Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34783 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Abdul Haris Munandar; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Nurhayati Prihartono, Yunia R Santoso
S-4357
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Juanda; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Selamet Riyadi
S-4137
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tinneke Primasari; Pemb; Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Agus Triwinarto
S-5516
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Maulani; Pembimbing: Yovsyah
S-3767
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriah Siti Nurjanah; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Elvieda Sariawati
Abstrak: Secara global setiap tahunnya pneumonia menyebabkan kematian hampir sebanyak 1 juta pada anak usia dibawah 5 tahun. Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun (Baduta). Period prevalence pneumonia pada anak Baduta berdasarkan data Riskesdas 2013 sebesar 1,7%. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada anak baduta di Indonesia dengan menggunakan data Riskesdas tahun 2013. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan masingmasing variabel yang diteliti, dan analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan berhubungan secara statistik dengan kejadian pneumonia pada baduta: umur 13-23 bulan berisiko 1,7 dibandingkan umur 0-12 bulan, tidak diberikan kolostrum (OR=1,742; 95% CI= 1,140-2,664), belum diberikan imunisasi campak karena umur anak (OR= 0,548; 95% CI= 0,388-0,773), tinggal di perdesaan (OR=1,448; 95% CI= 1,093-1,919), ada asap hasil pembakaran (OR=1,511; 95% CI= 1,142-1,998), ventilasi ruangan masak/dapur kurang (OR=1,829; 95% CI= 1,279-2,614), dan status sosial ekonomi rendah (OR=1,807). Belum dapat disimpulkan hubungan yang pasti bermakna secara statistik karena analisis dilakukan sampai bivariat, perlu dilakukan analisis multivariat.
Kata kunci: Pneumonia, Baduta, Indonesia, Riskesdas 2013
Read More
S-8688
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sisca Kumala Putri; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Ratu Ayu Dewi Sartika, Dodik Briawan, Iskari Ngadiarti
T-3349
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melinda Wulandari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarif, Asep Hermawan
Abstrak: Berdasarkan Riset Kesehatan 2013 dan 2018, anak usia 12-23 bulan memiliki prevalensipneumonia tertinggi diantara usia balita lainnya. Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi prevalensi dan faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumoniapada anak usia 12-23 bulan di Pulau Jawa. Desain penelitian yang digunakan yaitu desainpotong lintang dengan menggunakan sampel berjumlah 2.695 anak. Penelitian inimenggunakan analisis bivariat untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungandengan kejadian pneumonia. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi kejadianpneumonia pada anak usia 12-23 bulan sebesar 5,5%. Imunisasi campak berhubungandengan kejadian pneumonia secara signifikan (POR= 1,743; 95% CI= 1,077-2,822).Penelitian ini mendukung pentingnya pemberian imunisasi campak untuk mencegahpneumonia. Intervensi yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu meningkatkancakupan imunisasi campak melalui kampanye imunisasi campak.Kata kunci:Anak Usia 12-23 Bulan, Pneumonia, Pulau Jawa
According to Riskesdas 2013 and 2018, the highest prevalence of pneumonia in childrenunder five are the children aged 12-23 months. This study aims to identify the prevalenceand factors associated with pneumonia among children aged 12-23 months in Jawa Island.The study design used for this study is cross sectional with total sample of 2.695 children.Bivariate analysis is performed to identify factors associated with pneumonia. The resultsshow the prevalence of pneumonia among children aged 12-23 months is 5,5%. Measlesimmunization is significantly associated with pneumonia (POR= 1,743; 95% CI= 1,077-2,822). This study supports the importance of measles vaccination to prevent pneumonia.Intervention that can be implemented by the government is increasing measlesimmunization coverage through measles vaccination campaigns.Key words:Children Aged 12-23 Months, Pneumonia, Jawa Island.
Read More
S-10306
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rohana Rosmiyati Abdul Karim; Pembimbing:Ratna Djuwita; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Tri Yunis Miko Wahyono, Totok Haryanto
Abstrak:

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Di Indonesia peningkatan jumlah kasus TBC dari tahun 2020-2022 sejalan dengan peningkatan kasus TBC anak. Peningkatan kasus TBC anak juga terjadi di Kabupaten Nagekeo dengan cakupan penemuan TBC anak di tahun 2022 yaitu 70%. Adanya pasien TBC anak merupakan indikator masih berlangsungnya penularan TBC di suatu komunitas. Anak yang kontak dengan penderita TBC dewasa sangat berisiko untuk terinfeksi TBC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan infeksi TBC pada anak di Kabupaten Nagekeo tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan analisis regresi logistik untuk mengestimasi risiko dengan memanfaatkan data sekunder pada Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo. Dari 239 anak yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC, sebesar 5.44% memiliki riwayat infeksi TBC. Dari hasil analisis multivariat, ditemukan bahwa anak 5 tahun lebih berisiko menderita TBC dibanding anak >5 tahun [prevalence odds ratio (POR) 5,74 (95% CI: 1,66 – 19,85]. Kontak dengan penderita TBC yang memiliki riwayat gagal berobat sebelumnya juga berasosiasi dengan peningkatan risiko infeksi TBC pada anak dibanding dengan kontak dengan pasien TBC baru [POR 5,17 (95%CI : 1,17 – 22,70)]. Upaya promotif dan preventif harus terus dilakukan dalam rangka pencegahan infeksi TBC pada anak dengan meningkatkan komunikasi informasi edukasi (KIE), pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) kepada semua kontak anak terutama  5 tahun serta dukungan kepatuhan pengobatan kepada penderita TBC dan pengawas minum obat (PMO).


Tuberculosis (TB) is a communicable disease that is a major cause of ill health and one of the leading causes of death worldwide. In Indonesia, the increase in the number of TB cases from 2020-2022 is in line with the increase in TB cases in children. An increase in cases of TB in children has also occurred in Nagekeo Regency with a coverage of TB detection in children in 2022, namely 70%. The presence of pediatric TB patients is an indicator of ongoing TB transmission in a community. Children who are in contact with adult TB patients are at high risk of becoming infected with TB. This study aims to determine the factors related to TB infection in children in Nagekeo Regency in 2020-2022. This study used a cross-sectional study design and logistic regression analysis to estimate the risk by utilizing secondary data from the Tuberculosis Information System of the Nagekeo District Health Office. Of the 239 children who had a history of contact with TB sufferers, 5.44% had a history of TB infection. From the results of multivariate analysis, it was found that children 5 years were more at risk of suffering from TB than children >5 years [prevalence odds ratio (POR) 5.74 (95% CI: 1.66 – 19.85). A history of previous treatment failures is also associated with an increased risk of TB infection in children compared to contacts with new TB patients [POR 5.17 (95% CI: 1.17 – 22.70)]. Promotive and preventive efforts must continue to be carried out in the context of preventing TB infection in children by increasing communication, information and education (CIE), providing TB Prevention Therapy (TPT) to all child contacts especially  5 years and supporting treatment adherence to TB patients and drugs taking supervisors (DTS).

Read More
T-6723
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fionaliza; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Ratna Djuwita, Kusharisupeni Djokosujono, Basuki Budiman
T-2526
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sofa Khansani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Hakimi; Muammar Muslih
Abstrak: Difteri termasuk penyebab utama kematian anak di Indonesia. Cakupan imunisasi difteri yang tinggi diperlukan dalam penurunan kematian anak. Penelitian cross sectional ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi difteri pada anak sekolah (DT) di dua provinsi. Sampel penelitian adalah seluruh anak umur 6-8 tahun yang menjadi sampel dalam Asesmen Cakupan Imunisasi Campak Dosis Kedua dan Imunisasi Anak Sekolah di Dua Provinsi di Indonesia Tahun 2017. Analisis multivariat digunakan untuk melihat hubungan faktor predisposing, enabling, need, reinforcing dengan imunisasi DT anak.
 
Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan imunisasi yaitu predisposing : sikap terhadap pelayanan POR=1,736 (95%CI 1,227-2,456) dan sikap terhadap isu imunisasi haram POR=1,61 (95%CI 1,075-2,411); need : persepsi perlunya imunisasi bayi balita POR=1,683 (95%CI 0,968-2,925) dan persepsi kebutuhan imunisasi anak sekolah POR=2,152 (95%CI 1,065- 4,384); serta reinforcing : dukungan sekolah POR=1,571 (95%CI 1,060-2,33).
 
Dalam penelitian ini faktor enabling belum mampu memprediksi pemberian imunisasi DT anak. Faktor yang paling berhubungan dengan imunisasi DT anak adalah persepsi kebutuhan imunisasi anak sekolah. Semua faktor yang berhubungan dengan outcome pada penelitian ini memiliki peran penting dalam imunisasi DT anak sekolah sehingga pemerintah diharapkan dapat meggalakkan sosialisasi adanya media KIE atau situs resmi tentang imunisasi pada anak sekolah yang dikelola oleh pemerintah.
 

Diphtheria was a major cause of child mortality in Indonesia. The high diphtheria immunization coverage was needed in reducing the child mortality. This cross sectional study aimed to identify factors associated with diphtheria immunization for school children (DT). Sample was all children aged 6-8 years in the Assessment of Second Dose Measles Immunization and Immunization for School Children in Two Provinces in Indonesia 2017. Multivariate analysis was used to examine the predisposing, enabling, need, reinforcing factors associated with the immunization.
 
The results showed that factors associated with the immunization were predisposing:attitudes toward immunization services POR=1,736(95%CI 1,227-2,456) and attitudes towards the issue that immunization is forbiden POR=1,61(95%CI 1,075-2,411); need:perception of the need of immunization for infants and under five children POR=1,683(95%CI 0,968- 2,925) and perceptions of the need of school children immunization POR=2,152(95%CI 1,065-4,384); reinforcing:school support POR=1,571(95%CI 1,060-2,33).
 
The enabling factor had not been able to predict the immunization status in this study. The dominant factor was the perception of the need of school children immunization. All related factors in this study had important role in school children immunization so the government was expected to promote the dissemination of communication, information and education media or official sites on school children immunization.
Read More
T-5597
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive