Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36311 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Pad Yadipa Nasrul Khatab; Pembimbing: Sudarti Kresno, Rina Artining Anggorodi; Penguji: Nasrin Kodim, Felly Philipus Senewe, Riris Nainggolan
Abstrak: Hepatitis B merupakan penyakit peradangan hati yang disebabkan virus Hepatitis B, menduduki peringkat kedua di dunia sebagai agent penyebab kanker pada manusia setelah tembakau sedang di Indonesia peringkat ketiga terbesar di dunia dengan prevalensi 2,50%-36,17%. Angka cakupan imunisasi Hepatitis B 0-7 hari di Propinsi Sumatera Barat tahun 2005 adalah 42,2%, di Kabupaten Padang Pariaman 23,86% dan di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Alung mencapai 1,07% dari 80% target Nasional.
Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi mendalam tentang perilaku ibu dan faktor yang menunjang dan menghambat dalam pemberian imunisasi Hepatitis 13 pada bayi 0-7 hari di Puskesmas Lubuk Alung. Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap informan kunci (seorang Kasie P2M, seorang Wasor Imunisasi, seorang Kepala Puskesmas, seorang Juru Imunisasi, tiga bidan, tiga kader posyandu dan dua dukun bersalin) dan informan (enam ibu yang bayinya diimunisasi Hepatitis B pada umur 0-7 hari, enam ibu yang bayinya diimunisasi Hepatitis B di atas tujuh hari dan tujuh ibu yang bayinya belum diimunisasi Hepatitis B).
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik (umur dan paritas), pengalaman masa lalu, tempat persalinan, penolong persalinan, media infomasi dan dukungan keluargalmasyarakat sangat mempengaruhi perilaku ibu terhadap pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari. Selain itu pengetahuan semua informan ibu masih kurang tentang imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari. llmumnya intorman hersikap positif terhadap pemberian imunisasi. Adanya kepercayaan masyarakat setempat kalau bayi yang berumur dibawah umur 40 hari tidak botch dibawa keluar rumah karena dipercaya bayi bisa terkena Palasik. Pengalaman imunisasi ibu, persepsi terhadap jarak tempat pelayanan imunisasi dan biaya imunisasi tidak mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari.
Dari hasil penelitian disarankan perlunya pembinaan terhadap bidan balk yang ada di puskesmas maupun di desa serta koordinasi dengan 113I, 1DAI dan POGI yang berperan sebagai orang yang kontak pertama terhadap bayi barn lahir, meningkatkan sosialisasi pentingnya melaksanakan KNI, meningkatkan advokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman dan Pemda untuk memperoleh dukungan politis, bantuan teknis dalam pencarian dana yang mendukung kelangsungan program imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari, melaksanakan pelatihan imunisasi Hepatitis B kepada petugas kesehatan dan penyebarluasan informasi tentang imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuan semua pihak terutama masyarakat melalui televisi dan poster.

Hepatitis B is a liver inflammatory disease that caused by Hepatitis B virus, which sat in world second rank as agent that cause cancer on human after tobacco, while Indonesia sat as world third rank with prevalence 2,50% - 36,17%. Range number of Hepatitis B immunization 0-7 days in West Sumatra Province year 2005 is 42,2%, in Padang Pariaman Regency 23,86% and in Lubuk Alung Puskesmas working area reach 1,07% from 80% National target.
Research objective is getting circumstantial information toward mother behavior and factor that supporting and pursuing in giving Hepatitis B immunization to 0-7 days baby in Lubuk Aiung Puskesmas. This research is Qualitative research using circumstantial interview toward key informants (a P2M Kasie, a Immunization Wasor, a Puskesmas Chief, a Immunization Worker, three midwife, three posyandu cadre and two give birth shaman) and informants (six mother with baby that Hepatitis B immunized in 0-7 day's, six mother with 0-7 day's baby that not yet Hepatitis B immunized).
Research result shows characteristic (age and parity), past experience, give birth place, give birth helper, information media and public/family support that was very influencing mother behavior toward giving Hepatitis B immunization to 0-7 day's baby.
Commonly, informant act positively toward giving immunization. The existence of local public believe that baby under 40 days age should not brought out from home because believed that the baby could got Palasik. Mother immunization experience, perception toward immunization service distance, and immunization cost not affecting mother behavior in giving Hepatitis B immunization to 0-7 day's baby.
From research result, suggest improvement toward midwife whether in Puskesmas and in village and coordination with IBI, IDAI, and POGI that role as first person do contact with newborn baby, to improve the importance of socialization KN1 conducted, improving advocate from Health Agency of Padang Pariaman Regency and Pemda to get political support, technical support in searching fund that support Hepatitis B immunization to 0-7 day's baby occurrence, do Hepatitis B immunization training to health officer and spreading information toward Hepatitis B immunization to 0-7 day's baby by improving perception and knowledge of all people thorough television and poster.
Read More
T-2271
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akmar Azmi; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Tri Krianto, Bahnan
S-4088
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herry Sugiri; Pembimbing: Rina Artining Anggoridi; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Anwar Hasan, Tanty Herawaty, Tjie Anita Payapo
Abstrak:
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang lebih peka untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi tertinggi disebabkan oleh penyakit saluran pernapasan. Salah satu dari jenis penyakit saluran pernapasan diantaranya adalah tuberculosis (TB) yang hampir menyerang seluruh dunia dan merupakan penvebab kematian no 8 di dunia. sedangkan di Indonesia merupakan penyebab kematian no 3. Sehubungan dengan hal tersebut diatas dapat dilihat betapa pentingnya masalah TB di Indonesia. sehingga perlu penanggulangan secara lebih teratur dan konsepsional seperti imunisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengelahui determinan perilaku ibu bayi dalam pelaksanaan imunisasi BCG pada bayi. Dari analisis akan dilihat besar risiko perilaku ibu bayi terhadap pelaksanaan imunisasi. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan Cross sectional dengan jumlah sampel 181 responden, analisis data dilakukan dengan chi square dan regresi logistik ganda. Dari 181 responden sebanyak 116 responden tidak melaksanakan imunisasi (64,1%) dan 65 responden (35,9%) melaksanakan imunisasi. Dari uji Chi square ternyata empat variabel memiliki hubungan yang bermakna dengan nilai p < 0.05 yaitu variabel pendidikan, variabel pekerjaan, varibel jarak dan variabel biaya. Sedangkan variabel yang tidak bermakna yaitu variabel pengetahuan dan variabel pelayanan petugas. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda terdapat tiga variabel yang paling dominan yaitu variabel pendidikan, variabel pekerjaan dan variabel jarak. Untuk menunjang keberhasilan program imunisasi perlu peningkatan pengetahuan sasaran misalnya dengan penyuluhan yang lebih efektif lagi baik; dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas dengan penekanan pada materi mupun penyampaian yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Setiap kegiatan imunisasi yang dilaksanakan di posyandu sebaiknya ditegaskan pada masyarakat bahwa pelayanan imunisasi tidak dikenakan biaya dan agar leader atau petugas kesehatan lebih memperhatikan sasaran utama yang dekat karena justru yang dekat biasanya terlewatkan.

Neonatal's Mother Behavior Determinants in Carrying out BCG Immunization within working Area of Sub-district Level Primary Public Health Center in Karawang Regency 2001"Neonatal Mortality rate (NMR) is indicator of public Health degree, and most of it caused by respiratory diseases, one of them is Tuberculosis (TB) which can be found all over the world and become number eight killer in the world, and number three in Indonesia. So, Immunization program is very crucial to cape with TB problem. This research aimed to find out behavior determinants of neonatal mother in BCG immunization to infant, from the analysis could be found behavior risk of mother to immunization. This research is analytical survey using cross sectional approach, with 181 respondents as a sample, data analysis using multi logistic regression test. From 181 respondents, 116 do the immunization (64,1%) and 65 (35,9) not. From chi-square test a variables have significant relationship which are: education occupation, distance and cost, while non-significant variables are knowledge (P.-1,000), service (P.0,686). Multivariate analysis with multi logistic regression results 3 variables have dominant relationship which are, education, occupation and distance. This program should support by effective spreading information or direct presentation which adjustable to local condition.
Read More
T-1121
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ramadhani; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: ella Nurlaela Hadi, Dumilah Ayuningtyas, Rosmaitaliza, Dhian Probhoyekti
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ramadhani Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Perilaku Pemberian Air Susu Ibu pada Bayi Berat Lahir Rendah Studi Kualitatif di RSUD Karawang Tahun 2016 Faktor risiko yang berkontribusi dalam kematian bayi salah satunya kelahiran bayi berat lahir rendah. Strategi yang diupayakan yakni meningkatkan keberhasilan pemberian air susu ibu. Penelitian ini bertujuan mengetahui informasi mendalam dan fakta terkait perilaku pemberian ASI pada BBLR selama di RSUD Karawang. Pendekatan kualitatif menggunakan desain Rapid Assessment Procedure dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam 7 ibu dan 4 kepala ruang, diskusi kelompok terarah 6 perawat bidan serta observasi 2 ibu. Ibu yang dapat memberikan ASI di rumah sakit adalah ibu dengan pendidikan baik dan tidak kembali bekerja. Ibu tidak yakin dapat memberikan kolostrum selama di rumah sakit namun yakin dapat menyusui eksklusif setelah keluar dari rumah sakit. Ibu memiliki kondisi fisik dan psikologis tidak baik selama di rumah sakit. Penyuluhan ASI dan kebijakan pemberian pengganti ASI di rumah sakit belum mendukung perilaku pemberian ASI eksklusif. Ibu yang tidak didukung suami, keluarga dan petugas kesehatan tetap berusaha memberikan ASI. Ibu dapat menyusui BBLR secara langsung di ruang menyusui PMK. Perilaku pemberian ASI pada BBLR dapat dilakukan ibu yang memiliki kesehatan fisik dan psikologis baik serta menyusui di PMK. Promosi ASI eksklusif dan upaya pendampingan tambahan terhadap kondisi psikologis perlu dilakukan pada ibu dan keluarga dengan BBLR selama di rumah sakit. Kata kunci: bayi berat lahir rendah, perilaku pemberian air susu ibu, rumah sakit


ABSTRACT Name : Ramadhani Study Program : Public Health Science Title : Qualitative Study on Breastfeeding Behavior for Low-Birth Weight Infants at Center Hospital of Karawang in 2016 One factor that contribute in infant’s mortality was low-birth weight infant’s delivery. The strategy was increased implementation of breastfeeding practice successfully. This study aims to explore information and fact about low-birth weight infant breastfeeding behavior at Center Hospital of Karawang. Qualitative approach with Rapid Assessment Procedure design was used to collect data from 7 mothers and 4 head offices with depth interview method, focus group discussion from 6 midwife-nurses, and also observation from 2 mothers. Mothers who did breastfeeding practice in hospital have better educational level and did not return to work. Mothers had no belief to give colostrum during breastfeeding practice in hospital, otherwise to give breastfeeding exclusively after hospital discharge. Mothers have poor physic and psychology condition during breastfeeding practice in hospital. Promotion and policy of complementary feeding did not support breastfeeding practice in hospital. Mothers who got no support from their partners, families and also health providers were trying to breastfeed. Mothers could did breastfeeding practice directly in PMK room. Breastfeeding behavior for low birth weight infants could be doing by mothers who did breastfeeding practiced with better physical and psychological condition. Exclusive breastfeeding promotion and psychology guidance were needed for low-birth weight infant’s mothers and families. Keywords: low-birth weight infant, breastfeeding behavior, hospital

Read More
T-4842
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maman Suparman; Pembimbing: Rina Anggorodi; Penguji: Teng Soegilar, Iskari N.
S-4623
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
F. Detiniaty; Pembimbuing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Mieke Savitri, Rufina Bonur Tamayati Pardosi, Ni Gusti Ayu Ketut Dewi Pramoni
Abstrak:

ABSTRAK Nama :    F. Detiniaty Program Studi :    Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul :   Perilaku Ibu dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak Stunting Usia 0-23 Bulan (Studi Kualitatif di Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa Tahun 2017) Perilaku ibu dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) pada periode kritis (usia 0-23 bulan) sangat penting untuk mencegah kondisi stunting pada bayi/anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui perilaku ibu dalam pemberian makan bayi dan anak stunting usia 0-23 bulan di Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, tahun 2017. Pendekatan Kualitatif menggunakan desain Rapid Assessment Procedure dengan metode pengumpulan data diskusi kelompok terarah, wawancara mendalam, dan observasi terhadap informan ibu yang sudah dan belum mendapatkan konseling/penyuluhan PMBA. Pengetahuan dan sikap ibu yang positif terhadap informasi terkait PMBA yang diperoleh dari konseling/penyuluhan tidak menjamin terlaksananya perilaku pemberian makan bayi dan anak dengan benar. Adanya faktor dukungan keluarga, tradisi yang tidak mendukung, akses dan pemanfaatan pangan serta praktik pemberian informasi melalui penyuluhan menjadi salah satu yang menghambat kegiatan PMBA. Perilaku ibu dalam pemberian makan bayi dan anak stunting usia 0-23 bulan di Kecamatan Lape belum optimal. Perlu adanya evaluasi pelaksanaan kegiatan konseling PMBA di lapangan. Kata kunci : stunting, perilaku ibu, pemberian makan bayi dan anak (PMBA)


ABSTRACT Name : F. Detiniaty Study Program : Public Health Science Title : Mother's Behavior in Infants and Young Child Feeding Stunting Age 0-23 Months (Qualitative Study in Lape Sub-district, Sumbawa Regency in 2017) Mother’s behavior in Infant and Young Child Feeding (IYCF) in critical periods (ages 0-23 months) is very important to prevent stunting conditions in infants/children. This study aims to determine the behavior of mothers in feeding infant and stunting children aged 0-23 months in Lape Sub-district, Sumbawa Regency in 2017. Qualitative approach using Rapid Assessment Procedure design with data collection methods of focus group discussion, indepth interviews, and observation of mother’s informants who had had and have not received IYCF counseling/education. Knowledge and a positive attitude towards mother IYCF related information obtained from counseling/education does not guarantee the implementation of feeding infants and children properly. The existence of family support factors, unsupported tradition, access and utilization of foods and the practice of providing information through counseling to be one that inhibits IYCF activities. Mother’s behavior in feeding infant and stunting children 0-23 months in Lape Sub-District is not optimal. It is necessary to evaluate the implementation of IYCF counseling activities in the field. Keywords: stunting, maternal behavior, infant and young child feeding (IYCF)

Read More
T-5040
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Omo Sutomo; Pembimbing: Sudarti Kresno; Penguji: Rina Artining Anggorodi, Hadi Pratomo, Sri Kusmiati, Kirana Pritasari
Abstrak:

Dewasa ini di Indonesia ada sekitar 19 % bayi lahir dengan berat lahir rendah kurang dari 2500 gram. BBLR merupakan salah satu faktor penting kematian neonatal dan juga sebagai determinan yang cukup bermakna bagi kematian bayi dan balita. Penyumbang kematian BBLR adalah prematuxitas, infeksi, asfiksia lahir, hipotermia dan pemberian ASI yang kurang adekuat.BBLR di Kabupaten Bogor memberi sumbangan atas kejadian kematian bayi sementara informasi secara mendalam mengenai perilalcu ibu-ibu dalam merawat BBLR belum diperoleh. Karena itu tujuan penelitian ini adalan ingin memperoleh informasi secara rnendalam perilaku ibu-ibu dalam merawat BBLR di Kabupaten Bogor tahun 2002. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan alat pengumpul data berupa pedoman wawancara mendalam dan fokus group diskusi. Pengumpulan data dilakukan terhadap 15 informan kunci dan 43 ibu BBLR Analisis data yang dilakukan adalah analisis isi (content analysis).Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik sosio demografi informan bervariasi dalam hal umur, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anak. Pengetahuan ibu BBLR tentang perawatan BBLR rendah, hampir seluruh ibu BBLR setuju terhadap bayi yang dihangatkan dengan botol berisi air panas. Sebagian besar tidak setuju terhadap bayi yang didekapkan ke dada ibunya (Metode Kanguru) dan tidak setuju terhadap bayi yang diberikan makanan (pisang) terlalu dini. Hampir seluruh ibu BBLR tidak setuju terhadap perawatan tali pusat yang tidak higienes (diberi abu gosok). Namun demikian masih ada yang membubuhi tali pusat dengan abu kayu bakar, asam dicampur air. Ibu BBLR setuju terhadap upaya pencegahan penyakit. Dikalangan ibu BBLR masih ditemukan kepercayaan membawa anaknya keluar harus setelah 40 hari. Sebagian besar ibu BBLR menggunakan cara lama atau tardisional dalam mencegah dan menangani hipotermia. Pada umumnya ibu BBLR memberikan kolostrum pada bayinya, namun demikian sebelum ASI keluar bayi diberikan air atau madu. ASI mulai diberikan paling banyak pada hari ke dua, dan mereka menyusui bayinya sampai 2 tahun. Sebagian besar ibu muda/baru menikah tidak melakukan perawatan tali pusatnya, tetapi oleh dukun atau orang tuanya dan petugas kesehatan. Tali pusat dirawat menggunakan alkohol atau betadin. Pada umumnya ibu BBLR membawa bayinya yang sakit ke petugas kesehatan dan selebihnya mengobati sendiri dengan ramuan, membeli obat di warung atau toko obat, rninum obat untuk bayi yang sakit, dan membawanya ke dukun. Alat dan bahan yang digunakan untuk merawat BBLR tidak sulit didapat. Beberapa faktor penghambat adalah masih adanya kepercayaan, ketidaktahuan ibu, pengaruh otang tua dan dukun, serta faktor ekonomi. Sementara faktor pendukung adalah ibu berpengalaman dalam merawat bayi serta adanya. dukungan keluarga dalam merawat bayi.Beberapa saran diajukan 1) Depkes R1 dapat mengembangkan prototife atau model media tentang perawatan BBLR. 2) Dinkes Bogor menindaklanjuti pembuatan media dengan menggunakan bahasa dan budaya lokal, pelatihan bagi pengelola program kesehatan ibu dan anak tingkat kabupaten dan tingkat Puskesmas tentang manajemen laktasi dan Perawatan Bayi Lekat serta monitoring dari bidan koordinator kabupaten terhadap bidan puskesmas. 3) Puskesmas Citemeup, Leuwiliang dan Jasinga, perlu adanya monitoring dari kordinator bidan Puskesmas terhadap bidan di desa, bidan di desa memberi contoh kepada dukun bayi cara mencegah hipotermia, Perawatan Bayi Lekat dan ASI eksklusif serta perlunya pendidikan kesehatan bagi ibu-ibu hamil tentang cara mencegah hipotermia, Perawtan Bayi Lekat dan ASI eksklusif di Puskesmas, Posyandu maupun Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak.


 

Recently, in Indonesia there are about 19 % babies have low birth weight with less than 2500 gram. Low birth weight (LBW) is one of important factor in neonatal mortality and also as determinant factor for infant and babies under tive mortality. The main causation of mortality in low birth weight is pre-term delivery, infection, asphyxia, hypothermia and inadequate breast feeding.In Bogor, LBW is one of baby mortality factor, while detail information about women?s behavior in caring their babies not found yet. Because of willing to know detail information of women?s behavior in taking care LBW in Bogor in 2002, so that the type of the research is qualitative rsearch, collected data by using indepth interview and discussion group focus. Collecting the data is conducted to 15 key informants and 43 women whose LBW. To analyze the data, it is used content analysis.Based on the research, there is some sociodemography characteristic of informants in age, education, occupation, number of children, babies birth weight and care givers. Women?s knowlegde in caring LBW is low, most of them agree in waming the baby with hot water. Some of them do not agree in Kangaroo Mother Care in their breast and do not agree in giving feed banana in early. Almost all of mowen do not agree toward unhygienic placenta care. Otherwise, there is some women mix placenta with ash, and mix with tamarind water. LBW women agree in preventing the diseases. There is still a belief in women having LBW that they may take their babies out of home alter 40 days of delivery. Some of them apply traditional method in preventing hypothermia Commonly, they give eolostrum to their babies but previously giving them water or honey before breast out in the first time. Most of them give breast feeding to their baby in the second day, and give it until 2 years. Most of young women do not give placenta care, as their parents or traditional midwife do. Using bethadine or alcohol to clean the placenta Generally, women having LBW take their unhealthy baby to the hospital but some of them self-curing by their own made medicine, buy the generic medicine in the shop, even take them to traditional midwife. Ingredient for medicine is not difficult to find. Some of the LBW obstacles are traditional belief, lack of knowledge, parent and traditional midwife influence, and economical problem. While the effort factor are experienced women and family support in caring the baby.Some suggestions are recommended, namely : (1) Health Department of Rl can develop prototype or media model for LBW care. (2) Health Instance of Bogor can follow up making media by using local language and culture, training of location management and Kangoroo Mother Care for conductor of women and baby health in district level and Health Center and also monitoring of midwife coordinator to midwife to midwife in district. (3) In Citeureup, Leuwiliang, and Jasinga Health Center, monitoring of midwife coordinator to midwife in the village is needed, how they give demontration to traditional midwife, how to prevent hypotennia, Kangoroo Mother Care and exclusive breast feeding. Furthennore, giving health education for pregnant women in preventing hypoterrnia, kangoroo mother care and giving exclusive breast feeding in Health Center, integrated service post or group of women and baby health lover.

Read More
T-1381
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ediy Ana: Pembimbing; Diyan Ayubi; Penguji; Tri Yunis Miko Wahyono, Anwar Hassan, Soesilo Kusuno Broto, Tijie Anita Payaro
Abstrak:

Imunisasi Hepatitis B adalah salah satu program imunisasi yang sudah di uji pada bayi dan anak sebagai usaha untuk melindungi mereka dari infeksi penyakit hati (virus Hepatitis B). Penyakit ini adalah salah satu penyebab paling penting terhadap morbiditas dan mortalitas yang di sebabkan oleh infeksi. Hasil program imunisasi ini, di Pulau Lombok menunjukkan bahwa angka prevalensi menurun dari 7% menjadi 1,6%, karena itu integrasi program infeksi Hepatitis B pada program pengembangan imunisasi di Indonesia diharapkan dapat menurunkan prevalensi penyakit ini secara Epidemiologi, di Bengkulu program imunisasi ini telah dilaksanakan dengan cakupan dan 20% di tahun 1994 hingga 79,3% pada tahun 2000. Keberhasilan program ini sangat tergantung pada Para ibu, karena peran mereka dalam mengimunisasi anak-anaknya. Rancangan penelitian ini adalah case control yang digunakan untuk mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan status imunisasi Hepatitis B pada anak berusia 6-23 bulan. Analisis statistik yang digunakan adalah univariat, bivariat, multivariat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tempat persalinan, status KB, dan penghasilan keluarga mempunyai hubungan yang kuat terhadap status imunisasi Hepatitis B pada anaknya. Variabel yang paling dominan terhadap status imunisasi Hepatitis B adalah tempat persalinan dengan nilai OR = 4,992 (95% Cl; 1,833 - 13,598), pada ibu yang memilih pelayanan kesehatan sebagai tempat persalinan memiliki peluang 5 kali iebih besar untuk mengimunisasi anaknya dengan lengkap dari pada mereka yang tidak. Dengan melihat hasil penelitian ini saya menyarankan program ini seharusnya di terapkan pada setiap tingkatan dan berbagai pelayanan kesehatan baik di kota maupun di pelosok desa.


 

Immunization of Hepatitis B is one of immunization program which had been tested to infants and children in order to protect them from infection of liver disease (Hepatitis B virus). The disease is on of the most important cause of morbidity and mortality caused by infection. The result of this immunization in Lombok Island showed that prevalence rate decrease from 7% to 1,6% Therefore. The integration of immunization of Hepatitis B to immunization development program in Indonesia could be expected to decline the prevalence of the disease Epidemiologically, in Bengkulu this program had been performed since 1994. The coverage has increased from 20% in 1994 to 79,3% in 2000. The success of this program is really depend on mother because of their role to immunize their children. The design of this research was case control in order to search factors related to immunization status of Hepatitis 13 in Children of 6-23 months. Statistical analysis used were univariate, as well as bivariate, multivariate. The result of this research indicate that the place of delivery, family planning status and also family income had strong relationship with the status of immunization of Hepatitis 13 in children. The most dominant variable to the status of the immunization is the place of delivery with OR = 4,992 (95% CI = 1,833 - 13,598). Those mothers who choose health care as place of delivery has opportunity 5 times bigger to immunize their children completely than those who were not. Considering the result of this research, I suggest that this program should be adopted in every level and various health care both in urban and rural area.

Read More
T-1024
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Kirana; Pembimbing: Zulazmi Mamdy
Abstrak:
Salah satu penyebab tingginya angka kematian Balita di Indonesia adalah diakibatkan penyakit diare. Angka diare yang didapat dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT, 1995) bila diproyeksikan pada semua golongan umur adalah 54/100.000 penduduk dan pada Balita terjadi kematian 55.000 (2,5il000 Balita). Propinsi Kalimantan Selatan mempakan daerah endemis diare. Berdasarkan Profil Kesehatan Kalimantan Selatan tahun 1995, telah teljadi tiga kali kejadian luar biasa (KLB) pada dua kabupaten yang mencakup 5 kecamatan dan 8 desa Di kota Banjarmasin sebagai ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, menurut klasifikasi rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit, diare menduduki urutan pertama dan rnenduduki urutan ke dua di Puskesmas. Dari data Profil Dinas Kesehatan kota Banjamlasin tahun 2000, salah satu upaya penanggulangan diare adalah dengan pemberian cairan rehidrasi oral (oralit) kemasan (92,69%) kepada penderita diare. Tujuan perlelilian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada Balita diare yang berobat ke Puskesmas se kota Banjamlasin tahun 2001. Rancangan penelitian ini adalah Cross Secrionai. Populasi adalah ibu-ibu yang mempunyai balita diare dau berobat ke Puskesmas so kota banjarmasin, sedangkan sampel adalah ibu-:ibu yang mempunyai balita diare yang berobat ke Puskesmas se kota Banjarrnasin pada bulan Maret tahun 2001 (Quora Sampling). Pengumpulan data dilakulcan dengan kuesioner dan wawancara langsung. Data kemudian diolah secara statistik dengan teknik analisis Chi Square dan Multiple Regression Logistic. Dari hasil analisis bivariat diketahui ada empat variabel yang mempunyai hubungan bemrakna terhadap perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada Balita diare, yaitu variabel pcndidikan, variabel pengerahuan, variabel sikap, dan variabel kerersediaan oairan rehidrasi oral. Sedangkan variabel nomra subyektif dan variabel rasa diketahui tidak ada hubungan yang bermalma dengan perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada Balita diare. Dari model Regression Logistic diketahui temyata variabel yang paling berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada balita diare adalah variabel sikap yang dinyatakan dengan nilai Odds Ratio terbesar yaitu 8,508 ( 95% CI = l,0/-l-9 - 68,98l). Yang berarti ibu yang bersikap positif kemungkinan memberikan cairan rehidrasi oral pada balitanya yang diare sebesar 8,508 kali lebih besar dibandingkan ibu yang bersikap negatif terhadap pemberian CRO pada balita diare. Sebagai saran unluk tindak lanjut, maka upaya yang sebaiknya dilalrukan oleh Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin adalah perlunya peningkatan dan pengembangan Program Pemberantasan Penyakit Menular Diare sehubungan dengan didapatkannya infomrasi dari penelitian ini tentang rendahnya pemberian cairan rehidrasi oral di rumah oleh ibu kopada balita diare. Bagi Puskesmas se kota Banjamrasin, disarankan agar lebih meningkatkan dan mengembangkan materi penyuluhan tentang diare dan cairan rehidrasi oral. Disarankan juga perlunya penelitian lebih lanj ut tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian cairan rehidrasi oral di rumah pada Balita diare, dengan melihat variabel-variabel lairmya, seperti, suku, tinglcat pendidikan suami, status pekerjaan dan lain-lain.

One ofthe causes of Child Mortality Rate in Indonesia is diarrhea. According to household health survey ( SKRT, l995) the incidence of diarrhea all age groups is 54/l00.000 and among child under tive years old is 55.000 deaths (2.5/l000). South Kalimantan is endemic area of diarrhea. Based on health profile of south Kalimantan 1995, there were three times diarrhea epidemic incidence. ln two regencies which covered 5 sub districts and S villages. While in Banjarmasin as capital of South Kalimaman, according to classification of medical treatment in hospital placed at first rank and second in public health center. From health office profile of Banjamiasin city 2000, one of effort to cope with diarrhea is provide oral rehydration fluid (92,69%) to patients. Objective of this research is to find out factors that related to mother?s behavior In The Use oral rehydration fluid at home to children under five years old with diarrhea who has taken medial care to public health centers in Banjanriasin city year 2001. This research use Cross Sectional Design. Population and sample are mothers which their children under tive years old get diarrhea and take medical care to public health centers in Banjarhidsih city, where as sample are mothers who brought their children under five years old get diarrhea and take medical care to public health centers in Banjarmasin city in March 2001 (Quola Sampling). Data collecting use questioner and interview. Data processed statistically and analyzed with Chi Square and Multiple Regression Logistic techniques. Bivariate analysis, should four variables were proved to be significant by correlated with mother?s behavior in the use oral rehydration fluid to children under five year old at home. They are education variable, knowledge variable, attitude variable and availability variable. While subjective nomi variable and taste variable found have no significant correlation with mother?s behavior In The Use oral rehydratiori fluid at home. From regression logistic model found the most significant variable related to mother behavior ln The Use oral rehydration fluid at home is attitude variable with Odds ratio 8,508 ( 95% Cl = 1,049 - 68,9811 From result of interaction test not found any significant correlation between variable. Based on result of this research health office of Banjarmasin should improve and develop of transmitted disease program for diarrhea because lack of mother's which giving their child with diarrhea with oral rehydration Fluid at home. For every public health centers in Banjarmasin, should improve and develop education matters about diarrhea and oral rehydration fluid. Other suggestion is conduct the other research with more variable, such as ethnic, husband education.
Read More
T-1008
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
John Amos; Pembimbing: Hadi Pratomo
T-795
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive