Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40568 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Igo Cahya Negara; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Helwiah Umniyati, Junita Rosa Tiurma
Abstrak:
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada pengguna narkotika suntik (penasun) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan prevalensi tertimbang yang meningkat dari 14,3% (2018–2019) menjadi 17,1% pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi HIV pada penasun di Indonesia menggunakan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Desain penelitian adalah potong lintang (cross-sectional) dengan sampel 2.128 penasun yang direkrut melalui metode Respondent-Driven Sampling (RDS) dan memiliki status HIV terkonfirmasi laboratorium. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi Cox dengan asumsi waktu konstan untuk mengestimasi Prevalence Ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%, dengan pemodelan akhir melalui backward elimination. Proporsi HIV positif sebesar 17,06%. Model akhir multivariat mengidentifikasi tujuh variabel yang berhubungan bermakna, yaitu konsistensi penggunaan kondom sebagai faktor risiko terkuat (aPR=6,18; 95% CI: 5,11–7,48), layanan testing HIV (aPR=2,03; 95% CI: 1,53–2,67), usia (aPR=1,99; 95% CI: 1,57–2,52), pemahaman efektivitas kondom (aPR=1,46; 95% CI: 1,14–1,87), lama menjadi penasun (aPR=1,32; 95% CI: 1,04–1,67), perilaku berbagi jarum suntik (aPR=1,27; 95% CI: 1,03–1,55), serta persepsi diri merasa berisiko tertular HIV (PR=0,47; 95% CI: 0,36–0,62). Temuan ini menunjukkan bahwa jalur penularan seksual menjadi faktor dominan infeksi HIV pada penasun di Indonesia saat ini. Desain potong lintang membatasi temuan ini pada hubungan asosiasi, bukan kausal. Program penanggulangan HIV pada penasun perlu memperluas akses kondom beserta edukasi efektivitasnya, memperkuat rujukan aktif untuk layanan testing HIV, dan menyasar penasun usia lebih tua serta dengan masa pajanan napza suntik panjang sebagai kelompok prioritas dalam strategi harm reduction.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection among people who inject drugs (PWID) remains a major public health concern in Indonesia, with weighted prevalence rising from 14.3% (2018–2019) to 17.1% in 2023. This study aimed to analyze factors associated with HIV infection among PWID in Indonesia using secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). A cross-sectional design was employed with a sample of 2,128 PWID recruited through Respondent-Driven Sampling (RDS), with HIV status confirmed by laboratory testing. Data were analyzed in stages through univariate, bivariate, and multivariate analyses using Cox regression with a constant-time approach to estimate Prevalence Ratios (PR) and 95% confidence intervals, with the final model derived through backward elimination. The proportion of HIV-positive PWID was 17.06%. The final multivariate model identified seven variables significantly associated with HIV infection: condom use consistency as the strongest risk factor (aPR=6.18; 95% CI: 5.11–7.48), HIV testing service (aPR=2.03; 95% CI: 1.53–2.67), age (aPR=1.99; 95% CI: 1.57–2.52), condom effectiveness knowledge (aPR=1.46; 95% CI: 1.14–1.87), duration of injecting drug use (aPR=1.32; 95% CI: 1.04–1.67), needle-sharing behavior (aPR=1.27; 95% CI: 1.03–1.55), and self-perceived HIV risk (aPR=0.47; 95% CI: 0.36–0.62). These findings indicate that sexual transmission is the dominant factor of HIV infection among PWID in Indonesia. The cross-sectional design limits these findings to associational rather than causal inferences. HIV prevention programs for PWID should expand condom access alongside effectiveness education, strengthen active referral pathways to HIV testing services, and prioritize older PWID and those with longer injecting histories within harm reduction strategies.
Read More
T-7612
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nasya Shafira; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Nurjannah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan factor sosiodemografi, pengetahuan dan persepsi, perilaku penggunaan napza, perilaku berisiko seks, dan perilaku pencegahan dengan kejadian HIV pada kelompok kunci pengguna narkotika suntik (penasun) di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder STBP 2018-2019. Sampel yang digunakan adalah penasun yang ada diseluruh Indonesia yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel sebanyak 1.364. data dianalisis secara univariat dan bivariat. Prevalensi HIV sebanyak 13,7%.
Read More
S-10542
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Herwanti Saputra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Victoria Indrawati
Abstrak: Angka kasus infeksi HIV terus meningkat dan telah menginfeksi sekitar 36,7 juta penduduk dunia dan 2 juta diantaranya anak-anak dibawah usia 15 tahun. Tingginya prevalensi HIV pada populasi penasun menunjukkan bahwa Penasun merupakan populasi kunci yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Penelitian ini untuk mengetahui determinan yang mempengaruhi terjadinya infeksi HIV pada Penasun di Indonesia tahun 2015 dengan menggunakan data sekunder STBP Penasun pada 6 kota besar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI. Sebanyak 1231 penasun diwawancara dan diambil sampel darahnya kemudian di lakukan analisis multivariat regresi cox dan didapatkan prevalensi HIV sebesar 28,8%, 653 (55,2%) pernah menyuntik bersama, 1116 (90,7%) menggunakan jarum bekas pakai, 336 (35%) sedang terapi PTRM. Dari penelitian ini diketahui bahwa pasangan seks dengan sesama penasun beresiko terkena HIV 2,22 kali dibanding yang tidak (95% CI 1,152-4,281, nilai p=0,017), persepsi diri merasa beresiko terkena HIV 1,68 kali kali beresiko terkena HIV (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle memiliki resiko 1,90 kali terinfeksi HIV (95% CI 0,68-5,35), status sifilis dan riwayat IMS memiliki resiko 1,2 kali terkena HIV dan perilaku penggunaan kondom menunjukkan hasil bermakna (nilai p=0,006) dapat mencegah terkena HIV. Program pengendalian HIV di Indonesia diharapkan dapat lebih memfokuskan intervensi pada populasi kunci (penasun) edukasi pengetahuan HIV, pengobatan dan perilaku preventif.

Kata kunci : HIV, Penasun, sharing needle, pasangan seks, kondom, IMS.

HIV infection cases keep increasing and have been inestmated infecting 36.7 million people in the world and 2 million among them are children below 15 years old. The high prevallence rate of HI among IDUs indiacted IDU is important HIV key population in Indonesia. The aim of this study was to know determinant affecting HIV infection among IDUs in Indonesia in year 2015 by using secondary data of IBBS (STBP) among IDUs in 6 big cities done by Ministry of Health (Kemkes RI). In IBBS/STBP study about 1231 IDUs were interviewed and taken their blood samples. In study we used multivariate analysis using Cox regrssion analiysis and found that the HIV prevalence rate was 28.8%. About 55,2% have shared needles, 90,7% have used already used needles, 35% have been following methadone substitution therapy. From this study we also found that having IDUs sex partner increased risk to get HIV infection for about 2,22 times as compared those did not have (95% CI of PR: 1,152- 4,281, p-value=0,017), Self perception that ones being at risk of HIV increased risk to get HIV infection 1,68 times (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle increased risk to get infected by HIV 1,90 times (95% CI 0,68-5,35), status of Sifilis infection and STI (sexual transmitted infection) both increased risk 1,2 times and condom use had protective effect and showed signficant association (p-value=0,006). HIV control programs in Indonesia were expected to be more focus on intervention toward key population of IDUs in areas of education to increase knowledge of HIV, therapy and behavior intervention.

Kata kunci : HIV, IDUs, sharing needle, sex partners, condom, STI.
Read More
T-5430
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vella Ovelia; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Nurhalina Afriana
S-9222
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Noor Azzahra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Suparmi
Abstrak:
Dilaporkan terdapat 38,4 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2021 dan terdapat sebanyak 58 juta kasus kasus kronis Hepatitis C pada tahun 2019. Pengguna NAPZA suntik merupakan populasi yang paling rentan untuk terinfeksi kedua virus ini akibat jalur transmisi kedua virus ini yang sangat besar melalui jarum suntik tidak steril. Kedua penyakit ini dapat terjadi secara bersamaan yang menyebabkan percepatan progres keduanya menjadi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV untuk mencegah penyebaran yang lebih lanjut dengan melakukan analisis bivariat dengan menggunakan chi-square dan melihat crude prevalence rate. Studi cross-sectional dari data STBP 2018-2019 di tujuh kabupaten/kota Jawa Barat populasi Penasun dilakukan dan didapatkan bahwa positivity rate koinfeksi HIV/HCV pada Penasun mencapai sebesar 9%. Ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawninan, riwayat dipenjara, usia pertama kali menggunakan NAPZA suntik, lama menggunakan NAPZA suntik, pernah menggunakan alat suntik tidak steril, usia pertama kali berhubungan seksual, hubungan seksual satu tahun terakhir, penggunaan kondom dengan pasangan tetap, pengetahuan komprehensif HIV, akses LASS, dan akses PTRM dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV. Dari hasil tersebut diperlukan intervensi yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi tingginya kejadian koinfeksi HIV/HCV pada Penasun.

There are 38.4 million people reported living with HIV in 2021 and there are as many as 58 million cases of chronic hepatitis C cases in 2019. Injecting drug users are the most vulnerable population to be infected with these two viruses due to the transmission routes of these two viruses via unsterile needles. These two diseases can occur simultaneously which causes the accelerated progress of both infections to become chronic. This study aims to look at the factors associated with the incidence of HIV/HCV coinfection to prevent further spread by conducting bivariate analysis using chi-square and looking at the crude prevalence rate. A cross-sectional study of 2018-2019 IBBS data in seven districts/cities of West Java of the IDU population was conducted and it was found that the positivity rate of HIV/HCV coinfection in IDU reached 9%. It was found that there was a relationship between age, gender, education level, marital status, history of imprisonment, age at first injecting drug use, duration of injecting drug use, ever using unsterile injecting equipment, age at first sexual intercourse, sexual intercourse in the past year, use of condoms with regular partners, comprehensive knowledge of HIV, access to sterile syringe service, and access to methadone treatment, with HIV/HCV coinfection. From these results, appropriate interventions are needed to prevent and overcome the high incidence of HIV/HCV co-infection among IDU.
Read More
S-11342
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhalina; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri K. Sudaryo; Hellen Dewi Prameswari
T-3603
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resita Dyah Purnama Suci; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Putri Bungsu, Nurhalina Afriana, Agus Handito
Abstrak:
Latar Belakang: Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi akibat penyakit hati kronik, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler. Wanita pekerja seks (WPS) merupakan kelompok populasi kunci yang memiliki risiko tinggi terinfeksi hepatitis B karena tingginya paparan perilaku seksual berisiko dan faktor kerentanan lainnya. Tujuan: Menganalisis determinan yang berhubungan dengan infeksi hepatitis B pada wanita pekerja seks di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan analisis data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Populasi penelitian adalah WPS berusia ≥15 tahun yang mengikuti pemeriksaan biologis hepatitis B. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik untuk memperoleh adjusted Prevalence Odds Ratio (aPOR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil: Proporsi infeksi hepatitis B pada WPS sebesar 2,3%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan secara signifikan dengan infeksi hepatitis B adalah sumber pendapatan utama dari menjual seks (aPOR=1,93; 95%CI: 1,21–3,07), tidak pernah mendengar tentang hepatitis (aPOR=3,02; 95%CI: 1,23–7,41), status HIV positif (aPOR=2,31; 95%CI: 1,21–4,39), status sifilis positif (aPOR=2,15; 95%CI: 1,28–3,55), penggunaan kondom yang tidak konsisten (aPOR=1,64; 95%CI: 1,15–2,33), dan tidak tersedianya kondom di tempat kerja (aPOR=1,29; 95%CI: 1,03–1,63). Kesimpulan: Faktor individu, perilaku, dan lingkungan berperan terhadap kejadian infeksi hepatitis B pada WPS di Indonesia. Upaya pencegahan perlu difokuskan pada peningkatan edukasi hepatitis B, perluasan akses vaksinasi bagi kelompok berisiko tinggi, penguatan integrasi layanan hepatitis B dengan HIV dan IMS, serta peningkatan ketersediaan dan penggunaan kondom secara konsisten.

Background: Hepatitis B remains a major global public health problem, contributing substantially to morbidity and mortality through chronic liver disease, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. Female sex workers (FSWs) are considered a key population at increased risk of hepatitis B infection due to frequent exposure to risky sexual behaviors and other vulnerability factors. Objective: To analyze determinants associated with hepatitis B infection among female sex workers in Indonesia. Methods: This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). The study population consisted of FSWs aged ≥15 years who underwent hepatitis B biological testing. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with chi-square tests, and multivariable logistic regression to estimate adjusted Prevalence Odds Ratios (aPORs) and 95% confidence intervals (95% CIs). Results: The prevalence of hepatitis B infection among FSWs was 2.3%. Multivariable analysis showed that hepatitis B infection was significantly associated with earning income primarily through sex work (aPOR=1.93; 95%CI: 1.21–3.07), never having heard about hepatitis (aPOR=3.02; 95%CI: 1.23–7.41), HIV-positive status (aPOR=2.31; 95%CI: 1.21–4.39), positive syphilis status (aPOR=2.15; 95%CI: 1.28–3.55), inconsistent condom use (aPOR=1.64; 95%CI: 1.15–2.33), and lack of condom availability at the workplace (aPOR=1.29; 95%CI: 1.03–1.63). Conclusion: Individual, behavioral, and environmental factors contribute to hepatitis B infection among female sex workers in Indonesia. Prevention efforts should focus on strengthening hepatitis B education, expanding vaccination access for high-risk populations, integrating hepatitis B services with HIV and sexually transmitted infection programs, and improving condom availability and consistent use.
Read More
T-7610
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Rachman Iryawan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Evi Martha, Wenita Indrasari, Claudia Stoicescu
T-3704
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prima Kartika Esti; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji : Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Helen Dewi Prameswari
Abstrak:

ABSTRAK

Latar belakang: Epidemi HIV secara global masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Pada tahun 2011 terdapat 2.5 juta (2.2 – 2.8 juta) kasus baru infeksi HIV di seluruh dunia, dengan kamatian karena AIDS mencapai 1.7 juta jiwa. Penularan infeksi HIV di Indonesia saat ini terutama melalui hubungan seks heteroseksual terutama terjadi dari WPS kepada pelanggan seks komersial, yaitu kelompok lelaki berperilaku risiko tinggi. Populasi ini merupakan jembatan penularan infeksi HIV (bridging population) dari populasi risiko tinggi ke populasi umum. Data menunjukkan jumlah laki-laki di Indonesia yang menjadi klien WPS lebih banyak dibandingkan pengguna napza suntik dan kelompok MSM (men who have sex with men). Prevalensi HIV pada kelompok LBT meningkat 7 kali lipat dari 0.1% (STBP 2007) menjadi 0.7% (STBP 2011). Keberadaan IMS meningkatkan kemudahan seseorang terkena infeksi HIV. Sebagian besar IMS akan menimbulkan peradangan dan kerusakan jaringan kulit/selaput lendir genital yang memudahkan masuknya HIV. Infeksi menular seksual dengan gejala ulkus genital, misalnya sifilis, menyebabkan kemudahan terkena infeksi HIV meningkat 4 – 6 kali. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh faktor perilaku seks yang berhubungan dengan infeksi HIV dengan mempertimbangkan penyakit sifilis sebagai efek modifikasi, pada populasi LBT 12 kabupaten/kota di Indonesia.

Metode: cross sectional, analisis data hasil STBP 2011.

Hasil: Prevalensi HIV pada LBT sebesar 0.7%, LBT dengan perilaku seks berisiko rendah sebesar 91.5%. Perilaku seks risiko tinggi terdapat pada 6.6% LBT dan 1.9% di antaranya berperilaku seks risiko sedang. Prevalensi LBT yang mengaku setia pada pasangan sebesar 49.8%. Kejadian infeksi HIV berhubungan secara signifikan dengan riwayat hubungan seks dengan WPS, setia pada pasangan, jumlah WPS dalam 1 tahun terakhir, penggunaan napza suntik, serta keluhan IMS. Keberadaan sifilis tidak memodifikasi efek perilaku seks terhadap infeksi HIV, karena kejadiannya kecil. Pada analisis multivariat didapat perilaku seks yang berisiko untuk tertular HIV adalah pernah berhubungan dengan WPS memiliki risiko tertular HIV dengan OR 2.113(0.883-5.052) dan pernah berhubungan dengan casual partner memiliki OR sebesar 1.347(0.506-3.589) setelah dikontrol dengan variabel penggunaan napza suntik dan keluhan IMS.


ABSTRACT

Background: Global HIV epidemic still reveal serious public health issue. In 2011 there was 2.5 million (2.2 – 2.8 million) HIV new cases worldwide with mortality reach 1.7 million people. Heterosexual transmission of HIV in Indonesia mainly occurs from FSW to their clients, which is identifying as high risk men (HRM). HRM population is HIV transmission bridging population from high to low risk population. Data shows FSW’s clients amounted much more than the IDUs or MSM. HIV prevalence in HRM had been increased 7 times from 0.1% (IBBS 2007) to 0.7% (IBBS 2011). The presence of STD increases risk of HIV infection, so that STD is believed as HIV infection cofactor. Most STD caused inflammation and genital mucosa/skin damage which make HIV infection easier. Genital ulcer disease, such as syphilis, raised HIV infection 4-6 times. This study aims to see sexual behavior effect on HIV infection with regard of syphilis as modification effect on HRM population in 12 districts in Indonesia.

Method: Cross sectional. The IBBS 2011 data analyses.

Result: HIV prevalence among HRM amounted 0.7%. Of 91.5% HRM have low risk of sexual behavior, 1.9% medium risk, and 6.6% experience high risk sexual behavior. 49.8% HRM was faithful. There was significant association between HIV infection and having sex with FSW, faithfulness, the amount of FSW in 1 year, injecting drug user, and the presence of STI symptoms. The presence of syphilis has not modified the association between sexual behavior and HIV infection, statistically. Multivariate analyses founded that having sex with FSW and/or casual partner were risky sexual behavior with OR of being infected by HIV were 2.113(0.883-5.052) and 1.347(0.506-3.589) respectively, after being controlled with variables injecting drug user and the presence of STI symptoms.

Read More
T-4011
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maratul Arifatuddina; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Nurjannah
Abstrak: Penelitian ini menggunakan data STBP 2018-2019 dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian yaitu seorang yang secara biologis laki-laki dan dikenali sebagai Waria berumur 15 tahun atau lebih yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berujumlah 2.357. Data dianalisis secara univariat dan bivariat.
Read More
S-10532
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive