Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 1829 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fatma Lestari
Abstrak:
 
A large range of polymers are used in building and mass transport interiors which released more toxic products during combustion. This work explores the cytotoxicity of selected chemicals and smoke derived from materials combustion. A selection of polymers and fiberglass reinforced polymer (FRP) composites used in building and railway carriage interiors including: polyethylene (PE), polypropylene (PP), polycarbonate (PC), polymethyl methacrylate (PMMA), polyvinyl chloride (PVC), melamine plywood, and two FRPs were studied. A small scale laboratory fire test using a vertical tube furnace was designed for the generation of combustion products. The volatile organic compounds were identified using ATD-GCMS (Automatic Thermal Desorption-Gas Chromatography Mass Spectrometry). The in vitro techniques were developed for human cells exposure to fire effluents including the indirect (impinger) and direct (air/liquid interface using Harvard Navicyte Chamber) exposure. Cytotoxic effects were assessed based on cell viability using a range of in vitro assays. Human skin tissue was also used as preliminary study to assess the toxic effects at the tissue level. A minor change in the cellular function of the skin from the exposure of PMMA combustion products was observed. The combustion study was conducted under different burning stage of fire: non-flaming and flaming combustion. Results suggested that PVC was the most toxic material for both non-flaming (IC50 1.24 mg/L) and flaming combustion (IC50 1.99 mg/L). The degree of toxicity generated depends on the fire stage: non-flaming or flaming combustion. Some materials revealed to be more toxic under flaming combustion (PP, PC, FRPs), whilst others (PVC, PMMA, PE, and melamine plywood) appear to be more toxic under non-flaming combustion. A strong correlation was shown between the change in toxicity as measured by IC50 and TLC and the change in concentration of volatile organic compounds (VOCs) and particulates. A comparison between in vitro data versus published in vivo combustion data indicated the in vitro results to be more sensitive than animal toxicity data. The outcome of this study has the potential for an alternative method to current fire toxicity standard, whilst providing more accurate toxicity information for fire safety professionals, materials manufacturer, building designers and consumer safety data.
Read More
D-196
[s.l.] : [s.n.] : 2006
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahma Dewi Handari; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Soewarta Kosen
Abstrak:
Tuberkulosis resistan obat (TB RO) menjadi tantangan utama kesehatan global, dengan Indonesia sebagai salah satu dari 7 negara dengan beban kasus TB RO tertinggi dengan insiden rate 10 per 100.000 orang-tahun. Keberhasilan pengobatan TB RO secara nasional rendah sebesar 51% dengan angka kematian pasien TB RO cukup tinggi sebesar 20%. Infeksi HIV pada pasien TB RO memperburuk kondisi klinis, meningkatkan risiko kegagalan pengobatan dan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mortality rate dan perbedaan probabilitas survival antara pasien TB RO dengan komorbid HIV dan tanpa komorbid HIV, dan mengetahui hubungan komorbid HIV dengan kematian pasien TB RO dewasa di Indonesia tahun 2021-2022. Penelitian dilakukan dengan desain studi kohort restrospektif menggunakan data sekunder SITB Nasional Kemenkes tahun 2021-2022. Analisis data dilakukan menggunakan survival Kaplan Meier dan cox regression dengan ukuran asosiasi Hazard Ratio (HR). Terdapat 7172 pasien TB RO eligible yang dijadikan sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan mortality rate pasien TB RO dewasa yang memiliki komorbid HIV (14,191 per 10.000 orang-hari) lebih tinggi dibandingkan pasien TB RO dewasa yang tidak memiliki komorbid HIV (4,776 per 10.000 orang-hari). Probabilitas kumulatif survival pasien TB RO dewasa yang memiliki komorbid HIV (41,89%) secara signifikan lebih rendah dibandingkan probabilitas kumulatif survival pasien TB RO dewasa yang tidak memiliki komorbid HIV (78,32%). Pasien TB RO dewasa dengan komorbid HIV yang menggunakan paduan pengobatan TB jangka panjang memiliki risiko kematian 6,66 kali lebih tinggi dibandingkan pasien TB RO dewasa tanpa komorbid HIV yang menggunakan paduan pengobatan TB jangka pendek (HR adjust:6,66, 95%CI:4,96-8,96). Pasien TB RO dewasa dengan komorbid HIV yang menggunakan paduan pengobatan TB jangka pendek memiliki risiko kematian 6,02 kali lebih tinggi dibandingkan pasien TB RO dewasa tanpa komorbid HIV yang menggunakan paduan pengobatan TB jangka pendek (HRadjust:6,02, 95%CI:3,89-9,31). Komorbid HIV secara signifikan meningkatkan risiko kematian pasien TB RO selama pengobatan. Tatalaksana pengobatan TB RO dan infeksi HIV yang tepat diperlukan untuk menurunkan risiko kematian pasien TB RO selama pengobatan.

Drug-resistant tuberculosis (DR TB) is a major global health challenge, Indonesia is one of 7 countries with the highest burden of DR TB cases with an incidence rate of 10 per 100.000 persons per year. The success of DR TB treatment nationally is low at 51% with the proportion of mortality high at 20%. HIV infection in DR TB patients worsens the condition, increasing the risk of treatment failure and death. The purpose of this study is to determine the mortality rate and the difference in survival probability between comorbid HIV patients and noncomorbid HIV patients and to determine the relationship between comorbid HIV and death in adult DR TB patients in Indonesia in 2021-2022. The design of this study was a retrospective cohort study using secondary data on SITB national DR TB cases that started treatment in 2021-2022. Data analysis was performed using survival Kaplan Meier and Cox regression to obtain hazard ratio (HR). There were 7172 patients as eligible patients who became the research sample. The results showed that the mortality rate for adult DR TB patients who had comorbid HIV (14,191 per 10,000 person days) was higher than adult DR TB patients without comorbid HIV (4,776 per 10,000 person days). The cumulative probability of survival of adult DR TB patients with comorbid HIV (41.89%) is significantly lower than the cumulative probability of survival of adult RO TB patients without comorbid HIV infection (78.32%). Adult DR TB patients with comorbid HIV who used long-term TB regimens have a 6,66 times higher risk of death than adult DR TB patients without comorbid HIV who used short-term TB regimens (adjusted HR: 6,66 95%CI: 4,96-8,96). Adult DR TB patients with comorbid HIV who used a short-term TB regimen have a 6.02 times higher risk of death than adult DR TB patients without comorbid HIV who used a short-term TB regimen (adjusted HR: 6.02, 95%CI:3.89-9.31).Comorbid HIV significantly increased the the risk of death during treatment. Appropriate DR TB and HIV treatment management is needed to reduce the risk of DR TB patient death during treatment.
Read More
T-6937
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Purnamawati; Promotor: Ratna Djuwitna; Ko Promotor I: Sudijanto Kamso; Kopromotor II: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Budi Utomo, Hadi Pratomo, Elizabeth Jane Soepardi, Soewarta Kosen, Toha Muhaimin
D-317
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ainun Azizah Tasmira Salwa; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Haryanto, Noni Chrissuda Anggraini
Abstrak:

Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan menghasilkan limbah medis dan non-medis. Data menunjukkan limbah medis/B3 bersifat infeksius dan toksik, berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik. Di Indonesia, banyak fasilitas kesehatan masih belum sepenuhnya sesuai standar pengelolaan limbah medis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Pendidikan Kota Depok, Jawa Barat, menggunakan desain studi kasus melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan rumah sakit menghasilkan total 138.370,3 kg limbah medis padat B3 pada tahun 2024. Secara keseluruhan, tingkat kesesuaian implementasi mencapai 72,2% ("Sesuai Sebagian"). Namun, kesenjangan masih ditemukan pada pemilahan di sumber (33,3%) dan pewadahan/pengumpulan (25%), seperti masih ditemukannya limbah medis tercampur limbah non-medis, yang dapat menyebabkan risiko luka tusuk jarum atau penyebaran infeksi nosokomial. Meskipun petugas memiliki pemahaman baik, penggunaan APD oleh semua petugas belum sepenuhnya konsisten. Tahap pengurangan, penyimpanan, pengangkutan internal, pengolahan, dan pemusnahan akhir menunjukkan kepatuhan tinggi (100%). Oleh karena itu, perbaikan berkelanjutan diperlukan, terutama pada tahapan hulu yang bergantung pada faktor manusia. Tenaga Kesehatan Lingkungan berperan penting dalam pengawasan, edukasi, dan pemutusan rantai penularan untuk menjaga keselamatan petugas, pasien, dan pengunjung. Penelitian ini berkontribusi untuk mengoptimalkan sistem pengelolaan limbah medis di rumah sakit pendidikan.


Hospitals, as healthcare service facilities, generate both medical and non-medical waste. Data show that medical waste, classified as hazardous (B3), is infectious and toxic, posing a high risk if not properly managed. In Indonesia, many healthcare facilities still do not fully comply with medical waste management standards. This study aims to evaluate the solid medical waste management system at a Teaching Hospital in Depok, West Java, using a case study design through observation, interviews, and document analysis. The findings indicate that the hospital produced a total of 138,370.3 kg of B3 solid medical waste in 2024. Overall, the compliance level of implementation reached 72.2% (“Partially Compliant”). However, gaps were still identified in segregation at source (33.3%) and in containment/collection (25%), such as the mixing of medical and non-medical waste, which can lead to risks like needlestick injuries or the spread of nosocomial infections. Although staff demonstrated a good understanding of procedures, the use of personal protective equipment (PPE) among all workers was not fully consistent. The stages of waste reduction, temporary storage, internal transport, treatment, and final disposal showed high compliance (100%). Therefore, continuous improvement is needed, particularly in the upstream stages that depend on human factors. Environmental Health personnel play a crucial role in supervision, education, and breaking the chain of transmission to ensure the safety of healthcare workers, patients, and visitors. This study contributes to strengthening medical waste governance in teaching hospitals.

Read More
S-12102
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wekadigunawan, Cri Sajjana Prajna
614.4 CRI c
Depok : PT RadjaGrafindo Persada, 2023
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Husnan; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo, Endang Sri Murtiningsih Basuki; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, M Hasan AD, Siti Hayati
Abstrak:

Prestasi belajar mahasiswa selama menjalani proses pendidikan akan berdampak pada daya saing mahasiswa tersebut saat memasuki dunia kerja. Seseorang dengan prestasi belajar yang rendah akan kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya bahkan akan sulit mendapatkan pekerjaan. Motivasi, minat dan dukungan lingkungan diduga berperan besar dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar dan kuat hubungan antara motivasi belajar, minat memilih jenis pendidikan tenaga kesehatan dan dukungan lingkungan baik secara Sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap prestasi belajazr mahasiswa Politeknik Kesehatan Pekanbaru. Disain penelitian ini adalah cross sectional, dengan populasi semua mahasiswa kelas regular Politeknik Kesehatan Pekanbaru pada program Studi kebidanan, keperawatan dan gizi sebanyak 326 mahasiswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik regresi sederhana dan ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifkan antara motivasi belajar dan minat lerhadap prestasi belajar mahasiswa dengan koefisien determinan 0,445. Artinya variabel motivasi dan minat secara bersama-sama dapat memprediksi prestasi belajar mahasiswa sebesar 44,S%. Sementara itu dukungan Iingkungan tidak terbukti berhubungan dengan prestasi belajar mahasiswa Politeknik Kesehatan Pekanbaru. Setelah dikontrol dengan dua variabel konfending yaitu jurusan asal sekolah dan uang saku, ternyata kedua variabel konfonding tersebut turut pula menambah kekuatan determinan terhadap prestasi belajar mahasiswa Politeknik Kesehatan Peknnbaru menjadi 45,4 % dengan model persamaan regresi* Prestnsi Belajar = -1,288 + 0,04746 * Motivasi + 0,0281 * Minat + 0,014664* Asal Sekolah + 0,007228* Uang Saku. Dengan demikian yang menjadi model determinan prestasi belajar mahasiswa Politeknik Kesehalan Pekanbaru adalah, motivasi belajar, minat memilih pendidikan tenaga kesehatan,jurusan asal sekolah, dan uang saku. Politeknik Kesehatan Pekanbaru perlu melakukan upaya-upaya peningkatan motivasi dan penyesuaian minat pada diri mahasiswa sehingga prestasi belajar dapat meningkat. Perlu melakukan penelitian lanjutan terhadap faktor-faktor Lainnya yang mungkin pengaruhnya sangat besar terhadap prestasi belajar mahasiswa.

Read More
T-2396
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Martha
001.42 MAR m
Jakarta : Rajagrafindo Persada, [s.a.]
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heni Puji wahyuningsih, Ircham Mc, Anis Indriyani, Mina Yumei Santi
618.2 DAS d
Yogyakarta : Fitramaya, 2009
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadi Suprianto; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Dumilah Ayuningtyas
T-1814
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ambun Suri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Mieke Savitri, Budi Hartono, Amila Megraini
Abstrak:

Sebagai RS swasta yang mempunyai misi melayani seluruh lapisan masyarakat terutama golongan tidak mampu, RSIAX perlu melakukan efisiensi. RS ini harus melakukan efisiensi pengeluaran terutama yang terkait dengan pengadaan barang logistik. Selama 4 tahun terakhir, terjadi peningkatan belanja barang, selain itu ditemukan pula belanja dalam jumlah besar yang tidak diiringi dengan penggunaan barangnya. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran yang jelas tentang aspek manajemen pengadaan barang di RSIAX tahun 2011. Pendekatan penelitian adalah penelitian operasional dengan pengamatan langsung, telaah dokumen dan wawancara mendalam. Penelitian ini menunjukkan adanya beberapa masalah dalam pengelolaan pengadaan barang terutama dari segi perencanaan, kebijakan, Standard Operational Procedure (SOP), dan kapabilitas SDM. Hasil penelitian ini menyarankan: pertama, perlunya perencanaan pengadaan barang yang baik dengan mempertimbangkan urgensi pengadaan barang dan dampak negatif yang mungkin terjadi bila barang tersebut tidak terpenuhi (aspek strategis), analisis ekonomi dengan membandingkan perkiraan anggaran yang dibutuhkan dengan perkiraan pendapatan yang diharapkan serta perkiraan tingkat keberhasilan dalam mencapai pendapatan tersebut. Kedua, penyempurnaan kebijakan yang sudah ada dan revisi SOP. Ketiga, memberi kesempatan Ketua Tim Pembelian dan Panitia Pengadaan Barang dalam kursus/pelatihan pengadaan barang di RS (bersertifikat) dan memberi pelatihan pengadaan barang bagi para staf Pembelian. Keempat, mendokumentasikan semua berkas-berkas pembelian, informasi pemasok dan user dalam database komputer. Kelima, perlunya evaluasi berupa analisis nilai, evaluasi pemasok dan evaluasi user secara berkala. Kata kunci: Inefisiensi, belanja barang, perencanaan.


 As a private hospital that has a mission to serve all levels of society, especially the poor, RSIAX need to make efficiencies. Hospital should make expense efficiency primarily related to the procurement of logistics items. During the last four years, has been an increase in spending, in addition, it found that large amounts of spending is not accompanied by the use of the goods. The purpose of this study is to get a clear picture of the aspects of procurement management in RSIAX in 2011. Research approach is operational research with direct observation, document review and interviews. This study revealed a number of problems in managing the procurement of goods, especially in terms of planning, policy, Standard Operational Procedure (SOP), and human resource capabilities. These results suggest: first, the need for good procurement planning by considering the urgency of the procurement of goods and the negative impact that may occur when the goods are not being met (strategic aspects), economic analysis by comparing the estimated budget required to estimate the expected revenue and the estimated level success in achieving those revenues. Second, improvement of existing policies and revision of SOPs. Third, allowing Purchasing Team Leader and Procurement Committee get the course / training in Hospital procurement (certified) and provide procurement training for staff purchases. Fourth, documenting in a computer database all purchasing files, user and suppliers information. Fifth, the need for evaluation in the form of value analysis, supplier evaluation and user evaluation at regular intervals. Key words: Inefficiency, procurement, planning.

Read More
B-1409
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive