Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30843 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yulia Fitriani; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Kusdinar Achmad, Anwar Hasan, Ace Yati Hayati, Siti Mursifah
Abstrak:

Suatu organisasi akan mempunyai keterkaitan erat dengan loyalitas pelanggan apabila terus menekankan pada mutu produk atau jasa pelayanan yang dihasilkan. Balai Besar Pelatlhan Kesehatan (BBPK) Cilandak merupakan institusi yang mempunyai tugas dalam pelaksanaan pelatihan serta pengembangan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat. Dalam menyelenggarakan tugas dan fungsinya BBPK Cilandak telah menyelenggarakan pelatihan, salah satunya adalah pelatihan yang akan dijadikan produk utama yaitu pelatihan Peningkatan Kinerja Organisasi melalui Pembelajaran Organisasi (PKOPO). Dalam rangka memperoleh pengetahuan yang cukup secara terus menerus untuk meningkatkan mutu produk atau jasa yang dihasilkan, BBPK Cilandak harus mengetahui tingkat kepuasan dari pelanggan yang selalu berhubungan dengan produk atau jasa yang ditawarkan. Selama ini BBPK Cilandak te!ah mengevaluasi pelatihan yang diselenggarakan. Pada tahun 2006, dari 18 pelatihan yang diselenggarakan oleh BBPK Cilandak 23% peserta menilai proses penyelenggaran pelatihan masih kurang baik. Pelatihan PKOPO sendiri selama ini belum pemah dievaluasi dan belum adanya informasi tentang tingkat kepuasan pesertanya. Studi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan peserta pelatihan PKOPO di BBPK Cilandak Tahun 2007. Penelitian ini dilakukan dua tahap, yaitu tahap kuantitatif dan kualitatifl Tahap kuantitatif dimulai dengan pengukumn tingkat kepuasan mcnggunakan Iima dimensi servqual, dengan sampel adalah total popuiasi yaitu manlan peserta pelatihan PKOPO di tahun 2007 yang berjumlah 58 orang. Data yang didapat dianalisis dengan menggunakan metode univariat, bivariat, multivariar., dan analisis tingzat kepuasan. Uji yang digunakan adalah chi-square untuk menguji apakah ada hubungan antara karakteristik peserta dengan tingkat kepuasan. Regresi logistik ganda model prediksi digunakan untuk mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi tingkat kepuasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa emosi merupakan variabel yang dominan mempengaruhi tingkat kepuasan peserta dengan variabel pendidikan dan umur adalah sebagai konfounding. Berdasarkan diagram kartesius dari lima dimensi servqual terdapat 6 masalah yang menjadi prioritas utama untuk dilakukan perbaikan (Kuadran A). Hasil penelitian kuantitatif berdasarkan cut off poinl 0,80 dengan menggunakan kategori pembagian peserta dalam kategori puas dan tidak puas, terlihat bahwa responden yang puas lebih banyak dari pada yang tidak puas dengan proporsi 69,0% puas dan 31,0% tidak puas. Pada tahap kualitatif dilakukan wawancara mendalam dengan pihak penyelenggara peiatihan untuk menemukan penyebab masalah ketidakpuasan peserta khusus pada dimensi yang prioritas utama berdasarkan pemetaan diagram kartesius. Teknik yang digunakan untuk mengidentfikasi penyebab masalah adalah dengan menggunakan tool yaitu ishikawa diagram atau fishbone diagram. Dari identifikasi tersebut, terpilih satu penyebab yang akan menjadi langkah intervensi. Dari hasil penelitian disarankan agar BBPK Cilandak melakukan dan mengevaluasi pengukuran kepuasan peserta secara berkala, mengupayakan perbaikan pada enam dimensi yang menjadi prioriras utama, melakukan kalakarya pelatihan PKOPO bagi widyaiswara BBPK Cilandak, dan membuat standar mengenai widyaiswara/pengajar yang menguasai metode andragogi.


An organization will have its customer loyalty if the organization is always focusing into its products or services. BBPK (Balai Besar Pelatihan Kesehatan) Cilandak is an institution whose duty is to conduct training and human resources development program of health. BBPK Cilandak has conducted many types of trainings, and one of them is the PKOPO (Peningkatan Kinerja Organisasi melalui Pembelajaran Organisasi) training, which is going to be BBPK Cilandak's main product. In order to gain sufficient and continuous infomation to improve the quality of its services and products, BBPK Cilandak must know the satisfaction level of its customer which is related with the services and products offered. BBPK Cilandak has done evaluations of their trainings. In 2006, out of I8 trainings conducted by BBPK Cilandak, 23% of the trainee said that the training processes were not well conducted. PKOPO training itself has never been evaluated and there is no available infomation about its trainee satisfaction level. The objective of this study is to measure the satisfaction level of PKOPO trainee at BBPK Cilandak in 2007. This research was done in two phases: quantitative phase and qualitative phase. Quantitative phase was done by measuring trainee’s satisfaction level using five dimensions of servqual, with the total population of the PKOPO trainee in 2007 (58 people) as the sample. Collected data then analyzed using univariat, bivariag mullivariat, and satisfaction level analysis methods. The test used was chi-square in order to test whether there are any relation between trainee characteristics and satisfaction level. Prediction model of the double logistic regression was used to know the dominant factors which influence the satisfaction level. The research showed that emotion is a dominant variable that affects the trainee satisfaction level with education and age variables as confounding. Based on Cartesian diagram of the servqual five dimensions, there are six high priority problems that needed to be improved (Quadrant A). The quantitative analysis based on 0.80 cuto ff point and categorizing the satisfaction level of the trainee into satisfied and not satisfied, showed that there are more satisfied respondents / trainees than the not satisfied ones, with ratio of 69.0% satisfied and 3 l.0% not satisfied. In qualitative phase, we conduct extensive interviews with the training committee to discover the trainee dissatisfaction, especially in high priority dimensions based on the cartesian diagram mapping. The method used to identify the cause of the problem is ishikawa diagram or fishbonc diagram. From this identification, one cause was selected which became intervention step/move/action. Based on the research results, it is suggested that BPPK Cilandak should do and evaluate periodic satisfaction measurement of the trainee, improve the six dimensions of high priority, conduct training-of-trainers of PKOPO, and make standard about trainers awareness of andragogy method.

Read More
T-2619
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farrahdina Tanjung; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Wachyu Sulistiadi, H.R. Wisnu Hidayat, Denny Sopian Saleh
Abstrak:

Abstsrak

Tesis ini membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pelaksana quality control dalam pengendalian mutu pelatihan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto. Penelitian ini dilakukan karena peneliti melihat adanya penurunan kinerja pelaksana QC. QC melakukan pengujian atau verifikasi dan penilaian kesesuaian penyelenggaraan pelatihan dengan standar yang ditetapkan, atau kesesuaian penyelenggaraan dengan rencana yang telah dibuatnya. QC diilakukan mulai dari input, proses dan output. Teori yang digunakan untuk melihat kinerja pelaksana QC adalah teori Gibson (1987) yang terdiri dari tiga variabel yang mempengaruhi kinerja yaitu variabel individu, variabel psikologis, dan variabel organisasi.Penelitian ini merupakan studi cross sectional dengan desain mixed method (metode penelitian kombinasi) yaitu suatu metode penelitian yang menggabungkan antara metode kuantitatif dan kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel, dan obyektif. Penelitian ini menggunakan Sequential Explanatory Design dimana pengumpulan dan analisis data kuantitatif dilakukan pada tahap pertama, dan diikuti dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif pada tahap ke dua, guna memperkuat hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan pada tahap pertama.Hasil dari penelitian ini adalah gambaran kinerja dari Pelaksana Quality Control Di BBPK Ciloto termasuk baik yaitu sebesar 70,19, faktor individu yang mempengaruhi kinerja adalah kemampuan, faktor psikologi yang mempengaruhi kinerja adalah motivasi, tidak ada faktor organisasi yang mempengaruhi kinerja, tetapi mempengaruhi hubungan kemampuan dengan kinerja yaitu kepemimpinan dan desain pekerjaan, faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja pelaksana Quality Control adalah kemampuan.


 

Thesis discusses the factors that affect the performance of implementing quality control in quality control training at the Center for Health Training (BBPK) Ciloto. This research was conducted because researchers saw a decrease in the performance of executing QC. QC or verification testing and conformity assessment training organization with established standards, or implementation conformance with the plans that have been made. QC diilakukan start of input, process and output. Theory is used to see the performance of the implementing QC is the theory of Gibson (1987) which consists of three variables that affect the performance of the individual variables, psychological variables, and organizational variables.This study is a cross-sectional study with a mixed method design (a combination of research methods) is a research method that combines quantitative and qualitative methods to be used together in order to obtain more comprehensive data, valid, reliable, and objective. This study uses Sequential Explanatory Design where quantitative data collection and analysis conducted in the first phase, followed by the collection and analysis of qualitative data in the second stage, in order to strengthen the results of quantitative research conducted in the first phase.The results of this study is an overview of the performance of the Executive Quality Control In BBPK Ciloto included both in the amount of 70.19, the individual factors that affect the performance is the ability, psychological factors affecting performance is the motivation, there is no organizational factors that affect performance, but the ability to affect the relationship with the leadership and performance of the design work, the most dominant factor affecting the performance of the implementing Quality Control is the ability.

Read More
T-3894
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Verdhany Puspitasari; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Rita Damayanti, Yuyun Widyaningsih, Supri Astuti
T-3928
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nina Permani; Pembimbing: Anwar Hassan; Penguji: Dian Ayubi, Mieke Savitri, Tjutjun Maksum, Wisnu Hidayat
Abstrak:
Sebagai institusi penyelenggara pelatihan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan Departemen Kesehatan RI bertanggung jawab terhadap mutu yang berhubungan dengan pelayanan teknis pelatihan dan pelayanan penunjang pelatihan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan, Tingkat pemanfaatan asrama dapat digunakan untuk menilai mutu pelayanan karena merupakan salah satu indikator outcome, ternyata masih rendah yaitu 32,8% pada tahun 1999/2000 dan cenderung menurun menjadi 29,17% pada tahun 2000 (Profil Pusdiklat Kesehatan Depkes tahun 2000). Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran kepuasan peserta pelatihan terhadap pelayanan Pusdiklat Kesehatan Depkes RI dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan. Rancangan studi yang digunakan cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 109 orang. Pengumpulan data dengan survai kepuasan pelanggan menggunakan data primer, penilaian kepuasan dengan cara derived satisfaction. Responden adalah peserta yang mengikuti pelatihan dan menginap selama 3 hari, berasal dari instansi Depkes, instansi Pemerintah non Depkes, dap Swasta. Dmmensi mutu yang digunakan untuk menilai kepuasan terdiri dari dimensi keandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan berwujud (tangible). Data yang dikumpulkan merupakan data primer dengan menggunakan kuesioner yang berisi 40 butir pernyataan tentang harapan dan kenyataan yang dinilai dengan skala liken, penilaian kepuasan dengan membandingkan antara kenyataan yang dialami dengan harapan yang diinginkan. Tempat penelitian dilaksanakan di Pusdiklat Kesehatan Depkes RI pada periode Januari sampai dengan April 2002. Hasil peneltian, dari 109 orang peserta pelatihan didapatkan 24 % puas dan 76 % tidak puas. Karakteristik individu didapatkan rata-rata umur peserta 44,79 tahun, peserta terbanyak laid-laid (58,7 %), pendidikan terbanyak pendidikan tinggi (77 %), sebagian besar memiliki 2 orang anak (56 %) dan rata-rata masa kerja 20 tahun. Kepuasan pada tiap dimensi yang terendah pada dimensi reliability (25,7 %) dan kepuasan yang tertinggi pada dimensi empathy (55 %). Kepuasan pada flap ruangan didapatkan yang terendah di ruang depan (36,7 %) dan kepuasan yang tertinggi di ruang makan (44 %) Rata-rata tingkat kepuasan pads faktor yang mempengaruhi kepuasan pada semua dimensi mutu layanan adalah 91 %, yang terendah pada dimensi reliability yaitu 88 % dan yang paling tinggi pada dimensi empathy (96 %).Kesenjangan yang tertinggi pada dimensi reliability dan dimensi responsiveness. Dan 5 variabel yang diteliti hanya satu variabel yang berhubungan dengan kepuasan, vaitu variabel pendidikan. Kesimpulan, secara umum kepuasan masih rendah, menunjukkan kinerja masih di bawah harapan. Disarankan agar pemegang kebijakan di Pusdiklat Kesehatan Depkes R1, menetapkan standar mutu pelayanan, memberikan kesempatan kepada semua petugas yang berhubungan langsung dengan pelanggan untuk mengikuti pelatihan dalam bidang customer service. melengkapi sarana dan prasarana sesuai harapan peserta, serta melakukan pemantauan terhadap mutu pelayanan. Selain itu, petugas yang berhubungan langsung dengan pelanggan diharapkan agar melaksanakan pelayanan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, meningkatkan keterampilan dalam bidang customer service, melakukan evaluasi pelatihan dengan menggunakan forrnulir yang teiah disesuaikan dengan dimensi mutu layanan, memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan terutama reliability dan responsiveness karena memiliki kepuasan yang paling rendah, memiliki kesenjangan yang paling tinggi dan memiliki rata-rata tingkat kepuasan yang paling rendah. Prioritas utama yang harus ditingkatkan adalah mengganti alat tenun seperti sprei secara teratur, menyiapkan alat bantu pelatihan, serta menjaga kebersihan dan kerapihan kamar mandi. Peneliti lain yang berminat, diharapkan dapat mengembangkan penelitian tentang kepuasan pada dimensi mutu yang lain, responden adalah semua pelanggan termasuk pelanggan internal. Daftar bacaan 34 (1980-2001)

Factors Which Related With Trainees Satisfaction Regarding Centre For Education and Training Health Supporting Services, Ministry of Health , The Republic of Indonesia, Year 2002As a training organizer institution, Center of Education and Training Health (known as Pusdiklatkes). Ministry of Health, the Republic of Indonesia has a responsible to the quality of training technical services and training supported services that oriented to customer satisfaction, Boarding house merits level can be used to evaluate quality because it is an out come indicator, unfortunately still low which is 32,8 % in the year of 1999/2000 and declining to 29,17 % in the year of 2000 (Pusdikiat Profile, year 2000). The aim of this study was to get descrption illustration of trainee's satisfaction regarding Pusdiklatkes services and factors which are related with it. The study design was cross sectional with a quantitative approach and I09-sample size. Customer satisfaction data collection used primer data and derived satisfaction method for evaluating the satisfaction. The respondents were trainee's who stay 3 days or more, from Ministry of Health instance, other Government's instances and private. Quality dimensions, which used to evaluate the satisfaction, were reliability, responsiveness, assurance, emphaty and tangible. The data that had been collected ware primer data using questioner containing 40 certain element about expectation and performance which evaluated by Likert scale, satisfaction evaluating by comparing the performance that happen with the longing expectation. Study site conducted in Pusdiklatkes in the period of January to April 2002. Study result, from 109 trainees, 24% satisfied and 76% dissatisfied. Individual characteristic that are trainees average age were 44,79% years old, majority were male trainees (58,7%), greatest education were high level education (77%), most of them had 2 children (56%) and had an average working experience about 20 years. The satisfaction of each dimension, reliability was the Iowest (25,7%) and the highest satisfaction was in empathy (55%). The satisfaction in each room, the lowest was in the front room (36,7%) and the highest was in the dining room (44%). The satisfaction average level with the factors which influences the satisfaction in all quality services dimensions was 91% the lowest in reliability which was 88% and the highest in empathy dimension (96%). The highest divergence was between reliability and responsiveness. Among 5 variable, only 1 variable that had relationship with satisfaction, which was education variable. Conclusion, in general the satisfaction is still low, pointed that the appraisal were still unexpected. It is suggested that stakeholders in Pusdiklatkes define the deliver quality services standard and give chances to a all staff which interacted directly with the customer to joint a training in customers services, complete the equipment and provising according to trainees expectation, and monitored the quality services. Beside that, staff which directly contacted with the customer have to deliver the services appropriate with the define procedures, improving skills in customer services used the evaluation form with the quality dimension. Pay attention to factors which influences the satisfaction, especially reliability and responsiveness because those were the lowest average level satisfaction, the highest divergence and the lowest average level of appropriateness. The main priority, which has to be improved, is to change the weaving-room such as bed sheet regularly, provide training supporting equipment and prevent bathroom/toilet hygiene and neatness. Refferences: 34 (1980-2001)
Read More
T-1333
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Elizabeth; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Dian Ayubi, Besral, Hartanto, HAYG Wibisono
T-2664
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Entuy Kurniawan; Pembimbing: Rachmadhi Purwana, Kusdinar Achmad, H.E.; Penguji: Agustin Kusumayati, J. Samidjo OW M.biomedik, Sulaeman
Abstrak:

Hasil pemeriksaan laboratorium yang cepat dan akurat sangat penting untuk pengarnbilan keputusan bagi dokter. Kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium akan berdampak pada kesalahan dokter dalam mendiagnosis suatu penyakit serta penatalaksanaan pasien (pemantauan jalannya penyaldt dan evaluasi efektivitas pengobatan). Untuk itu upaya mencegah atau meminimalisasi faktor-faktor penyebab kesalahan analisis, harus dilkukan dengan kegiatan pengendalian mutu balk internal maupun eksternaI (uji profisiensi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan pada kinerja laboratorium klinik di Provinsi Jawa Barat yang berperan dalam penyimpangan hasil pemeriksaan melalui uji profiiensi. Desain penelitian adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Responden adalah petugas laboratorium klinik peserta uji profisiensi. Sampel penelitian berupa total populasi sebanyak 77 laboratorium. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dari melihat hasil evaluasi kegiatan pengendalian mutu eksternal laboratorium kesehatan provinsi Jawa Barat tahun 2007. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor manusia, alat, lingkungan, dan sistem memiliki hubungan yang bermakna dengan kinerja laboratorium. Hasil analisa multivariat menunjukan bahwa faktor manusia raerupakan faktor dominan penyebab kesalahan analisis di laboratorium klinik. Studi ini menyarankan agar pimpinan laboratorium dan dinas kesehatan provinsi Jawa Barat lebih meningkatkan kualitas tenaga laboratoriuna dengan mengikutsertakan path program pendidikan berkelanjutan sesuai keahlian dan spesifikasi pekerjaannya.


A quick and precise clinical laboratory examination result was very important for a physician in making medical decision. Any inaccuracies of laboratory results could affect the medical decision suggested by the physician and as well as for the effectiveness of patient treatment.There were some efforts proposed to minimize laboratory examination inaccuracy, i.e., internal quality control and external quality control, called as proficiency test. The research objectives were to determine any factors which are involved in making of any inaccuracy in some clinical laboratories in West Java Province, using proficiency test. The research was designed as a quantitative approach of cross-sectional method. Respondents who involved in the research were laboratory technicians (called health analyst) taken from seventy-seven (77) clinical laboratories located around West Java Province. Data collecting were conducted using interviewing and questionnaires check-list, and also secondary data collecting from West Java Health Laboratory External Quality Control Program conducted in year 2007. The results have been concluded that individual skills (human factor), laboratory equipments, job environments and laboratory management system show a significant correlation with the laboratory performance. Statistical multivariate analysis has determined that individual skill (human factors) was as dominant factor in making inaccuracy of laboratory examination result. Based of the conclusion and discussion, the research recommended that West Java Health Agency and related stakeholders could make some efforts in improvement of laboratory's individual quality which is can be realized with academic upgrading based on their specific jobs.

Read More
T-2826
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Try Any Widyastuti; Pembimbing: M. Hafizurrachman; Penguji: Amila Megraini, Mohamad Ihsan Ramdani, Lindawati
Abstrak: Pelayanan kesehatan yang bermutu saat ini sudah menjadi tuntutan semuapihak, termasuk masyarakat sebagai pengguna jasa, dengan bertambahnyagolongan masyarakat yang mampu, berpendidikan, dan menguasai informasi,masalah mutu pelayanan menjadi tuntutan mutlak. Adapun faktor yang dominanyang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah sumberdaya manusia. Perawat merupakan ujung tombak baik-tidaknya pelayanankesehatan yang diberikan karena selama 24 jam perawat selalu berinteraksidengan pasien. Keluhan (complain) dari pelanggan merupakan indikator darikurangnya kualitas pelayanan yang diberikan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidaklangsung serta besarannya antara kepuasan kerja, komitmen organisasi, danorganizational citizenship behavior (OCB) terhadap kuaitas layanan perawat diRSUD dr. H Abdul Moloek Provinsi Lampung. Metode penelitian adalahobservasional dengan rancangan cross sectional melalui analisis SEM-PLS. Populasinya adalah seluruh tenaga perawat yang bekerja di RSUD dr.H AbdulMoloek sebanyak 555 orang.

Sampel pada penelitian ini adalah perawat yangbekerja di bagian rawat inap sebanyak 90 orang (rule of thumb)Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh langsung antara kepuasan kerjaterhadap kualitas layanan perawat sebesar 11,46%, ada pengaruh langsungkomitmen organisasi terhadap kualitas layanan perawat sebesar 38,09%, adapengaruh langsung antara OCB terhadap kualitas layanan perawat sebesar30,46%, ada pengaruh langsung komitmen organisasi terhadap OCB sebesar61,34%, ada pengaruh langsung kepuasan kerja terhadap komitmen organisasisebesar 57,6%, dan pengaruh kepuasan kerja terhadap OCB adalah bersifat tidaklangsung, yaitu melalui mediasi komitmen organisasi yaitu sebesar 17,65%.

Penulis menyarankan agar pihak manajemen rumah sakit selalu menjagaserta meningkatkan komitmen organisasi perawat yang memiliki pengaruhterbesar terhadap kualitas layanan, selain itu perlu memperhatikan perilaku OCBpada perawat sehingga diharapkan perilaku ini dapat menjadi suatu budayaorganisasi yang akan berdampak positif bagi mutu pelayanan di RSUD dr.HAbdul Moloek Provinsi Lampung.Kata Kunci :Kualitas Layanan, Organizational Citizenship Behavior (OCB), KomitmenOrganisasi, Kepuasan Kerja, SEM-PLS.
Read More
T-4079
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Nuraini; Pembimbing: Hafizurrachman; Penguji: Kusdinar Achmad, Dadan Erwandi, Lanita Somali, Tugiman
T-2618
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni Purnamasari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Rahma Indira Wardani, Herman Budianto
Abstrak: Pelayanan kesehatan yang bermutu merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan setiap orang. Pendekatan mutu paripurna yang berorientasi pada kepuasan pelanggan menjadi strategi utama bagi organisasi pelayanan kesehatan di Indonesia. Penilaian mandiri (self assesment) akan memampukan organisasi untuk mengidentifikasi kinerja organisasi. Salah satu upaya self assesment adalah dengan melakukan peningkatan mutu pelayanan kesehatan dengan kriteria Malcolm Baldrige yang memiliki pendekatan 7 kriteria, yaitu kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus pelanggan dan pasar, manajemen pengukuran analisis dan pengetahuan, fokus pada staf, manajemen proses dan hasil kinerja organisasi. Penelitian dilakukan pada organisasi non profit Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa tahun 2015 yang bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil kinerja organisasi, hubungan antara variabel independen dengan hasil kinerja organisasi dan variabel yang paling berpengaruh terhadap hasil kinerja organisasi. Metode penelitian adalah mix methods dengan sequential explanatory design dengan populasi seluruh karyawan LKC di Indonesia dan sampel berjumlah 94 orang. Hasil analisa univariat didapatkan gambaran kinerja LKC Wilayah bervariasi dari kriteria sangat baik yaitu LKC Aceh (86 %), kriteria baik LKC Sulawesi Selatan (73 %), dan kriteria cukup masing-masing LKC Jabodetabek (69%), LKC NTT (66%), LKC Yogyakarta (59 %) dan LKC Sumatera selatan (59 %). Hasil analisa bivariat menunjukan adanya hubungan yang kuat dan berpola positif dan hubungan bermakna antara hasil kinerja organisasi dengan 6 kriteria Malcolm Baldrige. Hasil analisa multivriat menunjukan adanya hubungan yang kuat dan berpola positif untuk variabel fokus pada pelanggan dan variabel manajemen proses, dikontrol oleh 3 variabel konfounding yaitu variabel kepemimpinan, perencanaan strategis dan fokus pada staf. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja organisasi adalah manajemen proses. Komitmen dalam peningkatan mutu berkelanjutan dapat di mulai dari peningkatan manajemen proses yang ada di LKC Dompet Dhuafa.
Read More
T-4365
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esti Rachmawati; Pembimbing: Besral; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Engkus Kusdinar Achmad, Jusuf Kristianto, Roostiati Sutrisno Wanda
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya tingkat kepuasan pelanggan pelayananakreditasi dan sertifikasi pelatihan di Pusat Pelatihan SDM Kesehatan Tahun 2017serta kendala dalam pelayanan akreditasi dan sertifikasi pelatihan sebagai upayaperbaikan mutu pelayanan akreditasi dan sertifikasi pelatihan. Penelitian inidilakukan dengan dua tahap yaitu kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitiankuantitatif menunjukan bahwa tingkat kepuasan pelanggan pelayanan akreditasi dansertifikasi pelatihan dengan cut off point 90% sebesar 50,6% sedangkan tingkatkesesuaian harapan dan kenyataan sebesar 85,37%, pelanggan yang berasal dariinstansi swasta lebih puas (65,7%) dibandingkan dengan pelanggan yang berasal dariinstansi pemerintah (40,0%), tidak ada perbedaan antara kepuasan pelanggan denganlama waktu penilaian (P value 0,231). Dari analisis multivariat didapatkan hasilbahwa variabel yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan adalah jenis kelamindengan P value 0,001 dan OR= 6,7 artinya pelanggan yang berjenis kelamin laki-laki7 kali lebih puas dibandingkan pelanggan yang berjenis kelamin perempuan setelahdikontrol oleh variabel jenis instansi dan pekerjaan. Analisis diagram kartesiusmenunjukan terdapat 9 masalah yang menjadi prioritas utama untuk dilakukanperbaikan (Kuadran A). Dari tahap kualitatif didapatkan informasi bahwa kendalayang dihadapi oleh Pusat Pelatihan dalam pelayanan akreditasi dan sertifikasipelatihan adalah kurangnya SDM sebagai tim penilai akreditasi pelatihan, petugassekertariat/ administrasi dan petugas sertifikat pelatihan; kurangnya pemahamanpenyelenggara pelatihan dalam hal komponen kurikulum akreditasi pelatihan; sertakurang optimalnya jaringan internet sebagi pendukung pelaksanaan pelayananakreditasi pelatihan. Dari hasil penelitian disarankan agar Pusat Pelatihan SDMKesehatan dapat menambah tim penilai akreditasi pelatihan, membuat komiteakreditasi pelatihan, memperbaharui pedoman akreditasi, melakukan pembinaansecara berkala kepada tim penilai dan penyelenggara pelatihan, mengoptimalkanjaringan internet, serta membuat aplikasi pengajuan akreditasi berbasis online. Selainitu perlu dilakukan sosialisasi pedoman sertifikasi yang baru, melakukan uji cobaaplikasi penomoran sertifikat serta memberikan pelatihan kepada petugas sertifikattentang aplikasi pemberian nomor sertifikat.Kata kunci : Akreditasi Pelatihan; Kepuasan Pelanggan; Sertifikasi Pelatihan.
The purpose of this study is to know the level of customer satisfaction toaccreditation and certification service of training in Pusat Pelatihan SDM Kesehatanyear 2017 and its problem as an effort to improve the quality of accreditation andcertification services of training. This study consist of quantitative and qualitativestages. The result on quantitative stage shows that level of customer satisfaction toaccreditation and certification service of training with 90% cut off point is 50.6%while suitability of expectations agains reality is 85.37%, customers from privateinstitutions more satisfied (65,7%) than those from government agencies (40,0%),there was no difference between customer satisfaction and the duration of assessment(P value 0.231). Based on multivariate analysis, it is shows that variables related tocustomer satisfaction were gender with P value 0,001 and OR = 6,7. It means thatmale customers are more satisfied 7 times than female customers after beingcontrolled by institution type variable and job variable. Cartesian diagram analysisshows that there are 9 issues that are classified as top priority for improvement(Quadrant A). The result on qualitative stage shows that the problems faced inaccreditation and certification service of training are lack of human resources ontraining accreditation assessment team, secretariat/administrative officers and trainingcertificate officers; lack of understanding from training providers in component oftraining accreditation curriculum; also internet network is less than optimal as asupporting on implementation accreditation services of training. From this study it issuggested to adding training assessment accreditation team, create trainingaccreditation committees, update accreditation guidelines, conduct regular coachingto assessment team and training providers, optimizing the internet network, and alsocreate application for online accreditation submission. It is also necessary to socializethe new certification guidelines, trial on certificate numbering application and providetraining to certificate officer about the certificate numbering application.Keywords: Customer Satisfaction; Training Certification; Training Accreditation.
Read More
T-5442
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive