Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33996 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wira Ona; Pembimbing: Hendra
S-2574
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Mudakir; Pembimbing: Krisnawati Bantas
S-2534
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Netty Elfrida; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati
S-4831
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiaraima Sisinta; Pembimbing: Hendra; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Yuni Kusminanti
S-4338
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iwan Kurniawan; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja
S-2807
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Ridwan; Pembimbing: Robiana Modjo, Adang Bachtiar
T-1637
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frida Lolita Siregar; Pembimbing: Besral
S-4002
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tommy Christian Hutabarat; Pwmbimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Dyah Eka Prasadjati
Abstrak: Kegiatan industri pertambangan emas merupakan industri yang padat modal, padat karya, dan padat teknologi. Interaksi yang tidak harmonis diantara ketiga aspek tersebut dapat menyebabkan timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang erat kaitannya dengan kelelahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan prevalensi kelelahan pada pekerja di PT. X Tahun 2017. Desain studi cross-sectional digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) dengan target penelitian sejumlah 288 responden yang berasal dari semua departemen di PT. X. Diketahui prevalensi kelelahan pekerja di PT. X yaitu sebanyak 136 pekerja mengalami kelelahan (36,8%) dan sebanyak 182 pekerja tidak mengalami kelelahan (63,2%). Dari hasil uji statistik ditemukan dua variabel yang signifikan antara lain, variabel kepuasan kerja (p-value=0,003; OR=2.140), dan variabel stres kerja (p-value=0,000). Kesimpulannya, faktor yang paling berpengaruh terhadap kelelahan merupakan faktor risiko psikososial. Sebagai upaya penanganan maka perlu dibentuk sistem manajemen penanggulangan kelelahan yang berkelanjutan, pengadaan dialog terbuka mengenai penanganan bahaya psikososial di tempat kerja, dan menerapkan komunikasi yang efektif dan budaya kerja yang kooperatif di setiap jenjang organisasi perusahaan.
Kata Kunci: kelelahan, pertambangan, kesehatan kerja, OFER

The activities of the gold mining industry are capital-intensive, labor-intensive, and technology-intensive industries. The unharmonious interactions between these three aspects can lead to work accidents and occupational diseases that are closely related to fatigue. The purpose of this study is to determine the factors associated with the prevalence of fatigue in workers at PT. X Year 2017. A cross-sectional study design was used in this study using the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire with a target of 288 respondents from all departments at PT. X. It is known that the prevalence of worker fatigue at PT. X as many as 136 workers experiencing fatigue (36.8%) and as many as 182 workers did not experience fatigue (63.2%). From the statistical test results found two significant variables i.e. job satisfaction variables (p-value = 0.003, OR = 2.140), and job stress variables (p-value = 0,000). In conclusion, the most influential factor for fatigue is psychosocial risk factors. In order to solve this problem, it is necessary to establish a sustainable fatigue management management system, to establish an open dialogue on the management of psychosocial hazards in the workplace, and to implement effective communication and cooperative working culture at every level of the organization.
Keyword: fatigue, mining, occupational health, OFER
Read More
S-9334
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Salwa Savitri; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rizki Rahmawati
Abstrak:
Mata merupakan indera manusia yang paling dominan dalam beraktivitas. Sekitar 90% aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dikendalikan oleh sistem penglihatan sehingga penglihatan yang terganggu akan berpengaruh terhadap berbagi domain fungsional. Kelelahan mata merupakan salah satu gangguan yang paling sering ditemui pada pekerja dan dapat terjadi di berbagai jenis pekerjaan, termasuk pada pekerja fabrikasi yang aktivitas pekerjaannya sangat mengandalkan mata serta membutuhkan konsentrasi visual yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan mata pada pekerja fabrikasi di PT XYZ tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 76 pekerja fabrikasi di PT XYZ. Variabel penelitian meliputi kelelahan mata, intensitas pencahayaan di tempat kerja, kelainan refraksi, usia, masa kerja, durasi kerja, jenis pekerjaan, dan penggunaan APD. Variabel intensitas pencahayaan diukur dengan lux meter, variabel kelelahan diukur dengan Visual Fatigue Questionnaire, dan variabel lain diukur dengan kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti. Data yang dikumpulkan dianalisis secara univariat dan bivariat, yaitu dengan uji chi-square dan mann-whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,1% pekerja fabrikasi di PT XYZ mengalami kelelahan mata. Tiga gejala terbanyak yang pernah dialami adalah mata terasa lelah (65,8%), penglihatan kabur atau buram (56,6%), dan iritasi mata (47,4%). Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kelainan refraksi (p=0,006), usia (p=0,034), dan masa kerja (p=0,004) dengan kelelahan mata. Rata-rata skor kelelahan mata juga berbeda secara signifikan berdasarkan intensitas pencahayaan (p=0,049) dan durasi kerja (p=0,007). Oleh sebab itu, untuk meminimalisir risiko kelelahan mata, perlu dilakukan perbaikan yang mencakup faktor-faktor risiko tersebut.


The eyes are the most dominant human sensory organ in daily activities. Approximately, 90% of everyday tasks rely on the visual system; therefore, impaired vision can affect various functional domains. Eye fatigue is one of the most common visual complaints among workers and can occur in various types of jobs, including fabrication work, which heavily depends on visual concentration. This study aims to analyze the factors associated with eye fatigue among fabrication workers at PT XYZ in 2025. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed, involving 76 fabrication workers. The variables examined included eye fatigue, lighting intensity in the workplace, refractive errors, age, years of service, working hours, job type, and the use of personal protective equipment (PPE). Lighting intensity was measured using a lux meter, eye fatigue was assessed using the Visual Fatigue Questionnaire, and other variables were measured through a self-developed questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, specifically chi-square and Mann-Whitney tests. The results showed that 67.1% of workers experienced eye fatigue. The three most commonly reported symptoms were tired eyes (65.8%), blurred vision (56.6%), and eye irritation (47.4%). Significant associations were found between eye fatigue and refractive errors (p=0.006), age (p=0.034), and years of service (p=0.004). Significant differences in average eye fatigue scores were also observed based on lighting intensity (p=0.049) and working hours (p=0.007). Therefore, to minimize the risk of eye fatigue, improvements targeting these risk factors are necessary.
Read More
S-12101
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Dayu Yohana Sihombing; Pembimnbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Avliya Quratul Marjan
Abstrak:
Gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat pada populasi dewasa dan pekerja. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular serta berdampak pada produktivitas kerja. Pekerja sektor konstruksi memiliki karakteristik pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi memengaruhi status gizi melalui karakteristik individu, asupan zat gizi, dan faktor perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada pekerja di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional Sampel penelitian berjumlah 124 pekerja laki-laki yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara, dan pengisian kuesioner. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik individu (usia, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan), asupan zat gizi (energi, karbohidrat, protein, dan lemak), serta faktor perilaku (aktivitas fisik, perilaku merokok, dan durasi tidur). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69,4% pekerja mengalami status gizi lebih. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,035), tingkat pendapatan (p=0,021), asupan energi (p=0,031), aktivitas fisik (p=0,036), dan perilaku merokok (p=0,004) dengan status gizi lebih pada pekerja PT X. Sementara itu, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, asupan karbohidrat, asupan protein, asupan lemak, dan durasi tidur tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan status gizi lebih (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa status gizi lebih merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi pada pekerja PT X. Faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih meliputi karakteristik individu berupa usia dan tingkat pendapatan, faktor asupan berupa asupan energi, serta faktor perilaku berupa aktivitas fisik dan perilaku merokok. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian status gizi lebih melalui pengendalian asupan, peningkatan aktivitas fisik di luar jam kerja, serta edukasi kesehatan yang mempertimbangkan karakteristik pekerja yang berisiko.

Overnutrition is one of the health problems that continues to increase among adult and working populations. This condition can increase the risk of various non-communicable diseases and negatively affect work productivity. Construction workers have occupational and work-environment characteristics that may influence nutritional status through individual characteristics, nutrient intake, and behavioral factors. This study aimed to analyze the factors associated with overnutrition among workers at PT X in 2026. This study employed a cross-sectional design. A total of 124 male workers were selected using a convenience sampling technique. Data were collected through anthropometric measurements, interviews, and questionnaires. The variables studied included individual characteristics (age, type of work, marital status, educational level, and income level), nutrient intake (energy, carbohydrate, protein, and fat intake), and behavioral factors (physical activity, smoking behavior, and sleep duration). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test. The results showed that 69.4% of workers had overnutrition. Bivariate analysis demonstrated significant associations between age (p=0.035), income level (p=0.021), energy intake (p=0.031), physical activity (p=0.036), and smoking behavior (p=0.004) and overnutrition among PT X workers. Meanwhile, type of work, marital status, educational level, carbohydrate intake, protein intake, fat intake, and sleep duration were not significantly associated with overnutrition (p>0.05). It can be concluded that overnutrition is a relatively prevalent health problem among PT X workers. Factors associated with overnutrition include individual characteristics (age and income level), dietary factors (energy intake), and behavioral factors (physical activity and smoking behavior). Therefore, efforts to prevent and control overnutrition among workers are needed through the management of intake, promotion of physical activity outside working hours, and health education programs that take into account the characteristics of at-risk workers.
Read More
S-12365
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive