Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15077 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Saeful Aziz; Pembimbing: Peter Albert W. Pattinama; Penguji: Mieke Savitri, Sriyanti
S-4772
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saeful Aziz; Pembimbing: Peter A.W. Pattinama, Sriyanti
L-148
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadilla Yusuf; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Peter A.W. Pattinama, Rani Martina
S-4580
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irawadi; Pembimbing: Ronnie Rivany
S-3128
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardiyan; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Mieke Savitri, A. Ramadhan
S-4556
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radhia Urfa; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Puput Oktamianti, Yulia Fitria
Abstrak: Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis, sebagai kuman TB yang menyerang paru tetapi dapat mengenai organ tubuh lainnya. Kuman ini mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA). Perencanaan program penanggulangan tuberkulosis adalah proses perencanaan yang bersifat multidisiplin, lintas sektor dan lintas program untuk memberantas penyakit tuberkulosis dengan menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) karena penyakit tuberkulosis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Penelitian menggunakan metode wawancara mendalam dan telaah dokumen. Secara umum belum tercapainya angka penemuan penderita baru BTA positif dan angka kesembuhan lebih disebabkan karena sumber daya manusia yang belum optimal baik dari segi jumlah, kemampuan dan kualifikasinya, sarana pendukung untuk proses perencanaan program yang masih kurang yaitu data yang masih kurang lengkap dan dana program untuk penanggulangan program yang masih tebatas. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan agar dalam melakukan tahapan perencanaan program penanggulangan Tuberkulosis di Puskesmas Singkil Utara perlu dilakukan lebih maksimal sehingga dalam masing-masing tahapan perencanaan tersebut memang benar-benar dilakukan dengan teratur dan terencana, diharapkan pula koordinasi dan keterpaduan antar program dan sektor lebih ditingkatkan lagi sehingga efektifitas dan efisiensi dalam penanggulangan Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Singkil Utara dapat tercapai
Read More
S-10137
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumontang Manurung; Pembimbing: Pandu Riono, Besral; Penguji: Sutanto Priyo Hastomo, Ariani Murti, Sehat Ginting
Abstrak: Latar Belakang: Penyebab utama tingginya prevalensi tuberkulosis di Indonesia adalah cukup besarnya jumlah penduduk dan tingginya kepadatan penduduk Indonesia terutama pada beberapa daerah. Pengobatan yang cukup lama yaitu 6 – 8 bulan menyebabkan banyak penderita yang tidak menyelesaikan pengobatannya secara tuntas. Di samping itu tingkat kedisiplinan penderita tuberkulosis untuk minum obat masih rendah dan tuberkulosis menyerang orang dengan status gizi buruk dan kurang dengan kondisi fisik yang lemah. Sementara sistem pencatatan dan pelaporan tuberkulosis yang terlalu rumit dengan formulir isian sebanyak 13 formulir (TB 01 – 13) yang dilakukan secara manual sehingga besar kemungkinan terjadi kesalahan pada waktu pengisian sehingga banyak ditemukan data yang tidak lengkap. Data yang tidak lengkap bila diolah akan menghasilkan informasi yang tidak baik, sehingga informasi tersebut tidak dapat digunakan untuk menanggulangi tuberkulosis. Tujuan: Tujuan dikembangkannya sistem menjadi komputerisasi dengan pengolahan dan penghitungan secara otomatis dapat memberikan gambaran masalah tuberkulosis di Kotamadya Jakarta Timur. Metoda: Metoda yang digunakan dalam Pengembangan Sistem Informasi Penanggulangan Tuberkulosis adalah metoda Siklus Hidup Pengembangan Sistem yang terdiri dari preanalisis sistem, analisis sistem, perancangan sistem dan uji coba. Hasil: Hasil pengembangan sistem adalah terbentuknya prototipe Sistem Informasi Penanggulangan Tuberkulosis yang dapat membantu memberikan gambaran situasi an kegiatan tuberkulosis di Jakarta Timur dan memberikan gambaran yang akan dilakukan serta membantu pengelola program dalam membuat rencana kerja program tahunan. Pengembangan Sistem Informasi Penanggulangan Tuberkulosis di Kotamadya Jakarta untuk menggantikan sistem lama (TB elektronik) merupakan suatu upaya untuk mengatasi permasalahan tuberkulosis di Kotamadya Jakarta Timur. Dengan terbentuknya sistem ini, akan membantu dalam mengolah dan menganalisis data tuberkulosis menjadi informasi, seperti angka penemuan kasus baru, angka kesembuhan, angka konversi, angka kesalahan laboratorium, pola penyebaran kasus baru dan kasus dropout pada daerah yang padat penduduknya dan daerah gakin, memberikan gambaran kinerja puskesmas dan penyebaran puskesmas dalam pelayanan penderita tuberkulosis. Kesimpulan: Teridentifikasinya peluang dan kelayakan untuk pengembangan Sistem Informasi Penanggulangan Tuberkulosis. Kata kunci: TBC, Sistem Informasi TBC.
Background:The high cause of tuberculosis prevalence in Indonesia is the enough big of population number and the high density of Indonesian population especially in some of regions. The enough long treatment, 6 – 8 months cause many patients cannot settle their treatment completely. Beside that the discipline level of tuberculosis patient for drinking medicine is still low and tuberculosis attacked people with bad nutrient status and weak physical condition. While the system of recording and reporting of tuberculosis which were most complicated with registration form in number of 13 forms (TB 01 – 13) which was executed manually so that it is much possible that the mistake was happened at the time of filling and many found incomplete data. Incomplete data if it is processed, hence it will create improper information, so that said information cannot be used to prevent tuberculosis. Objective: The objective to be developed the former system becoming new system with automatic processing and calculation can give description of tuberculosis problem in East Jakarta Municipality. Methode: Method used in the development of information system of tuberculosis prevention is life cycle of system development consisting of pre analysis, planning and try out systems. Result: The result of system development is established information system prototype of tuberculosis prevention which can give description of tuberculosis condition in East Jakarta and give conducted description activity as well as help program manager in making work plan of annual program. The development of information system of tuberculosis prevention in East Jakarta for changing former system (TB electronic) represents one effort to handle tuberculosis problem in East Jakarta Municipality. With the establishment of this system, it will help in processing and analyzing tuberculosis data becoming information, such as percentage of new case invention, percentage of recovery, percentage of conversion, percentage of laboratory mistake, the path of new case distribution and drop out case and density population area and poor family (gakin) area, as well as give description of health center performance and health center distribution in servicing tuberculosis patient. Conclusion: Identification of the opportunity and feasibility for developing information system of tuberculosis prevention. Keyword: TBC, Information System of Tuberkulosis
Read More
T-2162
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heru Pujiono; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Pujiyanto, Asep Zaenal Kustofa, G.K. Wirakamboja
Abstrak:

Tuberculosis Paru merupakan salah satu penyakit kronis yang harus mendapat perhatian untuk segera diatasi dan ditangani. Di Indonesia strategi untuk menanggulanginya dengan Directly Observed Treatment Shorcourse chemotherapy (DOTS) telah dilaksanakan di 7.349 Puskesmas (97 %). Keberhasilan penanggulangan Program Tuberculosis Paru terkait erat antara komitmen dan pendanaan. Apabila dapat dijalankan dengan baik akan memberi keuntungan secara ekonomis. Mengingat alokasi pembiayaan kesehatan baru mencapai 3,93 % APBD Kabupaten Bengkayang. Maka untuk memberikan advokasi perlu dilakukan evaluasi ekonomi terhadap program kesehatan, salah satunya dengan CEA (Cost Effectiveness Analysis). Kondisi geografis sepesifik Kabupaten Bengkayang terdiri dari daerah pantai, kepulauan, pedaiaman, perkotaan, perbatasan dan tertinggal. Maka untuk lebih memberikan gambaran apakah pembiayaan kesehatan sudah sesuai dengan karakteristik daerah dilakukanlah studi kasus analisis efektifitas biaya penemuan dan pengobatan penderita tuberculosis pant dengan konseling/penyuluhan dan Pengawas menelan Obat (PMO) anggota keluarga dan petugas kesehatan dengan tanpa konseling dan PMO hanya anggota keluarga di Puskesmas Pantai dan Puskesmas Perbatasan. Untuk mengetahui komitmen anggaran dilakukan penggalian pendapat 1 pandangan kepada pengambil keputusan. Disain penelitian adalah kuantitatif. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan basil cost effectiveness ratio penemuan dan pengobatan penderita tuberculosis paru dengan konseling/penyuluhan dan PMO anggota keluarga dan petugas kesehatan dengan tanpa konseling dan PMO hanya anggota keluarga di Puskesmas Pantai dan Puskesmas Perbatasan. Pengumpulan data primer berupa observasi dan wawancara mendalam dengan pengambil keputusan. Data sekunder dengan telaah dokumen. Hasil penelitian studi kasus ini menunjukkan bahwa komponen terbesar biaya penemuan dan pengobatan penderita tuberculosis paru dengan konseling/penyuluhan dan PMO anggota keluarga dan petugas kesehatan serta tanpa konseling dan PMVIO hanya anggota keluarga adalah biaya operasional sebesar 57,53 % di Puskesmas Sungai Duri (63,27 % gaji dan 17,01 % bahan habis pakai), sebesar 64,67 % di Puskesmas Sungai Raya (78,50 % gaji dan 10,87 % bahan habis pakai), sebesar 65,80 % di Puskesmas Jagoi Babang (90,34 % gaji dan 5,23 % bahan habis pakai) dan sebesar 32,66 % di Puskesmas Seluas (77,83 % gaji dan 12,50 % bahan habis pakai). Penemuan dan pengobatan penderita Tuberculosis Pam dengan metode konseling dan PMO di Puskesmas Pantai lebih efektif dibandingkan Puskesmas Perbatasan. Hampir semua pengambil keputusan menyatakan dukungan terhadap pembiayaan program kesehatan dan efektifitas tergantung pada SDM, sarana dan prasarana, serta pembiayaan kesehatan. Dalam pelaksanaan program tuberculosis part' di Puskesmas perlu didukung adanya konselinglpenyuluhan dan PMO tenaga kesehatan. Sosialisasi SPM dan hasil studi kasus sebagai bahan evaluasi dan advokasi dalam penyususnan anggaran APBD 2007. Dan efektifitas pelaksanaan program digunakan sebagai dasar dalam penentuan Kebijakan Umum Anggaran (KU A) APBD Kabupaten Bengkayang.


 

Lungs tuberculosis is one of the chronic diseases that have to be noticed then handled and overcome earlier. Overcome strategy by Directly Observed Treatment Shorcourse chemotherapy (DOTS) had conducted in 7.349 Puskesmas (97 %). Lungs Tuberculosis Program overcome efficacy related with commitment and funding. If conducted well, it will give benefit economically. Remembering health funding alloction recently reach 3,93 % of Bengkayang Regency APBD. Therefore to give advocated need economic evaluation toward health program, one of them is CEA (Cost Effectiveness Analysis). Specific geographical condition of Bengkayang Regency consist of coast, island, hinterland, urban, border and remains. Therefore to give view that health defrayal is appropriate with district characteristic conducted case study of cost effectiveness analysis case detection patient and lungs tuberculosis medication patient with conselling and PMO with family and health provider without no conselling and PMO by family only in Coastal Puskesmas and Border Puskesmas. To find the budget commitment conduct opinionlview delve toward decision maker. Research design is quantitative. Research aim is to find cost effectiveness ratio result of patien and lungs tuberculosis medication invention in Coastal Puskesmas and Border Puskesmas. Primary data gathering was in observation and circumstantial interview with decision maker. Secondary data by document study. This case study research result shows that total cost of case detection and TB Lungs Medication Patient by conselling and PMO with family and health provider with by no conselling and PMO with family only is operasional cost is 57,53 % in Puskesmas Sungai Duri (63,2 % salary and 17,01 % substance used up wear), 64,67 % in Puskesmas Sungai Raya (78,50 % salary and 10,87 % substance used up wear), 65,80 % in Puskesmas Jagoi Babang (90,34 % salary and 5,23 % substance used up wear) and 32,66 % in Puskesmas Seluas (77,83 % salary and 12,50 % substance used up wear). Case detection patient and Lungs TB Medication Patient with Cancelling and PMO Methode in Coastal Puskesmas is more effective with Border Puskesmas. Almost all decision maker express that effectiveness depends on SDM, tools and infrastructure, and also health financing. Program execution in Puskesmas with concelling and PMO with health provider, SPM Socialization and deciding budget allocation need to play attention to program conducting effectiveness evaluation and advocating on in desition to budget APBD 2007. And effectivness execution programme used by decision elementary in policy budget general Bengkayang Regency APBD.

Read More
T-2269
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eko Susanti; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Sudijanto Kamso, Hanafi
S-4497
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natasya Apriliana; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Umi Zakiati
Abstrak: Tuberkulosis merupakan penyakit yang masih menjadi tantangan global. Dalam rangka menanggulangi penyakit Tuberkulosis, terbentuklah kerangka kerja oleh WHO untuk mengendalikan tuberkulosis, yang kemudian menjadi strategi global yaitu DOTS atau Directly Observed Treatment Short-Course. Salah satu yang menghambat kemajuan dari penanggulangan tuberkulosis adalah adanya kasus Multidrug Resistant Tuberculosis atau MDR-TB. Kasus MDR TB terjadi salah satunya disebabkan oleh belum maksimalnya implementasi dari strategi DOTS. Di Kota Depok, Puskesmas Pancoran Mas dan Puskesmas Rangkapan Jaya Baru adalah puskesmas dengan angka MDR-TB tertinggi. Dari dua puskesmas tersebut, gambaran akan manajemen atau pengelolaan dari pelaksanaan strategi DOTS pada program Penanggulangan TB khususnya dalam merespon MDR-TB sangatlah menarik untuk dianalisis lebih jauh. Dengan metode kualitatif dan dengan pendekatan Logic Model, peneliti menelaah bagaimana keberlangsungan program di kedua puskesmas dari sudut pandang input, activity, dan output nya. Peneliti mengumpulkan data baik primer maupun sekunder, dengan melakukan telaah dokumen dan juga wawancara mendalam ke tiga belas informas. Dari penelitian ini ditemukan hasil bahwa kedua Puskesmas sebenarnya telah mengimplementasikan strategi DOTS dengan baik yaitu salah satunya dengan melakukan pengobatan sesuai dengan standar, namun terdapat beberapa kendala dalam pelaksananaan program tersebut yang dapat menjadi faktor pengahambat dari berjalannya program, baik masalah dari segi sumber daya seperti tidak adanya laboratorium disalah satu puskesmas, hingga dari segi pelaksanaan kegiatan, yang menyebabkan kedua puskesmas pada akhirnya tidak dapat mencapai target Penilaian Kinerja Puskesmas. Adanya berbagai macam kendala yang berasal dari berbagai aspek menjadi faktor masih belum sempurnanya pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis di Puskesmas Pancoran Mas dan Rangkapan Jaya Baru.
Read More
S-9969
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive