Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32998 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Renta Nilawati Sibagariang; Pembimbing: Sudarti Kresno; Penguji; Endah W, Hernani, Ismoyowati
Abstrak:

ABSTRAK Stigma terhadap penderita kusta masih mempakan masalah utama di Indonesia, dimana hal ini secara program berdampak pada keterlambatan pendedta untuk diobati dan secara individu bcrdampak negatif pada kondisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya. Namun sampai saat ini masih sangat sedikit penelitian yang menggali masalah stigma masyarakat terhadap penderita kusta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang pcngetahuan, persepsi, kepercayaan, sikap masyarakat terhadap pendenta kusta yang berhubungan dengan teljadinya stigma terhadap penderita kusta. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi dengan menggunakan metode kualitatiil dimana pengumpulan data dilakukan dengan telaah dokumen, Focus Group Discussion (FGD), dan wawancara rnendalam. lnforman kunci terdiri dari wasor kusta, juru kusta, tokoh masyarakat, penderita kusta, mantan penderita kusta, dan infonnan terdiri dari petugas kcschatan di puskesmas dan masyarakat non pcnderita kusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teljadinya stigma bcrhubungan dengan pengetahuan yang rendah temang cara penularan pcnyakit kusta, persepsi bahwa penyakit kusta adalah penyakit yang sangat menular dan dapat menyebabkan mutilasi bahkan kematian. Terjadinya stigma di Kecamatan Simpenan juga berhubungan dcngan sikap masyarakat yang takut tertular dan ketika melihat kecacatzm yang mengerikan yang ditimbulkan oleh penyakit kusta. Ditemukan juga bahwa penderita kusta yang cacat mendapatkan perlakuan negatif yang Iebih berat dibanding dengan penderita yang lidak cacat Selain itu ditemukan juga bahwa penderita kusta dcngan tingkat kecacatan yang sama namun bcrbeda status sosial ckonominya, akan mendapatkan perlakuan negatif yang berbeda pula. Dengan demikian disarankan untuk meningkatkan pengetahuan melalui KIE dcngan metode dan media yang diinginkan kepada seluruh lapisan masyarakat dan petugas kesehatan. Lcbih lanjut, penemuan dan pengobatan penderita secara dini oleh petugas kesehatan dan dibantu dengan peranserta tokoh masyarakat mennpakan hal yang esensial.


ABSTRACT Stigma related to leprosy is still a big problem in Indonesia, where regarding to leprosy control program it influences to patient delay for treatment and regarding to person affected it aH`eets negatively to his/her physical, mental, social and economic status. Particularly, studies that have explored stigma in community toward people aifected leprosy are rare. The purpose this study was to get deep information of knowledge, perception, belief, attitude of community toward people affected leprosy relating to occurrence of stigma. It is based on qualitative study conducted at Simpenan, in Sukabumi district where data collecting were obtained through document observation, Focus Group Discussion (FGD), and in-depth interview. Key informant of this study consists of district leprosy supervisor, leprosy health worker, community leader, people affected leprosy, ex-leprosy patient and others informant are health worker at hea.lth center and community (non people affected leprosy). This study shows that the occurrence of stigma are related to lack of knowledge about the course of infection of the disease, perception that leprosy is very contagious disease and might caused mutilation and death. The occurrence of stigma in Simpenan also related to community attitude who afraid of to be contracted and Scare t0 the appearance of terrible impainnent due to leprosy. Also found that people affected with disability get more negative treatment from community compare to people affected without disability. it is highlight further that even with similar grade of disability, social-economical differentiation makes significant difference on treatment by community. Therefore it suggests to improve knowledge of community and health workers through IEC which use appropriate media and method. One most important in preventing of disability is to find and treat patient timely by health worker with community leader participation.

Read More
T-2534
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Wahyuni; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Nuning M.K. Masjkuri, Christina Widaningrum
S-6201
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pande Nyoman Vidya Dhanika; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dadan Erwandi, Husein Habsyi
Abstrak: Stigma terkait HIV merupakan sikap, perilaku dan penilaian negatif terhadap ODHA akibat dari ketakutan umum yang akhirnya berujung pada tindakan diskriminatif. Perilaku pemberian stigma terhadap ODHA di Indonesia terus meningkat berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 dan 2018. Akibat dari stigma yang tidak diatasi dapat berujung pada hilangnya keinginan ODHA untuk mengakses layanan kesehatan, sehingga dapat menyebabkan kemungkinan penularan akibat ketidaktahuan status HIV dan kematian terkait AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberian stigma pada ODHA oleh wanita usia 15-49 tahun di Indonesia dengan menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indoneisa (SDKI) tahun 2017, yang menggunakan desain studi cross-sectional. Uji Chi Square digunakan untuk menganalisis hubungan antara 9 variabel independen dengan perilaku pemberian stigma. Sampel sebanyak 32.184 dari 49.627 wanita usia 15-49 tahun yang memenuhi kriteria pernah medengar tentang HIV/AIDS dan data yang lengkap sesuai variabel yang dianalisis. Ditemukan proporsi perilaku pemberian stigma pada ODHA oleh wanita usia 15-49 tahun di Indonesia, tahun 2017 sebesar 89,5%. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara faktor predisposisi (wilayah tempat tinggal, pengetahuan HIV/AIDS dan sikap terhadap ODHA, faktor pemungkin (indeks kekayaan) dan faktor penguat (sumber informasi HIV/AIDS) dengan perilaku pemberian stigma pada ODHA. Diharapkan pemerintah dapat bekerja sama dengan yayasan/organisasi HIV/AIDS untuk meningkatkan intervensi promotif dan preventif terkait HIV/AIDS terutama mengenai mekanisme penularannya khususnya di wilayah perdesaan Indonesia serta melibatkan masyarakat luas untuk dapat berinteraksi langsung dengan ODHA.
Kata kunci: Stigma terkait HIV, HIV/AIDS, Orang dengan HIV/AIDS

HIV-related stigma is a negative attitude, behavior and perception of PLHIV as a result of general fear which ultimately results in discriminatory actions. Stigmatizing behavior towards PLHIV in Indonesia continues to increase based on the results of the Basic Health Research (Riskesdas) in 2010 and 2018. As a result of the unresolved stigma can lead to the loss of the desire of PLHIV to access health services, which can lead to the possibility of transmission due to ignorance of HIV status and AIDS-related deaths. This study aims to analyze factors related to the behavior of giving stigma to PLHIV by women aged 15-49 years in Indonesia using data on Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2017. The approach is done with cross-sectional study design, as well as analysis with Chi Square test to analyze the relationship between 9 independent variables with the behavior of giving stigma. The sample of the study was 32,184 of 49,627 woman aged 15-49 years old with inclusion criteria of research subjects who had heard about HIV / AIDS and who had complete data according to the variables analyzed. It was found the proportion of stigma-giving behavior among PLHIV by women aged 15-49 years in Indonesia in 2017 was 89.5%. Analyze result shows that there is a relation found between predisposing factors (area of residence, knowledge on HIV/AIDS and behavior towards PLHIV), enabling factors (wealth index) and reinforcing factors (information source of HIV/AIDS) with stigmatizing behavior towards PLHIV. It is hoped that the government can cooperate with HIV/AIDS foundations and organizations to improve promotive and preventive interventions related to HIV/AIDS regarding transmission mechanisms especially throughout rural area in Indonesia and also involve wider community to be able to interact directly with PLHIV.
Key words: HIV-related Stigma, HIV/AIDS, People Living with HIV/AIDS
Read More
S-10349
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jenny Jannet Rotua; Pembimbing: Anwar Hasan
S-3451
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septi Kurnia Aryani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Gemelly Nurhidayat
Abstrak: Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang terjadi saat pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau bila tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya, ditandai dengan terjadi peningkatan kadar gula darah atau hiperglikemi dengan hasil pemeriksaan gula darah sewaktu > 200 mg/dl dan gula darah puasa >126 mg/dl. Diabetes mellitus menyebabkan 1,5 juta kematian, 2,2 juta resiko kematian, risiko penyakit kardiovaskular dan lainnya. Tujuan Penelitian ini mengetahui gambaran pola makan dan kepatuhan minum obat antidiabetik dengan kadar gula darah penderita diabetes mellitus, jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu penderita diabetes melitus yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara yang sudah dilakukan pemeriksaan kadar gula, sampel penelitian sebanyak 160 pasien dengan metode systematic random sampling. Pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan kuesioner. Teknik analisa data menggunakan uji chi square. Hasil analisis umur tidak berhubungan dengan kadar gula darah (nilai p=0,270), Jenis kelamin tidak berhubungan dengan kadar gula darah (nilai p=0,293), Pendidikan tidak berhubungan dengan kadar gula darah (nilai p=0,202), Pola makan berhubungan dengan kadar gula darah (nilai p=0,002), Kepatuhan Minum obat berhubngan dengan Kadar gula darah (nilai p=0,003). Kesimpulan pola makan dengan kepatuhan minum obat berhubungan dengan kadar gula darah sedangakan karakteristik individu meliputi umur, jenis kelamin dan pendidikan tidak berhubungan dengan kadar gula darah. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Pola Makan, Kepatuhan Minum Obat Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas does not produce enough insulin or when the body can not effectively, using the insulin it produces, is characterized by an increase in blood sugar or hyperglycemia with a blood glucose test result> 200 mg / dl and fasting blood sugar > 126 mg / dl. Diabetes mellitus causes 1.5 million deaths, 2.2 million death risks, cardiovascular disease and other risks. The purpose of this study to know the pattern of eating patterns and adherence to taking antidiabetic drugs with blood sugar levels of people with diabetes mellitus, This study type is analytic with cross sectional study design. Population in this research that is patient of diabetes mellitus who visited to Puskesmas of Cipinang Besar Utara Subdistrict which have been checked blood sugar level, research sample counted 160 patients with systematic random sampling technique. Data collection using documentation and questionnaires. Data analysis technique using chi square test. Age analysis was not related to blood glucose level (p value = 0.270), sex was not related to blood sugar level (p value = 0.293), education was not related to blood sugar level (p value = 0.202), diet was associated with blood sugar (p value = 0,002), Drug Compliance drug related to blood sugar level (p value = 0,003). Conclusions of diet with medication adherence are associated with blood sugar levels while individual characteristics including age, sex and education are not related to blood sugar levels. Key words: Diabetes Mellitus, Dietary Habit, Drug Adheren
Read More
S-9818
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maswardi; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Evi Martha, Luknis Sabri, Fitriati, Sumijatun
Abstrak:

Pembangunan kesehatan di Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat fertilitas dan mortalitas, serta mampu meningkatkan angka harapan hidup, sehingga stuktur usia penduduk di suatu negara mulai bergeser menjadi semakin tingginya prosentase penduduk lanjut usia dibanding anak-anak dan remaja. Peningkatan ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan baik fisik, mental, psiko sosial, dan ekonomi. Untuk itu lansia memerlukan perhatian khusus sesuai dengan keberadaannya.Perubahan sosial yang terjadi memerlukan penyesuaian-penyesuaian yang kadangkala melahirkan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Salah satu aspek kehidupan masyarakat Minangkabau yang cenderung berubah adalah pergeseran pola kehidupan dari keluarga luas (extended family), ke bentuk keluarga inti (nuclear family). Pergeseran ini berpengaruh terhadap pola penyantunan lansia. Sebagai indikator terjadinya perubahan pola penyantunan terhadap lansia adalah dengan semakin diminatinya keberadaan panti werdha dalam masyarakat Minangkabau yang kita kenal dengan konsep keluarga luas dan kolektivitas yang tinggi.Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan tipe studi kasus, untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang fenomena penyantunan lansia di panti werdha dalam masyarakat Minangkabau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan lansia disantuni di panti, latar belakang sosiodemografi, aspek ekonomi dan merantau terhadap penyantunan di panti, serta untuk mengetahui hubungan sosial antara sesama lansia, dengan pengasuh, dan dengan keluarga. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan studi dokumentasi. Populasi adalah lansia yang disantuni di panti (80 orang) dari populasi ini diambil 11 orang informan. Informan penelitian ini adalah lansia yang disantuni di panti, pengurus panti, pengasuh, dan keluarga lansia.Hasil analisis penelitian menyimpulkan empat faktor penyebab lansia disantuni di panti. Pertama, dari komposisi keluarga, tidak mempunyai anak sama sekali/semua anak sudah meninggal, atau punya anak laki-laki saja. Kedua, kesulitan ekonomi/keterlantaran. Ketiga, konflik keluarga. Keempat, sebagai ekses dari tradisi merantau dimana melemahnya hubungan kekerabatan dengan keluarga yang akan menyantuni.Komunikasi dan interaksi sosial sesama lansia berlangsung cukup baik dan dalam batas kewajaran. Konflik yang terjadi sesama lansia disebabkan masalah kebersihan kamar/wisma, kecurigaan, perasaan iri atau dengki, dan perilaku teman yang kurang baik. Bila mengalami masalah para lansia berkonsultasi dengan teman, pengasuh, keluarga, dan dipendam sendiri, teman kurang berperan untuk menolong mengatasi permasalahan yang dialami lansia.Hubungan sosial dengan pengasuh cukup harmonis. Pelayanan pengasuh berupa pelayanan kesehatan, kebersihan diri dan lingkungan, keamanan, dan pelayanan bimbingan psikologis. Tindakan pengasuh yang kurang menyenangkan bagi lansia adalah sering dipindah wismakan, mempekerjakan lansia, kesulitan memberikan asuhan karena pengasuh masih muda, dan kekakuan dalam memberikan pelayanan.Hubungan sosial dengan keluarga sudah terputus, terputusnya hubungan disebabkan konflik keluarga. Ditemukan juga hubungan sosial dengan keluarga masih berlangsung, tetapi dengan intensitas dan kualitas yang sangat rendah.Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada keluarga untuk memberikan perhatian dan kepedulian terhadap lansia yang disantuni di panti. Kepada pimpinan panti, untuk mengadakan pelatihan pekerjaan sosial bagi pengasuh panti, dan lebih meningkatkan supervisi atau pengawasan. Kepada pengasuh untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan lansia di panti, lebih luwes dan tidak kaku dalam memberikan pelayanan, serta lebih proaktif dalam memberikan pengasuhan. Kepada petugas administrasi diharapkan dapat mengisi data para warga binaan secara lengkap.


 

Analysis the Phenomenon of Elderly People Handout at Panti Werdha in Minangkabau Society (A Case Study at Panti Werdha "Sabai Nan Aluih", Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman, 2002)The development of health in Indonesia has successfully decreased fertility and mortality level, and been able to increase living-hope rate, so that the structure of the inhabitant's age in a country starts to move to a high percentage of old-aged inhabitants compared to that of children and teenagers. The increase influences various aspects of life physically, mentally, psycho-socially, and economically. Therefore, old-aged people need special attention appropriate with their existence.Social changes that happen need adoptions which sometimes cause social problems in people. One of the aspects of Minangkabau society that tends to become different is the change of extended family life pattern to nuclear family life pattern. This change effects on the pattern of old-aged people handout. The indicator of the pattern change is a high interest of panti werdha existence in Minangkabau society, known as extended family concept and high collectivity.The research used qualitative method with case study type as to get further information about old-aged people hand-out phenomenon at panti werdha in Minangkabau society. The objective of the research is to find out what factors that cause old-aged people being handed-out at the panti, socio demography background, economy aspects, home-leaving aspect, and social relation among old-aged people, between old-aged people and their nursemaid, and between old-aged people and their family. The data is collected by thorough interviews, participation observation, and documentation study. The population is the old-aged people who have need handed-out at the panti (80 people), eleven people of whom were taken as informer. The informers of the research are old-aged people handed-out at the panti, the management of the panti, the nursemaids, and the old-aged people's families.The result of the research concludes that there are four factors that cause why old-aged people are being handed-out at the panti. First, it can be seen from family composition; without any children/all children died, or with only one son. Second, economy difficulty/neglection. Third, family conflict. Fourth, it is caused by home-leaving traditions that weaken relative relationship with the family who will hand out.Communication and social interaction amongst old-aged people run well and still inside the fittingness. Conflicts that happen amongst old-aged people are caused by the room cleanliness, suspiciousness, jealousy, and bad friend behavior. If the old-aged people have problems, they consult with their friends, nursemaid, family, and they keep with themselves. Friends, how ever, have fewer roles to help overcoming their problems.Social relation with the nursemaids is quite harmonic. The nursemaid service are such as health service, self-sanitary & environmental sanitary, security, and psychological guidance service. The uncomfortable behavior of the nursemaids is moving the old-aged people to another room often, employing them, having difficulty of taking care because the nursemaid is still young and giving service stiffly.Social relation with the family has been cut off, caused by a family conflict. This research also found that social relation still goes on but with low intensity and quality.Based on the research, it is suggested that the family gives attention and care to old-aged people handed-out at the panti. The head of the panti should hold training for Social Workers for the nursemaids. The head of the panti should also improve their supervision or controlling. The nursemaids should participate in old-aged people's activities/events at the panti, they should be more flexible and not stiff while giving the service, more pro-active while taking care of the old-aged people. The administration staff should fill the data of the panti inhabitant completely.

Read More
T-1475
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Fitria Rahayu; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Anwar Hasan, Apriliana
Abstrak: Diabetes melitus adalah penyakit yang perkembangan epideminya sangat cepat dan biaya perawatan diabetes pun sangat besar karena merupakan penyakit akut. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk melihat biaya rawat jalan tingkat lanjut diabetes pada peserta JPK PT Jamsostek (Persero) di empat rumah sakit pemerintah di Jakarta yang diteliti serta melihat perbandingan biaya RJTL diabetes pada keempat rumah sakit tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menemukan bahwa biaya RJTL diabetes per oranproporsi biaya paling besar pada RJTL diabetes di rumah sakit adalah biaya farmasi (40%-60%) diikuti oleh biaya pemeriksaan diagnostik (24%-36%), dan biaya konsultasi dokter spesialis (10%-12%). Rata-rata biaya RJTL diabetes adalah Rp 400,280-Rp 1,141,372 per orang per tahun. Beban biaya RJTL diabetes di rumah sakit adalah 2.2%-6.2% dari pendapatan per bulan. Beban tersebut dapat dikurangi dengan melakukan pencegahan diabetes, deteksi dini, serta reduksi komordibitas dan komplikasi dengan meningkatkan layanan perawatan diabetes. Dalam skala nasional, program pencegahan yang costeffective harus dimulai untuk memaksimalkan peningkatan kesehatan.
Kata Kunci: Diabetes melitus, rawat jalan tingkat lanjut, rumah sakit, biaya

Diabetes mellitus (DM) is a growing epidemic and the cost of treating diabetes is largely increasing. The objective of this study was to know cost of diabetes among member of JPK PT Jamasostek (Persero) whom attends at out-patient care hospitals in Jakarta, and to know cost comparison of diabetes at out-patient hospital. This study use quantitative research that has descriptive characteristic. From the total diabetes cost components, the cost for medicine represents the largest share (40%-60%), followed by laboratory cost (24%-36%), and consultation cost (10%-12%). The annual mean outpatient cost for each person with diabetes was Rp 400,280-Rp 1,141,372. The cost burden of DM at outpatient care hospitals is 2.2%-6.2% from income per month. That burden could be saved by prevention, earlier detection, and a reduction in diabetes co-morbidities and complications through improved diabetes care. Large scale and cost-effective prevention programs need to be initiated to maximize health gains and to reverse the advance of this epidemic.
Key words: Diabetes mellitus, out-patient, hospital, cost
Read More
S-8557
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leny Wulandari; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Riris Nainggolan, Bambang P. Cadrana
Abstrak:

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengukur peran pengetahuan terhadap perilaku pencarian pengobatan penderita suspek TB Paru setelah dikontrol oleh umur, jenis kelamin, status perkawinan, status pekerjaan, tingkat pendidikan, jarak dan waktu tempuh ke Puskesmas dan RS. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang menggunakan data sekunder hasil survei Pengetahuan Sikap Perilaku (PSP-TB) 2010. Sampel penelitian adalah anggota keluarga yang berumur ≥ 15 tahun yang mengalami gejala TB Paru sebanyak 443 responden. Hasil penelitian menemukan bahwa ada hubungan antara peran pengetahuan penderita suspek TB Paru dengan Perilaku Pencarian Pengobatan TB Paru di Indonesia setelah dikontrol pekerjaan (OR=2,3, CI=1,349-3,952). Serta adanya interaksi antara pengetahuan dan pekerjaan.


ABSTRACT This study aims to quantify the role of knowledge on treatment seeking behavior of patients with suspected pulmonary TB after controlled by age, gender, marital status, employment status, education level, distance and travel time to health center and hospital. The study was a quantitative study with cross sectional design using secondary data of Knowledge Attitudes Behaviour (PSP-TB) Survey 2010. Research sample is a sample of respondents aged ≥ 15 years with symptoms of pulmonary TB as many as 443 respondents. Based on the results of the study found there is a relationship between the role of knowledge of patients with suspected pulmonary TB with treatment seeking Behavior of Pulmonary TB in Indonesia after controlled by variable of employment status (OR = 2.3, CI = 1.349 to 3.952), and there is interaction between knowledge and employment status.

Read More
T-3632
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Winarsi; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Penguji: Kodrat Pramudho, Ely Setyawati
Abstrak:

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2007) perilaku buang air besar di jamban merupakan salah satu perilaku higienis. prevalensi nasional berperilaku benar dalam buang air hesar (BAB) adalah 71,1%. Sementara persenlase rumah tangga yang menggunakan jamban Ieher angsa 68,9% dan hanya 46,3% tempat pembuangan akhir tinja menggunakun tangki/SPAL (saniter) (Susenas, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahul faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan jaminan oleh masyarakat di Kecamatan Banyuasin Ill Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan Tahun 2009. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional yang dilakukan pada bulan Februari 2009 terhadap 192 keluarga yang luar rumah setelah dikontrol oleh variahel sikap, keterpaparan penyuluhan, pembinaan petugas dan dukungan tokoh masyarakat. Berdasarkan hasil tersebut disarankan agar Dinas Kesehatan melakukan advokasi kepada pihak aksekutif (Bupati) dan pihak legislatif (DPRD komisi D) untuk mendapatkan dukungan program dan penganggaran, meningkatkan kegiatan KIE (Komunikasi lnformasi Edakasi) mengenai penggunaan jamban saniter, bekerjasama dengan sektor terkait (Dinas PU Cipta Karya) dalam pemenuhan cakupan air hersih, menghimbau masyarakat khususnya yang helwn punya jamhan untuk membangun jaroban di dalam rumah, mengembangkan media komunikasi massa baik cetak maupun elektronik, pelatihan penyegaran petugas, pemhentukan dan pelatihan kader dan hennitra dengan tokoh masyarakat. Bagi peneliti lain agar mengemhangkan instrumen penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar den deasin yang berheda serta telaah secara mendalam mengenai pcnggunaan jamban saniter.


 

According to ruskesdas (Basic Health Research) (2007), defecating behavior in the privy is one of hygienic behavior. National prevalence of the right defecating behavior (BAB) is 7!.1%. And percentage of households who use special privy (leher angsa) is 68.9% and only 46.3% of privies use tanks/SPAL (sanitary) (Susenas, 2007). 3.72 times to use sanitary privy compared wjth privy outside home and attitude, information coverage, officers guidance and social figures support as control variables and social figures' support variables have a significant relation with privy use. Based on this research results, it is recommended to Health Service Department to propose suggestion to executive {regent) and legislative (regional representatives, Commission D) in order to support Health Promotion Programs and Environment Sanitation and to allocate fund for both programs, not only to stress behavioral change of defecating but also how to use the privies sanitary, cooperate with the concerned parties (Regional Public Work Department, Cipta Karya) to make freshwater availability, building a water - closet in their homes if they don't have it yet, to develop public media whether its printed or electronic, retrain the officers, formatting, and training cadre, and work together with the well - known people in the society. For other researcher to develop the instrument used in the research with more samples and a different design. Also a deeper understanding in the use of sanitized privy.

Read More
T-3069
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosannita Br. Pangkar; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi; Penguji: Teng Soegilar, Adhi Dharmawan
S-4409
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive