Ditemukan 29288 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Fadilla Yusuf; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Peter A.W. Pattinama, Rani Martina
S-4580
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hardiyan; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Mieke Savitri, A. Ramadhan
S-4556
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wiwit Aditama, Zulfikar, Baning R.
KJKMN Vol.7, No.6
Depok : FKM UI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aila Karyus; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Sandi Ilyanto
Abstrak:
Read More
Penyakit Tuberkulosis masih merupakan niasalah kesehatan masyarakat, dimana 75% penderita adalah kelompok usia produktif, ekonomi lemah dan berpendidikan rendah. Di Kota Bandar Lampung telah dilakukan upaya-upaya untuk menanggulangi penyakit TB dengan mengadopsi strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) dan pengembangan Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) Program P2TB. Sehingga 22 Puskesmas yang ada telah melaksanakan program TB. Tetapi hasil pencapaian program sampai tahun 2002 belum efektif, hanya 3 Puskesmas yang mencapai target yaitu Puskesmas Kedaton, Satelit dan Kampung Sawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang fungsi manajemen dalam program TB Paru yang dibhat dari masukan, proses dan keluaran di 3 Puskesmas yang telah mencapai target program. Rancangan penelitian adalah kualitatif, berupa wawancara mendalam, observasi dan pemanfaatan data sekunder. Informan adalah Kepala Puskesmas, petugas TB, petugas laboratorium, Wasor TB, Pengawas Menelan Obat (PMO) dan penderita. Penelitian ini menemukan bahwa tiga Puskesmas ini memiliki kecukupan input untuk pelaksanaan program TB, kekurangan biaya diatasi dengan dana JPSBK Puskesmas. Proses manajemen Puskesmas yang terdiri dari P1 (Perencanaan), P2 (Penggerakan, Pelaksanaan), P3 (Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian) dengan menggunakan instrumen Perencanaan Tingkat Puskesmas, Lokakarya mini Puskesmas dan Evaluasi Kinerja Puskesmas telah berjalan, sehingga pengelolaan program TB di 3 Puskesmas ini dapat mencapai hasil yang diharapkan. Bahkan Puskesmas Kedaton melakukan pencarian aktif penderita baru TB di Kampung Bayur yang merupakan kantong TB. Puskesmas Satelit menyelenggarakan Penyuluhan Kesehatan Terpadu dengan melibatkan Camat, Lurah, PKK dan tokoh masyarakat sebagai panitia penyelenggara. Sedangkan Puskesmas Kampung Sawah menetapkan jadwaI pengambilan obat bagi penderita TB untuk memudahkan pemantauannya. Lokakarya mini tribulanan sebagai forum yang membahas pelaksanaan dan monitoring kegiatan Puskesmas yang melibatkan lintas sektor, organisasi masyarakat dan tokoh masyarakat belum ditaksanakan dengan optimal karena kurangnya koordinasi Puskesmas dan kecamatan. Dari hasil penelitian ini disarankan perlu dipertimbangkan peningkatan status Puskesmas menjadi Puskesmas Unit Swadana, agar Puskesmas melakukan koordinasi dengan Camat tentang pelaksanaan lokakarya mini tribulanan, penemuan penderita secara aktif dapat dilakukan sesuai situasi dan kondisi, Dinas Kesehatan Kota perlu melakukan sosialisasi dan advokasi ke berbagai pihak untuk mendapatkan dukungan dalam penanggulangan TB.
Tuberculosis (TB) disease has been a public health problem in which there are 75% of the patients are productive age group, short of economy, and having low education. In the City of Bandar Lampung had been conducted the efforts to alleviate TB disease using DOTS (Directly Observed Treatment Short course) Strategy and the development of Worker Health Center Group for P2TB Program. There were 22 health centers that had conducted TB program. However, the result of program until 2002 was not effective yet. There were only three Health Centers that had reached the target namely Kedaton Health Center, Satelite Health Center, and Kampung Sawah Health Center. The objective of the study was to obtain the description of management function of Lung TB Program that assessed from input, process, and output in three Health Centers that had reached the program target. The study used qualitative research design that conducted through in-depth interview and observation. In this study, collecting secondary data was also done. The informants of the study were the head of health center, TB program staff, laboratory staff, vice supervisor, taking TB medicine controller, and TB patients. The study resulted that three health centers had the adequacy input to conduct the TB program; and the lack of fund was covered by Social Safety Net in Health Division for health center. The process of health center management that consisted of P1 (planning), P2 (actuating, implementing), P3 (monitoring, controlling, and evaluating) using the instrument for health center level planning, health center mini workshop, and health center performance evaluation. Even the Kedaton Health Center actively conducted the search for new TB patients in Kampung Bayur where the TB patients were more exist. Satelit Health Center carried into integrated health education that involved the sub district head, village head, and community leaders as steering committee, while Kampung Sawah Health Center set the schedule of getting drugs for TB patients to monitor them easier. Three-monthly mini workshop was used as forum to discuss the implementation and monitor of health center activities that involved inter sector, community organization, and community leader, had not been applied optimally due to lack of coordination between health center and sub district office. From the result of the study, it is recommended to maintain health center status as self-funding unit health center. In order to health center could carry out the coordination with sub district office about implementing three-monthly mini workshop and finding the patients that conducted appropriate with situation and condition, the City Health Office should socialize and advocate toward many important sides to obtain the encouragement on alleviating TB.
T-1692
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Natasya Apriliana; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Umi Zakiati
Abstrak:
Tuberkulosis merupakan penyakit yang masih menjadi tantangan global. Dalam rangka menanggulangi penyakit Tuberkulosis, terbentuklah kerangka kerja oleh WHO untuk mengendalikan tuberkulosis, yang kemudian menjadi strategi global yaitu DOTS atau Directly Observed Treatment Short-Course. Salah satu yang menghambat kemajuan dari penanggulangan tuberkulosis adalah adanya kasus Multidrug Resistant Tuberculosis atau MDR-TB. Kasus MDR TB terjadi salah satunya disebabkan oleh belum maksimalnya implementasi dari strategi DOTS. Di Kota Depok, Puskesmas Pancoran Mas dan Puskesmas Rangkapan Jaya Baru adalah puskesmas dengan angka MDR-TB tertinggi. Dari dua puskesmas tersebut, gambaran akan manajemen atau pengelolaan dari pelaksanaan strategi DOTS pada program Penanggulangan TB khususnya dalam merespon MDR-TB sangatlah menarik untuk dianalisis lebih jauh. Dengan metode kualitatif dan dengan pendekatan Logic Model, peneliti menelaah bagaimana keberlangsungan program di kedua puskesmas dari sudut pandang input, activity, dan output nya. Peneliti mengumpulkan data baik primer maupun sekunder, dengan melakukan telaah dokumen dan juga wawancara mendalam ke tiga belas informas. Dari penelitian ini ditemukan hasil bahwa kedua Puskesmas sebenarnya telah mengimplementasikan strategi DOTS dengan baik yaitu salah satunya dengan melakukan pengobatan sesuai dengan standar, namun terdapat beberapa kendala dalam pelaksananaan program tersebut yang dapat menjadi faktor pengahambat dari berjalannya program, baik masalah dari segi sumber daya seperti tidak adanya laboratorium disalah satu puskesmas, hingga dari segi pelaksanaan kegiatan, yang menyebabkan kedua puskesmas pada akhirnya tidak dapat mencapai target Penilaian Kinerja Puskesmas. Adanya berbagai macam kendala yang berasal dari berbagai aspek menjadi faktor masih belum sempurnanya pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis di Puskesmas Pancoran Mas dan Rangkapan Jaya Baru.
Read More
S-9969
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
N. Kurniasih; Pembimbing: Bambang Sutrisna
S-2266
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pituari; Pembimbing: Sumengen Sutomo
S-2533
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Slamet Hidayat; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Pandu Riono, Felly Philipus Senewe, Miladi Kurniasari
Abstrak:
Read More
Notifikasi penemuan kasus TB di Indonesia mengalami penurunan sebesar 20,5% Pada tahun 2019-2020 dan kenaikan 6,8% pada tahun 2020-2021. tujuan penelitian ini untuk mengetahui evaluasi program TB-HIV pada program penanggulangan Tuberkulosis di Provinsi Jawa Barat Tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data sekunder dari database Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. hasil analisis deskriptif diketahui bahwa Proporsi orang dengan TB dengan diagnosis TB Klinis lebih besar 64.44%, dibandingkan orang dengan TB dengan diagnosis TB Bakteriologis lebih sedikit yaitu 35.56%. Proporsi ODHIV yang terdiagnosa TB secara klinis sebanyak 64.33%, sedangkan proporsi ODHIV yang terdiagnosa secara bakteriologis lebih sedikit hanya 35.67%. Proporsi orang dengan TB dengan HIV positif lebih besar pada TB klinis yaitu 67.12%, sedangkan orang dengan TB dengan hasil HIV Positih lebih sedikit pada TB klinis sebanyak 32.88%. Proporsi orang dengan TB dengan HIV positif lebih besar pada TB klinis yaitu 67.12%, sedangkan orang dengan TB dengan hasil HIV Positif lebih sedikit pada TB klinis sebanyak 32.88%. Proporsi orang dengan TB pada laki-laki lebih besar pada diagnosis bakteriologis sebesar 56.88%, sedangkan proporsi laki-laki pada diagnosis klinis 43.12%. Untuk peningkatan program dapat dilakukan dengan memaksimalkan kolaborasi program TB-HIV sehingga semua penderita TB dapat diperiksa HIV agar kasus bisa ditemukan dengan cepat sehingga juga bisa mendapatkan pengobatan lebih awal.
Notifications for finding TB cases in Indonesia have decreased by 20.5% in 2019-2020 and increased by 6.8% in 2020-2021. the purpose of this study was to determine the evaluation of the TB-HIV program in the Tuberculosis control program in West Java Province in 2022. This research is a descriptive study using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB) database from the West Java Provincial Health Office. The results of the descriptive analysis revealed that the proportion of people with TB with a clinical TB diagnosis was 64.44% greater, compared to people with TB with a bacteriological diagnosis of TB which was less, namely 35.56%. The proportion of PLHIV who were clinically diagnosed with TB was 64.33%, while the proportion of PLHIV who were diagnosed bacteriologically was less, only 35.67%. The proportion of people with HIV positive TB was greater in clinical TB, namely 67.12%, while people with TB with HIV positive results were less in clinical TB as much as 32.88%. The proportion of people with HIV positive TB was greater in clinical TB, namely 67.12%, while people with TB with positive HIV results were less in clinical TB as much as 32.88%. The proportion of people with TB in men was greater with a bacteriological diagnosis of 56.88%, while the proportion of men with a clinical diagnosis was 43.12%. Then, the proportion of people with TB in women based on a bacteriological diagnosis was 51.45% and the proportion of women with a clinical diagnosis was 48.55%. Program improvement can be done by maximizing the TB-HIV collaboration program so that all TB sufferers can be tested for HIV so that cases can be found quickly so they can also get treatment earlier.
T-6794
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Saeful Aziz; Pembimbing: Peter Albert W. Pattinama; Penguji: Mieke Savitri, Sriyanti
S-4772
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Detty Kurnia; Pembimbing: Hafizzurachman; Penguji: Mieke Savitri, Ira Dewi Jani
S-4560
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
