Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38287 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Risdawaty Rizar; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Sumijatun, Mieke Savitri, Untung Sugiharto
B-1019
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amalia; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Amila Megraini, Hanun Ernatyaswati,
Abstrak:

Untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan yang memadai, di rumah sakit harus tersedia sarana, fasilitas, dana yang cukup, dan sumber daya manusia yang terampil dan berdedikasi tinggi. Keberhasilan upaya pelayanan di rumah sakit sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas tenaga manusia yang memadai. Kualitas kerja sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja yang dimiliki oleh setiap karyawan, dalam hal ini tenaga perawat. Pelayanan keperawatan rumah sakit memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Rendahnya motivasi kerja akan memberikan efek negatif terhadap produktifitas kerja perawat tersebut. Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta sebagai rumah sakit swasta telah melakukan evaluasi kinerja karyawan dengan PKP (Penilaian Karya Pekerja), tetapi belum ada bukti yang menunjukkan bahwa motivasi kerja perawat tersebut tinggi atau rendah. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian terhadap motivasi kerja perawat karena merupakan unsur penting untuk mencapai produktivitas yang tinggi dan secara langsung mempengaruhi citra rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang hubungan karakteristik individu, faktor motivasi ekstrinsik, dan faktor motivasi intrinsik tenaga perawat terhadap motivasi kerja mereka di RS. Pelabuhan Jakarta. Penelitian yang dilakukan bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel sebanyak 65 orang responden dari 80 orang total populasi yang diteliti dengan kriteria inklusi pegawai tetap dan bersedia mengisi kuesioner. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data primer dari kuesioner yang disebarkan kepada para perawat, dan data sekunder dari bagian personalia dan bidang keperawatan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 50,8% perawat memiliki motivasi kerja yang rendah dan 49,2% dengan motivasi kerja yang tinggi. Dari hasil analisis hubungan antar variabel ditemukan bahwa dari variabel karakteristik individu yang memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi kerja adalah usia responden dan lama kerja. Dari variabel faktor motivasi ektrinsik yaitu hubungan kerja, gaji yang diterima, kondisi lingkungan kerja, kebijakan rumah sakit dan supervisi berhubungan dengan motivasi kerja. Sedangkan dari variabel faktor intrinsik yang memiliki hubungan dengan motivasi kerja adalah faktor pengakuan atas pekerjaan, pekerjaan itu sendiri dan kesempatan pengembangan individu. Berdasarkan uji statistik yang dilakukan, variabel yang paling dominan mempengaruhi motivasi kerja adalah faktor kesempatan pengembangan individu. Dalam upaya untuk meningkatkan motivasi kerja perawat unit rawat inap RS. Pelabuhan Jakarta, dibutuhkan penerapan analisis teknik motivasi berprestasi serta memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan pengakuan atas prestasi kerja yang diraih misalnya dengan pemberian reward.


To performe the best quality in health services, hospital must have an excellent facility, fund, and highly dedicated human resources. Successfullness of health services redirected to the quality and quantity of human resources. The quality of work performance is influenced by work motivation in every individual, in this case is nurses as the important role in achieving the best quality in health services, because poor motivation in work will give negative effect in productivity of work itself. RS. Pelabuhan Jakarta as a private hospital has evaluate their employee productivity by PKP (Penlilaian Karya Pekerja), but there is no fact shows that they also have poor or highly motivated employee, especially nurses. That is why it needs research concerning motivation assessment toward their performance because motivation eventually effect the productivity of nurses and the image of the hospital. The aim of this research is to find the relation between independent variable which is nurse individual characteristic, extrinsic and intrinsic motivation factors with their work motivation as dependent variable at RS. Pelabuhan Jakarta. Research conducted is quantitative with cross-sectinal methode. Total sample is 65 nurses over 80 nurses as total population of in-patient unit nurses as the employee of RS. Pelabuhan Jakarta. The source of data in this research are primary data from distributed questionaire to nurses, and secondary data from personel unit and nursing departement. Result of this research shown that 50,8% of nurses had poor work motivation meanwhile 49,2% of nurses had high motivation. From the relation analysis found that age and work periode have significant relation with work motivation, so as work relation, take home pay, working environment, hospital policy and supervision from extrinsic variables; and also certify of work, the work itself, and opportunity of individual development as the intrinsic motivation factor which related to work motivation. According to statistic analysis, independent variable that has dominant relation to work motivation is the opportunity of individual development. In accordance to increase working motivation of in-patient unit nurses at RS. Pelabuhan Jakarta, the achievement motivation technique must be applied, also giving the opportunity to explore the capability of nurses, and rewarded their achievement.

Read More
B-1091
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Firdaus; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Helen Andriani, Dwi Noerjoedianto, Muhammad Syukri
Abstrak: Praktik cuci tangan merupakan faktor kunci dalam menurunkan dan mencegah infeksi terkait pelayanan kesehatan. Masih rendahnya praktik cuci tangan di kalangan petugas kesehatan menyebabkan angka infeksi di rumah sakit masih cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi elemen yang menjadi penyebab masih rendahnya praktik cuci tangan enam langkah melalui pendekatan elemen strategi implementasi multimodal WHO di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Mitra Medika Batanghari. Dengan pendekatan kualitatif, Hasil penelitian menunjukkan praktik cuci tangan enam langkah baik (89,6%) dan ketersediaan handrub berbahan dasar alkohol merupakan faktor yang paling dominan berkontribusi terhadap pelaksanaan praktik cuci tangan enam langkah.
Read More
T-5798
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sudarmaji; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Sumijatun, Petter A.W. Pattinama, Ahmad Qoyim
Abstrak:
ABSTRAK Pelayanan di rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang tercliri dari berbagai disiplin ilmu, salah satunya adalah disiplin ilmu di bidang keperawatan, pelayanan keperawatan dituntut untuk dapat bersifat profcsional, yang herarti pelayanan perawatan dituntut untuk memiliki akuntabilitas yang sesuai dengan kcwenangannya. Pelayanan keperawatan di Badan RSUD Ariawinangun menurut hasil survey kepuasan pelanggan kurang memuaskan bagi pelanggannya, maka itu perlu kiranya dilakukan evaluasi terhadap kompetcnsi para perawat di Badan RSUD Aljawinangun. Pcncltian ini menggunakan metode studi kasus, yang meneliti aspek kompetensi para perawat., yang terdiri dari aspek kompetensi intelektual, aspek kompetensi komunilcasi interpersonal dan aspek kompctcnsi leknikal. I-Iasil penclitian ini menunjukan bahwa perawat di BRSUD Arjawinangun rata- rata berumur 29 tahun dengan masa kerja 97 bulan (8 tahun lbulan), dan nilai rata-rata kompetensi perawat di BRSUD Arjawinangun adalah 59,0 yang terdiri nilai rata-rata kompetensi intcleklual sebesar 53,5 kompetensi komunikasi interpersonal 56,5 dan kompetcnsi teknikal 66,9. Hasil uji statistik menunjukan bahwa tidak ada perhedaan yang bemakna antara umur, masa kexja, pendidikan, dan jenis kelamin dengan kompetensi perawat diBRSUD Arjawinangun, akan tetapi ada kecenderungan korelasi negatiflyang berani bahwa semakin banyak umur perawat, masa kelja akan semakin kecil nilai kompctensinya, oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan, perlu di upayakan perbaikan kualitas melalui peningkatan pengetahuan, dan peiatihan tcntang keuampilan tcknikal dan ketrampilan berkomunikasi dengan pasien/ klien secara konsisten dan berkelanjutan.

ABSTRACT Hospital services is an integral part of health services, which consist of various science discipline, one of it is science discipline in nursing sector. Nursing services demanded to have appropriate accountability with their authority. Nursing services in BRSUD Arjawinangun according to costiuner satisfaction survey was less satisfying for their costumer, so that needs evaluation toward nurses? competence in BRSUD Arjawinangun. This research is using case study method, that identifying nutse`s competence aspect, which consist of intellectual competence aspect, interpersonal communication competence aspect and technical competence aspect. This research result shows that nurses in BRSUD Arjawinangun avemgely ages of 29 years old with work length of 97 months (8 years l month). Average value of nurse competence in BRSUD Aijawinangun is 59.0 that consist of average value of intellectual competence as much as 53.5, interpersonal communication competence as much as 56.5 and technical competence as much as 66.9. Statistical test result shows that there is no significant difference between age, work length, education and gender with nurse competence in BRSUD Aijawinangun, however there is a tendency of negative correlation, which means the older thc nurse, work length will have lesser competence value. Therefore, to increase nursing services quality, require quality renovation through increasing knowledge, training of technical ability and communication ability with patients/clients as consistently ad continually.
Read More
B-1021
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Widowati; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Peter A.W. Pattinama, Gatot Soeryo Koesoemo
B-1018
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aan Anjarwati; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Najib, Effendy Slamet, Robi Adios
Abstrak:
ABSTRAK Prevalensi penyakit Gagal Ginjal Kronik cenderung makin tinggi sejak 3 tahun terakhir ini (sejak tahun 2015). Sehingga mereka harus menjalani hemodialisis (cuci darah). Adapun komplikasi saat hemodialisis yaitu demam, menggigil, hipotensi, dan keram. Faktor-faktor yang mempengaruhi komplikasi saat hemodialisis pada pelayanan mulai dari faktor pasien terdiri dari durasi HD, akses HD, lama menjalani HD, komorbiditas pasien). Selain itu juga ada peran dari sisi manajemen yaitu Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pencucian dialiser ulang dan kebijakan direktur. Faktor pasien dan manajemen penting dalam kualitas pelayanan hemodialisis rawat jalan. Metode penelitian yang digunakan adalah mix method. Tahapan yang dilakukan pertama adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan melanjutkan dengan wawancara mendalam dari hasil penelitian. Hasil analisis bivariat, didapatkan bahwa durasi hemodialisis berhubungan signifikan secara statistik dengan komplikasi hemodialisis (p 0.005). Hasil analisis multivariat, diperoleh durasi hemodialisis 4 jam 30 menit berisiko menyebabkan komplikasi sebesar 2.76 (IK 95% 0.9-8.47) kali dan akses AVF-Shunt berpengaruh paling tingi menyebabkan komplikasi sebesar 3.32 (IK 95% 0.76-14.57) kali. Dari hasil wawancara mendalam dengan informan, bahwa kurangnya implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) pencucian dialiser ulang meningkatkan risiko komplikasi. Triangulasi sumber data didapatkan bahwa RS. Anna belum menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan baik dibandingkan RS. Anna Medika dalam pengukuran volume primming atau Total Cell Volume (TCV) dan tidak dilakukan penandaan dialiser setelah dicuci ulang. Adanya data pencantuman volume priming pada dialiser ulang merupakan bentuk penjaminan mutu layanan unit hemodialisis RS. Dan hal ini bisa menjadi kebijakan direktur terkait penggunaan dialiser ulang. Kejadian komplikasi saat hemodialisis di Rumah Sakit dapat diatasi dengan memperhatikan aspek keselamatan pasien yaitu melakukan Standar Operasional Prosedur dengan baik dan menjamin mutu layanan hemodialisis dengan cara membuat kebijakan penggunaan dialiser ulang.

ABSTRACT Prevalence of Chronic Kidney Failure tends to be higher since the last 3 years (since 2015). So they have to undergo hemodialysis (dialysis). The complications of hemodialysis are fever, chills, hypotension, and cramps. Factors that influence complications during hemodialysis in services are from patient factors consist of duration, access, length of time hemodialysis, patient comorbidity. In addition, there is also a role from the management side, namely the Standard Operating Procedure (SOP) reuse dialyzer and director policies. Patient and management factors are important in the quality of outpatient hemodialysis services. The research method used is the mix method. The first step is quantitative research with a cross-sectional approach and continues with in-depth interviews from the results of the study. The results of the bivariate analysis showed that the duration of hemodialysis was statistically significant with complications of hemodialysis (p 0.005). The results of multivariate analysis, obtained the duration of 4 hours 30 minutes hemodialysis at risk of causing complications of 2.76 (95% CI 0.9-8.47) times and the highest effect of AVF-Shunt access caused complications of 3.32 (95% CI 0.76-14.57) times. From the results of in-depth interviews with informants, that the lack of implementation of the Standard Operational Procedure (SOP) for repeated dialysis washing increases the risk of complications. Triangulation of data sources was found that Anna hospital has not run the Standard Operating Procedure (SOP) well compared to Anna Medika hospital in measuring primming volume or Total Cell Volume (TCV) and dialysis marking is not done after repeated washing. The data of inclusion priming volume on repeated dialiser is a form of hemodialysis unit service quality assurance. And this could be the director's policy regarding the use of repeated dialiser. The occurrence of complications during hemodialysis at the hospital can be overcome by paying attention to the aspects of patient safety, namely performing the Standard Operating Procedure properly and ensuring the quality of hemodialysis services by making a policy of using dialiser again.
Read More
B-2087
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agung Susanto; Pembimbing: Rokiah Kusumapraja; Penguji: Amila Megraini, Adang Bachtiar, Christophora Susilowati, Djuhari Suryasaputra
Abstrak:

Rumah Sakit Karya Medika Bekasi merupakan rumah sakit swasta yang terletak di wilayah Kabupaten Bekasi. Dalam dunia perumahsakitan dituntut untuk melakukan perubahan, agar mampu mempersiapkan produk maupun sumber daya manusia yang berdaya saing dalam menghadapi persaingan bebas di pasar ASEAN maupun di pasar global. Pelayanan keperawatan di Rumah Sakit kedudukannya sangat strategis, oleh karena proses pelayanan dilaksanakan secara terus menerus selama 24 jam, sehingga baik buruknya pelayanan di Rumah Sakit sangat tergantung dari penampilan kinerja tenaga keperawatan yang memberikan asuhan keperawatan kepada pasien atau keluarga.Aktivitas pelayanan keperawatan merupakan subsistem dari pelayanan kesehatan yang sifatnya memberikan bantuan kepada pasien untuk memelihara kesehatan atau untuk kesembuhan. Kebutuhan pasien akan ketergantungan dari tenaga keperawatan yaitu berfluktasi yang sesuai dengan kondisi pasien. Hal ini berpengaruh kepada jumlah sumber Daya Manusia (tenaga perawat)yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan baik dan benar. Penelitian yang dilakukan yaitu Analisis Terhadap Aktivitas Keperawatan Kaitannya dengan beban Kerja Perawat di Ruang Rawat inap Kelas III; penelitian ini menggunakan metode work sampling serta perawat pelaksana sebagai sampelnya.Dari hasil penelitian diperoleh, bahwa di ruang perawatan Asoka, aktivitas keperawatan langsung mengambil porsi terbanyak (44,39%),dibandingkan dengan aktivitas lain/non keperawatan (29,91%) serta aktivitas keperawatan tidak langsung (25,30%), serta total waktu produktif yang dibutuhkan untuk pelayanan keperawatan yaitu 76,65%. Jumlah waktu pelayanan keperawatan/ asuhan keperawatan yang diberikan dari scoarang perawat kepada pasien selama 24 jam yaitu 6,38 jam/pasien/24 jam; Sedangkan di ruang perawatan Tulip, aktivitas keperawatan langsung mengambil porsi waktu terbaniyak (41,30%), dibandingkan dengan aktivitas non keperawatan t lainnya (29,72%) maupun aktivitas keperawatan tidak langsung (28,98%), serta total waktu produktif yang dibutuhkan untuk pelayanan keperawatan yaitu 75,82%. Jumlah waktu pelayanan keperawatan/asuhan keperawatan yang diberikan dari seorang perawat kepada pasien selama 24 jam yaitu 4,16 jam/pasien/24 jam.Hasil penelitian ini memperlihatkan, bahwa aktivitas keperawatan langsung lebih tinggi, jika dibandingkan dengan aktivitas keperawatan tidak langsung maupun aktivitas lainnya/non keperawatan, Oleh karena penelitian ini hanya mengukur pemanfaatan waktu kerja dilakukan oleh tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien atau keluarganya.Disarankan untuk aktivitas adminisirasi, transportasi serta kurir pasien seyogyanya dilaksanakan oleh tenaga non keperawatan, agar tenaga keperawatan yang ada dapat memberikan pelayanan keperawatan lebih banyak kepada pasien dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.


 

Analysis Of The Nursery Activity Relating to the Working Burden of Nurses in the Stay - Care Room Third Class Of Karya Medika Bekasi HospitalKarya Medika Bekasi hospital is a private hospital which is located in the area of Bekasi Regency. In the world of hospitalization it is forced to always make changes, in doing so able to prepare both competitive product and human resource to face the competition both in ASEAN and global market. The nursery service in the hospital has a very strategic position, because the process of service is performed continually for 24 hours, so the bad and good effect of the service in the hospital mainly relics on the performance of the nursery force that gives care to patients or families.The activity of nursery service is a subsystem of the health service that gives help to patients to maintain their health or recovery. The patients' needs will be relied on the nursery service to fluctuate based on the patients' condition. This effects to the number of human resource (nurses) that are needed to give nursery service well and correctly to the patients. The research performed is The Analysis On The Nursery Activity Relating To The Working Burden Of Nurse In The Stay - Care Room Third Class, the method used is Work Sampling and the sample is the nurses/nursery forces.From the result of the research, it is gained that in the Asoka care room, the nursery service directly gets the most portion (44,39%), compared with other activity/ non - nursery (29,91%) and indirect nursery activity (25,30%), and the productive time total needed is 76,65%. The nursery service time given by a nurse for 24 hours is 6,38 hours/patient/24 hours ; whereas in the Tulip stay- care room, the direct nursery service gets the most portion (41,30%), compared with the non - nursery activity/ others (29,72%) as well as the indirect nursery activity (28,98%), and the productive time total needed is 75,82%. The amount of time of the nursery service given by a nurse to the patient for 24 hours is 4,16 hours / patient / 24 hours.This research result shows that the direct nursery service is higher compared with the indirect nursery service or other activities/non - nursery. Because this research only examines the usage of working hours performed by nursery force 1 nurses to give nursery service to patients or families.It's suggested that an administration activity, transportation as well as patients courier be performed by non- nursery force, so that the existing nursery force can be consistent to give the nursery service to patients in order to improve the quality of the nursery service.

Read More
B-610
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nauri Anggita Temesvari; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Yanti Lisa
S-6921
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mayang Sari; Pembimbing: A.W. Budiarso
B-784
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Chairuddin; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Hafizurrachman, Mieke Savitri, Amarina Anggarino
Abstrak:

Bisnis perumahsakitan mengalamj perubahan mendasar berkaitan dengan peningkatan daya saing rumah sakit dalam meraih pangsa pasar pada saat ini dan masa mendatang. Salah satu produk rumah sakit yang sangat berkembang sejak tahu 80-an adalah rawat jalan. Bedah rawat jalan (BRJ) merupakan bagian dari layanan rawat jalan yang saat ini merupakan Iayanan yang terus meningkat karena banyak memberikan keuntungan seperti biaya yang lebih murah, rendahnya tingkat infeksi, berkurangnya kecemasan pasien dan pasien merasa lebih nyaman. Di Amerika BRJ mencapai 70-75 % dari seluruh pembedahan. Di Indonesia BRJ teiah dilakukan diberbagai rumah sakit tetapi umumnya belum menjadi Iayanan yang terencana baik, hanya merupakan pelayanan baru atau tarnbahan yang diadakan karena adanya kebutuhan dari masyarakat dan belum ada pelaporan tersendiri untuk pelayanan ini. Melihat potensi layanan ini di masa mendatang dan untuk mengetahui bagaimana sebaiknya pelayanan ini diberikan dilakukan penelitian di RS Haji Jakarla mengingat angka pelayanan BRJ masih rendah dan untuk mendapatkan gambaran kesiapan rumah sakit terutama kamar bedah dalam melaksanakan BRJ. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dukungan manajemen, kesiapan SDM baik dokter maupun perawat, dan kesiapan fasilitas untuk mendukung pelayanan BRJ. Juga dinilai kesiapan kamar bedah melaksanakan pelayanan ini dibandingkan standar yang ada. Peneiitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Informasi yang didapat berupa data primer melalui wawancara mendaiam dan observasi dan data sekunder melalui telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan kamar bedah secara umum telah siap melakukan pelayanan BRJ., tetapi dukungan manajemen masih belum maksimal. Dari segi SDM baik perawat dan dokter siap melakukan pelayanan BRJ. Dari fasilitas dan layanan pendukung layak melakukan BRJ. Saran kepada manajemen adalah selain BRJ dicantunkan dalam rencana strategis berikutnya, harus dibuat konsep dan disain BRJ yang biak dan dijabarkan dalam pelaksanaan strategi serta ada evaluasi untuk tindakan koreksi.


The hospital businesses are having a basic changes linked by the increased hospital competition abilities in reaching the market-section nowadays and future. One of the Hospitals products which is very popular since 80's is the ambulatory care. Ambulatory surgery is a part of the ambulatory care programs which is popular because it gives a lot of benefits to the hospital and the patients, such as cheaper , low-infection level, less of anxiety and the patients feels more comfortable. In United State ambulatory surgery achievement till 70-75 % from whole surgery. ln Indonesia ambulatory surgery have done by various hospital but generally the care not to be good planned, only the new care because the people need the service and not yet different report for the care. Observe the potential this care for future and how the good standar for this practice, had done study at Haji Hospital Jakarta keep in mind ambulatory surgery achievement still low and for observe readiness operathing theater bring about the ambulatory surgery. The aim of the study is to find out management support, human resources readiness whether nurse or doctor, and facility readiness to support the ambulatory surgery. Operating theater readiness also to be compare with available standard. The study using a qualitative approach, and the information obtained are a primary data from in-depth interview and observation, and secondary data from documents review. The study found that generally operating theater ready for servicing ambulatory surgery, but management support not yet maximum. From human resources whether nurse or doctor is ready to serve. From facility and service support good too. Suggestion for management is ambulatory surgery persisten included in the strategic planning furthermore and must be made ambulatory surgery concept and design and conversion to the realize strategi and evaluation have to made for corrective action.

Read More
B-1038
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive