Ditemukan 30171 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Yuanita Ananda; Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, Lucky Tjahjono
T-2386
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mawary Edy; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Yovsyah, Tri Yunis Miko, Azimal, Eka Muhiriyah
T-3037
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widya Anggraeni; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Dewi Susanna; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Resna Soerawidjaj, Sri Irianti
T-2304
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mohamad Ershad Al Annas; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda; Devi Surya Iriyani
S-6421
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rini Handayani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ririn Arminsih, Edy Hariyanto, Ely Setyawati
Abstrak:
Kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Bengkulu tahun 2015 menyebabkan adanyapencemaran udara baik di dalam maupun di luar ruangan. Hal ini juga mengakibatkanmeningkatnya kejadian ISPA pada balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan kondisi rumah, kepadatan hunian dan pajanan asap terhadap kejadian ISPA pada balitadi Kota Bengkulu saat kebakaran hutan tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalahcase control. Kasus merupakan balita yang berkunjung ke Puskesmas Kecamatan dan didiagnosamenderita ISPA dan kontrol adalah dua balita tetangga kasus yang ditemui pertama kali.
Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis atap (OR: 2,79; 95% CI: 1,36-5,69), ventilasi (OR: 2,60; 95%CI: 1,39-4,84), kepadatan hunian (OR: 2,14; 95% CI: 1,07-4,28), dan asap bahan bakar memasak(OR: 4,14; 95% CI: 1,56-10,9) memiliki hubungan yang kuat terhadap ISPA. Jadi, ada hubunganantara kondisi rumah, kepadatan hunian dan pajanan asap terhadap kejadian ISPA pada Balitasetelah dikontrol oleh variabel kovariat.
Kata kunci:ISPA, Faktor Lingkungan, Balita, Kebakaran Hutan
Read More
Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis atap (OR: 2,79; 95% CI: 1,36-5,69), ventilasi (OR: 2,60; 95%CI: 1,39-4,84), kepadatan hunian (OR: 2,14; 95% CI: 1,07-4,28), dan asap bahan bakar memasak(OR: 4,14; 95% CI: 1,56-10,9) memiliki hubungan yang kuat terhadap ISPA. Jadi, ada hubunganantara kondisi rumah, kepadatan hunian dan pajanan asap terhadap kejadian ISPA pada Balitasetelah dikontrol oleh variabel kovariat.
Kata kunci:ISPA, Faktor Lingkungan, Balita, Kebakaran Hutan
T-4727
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Grace Mediana P.; Pembimbing: Nuning M. Kiptiyah; Penguji: Sudarti Kreno, Lukman Hakim Tarigan, Hernani, Sukmahadi Thawaf
T-1376
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irsan Monro; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Renti Mahkota, Hendry Febriana Hende
Abstrak:
Read More
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki aktivitas industri berat. Kecamatan Morosi adalah daerah yang memiliki industri smelter nikel, sehingga berpotensi menyebabkan pencemaran udara dan berdampak pada kesehatan warga setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi penyebaran penyakit ISPA di Kecamatan Morosi pada tahun 2024 hingga 2025, berdasarkan karakteristik host dan faktor lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder yang berasal dari laporan kunjungan pasien rawat jalan di UPTD Puskesmas Morosi tahun 2024 hingga 2025. Variabel yang dianalisis mencakup jumlah kasus penyakit ISPA, usia, jenis kelamin, status pekerjaan, serta faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus penyakit ISPA pada tahun 2025 lebih tinggi dibandingkan tahun 2024.Kasus penyakit ISPA terbanyak terjadi pada usia 6–65 tahun, baik pada tahun 2024 (90,0%) maupun tahun 2025 (86,1%), laki-laki Pada tahun 2024, persentase kasus pada laki-laki mencapai 75,6% dan pada tahun 2025 sebesar 72,2%., dan mereka yang bekerja sebagai karyawan smelter. Di samping itu Faktor lingkungan yaitu; jumlah kasus yang tinggi pada jarak tempat tinggal yang dekat, bulan dan musim panas turut mempengaruhi meningkatnya kejadian penyakit ISPA.
Acute Respiratory Infections (ARI) remain a public health problem, particularly in areas with intensive industrial activities. Morosi Subdistrict is an area with nickel smelter industries, which have the potential to cause air pollution and negatively affect the health of the local population. This study aimed to describe the distribution of ARI in Morosi Subdistrict from 2024 to 2025 based on host characteristics and environmental factors. This study employed a descriptive approach using secondary data obtained from outpatient visit reports at the Morosi Primary Health Care Center (UPTD Puskesmas Morosi) from 2024 to 2025. The variables analyzed included the number of ARI cases, age, sex, employment status, and environmental factors. The results of the study show that the number of cases of ARI in 2025 is higher than in 2024. The most cases of ARI occurred in the age group of 6–65 years, both in 2024 (90.0%) and in 2025 (86.1%), men In 2024, the percentage of cases in men reached 75.6% and in 2025 it was 72.2%., and those who work as smelter employees. In addition, environmental factors, namely; the high number of cases at close residential distances, summer months and seasons also influence the increase in the incidence of ARI
S-12171
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Parulian Situmorang; Pembimbing: Sumengen Sutomo, Haryoto Kusnoputranto
T-1806
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lita Renata Sianipar; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
T-933
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ali Amran; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Krisnawati Bantas, Sri Tjahjani Budi Utami, Dartini, H. Bambang Sukana
T-2365
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
