Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32557 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Euis Saadah Hernawati; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Cicilia Windiyaningsih, Eny Priyatni
Abstrak:

Dengue Hemorrhagic Fever (DBD) has become public health problem for almost four decades. The highest case took place in DKl Jakarta than the other provinces till year 2007 which 30.703 of overall eases, 82 of mortality case, IR (378.5) and CFR (0.3). The South Jakarta is the highest ease in DKI Jakarta which are 28 of mortality case, IR (551.69), CFR (0.3), tends to increase for every years.Consequently related study of risk factors of DBD case must be took using new technology of Geographic Information System (GIS) contributed fur mapping correspond to examination, analysis. and controlling of health services. This study aimed to obtain description of epidem tology of DBD based on Geographic Information System (GIS) and related factors oi DBD case taking place in South Jakarta year 2007. Design of research uses ecological and serial of case study exploiting secondary data in Sudinkesmas, BPS Jakarta, and BMG. The data was analyzed in the manner of univariat, bivariat, multivariat and spatial. Result of research of DBD case in South Jakarta on January - December 2007 found most man hit by this case about 53,9%, partially age of 5-14 years old with 26% proportion and 15-44 years old with 55%. The highest incident rate of 64 sub-districts is Mampang Prapatan with 1225/100.000 population. While the lowest incident rate found in Pasar Minggu sub-district with 3941100.000. Generally top of epidemy happened on February and March.

Read More
T-2900
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Endang Kusdiningsih; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Dini Wardiani, Evi Nuryana
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang iklim dan kepadatan penduduk yang dihubungkan dengan kejadian penyakit DBD di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat selama tahun 2006-2008. Desain penelitian ini dengan studi ekologi/mixed ecology study yang memanfaatkan data sekunder. Hasil pnelitian menunjukkan ada hubungan antara curah hujan dengan kasus DBD di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat, semakiu tinggi curah hujan semakin banyak kasus DBD. Ada hubungan antara suhu dengan kasus DBD di Jakarta Timur, Jakarta Sclatan dan Jakarta Pusat, semakin tinggi suhu semakin sedikit kasus DBD. Ada hubungan antara kelembaban dengan kasus DBD di Jakarta Timur, Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Ada hubungan antara kecepatan angin dengan kasus DBD di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Ada hubungan antara kepadatan penduduk deugan kasus DBD di Jakarta Pusat. Dalam mengantisipasi kejadian DBD di masa datang antara lain; perlu dikaji atau dianalisis faktor ikiim dalam upaya penanggulangan DBD, penggerakkan peran serta masyarakat datam pemberantasan sarang nyamuk, dilakukan sebelum masa pcnularan yaitu pada bulan September dan November, meliputi pemberantasan sarang nyamukseperti gerakan jumat bersih, Iarvasidasi, dan pcnyuluhan secara intensii Pemantauan jentik berkala oleh Petugas Kesehatan dilakukan lebih sering. Alokasikan biaya KLB untuk mengantisipasi adanya lonjakan kasus DBD sekitar bulan Januari dan Pebruari. Wilayah dengan penduduk padat lebih diprioritaskan. Pcmberantasan sarang nyamuk dan tempat istirahat nyamuk perlu ciilakukan antara Iain dengan kebersihan sanitasi lingkungan di dalam dan sekitar rumah dan menghindari diri dari gigitan nyamuk.

The study is describing on the climate and population density issues in relation to the incidence of the DI-IF in the area of Administrative Cities of East, South and Central Jakarta -during the year of 2006 to 2008. The study design is using the mixed ecology study that utilizing the secondary data. The study showed that in all cities studied, there are relationship between DHF and the rainfalls, the more intense on rainfall the higher cases were found; between DHF and the temperature, the higher the temperature the less DI-LF cases were found; between DI-IF and humidity. In East and South Jakarta, there is a relationship between the win speed and DI-IF cases. While only in Central Jakarta was found the relationship between population densities with DHF cases. In order to anticipate the incidence of DI-IF in the future, an assessment or a factors analysis are should be done in dealing with DHF eradication program, community mobilization in mosquito breeding-nest eradication should be carried out before transmission period, i.e. in September and November, activate the program called Clean Friday which is a program of mosquito breeding-nest eradication, larvicide’s program, and an intensive mass education. A persistent larva monitoring program by health providers should be done more frequent. Budget for DHF anticipating program should be allocated in the month of January or February. Priority should be addressed to the most populous area first. The mosquito breeding-nest eradication should be done along with the program on environment clcanness at the inside of the house and surrounds, and avoid the mosquito's bite.
Read More
T-3063
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuda Triyuni Sakdiah; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Sri Endang Kusdiningsih
S-5917
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Setia Hidiyah Wati; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Trisari Anggondowati, Menikha Maulida
Abstrak:

Latar Belakang: Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Pada tahun 2018 dilaporkan lebih dari 140.000 orang meninggal karena campak terutama anak-anak dibawah usia 5 tahun, meskipun vaksin sudah tersedia Pencapaian target imunisasi di Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2022 ke tahun 2023. Imunisasi campak sangat berperan dalam menurunkan angka kematian anak, maka imunisasi campak merupakan salah satu indikator pencapaian tujuan SDGs ketiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera. Adanya penemuan kasus campak yang tinggi di tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian epidemiologi kasus campak di wilayah Kota Bogor Tahun 2022 sampai tahun 2024.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi epidemiologi deskriptif. Data yang diambildalam penelitian ini yaitu berupa data sekunder. Data tersebut diperoleh Tim Surveilans dan imunisasi P3MS, Bidang P2P, Dinas Kesehatan Kota Bogor adalah data pelaporan kasus campak dan cakupan imunisasi dari tahun 2022 - 2024. Data berupa spreadsheets laporan kasus campak.
Hasil : Gambaran epidemiologi kasus campak di Kota Bogor tahun 2022 - 2024 terdapat pada tahun 2023 jenis kelamin laki-laki sebanyak 176 anak. Pada kelompok umur 2-5 tahun (42,9%) selanjutnya 5-10 tahun (31,4%) dan kelompok umur kurang dari 1 tahun (19,1). Kasus paling banyak terdapat di Kecamatan Bogor Barat (97 kasus) dan Bogor Selatan (93 kasus), serta kasus tertinggi terjadi pada tahun 2023 sebanyak 340 kasus. Cakupan imunisasi yang rendah diantara kasus konfirmasi positif
Kesimpulan dan Saran: Gambaran epidemiologi kasus campak di Kota Bogor tahun 2022 - 2024 populasi terbanyak dengan kelompok umur 2-5 tahun, dan jenis kelamin laki-laki. Kasus paling banyak terdapat di Kecamatan Bogor Barat dan Bogor Selatan, serta kasus tertinggi terjadi pada tahun 2023. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode kualitatif tren kasus campak di wilayah Bogor Selatan. Penguatan sistem pemantauan di kecamatan resiko tinggi, kolaborasi dengan organisasi masyarakat dalam peningkatan kesadaran imunisasi, dan mengadakan pelatihan serta workshop rutin untuk kemampuan komunikasi kepada masyarakat.


Background Measles is a disease that can be prevented by immunization (PD3l). In 2018, it was reported that more than 14,000 people died caused by measles, especially children under 5 years old, Even though vaccines are available, the achievement of immunization targets in Indonesia has decreased from 2022 to 2023. Measles immunization plays an important role in reducing child mortality. Measles immunization is one of the indicators of achieving the third SDGs goal, namely a healthy and prosperous life. There was a high discovery of measles cases in 2023 compared to the previous year, so the author was interested in conducting epidemiological research on measles cases in Bogor 2022 to 2024. Methods This research used a descriptive epidemiological study design. The data used in this research is secondary data. This data was obtained by the P3MS Surveillance and Immunization Team, P2P Division, Bogor City Health Service. data form reporting of measles cases and immunization coverage 2022 - 2024. data form spreadsheets of measles case reports. Result Epidemiological case description of measles in Bogor 2022 - 2024, in 2023 the male gender was 176 children. In the age group 2-5 years (42.9%) then 5-10 years (31.4%) and the age group less than 1 year (19.1). The most cases were in West Bogor District (97 cases) and South Bogor (93 cases), and the highest cases occurred in 2023 as many as 340 cases.Low immunization coverage among confirmed positive cases. Conclution and Suggestions: Epidemiological descriptive of measles cases in Bogor City in 2022-2024, the largest population is in the 2-5 year age group, and male gender. The most cases are in West Bogor and South Bogor, and the highest cases occurred in 2023. Futher research is needed using qualitative methods on measles case trends in the South Bogor area. Stengthening the monitoring system in high risk districts, collaborating with community organizations in increasing immunization awareness, and holding routine and workshop for communication skills to the community. 

Read More
S-11852
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ati Dwi Kurniati; Pemb. Indang Trihandini, Luknis Sabri; Peng. Sulistiono, Siti Mursifah
Abstrak:
Pengertian kompetensi menurut Peraturan Ketua LAN Nomor 9 Tahun 2005, adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan kerja, karakteristik, sikap dan perilaku yang mutlak widyaiswara untuk mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Kegiatan widyaiswara yang ada selama ini tidak lepas dari kegiatan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Cilandak yang tertuang dalam POA BBPK Cilandak. Tugas widyaiswara adalah memberikan pendidikan dan pelatihan dalam proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Setiap pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dari widyaiswara merupakan bagian dari penerapan kompetensi yang sesuai dengan standar kompetensi yang ada untuk setiap jenis jabatan. Namun, dari hasil rekapitulasi evaluasi widyaiswara tahun 2006 yang dinilai oleh peserta latih, diperoleh hasil bahwa metoda pengajaran kurang menarik (20,59%), kurang kreatif dan inovatif (8,82%), modul sulit dimengerti (5,88%), perlu pengetahuan yang up to date (2,94%), agar lebih banyak praktek (5,88%), metode kurang sistematis (11,76%), widyaiswara tidak tepat dalam penyampaian materi (26,47%), dan widyaiswara kurang memanfaatkan waktu (17,65%). Disamping itu juga dari hasil telaah dokumen terhadap tingkat keterlibatan diperoleh data selama tahun 2006, yaitu hanya 15,24% widyaiswara dilibatkan dalam kegiatan diklat yang diselenggarakan di BBPK Cilandak. Oleh karena itu, perlunya dukungan berupa sistem informasi widyaiswara yang bertujuan menyimpan data widyaiswana untuk diolah dalam suatu sistem aplikasi, sehingga dihasilkan informasi berupa indikator pelaksanaan tugas yang berbasis kompetensi, dan penyajian informasi dalam bentuk tabel dan grafik. Metodologi yang digunakan adalah berdasarkan system development life cycle (SDLC) yang terdiri dari tahap pre-analisis sistem, analisis sistem, perancangan sistem dan ujicoba sistem. Pengujian sistem hanya dilakukan di laboratorium dengan menggunakan data simulasi. Pengumpulan data dan informasi dengan teknik wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Unit kerja yang menjadi obyek penelitian adalah widyaiswara BBPK Cilandak. Informan yang memberikan data dan informasi adalah Kepala BBPK Cilandak, Koordinator Widyaiswara, staf bagian kepegawaian, dan sekretaris widyaiswara. Dalam pelaksanaannya masih ditemui kendala diantaranya adalah sulitnya melengkapi input data karena rnemerlukan koordinasi dengan bagian kepegawaian. Selain itu, belum tersedia basis data untuk penelusuran spesialisasi yang dimiliki widyaiswara dan data diklat yang pernah diikuti widyaiswara. Pemanfaatan komputer belum optimal, hanya dipergunakan untuk mengetik, ketepatan waktu pengiriman dan kelengkapan laporan rendah, serta belum ada Standard Operating Procedure (SOP) untuk peningkatan kornpetensi widyaiswara. Untuk itu perlu dirancang suatu model sistem informasi widyaiswara berbasis kompetensi yang dilengkapi dengan basis data spesialisasi, data diklat yang pernah diikuti, dan data pengalaman mengajar/mendidik/melatih. Sebagai hasil dari penelitian ini adalah terbentuknya prototipe Sistem Informasi Widyaiswara Berbasis Kompetensi (SIWBK) di BBPK Cilandak yang diharapkan dapat menyediakan informasi yang akurat, tepat waktu dan relevan. Komponen proses dalam SIWBK ini terdiri dari matriks dimensi kompetensi, analisis hasil penilaian rating kompetensi, yang kemudian dilakukan perhitungan indikator kompetensi dalam bentuk persentase. Kegiatan pengukuran kompetensi atau assessment centre dilakukan setiap triwulan dengan tanggung jawab pelaksana adalah tim penilai (assessor) yang memenuhi kriteria penilaian yang ditetapkan. Agar pelaksanaan sistem informasi ini dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan, dibutuhkan komitmen dan kebijakan pendukung dari pimpinan, termasuk mekanisme umpan balik serta monitoring dan evaluasi.

Understanding of competency according to rule of Chief of LAN RI Number 9 year 2005, is a package of knowledge, skills, characteristic and attitude whose absolutely provide by widyaiswara in their capability to do their task and responsibility professionally. Until now, all widyaiswara activities were part of BPPK Cilandak activities as noted in POA BPPK Cilandak. Widyaiswara's task is to provide education and training in learning process in the class and outdoor. Every main task and function of widyaiswara is part of applying competency as followed competency standard available for every position. However, the result from evaluation of widyaiswara recapitulation in year 2006 valued by trainees, showed that teaching method was less attractive (20,59%), less creative and innovative (8,82%), module not understandable (5,88%), the knowledge was not up-to-date (2,94%), less practical (5,88%), method was not systematic (11,76%), less effectiveness in teaching (26,47%), and less efficient (17,65%). Also from observed report resulted that in year 2006, only 15,24% of widyaiswara that involved in diklat activities held at BPPK Cilandak. Therefore, needed support in form of information system for widyaiswara to collect all data of widyaiswara, and get process by an application system to get information in form of indicator task working based on competency, and presented in form of table and graphic. Methodology used for this scheme was based on system development life cycle (SDLC) which is consist of pre-analysis system, analysis system, planning system and trial system. Testing system done only in laboratory using simulation data. Data and information collected by interviewing, observation, and documents analysis. The object of this study was widyaiswara of BPPK Cilandak. Data and information also collected from Chief of BPPK Cilandak, Widyaiswara coordinator, Staff from human resource, and widyaiswara secretary. There is obstacles like data input hardly complete because of less coordination among staffs and database for determination widyaiswara specialization is not available. Also usage of computers still not optimal yet; low in accuracy and delivery report; and no SOP to increase competency of widyaiswara. Therefore, there's a need to develop a scheme of information system for widyaiswara based on competency and complete with data base of specialization, kind of diklat they've been in, and data of teaching/training experience. The result of this study was created a prototype of Information System for Widyaiswara Based on Competency (SIWBK) at BPPK Cilandak which can provide accurate, punctual and relevant information. The components involved in the process consist of matrix of competency dimension, study analysis of competency rating which needed in measurement of competency indicator in percentage. Competency assessment conducts every three months with assessor team as the person in charge. To make the system goes well, a commitment and support policy, including feedback mechanism, monitoring and evaluation will needed.
Read More
T-2607
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Nugroho; Pembimbing: Tri Yunis Miko
S-3456
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Nugroho; Pembimbing: Tri Yunis Miko
S-3456
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lila Kesuma Hairani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Rina Fithri Anni B.
S-5794
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Eza Azmi Fuadiyah; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Dewi Susanna, Budi Hartono, Suwito, Pandji Wibawa Dhewantara
T-4285
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendri Jhonson; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko, Andy Bendru
S-4364
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive