Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38884 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Antonia Retno Tyas Utami; Pembimbing: Bastaman Basuki, Agus Syahrurahman; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Julitasari, Yovsyah
Abstrak:

Indonesia mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) polio pada tahun 2005. Di tiga kabupaten Lebak, Serang dan Sukabumi merupakan 58,9% kasus KLB nasional. Tujuan penelitian ialah diketahuinya besar risiko spesimen yang tidak memenuhi ketepatan waktu ambiI terhadap risiko basil pemeriksaan negatif virus polio di laboratorium nasional polio di Bandung dan Jakarta. Pada studi potong lintang (cress-.seclionalO terhadap semua sampel spesimen yang pertama yang diambiI dari kasus acute fkrcid paralysis (AFP) selama tahun 2005 dari tiga kabupaten. Data berasal dari laboratorium nasional polio tentang identitas kasus AFP, tanggal lumpuh, tanggal' ambil spesimen, tanggal kirim, tanggal diterima, kondisi diterima, tanggal proses, tanggal dan basil uji. Di samping itu dilakukan konf rmasi lapangan untuk data tempat pengambilan spesimen, fasilitas, dan tenaga surveilans. Analisis faktor-faktor risiko terhadap risiko relatif (RR) basil pemeriksaan negatif virus polio menggunakan regresi Cox. Prevalensi basil negatif dari sampel adalah 31,46%, Hasil negatif pada masa awal KLB Februari-April (60%) dan akhir KLB Juli-Desember 2005 (66,2%), dan yang terendah pada bulan Mei-Juni (15,5%). Faktor-faktor yang berkaitan secara signifikan terhadap risiko basil pemeriksaan negatif virus polio pada spesimen meliputi faktor tidak tepat waktu ambit spesimen, kabupaten asal spesimen, dan periode bulan pengambilan. Keterlambatan pengambilan spesimen mempertinggi risiko basil pemeriksaan negatif virus polio sebesar 70% dibandingkan dengan spesimen yang diambil tepat waktu [risiko relatif suaian (RN = 1,70; 95% interval kepercayaan (CI): 1,01 - 2,88). Selama masa awal dan akhir KLB, perhatian khusus harms diberikan terhadap ketepatan waktu pengambilan spesimen dan kabupaten asal spesimen untuk memperkecil risiko basil pemeriksaan negatif virus polio.


In 2005 Indonesia had a polio outbreak of positive wild polioviruses (WPV). The three districts namely Lebak, Serang and Sukabumi contributed 59.% of total national cases. The aim of this study was to identify the risk of late collection of stool specimen for negative detection of poliovirus. A cross sectional study conducted on all acute flaccid paralysis (AFP) surveillance's stool speciment from the three districts tested for polio virus in Bandung and Jakarta national polio laboratory in 2005. Data derived from laboratory registry books for case identity, date of paralysis onset; spesiment collection: sent; recieved; testing process; and result of test. In addition, field visits were conducted to the three districts for confirmation on data collecting methods, and human resources. Analysis was using Cox regression method for relative risk (RR). The prevalence of negative results was 31,46%. Negative results during early stage of outbreak in February -April was 60% and late stage July- December was 66.2%, while in May -June was Ioweer (15.5%). Factors that significantly associated with the risk of poliovirus negative results were late of speciment collection, district origin of speciment and period of month speciment collection. Late than on time collection for first stool speciment had 70% increased risk to be negative results (adjusted relative risk =-1.70; 95% confidence intervals = 1.01 - 2.88). During early and late stage of polio outbreak, special attention should be taken for timing of speciment collection and district origin of speciment to minimize risk of negative detection of poliovirus.

Read More
T-2261
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Primus Mitaran; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Yovsyah, Diana Ully Tambunan
S-6371
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tonny Sundjaya; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Ratna Djuwita, Conny Tanjung; Penguji: Besral, Fathimah Sulistyowati Sigit, Muh. Nasrum Massi, Bahrul Fikri, Safarina Malik
Abstrak:
Weight faltering pada awal kehidupan merupakan kondisi yang mencerminkan gangguan kompleks antara fungsi mukosa usus, komposisi mikrobiota, pemanfaatan dan absorpsi nutrisi. Salah satu pendekatan yang sedang berkembang dalam memahami mekanisme kondisi ini adalah analisa metabolit tinja, khususnya metabolit asam amino, yang berpotensi dijadikan penanda fungsional dari kesehatan mukosa dan aktivitas mikrobiota usus. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan perubahan metabolit asam amino tinja dan berat badan setelah intervensi selama satu bulan pada bayi dengan weight faltering, serta menilai kemampuan prediktif perubahan metabolit asam amino tinja tertentu terhadap perubahan berat badan. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari studi kohort prospektif pada 149 bayi berusia 6-9 bulan yang menerima intervensi selama satu bulan. Perubahan berat badan dihitung sebagai selisih berat pada setelah 1 bulan dan baseline, sementara perubahan masing masing metabolit asam amino tinja juga  dihitung dari delta metabolit antara dua waktu pengukuran tersebut. Hubungan antara perubahan metabolit asam amino tinja dan perubahan berat badan dianalisa dengan sebuah model multivariat yang telah dikontrol untuk berbagai kovariat penting, termasuk riwayat penggunaan obat pada baseline dan bulan pertama, usia baseline, status menyusui pada kedua waktu pengukuran, pendidikan terakhir ayah, cara lahir, dan kelompok intervensi. Hasil analisa menunjukkan adanya peningkatan berat badan yang bermakna secara statistik setelah intervensi. Pada aspek metabolomik, metabolit triptofan menunjukkan peningkatan signifikan berdasarkan uji Wilcoxon, sedangkan sebagian besar metabolit asam amino lainnya tidak berubah secara bermakna. Analisis bivariat sebelum dikontrol variabel-variabel kovariat memperlihatkan tren korelasi negatif antara delta metabolit asam amino tinja dan delta berat badan. Dalam model yang dihasilkan,  perubahan kadar valin dan arginin dalam tinja ditemukan sebagai prediktor negatif yang bermakna terhadap perubahan berat badan, dengan nilai adjusted R² sekitar 0,139 setelah memperhitungkan seluruh kovariat. Hal ini menunjukkan bahwa metabolit tinja merupakan bagian dari sebuah sistem yang membentuk variasi peubahan berat badan dan bukan satu satunya faktor penentu. Temuan di studi ini terkait penurunan residu valin dan arginin dalam tinja, kemungkinan mencerminkan perbaikan absorpsi asam amino, peningkatan penggunaan sistemik, atau perubahan komposisi mikrobiota yang lebih kondusif dalam mendukung pertumbuhan. Sebaliknya, peningkatan residu valin dan arginin dapat mengisyaratkan terjadinya malabsorpsi atau peningkatan fermentasi proteolitik oleh mikroba usus, sehingga mengurangi kadar asam amino yang dapat digunakan untuk proses anabolik. Hasil ini memperkuat pandangan bahwa profil metabolom tinja, khususnya metabolit asam amino, dapat dijadikan kandidat biomarker fungsional yang sensitif untuk memantau respons mukosa usus sehubungan dengan kesehatan usus sebagai dampak dari intervensi yang dilakukan pada bayi dengan weight faltering. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lanjutan dengan durasi intervensi yang lebih panjang, integrasi biomarker Environmental Enteric Dysfunction (EED), analisis komposisi mikrobiota, serta aplikasi teknik analisis multivariat lanjutan untuk memperdalam pemahaman mengenai mekanisme biologis yang mendasari dinamika metabolit asam amino dan implikasinya terhadap pertumbuhan pada awal kehidupan

Weight faltering in early life reflects a complex interplay between intestinal mucosal function, gut microbial composition, and nutrient absorption and utilization. Fecal amino acid metabolite profiling has emerged as a promising functional indicator of these underlying processes. This study aimed to evaluate fecal amino acid metabolite dynamics and  changes in body weight following a one month intervention in infants with weight faltering, and to determine the predictive value of specific fecal amino acid metabolite changes for weight gain. This research analyzed secondary data from a prospective cohort study involving 149 infants aged 6-9 months who received nutritional intervention for one month. Weight change was calculated as the difference between post intervention  and baseline measurements, while changes in fecal metabolite concentrations were assessed as delta values over the same period. Associations between changes in fecal amino acid metabolites and weight gain were examined using multivariate model adjusted for covariates variables, including medication usage at baseline and one month, age at baseline, breastfeeding status at both time points, paternal education, mode of delivery, and intervention group. A statistically significant increase in body weight was observed following the intervention. Metabolomic analyses showed a statistically significant incerase in fecal tryptophan levels, whereas other amino acids did not exhibit statistically significant changes. Unadjusted analyses indicated a negative correlation trend between changes in fecal amino acid metabolites and weight gain. In the multivariate model, changes in fecal valine and arginine were found as significant negative predictors of weight gain. The adjusted model explained approximately 13.9% of the variance in weight change, indicating fecal metabolite profiles are part of a system that influences weight changes. These finding suggests the reduction of fecal valine and arginine levels may reflect improvement of amino acid absorption, enhanced systemic utilization, or favorable shifts in gut microbial metabolism associated with successful weight gain. Conversely, elevated fecal residues of these amino acids may indicate malabsorption or increased proteolytic fermentation, leading to reduced systemic availability for anabolic processes. This interpretation aligns with the concept that fecal metabolomics may become a candidate of biomarker to show gut mucosal function and gut microbial activity. The study thus reinforces the potential utility of fecal amino acid metabolite profiles as sbiomarkers for monitoring intervention’s response and intestinal recovery condition among infants with weight faltering. Overall, this study underscores the potential relevance of integrating metabolomic indicators with growth assessments to deepen understanding of nutritional recovery mechanisms. Nonetheless, further research is needed, particularly longer duration interventions, inclusion of Environmental Enteric Dysfunction (EED) biomarkers, parallel microbiota profiling, and application of advanced multivariate analytical techniques, to elucidate the biological pathways linking amino acid metabolism, microbial composition, and growth outcomes during early childhood.
Read More
D-618
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedi Supriadi; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Agus TP.
S-4125
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Juanda; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Selamet Riyadi
S-4137
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Merki Rundengan; Pembimbing: Tri Yunis Miko; Penguji: Renti Mahkota, Nasrin Kodim, Untung Suseno Sutarjo, Rustika
T-2450
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Juli Siswantari; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Ema Hermawanti, Laila Fitria, Bambang Setiaji
Abstrak: Diare masih menjadi masalah di Indonesia dan merupakan penyebab kematian pertama pada kelompok umur balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi sanitasi dan perilaku higiene ibu dengan kejadian diare balita di Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari studi EHRA Kabupaten Sukabumi tahun 2013. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional dengan pemilihan sampel metode purposive sampling. Uji statistik menggunakan chi square dengan sistem regresi logistik ganda model prediksi. Hasil penelitian didapatkan 25% balita terkena diare. Dari analisis bivariat didapat variabel yang signifikan mempengaruhi diare balita adalah sarana air bersih (p value 0,002) dengan OR 2,669 (CI 95% 1,44-4,93) dan variabel jarak septik tank-sumur gali (p value 0,000) OR 4,84 (CI 95% 2,15- 10,93). Hasil multivariat menunjukkan bahwa jarak sumur gali-septik tank adalah yang utama mempengaruhi diare balita (p value 0,000) OR 5,22.
Kesimpulan: dalam penelitian ini jarak antara sumur gali-septik tank sangat berpengaruh besar terhadap kejadian diare balita. Balita dalam rumah tangga yang menggunakan sumur gali dengan jarak kurang dari 10 meter dari septic tank memiliki risiko 5,221 kali untuk menderita diare dibandingkan jika jarak ≥ 10 meter. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan atau sosialisasi tentang sarana sumur gali dengan septik tank yang memenuhi syarat. Jika kondisi lahan tidak memungkinkan maka perlu dikembangkan alternatif seperti septik tank komunal atau sistem IPAL terpusat oleh sektor terkait. Kata Kunci : Diare, balita, sanitasi
Read More
T-4405
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Agustina Sinuhaji; Pembimbing: Ratna Djuwita, Asri C Adisasmita; Penguji: Kusharisupeni, Helda, Suhara Manulang
T-2744
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulianriani; Pembimbing: Bambang Sutrisna
S-2784
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive