Ditemukan 37808 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Yayat Rohayati; Pembimbing: Kusharisupeni
S-3299
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nofriyanto; Pembimbing: Kusharisupeni
S-3438
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ina Cahya Maulina; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari
S-3345
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adibah Rachmawaty; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Sugiatmi
Abstrak:
Read More
Sindrom Makan Malam (SMM) adalah kondisi gangguan makan yang dikelompokkan ke dalam Other Specified Feeding or Eating Disorder (OSFED). Perilaku SMM dapat diidentifikasi menggunakan instrumen Night Eating Questionnaire (NEQ) yang terdiri dari lima kriteria, antara lain tidak merasa lapar di pagi hari (morning anorexia) yang menyebabkan bergesernya waktu sarapan, makan yang berlebihan di malam hari (evening hyperphagia) baik setelah makan malam, sebelum tidur, maupun di antara waktu tidur, tidur larut malam (insomnia), makan di antara waktu tidur (nocturnal ingestion), yaitu makan saat terbangun di antara waktu tidur tetapi dalam keadaan sadar, dan pengulangan keempat kriteria tersebut selama lebih dari 3 bulan. Salah satu dampak yang diakibatkan oleh SMM adalah obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proporsi sindrom makan malam berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal pada siswa SMA. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah sindrom makan malam. Sementara variabel independen yang termasuk faktor internal adalah jenis kelamin, aktivitas fisik, status gizi, kualitas tidur, depresi, kepercayaan diri, kebiasaan sarapan, frekuensi makan utama, dan frekuensi jajan. Sedangkan variabel independen yang termasuk ke dalam faktor eksternal adalah pengetahuan gizi dan uang saku. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Pengambilan data dilakukan di bulan Mei tahun 2024 kepada 130 siswa-siswi kelas X dan XI SMA Negeri 2 Cibinong yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Dari penelitian ini ditemukan bahwa sebanyak 29,2% responden memiliki sindrom makan malam. Hasil dari penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan proporsi sindrom makan malam berdasarkan kualitas tidur, depresi, kepercayaan diri, frekuensi makan utama, dan frekuensi jajan pada siswa SMA Negeri 2 Cibinong (p-value < 0,05). Berdasarkan pemodelan akhir analisis multivariat juga ditemukan bahwa depresi menjadi faktor dominan terhadap SMM. Oleh karena itu, disarankan agar para siswa lebih memerhatikan kebiasaan tidur, keadaan mental, serta lebih menerapkan mindful eating. Disarankan pula kepada pihak sekolah agar dilakukan skrining kesehatan mental untuk para siswa secara berkala.
Night Eating Syndrome (NES) is an eating disorder classified under Other Specified Feeding or Eating Disorder (OSFED). NES behavior can be identified using the Night Eating Questionnaire (NEQ), which consists of five criteria: lack of hunger in the morning (morning anorexia) leading to delayed breakfast time, excessive eating at night (evening hyperphagia) either after dinner, before bedtime, or during the night, late-night insomnia, nocturnal ingestion (eating upon waking up during the night while being conscious), and the recurrence of these four criteria for more than 3 months. One impact of NES is obesity. This study aims to determine the differences in the proportion of night eating syndrome based on internal and external factors among high school students. The dependent variable in this study is night eating syndrome. Meanwhile, the independent variables classified as internal factors include gender, physical activity, nutritional status, sleep quality, depression, self-esteem, breakfast habits, main meal frequency, and snack frequency. The independent variables classified as external factors are nutritional knowledge and pocket money. This study uses a quantitative method with a cross-sectional study design. Data collection was conducted in May 2024 with 130 students from grade X and XI at SMA Negeri 2 Cibinong who met the inclusion and exclusion criteria. The data was then analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods. The study found that 29.2% of respondents had night eating syndrome. The results also showed differences in the proportion of night eating syndrome based on sleep quality, depression, self-esteem, main meal frequency, and snack frequency among students at SMA Negeri 2 Cibinong (p-value < 0.05). The final multivariate analysis modeling also found that depression is a dominant factor for NES. Therefore, it is recommended that students pay more attention to sleep habits, mental state, and practice mindful eating. It is also recommended that the school conduct regular mental health screenings for students.
S-11720
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Trulyana Tantiani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari
S-3844
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Seala Septiani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Salimar
S-7070
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wilda Welis; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati
Abstrak:
Read More
Gizi lebih adalah suatu keadaan kelebihan berat badan bila dibandingkan dengan standar sesuai umur dan jenis kelamin. Gizi lebih pada dasarnya disebabkan ketidakseimbangan energi. Di satu sisi konsumsi energi yang berlebihan karena mengkonsumsi makanan tinggi kalori dan lemak tapi rendah serat seperti konsumsi fastfood dan makanan jajanan. Dari sisi lain rendahnya penggunaan energi karena gaya hidup sedentaris seperti banyaknya aktifitas menonton televisi dan sedikit berolahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gizi lebih pada siswa SLTP Kesatuan dan SLTP Bina Insani Kota Bogor. Desain penelitian ini adalah crossectional dan cara pengambilan sampel dengan cara acak sederhana. Sampel adalah siswa kelas 1, 2 dan 3 SLTP Kesatuan dan SLTP Bina Insani yang berjumlah 200 orang. Analisis data dilakukan dengan uji khai kuadrat dan regresi logistik ganda. Variabel independen adalah umur, jenis kelamin, pengetahuan gizi, persepsi terhadap tubuh, jumlah uang saku, frekuensi makan, kebiasaan jajan, kebiasaan mengkonsumsi .fastfood, konsumsi energi, protein, karbohidrat, lemak, lama menonton televisi, lama tidur, kebiasaan olah raga, pendapatan keluarga, pendidikan ayah, pendidikan ibu dan status gizi orang tua. Hasil penelitian ini mendapatkan persentase siswa dengan gizi lebih sebesar (44,9%). Ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin laki-laki, kebiasaan selalu jajan, kebiasaan olah raga yang rendah, pendidikan ayah yang rendah, pendapatan keluarga rendah dan orangtua yang gizi lebih dengan kejadian gizi lebih pada siswa. Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda didapatkan variabel yang paling dominan berhubungan dengan gizi lebih adalah kebiasaan jajan ( OR= 5,311 ; 95% CI: 2,457 - 11,482 ). Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan kepada Departemen Kesehatan bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional agar menggiatkan kembali program UKS dan promosi gizi siswa sekolah lanjutan tingkat pertama serta peningkatan sosialisasi PUGS untuk remaja. Bahan Bacaan : 134 (1980-2003)
Analysis Factors Related to Overweight at Student of SLTP Kesatuan and SLTP Bina Insani in Bogor 2003Overweight is an increase of body weight above a standard for age and sex. Overweight is a problem of nutrient imbalance as more foodstuff are stored as fat than are used for energy and metabolism. This study aim to examine factors that related to overweight at student of SLTP Kesatuan and SLTP Bina Lnsani in Bogor. This research using crossectional design and simple random sampling. The samples were student grade 1-3, total sample are 200 students. Data analysis by chi square and multiple logistic regression. Variables age, sex, knowledge nutrition, body perception, pocket money, food frequency, habit to buy snack, habit to eat fastfood, food consume, duration of viewing TV, sleep duration, exercise, family income, father and mother' education and nutritional status of parent are as independent variables. The result of this study found that subject with overweight was 44,9%. Based on bivariate analysis, male, high habit to buy snack, low habit of exercise, low father's education, Iow family income and parental overweight showed significant correlation with overweight in adolescent. The most dominant variable to overweight was habit to buy snack. We recommended to Ministry of Health and Department of Education to reactive School Health Program (UKS), Nutrition Education and Marketing Indonesian Nutrition Guideline (PUGS) for adolescent. References : 134 (1980-2003)
T-1685
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ati Hayati; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Ida Ruslita
S-6460
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Thonnay Nickelda Nawipa; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Anna Fitriani
Abstrak:
Read More
Remaja adalah kelompok umur yang rentan mengalami masalah gizi salah satunya masalah gizi lebih. Gizi lebih (overweight dan obesitas) pada remaja dapat menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan dan merupakan faktor risiko penyakit tidak menular saat dewasa. Telah terjadi peningkatan prevalensi gizi lebih pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Prevalensi gizi lebih pada remaja di Papua (40,3%) lebih tinggi dibandingkan prevalensi gizi lebih di tingkat Nasional (29,5%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi lebih dengan beberapa faktor pada siswa di SMA Negeri 3 Jayapura. Variabel dependen pada penelitian ini adalah status gizi lebih. Sedangkan variabel independennya yaitu perilaku makan, jenis kelamin, asupan zat gizi makro, citra tubuh, pengetahuan gizi, aktivitas fisik, merokok, durasi tidur, stres, teman sebaya, uang saku dan tingkat pendidikan orang tua. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2022 di SMA Negeri 3 Jayapura dengan jumlah responden 155 siswa yang dipilih menggunakan metode quota sampling. Data diperoleh melalui pengukuran antropometri, pengisian kuesioner secara mandiri, dan pengisian formulir estimated food record. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil menunjukan bahwa prevalensi gizi lebih pada siswa di SMA Negeri 3 Jayapura sebesar 43,9%. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, citra tubuh, teman sebaya dengan status gizi lebih. Sedangkan tidak terdapat hubungan antara perilaku makan, jenis kelamin, asupan protein, pengetahuan gizi, aktivitas fisik, merokok, durasi tidur, stres, uang saku, dan tingkat pendidikan orang tua dengan status gizi lebih. Namun terdapat kecenderungan status gizi lebih banyak dialami oleh kelompok siswa dengan perilaku makan tidak sehat dan asupan protein lebih. Pihak sekolah disarankan untuk rutin melakukan pemantauan status gizi, memberikan edukasi terkait gizi seimbang dan status gizi, melakukan bimbingan konseling terkait pengelolahan stres dan citra tubuh kepada para siswa.
Adolescents are an age group that is prone to nutritional problems, one of which is overnutrition. Overnutrition (overweight and obesity) in adolescents can cause adverse health effects and is a risk factor for non-communicable diseases in adulthood. There has been an increase in the prevalence of overnutrition at the local, national, and international levels. The prevalence of overnutrition in adolescents in Papua (40.3%) is higher than the prevalence of overnutrition at the national level (29.5%). This study aims to determine the association between overnutritional status with several factors among students in Senior High School 3 Jayapura. The dependent variable in this study was overnutritional status. The independent variables were eating behaviour, gender, macro nutrional intake, body image, nutritional knowledge, physical activity, smoking, sleep duration, stress, peers, pocket money and parent education level. This research is a quantitative study using cross sectional design. This study conducted in August 2022 at Senior High School 3 Jayapura with a total of respondents 155 students who were selected using the quota sampling method. Anthropometric measurements, questionnaires completed by independently, and an estimated food record form were used to collect data. Data was analyzed univariate and bivariate using the Chi square test. The results show that the prevalence of overnutrition in students at Senior High School 3 Jayapura was 43.9%. Statistical test results show that there were a significant relationship between energy intake, carbohydrate intake, fat intake, body image and peers with overnutrition. There was no relationship between eating behavior, gender, protein intake, nutritional knowledge, physical activity, smoking, sleep duration, stress, pocket money, and education level of parents with overnutritional status, but there was a tendency for overnutritional status in the group with unhealthy eating beaviour and high protein intake. Suggestions for schools to routinely monitor nutritional status, provide education related to balanced nutrition and nutritional status, conduct counseling related to stress management and body image to students.
S-11207
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Martiana; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Engkus Kusdinar Ahmad, Rahmawati
S-6369
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
