Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33764 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mira Musaira; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
S-3497
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evy Luciana; Pembimbing: Nurhayati Prihartono, Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Sidartawan Soegondo, Kartini Hanah Subada
Abstrak:

Aktivitas fisik sebagai salah satu pilar penatalaksanaan Diabetes Mellitus dan pemeriksaan HbAlc sebagai evaluasi kendali gula darah jangka panjang seringkali tidak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai fisibilitas dan efektivitas aktivitas fisik dan kendali gula darah pada penyandang DM tipe 2 di masyarakat pada umumnya. Studi menggunakan desain kohort prospektif dengan 5 bulan masa pengamatan (12 November 2007 - 9 April 2008) dan 2 lokasi pengambilan sampel: di kelompok senam DM (persadia) dan di poliklinik DM RS Husada, Jakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode non-random sampling secara consecutive selama 2 bulan masa enrollment. Sampel adalah 95 orang penyandang DM tipe 2 yang telah menandatangani formulir informed consent. Variabel independen utama adalah aktivitas fisik yang dinilai baik dari segi frekuensi, durasi, intensitas maupun kompositnya, menggunakan kuesioner yang telah divalidasi. Sedangkan variabel dependen-nya adalah kendali gula darah yang dinilai dari kadar HbAlc plasma vena darah dalam persen. Data dikumpulkan dan diukur dua kali: pada awal dan akhir penelitian (minimal 12 minggu setelah data pertama diambil). Analisis multivariat dilakukan dengan Regresi Cox Proportional Hazard menggunakan perangkat STATA versi 9.2. Hasil penelitian ini menemukan adanya hubungan antara aktivitas fisik dan kendali gula darah pada 95 orang penyandang DM tipe 2 di RS Husada Jakarta (HRadjusted = 0,54; 95%CI 0,27-1,11) selelah dikQntrol terhadap variabel pengobatan dan pola konsumsi serat. Dengan demikian, tenaga kesehatan tidak perlu lagi ragu-ragu untuk menganjurkan para penyandang DM tipe 2 untuk mengintegrasikan aktivitas fisik ke dalam kehidupan mereka sehari-hari guna memperbaiki kendali gula darahnya.


Physical acitivity is often underutilized as one of the cornerstones of diabetes management and so is the use of HbAlc in long-term glycemic control. The purpose of this study is to assess the feasibility and effectiveness of physical activity and blood glucose control among diabetes type 2 patients in general population. A prospective cohort study design was used to conduct the study for a period of 5 months (l2th November 2007 - 9th April 2008) using 2 catchment areas: diabetes exercise club (persadia) and diabetes policlinic Husada Hospital, Jakarta. A non-random (consecutive) sampling technique during a 2-month enrollment period yielded a participation of 95 type 2 diabetes patients as study subjects, all of whom have signed informed consents. The main independent variable assessed was physical activity in the forms of frequency, duration, intensity and composite using validated questionnaires whilst the outcome of blood glucose control expressed as percentage of plama venous HbAlc. Data were collected twice: at baseline and at least 12 weeks after. Multivariate analysis was conducted using Cox Proportional Hazard Regression and the software STATA 9.2 version. Results from the study found an association between physical activity and blood glucose control among 95 diabetes type 2 patients in Husada Hospital Jakarta (HRadjusted = 0,54; 95%CI 0,27-1,11) after adjusting for drug therapy and dietary pattern consumption of fibre. ThUs. health care providers should not be hesitant to advice diabetics patients to integrate physical activity into their daily lives in order to improve their glycemic control.

Read More
T-2779
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Tabitha; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Syahrizal Syarif, Maunah
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian DM di Puskesmas Kebon Baru, Jakarta Selatan pada tahun 2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain studi cross sectional dengan menganalisis data sekunder data laporan bulanan Penyakit Tidak Menular Puskesmas Kebon Baru tahun 2020. Data dikumpulkan pada tahun 2020 dan analisis dilakukan pada tahun 2021. Prevalensi DM di Puskesmas Kebon Baru pada tahun 2020 adalah sebesar 16,5% dengan rata-rata kadar gula darah sebesar 153 mg/dL.
Read More
S-10563
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Agustina; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Guruh Aryo Cahyo
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes mellitus pada penduduk usia ≥25 tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Riskesdas tahun 2018 dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional). Hasil penelitian berdasarkan analisis bivariat didapatkan umur (p- value=0,000), pola konsumsi makanan manis (p-value=0,010), pola konsumsi mie instan/makanan instan (p-value=0,022), dan stres (p-value=0,006), memiliki hubungan secara statistik dengan kejadian diabetes mellitus.
Read More
S-10881
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Choirunnisa; Pembimbing: Helda; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Lily Banonah Rivai, Suharno
Abstrak: Covid-19 (Coronavirus Disease-2019) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus-2). Usia tua (≥65 tahun), jenis kelamin laki-laki, hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes, PPOK dan kanker dapat meningkatkan risiko kematian akibat Covid-19. Desain penelitian ini adalah studi analitik kasus kontrol dari data penelusuran epidemiologi (PE) Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan sejak bulan Maret 2020-Juli 2021. Jumlah sampel kelompok kasus dan kontrol masing-masing sebanyak 344 sehingga total sampel adalah 688 sampel. Proporsi pasien Covid-19 yang memiliki diabetes mellitus (DM) pada kelompok kasus adalah 35% dan pada kelompok kontrol sebanyak 4%. Analisis bivariat hubungan diabetes mellitus dengan mortalitas pasien Covid-19 di Tangerang Selatan menunjukkan OR=12.47 (p-value=0.0000; 95% CI 6.9-24). Analisis multivariat dengan regresi logistik dihasilkan OR=15.87 (p-value=0.000; 95% CI 7.09-35.5) setelah dikontrol dengan usia, hipertensi, interaksi DM dengan hipertensi, dan interaksi DM dengan gangguan imunologi
Covid-19 (Coronavirus Disease-2019) is a new disease caused by SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus-2). Old age (≥65 years old), male, hypertension, cardiovascular disease, diabetes, COPD, and cancer are associated with higher mortality risk. The design of this study is case control using secondary data penelusuran epidemiologi (PE) of Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan since March 2020-July 2021. The sample size from each case and control was 344 so the total sample was 688 sample. Proportion of Covid-19 patients with diabetes mellitus (DM) is 44.77% in case group and 8.14% in control group. Bivariate analysis of the association of diabetes mellitus with mortality among Covid-19 patients in South Tangerang showed OR=12.47 (p-value=0.0000; 95% CI 6.9-24). Multivariate analysis using logistic regression showed OR=15.87 (p-value=0.000; 95% CI 7.09-35.5) after age, hypertension, interaction between DM and hypertension, and interaction between DM and autoimmune disease were controlled
Read More
T-6227
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Gunadi; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Helda
Abstrak: Secara alamiah ditemukan bahwa semakin lama pasien menjalani hemodialisis maka semakin besar pula risiko untuk mengalami gejala gagal jantung, tetapi hal ini masih menjadi hal yang patut untuk diselidiki teutama pada pasien yang memilki komorbid Hipertensi dan/atau diabetes serta non lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gejala gagal jantung pada pasien hemodialisis kurang dari 1 tahun dibanding 1 hingga 5 tahun, non-lansia dengan diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Cross-Sectional yang melibatkan 198 pasien hemodialisis di RS Medika BSD, Tangerang Selatan. Pengumpulan data primer diambil pada Juni 2022 dari rekam medis pasien hemodialisis.
Read More
T-6452
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Allysa Tiara; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Titi Indriyati
Abstrak:
Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia dan prevalensinya setiap tahun mengalami peningkatan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menemukan bahwa prevalensi DM di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥15 tahun sebesar 2,0% dan Provinsi Riau menjadi salah satu provinsi dengan peningkatan prevalensi yang tinggi yaitu sebesar 0,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian DM di Provinsi Riau berdasarkan data Riskesdas 2018. Variabel dependen penelitian ini adalah DM dan variabel independennya yaitu faktor sosiodemografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan), faktor gaya hidup (aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, konsumsi makanan berlemak, konsumsi makanan manis, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok), dan faktor riwayat kesehatan (status IMT, obesitas sentral, hipertensi). Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan analisis bivariat dan stratifikasi. Penelitian ini menggunakan data sekunder hasil Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel sebesar 10.702 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi DM sebesar 2,8% dan faktor yang berhubungan dengan kenaikan peluang mengalami DM adalah usia yang lebih tua (POR=48,59; 95% CI: 17,80-132,6, p value=0,000), status tidak bekerja (POR=1,53; 95% CI: 1,32-2,17, p value=0,000), aktivitas fisik yang kurang (POR=2,09; 95% CI: 1,63-2,68, p value=0,000), obesitas (POR=1,43; 95% CI: 1,08-1,89, p value=0,015), obesitas sentral (POR=2,70; 95% CI: 2,12-3,44, p value=0,000), dan hipertensi (POR=4,53; 95% CI: 3,58-5,74, p value=0,000). Selain itu terdapat faktor yang berhubungan dengan penurunan peluang mengalami DM yaitu tingkat pendidikan menengah (POR=0,60; 95% CI: 0,41-0,87, p value=0,009), konsumsi buah dan sayur yang kurang(POR=0,71; 95% CI: 0,53-0,95, p value=0,029), dan konsumsi makanan manis yang sering (POR=0,44; 95% CI: 0,34-0,55, p value=0,000), namun hal ini kurang dapat dipercaya karena adanya temporal ambiguity. Upaya untuk meningkatkan awareness dan kemauan masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi kejadian DM di Provinsi Riau perlu dilaksanakan dengan lebih baik lagi dan bekerjasama dengan lintas sektor/instansi maupun kelompok masyarakat.

Diabetes Mellitus (DM) is one of the top diseases that causes death globally and its prevalence increases every year. The 2018 Basic Health Research (Riskesdas 2018) found that the prevalence of DM in Indonesia based on doctor's diagnosis in residents aged ≥15 years was 2.0% and Riau Province was one of the provinces with a high increase in prevalence around 0.9%. This study aims to determine the description and factors related to DM in Riau Province based on Riskesdas 2018. The dependent variable of this research is DM and the independent variables are sociodemographic factors (age, gender, education, occupation), lifestyle factors (physical activity, consumption of fruit and vegetables, consumption of fatty foods, consumption of sweet foods, alcohol consumption, smoking habits), and health history factors (BMI status, central obesity, hypertension). The study used cross-sectional design with bivariate and stratification analysis. This study uses secondary data from Riskesdas 2018 with 10,702 people as sample size. The results showed that the prevalence of DM was 2.8% and the factor associated with an increase in the occurrence of DM was older age (POR=48.59; 95% CI: 17.80-132.6, p value=0.000), non-working status (POR=1.53; 95% CI: 1.32-2.17, p value=0.000), lack of physical activity (POR=2.09; 95% CI: 1.63-2.68 , p value=0.000), obesity (POR=1.43; 95% CI: 1.08-1.89, p value=0.015), central obesity (POR=2.70; 95% CI: 2.12- 3.44, p value=0.000), and hypertension (POR=4.53; 95% CI: 3.58-5.74, p value=0.000). Apart from that, there are factors that are associated with a reduced chance of experiencing DM, namely secondary education level (POR=0.60; 95% CI: 0.41-0.87, p value=0.009), insufficient consumption of fruit and vegetables (POR=0 .71; 95% CI: 0.53-0.95, p value=0.029), and frequent consumption of sweet foods (POR=0.44; 95% CI: 0.34-0.55, p value=0.000 ), but these results were less reliable because the chance of temporal ambiguity. Efforts to increase public awareness and willingness to prevent and overcome DM incidents in Riau Province need to be implemented better and collaboration with other sectors/agencies and community groups can be implemented.
Read More
S-11522
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Nuryanti; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Merry Natalia Panjaitan
Abstrak: Diabetes Mellitus (DM) termasuk penyakit tidak menular kronis yang menjadi penyebab kematian utama pada penduduk wanita berumur 45-54 tahun. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko kejadian DM berdasarkandiagnosis dan gejala pada wanita dewasa di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder riskesdas 2007 dengan desain cross sectional. Sampel adalah wanita dewasa berumur ≥ 18 tahun yang tidak hamil, diukur tekanan darah, dan memiliki data yang lengkap (tidak missing). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi DM berdasarkan diagnosis dan gejala pada wanita dewasa Indonesia sebesar 1,6%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna (nilai p < 0,05) antara umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status perkawinan, aktifitas fisik,merokok, gangguan mental emosional, indeks massa tubuh, obesitas sentral, danhipertensi dengan kejadian DM pada wanita dewasa. Untuk itu perlu dilakukan suatu upaya pencegahan dan deteksi dini (skrining) terhadap faktor risiko dan skrining guladarah sedini mungkin. Kata Kunci : faktor risiko, diabetes mellitus, wanita dewasa, Indonesia, Riskesdas
Diabetes Mellitus (DM) is a chronic non-communicable diseases that become amajor cause of death in the population of women aged 45-54 years. This study aimsto determine the prevalence and risk factors of the occurance of diabetes mellitusbased on diagnosis and symptoms in adult women in Indonesia. This study used asecondary data Riskesdas 2007 with a cross-sectional design. Samples were adultwomen aged ≥ 18 years who are not pregnant, blood preasure was measured, and hasthe complete data. Results showed the prevalence of diabetes is based on thediagnosis and symptoms in adult women is 1.6%. The results of the bivariate analysisshowed there was a significant association (p value < 0,05) between age, educationlevel, employment status, marital status, physical activity, smoking, mentalemotional disorder, body mass index, central obesity, and hypertension with diabetesoccurance in adult women. Therefore, it is necessary to take prevention and earlydetection (screening) of the risk factors and blood sugar screening as early aspossible.Keywords: risk factors, diabetes mellitus, adult women, Indonesia, Riskesdas
Read More
S-8314
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Nastiti; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Agustina Helda, Sulistiyo Pompini
Abstrak: Tantangan dalam penanggulangan Tuberkulosis (TB) semakin besar karena TBjuga memiliki hubungan dengan penyakit tidak menular, seperti Diabetes Mellitus(DM). DM memiliki pengaruh pada setiap fase perjalanan penyakit TB dandiduga memiliki pengaruh terhadap hasil pengobatan TB. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh DM terhadap hasil pengobatan TB pada pasien TBparu dewasa (> 15 tahun) di RSPI Sulianti Saroso Tahun 2011-2014. Penelitianini menggunakan desain studi kasus kontrol = 1:2 dengan melibatkan 96 kasusdan 192 kontrol. Sebanyak 50 pasien TB (17,4%) diketahui memiliki DM.Sebanyak 19,8% pasien TB hasil pengobatan buruk dan 16,1% pasien TB hasilpengobatan baik memiliki penyakit DM, akan tetapi perbedaan ini tidaksignifikan. Nilai crude OR pada pasien TB-DM untuk mendapatkan hasilpengobatan TB buruk sebesar 1,28 (95% CI: 0,68-2,41), sedangkan pada adjustedOR sebesar 1,29 (95% CI: 0,67-2,49). Hasil penelitian ini belum dapatmembuktikan secara statistik bahwa pasien TB-DM memiliki risiko yang lebihtinggi untuk mendapatkan hasil pengobatan TB yang buruk. Skrining DM,pencatatan dan monitoring kadar gula darah pada pasien TB-DM sangatdiperlukan untuk mendapatkan data yang lebih valid.Kata Kunci : Diabetes Mellitus, Tuberkulosis Paru, Hasil PengobatanTuberkulosis, RSPI Sulianti Saroso
Read More
T-4556
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabila Putri Mayshanda; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Muhammad Habibi Syahidi
Abstrak:

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Individu dengan diabetes mellitus tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan populasi umum. Namun, penelitian terkait faktor-faktor kejadian stroke pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia masih terbatas dan umumnya dilakukan di tingkat rumah sakit, sehingga cakupan populasinya kecil dan tidak merepresentasikan kondisi secara nasional. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor kejadian stroke pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia. Data berasal dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dengan menggunakan desain studi potong lintang. Responden terdiri dari 17.186 penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia. Analisis menggunakan uji kai kuadrat untuk jenis data kategorik dan uji-t independent untuk jenis data numerik berdistribusi normal/Mann Whitney untuk jenis data numerik yang tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian ini menemukan bahwa prevalensi kejadian stroke pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia sebesar 4,5%. Hasil penelitian juga menemukan asosiasi perbedaan proporsi antara beberapa faktor secara individual terhadap kejadian stroke. Pada faktor sosiodemografi, usia ≥ 55 Tahun (POR: 1,768; 95% CI: 1,378 – 2,267), jenis kelamin laki-laki (POR: 1,475; 95% CI: 1,179 – 1,845), tingkat pendidikan rendah (POR: 0,556; 95% CI: 0,416 – 0,743), dan wilayah tempat tinggal di perdesaan (POR: 0,748; 95% CI: 0,576 – 0,972); faktor metabolik, kadar tekanan darah tinggi (hipertensi) (POR: 1,549; 95% CI: 1,203 – 1,995); faktor klinis, usia pertama kali didiagnosis DM ≤ 43 tahun (POR: 0,514; 95% CI: 0,358 – 0,736) dan lama menderita DM 5 – 9 Tahun (POR: 1,363; 95% CI: 1,037 – 1,791) dan ≥ 10 Tahun (POR: 1,322; 95% CI: 1,009 – 1,731); dan faktor perilaku, konsumsi makanan berisiko (POR: 0,603; 95% CI: 0,462 – 0,787) menunjukkan perbedaan proporsi yang berarti antara masing masing faktor terhadap kejadian stroke. Diharapkan pemangku kebijakan dapat mempertimbangkan faktor-faktor tersebut untuk menerapkan kebijakan atau program yang dapat menurunkan prevalensi kejadian stroke pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia.


 

Stroke is one of the leading causes of death in Indonesia. Individuals with type 2 diabetes  mellitus are at a higher risk of experiencing stroke compared to the general population.  However, research on stroke risk factors among type 2 diabetes mellitus patients in  Indonesia remains limited and mostly on hospital-based, resulting in a small population  scope that does not represent the national condition. Therefore, this study aims to examine  the factors associated with stroke among type 2 diabetes mellitus patients using data from  the 2023 Indonesian Health Survey with a cross-sectional design, involving 17,186  respondents. The analysis used the chi-square test for categorical data and the independent  t-test for numerical data with a normal distribution, or the Mann-Whitney test for  numerical data that are not normally distributed. This study found that the prevalence of  stroke among individuals with type 2 diabetes mellitus in Indonesia was 4.5%. The results  also showed differences in proportions between several single factors and the occurrence  of stroke: sociodemographic factors such as age ≥ 55 years (POR: 1,768; 95% CI: 1,378  – 2,267), male (POR: 1,475; 95% CI: 1,179 – 1,845), low education level (POR: 0,556;  95% CI: 0,416 – 0,743), and residing in rural areas (POR: 0,748; 95% CI: 0,576 – 0,972);  metabolic factor was high blood pressure (POR: 1,549; 95% CI: 1,203 – 1,995); clinical  factors such as being diagnosed with diabetes at  ≤ 43 years old (POR: 0,514; 95% CI:  0,358 – 0,736) and diabetes duration of 5 – 9 years (POR: 1,363; 95% CI: 1,037 – 1,791)  and ≥ 10 years (POR: 1,322; 95% CI: 1,009 – 1,731); and behavioral factor was  consumption of high-risk foods (POR: 0,603; 95% CI: 0,462 – 0,787). These findings  highlight the need for policymakers to consider these factors in developing strategies and  programs to reduce the prevalence of stroke among individuals with type 2 diabetes  mellitus in Indonesia.

Read More
S-11967
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive