Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34661 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Amrul Hasan; Pembimbing: Krisnawati Bantas
S-2470
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurasni; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wwahyono; I Mde Yosi Purbadi
S-8777
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhi Sambodo; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Renti Mahkota, Misriyah, Sahad Omposunggu
Abstrak:

Faktor manusia (host) yang pcnling dalam pcnccgahan malaria adalah Faklor perilaku, seperti perilaku pencegahan dan pencarian pengobatan. Salah satu Faktor pencegahan malaria berkaitan dengan pcngcmbangan program kelambunisasi adalah keteraturan masyarakat untuk tidur mcnggunakan kelambu sepanjang malam. Penelitian ini bertujuan umuk mengetahui hubungan menggunakan kclambu dengan kejadian malaria, clengan mempertimbangkan faktor-faktor: umur, jenis keiamin, pendidikan, waktu bekerja, pengetahuan tentang malaria, penyuluhan lcelambu, kecukupan kelambu, lama tinggal, pemilikan temak besar, obat anti nyamuk, kassa, dan alat pellndung diri keluar mlam. Penelitian ini dilalcsanakan di Kabupaten Lampung Selatan, dengan pertimbangan prevalensi klinis malaria di Kabupaten Lampung Selatan sangat fluktuatifl yaitu ll,5%0 tahun 2000, cenderung meningkat menjadi l3,65%¢ pada tahun 2003 dan menurun kembali menjadi ll,3%¢ di tahun 2004, scdangkan pada tahun 2005 kcmbali turun mcnjadi 9,67_ disamping, itu program kelambunisasi baru bcrjaan, lokasi pcnelitian adalah salah salu puskesmas lercndcmis di Kabupatcn Lampung Selalan, yaitu Puskcsmas Hanura. Berdasarkan pcnelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik antara menggunakan kelambu dengan kejadian malaria, dimana respondcn yang tidak mcnggunakan kelambu berisiko 4,82 kali terkena malaria dibandingkan dengan responden yang leralur tidur menggunakan kclambu. Faktor resiko yang berpotensi menjadi konfounder sehubungan dengan keteraturan tidur mcnggunakan kelambu dengan kejadian malaria adalah pengetahuan responden tentang cara pencegahan malaria dan status penyuluhan tentang kelambu yang dilerima oleh responden. Respondcn yang tidak tahu cara pencegahan malaria berisiko 6,64 kali dibanding responder; yang tahu tentang cara pencegahan malaria. Variabcl umur responden kelompok muda < 15 tahun beresiko terkena malaria pemah menerima pcnyuluhan kelambu akan terlindungi dari malaria 2,37 kali dibandingkan dengan responden yang beumur > 15 tahun. Berdasarkan penclitian ini diketahui menggunakan kelambu sangal mcmpengamhi keberhasilan program pengendalian malaria jika dilaksanakan dcngan mempertimbangkan upaya pcningkatan pcngetahuan masyarakat temang pencegahan malaria Serta manfaat penggunaan kelambu. Oleh karcna itu kiranya perlu dilakukan penyuluhan ulang temang manfaal penggunaan kclambu dalam pcnccgahan tcrjadinya pcnularan malaria, karcna berdasarkan penclilian ini hal tersebut dapat mcningkalkan cakupun pcnggunaan kelambu di masyarakul.


An important human factor in malaria prevention activities is behavioral factor, such as prevention behavior and care seeking. One of prevention factor of malaria which is related with bednets program is the using of bednets by the community during night-rest time. This research aims to determine correlation between the using ot' bednets by the community with malaria incidence in Hanura Health Centre, South Lampung District. The correlation will be considered to variables, which are age groups, gender, educational level, working hours, the community knowledge regarding malaria prevention, health education, length stay, ownership of cattle, mosquito coils, kassa, the using of self protection clothes during night time. The prevalence of clinical malaria in South Lampung District is fluctuated, from ll.5%o in 2000 to l3.65%o in 2003 and decreases to ll.3%a in 2004 and 9.67%o in 2005. The location of this study is Hanura Health Centre due to thc most endemic malaria condition of this health center in South Lampung District. This research finds that there is statistical significant relationship between the using of bednets by the community with malaria incidence. Non using bednets group risks 4.67 times to have malaria infection compare to using bednets group. Confounder risk factors are knowledge of the community regarding malaria prevention efforts and health education to use bednets. Lack knowledge of malaria prevention respondents risk 6.64 times compares to good knowledge of malaria prcvcntion respondents. Responden age group is risk factor for malaria incidence. Age group responden < I5 years more risk 2,32 times compare to age group 2 IS years. In conclusion, successful bednets distribution program in malaria control activities should be followed with increasing the knowledge of malaria prevention among the community and increasing health education to use bednets. Therefore, malaria control program in South Lampung District should continue malaria health education program on regular basis for the community in Hanura Health Centre. The message could consist of malaria prevention activities and the using ofbednets.

Read More
T-2479
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Markani; Pembimbing: Budi Haryanto, Haryoto Kusnoputranto
T-1997
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dading Setiawan; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Ririn Arminsih Wulandari, Trisiana Giyantini, Misriyah
Abstrak:

Bekasi merupakan salah satu daerah endemis penyakit DBD di propinsi Jawa Barat Dan 8 kecamatan yang ada di kota Bekasi, angka insidens per 100.000 penduduk di kecamatan Bekasi Selatan selalu menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat Disamping itu angka kepadatan penduduk di kecamatan Bekasi Selatan termasuk yang tertinggi di kota Bekasi pada tahun 1998, keadaan ini menyebabkan kebutuhan akan air bersih menjadi meningkat. Dan data yang ada menunjukkan bahwa pada tahun 1998 persentase penduduk yang menggunakan ledeng baru mencapai 12,80 % dibandingkan dengan sumur pompa yang menempati urutan tertinggi, yaitu 60,5 %, sedang pada tahun sebelumnya 5,42 % penduduk menggunakan ledeng dan 62,64 % menggunakan sumur pompa. Masih tingginya penggunaan sumur pompa sebagai stinker air bersih menyebabkan kebiasaan untuk menampung air pada tempat penampungan air (TPA) masih sering dilakukan, sebagai akibatnya adalah meningkatnya tempat tempat perkembang biakan nyamuk A. aegepty.Meskipun belum pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat kepadatan jentik hubungannya dengan kejadian DBD di kota Bekasi, namun melihat tingginya penggunaan TPA di Bekasi, diperkirakan kepadatan jentik aedes di kota Bekasi khususnya di kecamatan Bekasi Selatan cukup tinggi. Untuk itu perlu diketahui faktor apa saja yang berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes pada TPA di rumah tangga dan sepengetahuan peneliti, penelitian seperti ini belum pernah dilakukan di kota Bekasi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah beberapa faktor seperti letak TPA, jenis bahan TPA, warna TPA, ada tidaknya tutup TPA, fungsi TPA serta frekuensi pembersihan TPA ada hubungannya dengan keberadaan jentik Aedes pada TPA di rumah tangga. Desain yang digunakan adalah Cross sectional dengan besar sampel 240, menggunakan cam cluster dua tahap. Populasi penelitian adalah seluruh TPA yang ada di rumah tangga di kecamatan Bekasi Selatan, sedang sampel peneltian adalah TPA di rumah tangga yang terpilih secara acak dengan kriteria tidak dilakukan pemberian bubuk abate atau bahan kimia pembunuh jentik lainnya sekurang kurangnya dalam tiga bulan terakhir.Hasil penelitian menunjukkan dari 6 variabel yang semula diduga berhubungan dengan keberadaan jentik pada TPA, ternyata hanya 3 variabel yang secara bermakna berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes pads TPA, yaitu letak TPA, tutup TPA dan frekuensi pembersihan TPA. TPA yang terletak di dalam rumah mempunyai peluang ditemukannya jentik sebesar 4,74 kali dibandingkan dengan TPA yang terletak diluar atau disekitar rumah (95 % CI.:2,58 -- 8,73), demikian juga peluang ditemukannya jentik pada TPA yang tidak dilengkapi dengan tutup 4,12 kali dibandingkan dengan TPA yang dilengkapi dengan tutup (95 % CI : 2,05 - 8,28), kemudian peluang ditemukannya jentik pada TPA dengan frekuensi pembersihan lebih dari seminggu sekali 2,08 kali dibandingkan dengan TPA yang dibersihkan dengan frekuensi kurang atau sama dengan seminggu sekali (95 % Cl: 1,11 - 3,91). Variabel jenis bahan serta fungsi TPA dari basil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna, namun dari analisis multivariat tidak ditemukan adanya hubungan bermakna, sedang satu variabel lain yaitu warna TPA dari analisis bivariat tidak ditemukan adanya hubungan bermakna.Hasil penelitian menyarankan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya KLB, disamping itu kegiatan penyuluhan di Bekasi Selatan dengan materi penyuluhan yang lebih menekankan pada penggunaan tutup pada TPA serta frekuensi pembersihan TPA secara rutin sekurang kurangnya seminggu sekali perlu terus dilakukan.Daftar bacaan : 36 (1971 - 2001)


 

Factors Related to Existence of Aedes Larva in Household Water Container in Sub-district of Bekasi Selatan, in 2001Bekasi is one of the most endemic areas for DHF (Dengue Haemorrhagic Fever) in Sawa Barat province. Among 8 sub-districts in Bekasi, Bekasi Selatan is the only sub-district with a trend of continuous increase of incidence rate (per 100,000 population). Bekasi Selatan had the highest population density in 1998, and therefore requirement for clean water supply became increasing. The reported data showed that in 1998, the proportion of population using clean water supply (ledeng) was just 12.8%, compared to 60.5% for pumped well water. In the previous year (1997) it was reported that 5.4% of population used clean water supply, while 62.6% still used pumped well water. Because of frequent use of well water, people tend to save the water in a container, which in turns may increase breeding places for Aedes aegepty.Although there has not been any study conducted to investigate the relationship between density of mosquito larva and DHF incidence in Bekasi,_ it is presumed that the Aedes larva density in Bekasi, especially in sub-district of Bekasi Selatan, is quite high. Therefore it is interesting to study factors related to existence of Aedes larva in household water container, knowing that this kind of study had not been done in Bekasi.This study was aimed to know if several factors, such as position, material, color, lid availability, function, cleaning frequency of water container were associated with Aedes Iarva existence. In this cross-sectional study, 240 samples were collected using two-stage cluster sampling method. Study population was all water containers in the households in sub-district of Bekasi Selatan, while samples were water containers in the households selected randomly with a criteria of not using abate powder or any chemical substance (for killing the larva) within at least the past 3 months.Study results showed that among 6 variables investigated, only 3 were significantly associated with Aedes larva existence, i.e. position, lid availability and cleaning frequency of water container. The likelihood to find larva in indoor water container was 4.74 times higher than the corresponding likelihood in outdoor container (95% CI: 2.68 - 8.73). Compared with water container with lid, the likelihood to find the larva in water container without lid was 4.12 times higher (95% CI: 2.05 - 8.28). Water containers cleaned less frequently (once in more than a week) were more likely (2.08 times) to have larva thanwater containers cleaned more frequently (95% CI: 1.11 - 3.91). Although in bivariate analysis material or function of water container showed some associations with larva existence, in multivariate analysis no associations were found. Color of water container did not even show any association in bivariate analysis.Our results suggested that awareness of DHF outbreak possibility must be enhanced. Dissemination of information concerning the continuation of using water container with lid and frequent cleaning of it (at least once a week) was also recommended.Reference list: 36 (1971 -- 2001)

Read More
T-1318
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suwandi Subki; Pembimbing: Nasrin Kodim
T-887
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Basuki Didik Setiawan; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri
S-3296
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erdinal, Dewi Susanna, Ririn Arminsih Wulandari
MSK Vol.10, No.2
Depok : LP UI, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suhendrawati; Pembimbing: Farida Mutiarawati Tri Agustina
S-2113
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Betty Sukmarita; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo
S-2077
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive