Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38852 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yunardi; Pembimbing: Hafizurrachman
S-2532
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oki Permana; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Anwar Hassan, Kusdinar Achmad, Sunarko, Siane Nursianti T.
Abstrak:
Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997 menjadi ancaman yang serius. Kejadian tersebut menimbulkan bencana kekurangan pangan dan gizi yang akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang. Tim Pangan dan Gizi (TPG) adalah suatu tim kerja dengan dasar hukum Inmendagri nomor 23/1998 dan SK Gubernur Propinsi Jambi nomor 63/1999 yang secara berjenjang membantu Gubernur, Bupati/Walikota, Camat, Kepala Desa/Kepala Kelurahan dalam upaya menunjang pemantauan, evaluasi ketahanan pangan dan gizi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan kerawanan pangan dan gizi secara lebih cepat, tepat, dan terpadu, serta bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi antar instansi sektoral. Pada kenyataannya TPG Propinsi jambi mempunyai masalah dalam melaksanakan koordinasi TPG Propinsi. Untuk itu penulis ingin mengetahui gambaran pelaksanaan koordinasi TPG Propinsi Jambi dalam pelaksanaan Gerakan Nasional Penanggulangan Masalah Pangan dan Gizi di Propinsi Jambi tahun 2000. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, penelusuran data yang terdokumentasi, dan observasi yang mencakup 18 orang informan anggota TPG Propinsi dan Kabupaten/Kota, informan ini adalah para pejabat struktural di instansi terkait yang memahami kegiatan TPG Propinsi Jambi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan koordinasi TPG Propinsi Jambi dalam pelaksanaan Gerakan Nasional Penanggulangan Masalah Pangan dan Gizi belum efektif, karena elemen input yang dianalisis ternyata belum semua mendukung proses, yaitu belum adanya uraian tugas dan anggaran, sehingga proses koordinasi belum terlaksana dengan baik, ditandai dengan rapat koordinasi belum konsisten, perencanaan, pembinaan dan evaluasi belum terpadu. Kondisi ini tercermin dalam output dimana dokumen perencanaan, pembinaan, evaluasi dan laporan TPG Kabupaten belum lengkap. Mengingat koordinasi antar sektor terkait dalam wadah TPG Propinsi belum mencapai hasil yang efektif, maka untuk memperoleh hasil guna dan daya guna kegiatan TPG Propinsi yang maksimal disarankan untuk meningkatkan keterbukaan diantara anggota TPG Propinsi melalui rapat berkala yang konsisten, pembuatan uraian tugas, perencanaan dan evaluasi yang terpadu, serta memperbaiki organisasi TPG sesuai dengan peraturan dan perundangan yang mengacu kepada desentralisasi, otonomi daerah, dan kewenangan daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota sebagai wilayah administrasi di bidang kesehatan, salah satunya adalah penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi.

Analysis of Coordination of Nutrition and Food Team's in Implementation of National Movement for Nutrition and Food Problems Intervention in Jambi Province, 2000Economic crisis in Indonesia since the middle of 1997 has become a serious threat, and caused the nutrition and food deficiency disaster that worsen the human resources quality in the future. Nutrition and Food Team is a hierarchical team work that supports and assists the governor in evaluating and control is the nutrition and food availability to prevent the nutrition and food deficiency accurately and quickly. In addition, as an integrated activity, Nutrition and Food Team aims to increase the inter-related sector's communication and coordination. In fact, this team has a coordination problem. There fore, it is necessary to observe that's coordination implementation in ?National Movement of Nutrition and Food Aspect in 2000". This research is a case study with qualitatively approached. Data is gathered through in-depth interview, collection of documented data and observation. In-depth interview is conducted with 18 informants who were member of that team. They are structural staffs in related instances. The results showed there is ineffectiveness coordination, because there is no special job description and no special cost to support the process. So that, it was cannot be carried out well. This condition was reflected through inconsistency meetings, disintegrated evaluating and planning. There fore, the openness must be increased among the Team's members through conducting the periodic meetings. The other side, it is important to design the special job description, to allocate the special cost, to make integrated evaluating and planning, and upgrade the Team's structure toward the autonomic and decentralized rule.
Read More
T-996
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mu`min; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Iwan Ariawan, Sudijanto Kamso, Bambang Harianto, Rita Kemalawati
T-1292
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evino Sugriarta; Pembimbing: Mieke Savitri
T-997
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Etty Agustijani; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Purnawan junadi, Kusharisupeni, Tatang S. Falah, Sunarko
Abstrak:

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah sarana kesehatan terdepan yang memberi pelayanan kesehatan termasuk gizi kepada masyarakat. Upaya perbaikan gizi melalui puskesmas bertujuan untuk menangulangi masalah gizi dan meningkatkan status gizi masyarakat. Di Puskesmas Kecamatan upaya perbaikan gizi dilaksanakan oleh Ahli Gizi, namun di Puskesmas Kelurahan upaya perbaikan gizi dilaksanakan oleh beberapa macam tenaga gizi puskesmas seperti Ahli Gizi, Pembantu Ahli Gizi, bidan, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya. Upaya perbaikan gizi melalui Puskesmas Kelurahan, belum dapat dilaksanakan secara efektif karena belum semua Puskesmas Kelurahan memiliki tenaga gizi yang professional dalam bidang gizi, kemampuan terbatas, dan masalah gizi yang dihadapi sangat luas. Mengingat bahwa di Propinsi DKI Jakarta belum pernah dilakukan penelitian terhadap kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan dalam kegiatan gizi posyandu, serta mengacu kepada penelitian sebelumnya di tempat lain, maka perlu dilakukan penelitian agar diperoleh informasi bagaimana gambaran kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan dalam kegiatan gizi posyandu dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Cross sectional dengan pendekatan pengukuran kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian adalah seluruh petugas gizi puskesmas kelurahan di Propinsi DK.1 Jakarta yang berjumlah 274 orang petugas gizi puskesmas kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan 48,9 % kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan balk dan 51,1 % kinerja buruk. Sebanyak 46,4 % petugas gizi puskesmas kelurahan melakukan kegiatan gizi posyandu dengan balk dan 53,6 % melakukan kegiatan gizi posyandu tidak balk. Berdasarkan analisis multivariat dengan uji Regresi Logistik Ganda, didapat adanya hubungan yang bermakna dengan kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan adalah kegiatan gizi posyandu, pendidikan petugas, lama kerja petugas, supervisi petugas gizi puskesmas kecamatan, dan pembinaan Kepala Puskesmas Kelurahan. Sedangkan yang berhubungan secara statistik dengan kegiatan gizi posyandu adalah usia petugas, sarana transportasi, sarana kegiatan, beban tugas dan pembinaan Kepala Puskesmas Kelurahan. Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan dalam kegiatan gizi posyandu perlu dilakukan pengaturan pegawai di puskesmas kelurahan dimana petugas yang berusia < 44 tahun ditugaskan sebagai petugas gizi dan untuk meningkatkan kinerjanya dapat ditingkatkan pendidikannya sampai jenjang D3 atau S1 gizi. Disamping itu untuk menunjang dalam pelaksanaan kegiatan gizi di posyandu perlu didukung dengan sarana transportasi berupa sepeda motor atau dana transportasi. Peranan pembinaan Kepala Puskesmas Kelurahan sangat mendukung terhadap peningkatan kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan. Untuk menyampaikan informasi dari tingkat Sudinkes atau Dinas Kesehatan maka supervisi Petugas Gizi Puskesmas Kecamatan sangat membantu dalam rangka pembinaan untuk meningkatkan kinerja petugas gizi Puskesmas Kelurahan.


 

Primary Health Centres (Puskesmas) is the frontier of health care services including nutrition services. The nutrition program through Puskesmas is aimed to overcome nutrition problem and improve nutritional status of the population. In sub-district Puskemas, the nutrition program is conducted by a nutritionist. However, in Puskesmas kelurahan, the program is conducted by various staff qualifications, such as nutritionist, assistant nutritionist, midwives, nurses, or other health care professionals. Nutrition program in Puskesmas has not been properly conducted as not all Puskesmas Kelurahan have the appropriate nutritionist, or have limited skill, while the nutrition problem is very wide. As there has been no known studies in the performance of the nutrition staff in the Posyandu activities in DKI Jakarta, it is thought that such studies is important to be conducted. The design used in this study is a Cross Sectional study with quantitative and qualitative approach. Samples were drawn from a population of 274 nutrition staff in Puskesmas kelurahan. The result was that 48.9% of respondents showed good performance and 46.4% conducted good nutrition activities in the Posyandu. Multivariate analysis with double logistic regression showed significant relationship between performance of nutrition staff with (I) nutrition activities in Posyandu, (2) education level, (3) length of services, (4) supervision from Puskesmas Kecamatan, and (5) guidance from head of the Puskesmas. Statistically significant relationships were found between Posyandu nutrition activities and (1) age of staff, (2) availability of transportation means, (3) equipments availability, (4) workload, and (5) guidance from head of the Puskesmas. The study suggested that to improve nutrition staff performance in Posyandu nutrition activities it is necessary to manage the staff so that appointed nutrition staff would be less than 44 years in age. To improve the performance it is suggested to increase education level of the staff to at least diploma level or a degree in nutrition. Availability of transportation vehicles or sufficient find for transportation is also recommended to improve the Posyandu activities. Guidance from head of the Puskesmas is also necessary to improve the performance of the staff. Supervision from the Puskesmas Kecamatan nutritionist is also important to communicate information from district health office in order to improve performance of the star.

Read More
T-1334
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nina Elvita; Pembimbing: Hafizurrachman
T-1614
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Solihin; Pembimbing: Hendrik Manarang Taurany; Penguji: Peter Albert W. Pattinama, Mieke Savitri, Sam Askari Soemadipradja, Astuti Arifin
T-2645
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Antony Azarsyah; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Amal C Sjaaf, Budi Hartono, Edduwar I. Riyadi
Abstrak: Gejolak emosi yang dialami oleh remaja menyebabkan mereka rentan terhadapberbagai masalah perilaku negatif seperti menurunnya prestasi belajar, tawuran,kenakalan remaja, putus sekolah dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, danzat adiktif (NAPZA) hingga perilaku seks bebas. Di masa seperti sekarang ini,dimana orangtua sibuk dalam usahanya memenuhi kebutuhan keluarga denganbekerja justru peran Guru di sekolah lebih besar perannya dibandingkan denganperan orangtua. Dengan porsi pertemuan yang lebih besar dengan murid tentupara guru juga harus dibekali dengan pengetahuan tentang kesehatan jiwa remaja.Tesis ini ingin mengetahui peranan Guru BK dalam penanggulangan masalahkesehatan jiwa remaja siswa-siswi SMP Negeri di Jakarta Timur thun 2014.Desain penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan desainstudi cross sectional (potong lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah GuruBimbingan dan Konseling yang berdinas di SMP Negeri di Kota AdministratifJakarta Timur. Jumlah Guru Bimbingan dan Konseling yang berdinas di SMPNegeri di Kota Administratif Jakarta Timur sebanyak 293 orang. Sampel yangdiambil berjumlah 110 orang. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri di Kotaadministrative Jakarta Timur tempat Guru BK mengajar. Analisis Bivariatmenyimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara Sosiodemografi GuruBK dengan praktik Guru BK. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuandengan praktik Guru BK dengan p value = 0,001. Tidak ada hubungan yangsignifikan antara sikap Guru BK terhadap masalah kesehatan jiwa remaja denganpraktik Guru BK dengan p value 0,391. Hasil analisis multivariat menyimpulkanvariabel yang berhubungan bermakna dengan praktik Guru BK adalahpengetahuan. Diketahuinya adanya hubungan yang kuat antara latar belakangpendidikan dengan praktik, tetapi tidak signifikan yang berarti fenomena ini hanyaterjadi di sampel, tidak pada populasiKata kunci:Kesehatan jiwa remaja, Guru BK, pengetahuan, sikap, praktik.
Emotions experienced by adolescents cause them vulnerable to a variety ofnegative behavioral problems such as declining student achievement, brawl,juvenile delinquency, school dropout and abuse of narcotics, psychotropic andaddictive substances (drugs) to free sex. In times like this, where busy parents inmeeting the needs of working families with precisely the role of teachers inschools greater role than the role of a parent. With a larger portion of the meetingwith the students of course teachers should also be equipped with knowledge ofadolescent mental health. This thesis would like to know the role of Guidance AndCounseling Teacher in the response to adolescent mental health problems studentsof Junior High School in East Jakarta in 2014. Design research conducted in thisresearch is to use cross-sectional study design. The population in this study is theGuidance and Counseling Teacher who served in the Junior High School in EastJakarta Administrative City. The number of the Guidance and Counseling teachersin East Jakarta Administrative City is 293 people. Samples taken amounted to 110people. The experiment was conducted at the Junior High School in East JakartaAdministrative City where teachers teach. Bivariate analysis concluded there wasno significant association between sociodemographic of Guidance AndCounseling Teacher with practice. There is a significant relationship betweenknowledge of the practice of Guidance And Counseling Teacher with p value =0.001. There is no significant relationship between of Guidance And CounselingTeacher attitudes toward adolescent mental health problems in Guidance AndCounseling Teacher practices with p value 0.391. Results of multivariate analysisconcluded that the variables significantly associated with the practice of GuidanceAnd Counseling Teacher is knowledge. Knowledgeable strong correlationbetween educational background with practice, but not significant, which meansthis phenomenon only occurs in the sample, not the populationKey words:Adolescent Mental Health , Guidance And Counseling Teacher, knowledge ,attitude , practice.
Read More
T-4077
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajar Hardianto; Pembimbing; Purnawan Junadi; Penguji; Anwar Hasan, Peter Pattinama, Kodrad Pramudho
T-1137
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rusmini; Pembimbing: Ronnie Rivany
T-1002
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive