Ditemukan 1829 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan menghasilkan limbah medis dan non-medis. Data menunjukkan limbah medis/B3 bersifat infeksius dan toksik, berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik. Di Indonesia, banyak fasilitas kesehatan masih belum sepenuhnya sesuai standar pengelolaan limbah medis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Pendidikan Kota Depok, Jawa Barat, menggunakan desain studi kasus melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan rumah sakit menghasilkan total 138.370,3 kg limbah medis padat B3 pada tahun 2024. Secara keseluruhan, tingkat kesesuaian implementasi mencapai 72,2% ("Sesuai Sebagian"). Namun, kesenjangan masih ditemukan pada pemilahan di sumber (33,3%) dan pewadahan/pengumpulan (25%), seperti masih ditemukannya limbah medis tercampur limbah non-medis, yang dapat menyebabkan risiko luka tusuk jarum atau penyebaran infeksi nosokomial. Meskipun petugas memiliki pemahaman baik, penggunaan APD oleh semua petugas belum sepenuhnya konsisten. Tahap pengurangan, penyimpanan, pengangkutan internal, pengolahan, dan pemusnahan akhir menunjukkan kepatuhan tinggi (100%). Oleh karena itu, perbaikan berkelanjutan diperlukan, terutama pada tahapan hulu yang bergantung pada faktor manusia. Tenaga Kesehatan Lingkungan berperan penting dalam pengawasan, edukasi, dan pemutusan rantai penularan untuk menjaga keselamatan petugas, pasien, dan pengunjung. Penelitian ini berkontribusi untuk mengoptimalkan sistem pengelolaan limbah medis di rumah sakit pendidikan.
Hospitals, as healthcare service facilities, generate both medical and non-medical waste. Data show that medical waste, classified as hazardous (B3), is infectious and toxic, posing a high risk if not properly managed. In Indonesia, many healthcare facilities still do not fully comply with medical waste management standards. This study aims to evaluate the solid medical waste management system at a Teaching Hospital in Depok, West Java, using a case study design through observation, interviews, and document analysis. The findings indicate that the hospital produced a total of 138,370.3 kg of B3 solid medical waste in 2024. Overall, the compliance level of implementation reached 72.2% (“Partially Compliant”). However, gaps were still identified in segregation at source (33.3%) and in containment/collection (25%), such as the mixing of medical and non-medical waste, which can lead to risks like needlestick injuries or the spread of nosocomial infections. Although staff demonstrated a good understanding of procedures, the use of personal protective equipment (PPE) among all workers was not fully consistent. The stages of waste reduction, temporary storage, internal transport, treatment, and final disposal showed high compliance (100%). Therefore, continuous improvement is needed, particularly in the upstream stages that depend on human factors. Environmental Health personnel play a crucial role in supervision, education, and breaking the chain of transmission to ensure the safety of healthcare workers, patients, and visitors. This study contributes to strengthening medical waste governance in teaching hospitals.
Prestasi belajar mahasiswa selama menjalani proses pendidikan akan berdampak pada daya saing mahasiswa tersebut saat memasuki dunia kerja. Seseorang dengan prestasi belajar yang rendah akan kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya bahkan akan sulit mendapatkan pekerjaan. Motivasi, minat dan dukungan lingkungan diduga berperan besar dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar dan kuat hubungan antara motivasi belajar, minat memilih jenis pendidikan tenaga kesehatan dan dukungan lingkungan baik secara Sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap prestasi belajazr mahasiswa Politeknik Kesehatan Pekanbaru. Disain penelitian ini adalah cross sectional, dengan populasi semua mahasiswa kelas regular Politeknik Kesehatan Pekanbaru pada program Studi kebidanan, keperawatan dan gizi sebanyak 326 mahasiswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik regresi sederhana dan ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifkan antara motivasi belajar dan minat lerhadap prestasi belajar mahasiswa dengan koefisien determinan 0,445. Artinya variabel motivasi dan minat secara bersama-sama dapat memprediksi prestasi belajar mahasiswa sebesar 44,S%. Sementara itu dukungan Iingkungan tidak terbukti berhubungan dengan prestasi belajar mahasiswa Politeknik Kesehatan Pekanbaru. Setelah dikontrol dengan dua variabel konfending yaitu jurusan asal sekolah dan uang saku, ternyata kedua variabel konfonding tersebut turut pula menambah kekuatan determinan terhadap prestasi belajar mahasiswa Politeknik Kesehatan Peknnbaru menjadi 45,4 % dengan model persamaan regresi* Prestnsi Belajar = -1,288 + 0,04746 * Motivasi + 0,0281 * Minat + 0,014664* Asal Sekolah + 0,007228* Uang Saku. Dengan demikian yang menjadi model determinan prestasi belajar mahasiswa Politeknik Kesehalan Pekanbaru adalah, motivasi belajar, minat memilih pendidikan tenaga kesehatan,jurusan asal sekolah, dan uang saku. Politeknik Kesehatan Pekanbaru perlu melakukan upaya-upaya peningkatan motivasi dan penyesuaian minat pada diri mahasiswa sehingga prestasi belajar dapat meningkat. Perlu melakukan penelitian lanjutan terhadap faktor-faktor Lainnya yang mungkin pengaruhnya sangat besar terhadap prestasi belajar mahasiswa.
Sebagai RS swasta yang mempunyai misi melayani seluruh lapisan masyarakat terutama golongan tidak mampu, RSIAX perlu melakukan efisiensi. RS ini harus melakukan efisiensi pengeluaran terutama yang terkait dengan pengadaan barang logistik. Selama 4 tahun terakhir, terjadi peningkatan belanja barang, selain itu ditemukan pula belanja dalam jumlah besar yang tidak diiringi dengan penggunaan barangnya. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran yang jelas tentang aspek manajemen pengadaan barang di RSIAX tahun 2011. Pendekatan penelitian adalah penelitian operasional dengan pengamatan langsung, telaah dokumen dan wawancara mendalam. Penelitian ini menunjukkan adanya beberapa masalah dalam pengelolaan pengadaan barang terutama dari segi perencanaan, kebijakan, Standard Operational Procedure (SOP), dan kapabilitas SDM. Hasil penelitian ini menyarankan: pertama, perlunya perencanaan pengadaan barang yang baik dengan mempertimbangkan urgensi pengadaan barang dan dampak negatif yang mungkin terjadi bila barang tersebut tidak terpenuhi (aspek strategis), analisis ekonomi dengan membandingkan perkiraan anggaran yang dibutuhkan dengan perkiraan pendapatan yang diharapkan serta perkiraan tingkat keberhasilan dalam mencapai pendapatan tersebut. Kedua, penyempurnaan kebijakan yang sudah ada dan revisi SOP. Ketiga, memberi kesempatan Ketua Tim Pembelian dan Panitia Pengadaan Barang dalam kursus/pelatihan pengadaan barang di RS (bersertifikat) dan memberi pelatihan pengadaan barang bagi para staf Pembelian. Keempat, mendokumentasikan semua berkas-berkas pembelian, informasi pemasok dan user dalam database komputer. Kelima, perlunya evaluasi berupa analisis nilai, evaluasi pemasok dan evaluasi user secara berkala. Kata kunci: Inefisiensi, belanja barang, perencanaan.
As a private hospital that has a mission to serve all levels of society, especially the poor, RSIAX need to make efficiencies. Hospital should make expense efficiency primarily related to the procurement of logistics items. During the last four years, has been an increase in spending, in addition, it found that large amounts of spending is not accompanied by the use of the goods. The purpose of this study is to get a clear picture of the aspects of procurement management in RSIAX in 2011. Research approach is operational research with direct observation, document review and interviews. This study revealed a number of problems in managing the procurement of goods, especially in terms of planning, policy, Standard Operational Procedure (SOP), and human resource capabilities. These results suggest: first, the need for good procurement planning by considering the urgency of the procurement of goods and the negative impact that may occur when the goods are not being met (strategic aspects), economic analysis by comparing the estimated budget required to estimate the expected revenue and the estimated level success in achieving those revenues. Second, improvement of existing policies and revision of SOPs. Third, allowing Purchasing Team Leader and Procurement Committee get the course / training in Hospital procurement (certified) and provide procurement training for staff purchases. Fourth, documenting in a computer database all purchasing files, user and suppliers information. Fifth, the need for evaluation in the form of value analysis, supplier evaluation and user evaluation at regular intervals. Key words: Inefficiency, procurement, planning.
