Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38859 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
R. Djarot Darsono Wahyu Hartanto; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Ratna Djuwita, Itje Aisah Ranida
Abstrak:

Latar belakang : Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan olch ketcrsediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Unioef tahun 2000, mcnyatakan adanya bukti empiris yang menunjukkan bahwa hal tezsebut sangat ditentukan oleh status gizi. Semakin muda usia seozang anak untulc rnenderita gizi kurang, maka semakin bel-at akibat yang ditimbulkan. Dimana kemunduran mental yang diakibatkan oleh keadaan gizi kurang yang berat dapat bersifat pennanen, akan tetapi pada keadaan gizi kurang yang ringan maupun sedang kecenderungan kemunduran mental dapat dipulihkan, semenjak dengan bertambah baiknya keadaan gizi danlingklumgan anak dibesarkan. (I-lusaini, 1986, Jalal, 1998 dan Azwar, Azrul. 2004). Metodologi : Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain kohort retrospektifi Jumlah sampel kesehuuhan adalah 1200 anak. Analisis kandidat model menggunakan chi-kwadrat, dan analisis untuk variabel independen yang masuk ke dalam model menggunakan uji regxesi logistik dan Mantel-Haenzel. Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian di pcngaruhi olch bias obsen/asi bersifat misklasiiikasi non dejizrensial yang under estimate, confounding, interaksi multipikatif positif dan chane variazion. Alcan tetapi penelitian ini sangat konsisten karena mendulcung beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya., seperti: Burd L., Hames (1988), Cook Jr (1993) dan Halterman (2001), serta tidak dimungkinkan untuk texjadinya temporal ambiguity, sehingga dapat diaplikasikan pada populasi yang eligible dan populasi sumber. Dampak poterisial yang timbul pada populasi untuk tcxjadinya prestasi belajar verbal yang rendah dapat dicegah sebesar 44% pada saat anak usia baduta dan 30% pada saat anak usia setelah baduta apabila dalam status gizi balk pada usia tersebut. Dan dampalc potensial yang timbul pada populasi untuk terjadinya prestasi belajar numerik yang rendah dapat dioegah sebesar 80% pada saat anak usia baduta dan 63% pada saat anak usia setelah baduta apabila dalam status gizi baik pada usia tersebut. Kesimpulan: Semakin dini seomng anak menderita gizl kurang, maka semakin berisiko untuk mengalami prestasi belajar yang rendah, seperti besamya risiko prestasi verbal yang rendah dapat texjadi pada anak yang memiliki gizi kurang pada saat usia baduta sebesar 6,5 kali, dan pada saat usia setelah baduta 5 kali dibanclingkan dengan anak yang memiliki gizi baik pada saat usia texsebut. Demikian pula besarnya risiko prestasi numerik yang rendah dapat teljadi pada anak yang memilil-Li gizi kumng pada saat usia baduta sebesar 25 kali, dan pada saat usia setelah baduta I5 kali dibandingkan dcngan anak yang memiliki gizi baik pada saat usia tersebut. Prestasi verbal sangat dipengaruhi oleh kodisi (iluktuasi) status glzi individu sepanjang hayatnya. Suatu hal yang agak berbeda te1jadi pada prestasi numerik, dimana status gizi pada saat usia balita saja yang telihat berpengaruh.


 Background : The successful development of one’s nation is determined by availability of qualified human resources. UNICEF in 2000 said that there was empirical proof that those qualifications are detemained by nutritional status. The younger children get malnutrition, the heavier impact will be gotten by the children. The condition will be much heavier if the malnutrition starting to occur in fetus in the pregnancy. Mental retardation caused by severe malnutrition could be permanent, but if it happens in mild or moderate malnutrition it could be cured, as the nutritional status and environment where the children grow is getting better. (Husaini, 1986, Jalal, 1998 and Azwar, Azml. 2004). Methodology : This study was an analytical study with retrospective cohort design. Total sample in this study was 1200 children. Model candidate analysis used Chi Square, and analysis for independent variables to enter the model used logistic regression and Mantel-Haenzel. Result and Discussion : The result of the study was influenced by observational bias, which is non deferential rnisclassiiication that could be underestimated the result, positive multiplicative interaction, and chance variation. Thus, the result of this study was very consistent; because it supports prior study conducted by Burd L. Harnes (1988), Cook Jr (1993) and I-laltennan (2001), and also it is not by any chance temporal ambiguity could be happened, so the result of this study could be generalized to eligible population and source population. Potential impact that occurs in the population to have low verbal accomplishment which could be prevent was 44% if the nutritional status constantly good in children age less than 2 years and 30% if the nutritional status is good in children aged more than 2 years. Moreover, potential impact that occurs in population to prevent low numeric accomplishment which could be prevent is 80% if the nutritional status constantly good in children age less than 2 years and 63% if the nutritional status is good in children age more than 2 years. Conclusion : The younger a child get nutritional deiiciency, the bigger risk he will have low study accomplishment, such as the risk to have low verbal accomplishment could be happen in children age less than 2 years who has malnutrition is 6.5 times, and in children age more than 2 years the risk is 5 times than children in the same age 'with good nutritional status. Moreover, the risk to have low numeric accomplishment in children age less than 2 years is 25 times, and in children age more than years, the risk is I5 times than the children in the same age with good nutritional status. Verbal score was very influenced by condition or fluctuation of nutritional status of a person all his life. A little difference &om that, numeric score only being influenced by a person's nutritional status in his first five years of life

Read More
T-2775
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heni Suryani; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Dwi Gayatri, Nur Ikhwan
Abstrak: Karies merupakan penyakit gigi yang banyak dijumpai pada anak-anak usiasekolah dasar di Indonesia. Walaupun tidak menimbulkan kematian, sebagaiakibat dari kerusakan gigi dan jaringan pendukung gigi, dapat mennurunkantingkat produktivitas seseorang, karena dari aspek biologis akan dirasakan sakit,sehingga aktivitas belajar, makan dan tidur terganggu.Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri kelas 1 yang ada diWilayah Kerja puskesmas Walantaka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuifakor prilaku yang mempengaruhi status karies gigi pada siswa sekolah dasardengan desain cross sectional dan alat yang digunakan untuk mengumpulkan databerupa kuesioner.Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 238 (69,4%) dari 343 anak yangmenderita karies gigi, jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 114 (74%). Daripenelitian ini faktor yang paling beresiko terhadap status karies gigi siswa adalahCara anak menyikat gigi (PR = 2,557), Frekuensi sering mengkonsumsi jajananmanis (PR = 2,197), Pekerjaan ibu (PR = 2,051) dan Frekuensi sikat gigi (PR =1,782).Usaha untuk menurunkan angka karies gigi pada anak yaitu dengan meningkatkan kegiatan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah, melalui promotif dan preventif tentang kesehatan gigi dan mulut, melalui pemeriksaan gigi dan mulut secara rutin ke sekolah-sekolah sehingga dapat diambil tindakan untuk mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan gigi dan mulut pada anaksekolah.
Kata kunci : Karies Gigi
The research was conducted at the State Primary School Grade 1st in theWork Area Walantaka clinic. This study aims to determine the behavior factoraffect the status of dental caries in primary school students with the cross-sectional design and the tools used to collect data in the form of a questionnaire.Research results showed that 238 (69.4%) of 343 children who suffer fromdental caries, is the most sex women 114 (74%). From this study the risk factorsfor dental caries status of students is the way children brushing their teeth (PR =2.557), frequency often consume sugary snacks (PR = 2.197), maternal work (PR= 2.051) and frequency toothbrush (PR = 1.782). Efforts to reduce the number of dental caries in children by increasingactivity UKGS program, through promotion and prevention of oral health throughoral examination regularly to schools so that they can take action to prevent andaddressthe problem of oral health on school children.
Keywords: Dental Caries.
Read More
S-7560
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Hidayat Sahid; Pembimbing: Asri C. Adisasmita, Ratna Djuwita; Penguji: Theresa Dwi Utami Azis
Abstrak: Status gizi merupakan ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi anak yangdiukur berdasarkan berat badan dan tinggi badan anak. Data status gizi pada anak usiaumur 5-12 tahun di DKI Jakarta menunjukkan underweight 14,0%, stunting 22,7%,wasting 9,9%, dan gemuk 6,8%. Data secara spesifik untuk wilayah Jakarta Selatanadalah underweight 7,4%, stunting 17,8%, wasting 6,3%, dan gemuk 7,3%. Dari datatersebut didapatkan gambaran mengenai permasalahan gizi yang terjadi di DKIJakarta. Permasalahan gizi memiliki dampak pada tumbuh kembang anak. Gizimerupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap prestasi akademiksiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh status giziterhadap prestasi akademik siswa kelas 1-3 sekolah dasar. Desain yang digunakanadalah cohort restrospective dengan melihat hubungan antara hasil School WideAssessment (SWA) dengan status gizi anak pada 9 bulan sebelumnya. Populasi dalampenelitian ini adalah siswa kelas 1-3 sekolah dasar di Sekolah HighScope Indonesiadengan dilakukan total sampling yaitu mengambil seluruh siswa kelas 1-3 yangberjumlah 480 anak. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yangbermakna antara variabel status gizi lebih pada pelajaran Bahasa Indonesia RR 1,89(CI 95% 1,46-2,44), Bahasa Inggris RR 5,22 (CI 95% 3,23-8,45), Matematika RR1,81 (CI 95% 1,45-2,26) dan IPA RR 1,90 (CI 95% 1,48-2,44). Demikian juga padaprestasi akademik kumulatif yaitu RR 6,29 (CI 95% 3,82-10,35). Oleh karenanyamasyarakat khsususnya orang tua perlu menyadari adanya pengaruh status giziterhadap prestasi akademik sehingga akan lebih bijak dalam memilih asupanmakanan dan jenis sekolah atau pendidikan yang tepat sesuai dengan usia anak.Kata kunci : status gizi; prestasi belajar; faktor risiko; cohort retrospective
Nutritional status is a measure of success in the fulfillment of child nutrition asmeasured by weight and height. The prevalency of nutritional status of children aged5-12 years in Jakarta is 14.0% underweight, 22.7% stunting, 9.9% wasting, and 6.8%fat. Specific data for South Jakarta area were underweight 7.4%, stunting 17.8%,wasting 6.3%, and grease 7.3%. Nutrition problems have an impact on child growth.Nutrition is one of the important factors that affect student achievement. The purposeof this study was to determine the effect of nutritional status on academicachievement of grade 1-3 elementary school students. The design used was cohortrestrospective by looking at the correlation between School Wide Assessment (SWA)with child nutritional status in the previous 9 months. The population in this researchis the students of 1-3 grade of elementary school in HighScope Indonesia with takingall students which amounts to 480 children as a total sampling. The results of thisstudy indicate that there is a significant relationship between the variables of nutritionstatus more on Indonesian lessons RR 1.89 (95% CI 1.46-2.44), English RR 5.22(95% CI 3.23-8, 45), Mathematics RR 1.81 (95% CI 1.45-2.26) and IPA RR 1.90(95% CI 1.48-2.44). Similarly, the cumulative academic achievement of RR 6.29(95% CI 3.82-10.35). Therefore, especially the parents should be aware of theinfluence of nutritional status on academic achievement so it will be wise in choosingfood intake and the type of school or education that appropriate to the child.Key words : nutritional status; academic achievement; risk factor; cohortretrospective.
Read More
T-5162
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Budi Hapsari; Pemb. Rachmadhi Purwana, Ratna Djuwita; Penguji: Bambang Wispriyono, Endang Syaifuddin, Rachmat Suherwin
Abstrak:

Latar belakang - Asap rokok lingkungan merupakan faktor risiko bagi timbulnya masalah kesehatan masyarakat. Dampak kesehatan yang ditimbulkan bukan hanya mengenai perokok, tetapi juga mengenai orang lain. Dari semua kelompuk umur dalam masyamkat, bayi dan anak-anak merupakan kelompok yang rentan terkena dampak kesehatan akibat pajanan asap rokok lingkangan. Pajanan asap rokok lingkungan pada anak-anak dapat menyebabkan peningkatan risiko terkena infeksi saluran pemapasan akut dan kronis, asma, radang telinga tengah (otitis media), dan alergi. Bagi anak-anak, rumah merupakan lokasi terpenting yang berkontribusi dalam pajanan asap rokok lingkungan. Tujuan - Mengetahui hubungan kejadian otitis media dengan pajanan asap rokok lingkungan di rumah dan faktor kovariat lain (jenis kelamin, status gizi, tingkat pendidlkan bapak, tingkat pendidikan ibu, pengeluaran keluarga, kepadatan penghuni rumah, dan ventilasi rumah) pada anak kelas satu Sekolah Dasar (SD) Kelurahan Grogol, Jakarta Barat, tahun 2008. Metode - Penelitian observasional analitik, melalui pendekatan desain studi kasus kontrol. Populasi adalah seluruh anak kelas satu Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kelutahan Grogol, Jakarta Barat, tahun 2008. Kasus adalah semua anak kelas satu SD Kelurahan Grogol tahun 2008 yang pada pemeriksaan telinga dengan otoskop ditemukan satu atau lebih tanda klinis berupa sekret di liang telinga, retraksi membran timpani, udem membran timpani, warna membran hiperemis atau kuning pucat, perforasi membran timpani, bayangan cairan di belakang membran timpani pada salah satu satu atau kedua telinganya. Kontrol adalah semua anak kelas satu SD Kelurahan Grogol tahun 2008 yang pada pemeriksaan telinga dengan otoskop tidak didapati tanda klinis seperti pada kelompok kasus. Hasil - Kejadian otitis media berhubungan bermakna dengan pajanan asap rokok lingkungan di rumah pada anak kelas satu SD Kelurahan Grogol Jakarta Barat tahuo 2008. Hasil uji regresi logistik ganda mendapatkan peningkatan resiko tiga kali lebih besar untuk menderita otitis media pada anak yang tinggal di rumah dengan pajanan asap rokok lingkungan tingg! setelah dikontrol dengan tingkat pendidikan bapak. Saran - Temuan pada penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi anak sekolah, orangtua, guru, masyarakat, dan pemerintah dalam upaya promotif dan preventif bahaya asap rokok lingkungan hagi anak-anak serta upay. kuratif dan rehabililatif atas dampak kesehatan yang ditimbulkan.


BackgrOund - Environmental tobacco smoke (ETS) is known as one of risk factors for public health. The health problems caused by ETS affect more people than just smokers. Children are especially vulnerable to ETS exposure than others. Children's exposure to ETS is responsible for increasing risk of acute and chronic respiratory infections, asthma, otitis media, and allergy. The most important location for children's exposure to ETS is their home. Objectives - To analyze asssociation between otitis media and ETS exposure at home and other covariats (sex, nutritional status, paternal education level, maternal education level, family expenditure, house crowding, and ventilation) on 1st year of basic school children in Grogol, West Jakarta, 2008. Method - Analytic observational study with case-control design. Population of this study are all 1st year of basic school children in Grogol, West Jakarta, 2008. Cases are all I" year of basic school children in Grogol, West Jakarta, 2008, with sign/s of otitis media on otoscopy. Controls are all 1st year of basic school children in Gragoi, West Jakarta, 2008, without sign of otitis media on otoscopy. Result - Otitis media significantly associated with Children's exposure to ETS at home in this study area. Multiple logistic regression analysis showed that odds ratio for otitis media was 3 after adjustment for paternal education level. Suggestion - The findings of this study are expecred to be an important information for all student, parents, teachers, public, and government on promotive-preventive programmes of ETS exposure, and on curative-rehabilitative programmes of ETS's health effects.

Read More
T-2938
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Beben Saiful Bahri; Pemb. Haryoto Kusnoputranto, Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Dirman Siswoyo, John Sihartony Marbun
T-2946
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yani Haerani Nuriyah; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tris Yunis Miko Wahyono, Gunawan Hendra, Nurholis Majid
T-4490
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sora Yullyana; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Ade Kurdiman, Wahyudin
Abstrak: Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak urutan ke-2 di dunia. Selama beberapa dekade terakhir, tuberkulosis juga muncul pada populasi anak. Tahun 2017, proporsi kasus tuberkulosis anak masih mengalami peningkatan menjadi 5.86 per 100.000 penduduk pada umur 0-4 tahun dan 5.89 per 100.000 penduduk pada usia 5-14 Tahun. Studi ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tuberkulosis anak di Kota Administrasi Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Populasi adalah semua kasus tuberkulosis anak yang ditemukan di pelayanan kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2017. Kelompok kasus adalah seluruh anak berumur 0-14 tahun yang sudah didiagnosis tuberkulosis positif berdasarkan sistem skoring tuberkulosis paru anak dan tercatat dalam register di Puskesmas wilayah Jakarta Timur. Kelompok kontrol adalah anak 0-14 tahun yang tinggal di wilayah Jakarta Timur dan tidak terdiagnosis tuberkulosis paru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kurang gizi kelompok kasus sebesar 29.17% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil analisis T-test menjelaskan bahwa anak dengan gizi buruk memiliki risiko TB paru dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal (OR 3.54; 95% CI 1.56-8.04; p 0,002). Hasil analisis regresi logistik menjelaskan bahwa anak dengan malnutrisi berisiko tuberkulosis paru 3.37 dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal setelah dikontrol oleh variabel kondisi atap, pencahayaan, riwayat imunisasi dasar, dan riwayat kontak kasus tuberculosis (95% CI 1.10-10.25; p 0.034). Kegiatan preventif dan promotif merupakan upaya dalam pencegahan dan pengendalian tuberkulosis paru khususnya pada anak. Upaya preventif dapat dilakukan melalui Gerakan Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Untuk memperkuat Gerakan TOSS TB, Pemerintah bersama masyarakat dapat melakukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Read More
T-5761
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiur Dina Waty; Pembimbing: Rachmadi Purwana; Ratna Djuwita; Penguji: I Made Djaja, Esrom Hamonangan, Warmo Sudrajat
Abstrak:

Keterpajanan timbal di udara ambien pada anak-anak yang berasal dari pembakaran bahan bakar kenderaan bermotor, dapat tezjadi jika terhimp senyawa timbal tersebut selama dipeljalanan dari rumah ke sekolah, Emisi tersebut merupakan basil samping pembakaran yang teljadi dalam mesin-mesin kendaraan, yang berasal dari senyawa zerramelkvl-lead dan ietraetlzyl-lead yang selalu ditambabkan dalam bahan bakar kendaraan bermotor tersebut. Dimana iimbal yang dibuang ke udara melalui asap buang kendaraan bermotor iersebut menjadi sangar tinggi, apabila terhirup dalam sistem pemafasan akan dapat meningkalkan kadariimbal dalam darah anak-anak.. Tujuan dari penelitian ini ingin rncngetahui hubungan keterpajanan timbal di udara ambien dengan kadar timbal dalam darah siswa sekolah dasar kelas empat, lima dan enam di kecamatan Cikarang. Penelitian ini mempnmyai keraugka konsep bahwa keterpajanan tirnbal di udara ambien yang diukur dengan lama dijalan sebagai variabel independen akan mempengamhi kejadian kadartimbal dalam daxah siswa sebagai variabcl dcpenden. Juga diteliti fakbor bebas lain, yang dapat mempalgaruhi variabel dependen seperti status gizi, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekeljaan ayah, pekeljaan ibn, riwayat batuk kronis, riwayat minurn obat casing, konsumsi susu, kebiasaan merokok dan pengeluaran orang fua. Penelitian ini menggnmakan disain Cross Sectional, dengan jumlah populasi 160 orang siswa sekolah dasar kelas empat, lima dan enam di kecamatan Cikarang. Data dalam peneiitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara pengisian kuesioner, untuk mengetahui lama dijalan dari rumah kesekolah (ekwosnre/Sfariabel independen) dan kadar timba! dalam darah diukur dengan menggunakan AAS (outcome/variabel dependen). Hasil penelitian memmjukkan bahwa 62,4% siswa yang terpajan' lebih mernpunyai kadar timbal tinggi dalam damh pada siswa sekolah dasar kelas empat, lima dan enam di kecarnatan Cikarang. Kesimpulan pcnclitian ini adalah bahwa siswa yang telpajan lebih mempnmyai resiko 9 kali utuk mempunyai kadar timbal tinggi didalam darah dengan can of point median (S.72pg/dl) setelah dikontrol dengan pendidikan ayah dan kebiasaan merokok.


 

Lead exposure in children is sourced automotive combustion, while inhaled lead for trams road to go to school. Emission is e.Hected combustion vehicle machines, content tetramethyl lead and tetraethyl lead always added vehicle gasoline. Lead depletion is throwaway air automotive combustion, is very high. Metal lead, if inhaled in breathing system is etfect to up blood lead level children. Purpose of the research is knowing correlation lead exposure ambient with blood Icad level elementary. school tbrth, fifth, sixth at Cikarang. This research has concept that exposure lead in ambient that’s measure time at the road as variable indepaident is effecting blood lead level schoolchild as variable dependent. Thus researcher has researched mother factor which influence variable dependent as nutrition status, ihthefs education, mother’s education, thtliefs work, mother’s work, cough chroniw, helmint’s drug milk consumption, smoking habit and parcnt’s consumption. This research use cross sectional design, with 160 population schoolchild elementary school forth, iitih, sixth at Cikarang This data is taken lbr measurement time of the road fiom the house until to school (exposurefvariable independent) and blood lead level measurement AAS (outcome/variable dependent). The summaly showed that 62,4% child more exposure has high blood lead level at schoolchild elementary school Ruth, iiiih, sixth at Cikarang. Schoolchild’s more exposure has 9 time risk ibr has blood lead level, with cut of point median (5,72 pg/dl ) aher is controlled by father’s education and smoking habit.

Read More
T-3065
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esti Tyastirin; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Kusharisupeni, Reniati
S-5797
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rifa'I Ali; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Umi Fahmida, Besral; Penguji: Hadi Pratomo, Mondastri Korib Sudaryo, Rini Sekartini, Dodik Briawan, Hera Nurlita
Abstrak:

Masalah stunting pada anak masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal terhadap perubahan praktik pemberian makan, asupan gizi, status besi, dan status gizi anak baduta. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed methods exploratory sequential design, diawali dengan riset formatif kualitatif untuk pengembangan media edukasi, kemudian dilanjutkan dengan kuasi eksperimen dengan pendekatan non-randomized pretest-posttest control group design. Intervensi edukasi dilakukan selama 12 bulan dengan pendekatan komunikasi perubahan perilaku sosial (SBCC) menggunakan modul PGS-PL yang disesuaikan dengan kondisi lokal melalui edukasi intensif, peer educator dan juga demo masak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi PGS-PL berpengaruh signifikan terhadap peningkatan skor keragaman makanan (DDS) (OR = 1,89; p = 0,048) dan Konsumsi sumber pangan hewani (OR=1,55, p = 0,037), serta peningkatan asupan energi, protein, karbohidrat, lemak, vitamin A, asam folat, zat besi, dan seng (p < 0,05). Namun, tidak ditemukan pengaruh signifikan terhadap kadar serum ferritin dan serum transferrin receptor. Status gizi anak mengalami peningkatan signifikan pada indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) sebesar 0,60 z-score (p = 0,007), tetapi tidak signifikan pada indeks berat badan menurut umur (BB/U), dan terdapat penurunan signifikan pada indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) (p = 0,034).
Penelitian ini menegaskan bahwa edukasi gizi berbasis pgs-pl dengan pendekatan kombinasi edukasi intensif, peer educator dan demo masak dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan praktik pemberian makan dan status gizi anak balita di wilayah dengan potensi pangan lokal.


Stunting in children remains a serious public health challenge in Indonesia, including in Pohuwato District, Gorontalo. This study aimed to analyze the effect of nutrition education based on the Local Food-Based Balanced Nutrition Guidelines (PGS-PL) on changes in feeding practices, nutrient intake, besi status, and nutritional status of children aged 6–14 months. The research employed a mixed methods exploratory sequential design, starting with formative qualitative research for the development of educational media, followed by a quasi-experimental study using a non-randomized pretest-posttest control group design. The education intervention was conducted over 12 months using a social and behavior change communication (SBCC) approach, incorporating the PGS-PL module adapted to local conditions through intensive education, peer educators, and cooking demonstrations.
The results showed that PGS-PL education had a significant effect on increasing Dietary Diversity Scores (DDS) (OR = 1.89; p = 0.048) and Egg and/or flesh food (EFF) (OR=1,55, p=0,037), as well as improving the intake of energy, protein, carbohydrates, fat, vitamin A, folic acid, besi, and seng (p < 0.05). However, no significant effect was found on serum ferritin and serum transferrin receptor levels. Children's nutritional status showed a significant improvement in the height-for-age index (HAZ) by 0.60 z-score (p = 0.007), but no significant change was observed in the weight-for-age index (WAZ), and there was a significant decrease in the weight-for-height index (WHZ) (p = 0.034).
This study confirms that nutrition education based on PGS-PL using a combination of intensive education, peer educators, and cooking demonstrations can be an effective strategy for improving feeding practices and the nutritional status of toddlers in areas with local food potential.

 

Read More
D-584
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive