Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29629 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diara Oktania; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Puput Oktamianti, Rengganis Pranandari, Asriningtyas Purnomo Sari
Abstrak:
Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman obat, namun hanya dua puluh produk yang berhasil mencapai status fitofarmaka yaitu kategori obat berbasis bahan alam dengan standar pembuktian ilmiah tertinggi. Meskipun kebijakan hilirisasi fitofarmaka telah berjalan melalui berbagai instrumen regulasi, pasar fitofarmaka dalam sistem kesehatan formal tidak terbentuk secara sistemik. Penelitian ini bertujuan menganalisis mengapa kebijakan hilirisasi fitofarmaka gagal menghasilkan pembentukan pasar, dengan memeriksa dampak desain regulasi dan proses implementasinya dari perspektif pelaku industri. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan dari institusi Kementerian Kesehatan, Badan POM, dan Industri Obat Bahan Alam yang dilengkapi dengan telaah dokumen regulasi. Analisis mengintegrasikan tiga kerangka yaitu teori sistem kebijakan David Easton, model implementasi Edwards III, dan prinsip analitis Regulatory Impact Assessment (RIA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan pembentukan pasar fitofarmaka bersumber dari design gap fundamental, bukan semata kegagalan implementasi dimana kebijakan hilirisasi dirancang secara supply-oriented tanpa instrumen yang menjamin kepastian permintaan. Analisis RIA menghasilkan persamaan ekonomi yang secara konsisten tidak terpenuhi expected revenue < regulatory burden + risk premium karena satu-satunya mekanisme yang berpotensi menciptakan permintaan efektif, yaitu reimbursement JKN dengan 278 juta peserta masih tertutup bagi fitofarmaka. Seluruh instrumen output yang tersedia bersifat demand-enabling, bukan demand-creating. Di balik stagnannya pasar aktual, teridentifikasi fenomena pent-up demand yang signifikan dimana seluruh informan industri menyatakan kesiapan berinvestasi secara agresif jika hambatan JKN dihilangkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa reorientasi kebijakan dari sisi penawaran ke sisi permintaan khususnya integrasi fitofarmaka ke dalam mekanisme JKN merupakan intervensi struktural yang paling mendesak untuk mengaktifkan pasar yang sesungguhnya telah siap secara potensial.

Indonesia possesses more than 30,000 medicinal plant species, yet only twenty products have achieved phytopharmaceutical status which is the highest evidence-based category for plant-derived medicines. Despite downstream policies backed by multiple regulatory instruments, a functional phytopharmaceutical market within the formal healthcare system has not emerged systematically. This study aims to analyze why downstream phytopharmaceutical policies have failed to generate market formation, by examining the impact of regulatory design and its implementation from the perspective of industry actors. A qualitative case study design was employed, with data collected through in-depth interviews with informants from the Ministry of Health, the National Agency of Drug and Food Control (BPOM), and traditional medicine industries, supplemented by regulatory document analysis. Three analytical frameworks were integrated: David Easton's policy systems theory, Edwards III's implementation model, and the analytical principles of Regulatory Impact Assessment (RIA). Findings reveal that the failure of phytopharmaceutical market formation stems from a fundamental design gap, not merely implementation failure, downstream policies are designed with a supplyside orientation, absent any instruments guaranteeing demand certainty. RIA analysis yields an economic equation that is consistently unmet: expected revenue < regulatory burden + risk premium, as the sole mechanism capable of generating effective demand JKN reimbursement covering 278 million enrollees remains closed to phytopharmaceuticals. All available output instruments are demandenabling rather than demand-creating. Despite the stagnation of actual market outcomes, a significant pent-up demand phenomenon was identified, with all industry informants expressing readiness to invest aggressively if the JKN barrier were removed. This study concludes that policy reorientation from supply-side to demand-side interventions, particularly the integration of phytopharmaceuticals into JKN reimbursement mechanisms constitutes the most structurally urgent intervention to activate a market that is already latently prepared.
Read More
T-7636
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Pudji Nugraheni; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Hasbullah Thabrany, Ayi Raffiah, Hendrianto Trisnowibowo
Abstrak:

Menyadari semakin terbatasnya kemampuan pemerintah utamanya dalam hal pembiayaan, maka berkembanglah konsep kemitraan dengan swasta dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kasus yang dilakukan di RSUD "X" yang bermitra dengan pihak swasta. Pengumpulan data dilakukan dengan 2 cara yaitu secara kuantitatif dengan mencatat data keuangan yang ada dan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan terpilih. Perhitungan biaya di PKS dilakukan dengan dua cara yaitu Full Cost (menghitung biaya yang seharusnya dikeluarkan oleh PKS) dan Variabel Cost (menghitung biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh oleh PKS).Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kemitraan yang dijalin antara RSUD "X" dengan pihak swasta dalam membangun gedung rawat inap dengan fasilitas VIP (PKS) adalah dengan sistem B.0.T yaitu bagi hasil selama 10 tahun dari hasil sewa kamar dengan formula 60% pihak swasta dan 40% pihak RSUD "X". Pengelolaan PKS dilakukan oleh Koperasi Pegawai RSUD "X".Dari penelusuran biaya pada tahun 2001 diperoleh bahwa biaya total di PKS pada tahun 2001 adalah sebesar Rp. 2.912.323.106,-(Full Cost) dan Rp.2.225.133.800,-(Variabel Cost). Biaya terbesar di PKS adalah biaya operasional yaitu sebesar 80,91% dari seluruh biaya yang ada(Full Cost). Sedangkan biaya operasional terbesar adalah untuk alokasi biaya personil yaitu 53,35% dari total biaya operasional yang ada. Total pendapatan PKS pada tahun 2001 adalah Rp.2.894.887.000,-. Adapun CRR PKS tahun 2001 adalah 99,40% (Full Cost) dan 130,10% (Variabel Cost). Pada tahun 2001 PKS tidak menghasilkan SHU atau PKS dalam keadaan defisit yaitu sebesar (Rp.I7.436.106,-) (Full Cost). Tetapi apabila dihitung secara Direct Cost, PKS mendapatkan SHU sebesar Rp.669.753,200,-.Dari hasil wawancara mendalam diperoleh informasi bahwa PKS tidak melakukan subsisdi silang kepada RSUD "X". Trend pendapatan dan pengeluaran PKS sejak mulai didirikan sampai tahun 2001 terlihat relatif meningkat baik yang dihitung secara current price maupun constant price. Dari hasil forecasting selama 10 tahun (1996-2005) menunjukkan bahwa dari kemitraan tersebut, pihak investor mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 872.849.930,- sedangkan pihak RSUD "X" mengalami kerugian sebesar Rp.3.108.259.938,-.Dengan melihat hasil forecasting dapat diketahui bahwa investor swasta merupakan pihak yang paling diuntungkan dalam kemitraan tersebut. Dan pemerintah dalam hal ini RSUD "X" merupakan pihak yang dirugikan. Salah satu harapan dalam kerjasama atau kemitraan dengan swasta di lingkungan RSUD "X" adalah terwujudnya subsidi silang dari PKS kepada RSUD "X" , namun dalam kenyataannya subsidi silang tersebut lama sekali tidak terwujud.


 

Government-Private Partnership in Hospital Services in Financing and Cross Subsidy Perspective (Case Study in Hospital "X")Constraints of the government to finance healthcare services had ignited the concept of government - private sector partnership in hospital services. This study is a case study in a district government hospital "Z" which had started partnering with private sector in developing a new in-patient hospital service (PKS). Data collection has been done using quantitative data collection and qualitatively explored using in-depth interviews with selected informants. Cost calculations in PKS were done using two methods: full cost (calculating the costs that should have been borne by PKS) and direct cost (calculating the costs that has actually been borne by PKS).The partnership of this district hospital with private sector took place in the form of private sector build a new VIP in-patient building using BOT arrangement for 10 years period. Revenue from bed usage will be divided 60% to the private investor and 40% to the hospital. The cost of PKS services in 2001 was Rp. 2,912,323,106 (full cost) and Rp. 2,225,133,800 (direct cost). Operating cost has the highest share of the total cost (full cost). Within the operating cost category, staff cost ranks first with 53.35%.Total revenue of PKS in 2001 was Rp 2,894,887,000. Cost Recovery Rate of the PKS in 2001 was 99.40% (full cost) and 130.10% (direct cost). PKS in the year 2001 was deficit (Rp. 17, 436, 106,-) (full cost). But if calculation by direct cost, PKS gain profit Rp. 669,753,200).From the in-depth interview, it was found that cross subsidy was not take place from PKS to the hospital. Trends of the revenue and costs of PKS from its beginning to 2001 were found increasing both in current and constant price. From forecasting, for a period of 10 years (1996-2005), it was found that from this partnership private investor will gain Rp. 872,849,930,- and the hospital would loose Rp. 3,108,259,938.From the forecasting, it was found that the private investor will gain benefit from this partnership while the hospital will not. One of the reasons from the development of government-private partnership in this hospital is to provide cross subsidy from the PKS to the hospital. However, this notion has not been realized so far.

Read More
T-1320
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ben Fauzi Ramdhan; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Pujiyanto, Kartini Rustandi, Selamat Riyadi
Abstrak: Proses penetapan kebijakan perencanaan dan penganggaran pada DirektoratKesehatan Kerja dan Olahraga sangat dinamis dan bergerak sesuai dengan arahkebijakan dan prioritas. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan faktasejauh mana aspek politik ikut berperan dalam penetapan kebijakanperencanaan dan anggaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan melakukan wawancara mendalam terhadap pihak-pihak yang terlibat.Hasil penelitian menunjukan bahwa aspek politik paling kental terjadi padatahapan proses penetapan kebijakan terutama saat terjadi konflik, kerjasama,negoasiasi dalam penetapan besaran alokasi anggaran dan target yang disusun.Penelitian ini merekomendasikan untuk memperkuat SDM direktorat kesehatankerja dan olahraga dalam hal kemampuan untuk melakukan advokasi mengenaipentingnya program kesehatan kerja dan olahraga.Kata kunci: kebijakan, politik, Perencanaan, penganggaran
The process of establishing policy on planning and budgeting in directorate ofoccupational health and sport is very dynamic and moving in accordance withthe policy and priorities. The purpose of this study is to get the facts extent towhich the political aspect played a role in policy establishing and budgetplanning. This study uses a qualitative method by conducting in-depthinterviews of the parties involved in the process of planning and budgeting.Results showed political aspect of most condensed occur in the process of theestablishment of policies especially when conflict, cooperation, and negotiationhappen in determining the amount of budget allocations and targets arranged. Thisstudy recommends to strengthen human resources of directorate in terms of abilityto advocate on the importance of occupational health and sports programsKeywords : policy, politics, planning, budgeting.
Read More
T-4718
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahma Yeni; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Mieke Savitri, Bambang Muldiyatno
Abstrak: Reimbursement policy for DBD by Health Office Of DKI Jakarta Province, on be half Indonesian Government, on 17 State Hospitals has implication on delay of hospital cash inflow. At Pasar Rebo Hospital, from total amount of account receivable didn?t paid completely by Health Office Of DKI Jakarta Province. This payment lateness affect to hospital loss out, especially for financial capital which related with account receivables, in turn will be affect to cash inflow smoothness This research is quantitative and qualitative study, aimed to know number of account receivables distinction for DBD patient?s expenses and amount of opportunity cost from payment lateness of patient account receivable as effect from government reimbursement policy to Pasar Rebo Hospital and see how hospital manage this issue. The result of this research shows that policy from Health Office Of DKI Jakarta Province on manages the payment for DBD patient based-on decision of Governor DKI Jakarta no. 446/2005. Unfortunately, the policy did not followed by regulation to define time limit for reimbursement completion time of account receivables claim, so there is anticipation action if delay is happen. In other hand, at Pasar Rebo Hospital has no own policy on service regulation for DHF patients, just refer to regulation that released by Health Office Of DKI Jakarta Province. Longer time needed to complete account receivable claim payment affect to changes of value of money. The account receivables value changes observed through perspective of time value of money, where in this concept interest of bank?s loan is important factor. In this study, where number of interest which used for calculation is 14 % p.a, found that from total claim of DHF patient?s account receivable Rp. 389,547,330,- there is an opportunity cost Rp.31,409,925 or equal to 8.06 % From the study knew that due to the lateness of DHF patient?s account receivables reimbursement by Health Office Of DKI Jakarta Province to Pasar Rebo Hospital there is 84.51 % that still not paid from total claim, so for operational cost hospital must re-budgeting their spent for not disturb their cash flow and suggested to make a standard time requirement to complete claim payment since sent claim report until receive claim payment. The result of this study expected can be use for Pasar Rebo Hospital as an input for management, especially department that related to account receivable management.
References : 28 (1977 - 2005)
Read More
T-2147
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rina Wahyu Wijayani; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Pujiyanto, Dumilah Ayuningtyas, Kazarni, Elizabet
T-4723
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Sulaiman; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib, Andi Afdal Abdullah, Fitriana Yuliawati
T-5273
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhidayat B.; Pembimbing: Prastuti C. Soewondo; Penguji: Atik Nurwahyuni, Vetty Yulianty Permanasari, Triana Puspita Dewi, Farida Indyastuti
Abstrak: Sumber penerimaan terbesar rumah sakit adalah pasien rawat inap persalinan Jam kesda. Integrasi Jamkesda dengan BPJS Kesehatan, akan merubah sistempembayaran dari retrospektif menjadi prospektif. Penelitian ini bertujuan menggambarkan potensi selisih penerimaan rumah sakit berdasarkan tarif Perdadan INA-CBGs serta strategi menghadapi potensi selisih tersebut. Penelitian ini merupakan gabungan kuantitatif dan kualitatif, menggunakan 660 tagihan danrekam medis pasien persalinan Jamkesda Tahun 2013. Komponen biaya terbanyakadalah jasa medis, BHP, jasa sarana, obat dan jasa pelayanan. Selisih terbesar pada persalinan dengan sectio secaria dengan rata-rata Rp.3.373.669/pasien. Diperlukan strategi melalui pengelolaan dokter, perawat dan tenaga farmasi, pengawasan, SIM-RS, rekam medis dan billing, perhitungan biayaserta identifikasi pelayanan dan pasar.Kata kunci : jamkesda; prospektif; retrospektif; selisih; strategi.
Read More
T-4204
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfi Bahari; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Helen Andriani, Mardiati Nadjib, Muhammad Jasrif Teguh
Abstrak:
Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat (BBO) impor masih menjadi tantangan utama dalam penguatan ketahanan farmasi nasional. Pemerintah telah mendorong penggunaan BBO lokal melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), prioritas penggunaan produk dalam negeri, dan mekanisme pengadaan melalui e-Katalog. Namun, implementasi penggunaan BBO lokal di tingkat industri masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari aspek teknis, ekonomi, maupun kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan BBO lokal pada produksi obat HIV di salah satu industri farmasi nasional dengan meninjau faktor input, proses, dan output berupa kinerja penjualan produk. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, yang dilengkapi dengan analisis kuantitatif deskriptif untuk menjelaskan kinerja penjualan produk. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap delapan informan dari fungsi Research and Development (R&D), Quality Assurance, produksi, keuangan/costing, dan komersial, serta melalui telaah dokumen perusahaan, data pasar IQVIA, dan regulasi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan BBO lokal memiliki nilai strategis dalam meningkatkan TKDN dan memperkuat posisi produk pada pasar pengadaan pemerintah. Namun, penggunaan BBO lokal belum sepenuhnya memberikan efisiensi biaya bagi industri farmasi karena sebagian besar harga BBO lokal masih lebih tinggi dibandingkan BBO impor, sehingga berdampak pada peningkatan harga pokok produksi. Meskipun demikian, seluruh produk yang dianalisis masih menghasilkan gross margin positif dengan tingkat margin yang bervariasi antarproduk. Dari sisi proses, penggunaan BBO lokal memerlukan kesiapan R&D, evaluasi karakteristik bahan baku, validasi proses, pengendalian mutu, serta optimasi produksi. Keberhasilan penggunaan BBO lokal sangat bergantung pada konsistensi mutu, kontinuitas pasokan, harga yang kompetitif, kesiapan teknis industri, dan dukungan kebijakan pengadaan yang selaras dengan agenda ketahanan farmasi nasional.

Indonesia’s dependence on imported active pharmaceutical ingredients (APIs) remains a major challenge in strengthening national pharmaceutical resilience. The government has promoted the use of local APIs through the Domestic Component Level (TKDN) policy, the prioritization of domestic products, and procurement mechanisms through the e-Catalogue system. However, the implementation of local API utilization at the industry level continues to face various challenges, including technical, economic, and policy-related aspects. This study aims to analyze the use of local APIs in the production of HIV drugs or antiretrovirals in one national pharmaceutical industry by examining input, process, and output factors, with the output represented by product sales performance. This study used an observational design with a qualitative method through in-depth interviews, supported by descriptive quantitative analysis to explain product sales performance. Data were obtained through in-depth interviews with eight informants from the Research and Development (R&D), Quality Assurance, production, finance/costing, and commercial functions, as well as through reviews of company documents, IQVIA market data, and relevant regulations. The results showed that the use of local APIs has strategic value in increasing TKDN and strengthening product positioning in the government market. However, local API utilization has not fully provided cost efficiency for the pharmaceutical industry, as most local APIs remain more expensive than imported APIs, thereby increasing the cost of goods manufactured. Nevertheless, all analyzed products still generated positive gross margins, with margin levels varying across products. From the process perspective, the use of local APIs requires R&D readiness, evaluation of raw material characteristics, process validation, quality control, and production optimization. The successful utilization of local APIs depends on quality consistency, supply continuity, competitive pricing, industry technical readiness, and procurement policy support aligned with the national pharmaceutical resilience agenda.
Read More
T-7705
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Via Dolorosa Halilintar; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ascobat Gani, Ede Surya Darmawan, Faiq Bahfen, Rien Pramindari
T-5641
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Kurniawati; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Prastuti C. Soewondo, Jaenuri, Doni Arianto
Abstrak: Sejak 1 Januari 2014 pemerintah Indonesia berkomitmen melaksanakan sistem jaminan sosial nasional untuk memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang dilakukan secara bertahap menuju Universal Health Coverage pada tahun 2019 sesuai dengan Renstra Kemenkes 2015 2019. Kenaikan pendapatan seiring dengan kenaikan beban semenjak adanya implementasi JKN. kinerja RSUD mengalami peningkatan bila dilihat dari rasio keuangan. Selama tahun 2014 2017 nilai casemix index pada rawat jalan tidak mengalami perubahan sedangkan pada rawat inap mengalami peningkatan. Hospital Base Rate untuk rawat jalan dan rawat inap meningkat selama tahun 2014 2017
Read More
T-5495
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive