Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33257 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Triyono Rakhmadi; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Arief Muhaimin
Abstrak:

ABSTRAK Minyak & gas bumi merupakan salah satu penentu neraca devisa negara indonesia. Pertingkatan produksi migas selalu tidak seimbang dengan peningkatan konsumsinya balk untuk penggunaan langsung maupun produk turunannya dalam berbagai sektor industri. Premier Oil Indonesia (POI) adalah salah satu KPS (Kontraktor Production Sharing) minyak dan gas bumi yang ada di Indonesia yang dalam operasinya menggunakan teknologi tinggi dengan investasi yang cukup besar dan kecelakaan kerja yang terjadi pasti akan menimbulkan kerugian bagi pekerja, perusahaan dan lingkungan. Di POI, Occupational Health and Safoty Management System (OHSMS) menjadi bagian dari keseluruhan sistem manajemen. Tujuan dan sasaran KJ terintegrasi dalam ~tiap rencana, langkah kerja dan target spesitlk yang harus dicapai. Selarna kuron waktu 6 (enam) tabun dari 2001 - 2006, ada sekitar 380 kasus kecelakaan keija yang terjadi dan dilaporkan. Mulai awal tabun 2007 POI ingin lebih meningkatkan kinerja KJLH-nya dengan memasukan kasus Higb Risk (High Potential) Incident menjadi salah satu indikator K3LH seiain Incident Rate da1am KPI-nya (Key Performance Indicator). Hal inilah yang memotivasi dan menarik untuk perlunya dilakukan penelitian ini, guna menganalisa Po Incident) yang te!jadi selama tabun 200 l - 2006 untuk mcngetabui kinerja basil usaha K3 khususnya dalarn tingkat kecelakaan kerja. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik komparatit; untuk mengkaji kecelakaan ke!ja (accident analysis) yang terjadi dan dilakukan penilaian resiko menggnnakan risk assessment matrix (RAM) untuk mengetahui kecelakaru1 kelja yang berkategori Higb Risk I Higb Potensial {HlPo Incident) dan membandingkannya dengan data lapnran kecelakaan tahunan POI serta basil penelitian terdabulu. Data yang digunakan adalab data sekunder kecelakaan kerja di POI yang tereatat di Departemen K3LH dari tahun 2001 (kwartal ke empat tabun 2000 yang merupakan awal penggnnaan database online di POI) sampai dengan tabun 2006. Karena pnnelitian ini menggunakan berdasarkan data laporan kecelakaan keija Kualitas laporan kecelakaan kerja yang ada sangat menentukan hasil analisa pada penelitian ini. Darl hasii penelitian ini menunjukkan bahwa : 1. Insiden yang terjadi se)ama periode 6 tahun terakhir mengalami fluktuasi khususnya dari segi tingkat keparahan, tapi dari sisi jumlah maka dua tahwl terakhlr mengalami peningk:atan yang signifikan. Tingginya prosentase kasus HiPo di tahun 2005 tercermin pada tingginya total kecelakaan kelja di tabun 2006, tapi tidak signifikan di tahun 2002 - 2003. Berdasarkan analisa dari lokasi dan waktu terjadinya kecelakaan terlinggi, disimpulkan bahwa meningkat I banyaknya aktifitas berhubungan denga.i1 tingginya tingkat kecelakaan. 2. Primary cause (penyebab dasar) yang paling dorninan adalah Equipment (pernlatan) yaitu Failure of lifting equipment dan Unsafe equipment due to defect. kemudian human ( ornng) yaitu Lack of attention I care, twtuk root cause (penyebab langsung) yang dominan adalah Failure to follow known job procedure, Inadequate ttaioing I poor training standard, Inadequate supervision. 3. HiPo inciden yang tetjadl di POI terbanyak (41 %) merupakan kejadian hampir celaka {near miss) dan tidak ada yang merupakan kasus keamanan I security. Dari sisi awareness untuk melakukan pelaporan. hal ini merupakan cemrin bahwa kepaduliannya cukup tinggi, kecelakaan dilaporkan bukan hanya karena korban yang luka atau keparahannya yang berat. 4. Dari data HiPo inciden selama 6 tabun hampir 90% kasus serupa akan "MUNG KIN" teljadi lagi ( dalam bal ini terrnasuk didalamnya 41% kasus san gat mungkin terjadi lagi dan 14% hampir pasti terjadi kecelakaan lagi). Dibarapkan dengan basil penelitian hti maka pihak perutabaan disarankan untuk waspada terhadap kinerja statistik kecelakaan yang ada, menjadikan HiPo Incident sebagai KPI di tabun 2007 merupakan langkah yang lepat asalkan dibarengi dengan peningkatan pengetahuan semua karyawannya. lnvestigasi keceiakaan harus mengidentifikasi penyebab hingga mendapatkan root cause-nya dan tindak lanjut dari rekomendasi keeelakaan untuk tindakan perbaikan dan peneegahan harus benar-henar menjawab kausal yang ada, karena hampir semua kasus kecelakaan HiPo yang dllaporkan mempunyaj potensi untuk teruiang kembali terjadi dan menimbuJkan akibat atau kerugian yang lebih serius, hal ini jika kondisi masih sama dengan periode 6 tahun tersebut atau dengan kata lain manajemen POI tidak melalrukan perubahan yang signifikan dari keadaan khususnya di 2 tahun terakhir yang mempunyai data paling signiftkan. Kehamsan mengikuti prosedur kerja yang ada, ttaining yang efektif dan efisien sesuai persyaxatan kompetensi setiap karyawan, perlunya peningkatan fungsi pengawasan terhadap kinerja bawabannya, dengan perlu adanya inapeksi langsung pada pekeljaan dan mengawasi serta memberikan saran-saran apabila ada kesalahan dalam pekeljaan atau kemungkinan munculnya potensi babaya. Intesifikasi semua usaha yang Ielah ada : HSE Meeting, Safety Inspection, PASS, Hazard Reprot, STOP dan Jain sebagainya untuk penanggulangan dan pencegahan kecelakaan kerja HSE Manual, Prosedur, Task Instruction yang telah ada dan tersedla hams diyakinkan terimplementasi dengan maksimal secarn balk dan benar, dittaioingkan ke semua karyawan yang hams terlibat agar berkompeten dan diawasi pelaksanannya oleh Supervisor tericait untuk mengurangi bias implementasi serta dilakukan peoinjauan ulang secarn berkala untuk meyakinkan kesesuaian terbadap hazard dan risk yang herkembang.


ABSTRACT Product increase Oil and gas always incommensurate to make-up of its consumption to direct usage and also its generation product in so many industrial sector. Premier Oil Indonesia ( POI) is one of the CPS ( Contractor Production Sharing) gas and oil exist in Indonesia which in its operation use high technology with big enough investment, and accident work that happened surely win generate Joss to worker, environment and company. In POI, Occupational Health Safety Management System and ( OHSMS) become the part of the overall of management system. And HSE target integrated in each plan. work activity and specific goals which must reach. During range of 6 year from 2001 -2006, there is about 380 work accident that happened and reported. Start early year 2007 POI wish more is improving of HSE performance with High Risk ( High Potential) Incident become one of the HSE indicator besides Incident Rate in KPI ( Key Perfomance Indicator). This matter motivate and draw to the importance of done by this research, analyze work accident data which have high risk criterion ( HiPo Incident) that happened during year 2001 - 2006 to know the performance result of effort HSE specially in level of accident . This research character is analytic descriptive of comparability, to study accident that happened (accident analysis) and assessment of risk by use risk assessment matrix ( RAM) to know accident of job which categorize High Risk I High Potential ( HiPo Incident) and comparing it v.ith annual accident report data of POI and also result of former research. The research data used secondary data from acddent data which noted in HSE Department POI from year 200 l ( quarter four in year 2000 representing early usage of online database in POI) up to year 2006. Because this research use secondary data, accident data validity only pursuant to work accident report data. Quality of accident report existing very determining result of analysis at this research. From result of this research indicate that: 1. Incident that happened during period the last 6 year very fluctuate specially from severity level. but from amount of hence at the last two year is make-up of which is significant. Percentage of HiPo case in year 2005 resulted at total height of accident work in year 2006, but do not significant in year 2002 ~ 2003. Pursuant to analysis from time and location the happening of highest accident~ conclude that increasing activity relate to number of accident. 2. Primary Cause which most dominant is Equipment that is failure of lifting equipment and unsafe equipment due to defect, then human that is Lack of attention I care, fur the root of cause dominant is Failure to foliow known job procedure, inadequate training I poor training standard. inadequate supervision. 3. HiPo Incident that happened in POI majority ( 41 %) representing near miss and nothing that represent security case. From awareness side to do reporting, this matter represent that its high enough on awareness, accident reported not merely because wounded victim or its severity of injury. 4. From HiPo inciden data during 6 year almost 90% of similar case v.-ill " POSSIBLE" happened again ( in this case include 41% of case very possible happened again and 14% most certainly happened accident again). Expected with result of this research hence company suggested to alert to statistica1 performance of existing accident, making Hi Po Incident as KPI in year 2007 representing a step in the right direction so long as with improvement of knowledge all its employees. Investigation of accident have to identify cause till get root cause and fOllow-up from accident recommendation for the action of prevention and correction have to really is replying of existing causa11 because most of all case accident reported HiPo have potency to recurred again happened: and generate more serious loss or effect, this matter if condition stili is: equal to 6 years period or mean POI management do not make a significant change from existing situation specially in the Jast 2 year having data most significant. Compulsion follow existing working procedure. efficient and effective training according to each employees competence requirement, the importance of improving of supervisory function to its subordinate performance, direct observe and inspection at work and also give suggestion if there is mistake in or possibility of potential hazard. Intensification aH effort which have there are ; HSE Meeting. Safety Inspection, PASS, Hazard Report, STOP and others for support focus in the accident prevention. HSE Manual, Procedure, Task Instruction which have there is and available have to be assured by implementation maximally and correctness, trained to all employees which must involve to be have competence to and supervised by its by related/relevant Supervisor to lessen implementation diffraction is and also done by periodical review to assure according to risk and hazard expanding.

Read More
T-2627
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riska Marini; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan
M-1107
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rudy Ihsani; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Irma Primadiati Afika, Ridha Renaldi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara laporan observasi keselamatan kerja dan angka kecelakaan kerja di PT X selama tahun 2022–2024. Selain itu, penelitian menilai tingkat penerapan program observasi, kualitas tindak lanjut temuan, serta karakteristik kecelakaan yang terjadi. Desain penelitian yang digunakan adalah studi ekologi dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan data observasi UA/UC dan data insiden yang tercatat dalam sistem perusahaan. Total laporan UA/UC selama tiga tahun adalah 17.008 laporan, sedangkan total insiden berjumlah 270 kasus. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai r = –0,99, yang menggambarkan hubungan linear sangat kuat dan bersifat negatif antara jumlah laporan UA/UC dan jumlah insiden. Uji signifikansi menghasilkan nilai p-value < 0,05, sehingga hubungan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik. Berdasarkan penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara aktivitas observasi keselamatan, kualitas tindak lanjut temuan dan angka kecelakaan kerja di PT X. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan program observasi yang efektif dan tindak lanjut temuan dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja.

This study aims to analyze the relationship between workplace safety obsearvation reports and occupational accident rates at PT X during the period 2022–2024. In addition, the study evaluates the level of implementation of the safety observation program, the quality of follow-up actions on observation findings, and the characteristics of occupational accidents that occurred. The research employed ecological design with a quantitative approach, using data from Unsafe Action/Unsafe Condition (UA/UC) observation reports and incident records documented in the company’s internal system. Over the three-year period, a total of 17,008 UA/UC observation reports and 270 incident cases were recorded. The Pearson correlation analysis yielded a correlation coefficient of r = –0.99, indicating a very strong and negative linear relationship between the number of UA/UC reports and the number of occupational accidents. The significance test produced a p-value < 0.05, confirming that the relationship is statistically significant. Based on these findings, the study concludes that there is a significant relationship between safety observation activities, the quality of follow-up actions, and occupational accident rates at PT X. These results Highlight the importance of effective implementation of safety observation programs and adequate follow-up actions in preventing workplace accidents.
Read More
T-7466
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widhati Kurniasari; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Laksita Ri Hastiti, Alfajri Ismail, Devie Fitri Octaviani
Abstrak:
Kecelakaan kerja di sektor industri manufaktur masih menjadi tantangan termasuk di PT X yang mencatat insiden dengan berbagai tingkat keparahan pada periode tahun 2023-2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keparahan kecelakaan kerja pada pekerja di PT X. Menggunakan desain studi cross-sectional, sampel penelitian berjumlah 257 kasus kecelakaan diambil dengan teknik total sampling dari master data perusahaan. Variabel yang diteliti meliputi jenis kelamin, usia, masa kerja, karakteristik pekerjaan, shift kerja departemen, dan penyebab langsung. Analisis data dilakukan secara deskriptif, inferensial (chi-square), dan multivariat (regresi logistik). Hasil menunjukkan bahwa mayoritas kecelakaan berada pada tingkat luka ringan dengan total 197 kasus (76,7%), sementara luka berat sejumlah 60 kasus (23,3%). Analisis inferensial membuktikan adanya hubungan signifikan antara jenis kelamin (p-value = 0,001) dengan laki-laki berisiko 2,87 kali mengalami luka berat dibanding perempuan. Ada hubungan karakteristik pekerjaan (p-value=0,000) dengan pekerjaan risiko tinggi berisiko mengalami luka berat 3,26 kali dibanding pekerjaan risiko rendah. Ada hubungan shift kerja (p-value=0,045) dengan shift siang berisiko 3,36 kali mengalami luka berat dibanding shift pagi. Ada hubungan departemen (p-value=0,002) dengan departemen support lebih berisiko 4,5 kali daripada produksi untuk mengalami luka berat. Hasil uji multivariat didapatkan jenis kelamin (p-value=0,006; OR=2,50) dan karakteristik pekerjaan (p-value=0,000; OR=2,97) merupakan faktor paling signifikan. Pekerja laki-laki berisiko 2,5 kali daripada pekerja perempuan dan pekerjaan berisiko tinggi berisiko 2,9 kali dibanding pekerjaan berisiko rendah untuk mengalami luka berat. Hal ini merupakan representasi dari segregasi penempatan kerja (job assignment), di mana pekerja laki-laki lebih banyak ditempatkan pada area berisiko tinggi yang mengoperasikan mesin bertenaga mekanis dan kinetik masif. Penelitian ini mempertegas bahwa eskalasi keparahan cedera di PT X bersifat teknis-mekanis. Manajemen perusahaan disarankan untuk berfokus pada penguatan mitigative barriers guna menahan transmisi energi saat terjadi malfungsi, seperti memprioritaskan pemasangan interlocking guard pada area high-risk, memastikan kecepatan respons darurat medis, serta menegakkan budaya Stop Work Authority (SWA) sebagai penahan energi terakhir bagi para pekerja.

Occupational accidents in the manufacturing sector remain a challenge, including at PT X, which recorded incidents of varying severity during the 2023-2025 period. This study aims to analyze the factors associated with the severity of occupational accidents at PT X. Using a cross-sectional study design, a sample of 257 accident case was selected using total sampling from the company’s master data. The variables studied included gender, age, work tenure, job characteristics, work shift, department, and immediate causes. Data analysis was performed using descriptive, inferential (chi-square), and multivariate (logistic regression) statistics. The results showed that the majority of accidents resulted in minor injuries, totaling 197 cases (76.7%), while major injuries amounted to 60 cases (23.3%). Inferential analysis demonstrated a significant association between gender (p-value = 0.001), where male workers were 2.87 times more at risk of experiencing major injuries compared to females. There was also a significant association with job characteristics (p-value = 0.000), where high-risk jobs were 3.26 times more likely to result in major injuries compared to low-risk jobs. Furthermore, work shift (p-value = 0.045) showed that the afternoon shift had a 3.36 times higher risk of major injuries compared to the morning shift. The department (p-value = 0.002) was also significantly associated, with the support department being 4.5 times more at risk of major injuries than the production department. The multivariate analysis revealed that gender (p-value = 0.006; OR = 2.50) and job characteristics (p-value = 0.000; OR = 2.97) were the most significant factors. Male workers were 2.5 times more at risk, and high-risk jobs were 2.9 times more at risk of experiencing major injuries compared to their counterparts. This represents job assignment segregation, where male workers are more frequently placed in high-risk areas operating machines with massive mechanical and kinetic energy. This study reinforces that the escalation of injury severity at PT X is technical-mechanical in nature. Company management is advised to focus on strengthening mitigative barriers to contain energy transmission during malfunctions, such as prioritizing the installation of interlocking guards in high-risk areas, ensuring rapid emergency medical response, and enforcing a Stop Work Authority (SWA) culture as the ultimate energy barrier for workers.
Read More
T-7606
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haryanto; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Edi Bachri
T-2425
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triyatmoko; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Chandra Satrya, T Saut Siahaan, Pungky Widiatmoko
Abstrak:

Abstrak

Penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) adalah merupakan cara dalam mengelola resiko di tempat kerja yang bertujuan untuk menciptakan kondisi lingkungan kerja yang aman, selamat dan nyaman. Sejak tahun 1996 penerapan SMK3 menjadi ketentuan wajib bagi perusahaan berdasarkan Permenaker No. PER. 05/MEN/1996 tentang SMK3, namun jumlah perusahaan yang menerapkannya masih belum sebanding dengan jumlah perusahaan yang ada di Indonesia.

Tesis ini meneliti dan menganalisa tingkat pemenuhan penerapan SMK3 berdasarkan laporan audit eksternal badan audit tahun 2010 sampai dengan 2012. Penelitian ini merupakan study evaluatif terhadap data skunder sebanyak 793 perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi SMK3 dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI.

Dari hasil penelitian terlihat bahwa perusahaan pada sektor industri pengolahan mempunyai tingkat kepatuhan terhadap peraturan yang lebih tinggi di banding sektor lain. Sedangkan perusahaan di sektor konstruksi tingkat penerapan K3 nya lebih rendah dibanding sektor yang lain. Faktor yang menjadi kendala dalam pemenuhan penerapan Sistem Manajemen K3 adalah permasalahan yang berkaitan dengan pembuktian kompetensi personil khususnya di bidang manajemen resiko.


Implementation of occupational safety and health management systems (SMK3) is a way of managing risks in the workplace that aims to create a safe working environment, safety and comfortable. Since 1996 the implementation of the provisions SMK3 become mandatory for companies based decree of the Minister of Manpower No. PER. 05/MEN/1996 about SMK3, but the number of companies that implement it are still not comparable to the total number of companies in Indonesia.

This thesis examines and analyzes the application of SMK3 level of compliance by the external audit agency audit report in 2010 until 2012. This study is an evaluative study on secondary data as much as 793 companies that have been certified SMK3 of the Ministry of Manpower and Transmigration.

From the research shows that companies in the manufacturing sector have a level of regulatory compliance is higher than other sectors. While companies in the construction sector level of OSH implementation is lower than the other sectors. Factors which become obstacles in the fulfillment of the occupational safety and health management systems implementation is the problems related to proving the competence of personnel especially in the area of risk management.

Read More
T-3897
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwitya Indri Lestari; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Juned Eryanto
S-8237
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Angga Putra; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Zulkifli Djunaidi, Yuni Kusminanti, Donanta Dhaneswara
T-3358
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marita Rani; Pembimbing: Candra Satrya; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Yuni Kusminanti
Abstrak: Kecelakaan kerja di PTSI Cilegon Factory terus terjadi berulang setiap tahunnya walaupun perusahaan telah mengimplementasikan sistem manajemen K3 berdasarkan PP 50 tahun 2012 dan OSHAS 18001 selama kurang lebih delapan tahun. Untuk mengendalikan insiden kecelakaan yang terus berulang maka diperlukan analisis mendalam terkait penyebab kecelakaan di PTSI Cilegon Factory, sehingga kecelakaan kerja dapat dihindarkan dengan adanya tindakan pengendalian. Skripsi ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor apa saja yang merupakan penyebab kecelakaan kerja terus terjadi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode penelitian campuran metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif yaitu analisa data sekunder berupa laporan kejadian kecelakaan, laporan klinik dan laporan investigasi. Metode kualitatif dengan observasi di lingkungan kerja dan wawancara mendalam terhadap pekerja, supervisior dan manajer. Hasil penelitian kuantitaif didapatkan dari data sekunder bahwa faktor penyebab kecelakaan terbesar adalah slip (kegagalan keterampilan) karena tidak fokus dan pelanggaran yang segaja di lakukan oleh pekerja. Hasil ini sebanding dengan faktor kerusakan alat atau mesin yang digunakan. Hasil penelitian kualitatif didapatkan bahwa faktor penyebab utama adalah pekerja yang tidak fokus dalam bekerja karena keterbatasan waktu, serta kurangnya pengawasan supervisior terhadap prosedur kerja dan keadaan alat kerja. Kata kunci : Kecelakaan, Gambaran Kecelakan Kerja, Faktor Kecelakaan Kerja. Accidents at PTSI Cilegon Factory continue recuring every years even though the company has implemented occupational health and safety management system based on PP 50 tahun 2012 and OSHAS 18001 for about eight years. To control the incident of accidents that continue to repeat the necessary in-depth analysis of the causes of accidents in PTSI Cilegon Factory, so that workplace accidents can be avoided with the existence of control measures. This thesis aims to analyze about the factors are causes of recurrent work accidents. This research is descriptive with research method of mixed quantitative method and qualitative method. Quantitative method is analiyze secondary data of accident reports, clinical reports and investigative reports. Qualitative method with workplace observation and in-depth interviews of workers, supervisors and managers. The result of quantitative research from the secondary data that the biggest causes of accidents is a slip (failure skills) because not focus and workers deliberately have violations. This result is balance about the damage factors of the tool or machine have used. The result of qualitative research are found that the main causes factor are the worker not focus when working and have a limited time, and the lack of supervision on work procedure and the state of the work tool. Keywords: Accident, Description of Work Accident, Work Accident Factor
Read More
S-9431
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Samsurian; Pembimbing: Chandra Satrya
S-3895
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive