Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40588 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewi Utami N; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Dian Ayubi, Didin Aliyudin
S-5207
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Athi Susilowati Rois; Pembimbing: Meiwita P. Budiharsana; Penguji: Besral, Herti Suherti Rahmi
Abstrak: Penilaian kualitas profil dilihat dari aspek kelengkapan, akurasi dan konsistensi data/informasi kesehatan ibu dan neonatus dan ketepatan waktu terbit, mengacu pada petunjuk teknis PMKDR. Dinilai pula faktor sumber daya SIK (khususnya koordinasi SIK, sumber daya manusia SIK dan infrastruktur SIK) dan manajemen data (khususnya ketersediaan data), menggunakan instrumen HMN. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Responden dalam penelitian ini 56 dinas kesehatan kabupaten/kota tahun 2012, dengan kepala unit yang menangani data sebagai unit analisis. Hasil penelitian ini mendapatkan 69,6% profil berkualitas baik, koordinasi dan SDM SIK belum optimal (57,1%; 69,6%), serta infrastruktur SIK dan ketersediaan data umumnya optimal (67,9%). Terdapat hubungan antara SDM SIK dan ketersediaan data dengan kualitas pemantauan profil kesehatan kabupaten/kota (OR 4,69 dan 2,58). Penelitian ini menyarankan perlu diprioritaskan pengembangan kemampuan SDM SIK, perlu ditingkatkan ketersediaan data melalui kerjasama yang baik dengan unit internal maupun eksternal serta perlu dilakukan pemantauan kualitas profil kesehatan secara berjenjang. Kata Kunci : Kualitas profil kesehatan, Pemantauan Mandiri Kualitas Data Rutin (PMKDR), Sistem Informasi Kesehatan (SIK)
Read More
T-4219
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mas Herlanto Yudho Pradono; Pembimbing: Sudiyanto Kamso
S-3184
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maylan Tiolina Misrain Sianipar; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Anindita Dyah Sekarputri
Abstrak: Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi. Laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa semakin rendah kuintil kekayaan (semakin miskin), maka AKB akan semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui determinan kematian bayi pada keluarga miskin di Indonesia dalam rangka upaya mencegah kematian bayi pada keluarga miskin dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat perekonomian rendah.
 
Penelitian ini menggunakan desain studi crossectional dengan populasi penelitian meliputi wanita usia subur 15 - 49 tahun yang berada pada kuintil 1 (poorest) dan kuintil 2 (poorer).
 
Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa determinan kematian bayi pada keluarga miskin di Indonesia adalah berat bayi lahir, jenis kelamin bayi, dan penolong persalinan, sedangkan umur ibu, paritas, jarak kelahiran, jumlah kunjungan pemeriksaan antenatal, ukuran bayi saat lahir, dan tempat persalinan merupakan variabel konfounding.
 
Pemerintah perlu menyediakan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau oleh keluarga miskin ataupun mendatangi keluarga miskin untuk melakukan pemeriksaan antenatal. Pengelola program kesehatan perlu mengupayakan program yang membantu ibu miskin memenuhi kecukupan gizi selama mengandung untuk mencegah bayi lahir dengan BBLR; mengintervensi ibu terkait pengaruh jenis kelamin bayi terhadap kematian bayi sehingga dapat dilakukan pencegahan sejak dini; dan menggalakkan program kesehatan yang mengupayakan agar ibu dapat bersalin di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh petugas kesehatan.
 

fant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is still relatively high. Reports Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) 2012 show that the lower quintiles of wealth (the poor), the IMR will be higher. This study aims to find out the determinants of infant mortality in poor families in Indonesia in an effort to prevent infant mortality in poor family and improve the health of low economic communities.
 
This study used a cross-sectional study design with the study population includes women of childbearing age 15-49 years who are in quintile 1 (poorest) and quintile 2 (poorer).
 
Multivariate analysis show that the determinants of infant mortality in poor families in Indonesia were birth weight, infant gender, and assistance of delivery, while maternal age, parity, birth spacing, number of antenatal visits, size of the infant at birth, and place of delivery is the variable konfounding.
 
The government should provide health care that is easily accessible by poor families or poor families came to do the antenatal care. Health program managers need to pursue programs that help meet the nutritional adequacy poor mothers during pregnancy to prevent infant delivery with low birth weight; mother intervenes related to the influence of the sex of the infant so that the infant mortality can do early prevention; and promote health programs support mothers to delivery at health facility and adelivery by health workers.
Read More
S-8528
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musafaah; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Toha Muhaimin, Besral, Flourisa J. Sudrajat, Siti Nurul Qomariah
Abstrak:

Jumlah penduduk, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)di Indonesia masih tinggi sehingga diperlukan program KB. Pria telah ber-KB sejak dulu dengan metode pantang berkala dan kondom telah dikenal berabadabad yang lalu tetapi sejak ditemukan kontrasepsi wanita, pria diabaikan dalam program KB. Keikutsertaan pria dalam ber-KB masih sangat rendah jika dibandingkan negara Bangladesh, Pakistan dan Nepal. Tesis ini membahas mengenai determinan keikutsertaan pria dalam ber-KB. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 dengan pendekatan cross sectional terhadap 6013 pria menikah usia 15-54 tahun. Teknik pengambilan sampelnya dilakukan dengan two stage sampling. Pengolahan datanya menggunakan SPSS Complex Sample versi 13. Analisis datanya menggunakan chi square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan determinan keikutsertaan pria menikah dalam ber-KB adalah jumlah anak, pendidikan, pekerjaan, diskusi KB dengan istri, sikap terhadap KB, kontak informasi KB melalui media massa, interaksi pendidikan dengan sikap terhadap KB,  dan adanya interaksi pendidikan dengan pekerjaan dan interaksi sikap terhadap KB dengan pekerjaan sedangkan tempat tinggal adalah variabel konfounding pada model ini. Variabel yang paling berpengaruh atau dominan pada model ini adalah pendidikan dengan OR = 15,02. Hasil penelitian menyarankan bahwa BKKBN lebih banyak mempromosikan program KB untuk pria melalui televisi dan lebih mensosialisasikan cara menghitung masa subur wanita sehingga pasangan suami istri dapat ber-KB secara mandiri dengan metode tradisional, program KB tidak hanya fokus pada wanita tetapi sebaiknya pria dilibatkan, dan perlu adanya penemuan alat kontrasepsi baru bagi pria agar priamendapat kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi. Kata kunci: KB, determinan, keikutsertaan pria


 Total of citizen, maternal death rate, and infant mortality rate in Indonesia are still high so needed family planning program. Men already used contraception for a long time ago with withdrawal and condom had known for centuries ago but since it is founded contraception for women, men have ignored in family planning program. The involving of men in family planning in Indonesia is still lower than Bangladesh, Pakistan, and Nepal.The thesis discuss about determinant of involving married men at 15-54 years old in family planning in Indonesia. This research use secondary data from Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) 2007 with cross sectional study at 6014 married men 15-54 years old. The sampling method is two stage sampling. The processing of data is with SPSS Complex Sample version 13. The analysis of data uses chi square and logistic regression. The result shows that determinant of involving men in family planning are number of children, education, occupation, discuss family planning with wife, attitude of family planning, contact information of family planning through mass media and there are the interaction between education and attitude of family planning, education and occupation, attitude of family planning and occupation. Residence is as confounder variable in this result. Variable which is the most dominant in this model is education with OR=15,02. This result suggests that BKKBN promote family planning for men in television, more sosialize how to count ovulation of women so a couple can use traditional method of family planning, family planning program is not only focus on women but also men should be involved and there is needed the research of new contaception for men so men can get freedom of choosing contraception. Key words: family planning, determinant, the involving of men

Read More
T-3319
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sigit Budi Purwatmoko Sukirman; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral
T-1879
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tetty Herta Doloksaribu; Pembimbing: Sudijanto Kamso, Kusharisupeni; Penguji: Luknis Sabri, Soewarto Kosen, Itje A. Ranida
Abstrak: Latar Belakang:Umur 12-23 bulan termasuk dalam periode emas pertumbuhan otak, namun prevalensi anemia pada anak umur tersebut paling tinggi dibandingkan dengan prevalensi anemia pada anak balita dengan kelompok umur yang lebih tua yaitu lebih dari 50%. Anak-anak yang menderita anemia, perkembangan psikomotornya akan terhambat, menurunnya kemampuan bahasa, motorik dan koordinasi serta menyebabkan anoreksia, perubahan fungsi saluran pencernaan serta turunnya kekebalan tubuh. Tujuan: Mengetahui gambaran anemia dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada anak umur 12-23 bulan. Metode: Data yang digunakan adalah data Nutrition and Health Surveillance System-NSS periode Maret hingga Juni 2003 oleh HKI Indonesia bekerjasama Depkes RI di pedesaan pada 7 propinsi yaitu Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Desain penelitian adalah potong lintang dan analisis data dengan regresi logistik multivariat menggunakan program STATA 7.0. Hasil: Proporsi anemia pada anak umur 12-23 bulan di pedesaan pada 7 propinsi di Indonesia adalah 63.33%. Faktor yang signifikan berhubungan adalah status gizi menurut indeks TB/U yang berinteraksi dengan kehadiran anak di posyandu, penyakit infeksi, pemberian ASI, frekuensi konsumsi susu dan jumlah anggota keluarga. Kesimpulan: Faktor yang lebih dominan hubungannya dengan anemia pada kelompok umur 12-23 bulan adalah kehadiran anak di posyandu. Kata kunci: Faktor-faktor, anemia, umur 12-23 bulan.
Background: Ages 12-23 months is the prime period for a child’s brain development. The prevalence of anaemia in this group of age is 50%, higher than those with the group of older under-five children. Children who suffer anaemia will got slow development of psychomotor, reduced language skills, their motoric skills and coordination, anorexia, deficiency in the digestive system and deficiency in the immune system. Objective: This research aims to investigate the anaemia descriptions and the factors in associated with cases of anaemia among children aged 12-23 months. Design: The data used is the Nutrition and Health Surveillance System-NSS from March 2003 to June 2003 by Helen Keller International (HKI) Indonesia in cooperation with Government of Indonesia (GOI). The data is collected from rural areas in 7 provinces: Lampung, Banten, West Java, Central Java, East Java, West Nusa Tenggara and South Sulawesi. The design of this study is cross-sectional.The data is analysed with multiple logistic regression by using STATA 7.0. Result: The research indicates that the proportion of anaemia on children ages 12-23 months in the aforementioned 7 provinces is 63.33%. The significant factors associated with anemia are the nutrient state of the children (height for age index), infection-related diseases, breast-milk feeding, milk consumption, the number of family and the attendance of children at integrated health post (posyandu). There are interactions between nutrient state of the children with the attendance of children at posyandu. Conclusions: Out of The significant factors associated with anemia, the most dominant is the attendance rate of the children at posyandu. Key words: Factors, anaemia, aged 12-23 months.
Read More
T-2108
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive