Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33370 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sri Mulyani; Pembimbing: Luknis Sabri, Besral; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Airiza Ahmad, Elmi Wirni
Abstrak:

Kematian akibat stroke semakin meningkat, diperkirakan 5,5 juta orang meninggal di seluruh dunia karena stroke dan diperkirakan pada tahun 2020 penyakit stroke akan menjadi penyebab terbanyak kasus kematian di dunia. Di Indonesia, berdasarkan laporan `Dltjen Yanfnedik Depkes RI bahwa penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit adalah atroke. Penclitian tentang ketahanan hidup pasien stroke dan faktor yang mernpengarnhinya akan dapat bermanfaai dalam melakukan pencegahan dengan cara mengendalikan falctor-faktor yang mernpengaruhinya sehingga angka kematian karena penyakit ini dapat dikurangi. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya probabilitas ketahanan hidup 1 tahmm pasicn stroke yang dirawat inap di RS Cipto Mangunkusmno Jakarta tahun 2003 dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Desain penclitian ini adajah kohort retrospektif pada 375 subyek dengan menggunakan data rekam medik pada diagnosis tahun 2003 yang diikuti selama l tahun. Hasil penelitian ini menmmjukkan bahwa probabilitas ketahanan hidup 1 tahun pasien stroke tergantung pada tipc stroke, tcmpat rawat dan penyakitjantung setelah dikontrol oleh variabel Umur. Probabilitas ketahanan hidup 1 tahun pasien stroke yang mcngalami serangan pertama tergantung pada tipe stroke, tempat rawat dan Penyakit Jantung. Probabilitas ketahanan hidup 1 tahun pada tipe stroke iskemik sebesar 63,7 % dcngan median 52 minggu sedangkan pada tipe stroke hemoragik scbesar 22,9% dengan median 4 minggu. Probabllitas ketahanan hidup 1 tahun pada tcmpat rawat Unit Stroke sebesar 70,4 % dengan median 52 xninggu sedangkan pada Ruang Neurologi sebesar 36,9 % dengan median 17 minggu. Pmbabilitas Ketahanan Hidup 1 tahun Pasien Stroke yang penyakitjanttmg 37,7% dengan median 12 minggu sedangkan tidak penyakit jantung 53,2% dengan median 52 minggu. Didapatkan hubungan yang bennakna antara Variabei Tipe Stroke, Variabel Tempat Rawat dan Variabel Penyakit Jantung dengan ketahanan hidup 1 tahun pasien stroke yang mengalarni serangan pertama kali seteiah dikontrol oleh Variabel Umur (Tempat Rawat: p=0.000, HR=2.77, CI =l.73-4.43; -Tipe stroke: p=0.000, HR=3.03, CI = 2.16-427; Penyakitjantung: p=o.os, I-[R=l.38, CI=0.98-l.9t). \ Berdasarkan penelitian disarankan kepada Direktur RSCM untuk meningkatkan standar penanganan pasien stroke yang ideal di seluruh bangsal seperti yang ada di Unit Stroke, meningkatkan kemampuan tim kesehatan khususnya perawat-perawat mahir stroke yang bersertinkat. Kepada Depkes agar dapat mengupayakan adanya kesinambungan antara perawatan pasien stroke di rumah sakit dan sepulangnya pasien dari mmah sakit dengan membuat rujukan ke Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan primer sehingga penoegahan stroke berulang dapat segera dilakukan dan angka kematian stroke dapat dikurangi. Kepada peneliti lain agar melakukan penelitian ketahanan hidup pasien stroke dengan desain dan analisis yang sama namun periode waktunya lebih lama ( S atau 10 tahun).


Death effect of stroke progressively mount, to be estimated by 5,5 million people die in all the 'world because stroke and estimated in the year 2020 stroke disease will become cause many death case in the world. In Indonesia, according to the report of Ditjen Yanmedik Depkes RI 2001 that especial disease of death cause at hospital is stroke. Research about survival stroke patient and factor influencing it will be able to be useful in conducting prevention by controling factors influencing it so that mortality because this disease can lessen. The goals of this research is knowing of survival probability 1 taken care of to stroke patient year lodge in Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta year 2003 and factors influencing it. this Research dcsain is retrospektif kohort at 375 subyek by using data medical record at] diagnosed by year 2003 followed by during l year. Result of this research indicate that survival probability I year stroke patient depend on stroke type, place take care of and heart sickness after controlled by Age variable. Probability survival 1 year stroke patient of first attack depend on stroke type, place take care of and Heart Sickness. Probability survival l year at iskemik stroke type equal to 63,7 % with median 52 week while at hemoragik stroke type equal to 2?.,9% with median 4 week. Probabilitysurvival 1 year at place take care of Unit Stroke equal to 70,4 % with median 52 week while at Neurology ward equal to 36,9 % with median 17 week. Probability survival 1 Patient Stroke year which is heart sickness 37,7% with median 12 week while no heart sickness 53,2% with median 52 week. Having relation significantly between Variable Type Stroke, Variable Place Take care of and Variable Heart Sickness with survival lyaer stroke patient of attack first time after controlled by Variable Age ( Place Take care of: p=0.000, I-lR=2.77, CI = 1.73-4.43; Stroke type: p=0.000, HR=3.03, CI = 2.16-4.27; Heart sickness: p = 0.05, HR=1.38, CI = 0.98-1.91). According to this research is suggested to Director RSCM to increase ideal stroke patient handling standard in all ward such as those which in Unit Stroke, improving ability of health team specially skilled nurse of stroke which is have certificate. To Depkcs can strive the existence of continuity among/between treatment of ill stroke patient at hospital and home care by making reference to Puskesmas as service unit health of primary so that prevention of recurrence stroke immediately be done and stroke mortality can lessen. To other researcher doing research of survival stroke patient with is same analysis and desain but its longer time period ( 5 or 10 year).

Read More
T-2573
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desty Permata Sari; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Fajar Soebroto
S-5467
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Gayatri; Pembimbing: Besral; Penguji: Elly Nurachmah, Sudijanto Kamso, Indang Trihandini, Nasdaldy
Abstrak:

Kematian akibat kanker di dunia semakin meningkat baik di negara maju maupun berkembang. Di Indonesia, data menunjukkan hal yang serupa. Badan Litbangkes melaporkan bahwa berdasarkan hasil laporan laboratorium Patologi Anatomi tahun 1990, kanker serviks menempati urutan pertama dari 3 kanker yang tersering dijumpai. Registrasi kanker di Indonesia yang berdasarkan kependudukan belum ada Berita penelitian yang berkaitan dengan ketahanan hidup kanker serviks sangat kurang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan stadium klinik dengan ketahanan hidup 5 tahun pada pasien kanker serviks setelah dikontrol oleh variabel konfounding. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif pada 451 subyek penelitian dengan mengunakan data rekam medis pada diagnosis tahun 1993-1996 yang diikuti selama 5 tahun. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa probabilitas ketahanan hidup 5 tahun pasien kanker serviks dengan stadium I sekitar 70%, stadium II sekitar 37,4%, stadium III sekitar 12,4%, dan stadium IV pada tahun kedua sudah menjadi 0%. Pada kadar Hb 10 gr/dl dan dikontrol oleh besar tumor dan jenis histologik maka peluang untuk meninggal pada stadium II sebesar 2,7 kali, Pada stadium III sebesar 19,2 kali. sedangkan stadium IV sebesar 6,6 kali dibandingkan dengan stadium I. Pada kadar Hb 10 gr/dl dan dikontrol oleh besar tumor dan jenis histologik maka peluang untuk meninggal pada stadium II sebesar 0,6 kali. pada stadium III sebesar 3.08 kali, sedangkan stadium IV sebesar 6,6 kali dibandingkan dengan stadium I, Berdasarkan hasil penelitian ini kepada masyarakat, disarankan untuk melakukan pemeriksaan dini. Kepada petugas rumah sakit dan pembuat kebijakan untuk melakukan promosi yang berkelanjutan tentang pentingnya pemeriksaan dini kanker serviks. Secara umum, juga disarankan agar dimulai registrasi kanker berdasarkan kependudukan untuk mempermudah penelitian yang berkaitan kanker terutama kanker serviks.


 

Cancer deaths in the world are increasing in both developed and developing countries. In Indonesia, data shows something similar. The Health Research and Development Agency reported that based on the results of the 1990 Anatomical Pathology laboratory report, cervical cancer ranks first out of 3 most common cancers. Cancer registration in Indonesia based on population does not yet exist. Research news related to cervical cancer survival is very lacking. The purpose of this study was to determine the relationship between clinical stage and 5-year survival in cervical cancer patients after being controlled by confounding variables. The design of this study was a retrospective cohort of 451 research subjects using medical record data at diagnosis in 1993-1996 which was followed for 5 years. The results of this study concluded that the probability of 5-year survival of cervical cancer patients with stage I is around 70%, stage II around 37.4%, stage III around 12.4%, and stage IV in the second year has become 0%. At Hb levels of 10 gr/dl and controlled by tumor size and histological type, the chance of dying in stage II is 2.7 times, in stage III it is 19.2 times. while stage IV is 6.6 times compared to stage I. At Hb levels of 10 gr/dl and controlled by tumor size and histological type, the chance of dying in stage II is 0.6 times. in stage III it is 3.08 times, while stage IV is 6.6 times compared to stage I. Based on the results of this study, it is recommended to the public to conduct early examinations. To hospital staff and policy makers to carry out ongoing promotion of the importance of early cervical cancer examinations. In general, it is also recommended to start cancer registration based on population to facilitate research related to cancer, especially cervical cancer.

Read More
T-1351
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurmiati; Pembimbing: Besral, Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Soetanto Priyo Hastono, Rustam Effendi
Abstrak:
AKB di Indonesia adalah 35 per I 000 kelahhan hidup, AKB Indonesia masih lebih tinggi daripada beberapa Negara Asia Tenggara. Secara makro maka masalah AKB akan mempengaruhi Human Development Index yang merupakan salah satu indikator untuk menilai status kesehatan suatu Negara. Pemberian ASI dapat menurunkan risiko kematian bayL Oleh karena itu, perlu diketahui pengaruh durasi pem:berian AS[ dan fitktor determinan lainnya terhadap ketahanan hidup bayi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi pcmberian AS! dan faktor ibu, bayi dan lingkungan tempat tinggal terhadap ketahanan hidup bayi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder SDKI 2002-2003. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi cox ganda. Hasil penelitian menemukan bahwa probabilitas ketahanan hidup bayi yang mendapatkan ASI di Indonesia adalah 984%. Median kahdaman hidup bayi tidak dapat dihitung karena sampai pengamatan berakhir tidak ditemukan 50%kematian bayi. Durasi pemberian AS!mempengaruhi kelahanan hidup hayi di Indonesia. Bayi yang disusui dengan durasi 4-5 bulan memiliki ketahanan hidup 2,63 kali lebih baik.

Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is 3.5 per 1000. IMR Indonesia is still higher compare to some other South East Asia States. When IMR problem is not handled macroiy, it will influence the Human Development Index. Breastfeeding can decrease infant death risk. Therefore; it is important to know the effect of duration of breastfeeding and other determinant factors related to infant survival in Indonesia. This research is aimed to explore the effect of duration of breastfeeding and mother. Infant. and environment factors to infant survival in Indonesia. Data was analyzed by using the multiple cox regression. The result showed that probability of infant survival who had breastfeeding. Indonesia is 984 Median of infant survival inca1culable because until the end of the study, the rate of 50% infant mortality was not occurred. Duration of breastfeeding affect to infant survival in Indonesia. Infant who have duration of breastfeed 4-5 months have a better survival 2,63 times than those who have less than 4 months duration of breastfeeding. Infant who have duration of breastfeeding 6 months have a better survival 33,33 times than those who have less than 4 months duration of breastfeeding.
Read More
T-2835
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eko Supriyanto; Pembimbing: Tris Eryando
S-2973
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silvia Sagita; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Toha Muhaimin, Basalama Fatum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan tingkat pendidikan pasien dengan kanker payudara stadium dini di instalasi rawat inap Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta tahun 2012 dengan menggunakan desain studi cross sectional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data rekam medik Rumah Sakit Ciptomangunkusumo. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pendidikan pasien memiliki hubungan dengan stadium dini kanker payudara (OR 2,25) dan risiko meningkat (7,69) setelah dikontrol oleh status pekerjaan, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, serta keikutsertaan jaminan kesehatan.
 

The purpose of this research is to examine association between patient’s educational level with early diagnosis of breast cancer at inpatient care of Ciptomangunkusumo’s Hospital year 2012. This research applied cross sectional design. Data were collected from secondary sources, using medical record data. The result of the research shows that patient’s educational level associated with early diagnosis (OR=2,25) and that risk will be higher if it controlled with employment status, hormonal contraceptive use, and participation of health insurance. (OR=7,69)
Read More
S-7956
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alicia Nevriana; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Tri budi W. Rahardjo, Adji Kusumadjati
S-7291
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muldiasman; Pembimbing: Besral; Penguji: Luknis Sabri, Sabarinah B. Prasetyo, Iip Syaiful, Wibowo, Yulianti
Abstrak:

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pantangan makan, anjuran makan dan makan lebih banyak dengan kejadian anemia ibu hamil di provinsi Jambi tahun 2005 setelah dikontrol dengan variabel umur, umur leehamilan, fiekucnsi pemenksaan kehamilan, tenaga pemeliksa kehamilan, pengalaman hamil, pengaiaman bersalin, pengalarnan keguguran, pengetahuan tentang tablet tambah darah, minum tablet tambah darah dan lingkar lengan atas. Penelitian ini menggunakan data hasil survei cepat anemia ibu hamil di Provinsi Jambi tahun 2005. Survei dilakukan di 9 Kabupaten/Kota dengan jumlah sampel 2296 ibu hamil. Analisis multivanat dengan analisis regresi logistik ganda Bahan makanan yang dipantang oleh ibu selama hamil merupakan sumber protein dan zat besi berupa jangek/lcrecek (15.3%), udang (14.3%) dan ikan (l1.2%), serta beberapa bahan rnalcanan lainnya. Malcanan ini dipantang dengan alasan terbanyak adalah dipercaya dapat menyebabkan kesulitan untuk melahirkan (47_96%), kemudian dapat menycbabkan keguguran (17.35%) dan beberapa alasan lainnya. Informasi ini diperoleh dari 69 orang yang melakukan pantangan makan selama hamil. Selama hamil ibu dianjurkan untuk makan makanan sumber protein zat besi bempa sayur (40.34%), susu (28.33%) dan buah (l'7.64%) serta beberapa makanan Iain. Makanan ini dianjurkan dengan alasan ibu dan janin sehat (99.06%), tidak mual (0.38%), meningkatkan selera makan (0.19%) serta beberapa alasan Iainnya. Informasi ini diperoleh dari 322 orang yang mempunyai anjuran makan saat hamil. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa ada hubungan pantangan makan dengan kejadian anemia ibu hamil setelah dikonuol oleh variabel anjuran makan, makan lebih banyak, umur, umur kehamilan, pengalaman keguguran, minum tablet tambah darah, lingkar lengan atas dan interaksi antara anjuran makan dengan pengalaman keguguran. Ibn hamil yang mempunyai pantangan makan 3.28 kali lebih besar kemungkinannya untuk mengalami anemia dibandingkan dengan ibu yang tidak mempunyai pantangan makan (OR=3.28; 95%CI = 1.65 - 6.54). Tidak ada hubungan anjuran makan dan makan lebih banyak dengan kejadian anemia ibu hamil. Variabel umur, umur kehamilan, pengalaman keguguran, minum tablet tambah darah dan lingkar lengan atas berhubungan dengan kejadian anemia ibu hamil.


ABSTRACT The purpose of this research for studying relation of three items, avoidance of several foods, food suggestions, and eating more with anemia in pregnancy in Province ot' Jambi in 2005 after adjusted by variables, age, pregnant age, pregnant inspection frequency, pregnant inspector, pregnant frequency, parity experience, abortion experience, knowing Fe supplement, Fe supplement consumption, and arm circumference. We used data from rapid survey of anemia in province Jambi in 2005. the total sample was 2296 samples collected trom 9 sub district. We analyzed the data using logistic regression. The avoidance foods ware source of protein and Fe foods. Those ware jangek/krecek (l5,3%), shrimps (l4,3%), fish (1 l.2%), and others. The reasons to avoid those food ware believing those will make difficulty in birth (47.9%) , making abortion (17,3%) and others. We took the information from 69 pregnancy women. The food suggestions ware source of protein and Fe foods. Those ware vegetables (40,3%), milk (28,3%), fruit (17.6%), and others. The reasons of food suggestion ware making mother and fetus be health (99.1%) , no nausea (O.4%), and others. We took the information from 322 pregnancy women. From this research we know that there is relation between avoidance of several foods with anemia in pregnancy after adjusted by variables, tbod suggestion, eating more, age, pregnant age, abortion , Fe supplement consumption, arm circumference, and interaction between food suggestion and abortion experience (OR=3.28; 95% CI =l.65- 6.54). And no relation between food suggestion, and eating more with anemia in pregnancy. Variables, age, pregnant age, abortion , Fe supplement consumption, and arm circumference related with anemia in pregnancy.

Read More
T-2525
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nina Tristina; Pembimbing: Besral; Penguji: Toha Muhaimin, Iwan Ariawan, Naning Nugrahini, Coriejati Rita
Abstrak: Jumlah penderita HIV/AIDS semakin bertambah di Indonesia. Anti Retroviral Therapy (ART) dapat meningkatkan kualitas hidup penderita, karena dapat memperbaiki status imunitas yang ditandai dengan kenaikan limfosit-CD4.
 
Tujuan penelitian: menilai peningkatan CD4 dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada Injecting Drug Users (IDU) dan non-IDU penderita HIV/AIDS. Penelitian menggunakan data sekunder Klinik Teratai RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung, tahun 2007-2009. Data lengkap berasal dari 198 subjek (161 IDU, 37 non-IDU). Data dianalisis dengan Chi-square test, Fisher's exact test, General linear model (GLM) dan Generalized estimating equations (GEE). Analisis GEE memungkinkan evaluasi peningkatan CD4 pada pengukuran berulang pada kelompok kohort yang mendapat ART.
 
Hasil penelitian: secara keseluruhan antara kelompok IDU dan non-IDU (between group) perbedaan peningkatan CD4 tidak bermakna (P=0,230); pada Fase II (bulan ke 6-12) peningkatannya berbeda bermakna (P=0,016); dibandingkan Fase I (bulan ke 0-6) yang tidak berbeda bermakna (P=0,077). Faktor-faktor: Waktu, total lymphocyte count (TLC) dan CD4-awal berpengaruh bermakna; sedangkan umur, IDU, viral load (VL), body mass index (BMI), Hemoglobin, ko-infeksi Hepatitis B dan/C, Pengobatan Tuberkulosis dan Stadium HIV merupakan perancu (konfounder). Jenis kelamin pengaruhnya tidak bermakna.
 
Saran: penelitian dilanjutkan dengan penambahan jumlah subjek Non-IDU, waktu pengamatan sampai 3 tahun untuk melihat pengaruh jangka panjang ART, serta menambah upaya menghentikan penggunaan narkoba suntik.
 

New cases of HIV/AIDS infection are still increased in Indonesia nowadays. Anti Retroviral Therapy (ART) can give better quality of life for HIV/AIDS patients by improving the immune status which can be detected by the increase of CD4 count.
 
The aim of this study was to evaluate the increase of CD4, and factors which influence it, between Injecting Drug Users (IDU) and non-IDU with HIV/AIDS infection. This study used secondary data from Klinik Teratai RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung at 2007-2009. Complete data was taken from 198 subjects (161 IDUs, and 37 Non-IDUs). Data was analyzed by Chi-square test, Fisher's exact test, General linear model (GLM), and Generalized estimating equations (GEE); GEE provides an analysis of repeated measures of outcomes from these ART cohort groups.
 
Results: overall, between IDUs and non-IDUs, there was insignificant CD4 increase (Pvalue = 0,230). Non-IDUs showed better CD4 increase; the difference was statistically significant in Phase II (0-6th month) with Pvalue = 0.016, but not significant in Phase I (6-12th month) with Pvalue = 0.077. Factors that significantly influenced CD4 increase were Time, total lymphocyte count (TLC), and baseline CD4; whereas Age, IDU, viral load (VL), Hemoglobine, body mass index (BMI), Hepatitis B and/C co-infections, Tuberculous therapy, HIV-stages were roled as confounders. Gender did not give any influence.
 
Further study was needed with equal subject numbers of Non-IDU, longer observation time up to 3 years to observe long-term effect of ART, and more efforts in reducing numbers of IDUs.
Read More
T-3257
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Nurhakiki; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Popy Yuniar, Rico Kurniawan, Tria Astika Endah Permatasari, Suprohaita Rusdi Talib
Abstrak:
Latar Belakang: Malnutrisi dan gangguan pertumbuhan merupakan masalah yang umum ditemukan pada anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) pirau kiri-ke-kanan. Meskipun pemasangan alat occluder efektif memperbaiki kondisi hemodinamik, dinamika waktu menuju pemulihan status gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pasca-intervensi masih terbatas. Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif berbasis rekam medis pada anak dengan PJB pirau kiri-ke-kanan yang menjalani penutupan defek menggunakan transkateter pemasangan alat occluder. Dari 94 anak yang memenuhi kriteria inklusi, sebanyak 48 anak dengan gangguan status antropometri pada awal pengamatan diikutsertakan dalam analisis waktu menuju pemulihan status gizi. Pemulihan status gizi didefinisikan sebagai tercapainya antropometri normal (z-score ≥ −2 SD). Kurva Kaplan-Meier digunakan untuk mengestimasi waktu menuju pemulihan, sedangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemulihan dianalisis menggunakan Cox proportional hazards multivariat. Analisis sensitivitas dilakukan menggunakan Cox Firth penalized likelihood untuk mengurangi potensi bias akibat ukuran sampel yang terbatas dan kejadian yang jarang. Hasil: Median usia saat intervensi adalah 35 bulan (IQR: 22-73), dan 55,3% peserta berjenis kelamin perempuan. Sebagian besar pemulihan status gizi terjadi dalam enam bulan pertama pasca-intervensi. Pemulihan berdasarkan indikator WAZ dan WHZ/BAZ berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan HAZ. Intervensi pada usia <35 bulan berhubungan dengan laju pemulihan WHZ/BAZ yang lebih tinggi (HR, 8.38; 95% CI, 2.06-33.99; p = 0.003), dan hasil serupa diperoleh pada model Firth penalized Cox (HR, 6.94; 95% CI, 2.03-28.46; p = 0.002). Ukuran defek, hipertensi pulmonal, dan status kepesertaan BPJS tidak berhubungan secara bermakna dengan pemulihan status gizi. Kesimpulan: laju pemulihan status gizi pasca-penutupan defek transkateter berbeda menurut indikator antropometri yang digunakan. Pemilihan berdasarkan indikator status gizi akut terjadi lebih awal dibandingkan dengan pemulihan pertumbuhan linier, sementara usia saat intervensi merupakan prediktor yang paling konsisten terhadap kecepatan pemulihan.

Background: Undernutrition and growth faltering are common among children with acyanotic congenital heart disease (CHD) with left-to-right shunts and may persist despite hemodynamic correction. This study aimed to estimate the time to nutritional recovery and identify predictors of recovery after transcatheter defect closure. Methods: This retrospective cohort study included children with acyanotic left-to-right shunt congenital heart disease undergoing transcatheter defect closure. Of 94 eligible children, 48 with baseline anthropometric deficits contributed to the time-to-recovery analysis. Nutritional recovery was defined as normalization of anthropometric status (z-score ≥ −2 SD). Kaplan-Meier methods were used to estimate recovery trajectories, and multivariable Cox proportional hazards regression was applied to identify factors associated with recovery. Sensitivity analysis was performed using Firth penalized Cox regression to mitigate small-sample and sparse-data bias. Results: The median age at intervention was 35 months (IQR, 22-73), and 55.3% of participants were female. Most nutritional recovery occurred within six months after transcatheter closure. Recovery was achieved earlier for WAZ and WHZ/BAZ than for HAZ. In the adjusted analysis, intervention at <35 months was associated with a higher rate of WHZ/BAZ recovery (HR, 8.38; 95% CI, 2.06-33.99; p = 0.003), with similar estimates observed in the Firth penalized Cox model (HR, 6.94; 95% CI, 2.03-28.46; p = 0.002). Defect size, pulmonary hypertension, and BPJS status were not significantly associated with recovery. Conclusion: Nutritional recovery after transcatheter defect closure was variable across anthropometric indicators, with recovery of acute nutritional status occurring earlier than linear growth. Younger age at intervention emerged as the most robust predictor of recovery, underscoring the potential benefit of timely intervention and continued nutritional surveillance following defect closure.
Read More
T-7568
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive