; lemak; protein, dan perilaku sedentary dengan obesitas (p-value<0,05). Sedangkan asupan serat dan karbohidrat tidak menunjukkan hubungan signifikan (p-value>0,05) tetapi menunjukkan kecenderungan. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan lebih bijak dalam memilih makanan sehari-hari dan mengurangi aktivitas sedentary. FKM UI diharapkan menciptakan lingkungan kampus yang mendukung gaya hidup sehat serta program pemantauan status gizi. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan alat objektif untuk mengukur perilaku sedentary, serta menggunakan analisis multivariat untuk memahami hubungan mendalam antara konsumsi UPF, asupan gizi, dan perilaku sedentary terhadap kejadian obesitas

Obesity is the excessive accumulation of body fat that elevates the risk of non-communicable diseases. Compared to Body Mass Index (BMI), body fat percentage offers a more accurate measure of obesity. Based on health screening data from 2022 to 2024, the prevalence of obesity among FKM UI students reached 13.6%, surpassing the public health concern threshold. This study investigated the association between ultra-processed food (UPF) consumption, energy, fat, carbohydrate, protein, fiber intake, and sedentary behavior with obesity—measured by body fat percentage—among 147 FKM UI students in 2025. This quantitative study used a cross-sectional design. Findings revealed an obesity prevalence of 12.9%. Significant associations were observed between obesity and the frequency of UPF consumption, UPF-derived energy intake, total energy, fat and protein intake, and sedentary behavior (p-value<0.05). Although fiber and carbohydrate intake were not statistically significant (p-value>0.05), both showed trends. These results highlight the importance of making healthier dietary choices and reducing sedentary time. FKM UI encouraged to promote a supportive campus environment for healthy lifestyles and establish nutrition monitoring initiatives. Future studies should incorporate objective tools to assess sedentary behavior and utilize multivariate analysis to better understand the interactions between those risk factors and obesity
Read More
S-11984
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive